Mantan: The Beautiful Lesson

Banyak yang update status terkait mantan hari ini. Rerata, bernada bete dan enekk. Atuhlah jangan gitu, KawaNina. Sebelum jadi mantan kan mereka juga temen, trus jadi demen, dan karena tidak digariskan berjodoh, ya batal jadi manten.

Atau mungkin sudah pernah manten sama dia, lalu karena qodarullah, si dia berakhir jadi mantan. Wallahua’lam. Yang jelas, biarlah masa lalu menjadi masa lalu, tanpa menyisakan rasa apa-apa, termasuk amarah, kekecewaan, kesedihan, kegalauan, dan sejenisnya.
Take it easy. Take a deep breath. Maafkan dia. Dan terutama, maafkan diri sendiri.

Saya dengan mantan, alhamdulillah tetap berteman. Bisa kok. Perlu waktu, tentunya. Ikhlas memaafkan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Tak sesimpel jentikan jari Thanos pulak. Kalau ikutin hasrat hati sih, pengennya ngelemparin dia pake bunga, beserta tanah dan potnya. ūüėú Satu kebun kalau perlu.. #ehhh

Tapi jangan lah, ya. Dosa. Apalagi kalau dia terbunuh, kan gak lucu masuk penjara gegara mantan. Kita sudah mengajukan pledoi (pembelaan), tapi tim jaksa mencecar dengan replik, dan duplik yang kita buat tak menyentuh hati pak hakim. Akhirnya kita divonis 7 tahun penjara karena pelanggaran pasal KUHP 351, penganiayaan yang berakibat kematian. Trus di penjara kita di-bully sama napi lain, diledekin karena gagal move on trus kita matiin mantan, padahal bukan begitu cerita sebenarnya. Akhirnya kita frustrasi di penjara. Mabu’-mabu’an, terlibat narkoba, dan terjerumus kehidupan seks bebas di penjara, berakhir dengan aids, trus…… eh bentar, ini kok jauh amat gue ngehayalnya…

ZZSSSTTTT.. << rewind >>

Okeh, balik lagi ke realitas. Soal mantan. Sudahlah, relakan saja, KawaNina. Sabar, sabar, dan sabar.. Jika ingin membalas mantan, tunjukkan padanya bahwa hidup kita lebih bahagia tanpa dia. Jika dia juga lebih bahagia tanpa kita, alhamdulillah, berbahagialah untuk dia. Pokoknya doakan yang baik-baik aja ya..

Udah segitu aja sih. Pengen lucu, tapi gagal kayaknya ini. Wkwkwkw.. Selamat Malam Jumatan buat yang menjalankannya. Saya cukup ber-Kamis malam saja.

Hiks.. #sedihakutuh

[Wisdom] Pelukan yang Selamanya Memeluk Saya

Cerita pengalaman sepupu saya yang menjadi relawan ACT untuk pengungsi Rohingya di Aceh. Sedikit mengenai sepupu saya ini, beliau bernama Nurman Priatna, anak dari Surya dan Ratna Hazil (almh). Ia adalah cucu Hazil Tanzil (alm), seorang ekonom besar di era 70an yang telah meluncurkan beberapa buku tentang ekonomi. Hazil Tanzil adalah adik kandung dari kakek saya, Jazir Tanzil. Keduanya (Hazil dan Jazir) adalah adik dari Djohan Sjahroezah Tanzil (menantu H. Agus Salim), seorang pejuang kemerdekaan bersama paman mereka Sutan Sjahrir.

Panjang bener ini silsilah. Hehehe..

Kembali ke Nurman, ia dulunya bekerja di perusahaan advertising bergengsi Ogilvy. Timnya meraih berbagai penghargaan sebagai iklan (pariwara) terbaik, antara lain iklan Hexos, di tahun 2000-an. Nurman juga salah satu sepupu Tanzil yang paling dekat dengan saya di antara ratusan cucu Tanzil lainnya. Kami dekat sejak kecil. Kini Nurmie–begitu saya memanggilnya, tumbuh menjadi lelaki sholeh, suami yang sabar dan bapak dari dua gadis kecil cantik. Anak-anak cantik Nurmie sampai sekarang belum pernah ketemu sama tantenya yg juga cantik ini…hiks… *lho kok curhat* ūüėÄ

Okay, without further ado, berikut adalah cerita pengalaman beliau menjadi relawan untuk pengungsi Rohingya.

Pelukan yang Selamanya Memeluk Saya

wpid-fb_img_1433656708345.jpg
(Dok. Nurman Priatna)

Alhamdulillah, dua hari terakhir ini, sampai juga saya ke pengungsian sementara saudara-saudara Rohingya di Aceh Utara, tepatnya di kecamatan Kuala Cangkoy, desa Tanah Pasir dan pelabuhan Kuala Langsa. Bekerja di divisi yang menangani strategi dan eksekusi kreatif berbagai materi komunikasi lembaga kemanusiaan ACT, membuat kesempatan ini demikian mewah bagi saya. Akhirnya ada rehat dari hari-hari sibuk dalam ruangan untuk brainstorming, berjibaku di studio desain dan audio visual, serta memonitor konten dan aktivitas akun-akun media sosial yang seolah tak pernah berhenti.

Berbagai perasaan bercampur baur dalam hati. Saya telah mengikuti kisah sedih Rohingya sejak 2012. Waktu itu saya masih bekerja sebagai praktisi kreatif di sebuah perusahaan periklanan. Saya tak habis pikir, ketika sahabat-sahabat ACT menceritakan kisah Rohingya yang teraniaya puluhan tahun di negeri yang sebenarnya tak jauh dari Indonesia. Hanya segelintir yang mengetahui derita mereka yang dibantai puluhan tahun hingga tersisa kurang dari sepersepuluhnya saja. Tak heran, PBB menobatkan mereka sebagai etnis paling teraniaya di dunia.

Kembali ke perjalanan kali ini. Diawali rute udara dari Jakarta hingga Medan, sejenak kami mampir ke kantor cabang ACT Medan yang baru dua minggu lalu dioperasikan, salah satunya untuk mendukung aktivitas membantu saudara-saudara Rohingya ini. Perjalanan dilanjutkan selama tujuh jam dengan mobil ke Aceh Timur yaitu pelabuhan Kuala Langsa, di mana posko dan lokasi pengungsian ACT berada. Kemacetan terjadi di pintu pelabuhan. Antrian panjang mobil-mobil pribadi, truk bak terbuka, dan puluhan motor tampak mengular. Ternyata di pintu pelabuhan, polisi-jaga ketat menyeleksi sebelum mengizinkan pengunjung masuk. Kebanyakan masyarakat Aceh yang tak memiliki kepentingan khusus dan datang atas nama pribadi diminta untuk kembali berputar, tak diizinkan masuk. Walau mungkin kecewa karena itikad baik mereka bersilaturrahim dengan pengungsi tak terwujud, semua berjalan tertib. Ah, beda banget dengan Jakarta dengan segala dramanya. Yang jelas salah aja bisa ngotot luar biasa.

Senang sekali saat kami memasuki area pengungsian. Wajah-wajah pria dewasa Rohingya yang rata-rata berkulit hitam manis dan bermata besar tampak berbinar, salam terucap dari bibir-bibir mereka. Sebagian tengah asyik bermain sepakbola, sebagian duduk-duduk menikmati suasana. Alhamdulillah, saya selalu merasa doa mereka tak berjarak dari ridha-Nya. Bahkan menerima dan membalas salam mereka juga berarti mengumpulkan doa keselamatan dan keberkahan bagi diri saya. Senyum kini menghias bibir mereka, demikian beda dengan foto-foto mereka histeris berteriak minta tolong dari kapal-kapal kayu yang hampir tenggelam di perairan Aceh Timur dan Utara.

Sampai di posko ACT, tampak anak-anak bermain di mini playground di depan tenda pleton ditemani para wanita Rohingya. Tak semua anak bersama ibu dan ayahnya. Sebagian orang tua mereka terbunuh di negerinya, terdampar di negara lain tanpa kabar berita, tak sedikit yang wafat saat berbulan-bulan terombang-ambing di tengah lautan karena kehausan, kelaparan atau menahan sakit tanpa pengobatan. Entah bagaimana anak-anak ini bisa bertahan, dipanggang panasnya matahari serta dinginnya malam di tengah lautan terbuka. Tampak mereka mulai tersenyum walau masih malu-malu. Saya pun masih malu-malu; setengah terharu, setengah masih terlalu kaku karena sudah lama tidak turun ke lapangan. Saya pengen banget menggendong dan memeluk anak-anak itu, tapi entahlah, pada pertemuan pertama itu hanya berjabatan dan membelai kepala mereka yang saya dapati. Memang waktu sangat pendek, dan kami masih mengejar waktu menuju Lhokseumawe malam itu. Membuat saya sedikit menyesal saat larut malam hingga dini hari briefing untuk merencanakan pembangunan Integrated Community Shelter bagi mereka, sebagaimana didukung dan cepat diizinkan oleh pemerintah daerah Aceh Utara. Memasuki jumat yang berkah, saya berdoa diberi-Nya kesempatan kedua.

Kesempatan kedua itu hadir jumat sore, 5 Juni 2015. Berbagai aktivitas digeber sejak pagi; briefing sambil meninjau lokasi shelter di Kuta Makmur, memenuhi undangan siaran di RRI Lhokseumawe, silaturrahim dengan aparat sekretaris daerah Aceh Utara, shalat jum’at, lalu kembali briefing sambil makan siang. Atas izin Allah SWT, sore hari kami sampai ke Kuala Cangkoy, tepi laut yang permai di mana 332 pengungsi Rohingya sementara ditampung. In sya Allah, seluruh ikhtiar kami dua pekan ke depan akan berfokus membangun shelter untuk ditempati mereka di pengungsian ini sebelum Ramadhan.

