[Wisdom] Bincang Hidup dan Mati bersama Pak Saidi

Pagi ini saya sengaja mendatangi lagi halte Indomaret Pupan, Ciputat, tidak ke pool APTB di Gaplek. Berasa kangen sama Pak Saidi, tukang parkir Pupan. Apalagi teringat, terakhir berbincang dengan beliau adalah ketika ibunya sakit.

Keluarga dan KawaNina yang tekun mengikuti wall FB saya pasti ingat siapa beliau. Beberapa kali saya sharing cerita tentang Pak Saidi di wall FB dan blog saya. 🙂

Tadinya saya pesimis bisa bertemu, karena ini hari Jumat. Pak Saidi hanya bekerja Senin sampai Rabu di Pupan ini. Tapi, horeeee, ternyata beliau ada! Kok tumben… Sambil berjalan menghampiri, saya perhatikan suasana halte sudah berubah. Ada galian entah apa di ujung separator tempat kami biasa menunggu bus kota. Pohon yang tadinya rindang menaungi tempat menunggu juga terpangkas. Memang sih suasana jadi lebih terang. Namun lebih panas terkena terik matahari. Bangku ala kafe, berpayung dengan kursi dirantai ke mejanya juga sudah tak ada.

Pak Saidi tampak melihat ke arah Lebak Bulus tanpa menoleh ke belakang. Jalan di sana memang satu arah, dari Lebak Bulus ke Pondok Pinang/Pondok Indah/TB Simatupang. Lengan saya langsung memegang bahu Pak Saidi yang berpostur jauh lebih pendek daripada badan saya.

“Pakdhe, apa kabar?”

Terkejut, begitu melihat saya, beliau langsung tertawa lebar. “Ibuuuu.. ke mana aja. Udah lama bener nggak lihat. Saya kira udah pindah halte ke mana gitu,” balasnya, mulutnya terus tersenyum.

“Iyaaa.. kangen sama Pakdhe. Jadi mampir deh ke sini. Tapi kok tumben ada di sini hari Jumat. Ada apa?”

“Nah itu dia.. Ibu kan terakhir ke sini pas ibu saya sakit tuh. Pas kemarin ibu saya meninggal, semalam baru tahlilan hari pertama,” jawabnya, masih dengan senyum lebarnya.

Saya terhenyak. “Innalillahi wa innailaihi rojiuun.. Lha saya baru aja mau tanya gimana kabar ibu. Oh jadi sakit kemarin berlanjut?”

“Iya, Bu. Kan udah berapa bulan lalu tuh, Ibu ngasih saya **** untuk berobat ibu saya. Udah saya kasih ke ibu saya dan dia bilang terima kasih. Saya mau nyampein makasihnya, ehh Ibu ngga muncul-muncul lagi ke sini. Baru sekarang,” sahut Pak Saidi, sambil tetap berwajah cerah.
Saya menggelengkan kepala, dasar Pak Saidi, ibunya meninggal dia tetap ceria, walau matanya tak bisa berdusta bahwa hatinya bersedih. Namun saya memutuskan untuk tidak membahas soal perasaan. Namanya anak ditinggal wafat ibu, pastinya sedih. Been there and still not get over it.

“Iya, Pak, saya sekarang lebih sering ke Pool APTB, lebih dekat dengan rumah, langsung berangkat dan pasti dapet duduk, namanya di pool,” kata saya. Beliau setuju dengan ucapan saya.

Selebihnya Pak Saidi bercerita tentang proses wafat sang ibu yang tidak ketahuan. “Baru ketahuan jam 05.30-an lah, Bu. Jadi meninggalnya lagi tidur gitu. Kemarin itu padahal saya lagi di rumah sana (maksudnya Cikarang), kebetulan istri saya buka BBM dan ngeliat kabarnya dari kakak. Kita akhirnya ke Ciputat lagi. Jam 11 saya nyampe sini. Wajah ibu saya belum ditutupi kafan, karena nunggu saya doang itu. Saya ciumin wajah ibu saya, istri dan anak-anak saya juga semuanya nyium ibu. Sekarang saya jadi tinggal bertiga deh sama saudara kandung saya. Kan kakak saya udah meninggal duluan tuh karena sakit perut, trus bapak, trus kemaren deh ibu saya. Yah memang udah tua juga, jadi dibawa ke dokter juga disuruh pulang lagi. Dokternya udah tau kali ya..” jelas Pak Saidi.

Saya mengangguk-angguk mendengarkan ceritanya. “Semoga semuanya wafat dalam keadaan khusnul khotimah dan termasuk golongan syahid-syahidah. Aamiin..”

image
Pak Saidi menghampiri angkot yang meminta tolong tukar uang Rp20.000 dengan recehan

Selanjutnya, menurut beliau, almarhumah ibunya dimakamkan di TPU belakang Carefour Lebak Bulus, jadi dekat rumah keluarga mereka di Pupan. Kakaknya Pak Saidi lah yang menjaga dan tinggal di rumah keluarga mereka itu. Sedangkan kakak yang satu lagi tinggal di Kedoya. Pak Saidi sendiri tinggal di Cikarang. Ia ke Pupan hanya untuk menengok ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan waktu itu. Semoga sang ibu ridho dengan bakti anak lelaki satu-satunya ini. Aamiin..

Lalu saya dan Pak Saidi membahas sedikit tentang hidup dan mati. Ia bercerita, ada kawannya yang pernah mengalami mati suri selama 15 menit. “Saya tanyain ke dia, bagaimana di akhirat sono kondisinya? Kawan saya jawab, ‘Di sana mah ngga kayak di dunia. Ngga ada kendaraan, motor, mobil, nggak ada. Tapi kalau ke mana gitu, misalnya mikir, ah mau ke Bandung, ah, eeeeh tau-tau udah di Bandung aja. Mau ke Mekah, baru mikir begitu, eeeitt udah sampe aja. Ajaib memang,” celotehnya. Saya takjub mendengarnya. Hebat..

“Tapi, ya begitu, Bu, karena dia emang belum waktunya meninggal, ya hidup lagi.. Memang cuma Allah yang menentukan kapan seseorang harus pulang dan kapan harus balik lagi. Cuma Allah yang Maha Tahu deh,” tuturnya. Saya sepakat dengan ucapan beliau.

Tidak terlalu lama perbincangan kami. Kurang dari 1 jam saja. Namun, lagi-lagi, obrolan singkat dan simpel itu membuat saya berpikir lebih dalam soal hidup. Jangan menyia-nyiakan waktu. Cintai orangtua dengan sikap baik. Tetaplah tersenyum dan optimis. Alhamdulillah.. Terima kasih, perbincangan berkualitas kita tadi, Pak Saidi. Semoga Allah senantiasa melimpahi Bapak dan keluarga dengan rezeki halal dan kesehatan prima. Aamiin.. ^_^

[Wisdom] tak ada waktu untuk mengeluh

Pak Saidi and I

 

Inget Pak Saidi, tukang parkir di Indomaret Pupan, yang pernah saya ceritakan di wall beberapa pekan lalu? Pagi ini kami bersua dan dia langsung bercerita kondisi ibunya yang sakit. Dan, seperti biasa, tak ada nada mengeluh ataupun beban mahaberat. Ia bercerita sambil tersenyum lebar.

“Sakit apa ibu, Pakdhe?” tanya saya tadi.

“Biasalah, sakit tua. Udah tua gitu,” jawabnya, masih nyengir. Namun, tak dimungkiri, ada rona kesedihan di matanya.

Obrolan kami berkali-kali terpotong oleh kesibukan ia memarkirkan mobil. Walau begitu, ia menyempatkan diri berbincang dengan saya, yang duduk di pagar pembatas areal parkir Pupan.

“Saya seminggu ini bolak-balik terus, sini dan sana (maksudnya Cikarang, rumah Pakdhe Saidi–nin). Waktu ibu sakit, dia minta dianter ke rumah saya yang di sana. Ya udah, saya anter. Saya tanya ke ibu, kuat ngga jalannya? Kalau ngga kuat, ya udah naik taksi. Lumayan, dari sini ke rumah saya nyampe Rp250.000 aja sih,” kisahnya.

“Astaghfirullahal’azim.. mahal juga ya,” tanpa sadar saya berseru.

Pak Saidi hanya tertawa kecil. “Soalnya ibu kan udah nggak kuat bangun, ya udah naik taksi,” balasnya. Tak ada nada keberatan sama sekali. Saya sampai menggelengkan kepala. Bukan karena ongkos taksi yang seperempat juta rupiah itu, melainkan karena sikap besar hati Pak Saidi menuruti kemauan ibunda tercinta. Sementara, kita tahu bahwa ia bukan orang yang berkecukupan, walaupun ia berhasil menyekolahkan istrinya sampai lulus S1 dan ketiga anaknya. Bermodal kegigihan menjadi tukang parkir dan kerja serabutan…sungguh saya mengagumi semangat bekerja dan kebesaran hatinya.

“Senin ibu minta antar, Selasa saya balik sini, Rabu subuh ibu telepon, minta dijemput pulang. Tau nggak jam berapa minta pulang?”

“Jam berapa?”

“Jam setengah tiga subuh. Orang mah masih tidur, ibu nelepon minta dianter pulang,” jawabnya sambil terkekeh.

“Ya Allah,” saya jadi ikut tertawa.

“Ya udah saya bilang, iya nanti pagi saya anter,” ia kembali terkekeh.

“Tapi ibu di sini ada yang ngurus kan?”

“Ada kakak saya,” jawabnya.

“Nah kemarin itu saya bolak-balik deh. Jadi, Jumat, Sabtu, Minggu saya kerja juga akhirnya,” ujar Pak Saidi lagi. Tumben. Biasanya setiap weekend ia menghabiskan waktu di Cikarang bersama keluarga. Mungkin karena menggantikan waktu kerja beberapa hari yang terpotong karena melayani sang ibu.

Perasaan saya jadi campur aduk. Antara kagum dengan semangatnya, kagum dengan kasih sayangnya kepada ibunda tercinta, kagum dengan rasa tanggung jawabnya menafkahi keluarga, kagum dengan rasa syukurnya menjalani hidup sehingga ia tak lagi punya waktu mengeluh.. Sungguh, Pak Saidi, dengan segala kesederhanaan dan kesahajaannya, adalah salah satu manusia paling mengagumkan di mata saya.

Semoga ibunda lekas sehat dan segar kembali, ya, Pak..

View on Path

[Journalism] beginilah luapan kekecewaan rakyat kecil

indonesia-cities-cityscapes-jakarta-skyline-2710105-1920x1200
Jakarta: Sudirman Area. Famous of its massive crazy traffic. (courtesy of hdscreen.me/walls/)

Pagi ini, seperti biasa, begitu turun dari halte Trans Jakarta, menyeberang jembatan penyeberangan ke arah Benhil, saya disambut ojek langganan. Bukan Pak Toha, bukan Pak Pardi, saya lupa menanyakan nama bapak ojek satu ini, tapi beliau langganan juga.

Saya bicara soal kemacetan di Ciputat. Saya naik dari halte APTB sejak 06.45 WIB, bus baru jalan sekira 07.15 WIB, tiba di Benhil 09.10 WIB. Euh.. kalah saya, “balapan” sama macet. “Biasa Bu di Ciputat mah. Apalagi sorenya nanti pulang, penuuuuh,” kata Pak Ojek, yang ternyata sering mendapat sewa ke arah Ciputat dan Pamulang itu.

Selanjutnya, Pak Ojek tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. “Bu, menurut saya, kalau dipikir-pikir, orang-orang kayak kita ini pejuang ya, Bu. Bekerja mencari nafkah di Jakarta yang kondisinya berat begini. Kita tetap sabar dan mencari rezeki halal. Ini kan jihad ya namanya, Bu?”

“Insyaa Allah, betul, Pak,” sahut saya.

“Nah, jadi sebenernya kita ini ngga perlulah jauh-jauh berjihad sampe ke… mana itu, Bu…. Palestina. Atau Afganistan begitu ya. Cukup di sini saja, mencari nafkah saja ini sudah jihad, ya kan?” katanya lagi.

Saya cengengesan mendengarnya. Tidak ada keinginan berdebat lebih panjang, jadi saya biarkan si bapak ojek berceloteh. Namun, kalimat beliau selanjutnya membuat saya ngakak sejadi-jadinya.

“Saya sempet punya pemikiran, Bu, orang-orang yang katanya berjihad dengan cara ngancurin rumah-rumah ibadah, itu menurut saya bodoh banget. Ngapain rumah ibadah dihancurkan? Salah sasaran itu. Kalau mau mendingan ledakin aja tuh gedung DPR,” ujarnya. Nada suaranya mantap dan tegas.

Gedung DPR/MPR Jakarta (courtesy of zona-populer.blogspot.com)
Gedung DPR/MPR Jakarta (courtesy of zona-populer.blogspot.com)

Asli saya ngakak di motor. Maaf, bukan maksud menertawakan pemikiran bapak, begitu saya katakan kepada Pak Ojek. Dia tidak protes dengan tawa saya.

“Tapi beneran, Bu. Kata saya sih mending ancurin tu gedung DPR, di situ isinya teroris semua soalnya,” Pak Ojek mengulangi kalimat itu saat saya turun. Di matanya tidak terlihat canda, melainkan keseriusan. Saya sampai tertegun.

“Kenapa Bapak sampai punya pemikiran seperti itu? Setahu saya, sekecil apapun pemikiran, pasti ada alasan yang kuat sampai Bapak menyampaikannya ke orang lain,” tanya saya, serius.

garuda_indonesia_by_drud_studio-d69koq3
Garuda Pancasila animated (courtesy of th01.deviantart.net)

“Ini hasil pemikiran dari kekecewaan dan kemarahan yang bertumpuk-tumpuk, Bu. Beneran deh. Kenapa mereka itu tidak bekerja dengan benar untuk rakyat, memperjuangkan rakyat kecil kayak kami ini, malah sibuk dengan partai, gontok-gontokan, dan memperkaya diri sendiri,” ucapnya. Saya makin terperangah mendengarnya. Tak ada lagi senyuman di wajah saya.

“Sabar aja ya, Pakdhe. Semoga ke depannya hidup rakyat di negeri ini semakin baik,” saya menyerahkan selembar uang kepada beliau, berterima kasih sambil tersenyum dan mengucap agar ia berhati-hati di jalan.

Setelah itu saya berjalan ke arah lobi kantor, bertegur sapa dengan kawan-kawan yang ada di selayang pandang. Namun kepala saya penuh dengan ucapan Pak Ojek tadi. Beliau mungkin profesinya “hanya” tukang ojek, tapi ucapan polos itu sangat menusuk ke hati.

Kalau saja para pejabat dan para dewan yang terhormat itu mau mulai mendengarkan suara rakyat kecil semacam mereka, kami dan kita…..

Mari berdoa untuk keutuhan bangsa ini. Biar saja para elit politik yang bertengkar, tapi rakyat Indonesia tetap solid bersatu, tanpa membedakan ras, kulit, mata, agama, jenis kelamin, profesi, strata sosial, dan pendidikan.

Bagaimana? 🙂

[Wisdom] Elfa, mahasiswi informatika menyambi sopir taksi

Sepulang dari Plaza Semanggi tadi saya naik taksi Blue Bird. Rada tertegun karena sopirnya perempuan, muda dan gaul (karena radionya memutar lagu Black Eyed Peas dan Maroon 5, hehe..) saya langsung menebak, “Masih kuliah ya, Mbak?”

image

Perempuan ayu bernama Elfa Oktaviani itu mengiyakan pertanyaan saya. Dari spion tengah saya bisa melihat sunggingan senyumnya. Manis. Selanjutnya perbincangan mengalir. Baru tiga bulan ia jadi sopir taksi Blue Bird. Capek nggak, merambahi jalan Jabodetabek sepanjang hari, setiap hari. “Capeknya dibawa senang aja, Bu. Kalau senang, kita menjalaninya enak,” jawabnya. Saya terkesan dengan gaya bicaranya yang polos tapi terpelajar itu.

Perjalanan Semanggi – Benhil memakan waktu kurang dari 20 menit, tapi saya mendapatkan banyak pelajaran dari Elfa, yang saya perkirakan berusia tak lebih dari 21 tahun itu. Seusia adik bungsu saya, Ellivia Nadia Putri.

Elfa adalah anak tertua, memiliki dua adik, perempuan (kuliah di Yogya) dan laki-laki (kelas 3 SMP). Ayahnya sudah tiada sejak 10 tahun lalu. Sejak itu ia turut banting tulang membantu ibunda membiayai diri sendiri dan adik-adiknya.

“Saya sempat cuti setahun untuk bekerja, karena tempat kerja yang lama tidak membolehkan pekerjaan terganggu kuliah. Ya sudah, saya pikir biar adik saya dulu saja yang selesai kuliah. Alhamdulillah sekarang adik sudah hampir selesai kuliah dan sudah bekerja magang juga di Pertamina Yogyakarta,” tutur mahasiswi jurusan Informatika BSI Bekasi ini.

Syukurlah, Blue Bird tempatnya bekerja memberi perlakuan khusus bagi pengemudi yang masih berstatus mahasiswa. “Saya boleh libur di hari tertentu untuk kuliah. Jadi jadwalnya beda dengan driver lain,” katanya. Ia juga mengaku digaji dengan sistem flat fee dan menyetor Rp500.000 per hari. Jadi, setiap harinya ia berangkat subuh dari pool-nya di Bekasi dan pulang ketika setoran sudah sampai di angka Rp500.000. Biasanya sekitar pukul 17.00an.

“Asyik kok Bu jadi sopir taksi. Ketemu banyak orang, macam-macam perilakunya, dan karena kita jalan-jalan terus, yang tadinya nggak tau jalan ke situ, sekarang jadi tau,” jelas Elfa, ceria.

Hanya satu hal yang menurutnya berat. Yaitu soal buang air. “Kalau laki-laki sih gampang mau buang air kecil bisa minggir dan cari pohon. Lha kita yang cewek kan susah. Makanya tadi mampir ke Plangi tadinya mau buang air kecil dulu, eh (antrian) teman-teman ternyata maju terus. Ngga jadi deh,” katanya. Iba, saya segera menawarkan Elfa untuk singgah sebentar di kantor guna ke toilet, tapi dengan sopan ia menolak. “Nggak apa-apa, Bu, saya masih bisa tahan kok,” sahutnya sambil tersenyum lebar.

Minum banyak adalah suatu keharusan bagi sopir taksi dalam kota seperti Elfa. Karena seharian menyetir dan terkena AC, mereka bisa dehidrasi. “Risikonya minum terus ya beser, Bu,” ia terkekeh.

Saya sempat berceloteh soal banyaknya para perempuan tangguh yang berprofesi sebagai sopir dan kondektur bus kota saat ini di Jakarta, Elfa mengiyakan. “Betul, Bu, sekarang kondektur Kopaja AC juga banyak perempuan,” cetusnya. Sebagai sesama perempuan bekerja, plus orang lapangan yang juga melihat sendiri kerasnya Jakarta, saya salut dengan ketangguhan mereka. Apalagi mengingat pergaulan di jalanan dan terminal sangat keras. “Kalau saya, alhamdulillah, teman-teman di pool memperlakukan saya dengan baik dan sopan,” ujar Elfa, seraya menambahkan ada enam sopir perempuan di pool-nya, tapi yang berstatus mahasiswa hanya dia.

Elfa mengaku kadang iri dengan orang-orang yang jadi penumpangnya. “Kelihatannya enak banget ya bisa setiap hari berangkat dan pulang kerja dengan taksi, tinggal duduk manis lalu bayar. Kerja apa ya mereka. Gajinya berapa. Tapi lama-lama saya sadari, itu hanya kelihatannya saja enak. Saya yakin yang namanya kerja pasti capek dan semua orang punya masalahnya masing-masing, hanya kadarnya saja yang beda. Berpikir begitu, saya jadi bersyukur bisa kerja sebagai sopir taksi,” celotehnya, membuat saya tertegun dan mengangguk-angguk, sepakat.

Sepanjang perjalanan saya perhatikan, tak ada intonasi keluhan di suaranya. Raut wajahnya pun tanpa beban. Tampaknya Elfa menjalani hidup dia yang pastinya berat itu se-enjoy mungkin. Di sini saya mulai malu hati. Hidup saya mungkin saja tidak lebih berat darinya, tapi saya merasa masih sering mengeluh. Kalah telak saya sama gadis muda yatim, yang memilih menikmati pekerjaannya menjadi sopir taksi satu ini. Sopir di Jakarta lho, tingkat kesulitannya level dewa! Ah.. Malu saya.

Dik Elfa, semoga Allah selalu melindungi setiap perjalananmu. Ini adalah jihadmu, demi menafkahi ibu dan adik-adikmu. Semoga Allah meridhoi dan memberkahi. Sampai jumpa lagi ya, dik..

[Journalism] potret lain kota termacet sedunia

10959614_10155264166355533_4657158113235168908_n
The traffic we were facing this morning, before Bundaran Senayan (Senayan Circle)

Kemacetan Jakarta rupanya membawa kerugian bagi petarung jalan raya—begitu saya menyebut para sopir bus dan angkutan umum Jakarta. Setidaknya itu hasil obrolan 2 jam saya dengan Pak Budi Masrani, sopir bus Bianglala 76 jurusan Ciputat-Senen. Sudah 20 tahun Pak Budi menjadi sopir Bianglala, sejak 1994, tepatnya.

“Dulu kami bisa 4-5 rit sehari. Sekarang paling banyak 3 rit. Itupun kalau siang sepi. Kemarin siang saya hanya bawa 12 orang satu bus. Otomatis pemasukan berkurang. Makin banyak aja mobil dan motor sekarang, sampe saya ngga habis pikir,” kata bapak dari tiga putra dan satu putri ini.

10400054_10155264167580533_3679322171004654311_n
Pakdhe kondektur lancar berbicara soal free trade, membuat saya melongo. 😀

“Ini pasti gara-gara perdagangan bebas. Jadinya produk-produk dari luar negeri masuk seenaknya aja ke dalam negeri. Bangsa yang memproduksi mobil dan motornya malah nggak ngga semacet kita negaranya kan?” sahut Pakdhe kondektur.

Wow. Saya sampe melongo mendengar pak kondektur berambut putih itu nyerocos soal teorinya terkait free trade. Wah, bapak ini pasti sering baca koran. Hehehe.. Mantap!

“Lalu lintas semakin parah macetnya itu mulai tahun 2008, Bu. Sebelumnya sih enak, lancar. Sekarang semua orang punya mobil sendiri dan ngga ada peraturan yang membatasi jumlah mobil di Jakarta ini. Jadinya yaa begini deh macetnya,” ujar Pak Budi lagi.

Lebih lanjut, baik sopir maupun kondektur sama-sama mengakui, mereka selalu ngeri dengan “sepak terjang” motor di jalan. Seharusnya mereka diberi jalur khusus saja agar tidak membuat kagok mobil. “Kalau bisa jalur mereka di atas aja, jalanannya dibikin tingkat gitu,” seru Pak Budi, membuat saya terbahak.
Sebenarnya itu bukan ide yang terlalu buruk. Tapi, mungkin nggak yaa pemerintah membuat jalanan bertingkat begitu khusus untuk jalur motor?

10991181_10155264167490533_6641775023707742653_n
Pak Budi, sopir bus langganan

Selebihnya, obrolan kami adalah seputar banjir dan macet yang terjadi tiga hari terakhir. Juga bicara soal jumlah armada Bianglala Ciputat – Senen yang berjumlah 12 bus. Bicara pula soal pemilik Bianglala asal Magelang, yang saat ini sedang semangat mengejar proyek Amari (?) busway yang akan beroperasi pukul 8 pagi sampai 4 sore. Sempat menyinggung juga soal Mayasari Bakti yang ternyata “dikuasai” oleh orang-orang Jawa Timur. Hmmm..

Meski punya waktu 2 jam, saya kurang bisa intens mengobrol dengan pak sopir. Namanya juga dia sedang kerja. Menjawabi pertanyaan saya dengan baik dan sopan saja saya sudah senang sekali.

Namun, sempat saya tanyakan kepada beliau, “Apa ngga pegal, Pak, duduk seharian menyetir?”

Pak Budi tertawa, “Ya pegal, Bu. Stres juga melihat jalanan macet begini, tapi ya nikmati saja.”

Ya, ya.. 😀

Memang tidak ada opsi lagi selain bersabar di jalanan di Jakarta, kota nomor satu termacet di dunia. Semoga selamat di perjalanan ya, Pak Budi. 🙂

Jakarta tak ramah pedestrian

Trus kita disuruh pindah dari Jakarta aja gitu? Nasihat basi yang gak ngasih solusi!! Nyemplung aja ke laut buat orang-orang yang bakal ngasih nasihat begitu! Pake sedikit otaknya untuk mikir lebih cerdas.

Jangan hanya mengutamakan pengendara, pedestrian (pejalan kaki) juga sama pentingnya! Kita sama-sama warga Jabodetabek; Sama-sama cari makan di sini, sama-sama bayar pajak utk negara, sama-sama punya kepentingan hidup di kota ini. Kompaklah sedikit. Empatilah sedikit. Bersikap selayaknya MANUSIA lah sedikit. Kalau nggak mampu jadi manusia, jadi binatang aja di Ragunan!

Sudah kodratnya infrastruktur itu jadi salah satu unsur penunjang perekonomian warga (secara mikro), bahkan nation’s economic growth (secara makro). Mau Indonesia maju? Berinvestasilah di infrastruktur sarana dan prasarana publik. Kalau nggak mau, ya udah, ayo kita hancur bersama-sama juga!

So, pemerintah yang terhormat, perbaiki dong infrastruktur Jakarta! Jangan pake dompleng biaya (mark up) perbaikan/maintenance-nya ya! Gunakan pajak yang dihasilkan dari rakyatmu sendiri itu. Sip kan? Pasti bisa!

#SaveJakarta infrastructures for its people.

View on Path

[Traffic Story] About Jakarta’s Buses

Karena postingan kali ini (bisa dibilang) informasi yang bermanfaat, saya akan menulis sesingkat mungkin dalam dua bahasa: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Since this entry would be a (hopefully) useful information, I will write it brief and bilingually–English and Bahasa Indonesia.

Dalam satu bulan terakhir, saya sudah jadi penumpang teladan bagi salah satu jenis angkutan umum yang paling populer: bus kota.

For the past month, I’ve been a regular passengers of one of the most popular public transportations in Jakarta: city bus. 

Biasanya saya naik bus dari depan Halte Selapa, Lebak Bulus, dan trayek bus yang bisa membawa saya ke kantor cukup banyak sebetulnya. Kalau favorit saya sih: Kopaja 615 Lebak Bulus – Tanah Abang (tidak AC); Bus Bianglala Ciputat – Senen (AC-76); Bus Bianglala Ciputat – Gajah Mada (AC-57); dan Bus APTB 04 TransJakarta Ciputat – Kota. Berikut ini akan saya beberkan jalur trayek dan berapa ongkos bayarnya. Oh ya, kantor saya ada di daerah Bendungan Hilir, masih di jalur utama Senayan – Sudirman – Thamrin.

I usually take the bus from Selapa (Police School) Bus Stop, Lebak Bulus (South Jakarta), and the bus route which able to take me to the office is pretty various actually. But my personal favorites are: Kopaja (a medium size bus) 615 Lebak Bulus – Tanah Abang (Non-AC); Bianglala Bus Ciputat – Senen (AC-76); Bianglala Bus Ciputat – Gajah Mada (AC-57); dan Bus APTB 04 TransJakarta Ciputat – Kota. I will explain which route they take and how much they cost you. Oh, by the way, my office is at Bendungan Hilir (Central Jakarta) area. Around the main Central Jakarta road of Senayan – Sudirman – Thamrin. 

I will stop translating here, since it’s “secure” enough to explain it all in English, I think. ^_^ 

Jl. Raya Ciputat - Lebak Bulus diambil dari Halte Selapa
Jl. Raya Ciputat – Lebak Bulus diambil dari Halte Selapa

Kopaja 615 (Non AC) Lebak Bulus – Tanah Abang
Cost you: Rp3.000
Route: Lebak Bulus – TB Simatupang (they will take toll way and exit at Fatmawati) – Cilandak Town Square (Citos) – Pangeran Antasari – Prapanca – Blok M – Pattimura/Al Azhar – Hang Lekir – Univ. Moestopo Beragama/SCTV – Asia Afrika (Senayan City/Plaza Senayan) – TVRI – Gatot Subroto (DPR/MPR) – Slipi kolong – Pejompongan – Tanah Abang.

Bianglala (AC-76) Ciputat – Senen
Cost you: Rp7.000
Route: Ciputat – Pasar Jumat/Lebak Bulus – TB Simatupang (just like Kopaja 615, they take toll way and exit at Fatmawati) – turn left to Fatmawati – Cipete/D’best – Nawi/ITC Fatmawati – Blok A – Panglima Polim – Blok M Plaza – Al Azhar – Senayan (Bundaran, Ratu Plaza, Gelora Bung Karno, Komdak) – Semanggi underpass – Sudirman (Bendungan Hilir, Dukuh Atas) – Velbak – Diponegoro – Salemba – Senen.

Bianglala (AC-57) Ciputat – Gj. Mada
Cost you: Rp7.000
Route: Ciputat – Pasar Jumat/Lebak Bulus – Metro Pondok Indah – Pondok Indah Mall (PIM) – Radio Dalam – Kramat Pela – Panglima Polim – Blok M Plaza – Blok M Plaza – Al Azhar – Senayan (Bundaran, Ratu Plaza, Gelora Bung Karno, Komdak) – Semanggi underpass – Sudirman (Bendungan Hilir, Dukuh Atas) – Bundaran HI – Thamrin (Plaza Indonesia/BII, Sarinah, Bank Indonesia) – Jl. Merdeka (Monas) – Gajah Mada.

APTB 04 Ciputat – Kota
Cost you: Rp8.000
Route: Ciputat – Pasar Jumat/Lebak Bulus – Metro Pondok Indah – Pondok Indah Mall (PIM) – Radio Dalam – Kramat Pela – Panglima Polim – Blok M Plaza – Blok M Plaza – Al Azhar – Senayan (Bundaran, Ratu Plaza, Gelora Bung Karno, Komdak) – Semanggi underpass – Sudirman (Bendungan Hilir, Dukuh Atas) – Bundaran HI – Thamrin (Plaza Indonesia/BII, Sarinah, Bank Indonesia) – Jl. Merdeka (Monas) – Gajah Mada – Harmoni – Stasiun Kota.

Note:

Taking APTB 04 has its own plus and minus.

Plus: eventhough the bus takes the same route as Bianglala Bus AC-57, but after Blok M, they will take the busway lane, which makes it travels a lot faster, because busway lane was made especially for TransJakarta company and its integrated bus transportation. No other buses or vehicle are allowed to take its lane.

Minus: Rp1.000 more expensive than regular bus, and you will STAND UP riding it, all the way to your destination. You may need to stand up for 1-2 hours! But if you really don’t want to stand up riding it, I suggest you go far to Ciputat area where it will take some time to stop and waiting for passengers on its “shadow terminal”. This Ciputat – Lebak Bulus is about 9 km away in distance. And not to mention: traffic jam.

There. I’ve shared you the buses I usually take to go to the office. I thought you might need this information when you guys visit Jakarta and happens to be “stranded” on Lebak Bulus Area.

Anyways, if you need a complete information about all of the bus-routes of Lebak Bulus, please click here.

Weird Biker

Every single day as I leave home to the office, I always find interesting things on the road. Stylish bikers, whom bike, jacket, even the shoes and backpacks are all wearing the same color. Nice! Usually, they are long-ranged bikers, who rides to work. And, there are also bikers whom only wear flops, no helmet, and their style of riding are really pain in the ass. *LOL* These are usually no-license short-range local bikers, who rides only to the mart. Rrrrrryte…

Kawasaki Ninja 250CC
Ilust. The same bike as the “weird biker” I say here. (source: http://informationofprice.blogspot.com/2012/08/kawasaki-ninja-250r-2009-red.html)

Well, today, there is a biker who “rode the wind” on the buslane side at the Simprug – Permata Hijau area (Southern Jakarta, Indonesia). Whoaaa.., I thought, cool! He rides striped red-black-white Kawasaki Ninja 250 CC. The biker is also really stylish, wearing the same color as the bike. Except the helmet. He uses Valentino Rossi’s helmet: the sun and moon. So it’s kinda yellow and blue-ish helmet. But, still, KEWL!!!

Okay, you’re alright, I thought to myself. Meanwhile, we–me and the motortaxi–got passed the normal lane: went u-turn at the Permata Hijau tunnel, taking short cut to Senayan Golf area, and voila, arrived at Patal Senayan.

But, guess what, not long after we took the right lane in Patal Senayan road, I heard the same sound of the Kawasaki Ninja as the earlier bike. And, yep. There he is–the red-white-black 250cc Kawasaki Ninja, with that stylish biker, Rossi’s moon and sun replica helmet and very cool black hardcase back pack. But, what the heck! Didn’t he get pass us 10 minutes ago?

We let him pass us again on that Patal Senayan road. Then I talked to Iwan, my motortaxi driver, “You see, Wan, that’s the same biker we met at Simprug.”

“Really? Didn’t he ride fast long ago?”

“Yeah he did. Weird biker..” I replied.

When we are in front of Mulia Hotel Senayan, about 300 meters from Patal Senayan, well, we met that the red-white-black 250cc Kawasaki Ninja, AGAIN. Yes. The same bike, same biker, same sound. He was trapped on the left lane, wher there are many jockeys (an illegal service people to fool the police on the 3 in 1 area) and stopped cars to rent 1-2 jockeys.

I was thinking, “Bloody hell. Didn’t he get the trick of Jakarta’s road?” Then we, who ride blue-black Yamaha Mio matic 125CC, get passed him, because we took the right lane–the emptier and swifter lane. And then we turn right, to the area of TVRI (national TV station) Senayan. Hey, THE bike also took the same road with ours. But again, he’s on the left lane, so the jockey and stuck traffic trapped him all over again. This time, I laughed and told Iwan, “Guess this biker is kind of stupid, Wan. His bike is really noisy, but he didn’t go anywhere farther.”

Bajaj
Bajaj, the common public transport in Jakarta (img source: http://www.indonesia-travel-guide.com/Image/Jakarta_Travel_Guide/Bajaj_2.jpg)

And then, 50 meters later, he overtook us. Well, since he rides faster bike, it’s easy for him to do so. But, you know what, again, as we get passed the Senayan Fly Over and took the left lane to The Navy buildings area, THE red-white-black 250cc Kawasaki Ninja also took the same road, and went to Bendungan Hilir area. But he got stuck again with the traffic there, so we get passed him. Hahahaha..

This time, Iwan commented, “I think you’re right, Mbak, the biker IS weird. Stupid, maybe. He didn’t know the right lane to take.”

“Yeah,” I laughed, “It makes him just the same with Bajaj (a public transport), noisy but didn’t go so far.”

Moral of the story: if you want to flaunt, be smart.

Huahahahaha..

On The Road Photos (1)

Good evening, Comrades!

Lately, I have a new hobby.  Since I always ride the motor-taxi now, I have time to look around. Observing the motorcyclists–we often call them “riders”–I met on the road. Day by day, these riders fascinated me. I will not comment how they ride. I prefer to comment about what they’re wearing.

And to be honest, mostly, my eyes focused on their shoes. Hahaha.. Not that I’m a foot-fetish, but I do love shoes. ^_^

Okay, here comes the first pic..

firstavina.com says, nice shoes!
nice shoes!

The pic on the left, obviously, I love the shoes. My type of shoes: flat, earth-colored moccasin. Honestly, I’m not so good when it comes to fashion. I only wear things I liked and look pretty fit for me.

In my younger time, I always wear snickers. I love its durability and I can use it for a long walk without hurting my feet. But I stop using snickers when I begin my career. When I was still a journalist, wearing snickers was not a problem at all, but then I was assigned to government institutions which require a semi-formal clothing. Even for journalists. So, yeah, I started to turn my head to a more formal fashion, and shoes.

For clothings, I was still quite stubborn to keep my casual style, plus denim jacket and backpack. ^_^ But for shoes, my choice was flat (or maximum 3 cm heels) moccasin. I don’t do leather shoes. I like them, but they’re tough to maintain. I did use several leather shoes, and then the leather started to wrinkle and fell apart. It made the entire shoes look terrible. So, moccasin is the right type of shoes for me. Hmm..

firstavina.com says, nice jacket!
nice jacket!

Next pic, on the right. I love the jacket! Again, brown, earth-colored. I love earth colors. Synthetic (artificial) leather. Doesn’t matter. It still looks cool on her. ^_^

Anyways, even though I love the jacket, I never use leather or synthetic leather jacket. But recently my daughter bought me a synthetic leather jacket from anime theme: Shingeki No Kyojin or Attack on Titan. The soldiers’ jacket on the anime is really stylish.

Actually, I was aiming for the long coat of Akatsuki (from Naruto shiipuden anime series). Because it’s long–below knee length–black colored, contrasted with the red kintoun (holy cloud) emblem attached to it, and red layer inside. (see pic on the left, or click here). But Shingeki No Kyojin jacket my daughter bought me was pretty nice. A little tight though–and Audi (my daughter) told that she bought smaller size on purpose, so that I can go on diet to use it. What the… ~ bad, bad daughter! *sigh*

Hehehehe.. ^_^

firstavina.com says, nice pashmina!
nice pashmina!

Ow-kay.. next pic on the left… Ooh.. a mixed patterns with paisley accent pashmina. It’s pashmina, and it has paisley pattern!! Perfect combination. And the terracotta color made it more fascinating (for me) to see.

Oh, yeah, as you may see, I love pashminas. I ocassionally wear it as my hijab (head scarf). I personally love plain or simple patterns. And of all the patterns exist in this world, I love traditional ones. And paisley certainly IS one of the traditional patterns.

Perhaps, you, my dear reader-comrades, already knew what paisley is. It’s said, paisley pattern is a design using the boteh or buta, a droplet-shaped vegetable motif of Persian or Indian origin. Such a lovely pattern indeed!

firstavina.com says, nice style!
nice style!

Now, pic on the right….

This girl knew how to look good on motorcycle. She uses a backpack of the same color with her ride. And the red color of this motorcycle is so nice! Love it.

If you can see the inzet (upper left of the pic), it’s taken when I was about 10 meters behind her. Then, she went slower to take the right turn, and we got passed her. I was lucky to have succeeded to take a snap shot right before we went separate way. ^_^

Drive safely, sister!

Now, the picture below. Can you guess? Yes, it’s a Mazda 2 hatchback. One of the perfect types of city car. Somehow, every time I hit the road, this type of green Mazda 2 always caught my eyes’ attention.

firstavina.com says, nice car!
nice car!

There are many green hatchback type of cars all over Jakarta. You know, like green-colored Mitsubishi Mirage, green-colored Honda Jazz, green-colored Kia Visto, green-colored Proton Savvy, green-colored Chevrolet Spark, green-colored Suzuki Karimun, green-coloredNissan Juke, green-colored Hyundai Atoz or Gets, or green-colored Toyota Yaris. But Mazda green, IMHO, is the most appealing green-colored hatchback. As the matter of fact, it’s probably the most appealing green-colored CAR ever existed in Indonesia. I love it. But, I can’t afford to buy it. Hahaha.. One day, maybe.

Since Jakarta is a very crowded place, complete with stressful heavy traffic, and loooong queue line just to get through a simple intersection with traffic light, hatchback becomes a very ideal type of city car. It’s small but not too narrow, and not too heavy in weight, so it’s more agile. Beside, as a Jakartan driver, you must be VERY agile and skillful. MUST go FAST, but drive safely. Otherwise, riders behind you will suffer your slowness and recklessness. That’s why it’s really hard to be punctual in Jakarta. Everything depends on the traffic. If you don’t want to be late, you must go like 2-3 hours before the rendezvous time. Better early than late.

Yeah, it’s that bad.

Okay, that’s all for tonight’s entry. See you in more of “On the road Photos” entry series.

Drive safely!

Kisah Seorang Jambret Gagal

Listen to me narrating this entry, here:

* * *

Perjalanan saya ke kantor hari ini indah banget. Selain jalanan lancar, juga dipenuhi tawa geli. Alhamdulillah..

First of all, tumben banget lalulintas hari ini lancar. Padahal hari Jumat nih. Biasanya kan macet gila. Mungkin gegara tadi subuh ada truk tronton jeblos melintang di Jalan Cirendeu (arah Pondok Cabe). Sepertinya si truk jeblos ke got, karena stirnya gagal berbelok penuh. Ya eyalah, truk 40 feet (eh atau 20 feet ya? Cuma lihat di twitpic aja sih) mau berbelok 90 derajat di jalanan kecil. Lebarnya Jalan Cirendeu kan ngga sampai 15 meter! Akhirnya jeblos lah itu ban kirinya, dengan posisi bodi mobil melintang. Alhasil, macet luar biasa. Hanya motor yang bisa melintas. Mobil, bisa, tapi mepet banget. Kabar ini dituturkan oleh Iwan, ojek langganan saya, yang memang harus lewat Cirendeu untuk menjemput saya ke rumah. ^_^

Untungnya, begitu berangkat (start dari rumah sekira pukul 07.10 WIB) jalanan sudah lancar. Yang tersisa cuma beberapa petugas polisi dan dishub, masih mengatur lalulintas. Hebatnya, jalanan lancar terus sampai Fedex. Yep, bahkan Lebak Bulus juga lancar! Wahooo! Pondok Pinang, tersendat di Muhi, seperti biasa. Selanjutnya: pertigaan Tanah Kusir, Praja, Kebayoran Lama, Simprug, Senayan, Farmasi (Ladokgi) semuanya lancar. Alhamdulillah..

Nah trus gimana saya bisa cekikikan geli di jalan?

Jadi gini.. Waktu melintas daerah Goden (Pondok Pinang), Iwan bertegur sapa saat melintasi kios kecil tambal ban. Dia say hello sama tukang tambal ban itu, dan dibalas dengan tawa lebar si tukang tambal ban. Setelah itu, Iwan mulai bercerita.

“Kawan saya yang satu itu, kacau juga tuh, Mbak,” kata Iwan mengawali.

“Kacau gimana?”

“Ya kacau. Pernah bandel. Jadi dia pernah diajakin cari uang gampang sama temennya. Diajakin ngejambret gitu, tapi gagal, malah dibui,” jawab Iwan.

“Lho, gagal jambret?”

jambret-gagal
(Photo borrowed from merdeka.com)

“Iya. Lagian ya begonya dia sendiri. Ceritanya dia ngejambretnya di daerah Muhi sini. Mbak tau kan yang di belokan Muhi situ dulu kan ngga ada lampunya tuh, gelap gitu,” ujar Iwan.

“Oh iya, iya,” sahut saya.

“Nah, karena gelap, dia main cegat aja motor yang lewat. Dia ngga liat lagi siapa sasarannya,” lanjut Iwan.

“Nah lho. Trus?”

“Ternyata yang dia sergap itu polisi,” cetus Iwan.

“Hah?! Hahahaaha.. Mampus pasti. Dia sendirian beraksinya?” saya mulai tertawa.

“Iya dia sendirian, temennya nungguin di tanjakan. Lah dia kaget begitu tau sasarannya ternyata polisi. Langsung dibeceng, ‘Jangan bergerak!’ kata polisinya. Trus begonya, dia ngga ada usaha kabur sama sekali. Pasrah aja. Dia bilang, kalo digebukin mah biasa dah, dia masih kuat. Lah kalau ditembak, gimana. Takut dia. Jadi, ya kena deh. Trus bukan cuma dia doang yang kena, komplotannya semua ketangkep. Yang kabur pakai motor langsung dikejar sama polisi patroli, motornya ditabrak sekalian sama patroli. Soalnya emang kebetulan saat itu banyak polisi patroli lagi pada kumpul di perempatan Veteran,” tutur Iwan. Saya sudah ngga bisa nanya lagi karena sibuk ngakak.

Kebayang, polisi yang disergap temennya Iwan ini langsung nge-HT kawan-kawannya yang sedang patroli, ngga jauh (ngga sampai 1 km) dari TKP. Dan kalau polisi udah jengkel, karena penjahatnya mencoba menjambret kawan sejawatnya, ya mampus lah itu penjahat. Wekekekekeke..

“Ketangkep deh 5 orang, plus dia, jadi 6 orang. Lumayan, hampir sebulan dia dibui. Yang tadinya mau dapet uang gampang, keluarga dia malah harus ngeluarin uang untuk menebus dari bui. Ada kali tuh abis Rp10 jutaan untuk ngeluarin dia dari penjara,” lanjut Iwan. Saya makin ngakak. Uang ngga dapat, malah harus berurusan dengan polisi, mengeluarkan uang banyak, di-blacklist sama polisi, di-blacklist pula sama komplotan jambretnya. Hahahahaha.. Kesian amat ni jambret gagal.

“Trus gimana lagi, Bang? Dia pulang kampung dong abis itu?”

“Iya. Abis keluar dari penjara, dia pulang kampung. Lama di kampungnya trus balik lagi ke sini. Kalau nasib yang 5 orang lagi, ngga tau deh. Di sini, kita sering godain dia, ‘Bro, kita ngejambret lagi nyok?’ dia cuma nyengir doang sambil jawab, ‘Ah elo, jangan gitu dong.’ Kapok bener dia. Pernah juga diajarin ngga jujur, suruh nebar paku supaya usaha tambal bannya lancar, dia ngga mau. Beneran kapok kayaknya dia sama hal-hal yang gak jujur. Dia gak mau berurusan lagi sama polisi kali,” kata Iwan.

“Iyalah. Orang yang udah keluar dari penjara itu gerak-geriknya biasanya sih terus diawasi sama polisi dan intel. Eh, polisi mana yang nangkepin komplotannya itu?” tanya saya.

“Polsek Pesanggrahan, Mbak.”

“Ooh.. Pantesan. Wajarlah. Pesanggrahan itu biarpun polsek kecil, kiprahnya galak. Ngga kayak Kebayoran Lama. Hehehe..,” tutur saya, sambil bernostalgia 8 tahun lalu, saat wara-wiri nongkrongin semua Polsek se-Jakarta Selatan. ^_^

“Nah, waktu kemarin yang kejadian di Pondok Pinang itu juga kan banyak polisi patroli di depan Goden situ, dia langsung tutup kiosnya, trus tidur di pabrik Aqua itu.”

“Hahahaha.. parno dia?”

“Iya, parno. Pokoknya kalau banyak orang berseragam (polisi) dia langsung menyingkir,” ujar Iwan.

Wekekekekekekek..

Selanjutnya, saya bilang ke Iwan, mungkin dia dibikin “sial” begitu justru karena Allah sayang sama dia. Ngga boleh lama-lama bersentuhan dengan dunia kejahatan. Karena, kalau Allah ngga sayang, trus dia makan uang haram, ya akan dibiarkan saja. Nauzubillahi-min-zalik..

Jadi, masih baguslah dia akhirnya kapok dan bertobat. Semoga Allah menerima tobatnya dan terus mengarahkan dia ke jalan yang lurus. Aamiin.. Siapa tau, dengan gagal jadi penjambret, dia malah akan sukses jadi pengusaha otomotif ke depannya? Wallahu alam. Tapi, at least, cerita miris dia bisa jadi pelajaran dan hiburan juga buat kawan-kawannya, dan juga saya. Hihihihii.. ^_^

* * *

Listen to the “bloopers” when narrating this entry
(my youngest son was teasing me) ^_^

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: