[Journalism] beginilah luapan kekecewaan rakyat kecil

indonesia-cities-cityscapes-jakarta-skyline-2710105-1920x1200
Jakarta: Sudirman Area. Famous of its massive crazy traffic. (courtesy of hdscreen.me/walls/)

Pagi ini, seperti biasa, begitu turun dari halte Trans Jakarta, menyeberang jembatan penyeberangan ke arah Benhil, saya disambut ojek langganan. Bukan Pak Toha, bukan Pak Pardi, saya lupa menanyakan nama bapak ojek satu ini, tapi beliau langganan juga.

Saya bicara soal kemacetan di Ciputat. Saya naik dari halte APTB sejak 06.45 WIB, bus baru jalan sekira 07.15 WIB, tiba di Benhil 09.10 WIB. Euh.. kalah saya, “balapan” sama macet. “Biasa Bu di Ciputat mah. Apalagi sorenya nanti pulang, penuuuuh,” kata Pak Ojek, yang ternyata sering mendapat sewa ke arah Ciputat dan Pamulang itu.

Selanjutnya, Pak Ojek tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. “Bu, menurut saya, kalau dipikir-pikir, orang-orang kayak kita ini pejuang ya, Bu. Bekerja mencari nafkah di Jakarta yang kondisinya berat begini. Kita tetap sabar dan mencari rezeki halal. Ini kan jihad ya namanya, Bu?”

“Insyaa Allah, betul, Pak,” sahut saya.

“Nah, jadi sebenernya kita ini ngga perlulah jauh-jauh berjihad sampe ke… mana itu, Bu…. Palestina. Atau Afganistan begitu ya. Cukup di sini saja, mencari nafkah saja ini sudah jihad, ya kan?” katanya lagi.

Saya cengengesan mendengarnya. Tidak ada keinginan berdebat lebih panjang, jadi saya biarkan si bapak ojek berceloteh. Namun, kalimat beliau selanjutnya membuat saya ngakak sejadi-jadinya.

“Saya sempet punya pemikiran, Bu, orang-orang yang katanya berjihad dengan cara ngancurin rumah-rumah ibadah, itu menurut saya bodoh banget. Ngapain rumah ibadah dihancurkan? Salah sasaran itu. Kalau mau mendingan ledakin aja tuh gedung DPR,” ujarnya. Nada suaranya mantap dan tegas.

Gedung DPR/MPR Jakarta (courtesy of zona-populer.blogspot.com)
Gedung DPR/MPR Jakarta (courtesy of zona-populer.blogspot.com)

Asli saya ngakak di motor. Maaf, bukan maksud menertawakan pemikiran bapak, begitu saya katakan kepada Pak Ojek. Dia tidak protes dengan tawa saya.

“Tapi beneran, Bu. Kata saya sih mending ancurin tu gedung DPR, di situ isinya teroris semua soalnya,” Pak Ojek mengulangi kalimat itu saat saya turun. Di matanya tidak terlihat canda, melainkan keseriusan. Saya sampai tertegun.

“Kenapa Bapak sampai punya pemikiran seperti itu? Setahu saya, sekecil apapun pemikiran, pasti ada alasan yang kuat sampai Bapak menyampaikannya ke orang lain,” tanya saya, serius.

garuda_indonesia_by_drud_studio-d69koq3
Garuda Pancasila animated (courtesy of th01.deviantart.net)

“Ini hasil pemikiran dari kekecewaan dan kemarahan yang bertumpuk-tumpuk, Bu. Beneran deh. Kenapa mereka itu tidak bekerja dengan benar untuk rakyat, memperjuangkan rakyat kecil kayak kami ini, malah sibuk dengan partai, gontok-gontokan, dan memperkaya diri sendiri,” ucapnya. Saya makin terperangah mendengarnya. Tak ada lagi senyuman di wajah saya.

“Sabar aja ya, Pakdhe. Semoga ke depannya hidup rakyat di negeri ini semakin baik,” saya menyerahkan selembar uang kepada beliau, berterima kasih sambil tersenyum dan mengucap agar ia berhati-hati di jalan.

Setelah itu saya berjalan ke arah lobi kantor, bertegur sapa dengan kawan-kawan yang ada di selayang pandang. Namun kepala saya penuh dengan ucapan Pak Ojek tadi. Beliau mungkin profesinya “hanya” tukang ojek, tapi ucapan polos itu sangat menusuk ke hati.

Kalau saja para pejabat dan para dewan yang terhormat itu mau mulai mendengarkan suara rakyat kecil semacam mereka, kami dan kita…..

Mari berdoa untuk keutuhan bangsa ini. Biar saja para elit politik yang bertengkar, tapi rakyat Indonesia tetap solid bersatu, tanpa membedakan ras, kulit, mata, agama, jenis kelamin, profesi, strata sosial, dan pendidikan.

Bagaimana? 🙂

Advertisements
Categories: Tags: , ,

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s