Sejenak saya kesampingkan beban proses pembangunan shelter secepat kilat yang telah beberapa kali dituntaskan ACT di Jogja, Padang, serta terakhir Banjarnegara. Saya benar-benar menikmati ngobrol, bermain dan menikmati waktu ceria bersama saudara-saudara Rohingya, khususnya para ananda hebat yang ditakdirkan Allah SWT bertahan hidup melewati segala kesulitan dan bisa hadir di hadapan kami. Kasihan anak-anak itu, banyak yang masih mengalami sakit kulit, tampak di bagian kepala, ada juga yang memperlihatkan luka di punggungnya yang masih dalam perawatan. Tapi tampaknya mereka tak mau melihat saya menye-menye, malah saya dikerubungi, digelendoti bahkan beberapa terus minta digendong dan dipeluk. Anak-anak ini ternyata seru banget. Satu anak perempuan yang masih berusia 16 bulan tak mau melepaskan pelukannya bahkan saat semua teman sudah menunggu di dalam mobil yang harus segera kembali ke posko utama di Lhokseumawe. Saya melambai dan melambai kepada mereka di balik kaca, berharap bisa bertemu lagi, insya Allah di shelter yang lebih nyaman dan layak untuk mereka huni dalam waktu panjang, hingga mereka kelak mampu mandiri. Tak hanya menemukan, tapi sudah meyakini dan mewujudkan harapan hidup kembali.

Hingga dini hari kala saya menuliskan cerita ini, pelukan demi pelukan anak-anak Rohingya itu masih terasa. Dan saya rasa takkan pernah hilang dampaknya. Kemanusiaan hanya dapat dihidupkan melalui perbuatan. Bukan teori dan ucapan belaka. Bagi sobat yang pesimis, atau skeptis, silakan buktikan sendiri. Hadirlah di antara mereka yang mungkin belum pernah merasakan hidup yang bebas dari rasa takut sebelumnya. Mengalirlah bersama arus kebahagiaan mereka. Saling berlomba dalam memuliakan mereka. Puaskan hati dengan berbuat yang terbaik, sebaik-baik yang bisa kita berikan. Temukan nyamannya hati menatap senyuman mereka, sebagaimana menemukan janji Ilahi Rabbi bahwa jika kita melepaskan satu kesulitan hidup mereka, maka akan terlepas pula kesulitan kita di hari saat tiada yang mampu melepaskan segala kesusahan kita. Kala menyelamatkan satu jiwa bernilai menyelamatkan seluruh umat manusia. Pelukan-pelukan anak-anak kita Rohingya ini selamanya jadi penyemangat di dunia, dan semoga jadi penyelamat kelak di akhirat bagi saya, serta sobat semua. In sya Allah. Aamiin yaa Robbal ‚Äėalaamiin.

Lhokseumawe, 6 Juni 2015

Nurman Priatna

(as written in: https://www.facebook.com/nurman.priatna/posts/10153383866378894)

[Wisdom] Bincang Hidup dan Mati bersama Pak Saidi

Pagi ini saya sengaja mendatangi lagi halte Indomaret Pupan, Ciputat, tidak ke pool APTB di Gaplek. Berasa kangen sama Pak Saidi, tukang parkir Pupan. Apalagi teringat, terakhir berbincang dengan beliau adalah ketika ibunya sakit.

Keluarga dan KawaNina yang tekun mengikuti wall FB saya pasti ingat siapa beliau. Beberapa kali saya sharing cerita tentang Pak Saidi di wall FB dan blog saya. ūüôā

Tadinya saya pesimis bisa bertemu, karena ini hari Jumat. Pak Saidi hanya bekerja Senin sampai Rabu di Pupan ini. Tapi, horeeee, ternyata beliau ada! Kok tumben… Sambil berjalan menghampiri, saya perhatikan suasana halte sudah berubah. Ada galian entah apa di ujung separator tempat kami biasa menunggu bus kota. Pohon yang tadinya rindang menaungi tempat menunggu juga terpangkas. Memang sih suasana jadi lebih terang. Namun lebih panas terkena terik matahari. Bangku ala kafe, berpayung dengan kursi dirantai ke mejanya juga sudah tak ada.

Pak Saidi tampak melihat ke arah Lebak Bulus tanpa menoleh ke belakang. Jalan di sana memang satu arah, dari Lebak Bulus ke Pondok Pinang/Pondok Indah/TB Simatupang. Lengan saya langsung memegang bahu Pak Saidi yang berpostur jauh lebih pendek daripada badan saya.

“Pakdhe, apa kabar?”

Terkejut, begitu melihat saya, beliau langsung tertawa lebar. “Ibuuuu.. ke mana aja. Udah lama bener nggak lihat. Saya kira udah pindah halte ke mana gitu,” balasnya, mulutnya terus tersenyum.

“Iyaaa.. kangen sama Pakdhe. Jadi mampir deh ke sini. Tapi kok tumben ada di sini hari Jumat. Ada apa?”

“Nah itu dia.. Ibu kan terakhir ke sini pas ibu saya sakit tuh. Pas kemarin ibu saya meninggal, semalam baru tahlilan hari pertama,” jawabnya, masih dengan senyum lebarnya.

Saya terhenyak. “Innalillahi wa innailaihi rojiuun.. Lha saya baru aja mau tanya gimana kabar ibu. Oh jadi sakit kemarin berlanjut?”

“Iya, Bu. Kan udah berapa bulan lalu tuh, Ibu ngasih saya **** untuk berobat ibu saya. Udah saya kasih ke ibu saya dan dia bilang terima kasih. Saya mau nyampein makasihnya, ehh Ibu ngga muncul-muncul lagi ke sini. Baru sekarang,” sahut Pak Saidi, sambil tetap berwajah cerah.
Saya menggelengkan kepala, dasar Pak Saidi, ibunya meninggal dia tetap ceria, walau matanya tak bisa berdusta bahwa hatinya bersedih. Namun saya memutuskan untuk tidak membahas soal perasaan. Namanya anak ditinggal wafat ibu, pastinya sedih. Been there and still not get over it.

“Iya, Pak, saya sekarang lebih sering ke Pool APTB, lebih dekat dengan rumah, langsung berangkat dan pasti dapet duduk, namanya di pool,” kata saya. Beliau setuju dengan ucapan saya.

Selebihnya Pak Saidi bercerita tentang proses wafat sang ibu yang tidak ketahuan. “Baru ketahuan jam 05.30-an lah, Bu. Jadi meninggalnya lagi tidur gitu. Kemarin itu padahal saya lagi di rumah sana (maksudnya Cikarang), kebetulan istri saya buka BBM dan ngeliat kabarnya dari kakak. Kita akhirnya ke Ciputat lagi. Jam 11 saya nyampe sini. Wajah ibu saya belum ditutupi kafan, karena nunggu saya doang itu. Saya ciumin wajah ibu saya, istri dan anak-anak saya juga semuanya nyium ibu. Sekarang saya jadi tinggal bertiga deh sama saudara kandung saya. Kan kakak saya udah meninggal duluan tuh karena sakit perut, trus bapak, trus kemaren deh ibu saya. Yah memang udah tua juga, jadi dibawa ke dokter juga disuruh pulang lagi. Dokternya udah tau kali ya..” jelas Pak Saidi.

Saya mengangguk-angguk mendengarkan ceritanya. “Semoga semuanya wafat dalam keadaan khusnul khotimah dan termasuk golongan syahid-syahidah. Aamiin..”

image
Pak Saidi menghampiri angkot yang meminta tolong tukar uang Rp20.000 dengan recehan

Selanjutnya, menurut beliau, almarhumah ibunya dimakamkan di TPU belakang Carefour Lebak Bulus, jadi dekat rumah keluarga mereka di Pupan. Kakaknya Pak Saidi lah yang menjaga dan tinggal di rumah keluarga mereka itu. Sedangkan kakak yang satu lagi tinggal di Kedoya. Pak Saidi sendiri tinggal di Cikarang. Ia ke Pupan hanya untuk menengok ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan waktu itu. Semoga sang ibu ridho dengan bakti anak lelaki satu-satunya ini. Aamiin..

Lalu saya dan Pak Saidi membahas sedikit tentang hidup dan mati. Ia bercerita, ada kawannya yang pernah mengalami mati suri selama 15 menit. “Saya tanyain ke dia, bagaimana di akhirat sono kondisinya? Kawan saya jawab, ‘Di sana mah ngga kayak di dunia. Ngga ada kendaraan, motor, mobil, nggak ada. Tapi kalau ke mana gitu, misalnya mikir, ah mau ke Bandung, ah, eeeeh tau-tau udah di Bandung aja. Mau ke Mekah, baru mikir begitu, eeeitt udah sampe aja. Ajaib memang,” celotehnya. Saya takjub mendengarnya. Hebat..

“Tapi, ya begitu, Bu, karena dia emang belum waktunya meninggal, ya hidup lagi.. Memang cuma Allah yang menentukan kapan seseorang harus pulang dan kapan harus balik lagi. Cuma Allah yang Maha Tahu deh,” tuturnya. Saya sepakat dengan ucapan beliau.

Tidak terlalu lama perbincangan kami. Kurang dari 1 jam saja. Namun, lagi-lagi, obrolan singkat dan simpel itu membuat saya berpikir lebih dalam soal hidup. Jangan menyia-nyiakan waktu. Cintai orangtua dengan sikap baik. Tetaplah tersenyum dan optimis. Alhamdulillah.. Terima kasih, perbincangan berkualitas kita tadi, Pak Saidi. Semoga Allah senantiasa melimpahi Bapak dan keluarga dengan rezeki halal dan kesehatan prima. Aamiin.. ^_^

Loe tu Nggak Care Sama Sekeliling

Tubuh saya gemetaran. Entah karena menggigitnya dingin AC ruangan kantor, atau saya menggigil karena antisipasi menunggu jawaban Diana, sahabat saya.Sementara menunggu jawaban dia, pikiran saya kembali ke peristiwa beberapa jam sebelumnya. Saya bertemu kembali dengan beberapa kawan SMP–Aty, Robi dan Agif; serta guru-guru SMP kami, di sekolah. Benak saya dipenuhi buncahan kebahagiaan. Kami bernostalgia masa-masa muda. Kami ke SMP karena sedang merancang acara buka puasa bersama, antara angkatan kami 1989-1992 dengan para guru SMP Negeri 218 Ps. Minggu Jakarta Selatan, yang akan digelar pada Sabtu, 4 Agustus 2012 nanti.

Bicara nostalgia SMP, lagi-lagi hati saya dipenuhi JP. Entah kenapa, rasa ini begitu kuat. Semakin kuat setiap hari, sejak dia mendatangi saya dalam mimpi beberapa bulan lalu.

Pembina OSIS kami, Pak Burhan, tampak begitu sumringah melihat kami. Menggeleng-geleng dengan perasaan haru dan bangga melihat kondisi kami yang sehat dan terlihat bahagia. “Memang, anak-anak yang aktif ekstrakulikuler itu semuanya sukses. Saya senang sekali,” kata beliau. Matanya sempat berkaca-kaca.

Saya tersenyum. Bapak satu yang tangguh ini memang bagaikan ayah bagi kami, para pengurus OSIS di zaman kami. Tapi saya hampir takjub melihat beliau bisa berkaca-kaca. Saya sungguh bersyukur memiliki guru-guru yang begitu perhatian pada murid, dan tetap perhatian kepada mantan muridnya berpuluh tahun kemudian. ūüôā

*BBM notification*

Hehehehe.. Mang lo lp ya?
Kan dl dah pernah dia ngomong langsung jg k lo nien
Curhat dikit k gw jg sii

Eh? Dia pernah ngomong langsung ke saya? Ngomong langsung apa ya? Kok saya lupa. Amnesia. Masya Allah! Apa iya, dia benar-benar pernah “menyatakan” ke saya di depan Diana segala??

*BBM notification*

Hadeeeehhh..
Yaaa gw lp deh nien
Tp intinya yaa gitu
Doi sk sm lo
Cm lo acuh ajkan waktu itu


Kelebatan ingatan di depan ruang OSIS mulai hinggap di kepala saya. Siang itu, saya sedang asyik ngobrol dengan Diana. Saya membicarakan surat cinta dari Surabaya. Dari seorang peserta Jumpa Bakti Gembira (Jumbara) Palang Merah Remaja (PMR) Nasional, Cibubur, Juni 1991. Dia dari kontingen Jawa Timur. Si A. Ya, saya sedang membicarakan Anton ketika JP datang menghampiri kami.

Dia mencoba mengajak saya berbicara sesuatu, tapi saya acuhkan. Ketika dia mendengar saya menyebut-nyebut nama A, JP tersenyum–kecewa. Ia menunduk, lalu melangkah gontai, menjauh.

JDUAAARRRRR!!!

Ingatan itu serasa alat kejut jantung yang menyengat hati saya. Ya Allah-ku..

*BBM notification*


Daaaah.. kan almarhum orangnya perasa. 
Wajar kl dia blng begitu –> (bahwa saya muna)
Tp lo ga salah jg kan dia maju mundur gitu sii

Saya mengetik balasan:
Emangnya dia pernah nyatain ke gw??
Loe kok tau?


*BBM notification*


hehehehe..
Lo dlkan ga peka nien orngnya
Maafya
Kan krng care aj sm sekeliling
Kl sekarang lo beda bgt
Gw aj br tau kl gang kt dl di blng sm anak” ga care sm yang lain ūüėÄ


Kali ini tidak ada lagi yang mengejutkan buat hati saya. Kan tadi masih tersengat alat kejut jantung. *halah*

Saya membalas, “Iya ya.. Loe bener.. Gw terlalu acuh..”

Kembali kelebatan ingatan tentang saya dahulu datang silih berganti. Saya memang aktif di OSIS. Saya selalu siap mengikuti hiking, camping, naik-turun gunung pun dijabani. Tapi, apakah saya benar-benar care dengan sekeliling?

No.

Saya begitu sibuk dengan aktivitas saya sebagai Bendahara OSIS sejak kelas 2 hingga kelulusan. Sibuk dengan latihan-latihan Paskibra setiap siang dan sore. Asyik mengurusi mading sekolah. Sibuk mengorganisir kegiatan. Asyik menikmati bertambahnya keahlian kepalangmerahan.¬†Sibuk, sibuk dan sibuk… Asyik, asyik dan asyik..¬†Sibuk sendiri. Asyik sendiri.¬†Lalu, apakah saya pernah benar-benar melihat ke mata sahabat-sahabat saya, menanyakan, “What can I help you? Are you alright?”

No. Never. 

Ya Allah. Ampuni saya. Hati saya menangis. Ini rupanya kekosongan yang saya rasakan dahulu. Kosong, karena saya sendirilah yang kurang bisa meraih tangan sahabat-sahabat saya. Saya tidak mampu menyambut uluran tangan orang yang saya sukai dan menyukai saya.

Saya mengetik BBM kembali untuk Diana: “Mudah2an skrg temen2 udah ngeliat gw banyak berubah..”

*BBM notification*


Semua butuh waktu aj sii
Kl sekarang kt yang dl sm sekarang dah jauh bgt bu
Lonya aj yang asiik sendiri sii
Pdhl lo sendiri waktu itu dah pernah blng jg k gw kl suka sm almarhum


Saya kembali termenung. Me-review kembali perjalanan hidup saya. Banyak hal-hal (buruk) yang saya lakukan dan tidak saya banggakan. Saya telah berusaha menyisihkan, memilah-milah, mana yang baik untuk tetap saya pertahankan (dan lakukan), serta mana yang harus disingkirkan. Agar tidak lagi melukai orang lain, dan tidak lagi melukai saya. Karena, bagi saya, ketika orang lain terluka karena saya, sesungguhnya yang akan menderita adalah saya sendiri.

Alhamdulillah, Allah meletakkan saya pada persimpangan ini.
Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan kawan-kawan lama SMP melalui jejaring facebook.
Alhamdulillah, semua kawan lama saya menerima dengan tangan terbuka dan hati hangat, sehingga yang saya rasakan adalah persaudaraan, bukan lagi pertemanan.
Alhamdulillah, Piyo keceplosan bicara soal JP, sehingga terbukalah semua hal yang–insya Allah–mampu mengoreksi sikap saya ke depannya.
Alhamdulillah untuk sahabat-sahabat yang tetap setia dan pengertian meski sudah dua dekade kami tidak bersilaturahmi.
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Ya Allah, Alhamdulillah…
Tak terhingga rasanya nikmat dari-Mu ini.
Tak akan lagi saya sia-siakan, insya Allah!

Dan, malam ini, saya mulai mengamati sekeliling. Benar-benar mengamati. Memperhatikan. Menikmati. Dan, berdoa. Ya Allah, jagalah dan lindungilah dia, di manapun dia berada. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.


I wish JP were here..
I miss you, JP. 
I miss your smile. Miss your warm attitude. Miss your everything. Take care..

Elo tuh Muna

“JP sempet bilang, ‘Gue suka sama seseorang. Tapi udahlah, itu masa lalu.’ Dan gw tau kok siapa ‘seseorang’ yang dia maksud,” kata kamerad lama saya.¬†Sore itu, saya dan kawan lama, masih membicarakan soal¬†kamerad¬†yang “hilang”–kami sepakat memanggilnya JP

Kamerad saya lantas melanjutkan, “Trus dia bilang, elo tuh muna..”

PLAKKKK!!!

Yup. Kalimat itu menampar saya. Telak. Tapi saya nggak marah. Sebaliknya, saya jadi merenung. Berpikir. Mereview kembali hidup saya semasa muda. Dan, saya akui, kalimat itu benar. .

“Dia benar. Gw muna,” jawab saya. Sungguh, saya akui, dahulu saya munafik. Kerap kali mengatakan hal-hal dan bersikap yang berbeda dengan isi hati.

“Waktu itu gw masih muda dan bodoh untuk bisa jujur sama diri sendiri. Gw takut. Takut ditolak, takut sakit hati, takut ke depannya malah ngga lancar. Gw terlalu pengecut untuk menghadapi perasaan gw dan terlalu takut sama hal-hal yang belum terjadi,” saya menambahkan.

Ya. Dahulu, jika saya menyukai orang, saya justru akan bersikap sebaliknya–“memusuhi” orang tersebut. Menjadikannya saingan dan dia tidak boleh menyentuh, apalagi masuk ke dalam kehidupan saya. Padahal, ketika berjauhan, hanyalah dia yang saya pandangi. Hanya dia yang saya pikirkan. Hanya nama dia yang saya bisiki dalam setiap doa saya sebelum tidur.

Saya munafik.

Ternyata dia tahu, dia menyadari bahwa saya suka dia. Dan, karena dia juga suka pada saya, dia mencoba mendekati saya. Memberanikan diri. Tapi, lihat, apa yang saya lakukan? Saya malah menghardiknya. Memarahinya. Saya menjauhinya, sambil berdebar-debar.

Aneh kan, saya malah ketakutan untuk merasa bahagia.

Tak pernah terpikirkan sedikitpun, seharusnya saya–at least–menghargai upaya dia mengumpulkan keberanian untuk menyatakan rasa sukanya kepada saya. Saya tidak menghargai bahwa dia telah¬†bersusah payah meredakan debar di dadanya demi berjalan berduaan dengan saya. Saya tidak pernah berpikir bahwa laki-lakipun SAMA seperti perempuan: punya perasaan.

Saya baru menyadari bahwa laki-laki itu sama saja dengan perempuan, punya perasaan–sama-sama bisa sakit hati, bisa sedih, bisa emosi meski cara memperlihatkannya berbeda dengan kami (perempuan)–adalah tahun 2001, ketika saya berpisah dengan ayah dari kedua anak saya.

Telat banget ya?

Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. STUPID ME!!!

Oh how I wish I could invent a time machine. Kalau saja manusia bisa menciptakan mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, saya akan menghampiri Nina ABG dan menasihatinya untuk lebih jujur pada diri sendiri. Menasihatinya untuk berani bersikap. Menasihatinya bahwa kita semua sungguh berharga, sehingga kita–sehina apapun kita menganggap diri–berhak merasa bahagia. Embrace happiness!

Jikapun kelak akan terluka, biarlah itu terjadi nanti. Bukan sekarang. Malahan, terluka itu bisa dihindari kalau kita mampu mengelola hubungan dengan baik dan tidak intens atau terlalu banyak harapan.

Saat ini, nikmati saja kebahagiaan yang ada. Tak perlu kuatir apa yang akan terjadi besok, lusa, dan seterusnya. Be positive. Karena positivity (sikap positif) justru akan menghindarkan kita dari rasa terluka di masa depan.

Itu mungkin kalimat-kalimat yang akan saya katakan kepada Nina ABG. Tapi, kenyataan dan harapan, seringnya tidak kompak. Saya menggadaikan kebahagiaan saya dengan rasa takut sakit. Padahal, yang saya lakukan justru membuat sakit lebih cepat datang, boro-boro kebahagiaan sempat mampir.

Semua sudah terlambat. Dan saya belajar tentang kebijaksanaan dengan cara yang begitu keras dan harga yang teramat mahal. Saya terlambat menyadarinya.

Maafkan saya, JP.

Saya telah melukaimu. Dan (ternyata) itu melukai saya puluhan kali lipat.

Tetaplah Menjadi Bintang di Langit

Sepertinya ikrar bahwa saya tidak pernah dan tidak akan pernah galau, pecah telor hari ini (Jumat, 27 Juli 2012). Ya, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya GALAU–meski tidak terlalu mengerti sebenarnya makna galau ini apa sih. Saya cuma ikutan istilah anak-anak saya yang udah pada remaja aja. Hehehe..

Lha kok bisa ya saya galau? Di bulan Ramadhan pula.

Well, bukan galau terkait masalah hidup. Bukan pula galau yang terkait masalah rumah tangga, apalagi percintaan. Baik-baik saja kok rasanya. Saya hanya merasa galau. Terutama saat teringat kalimat yang diungkapkan kawan SMP saya semalam…

Begini. Saya akan menceritakan sedikit dari salah satu masa yang terindah dalam kehidupan saya. Yaitu, masa SMP. Di masa ini, saya merasa paling bahagia. Merasa paling hidup. Tidak punya kekhawatiran berlebihan soal sekeliling. Ini adalah masa dimana saya mulai menemukan jati diri dan membangun kepribadian saya untuk ke depannya. Saya sadar benar, jika saya tidak memulai pada momen tersebut maka saya akan selamanya jadi manusia labil.

Kalau dipikir-pikir, aneh ya. Waktu itu saya masih berusia 14 tahun, tapi sudah sadar pentingnya character building sejak SMP. Jadilah, saya siswa yang sangat aktif pada kegiatan ekskul dan OSIS. Entah kenapa saya sudah menyadari bahwa keahlian organisasi dan kepemimpinan itu sangat penting, sebagai bekal ke depannya. Meski saya perempuan, dan yang kelak menjadi imam saya adalah suami–laki-laki, tetap saya bertekad untuk memiliki keahlian tersebut. Demi masa depan saya. Demi anak-anak saya.

Hohohoho.. Sok keren banget sih saya. Tapi itu jujur. Monggo percaya atau tidak. ūüėÄ

Anyways, yak, SMP adalah salah satu masa kehidupan saya yang paling bahagia. Saya aktif di kegiatan Palang Merah Remaja (PMR), OSIS dan Paskibra. Saya bertemu dengan sahabat-sahabat sejati saat itu. Saya mengerti makna sahabat sejati–yaitu kawan yang tetap setia menemani meski kita sedang jatuh–adalah berkat mereka. Diana “Didien” Susanti, Tiurlan “Butet” Apriani, Ratna Rotua Martini, Jupriatno (Aat), Agung Priyo “Piyo” Nugroho, John Philip, Wahyuningsih (Nining), Anita Susanti (Niet-not), Lisnurita (Lissy), Arif Budi “Betet” Priyanto, M. Ali “Allay” Imron, Edi “Edai” Astuti, Gatot, Zaitun Fitri… lalu kakak-kakak kelas saya Iwan “Black” Hermawan, Solehandana (Dana), Siti Fatimah, Norma Latuconsina… Banyaklah, sampai sulit menyebutnya satu per satu.

Kisah-kisah cinta monyet, naksir-naksiran, gebetan, dan yang kisah unyu-unyu semuanya terjadi di saat ini. Hehehe..¬†Dan, ngga tau gimana, banyak juga yang suka sama saya. Mungkin karena waktu itu saya masih cantik, innocent, langsing—eh, udah agak gendut sih, tapi masih lebih kurus dibandingkan sekarang (ya eyalah!). Kalau konyolnya sih, sejak dulu juga begini. Bocor. hehehe.. Ya, banyak yang suka dan nembak saya, antara lain (kalau ngga lupa ya) Teddy Nugraha, Piyo, dan sempat juga JP–walaupun dia ngga nembak langsung. Cowok-cowok ini semuanya baik. Tapi pada akhirnya saya, mungkin karena terlalu blo’on juga, menolak mereka. Saya hanya menganggap mereka kawan.

However, di masa ini, saya sempat suka sama beberapa orang, meski ngga sampai jadian. Kakak kelas saya Iwan Black adalah cowok pertama yang saya kagumi. Dia cowok yang lucu, pintar, manis dan bijak. Keliatan banget leadership-nya. Saya selalu tertarik sama cowok yang punya sifat dan sikap leadership tinggi, tapi lucu dan down-to-earth. Setelah Iwan—karena terlalu banyak saingan, hehehe–saya beralih suka sama Budi Betet. Sayang tu anak playboy. Huahahahaha… Tapi itu dulu. Sekarang, alhamdulillah dia berubah jauh, jadi laki-laki sholeh dan ayah yang baik. Bravo, Betet!

Terakhir, adalah JP. Saya suka dia. Hanya saja, tak pernah saya ucapkan, pun tidak saya perlihatkan. Saya takut. Takut kebersamaan kami yang harmonis sebagai sahabat, rusak jika suatu saat kami harus putus. ¬†Dan waktu itu saya juga sedang disibukkan dengan pikiran, “Ingin tinggal sama Mama di Bandung.”

Saya ingat betul siang itu. Kami pulang bersama-sama, saya dan JP. Rumah kami memang bertetangga sebelahan.

Di sekitar rumah penduduk, tak jauh dari outer ring road, JP bertanya, “Nin, kalau elo, mungkin nggak suka sama temen?”

Saya langsung freak out inside. Saya tau, kayaknya dia mau nembak. Saya jawab, “Ngga akan. Ngga akan. Ngga akan.” Ya, berkali-kali. Seakan meyakinkan diri saya sendiri.

Lalu JP bertanya lagi, “Kalau ada temen loe yang nembak, loe marah atau nggak?”

Saya, dengan bodohnya, menjawab, “Pasti gw marah. Gw bakal benci sama dia.”

“Oh..” hanya itu kata yang dia ucapkan. I swear I can see his disappointment. But, JP was a gentleman (yes, he’s a man. Not a boy, to me). Dia tidak bereaksi apa-apa, selain tersenyum. Malah saya yang salah tingkah.

“Kenapa, Lip, loe suka sama someone ya? Temen kita ya?” tanya saya, memberanikan diri.

“Ah nggak. Gw takut dibenci sama dia,” jawab dia singkat, sambil senyum. *I swear I can still see his warm smile in my head*

Lalu kejadian lainnya, ketika dia mendengar saya akan pindah ke Bandung. Sore itu dia menghampiri saya di teras rumah. Dia bertanya, “Apa loe ngga punya alasan untuk tetap di Jakarta?”

Saya, dengan dudulnya, menjawab, “Ngga ada..”

“Beneran?” dia memastikan.

“Bener. Ngga ada deh rasanya,” kata saya lagi.

“Bahkan gue?”

Ucapan itu membuat saya memerah dan terbengong, “Ha?”.

Dia cepat-cepat mengoreksi kata-katanya, “Gue, Diana, dan temen-temen yang lain?”

“Hmm.. Maaf, nggak bisa,” saya bilang begitu.

Wajah dia langsung sendu. “Oh..” ucapnya. Dan saya mengabaikannya.

Ya Tuhan. Sungguh bodoh saya! Bukankah itu sebenarnya pernyataan cinta? Bahwa dia tidak ingin saya pergi menjauh darinya?

Itu adalah dua dari sekian kejadian yang saya sesali dalam hidup saya. Dan dialog tersebut terjadi sekira 22 tahun lalu…

Dan, kemarin malam, saya bbm-an dengan Piyo, kawan kami yang satu SMA dengan JP dan menjadi sahabatnya. Nggak sengaja, saya membicarakan soal JP sama Piyo.

“JP tu dulu suka sama loe. Dia pernah bilang sama gw. Sebenernya dia pengen banget jadian sama loe,” kata Piyo

JLEGERRRRRRR!!

Saya langsung merasa terhuyung seperti mendengar geledek di tengah malam. What?!!

“Serius loe, Yo?”

“Serius. Dia bilang sendiri ke gw,” jawab Piyo.

“Trus selama di SMA, dia punya pacar ngga?” saya penasaran.

“Setahu gw ngga ada. Dia nolak-nolakin cewek melulu. Eh, jangan-jangan loe¬†suka sama JP?” dia nanya.
Saya tergagu. Lalu saya ketik di bbm itu, “Iya.”

“Lha, kalau loe suka dan dia suka, kenapa dulu ngga jadian?” tanya Piyo. JLEB!!! Rasanya telak banget ke ulu hati.

Okelah, trus.. Apa masalahnya sekarang?

Masalahnya adalah… JP (dikabarkan) sudah wafat. Dia gugur dalam tugas. Ketika saya diberi tahu adiknya, David, ¬†bahwa JP sudah tiada, rasanya seperti melayang. Tidak percaya. Shock. Sampai-sampai saya tidak mau mengingat dialog antara saya dengan David di sekitar tahun 1998 itu, bahwa kakaknya sudah tiada. Karena mengingat hari itu, rasanya sangat menyakitkan. Terlalu menyakitkan. Terlalu banyak penyesalan. Terlalu banyak kata yang tak terucap. Saya masih terlalu muda dan bodoh untuk menyadari perasaan saya sendiri.

Ya Allah… Kalau saja waktu itu saya lebih cerdas….. Mungkin jalan hidup saya akan jauh berbeda dengan sekarang. Mungkin JP akan sibuk mencintai saya dan berbahagia karena saya juga mencintainya–meski berawal dari cinta monyet–, dan nggak akan memilih bekerja sebagai int##. Dan, MUNGKIN….. mungkin saja, dia tidak akan meninggal secepat itu. Kalaupun memang sudah takdir dia wafat di tahun 1998 itu, setidaknya dia sempat bahagia karena perasaannya terbalas, dan saya juga bahagia, pernah dicintai oleh dia.

Usai berbicara dengan Piyo, saya bersimpuh di hadapan Allah. Menangis. Menyesal. Tapi takdir sudah ditetapkan. Saya punya kehidupan lain dan dia sudah berada di kehidupan lain. Saya hanya bisa berdoa, dan mendoakan JP agar damai di tangan Allah. Mengutip kalimat kawan saya yang baru kehilangan kekasihnya dalam kejadian jatuhnya Sukhoi Superjet 100 beberapa bulan lalu, “You are now in God’s hands, cupcake.”

Begitulah kenapa saya beberapa hari terakhir ini officially galau. This kind of reality cannot be undone. I must move on, and I will live my life to the fullest, for him too. I know he’d like that.¬†Meanwhile, JP¬†dear, tetaplah menjadi bintang di langit semesta saya. Terangilah hati saya. Karena baru sekarang saya menyadari bahwa kamu juga membawa sebagian hati saya ke dalam kuburmu.

JP, kalaupun kita tidak pernah bisa bersama-sama di dunia, maukah kamu menemani saya di akhirat nanti?

Semoga Ananda Rosyid Disembuhkan

Nama: Muhammad Nur Rosyid F.
Lahir: Sukabumi, 24 Januari 2011
Alamat: Kp. Pasir Daleum Rt 01/01, Ds. Babakanpari, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Ananda Rosyid mengidap penyakit hydrocephalus, sementara sang ibu meninggal saat melahirkannya. Rosyid baru dioperasi di RS Bunut, Kota Sukabumi dengan biaya JAMKESDA. Kini masih dalam pengawasan dokter dan masih dirawat di RS tersebut, tepatnya di Ruang Tanjung (saat mengirim berita, Senin, 4 Juni 2012). Sedangkan ananda berasal dari kalangan keluarga tidak mampu.

Untuk itu, kami hendak mengetuk hati Bapak/Ibu, Sdr/i untuk dapat berinvestasi akhirat dengan memberikan bantuan, guna kesembuhan ananda Rosyid. Bisa melalui transfer ke:

Rek. BRI No. 3456-01-021826-53-4 a/n Yayasan Mutmainatul Ardhi
Rek. Mandiri No. 1330005682323 a/n Ade Muhtar Solihin
Rek. BCA No. 1290356756 a/n Dede Nu’man

Atau silakan menghubungi secara langsung 081385828267 atau 085863411787.

Semoga Allah men-syahid-kan sang ibunda Rosyid yang telah mendahului, dan semoga Allah memberikan kesembuhan kepada Ananda Rosyid, menjadikannya anak yang kuat, tegar, sholeh, tawakal membawa berkah dan senantiasa diridhoi dalam setiap langkahnya. Amiiiin..

[CerpeNina] Surat untuk Jo

Sebenernya saya nulis cerita ini sudah lama sekali. Sekitar tahun 2004. Berhubung kemarin kamerads saya The Kacruters membuat tantangan #TheKacrutMenulis¬†dengan tema baru–dan kebetulan temanya adalah SURAT”–saya pikir…nah, cerpen ini sajalah yang saya tampilkan lagi. Diperbaharui sedikit. Yang penting muatan filosofinya nggak hilang. Hehehe.. Intinya, saya ngga cheat kan? Hahahaha..Selamat membaca..

 

Dear Jo,

Apa kabar? Semoga semua baik-baik dan lancar ya! Bagaimana sakitmu itu? Harus operasi kah? Semoga kamu cepat sehat lagi ya, Jo! Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu..

Jo, aku dengar sekarang kamu berubah jadi pemurung lagi? Berubah, dong. Jangan begitu! Kamu hanya membuat keluargamu kuatir. Aku juga kuatir lho.. Juga membuatku merasa bersalah. Aku tahu aku salah, tapi kamu pun ada andil, penyebab semua ini. Kupikir, sudahlah, tinggalkan sifat mencari-cari, menerka-nerka, kesalahan siapa ini. Karena tidak akan ada habisnya!

Jo, kita belum mati. Dan syukurlah kiamat belum datang, masa depan masih selalu ada. Dunia akan baru benar-benar berakhir ketika Tuhan mencabut cinta kasih-Nya! Jadi kamu tidak akan apa-apa ketika Tuhan mencabut cinta kasihku terhadapmu. Aku yakin kamu cukup dewasa untuk mengerti ini semua.

Oke lah, tidak apa-apa untuk beberapa saat kamu akan begini. Penuh kemarahan. Kebencian. Aku pernah mengalaminya. Tapi cobalah untuk tidak membuat orang-orang yang mengasihimu kuatir.

Aku maklum kalau keluargamu membenci aku karena aku membatalkan pertunangan kita. Mereka pasti berpikir aku hanya mempermainkanmu. Aku maklum. Aku hanya bisa berbesar hati. Mereka “hanya” tidak tahu apa alasan sebenarnya. Jadi mereka membuat asumsi sendiri-sendiri.

Lagipula aku juga tidak perlu menjelaskan semua alasanku pada seluruh dunia kan? Untukku, itu tidak masalah. C’est la vie! Inilah hidup! Tidak selalu mulus. Dalam perjalanan hidup ini akan selalu ada pro dan kontra terhadap kita.

Aku hanya mencoba menjalani hidup sebaik-baiknya. Memilih jalanku dengan baik agar masa depanku tidak malah membunuhku (baik secara lahir maupun batin).

Dalam perjalanan hidup, kadang aku juga harus membuat keputusan yang tidak aku sukai, tapi itulah yang kuyakini terbaik untukku. Aku hanya percaya bahwa apapun takdir yang Tuhan berikan padaku‚ÄĒmeski awalnya terasa menyakitkan‚ÄĒtapi selalu terbukti, rencana Tuhan adalah yang terbaik untukku. Syukurlah manusia dikaruniai ingatan yang paling buruk di dunia. Jadi semua kejadian lalu yang menyakitkan dalam hidup, perlahan akan kita lupakan dan kelak hati kita akan sembuh lagi. Aku percaya itu. ‘Been there, done that!

Aku sudah berkali-kali berkata, aku tidak tahu masa depan itu seperti apa? Makanya, saat aku memutuskan kita kembali berteman saja, itu tanpa bermaksud takabur sama sekali. Ingat lho, takabur tidak hanya ada dalam ucapan yang “tinggi”, tapi bisa juga dari ucapan yang merendah! Jadi apapun ucapanku, semoga itu jauh dari ketakaburan. Aku tidak ingin mendahului ketentuan Tuhan.

Aku tidak menutup segala kemungkinan. Hanya saja aku harus jujur, ketika kamu datang lagi padaku dan mengatakan kamu masih mencintaiku, aku jadi gugup! Apalagi kamu “menuntut” aku untuk mengucapkan kata-kata yang sama. Aku bingung! Karena seperti yang kamu tahu Jo, aku tidak akan mengucap apapun yang bertentangan dengan lubuk hatiku. Meski itu white-lies sekalipun. Aku telah belajar bahwa kebohongan (bahkan white lies) tidak diperlukan dalam suatu hubungan! Aku sendiri terkejut bahwa aku tidak bisa membalas ucapanmu. Seakan-akan hatiku ini sudah membatu!

Jo, aku pernah bilang kan, kalau aku tidak bisa lagi menerima kekecewaan? Saat kamu mengecewakan aku (lagi), hatiku membuat pertahanan yang begitu kuatnya hingga ia melepaskan diri dari kasih sayang yang kamu tawarkan. Aku yakin pada kedewasaan hatiku dan kematangan pemikiranku. Tidak akan pernah lagi aku membuat keputusan yang kelak aku sesali! Saat aku memutuskan hubungan kita, aku tahu, aku tidak akan menyesalinya! Sesakit apapun akibatnya, aku yakin mampu melewati itu semua, cepat atau lambat.

Hidup terus berjalan dan aku tidak akan berhenti melangkah meskipun badai kehidupan memukulku kuat-kuat. Merasa gagal, sedih dan frustrasi, itu manusiawi. Yang penting aku tidak berhenti. Tidak boleh berhenti! Kalau aku terpuruk, aku akan berdiri lagi. Aku yakin, sifat seperti itulah yang Tuhan inginkan dari seorang manusia. Menjadi yang terbaik dan mampu memimpin. Minimal untuk dirinya sendiri, sebelum memimpin orang lain.

Terbayang tidak olehmu, mengapa Tuhan memilih kita untuk terlahir dan menjalani hidup di dunia fana ini? Mulai kita masih seukuran mikro dari setitik sperma, bersaing dengan milyaran saudara kita yang lain menuju ovum ibunda tercinta. Tapi kitalah yang menang menembus sel telur dan menjadi embrio, cikal bakal manusia. Tidak selesai di situ, kita terus berjuang untuk hidup dalam ruang berlapis tiga yang gelap namun hangat. Bertahan dari segala benturan. Saat lahir, kita lagi-lagi berjuang untuk bisa keluar dari rahim ibu.

Dengan bantuan nyawa ibu kita pulalah kita terlahir.

Bukankah ini artinya kelak dalam hidup, orang lainpun akan rela berkorban untuk kita agar kita selamat. Sudah selayaknya jugalah kita rela berkorban untuk orang lain yang kita sayangi, agar mereka selamat. Begitulah, Jo, segala makna hidup adalah perjuangan dan bertahan. Janganlah kamu mati saat kamu hidup!

Dan jangan lupa, kamu lelaki. Tuhan memberi otoritas untuk lelaki, yaitu “kekuasaan dan menguasai”. Lelakilah yang selalu terpilih untuk memimpin dunia! Suka tidak suka, aku harus mengakuinya! (Hehe..) Perempuan? Tentunya bukan hanya sebagai perhiasan dunia!¬†Perempuan¬†dirupa begitu elok dan indah agar pasangan hidupnya merasa nyaman bersama dia. Secara fisik¬†perempuan¬†lemah, tapi secara mental, jangan ditanya! Perempuan¬†lebih kuat dari lelaki. (Hayo ngaku!)

Survai membuktikan (hehe..) dibalik kekuatan lelaki hebat, ada¬†perempuan¬†bijak yang mengelolanya.¬†¬†Perempuan¬†tidak diciptakan untuk menguasai, melainkan untuk meredam ego! Perempuan¬†tidak diciptakan untuk memimpin dunia, melainkan untuk “memimpin” pemimpin dunia, dengan cinta!

Sayangnya, cintaku tidak cukup untuk membuatmu menjadi lelaki hebat. Maafkan aku!

Jo, aku percaya pada the chemistry between a man and a woman. Kalau tidak nge-klik, cinta tidak akan tumbuh. Jujur, aku sudah coba untuk bisa mencintaimu. Tapi kelihatannya hatiku tidak mampu menumbuhkannya untukmu, Jo.

Betul, aku memang sayang padamu, sejak awal aku sayang. Namun sayang bukanlah cinta. Setidaknya, untukku itu adalah dua hal yang berbeda. Mirip, tapi tidak identik.

Mungkin aku bodoh ya? Orang sebaik kamu, kenapa aku tidak bisa mencintaimu? Mungkin sekitarmu akan mengatai aku ini bodoh sekali sudah menyia-nyiakan kamu. Namun sungguh, aku tidak bisa bohong! Mungkin aku memang tidak tercipta untukmu, Jo.

Kalau aku memang mencintaimu, seharusnya kekecewaan semacam itu tidak menghalangiku untuk tetap menerima kamu apa adanya. Seharusnya, semakin aku cinta, semakin besar pula toleransiku terhadapnya. Tapi kita sudah lihat kan, kenyataannya? Kamu tahu sendiri.

Sebenarnya aku menerima kamu apa adanya, hanya saja tidak untuk sebagai pasangan hidupku! Kamu boleh mengatakan bahwa aku ini perempuan yang terlalu kaku atau konservatif. Silakan. Yang jelas, aku hanya mengikuti insting dan nuraniku. Aku memerlukan lelaki yang kuat secara mental, juga fisik. Karena, seperti yang kamu tahu, kadang aku merasa down. Batinku melemah. Hey, aku bukan perempuan lemah. Tapi, kuakui bahwa sesekali aku akan lemah, dan itu manusiawi kan? Tidak mungkin seseorang itu akan selalu kuat atau selalu lemah.

Momen seperti itulah, aku memerlukan dukungan seseorang yang bisa kuandalkan. Bukan seseorang yang malah ikut-ikutan merasa down hanya untuk mencoba memahami perasaanku. Kamu keliru, Jo! Yang kuperlukan adalah lelaki yang lebih tegar. Karena aku pun akan tegar untuknya! Aku tahu bahwa kamu sudah coba untuk berubah, seperti yang aku harapkan, namun tetap terasa janggal. Aku tidak bisa, Jo.

Aku tidak ingin menjalani hubungan karena aku merasa kasihan. Hal itu sudah lewat untukku. Sudah basi! Aku tidak lagi dalam tahap mencoba bertahan hanya karena kasihan dan berpikir cinta akan tumbuh dari situ. Telah belasan kali aku membuktikan, cinta tidak akan tumbuh karena rasa iba. Tidak akan!
Betul, cinta akan tumbuh karena simpati. Tapi, jangan lupa simpati berbeda dengan kasihan. Lagipula kamu tidak akan sudi kalau aku mengasihanimu, bukan?

That’s it, Jo. I’ve spilled everything out. Semoga kamu bisa mengerti.

Aku mendoakan kebahagiaanmu. Aku berterima kasih kamu juga telah mendoakan aku. Kalau tidak, aku tidak mungkin merasa bahagia dengan Fadel dan anak-anaknya sekarang. Terima kasih, Jo. You’ll always be my best friend!

Hugs,
xoxox

* * *

“Petugas Identifikasi dari Satuan Polres setempat menemukan surat di atas, dalam genggaman tangan Johansyah (31), korban tewas tabrak lari di Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, tadi malam. Johansyah adalah seorang aktor yang tengah naik daun. Kepergiannya yang mendadak mengejutkan banyak pihak…”

Mira terhenyak mendengar berita tersebut dari sebuah tayangan infotainment produksi stasiun televisi swasta. Ia memandang ngeri bumper mobilnya yang penyok akibat menabrak seorang pemabuk di Jalan Dewi Sartika.

Jangan-jangan, tadi malam itu…

[TheKacrutTheme] Say No To Bully – Opini

Entah sudah berapa lama saya kelewat tema tulisan #TheKacrutMenulis ini. Tau-tau tadi iseng ngasih usulan tema “Bully”, hehehehe.. Entah diterima atau tidak usulan tema tersebut, saya mau nulis sedikit tentang “Bully” ini.

Bully, atau dalam bahasa Indonesianya “Bulan-bulanan”, adalah tindakan yang biasa dilakukan oleh sekelompok orang terhadap orang lain. Kalau bahasa gaulnya zaman saya SMP dulu istilah lainnya adalah “digencet”.

Upaya “penggencetan” ini biasanya dilakukan oleh kakak kelas terhadap adik kelas, atau malah seangkatan. Entah karena alasan sentimen massal terhadap objek yang digencet atau si penggencet ini merasa objek yang digencet patut digencet.. *nah lho, bingung dah bahasanya* :p

Sebagai orang yang pernah hampir digencet (mereka abort mission, karena keburu takut sama saya, huahahaha.. Tauk deh tu kenapa mereka malah takut), saya dikasih tau, beberapa alasan orang melakukan penggencetan (saya sebut mereka “pelaku”), antara lain, orang yang mau digencet ini (saya sebut mereka “korban”) dianggap reseh, kecentilan, pecicilan, dan sejenisnya. Setidaknya itulah alasan yang diajukan pelaku, sehingga mereka membenarkan diri melakukan bullying terhadap korban.

Saya pribadi tidak pernah bisa membenarkan tindakan bullying ini. Meski saya punya “kuasa” (waktu SMP, sejak kelas 1 saya sudah aktif menjadi pengurus OSIS dan selalu menjadi pengurus kelas–kalau ngga jadi sekretaris, bendahara, atau ketua kelas sekalian–setiap tahun), tetap saja saya tidak pernah mau melakukan bully¬†pun tidak mengizinkan kawan-kawan saya melakukan bully.


Kenapa?


In my point of view, bullying is a crime; what ever the reason, no matter how strong the reasons would be. Ya, bullying is a crime. Tindakan kriminal, dan tidak manusiawi.

Pertama, kita bukan hakim; tidak pernah ditunjuk menjadi hakim; tidak pernah punya hak untuk menjadi hakim. Social control terhadap sesama kawan memang perlu, tapi tidak dengan cara menghakimi. Sedangkan bullying sangat identik dengan being judgmental.

Kedua, kita belum tentu lebih baik daripada korban yang kita bully. Kalau memang kita merasa lebih baik daripada si korban, tentunya kita tidak melakukan bully, melainkan mengingatkan si korban dengan cara yang lebih manusiawi.

Ketiga, it hurts. Bullying is about hurting other people’s feeling¬†and even physically,¬†and I’m strongly disapprove with it. Saya pernah baca, tingkat bunuh diri anak sekolah (baik di Amerika, di Eropa, bahkan di Indonesia sendiri) meningkat, salah satu faktornya adalah karena bullying.

Kalau memang tujuan mau meluruskan kawan, ya dengan cara yang baik dong. Saya ingat pepatah, “If you treat other people good, they will treat you better.”¬†

Dalam kata lain, kalau kita memperlakukan orang lain dengan baik dan tepat, maka mereka akan bereaksi dengan baik pula. Jadi, kalau ingin nasihat kita sampai (dan didengarkan) oleh kawan-kawan kita, ya hendaknya kita berbicara dengan nada yang baik, tanpa asumsi, tanpa menghakimi.

Beside, every story has two sides, if you paid more attention of other people, and listen to them more patiently, they will open up. 


Setiap cerita selalu punya dua sisi. Kenapa kawan kita bertindak pecicilan, misalnya, jangan-jangan sebenernya kawan kita itu punya duka mendalam di hatinya tapi ditutupi dengan sikap pecicilan atau malah overacting. Hey, it happens!


Kebetulan, sejak SMP sifat leadership saya tinggi (alhamdulillah, kata Pembina OSIS dan guru BP sih begitu, hihihi..), makanya saya dan beberapa kamerads di OSIS kadang dimintai tolong oleh guru BP untuk berdialog dengan murid yang bermasalah (tapi masih bisa ditolong), sebelum guru BP-nya turun tangan sendiri. Jadilah saya sempat memediasi kawan sesama siswa yang sedang menghadapi perceraian orangtua. Mungkin waktu itu guru BP merasa saya bisa mengajak bicara sebagai sesama “korban perceraian ortu” (meski saya tidak pernah merasa jadi korban, hehehe..).

Nah, yang waktu itu saya lakukan adalah menemui dia–ah, saya lupa namanya, hehehe.. Saya lebih banyak¬†mendengarkan keluh-kesah dia, setelah saya rasa dia¬†siap dan open terhadap saran atau nasihat, barulah saya bicara.

Ah ya, dalam hal ini (menghadapi orang kalut) salah satu faktor yang paling penting adalah berbicara saat dia sudah siap mendengarkan. Kalau dia masih menutup kuping, percuma kita nasihati, karena nggak akan didengarkan. Dan, caranya membuat mereka siap mendengarkan adalah dengan lebih dulu mendengarkan mereka sampai selesai.

Alhamdulillah, kamerad¬†yang saya ajak curhat waktu itu membaik dan behave better dibandingkan sebelumnya, bahkan nggak jadi dipanggil guru BP. ūüôā

So, say no to bully, guys!


Bully itu bener-bener shortcut buat orang malas dan ngesok yang ngga mau mendengarkan sisi cerita orang lain. Bully itu hanya cocok buat orang-orang yang terlalu bebal untuk mencari cara lain yang lebih baik. Dan, further, bully itu sama dengan premanisme. Preman mah tempatnya di terminal, bukan di sekolah.

Anak saya yang perempuan sering mengeluhkan kalau dia sering di-bully oleh kawan-kawannya di sekolah. Saya bilang ke dia, masih bisa dihadapi atau tidak, kalau tidak, saya yang akan datang ke kepala sekolahnya dan meminta anak-anak ingusan itu ditertibkan. Kalau masih bisa tahan, ya lawan saja, jangan takut ngga punya teman. Lagian ngapain maksa mempertahankan pertemanan dengan anak-anak yang belajar jadi preman begitu?

Anyways, yang saya ngga habis pikir, itu para orangtuanya apa nggak mengajarkan ke anak-anak ya, kalau bullying itu adalah tindakan kriminal? Eeeh, anak saya malah njawab, biasanya anak-anak yang bully begitu justru karena memang tidak pernah diajari oleh orangtua, akibat kesibukan orangtuanya yang luar biasa. *Soal yang ini, waduh, apa harus saya datangi orangtua mereka untuk saya jeweri satu per satu??*

Atau, anak saya melanjutkan, di rumah mereka adalah anak-anak manis, begitu di sekolah jadi anak-anak sadis. Hm… Tragis!

Memang, kalau mau lihat lebih jauh, anak-anak yang bully ini juga biasanya bermasalah, ya. Kurang kasih sayang, kalau saya bilang sih. Sebab, menurut saya, anak yang diberi kasih sayang yang cukup tu ngga akan sibuk cari perhatian di luar, apalagi dengan cara menyakiti orang lain. Anak yang diberi kasih sayang dan perhatian yang cukup nggak akan usil ke kawan-kawannya. Warning, kasih sayang dan perhatian ini BUKAN memberi uang semata!! 

Menurut saya, terlalu banyak orangtua yang sengaja sibuk dalam pekerjaan sebagai upaya “melarikan diri” dari tanggung jawab mengurus anak, malah mengurus anak dilimpahkan sepenuhnya ke baby sitter atau pembantu. Sungguh disayangkan kalau memang begitu. Kasihan anak-anak seperti ini.. Nggak heran kalau hasilnya menjadi anak-anak yang suka¬†bullying terhadap orang lain.

Mudah-mudahan kamerads dan semua pembaca blog saya adalah para orangtua (dan calon orangtua) yang penuh kasih sayang. Meski berkarier dengan jabatan tinggi–para ayah maupun para ibu–tetap mampu membagi waktu dengan anak-anaknya. Tetap mampu pulang lebih sore dan mengerjakan pe-er bersama anak-anaknya. Tetap mampu berakhir pekan dengan anak, sekadar spending quality time with the children.

Kalau saya, alhamdulillah, begitu di rumah, saya langsung lupakan kerjaan dan jadi full time mommy. Kalaupun ada yang masih harus dikerjakan, cukup sebentar saja, tidak sampai mendominasi apalagi menghabiskan waktu saya untuk keluarga. Bekerja secara efisien dan happy di kantor, lalu kembali ke rumah sebagai mommy–bukan sebagai editor. Nah, setelah anak-anak tidur, baru deh “me time“. Jadi intinya, pintar-pintarlah me-manage waktu, supaya semua happy. *gak nyambung, tapi biarin ah*

Jadi, kamerads, setelah SAY NO TO BULLY, saya juga mau menyerukan SAY NO TO BUSY-SENDIRI AT HOME. *Hihihihii.. Maksaaa deh motto-nya* ūüôā

[TheKacrutTheme] Obsesi – Opini

Begitu Kacruter mengumumkan tema baru “Obsesi”, saya jadi nyengir sejadi-jadinya. *kebayang gak, gimana tu bentuk nyengirnya*Mendadak, terbayang iklan sebuah produsen rokok yang meng-highlight soal obsesi ini. Dan kocak-kocak semua adegan iklannya. Ada yang obsesi jadi selebritis, obsesi eksis, obsesi sutradara… obsesi apa lagi ya….banyak deh. Si pembuat iklan niy bener-bener sukses menjadikan tema “obsesi” sebagai sesuatu yang jenaka.

Padahal, aslinya obsesi itu bisa cenderung merusak hidup orang lain, minimal merusak hidup orang itu sendiri.

2013-10-23-10-26-47_decoSecara bahasa, obsesi (kata benda) adalah gangguan kejiwaan berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sulit untuk dihilangkan. (Referensi: Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer, Drs. Peter Salim, M.A., Yenny Salim, B.Sc.: MEP: 2002)

Secara etimologi *halah* obsesi berasal dari kata obsessio (terkepung).

Secara psikologis, obsesi artinya sebuah perasaan senang yang sangat mendalam/berlebihan, kompulsif (mendesak harus terwujud) dan seringkali tidak rasional.

Jadi, obsesi berarti suatu keadaan dimana seseorang merasa diselubungi, diliputi, dikepung, didominasi oleh pikiran yang itu-itu saja, membuat orang tersebut sangat fokus pada pikiran tersebut, sehingga segala sesuatu yang dilakukannya adalah demi mewujudkan apa yang diobsesikannya itu, meski harus menghalalkan segala cara (tidak rasional). <—jangan percaya bahwa ini definisi akademis lho ya, asli ini definisi saya ngarang sendiri. wekekeke.. :p

Tapi, nah lho! Ternyata cukup¬†horror¬†ya? ūüôā

Hanya saja, dalam pergaulan sosial saat ini, kata obsesi mengalami pergeseran makna dan terkesan jadi suatu keadaan yang umum, bahkan dijadikan pengganti istilah “ngebet banget”. Hehe.. Apapun obsesi jadinya, saya harap semua kamerads tetap bisa mengendalikan diri agar tidak terkonsumsi obsesi yang kompulsif (berlebihan).

pinjem dari smellslikescreenspirit.com
Anyways, soal obsesi ini, saya juga jadi teringat suatu film yang baru-baru ini saya tonton. Sebuah film dewasa berjudul CHLOE (2009), dimainkan oleh Julianne Moore, Liam Neeson, dan si cantik Amanda Seyfried. Bertabur bintang deh pokoke.. Naskahnya pun hebat ~ IMHO.
Film yang disebut-sebut sebagai re-make dari film Prancis berjudul Nathalie (2003) ini bener-bener untuk konsumsi dewasa. Karena di film aslinya (tanpa sensor) ada beberapa adegan sensual yang vulgar secara interpretasi. Khususnya adegan seks antara Julianne Moore dan Amanda Seyfried (yep, girl on girl) yang, menurut saya, cukup eksplisit. Saya pertama nonton film ini lewat teve kabel, channel HBO. Itupun sudah banyak sensor. Begitu saya cari tahu adegan aslinya (dengan referensi dari situs langganan saya soal movies: IMDB.com), saya jadi ngiler,¬†eh, maksudnya ngerti kenapa disensor segala. Memang vulgar, Bo! ūüėÄ
Chloe (Amanda Seyfried) adalah seorang pekerja seks muda, sangat cantik yang disewa oleh seorang dokter kandungan bernama Catherine (Julianne Moore) untuk menginvestigasi suaminya, David (Liam Neeson). Catherine curiga David selingkuh. Diawali dengan sikap David (yang berprofesi sebagai profesor) yang dinilai Catherine berubah. Mulai dari pulang larut malam, asyik teleponan dengan mahasiswanya, sampai kejutan pesta ulang tahun David yang tidak dihadiri oleh David sendiri.
Bersamaan dengan memuncaknya kecurigaan, Catherine bertemu dengan Chloe dan memutuskan untuk menyewa dia. Tugas Chloe adalah menggoda David. Aturan mainnya, setiap kali ada pertemuan antara Chloe dan David, Chloe wajib menceritakannya kepada Catherine.
Mulailah Chloe menjalani “misi menggoda David” itu. Setelah beres, Chloe menemui Catherine dan menceritakan semua kejadian secara detail. Seiring waktu, cerita Chloe berkembang. Mulai dari cerita bagaimana dia merayu David, sampai pada hubungan seks oral, bahkan hubungan seks di hotel. Semuanya diceritakan oleh Chloe, secara detail, bahkan vulgar kepada Catherine.
pinjem dari http://www.film.com
Catherine, yang sekarang sudah yakin penuh bahwa suaminya memang selingkuh, jadi rapuh. Dia terbawa cerita Chloe yang deskriptif, dan mulai berfantasi tentang adegan seks antara David dengan Chloe. Bukan cuma masturbasi sambil berfantasi, Catherine juga belakangan melakukan hubungan seks dengan Chloe.
Yang tidak Catherine ketahui adalah bahwa Chloe BOHONG!
Chloe tidak pernah berkenalan dengan David, apalagi melakukan hubungan seks. Hal ini diketahui Catherine setelah ia bertengkar dengan David. Ia lalu memutar otak untuk menjebak Chloe dan David dalam satu ruangan yang sama. Terbukti, memang David tidak kenal Chloe, karena memang tidak pernah bertemu. Catherine baru tersadar bahwa semua yang diceritakan Chloe hanyalah imajinasi semata.
Yang bikin miris, ternyata Chloe melakukan itu bukan karena dia mengejar uang Catherine. Tapi justru karena dia jatuh cinta pada Catherine sejak pandangan pertama. Chloe jadi terobsesi pada Catherine. Saking marahnya pada situasi, karena “tertangkap basah” bahwa ia berbohong, Chloe berbalik memutar otak untuk membalas Catherine. Yaitu, dengan mendekati anak mereka yang masih berondong, ganteng, Michael (Max Thieriot) dan berhubungan seks dengan Michael di kamar Catherine-David.
minjem dari hot-scene.net
Sutradara film-nya, Atom Egoyan, eksplisit banget menggambarkan emosi Chloe saat itu. Ketika berhubungan seks, Chloe dengan posisi woman on top *kayak apa tuh? sana googling. wekekeke* menolak melihat ke arah Michael. Mata Chloe malah menjelajah seluruh ruangan. Ia melihat ke lemari, yang dipenuhi dengan pakaian Catherine. Dan ketika matanya menangkap belasan pasang sepatu hak tinggi milik Catherine, saat itulah Chloe mulai orgasme.
Dan, you know what, ekspresi orgasmenya Chloe (Amanda Seyfried), asli orgasme banget! Huahahahaha.. Demen dahhh saya liatnya. Wakakakaka… :p
Sebegitu terobsesinya Chloe pada Catherine, ngeliat sepatunya aja udah orgasme. Hebat yak! ūüėÄ
Tertarik nonton filmnya? Boleh aja, tapi rekomendasi saya, be wise about it ya! ūüôā
Udah segini dulu aja tentang Obsesi. Sembari mengakhiri tema kali ini, saya cantumkan video klip jadul bertajuk “Kiss Me” dari Indecent Obsession, grup asal Aussie yang top banget di era 90an. Huhuyyy!

[TheKacrutTheme] Across The Universe – Opini

Across The Universe. Menurut dua kamerads saya: Tebeh dan Eny, itu adalah judul lagu The Beatles, yang enaaaaaak banget didengernya. Emang bener. Lagunya enak didenger. Tapi, hari ini, entah kenapa saya mood menulis tentang tema Across The Universe diiringi lagu-lagu KLa Project, seperti “Tak Bisa Ke Lain Hati”, “Menjemput Impian” dan “Terpurukku di Sini”.

Mungkin karena saya sedang galau?

Wekekekeke.. Sejujurnya, it’s very unlikely bahwa saya bisa merasa galau. Karena, hanya ada dua emosi yang saya kenal: seneng dan mutung. Semua emosi in-between (yang ada di antara kedua emosi tadi), saya ngga familiar.

However, beberapa hari lalu saya menulis di blog Debby (bagian komentar): “Manusia yg patah hati cenderung lebih kreatif daripada manusia yg sedang jatuh cinta. Kenapa? Karena jatuh cinta adalah sebuah awal, sedangkan patah hari adalah awal dari kelanjutan jatuh cinta tadi. Alias satu step di depan perasaan jatuh cinta. Patah hati adalah sebuah konklusi (kesimpulan) dari hipotesis jatuh cinta.. hmmm..

Entah kenapa saya menulis itu. Mendadak saja saya kepikiran soal jatuh cinta dan patah hati ini.
….

Sejujurnya, saya ini manusia tipe yang bisa langsung cenderung suka sama siapapun yang saya temui. Semua orang yang menjadi kamerads, saya pasti menyukai mereka. Jangan salahartikan “suka” ini dengan perasaan yang ada kaitannya dengan hati atau seksual. Sama sekali tidak. Saya suka berteman dan suka menyelami karakter satu per satu orang. Baru atau lama, semuanya terasa menantang untuk saya selami. Saya suka mempelajari karakter semua kamerads saya. Meski saya sadari, tidak mungkin saya membuat semua orang senang atau bahagia karena saya. I can’t make EVERYBODY happy. But, at least saya suka membuat kamerads saya merasa nyaman jika mereka berada dekat saya.

For me, friendship lasts forever. Meski mereka tidak ada di dekat saya. Meski mereka menjalani hidup mereka masing-masing, dan hanya bisa sekali-dua kali dalam sebulan (bahkan setahun) bertegur sapa. Mereka tetaplah kamerads saya. Yang jelas, for me, once a friend, will always be a friend.


Namun tak dipungkiri, orang semanis saya begini *halah* pun masih bisa punya musuh. A thousand friends too less and an enemy is too much. Indeed. Sayangnya, saya tidak bisa mengubah fakta yang ada. Ya, saya punya musuh. Malah bisa dibilang, musuh saya yang satu itu seperti Joker terhadap Batman, Lex Luthor terhadap Superman, Venom terhadap Spiderman, bahkan Clown terhadap Spawn. *ngabsen*

Saya ngga nyari musuh, dia aja yang nyari-nyari saya. *eh*

Tauk tuh kenapa dia memusuhi saya. Apapun yang saya lakukan selalu dinilai buruk oleh dia. Bahkan, dia (secara nggak langsung) pernah menyebut saya kafir. Huakakaka.. Duduuul dah.. Saya sih nyantei aja. Buat saya, yang punya masalah tu ya dia, bukan saya. Parahnya, bukan cuma saya yang dimusuhi oleh manusia ini. Anak-anak dan keluarga saya pun dimusuhi dia. Wekekekeke.. Sakit jiwa kayaknya ya. Jadi, yang waras ngalah aja deh.. Makanya kalaupun dia memusuhi, biar aja dia pegel sendiri dan urusan dia ama Tuhan. Toh, saya ngga kenal dia juga ngga rugi.

Balik ke soal cinta. Buat saya, yang namanya suka berubah jadi cinta itu sulit. Karena seringkali cinta itu datang ngga pake planning. Seringnya pula, orang yang kita gebet (karena udah ngebet sukanya), malah tidak berbuntut cinta. Patah hati, iya.

Ya, patah hati seringnya tidak harus diawali oleh cinta. Harapan yang kandas, tanpa cinta pun, bisa berasa patah hati.

Sebenarnya, menurut saya, kita merasa patah hati itu lebih disebabkan oleh harapan dan ekspektasi yang tidak tercapai. Bukan karena cinta kita nggak kesampaian. Karena, menurut saya lagi, cinta yang sebenarnya itu tidak berhasrat. Cinta ya cinta. Tercapai atau tidak, terlaksana atau tidak, terbalas atau tidak, cinta tetap saja cinta.

Cinta itu tidak terpenjara dimensi duniawi. Cinta tidak tergantung ruang. Cinta tidak terbatas waktu. Malahan, sesungguhnya cinta tidak berdefinisi. Buat saya, cinta itu gaib. Sama halnya dengan gaib, Allah hanya mengizinkan manusia untuk tahu sedikit saja tentang cinta. Hanya saja, kita sebagai manusia yang bodoh ini, ingin punya sesuatu yang “nyata” untuk dipegang dan diyakini. Lalu mulailah manusia belajar tentang cinta dengan apa yang didengar, dilihat, dirasa dan dihirup.

Sekarang soal patah hati.

Hati yang patah, rasanya merasuki sukma *halah*. Jika cinta itu urusannya dengan harap-harap cemas, maka patah hati adalah jawaban dari harap-harap cemas tadi. Patah hati ini lebih real dibandingin jatuh cinta. Efek kreativitasnya pun lebih dahsyat dibandingkan dengan jatuh cinta. Nggak percaya??

Terbukti, banyak banget karya luar biasa yang dihasilkan oleh patah hati. Salah satu contohnya, Kahlil Gibran. Mungkin kalau dulu cintanya Kahlil Gibran terbalas oleh May Ziadah, dia ngga akan jadi sastrawan sehebat sekarang ini. *menurut ane doang sih* huehehehe..

Malah, di Zagreb (Kroasia) ada yang namanya Museum Patah Hati (Museum of Broken Relationships). Nah lho, kayak apa tu museum??? ūüėÄ  Ternyata Museum Patah Hati ini dipenuhi dengan koleksi barang-barang kenangan dari mantan pacar/istri/suami. Semuanya disumbangkan oleh publik dan dibuka untuk publik juga.

Barang-barang yang bisa ditemui di museum ini sebenernya biasa banget dan mungkin ada juga di rumah kita, kayak boneka beruang Teddy, foto beserta frame-nya, gaun pengantin, kampak (dikasih judul an ex axe, hehehe…), celana dalam, mangkok, hiasan kebun, hape jadul, dll. Tapi dari segi sejarah hidup si empunya, barang tersebut jadi keliatan lebih berharga.

Museum yang dikonsep oleh Olinka ViŇ°tica (produser film Kroasia) dan DraŇĺen GrubiŇ°ińá (desainer + artis Kroasia) ini eksibisi ke mana-mana. Mulai dari Amerika, London (Inggris), Jerman, Afrika sampe Filipina. Pengunjungnya pun rame. Seru banget keliatannya. Kira-kira mereka bakal pameran di Indonesia juga gak yaa? hehehe..

Enough about patah hati. Intinya, berkat patah hati, orang bisa lebih kreatif. Coba aja (utk patah hati). Masih ngga percaya? Tanya aja Riu, Mhimi, dan Tebeh.. Huakakakaka.. *peace, kacruters*

Tapi, apapun itu cinta atau patah hati, hendaklah kisah survive kita menggema across the universe.. *maksa bener motto-nya* :p

Saya tutup tulisan aneh ini dengan sebuah lagu dari KLa Project berikut. Selamat menikmati… dan dilarang galau di sini! hehehe..

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: