Ketika Ide “Gila” Jadi Energi dalam Kolaborasi

Oleh:
Nina Firstavina, SE
Editor Web
Kota Tanpa Kumuh

Penanganan kumuh tidak akan bisa terselesaikan jika hanya mengandalkan satu sektor saja. Penanganan kumuh perlu multiaktor dan multisektor. Untuk itu dibutuhkan upaya “Kolaborasi” yang harus dilakukan dengan cara bergandengan tangan. Di sisi lain, Kolaborasi butuh ide-ide “gila”, yaitu ide-ide yang tidak reguler atau hanya biasa-biasa saja.

“Kita butuh ide-ide gila, yang memang harus berani. Berani gila. Kita sudah belajar perencanaan, menyusun memorandum, kalau tidak gila dan hanya berpikir normatif, (itu semua tadi) tidak akan bisa selesai. Akan sama saja seperti yang kita lakukan saat menyusun PJM Pronangkis dan RPLP kemarin, yang masih miskin dari ide gila,” begitu ditegaskan oleh Tenaga Ahli (TA) Human Resource Management (HRM) KMP Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) James Manopo saat memandu kelas pada kegiatan Peningkatan Kapasitas Pelaku Korkot dan Pemandu Nasional Program Kotaku – National Slum Upgrading Program (NSUP) dalam satu sesinya, Minggu, 16 Juli 2017 malam.

Kegiatan Peningkatan Kapasitas yang merupakan gelombang ke-2 ini digelar di Padjadjaran Suites Resort and Convetions, Bogor, 12-19 Juli 2017. Peserta kali ini berasal dari 24 provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Banten, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku dan Maluku Utara.

Menurut James, Pemerintah Daerah (Pemda) perlu ditulari ide-ide gila. Salah satu aktor dalam hal ini adalah Kelompok Kerja (Pokja) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), yang sama-sama gila dengan kita. Maksudnya agar mereka bisa “menggedor” kepala dinas, bupati/wali kota, CSR (swasta), dan sebagainya. Ini merupakan pembelajaran yang luar biasa.

“Untuk bisa meneruskan kegilaan ini, tentu kita perlu potret dan dokumentasi hasil-hasil kegilaan kolaborasi. Tidak hanya pekerjaan infrastruktur, tapi juga salah satunya adalah aspek SEL (Sosial, Ekonomi, Lingkungan—Red). Jangan hanya sibuk dan asyik berpikir infrastruktur, padahal ada aspek lain dalam penanganan kumuh. Pemkot sebagai aktor perlu tahu juga bagaimana rapor mereka, sehingga bisa jadi bahan refleksi dan bahan kontemplasi bagi mereka untuk perbaikan ke depan,” ujar James.

Hal lain yang perlu diingat dalam Kolaborasi adalah betapa luar biasa beragamnya karakter daerah/provinsi, yang tentunya berpengaruh pula pada karakter kekumuhan di suatu wilayah. Untuk itu, upaya menangani kekumuhan di tiap wilayah berbeda-beda pula. Ini dijelaskan oleh TA Urban Planner KMP Kotakuwilayah 1 Rahmawati Fitri di sela-sela sesi diskusi pemetaan Kolaborasi.

Menurutnya, ada kabupaten/kota yang perencanaannya belum baik dan terkesan kurang menangkap aspirasi kebutuhan masyarakatnya. Ada juga kabupaten/kota yang perencanaannya sudah sangat bagus dan memahami kebutuhan masyarakatnya, tapi kurang baik sistem sanitasinya. “Di sinilah fungsi dan peran kita (fasilitator), yaitu advokasi bagi Pemda dan masyarakat. Soal keahlian dan teknis, pastinya pihak Pemda lebih ahli, kita perlu belajar juga kepada mereka,” ujar Fitri.   

Bicara advokasi dalam Kolaborasi berarti bicara komunikasi, agar semua pihak jadi satu pemahaman. Seorang pendamping (fasilitator) tak hanya dituntut ahli di bidangnya, tapi juga lugas dalam cara berkomunikasi, sebagai jembatan antara masyarakat dengan Pemda, swasta, akademisi, tokoh masyarakat, dan pihak peduli lainnya. Hal tersebut diungkapkan Asisten Mandiri Kota Batu, Jawa Timur, Heri Purwanto, yang menjadi narasumber dalam diskusi pemetaan Kolaborasi di salah satu kelas.

Kemudian, hendaknya pelaku Kotaku tidak melupakan kearifan lokal dalam menyelesaikan permasalahan kumuh. Ini karena di provinsi tertentu di Indonesia, masih memegang teguh sistem masyarakat adat. “Saya punya pengalaman mendampingi masyarakat adat di Bali dan NTB. Bisa dibilang, mengajak masyarakat adat masih lebih ringan, karena biasanya mereka ada ikatan kekeluargaan. Dan itu lebih kuat dibandingkan masyarakat yang berjalan sendiri-sendiri dan hanya ada ikatan sosial semata,” tegas Heri. Untuk itu, lanjutnya, butuh kecerdasan dalam berkomunikasi, misalnya dengan gaya persuasif dan simpatik ke pihak yang tepat. Biasanya, masyarakat adat lebih patuh kepada tokoh lingkungan atau tokoh agama setempat.

Kegiatan Peningkatan Kapasitas Korkot dan Pemandu Nasional NSUP-Kotaku ini ditutup oleh Kepala Satker PKPBM Mita Dwi Aprini, pada Selasa, 18 Juli 2017 malam. [Redaksi]

Posted on 19 Juli 2017: https://kotaku.pu.go.id/page/2339/
Or: https://kotaku.pu.go.id/view/2339/ketika-ide-%E2%80%9Cgila%E2%80%9D-jadi-energi-dalam-kolaborasi

Berkunjung Virtual ke “Negeri Kue Gula Tare”

Hari ini jalan-jalan ke Desa Wolaang, Kecamatan Langowan Timur, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, bareng Tim Kotaku Sulawesi Utara, dialog dengan masyarakat dan Kepala Desa Wolaang.Terungkap, Kelurahan Wolaang melakukan sosialisasi Program secara “gerilya”, baik berkeliling dengan pengeras suara, spanduk, bertemu tokoh-tokoh agama di rumah ibadah, bahkan pertemuan dalam acara duka (melayat) ataupun acara suka (pesta). Menarik..

Saya sempat bertanya dua hal kepada Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) dan Hukum Tua (Kepala Desa/Kelurahan) Wolaang, tentang kerja sama dan rencana desa dalam mengembangkan potensi desanya.

Untuk jejaring, LKM telah bekerja sama dengan praktisi hukum, dalam kegiatan sadar hukum perlindungan hasil karya/intelektual/HAKI, jangan sampai ada plagiat atau peniruan oleh pihak lain, maka hasil karya warga didaftarkan ke pihak hukum. Eehhh… menarik ini!!

Upaya lainnya adalah mendampingi Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP), share pengalaman dengan warga yang menjadi wakil rakyat (DPRD) hal menyangkut beban bersama terkait kelangsungan infrastruktur yang telah dibangun melalui Cash For Work (CFW) Kotaku 2021 ini. Selain itu juga sedang menjalin kerja sama dengan telkomsel dan indosat, mengingat ada menara BTS di Kelurahan Wolaang.

Sementara itu, Hukum Tua, yang dahulunya juga anggota LKM ini, menjawab bahwa potensi Desa Wolaang adalah lahan sawah, hortikultura, dan mina padi; Potensi lahan seluas 135 Ha, bisa untuk penebaran benih ikan. Sudah ada kerja sama untuk penebaran benih ikan mujair, mas, dan nila. Di sisi lain, jangan lupa, Desa Wolaang adalah penghasil beras terbesar se-Kabupaten Minahasa. Jika di lokasi lain sawahnya perlu tadah hujan, sedangkan di Desa Wolaang, airnya sudah mengalir dengan curah hujan yang memadai.

Dari segi SDM, Desa Wolaang memiliki banyak pengrajin, salah satunya adalah pengrajin drum bekas tempat minyak yang digunakan untuk membuat kerajinan wajan, tempat sampah, bahkan penyulingan alkohol cap tikus itu, wkwkwk.. Eh tapi ternyata mahal lho drum semacam ini. Siapa tau ada yang mau beli wajan besar dan drum, pesan deh ke Desa Wolaang yaa.. 😁🙏🏻

Satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah informasi dari Hukum Tua adalah potensi makanan khas dari gula aren yang dinamakan Kue Gula Tarek, yang tidak ada di tempat lain. Beliau mengaku sudah membawa kue ini sampai ke pameran di Batam dan Bali, dan peminatnya sudah banyak, tapi belum ada pesanan yang signifikan lagi bagi pengrajin kue.

Nah, ucapan beliau ini jadi kesempatan saya untuk masuk dooong! Saya katakan ke beliau, mumpung Program Kotaku masih ada dan website kita itu secara dunia berada di rangking 300.000an seluruh dunia (kalau ngga salah ya, kalau salah ya maap, wkwkwk), di antara 7-8 miliar website eksisting seluruh dunia. Artinya, ini adalah salah satu kesempatan terbaik untuk mengekspose potensi desa, karena kita akan membantu publikasinya, baik berupa tulisan maupun foto-foto yang mewakili dan bisa “menjual” potensi tersebut.

Yang membuat saya tergelak tertawa itu beliau sampai mengatakan akan mengirim kue gula tarek ke Jakarta agar saya yakin kalau itu kue memang enak. Eeeh langsung semangat tinggi Pak Hukum Tua. Wkwkwkwk..

Alhamdulillah, pertemuan yang menyenangkan walau singkat, cukup 2 jam saja. Terima kasih juga untuk apresiasi dari Pak Teddy Sulangi dan Kak Theresia Wulansari. Sungguh, Pak Teddy ini salah satu manusia paling santun dan konsisten ramahnya sejak beliau jadi Korkot hingga jadi Team Leader Sulawesi Utara saat ini. Saya ngefans pokoknya. ❤️😍

In syaa Allah bisa travel ke sana, yahh..

Terima kasih, Sulawesi Utara! Sehat-sehat selalu, yaa.. Stay safe, stay healthy. I love you all..

PS. Ternyata ejaannya “Gula Tare”, KawaNina.. Hehehe.. 😁🙏🏻 Seperti ini penampakannya yaa.. (baru dapat fotonya pada 28 Oktober 2021 dari Kak Theresia. Oh ya, itu model tangannya Askot Mandiri Minahasa, Kak Micha Corneles. Hehehe..) ❤️💐

Gula Tare “Mawar”, camilan gula aren khas Wolaang, Langowan, Sulawesi Utara

Belajar dari Muara Rapak, Balikpapan

Jalan-jalan virtual ke Balikpapan bareng Tim OSP Kotaku Kalimantan Timur dan teman-teman relawan Kelurahan Muara Rapak, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan. Mendengar penuturan Ketua Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Adi Suwito. Tujuan pertemuan virtual ini sebenarnya menggali soal sosialisasi dan pelatihan masyarakat.
Serunya, Pak Adi Suwito mengungkapkan, antara lain, cerita-cerita di balik kegiatan Cash For Work (CFW) Program Kotaku 2021. Ternyata banyak kisah inspiratif, semisal sosok perempuan tangguh, tulang punggung keluarga, yang turut terlibat dalam proses konstruksi pembangunan infrastruktur.

May be an image of 6 people, including Muhammad Irfan G. Sanusi and text

Selain itu, ada cerita tentang kegiatan penutupan CFW kelurahan yang juga dihadiri wali kota dong!–Plus fakta bahwa BKM sukses menggandeng PT Pertamina untuk diajak berkolaborasi, menggelontorkan bantuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan di kelurahan dan mendorong permukiman ini menjadi lokasi destinasi wisata.

Cerita berikutnya, yang menurut saya inspiratif, adalah tentang kinerja Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) dari masyarakat sendiri, yang menjadi motor penggerak melestarikan hasil pembangunan infrastruktur agar sesuai usia bangunan, bahkan lebih, sehingga lebih bermanfaat lebih lama bagi lebih banyak warga pemanfaat. Maintenance atau perawatan bangunan bukan perkara mudah. Dalam Program Kotaku, konsep maintenance hasil pembangunan untuk masyarakat dilakukan oleh warganya sendiri. Tentunya, mengajak warga terlibat merawat bangunan fasilitas untuk komunitas pun bukan perkara mudah. Tapi, Muara Rapak, bisa. Keren kan?

Berikutnya, Pak Adi Suwito juga bercerita tentang Pelatihan Tukang dan On The Job Training (OJT) bagi warga yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur CFW. Menurut Pak Adi, beliau tertarik dengan pelatihan tukang ini, karena jadi belajar banyak soal konstruksi dan standar kualitas pekerjaan konstruksi yang kemudian dipraktikkan dalam kegiatan CFW. Jadi, pekerja yang terlibat dalam kegiatan infrastruktur berbasis masyarakat dalam Program Kotaku itu memang tidak sembarangan orang, gaesss.. Mereka dilatih (dan lulus) terlebih dahulu, agar kualitas fasilitas yang dibangun sesuai umur bangunan seperti rencana.

Sambil publikasi tulisan ini, zoom meeting masih berlanjut. Udah segini dulu aja yaa.. 😁🙏 Semangatttt teruss, teman-teman Kaltim!

Meminta kepada Allah lewat tahajud dan istikharah

Video call pagi tadi sama mertua, beliau kembali nanya, “Kenapa Nina ngga menikah?”

Saya bingung njawabnya. 😅 Kalau pun saya jawab, besok pasti beliau akan bertanya lagi hal yang sama.. 😁

Anyway, hari ini ekspresi wajah beliau lebih serius, bahkan terlihat sedih. Lalu beliau bilang, “Nin, mamah berpesan nih ya, kita sebagai perempuan harus menikah, harus ada pendampingnya. Ngga baik sendirian kelamaan. Coba kamu sholat tahajjud dan istikharah, minta sama Allah: Tolong pertemukan saya dengan jodoh yang sholeh, ya Allah..”

😭😭

Pengen sih saya jawab: Kan nunggu timing Allah aja, Mah. Yang deketin sih banyak, tapi karena kondisi dan situasi saat ini kan bergerak juga jadi lebih sulit ya.. 😅 Tapi sudahlah. Saya memilih untuk diam dan menunggu sampai mama selesai memberi nasihat.

Alhamdulillah, saya sungguh-sungguh bersyukur, karena masih punya satu ibu yang menasihati dan mendoakan saya, meski beliau adalah ibunya mantan suami saya 🤗 tetap ibu saya kok rasanya. Hehe.. Maklum, ibu saya sudah pulang duluan 5 Agustus 2014 lalu. Lusa jadi peringatan wafat beliau ke-7 tahun.

Soal jodoh, saya juga sudah meminta doa dan restu dari papa saya pada 2019 silam. Bahkan sampai beliau menaruh tangannya di kepala saya dan mencium dahi saya, sebagai tanda meridhoi saya untuk kelak bersuami lagi. Hanya saja, Allah sepertinya punya rencana berbeda.

Saya pernah membaca kalimat di medsos Islami yang menulis: If Allah makes you wait, then prepare yourself to get more than you expected.

Jika Allah membuatmu menunggu maka bersiaplah untuk menerima lebih daripada yang pernah kamu bayangkan.

Saya hanya bisa menyahut dalam hati: Aamiin.. 😊❤️

Selamat beristirahat, Keluarga dan KawaNina. Stay safe, stay healthy. I love you all. 🤗💕

Kala Rabb-ku berkata: Sabar

Kucing saya, Pippi, kadang ngga sabaran.

Setiap 5 jam dia mengeong minta makan. Saya buka kulkas, dia ribut, ngga sabar. Saya kasih ikan kalengan sesendok, dia buru-buru melahap piring makannya. Padahal tadinya mau saya kasih dua sendok ke piring makannya, ngga jadi karena terhalang kepalanya. Nanti deh nunggu kepala dia menyingkir dari piring makannya.

Di kali lain, Pippi mengeong, minta makan lagi. Saya buka kulkas. Kali ini dia duduk kalem di dekat piring makannya. Saya ambil ikan kalengan sesendok dan letakkan di piringnya. Dia hanya mengendus, tapi kembali duduk, memandang saya, menunggu dengan manis. Saya kasih lagi sesendok di piring makannya. Setelah itu saya simpan kembali kaleng di kulkas. Saya melirik, ehh ternyata Pippi masih menatap saya, belum makan. Saya usap kepalanya dan bilang, “Udah sana makan, anak manis.” Barulah dia makan, pelan-pelan.

Pippi, nyebelin, tapi saya sayang banget. Sejengkel apa pun kelakuannya, tetep aja saya sayang dan ngga akan menelantarkan dia. Kalau dia pergi, saya cariin. Kalau dekat, saya peluk-peluk dan sayang-sayang, meski dia bete. Hahaha.. Seringnya saya rindu kemanjaan dia, dan Pippi tipe kucing yang tidak manja. Mandiri. Tapi tetep aja, saya pengennya sih dia manja. Wkwkwkwk..

Siang ini saya merenungkan makna dari interaksi sederhana tersebut. Can’t help but thinking, mungkin ini analogi serupa dengan Allah yang menjawab doa saya dengan, “Tunggu dulu, sabar ya, sesungguhnya Aku punya rencana lain untukmu.”

Dan mungkin juga Allah menegur saya, “Aku tahu kamu mandiri, tapi Aku rabb-Mu, jadi kenapa kamu ngga menghampiri dan bermanja-manja ke Aku?”

(sigh)

Benar. Kadang saya lah yang angkuh dan ngga sabar dengan ketentuan-Nya. 😭

Semoga Allah mengampuni..

menikah, buat apa?

Hari ini tetiba teringat obrolan dengan seorang kawan:

Loe nikah buat apa? Buat punya anak? Nerusin keturunan? Emangnya loe keturunan raja, darah birunya harus dilestarikan? Penting banget? Harus banget punya anak? Mendingan loe angkat anak yatim, itu lebih bermanfaat, daripada elo menuh-menuhin dunia dgn keturunan loe yang belum tentu juga berguna bagi negeri ini.

Saya ngakak mendengar pertanyaan dan argumennya. Tapi masuk akal. Sempat saya merenungi kalimatnya juga sih.

However, saya jawab dia soal alasan menikah. Blak-blakan.

“Nikah ya biar halal lah. Gw hanya manusia, yang punya nafsu, termasuk birahi. Dan karena gw gak mau sama dengan binatang yang kalo birahi bisa siapa aja disikat yang penting lubang, ya gw kudu nikah sebelum menyalurkan nafsu birahi gw lah ya. Dengan menikah, nafsu gw tersalurkan dengan benar dan Tuhan gw, insyaa Allah, menyukai dan meridhoi jalan tersebut. Ujungnya, tentu baik, barokah, buat gw dan pasangan gw dong?”

Gantian dia ketawa mendengar jawaban saya. Dia bilang, “Bagus. Jujur banget. Ngga normatif atau standar. Salut.”

Nah, soal meneruskan keturunan, saya jawab, “Ngga harus sih, tapi kebetulan Allah udah mempercayakan gw jadi ibu yang melahirkan anak sendiri. Saat proses bikinnya sih, ngga diniatin gw harus hamil juga. Alami aja. Hamil alhamdulillah, ngga hamil-hamil, ya bener loe bilang tadi, angkat anak yatim, lebih barokah. Lah kebetulan gw hamil, sampe beranak tiga begini, ya disyukuri dan didoain semoga anak-anak gw berguna bagi agama, keluarga, sekitar, dan bangsanya.”

Dia ngakak lagi, trus bilang, “Baguslah, elo emang fair dan paham apa fungsi loe dalam hidup.”

😅 Haha..

Seru juga ngobrol sama orang tipe nyeleneh kayak kawan saya itu. Ke mana ya orangnya? Mudah-mudahan beliau selalu sehat dan bahagia dengan pilihan-pilihannya dalam hidup. 🙏

Jumat Barokah, KawaNina. Bahagia itu kita sendiri yang membuat, lho. Jadi, definisikan sendiri bahagiamu, jangan sampai didikte orang lain. So, semangat ya! ✊😊❤️

istri lebih sayang tupperware?

Suatu hari, 1-2 tahun lalu, seorang driver (mobil) online bertanya ke saya:

Bu, coba jawab jujur. Kenapa kaum ibu itu biasanya ngambek berat pas tahu suami atau anak menghilangkan tupperware?

Saya kaget. Kirain mah mau tanya apaan yang serius begitu. Saya tertawa, tapi si Bapak rupanya serius. Bahkan, dia bilang, ini pertanyaan dia ajukan ke semua penumpangnya, baik laki-laki ataupun perempuan.

Saya jadi ngakak lagi. Waduh, fenomena tupperware bisa “meretakkan” rumah tangga ini perihal cukup serius rupanya. Akhirnya saya jawab dari sisi saya pribadi deh..

Sejujurnya nih, Pak, saya bukan tipe perempuan yang ngefans sama tupperware. Ada, alhamdulillah, ngga ada ya gak masalah. Untuk tempat bekal makanan/minuman, saya pakai merk apa saja oke. Tapi memang pernah lah saya punya puluhan set tupperware juga. Intinya saya tidak eksklusif harus tupperware. Kenapa? Karena mahal. Dan ujungnya akan hilang juga. Hahaha..”

Nah, mungkin itu, Pak, kenapa ibu-ibu jengkel dan marah-marah kalau Bapak atau anak-anak menghilangkan tupperware. Mahal lho itu, Pak. Kadang Ibu-ibu nyicil belinya. Dan itu dibeli menggunakan uang Bapak juga. Jadi saya rasa bukan soal barangnya, Pak, melainkan soal bisa tidaknya Bapak menghargai uang Bapak sendiri, yang diinvestasikan oleh Ibu ke barang berkualitas untuk digunakan bersama keluarga. Memang bagus-bagus lho, Pak, tupperware itu. Dan biasanya limited edition.”

Sang Bapak sempat menyanggah. Menurutnya, namanya suami ngga masalah barang bagus atau nggak, limited edition atau bukan, yang penting fungsional.

Saya jawab, “Pak, namanya perempuan, sukanya ya yang indah-indah, awet tahan lama, dan bagus. Istri sudah sengaja memilihkan barang berkualitas untuk keluarga, masa ngga diapresiasi?”

Si Bapak manggut-manggut. Mungkin logika kelelakiannya masih belum nangkep alasan sebenarnya kenapa istri mengomel lama kalau dia menghilangkan tupperware. Yang dia pahami malahan: Kok istri saya lebih sayang tupperware daripada saya.

Saya ketawa geli.

Pikiran lelaki memang sederhana banget yaa. Makanya perlu perempuan, biar hidupnya tidak membosankan dan lebih menantang gitu. 😃

Eh trus dia tanya, kalau anak atau suami saya menghilangkan tupperware begitu, gimana? Saya jawab, “Beli lagi, kalau ada uangnya. Kalau ngga ada, ya risiko menghilangkan toh? Saya ngga perlu ngomel, mereka cukup jalani aja konsekuensinya.” 😃

Basically, saya memang tipe ibu/istri yang ngga memusingkan soal barang. Ada, pakai. Ngga ada, ya cari alternatif pakai yang lain, atau ngga usah pakai aja. Hidup udah ribet, ngga perlu dibikin lebih ribet.

“Enak banget ya, suami Ibu. Tenang kayaknya hidup suami punya istri kayak Ibu. Santai bener menghadapi hidup.”

Saya cuma nyengir. Meringis. Jelas saya ngga cerita dong bahwa saya hanya “punya” mantan suami. Wkwkwkwkw..

Fiuhhh.. 😛

orang baik sering disia-siakan?

Orang baik lebih sering disia-siakan oleh pasangannya, kenapa?

Hmmm.. Kenapa ya?

Saya kok ya sering banget menemukan pertanyaan seperti ini. Mulai dari orang curhat, sampai baca komik atau artikel, rerata tercetus kalimat begitu, “Orang baik, kok disia-siakan? Apakah yang bersangkutan kurang baik?”

KawaNina, saya sendiri nggak bisa menjawabnya. Apalagi karena saya juga termasuk orang yang disia-siakan, walaupun saya tidak merasa diri masuk dalam kategori “orang baik”. Saya hanya berpikir, mungkin saya dinilai kurang baik oleh pasangan saya, sehingga dia memilih untuk mengabaikan, mencueki—bahasa opo iki mencueki?

Intinya ya, menyia-nyiakan. Lalu ujungnya, saya hanya bisa terdiam dan membiarkan waktu membuktikan, siapa yang merasa paling merugi saat kehilangan satu sama lain.

Suatu kali, terkait ini, ada seseorang yang menyahut, “Orang yang menyia-nyiakan istri/suami yang baik adalah orang yang tak bersyukur.” Saya berpikir, bisa jadi itu jawabannya. Entahlah..

Ada juga yang mengatakan, “Orang baik itu biasanya tangguh, sehingga orang lain berasumsi jika disakiti, mereka (orang baik) akan tetap baik-baik saja dan tetap bersikap baik.”

Hmmm.. Entahlah.. Kalau Keluarga dan KawaNina, kira-kira tahu ndak jawabannya? 😊

Wrote on my Facebook, Oct 31, 2016

harus punya anak?

Nikah, harus punya anak?

Beberapa kali kedua anak saya bertanya hal ini: Mam, emangnya kalau menikah harus punya anak? Kalau aku nikah ngga punya anak, boleh nggak? Atau sekalian aja aku ngga usah nikah ya? Aku gak kebayang bisa membesarkan anak..

😅 Emaknya cuma nyengir..

Gini ya, Nak-anak, first of all, punya anak atau tidak, itu Allah yang menentukan. Bukan manusia. Banyak pasangan suami istri yang gak berencana cepet-cepet punya anak, eh ternyata sebulan nikah, istrinya langsung hamil. Banyak juga pasangan suami istri yang pengeeeen banget punya anak, tapi sama Allah belum juga ACC. Sampai belasan, bahkan puluhan tahun nikah, ngga juga punya anak. Jadi itu semua bener-bener Allah yang menentukan.

Kedua, harus punya anak? Yaa ngga ada aturan yang mengharuskan sih. Hanya saja menurut ilmu agama berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, kita menikah agar bisa memiliki keturunan. Dan Rasulullah senang melihat umatnya yang sangat banyak di surga kelak. Inget, asumsinya umat Rasulullah ya, artinya yang sholeh dan mendidik diri agar bertabiat meneladani Rasulullah dan sunnah-sunnahnya. Artinya lagi, apa? Artinya umat yang punya tanggung jawab membesarkan anak dengan prinsip Islami agar tumbuh jadi manusia yang termasuk umat Rasulullah Muhammad SAW. Ribet? Makanya utamakan belajar agama dulu sebelum belajar cinta-cintaan. 😁 –Btw, ini omongan saya sebagai ibu ke anak sih, jadi musti agak2 kayak Mamah Dedeh lah ya. Hehehe..

Ketiga, kalau ditanya jujur, ngga ada satu pun manusia yang bener-bener siap punya anak. Ada yang merasa udah siap banget, begitu praktik, anaknya lahir, gak kuat begadangnya, keteteran sama bayi yang suka gak terduga jadwal nangisnya, lupa bagi tugas malah semua ditumpahin ke istri, padahal penting banget berbagi tugas saat kita punya bayi. Ini bayi nih manusia, anak kita, tanggung jawab kita, nyawa bayi ini ada di tangan kita. Kalau bukan kita yang handle, siapa lagi yang mau? Lah kita pelihara bayi kucing aja musti kita nurture, apalagi bayi manusia?

Tapi pertanyaannya bukan: siap ngga jadi orang tua, melainkan, siap ngga lebih bertanggung jawab sama diri sendiri, sama pasangan, sama anak, sama keluarga kecil kalian? Kalau belum siap, minta sama Allah untuk mencukupkan, menyabarkan, memampukan.

Keempat, soal perlu gak sih nikah? Lha ini.. Gini ya, mamam blak-blakan aja. Di Qur’an tertulis: Allah menciptakan manusia lengkap dengan nafsunya. Manusia itu selalu punya nafsu, SALAH SATUNYA adalah syahwat. Ada manusia yang bisa menahan syahwat dengan puasa dan shalat, tapi secara fitrah, takdirnya, syahwat itu selalu ada. Gak bisa hilang sama sekali. Sadari, kita ini manusia, bukan malaikat yang tak memiliki nafsu, apalagi syahwat. Sadari juga, kita ini manusia, bukan hewan yang hanya punya nafsu tanpa akal.

Di Al-Qur’an, Allah memberi “fasilitas” menikah, bagi yang sudah mampu dan mau. Selama kamu belum terbayangi oleh syahwatmu, nikah belum perlu. Kalau kamu sudah mulai merindukan menghabiskan hidup dengan seseorang, nikah menjadi sunnah. Tapi kalau sudah ada hasrat syahwat dan kerinduan itu semakin gak terbendung maka nikah menjadi fardhu.

Anyways, saran mamam tetep, menikahlah. Cari pasangan sesuai bibit, bebet, bobot. Kalau kamu mau nikah dengan seseorang yang berkualitas maka kamu wajib lebih dulu menjadi orang yang berkualitas. Niatkan nikahmu karena Allah, agar kalian sehidup sesurga. Belajar dari kesalahan mamakmu ini, ambil hikmahnya, buang contoh buruknya. Mamakmu selalu niat sehidup sesurga saat memutuskan menikah. Tapi ngga ada manusia yang mampu menghindar takdir Allah. I’ve done my best, Allah decides the rest.

Masalah punya anak atau ngga, itu biar Allah yang tentukan.

Nah, udah panjang lebar begitu, anak saya balik nanya lagi: Jadi kalo aku gak nikah, gapapa?

Hadehhhh.. 😅😅

Dua dari tiga anak saya sudah usia 23 dan 21, tapi tetep aja bocah kecil sama emaknya mah..

hey, you..

Hey, you,
The man whose name Allah has written on the Lauhul Mahfuz for me;
The name I whispered daily to reach His ‘Arsy,
Hurry come to me.

Bind me in halal way.
Love me.
Love my children.
Love my family.
Do your best to make me happy:
body, heart, mind, and soul,
in this dunya as well as akhirah.

I will tripled what ever you do, inshaallah,
And one day, I will witness in front of our Rabb
That if Allah grant me with His jannah,
I will only cross the gate with your hands in mine
Only you, my husband.
Nobody else.

🇮🇩

Hey, kamu,
Lelaki yang Allah tuliskan namanya di Lauhul Mahfuz untukku;
Anonim yang kubisikkan hingga naik ke Arsy-Nya,
segeralah datang.

Halali aku.
Cintai aku.
Cintai anak-anakku.
Cintai keluargaku.
Bahagiakan aku:
lahir, hati, pikiran, dan batinku
di dunia dan akhirat

Aku akan membalas kebaikanmu tiga kali lipat, insyaa Allah,
Dan kelak bersaksi di hadapan Rabb kita,
Jika Allah meridhoi aku dengan jannah-Nya,
Aku hanya akan melintasi gerbang jannah itu sambil menggandengmu.
Hanya kamu, suamiku.
Tak ada yang lain.

my home is your two arms

🇬🇧

Understanding you is by listening carefully to things that you don’t say. Accepting you is by trusting more in your gestures than all your words.

Thank you for always taking care of me. Alhamdulillah, you provided me with your time and attentions. Indeed Allah is the best for choosing you as the owner of my heart. For me, loving you as best I can is a mandate from my Rabb.

Hopefully one day, the distance between you and me will be two millimeters left. And, the continents which separate us today, will become a fertile field for us to plant our hope.

Remember, my home is your two arms, where ever you are.

🇲🇨

Memahamimu adalah mendengarkan dengan cermat hal-hal yang tidak kamu ucapkan. Menerimamu adalah lebih memercayai ungkapan sikapmu dibandingkan semua perkataanmu.

Terima kasih kamu selalu menjagaku. Alhamdulillah, kamu mencukupi aku dengan waktu dan perhatianmu. Tak salah Allah memilihmu sebagai pemilik hatiku. Bagiku, mencintaimu semampuku merupakan amanah dari Rabb-ku.

Semoga suatu hari, jarak antara kamu dan aku hanya tersisa dua milimeter saja. Dan, benua yang hari ini memisahkan, kelak menjadi ladang subur bagi kita menanam asa.

Mengertilah, rumahku adalah kedua lenganmu, di mana pun kamu berada.

KamisRomantis 😊❤️💜

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: