Warga Indonesia dikenal dunia sebagai juara keramahan, penuh senyum, dan basa-basi hangat memikat hati. Namun, bayangkan betapa rempongnya situasi ketika seorang sahabat dari benua seberang datang jauh-jauh dengan niat tulus menyambung silaturahmi, tapi ujung-ujungnya malah kita sodori permintaan sumbangan. Rasanya seperti mengundang orang makan malam ke rumah, tapi di akhir sesi kita minta mereka yang membayar tagihan listriknya—hadeeeh, sungguh no akhlak!!
Niat awal persahabatan yang murni seketika berubah menjadi transaksi yang tidak nyaman, seolah-olah tamu tersebut hanyalah “dompet berjalan” yang mampir ke beranda kita.
Padahal, dalam Islam, tamu itu raja yang membawa keberkahan, bukan peluang bisnis, apalagi sapi perah. Rasulullah SAW bersabda dengan sangat tegas, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari & Muslim). Konteks “memuliakan” (Ikramul Dhuyuf) di sini adalah melayani, memberi makan, dan memberikan rasa aman. Tidak ada riwayat yang mengajarkan kita untuk memanfaatkan rasa sungkan tamu demi kepentingan materi pribadi atau kelompok. Meminta-minta kepada tamu, apalagi yang berbeda kultur dan negara, adalah tindakan yang kontradiktif dengan semangat melayani yang diajarkan Nabi.
Sungguh sebuah ironi yang memalukan jika “mental tangan di bawah” ini justru muncul saat kita berstatus sebagai tuan rumah. Tamu datang membawa penghormatan, eh lha malah kita balas dengan menadahkan tangan? Perilaku ini bukan hanya mencoreng wajah kita secara individu, tetapi juga meruntuhkan izzah (kemuliaan) dan muru’ah (harga diri) umat Islam Indonesia di mata dunia. Tamu yang harusnya pulang membawa cerita tentang kemuliaan akhlak kita, malah pulang membawa kebingungan karena merasa dimanfaatkan.
Mari kita bercermin pada Bapak Para Nabi, Ibrahim AS. Dalam Al-Qur’an (QS. Adz-Dzariyat: 26-27), dikisahkan beliau diam-diam pergi menemui keluarganya dan kembali membawa daging anak sapi gemuk untuk disuguhkan kepada tamunya. Beliau memberi yang terbaik tanpa diminta, bukan malah meminta. Nabi dan Rasul nan mulia saja memuliakan tamu, masa kita yang malah berlaku sebaliknya? Malu, ah, sama keimanan di dalam jiwa!
Yuk, kembalikan adab luhur ketimuran dan Islam kita. Sambutlah tamu dengan wajah ceria, ketulusan, dan jamuan terbaik semampu kita. Biarkan mereka pulang membawa kenangan indah tentang persahabatan yang tulus, bukan kenangan pahit tentang “todongan” donasi dengan alasan apapun—yang bener aja bos! Lagian mengumpulkan donasi juga ada adab dan momennya tersendiri. Sungguh mental kayak gini sebaiknya ngga dipelihara.

Saya menulis ini untuk murni berdasarkan pengamatan realitas. Saya menghabiskan 23 tahun karier saya sebagai jurnalis, bahkan saya sudah jadi penulis sejak masih ingusan (tapi bukan karena flu). Intinya saya punya kapasitas dan integritas soal ini. Saya terlatih mengamati, mengumpulkan informasi, lalu menganalisis keadaan lingkungan secara obyektif. Jika saya angkat bicara dalam tulisan, artinya saya merasa ini perlu disampaikan sebagai pengingat dan edukasi—syukur-syukur memberi inspirasi.
Anyways, saya tidak sedang menghakimi ataupun menyinggung pihak tertentu. Namun jika ada pembaca yang tersinggung dengan tulisan ini, hla kok bisa? 😄 Silakan introspeksi diri saja kalau gitu. Itu lebih baik untuk Anda.
Selebihnya, wallahua’lam bishawab.
Tabik! 🙏



Leave a comment