[TheKacrutTheme] Say No To Bully – Opini

Entah sudah berapa lama saya kelewat tema tulisan #TheKacrutMenulis ini. Tau-tau tadi iseng ngasih usulan tema “Bully”, hehehehe.. Entah diterima atau tidak usulan tema tersebut, saya mau nulis sedikit tentang “Bully” ini.

Bully, atau dalam bahasa Indonesianya “Bulan-bulanan”, adalah tindakan yang biasa dilakukan oleh sekelompok orang terhadap orang lain. Kalau bahasa gaulnya zaman saya SMP dulu istilah lainnya adalah “digencet”.

Upaya “penggencetan” ini biasanya dilakukan oleh kakak kelas terhadap adik kelas, atau malah seangkatan. Entah karena alasan sentimen massal terhadap objek yang digencet atau si penggencet ini merasa objek yang digencet patut digencet.. *nah lho, bingung dah bahasanya* :p

Sebagai orang yang pernah hampir digencet (mereka abort mission, karena keburu takut sama saya, huahahaha.. Tauk deh tu kenapa mereka malah takut), saya dikasih tau, beberapa alasan orang melakukan penggencetan (saya sebut mereka “pelaku”), antara lain, orang yang mau digencet ini (saya sebut mereka “korban”) dianggap reseh, kecentilan, pecicilan, dan sejenisnya. Setidaknya itulah alasan yang diajukan pelaku, sehingga mereka membenarkan diri melakukan bullying terhadap korban.

Saya pribadi tidak pernah bisa membenarkan tindakan bullying ini. Meski saya punya “kuasa” (waktu SMP, sejak kelas 1 saya sudah aktif menjadi pengurus OSIS dan selalu menjadi pengurus kelas–kalau ngga jadi sekretaris, bendahara, atau ketua kelas sekalian–setiap tahun), tetap saja saya tidak pernah mau melakukan bully pun tidak mengizinkan kawan-kawan saya melakukan bully.


Kenapa?


In my point of view, bullying is a crime; what ever the reason, no matter how strong the reasons would be. Ya, bullying is a crime. Tindakan kriminal, dan tidak manusiawi.

Pertama, kita bukan hakim; tidak pernah ditunjuk menjadi hakim; tidak pernah punya hak untuk menjadi hakim. Social control terhadap sesama kawan memang perlu, tapi tidak dengan cara menghakimi. Sedangkan bullying sangat identik dengan being judgmental.

Kedua, kita belum tentu lebih baik daripada korban yang kita bully. Kalau memang kita merasa lebih baik daripada si korban, tentunya kita tidak melakukan bully, melainkan mengingatkan si korban dengan cara yang lebih manusiawi.

Ketiga, it hurts. Bullying is about hurting other people’s feeling and even physically, and I’m strongly disapprove with it. Saya pernah baca, tingkat bunuh diri anak sekolah (baik di Amerika, di Eropa, bahkan di Indonesia sendiri) meningkat, salah satu faktornya adalah karena bullying.

Kalau memang tujuan mau meluruskan kawan, ya dengan cara yang baik dong. Saya ingat pepatah, “If you treat other people good, they will treat you better.” 

Dalam kata lain, kalau kita memperlakukan orang lain dengan baik dan tepat, maka mereka akan bereaksi dengan baik pula. Jadi, kalau ingin nasihat kita sampai (dan didengarkan) oleh kawan-kawan kita, ya hendaknya kita berbicara dengan nada yang baik, tanpa asumsi, tanpa menghakimi.

Beside, every story has two sides, if you paid more attention of other people, and listen to them more patiently, they will open up. 


Setiap cerita selalu punya dua sisi. Kenapa kawan kita bertindak pecicilan, misalnya, jangan-jangan sebenernya kawan kita itu punya duka mendalam di hatinya tapi ditutupi dengan sikap pecicilan atau malah overacting. Hey, it happens!


Kebetulan, sejak SMP sifat leadership saya tinggi (alhamdulillah, kata Pembina OSIS dan guru BP sih begitu, hihihi..), makanya saya dan beberapa kamerads di OSIS kadang dimintai tolong oleh guru BP untuk berdialog dengan murid yang bermasalah (tapi masih bisa ditolong), sebelum guru BP-nya turun tangan sendiri. Jadilah saya sempat memediasi kawan sesama siswa yang sedang menghadapi perceraian orangtua. Mungkin waktu itu guru BP merasa saya bisa mengajak bicara sebagai sesama “korban perceraian ortu” (meski saya tidak pernah merasa jadi korban, hehehe..).

Nah, yang waktu itu saya lakukan adalah menemui dia–ah, saya lupa namanya, hehehe.. Saya lebih banyak mendengarkan keluh-kesah dia, setelah saya rasa dia siap dan open terhadap saran atau nasihat, barulah saya bicara.

Ah ya, dalam hal ini (menghadapi orang kalut) salah satu faktor yang paling penting adalah berbicara saat dia sudah siap mendengarkan. Kalau dia masih menutup kuping, percuma kita nasihati, karena nggak akan didengarkan. Dan, caranya membuat mereka siap mendengarkan adalah dengan lebih dulu mendengarkan mereka sampai selesai.

Alhamdulillah, kamerad yang saya ajak curhat waktu itu membaik dan behave better dibandingkan sebelumnya, bahkan nggak jadi dipanggil guru BP. 🙂

So, say no to bully, guys!


Bully itu bener-bener shortcut buat orang malas dan ngesok yang ngga mau mendengarkan sisi cerita orang lain. Bully itu hanya cocok buat orang-orang yang terlalu bebal untuk mencari cara lain yang lebih baik. Dan, further, bully itu sama dengan premanisme. Preman mah tempatnya di terminal, bukan di sekolah.

Anak saya yang perempuan sering mengeluhkan kalau dia sering di-bully oleh kawan-kawannya di sekolah. Saya bilang ke dia, masih bisa dihadapi atau tidak, kalau tidak, saya yang akan datang ke kepala sekolahnya dan meminta anak-anak ingusan itu ditertibkan. Kalau masih bisa tahan, ya lawan saja, jangan takut ngga punya teman. Lagian ngapain maksa mempertahankan pertemanan dengan anak-anak yang belajar jadi preman begitu?

Anyways, yang saya ngga habis pikir, itu para orangtuanya apa nggak mengajarkan ke anak-anak ya, kalau bullying itu adalah tindakan kriminal? Eeeh, anak saya malah njawab, biasanya anak-anak yang bully begitu justru karena memang tidak pernah diajari oleh orangtua, akibat kesibukan orangtuanya yang luar biasa. *Soal yang ini, waduh, apa harus saya datangi orangtua mereka untuk saya jeweri satu per satu??*

Atau, anak saya melanjutkan, di rumah mereka adalah anak-anak manis, begitu di sekolah jadi anak-anak sadis. Hm… Tragis!

Memang, kalau mau lihat lebih jauh, anak-anak yang bully ini juga biasanya bermasalah, ya. Kurang kasih sayang, kalau saya bilang sih. Sebab, menurut saya, anak yang diberi kasih sayang yang cukup tu ngga akan sibuk cari perhatian di luar, apalagi dengan cara menyakiti orang lain. Anak yang diberi kasih sayang dan perhatian yang cukup nggak akan usil ke kawan-kawannya. Warning, kasih sayang dan perhatian ini BUKAN memberi uang semata!! 

Menurut saya, terlalu banyak orangtua yang sengaja sibuk dalam pekerjaan sebagai upaya “melarikan diri” dari tanggung jawab mengurus anak, malah mengurus anak dilimpahkan sepenuhnya ke baby sitter atau pembantu. Sungguh disayangkan kalau memang begitu. Kasihan anak-anak seperti ini.. Nggak heran kalau hasilnya menjadi anak-anak yang suka bullying terhadap orang lain.

Mudah-mudahan kamerads dan semua pembaca blog saya adalah para orangtua (dan calon orangtua) yang penuh kasih sayang. Meski berkarier dengan jabatan tinggi–para ayah maupun para ibu–tetap mampu membagi waktu dengan anak-anaknya. Tetap mampu pulang lebih sore dan mengerjakan pe-er bersama anak-anaknya. Tetap mampu berakhir pekan dengan anak, sekadar spending quality time with the children.

Kalau saya, alhamdulillah, begitu di rumah, saya langsung lupakan kerjaan dan jadi full time mommy. Kalaupun ada yang masih harus dikerjakan, cukup sebentar saja, tidak sampai mendominasi apalagi menghabiskan waktu saya untuk keluarga. Bekerja secara efisien dan happy di kantor, lalu kembali ke rumah sebagai mommy–bukan sebagai editor. Nah, setelah anak-anak tidur, baru deh “me time“. Jadi intinya, pintar-pintarlah me-manage waktu, supaya semua happy. *gak nyambung, tapi biarin ah*

Jadi, kamerads, setelah SAY NO TO BULLY, saya juga mau menyerukan SAY NO TO BUSY-SENDIRI AT HOME. *Hihihihii.. Maksaaa deh motto-nya* 🙂

Advertisements

10 thoughts on “[TheKacrutTheme] Say No To Bully – Opini

  1. gw pas ospek kampus tu mba, kaya romusha hehe, apalagi fakultas jurusan seni, pada rock n roll semua, sempet loh hampir mau pindah jurusan tapi akhirnya tahan banting juga 🙂

  2. hmm, sy di 'bully' waktu ospek hanya karena pake kawat gigi (KG), sekali lagi hanya karena pake kawat gigi !!!huffttt… gawatnya lagi, karena sy satu-satunya pengguna KG di Fakultas Pertanian, waktu itu sy disuruh berdiri di atap sekitar sejam dengan alasan AJAIB dari senior sy, kata mereka "biar bisa dapat gambar bagus di televisi", hikss… kalian pikir sy antena apaaa..hahahahahahaha *tepok jidat

  3. @ Tebeh: Wekekeke.. Emang sih soal ospek ini ada dua pengertian, menjalin kekompakan atau bully semata. Kalau para seniornya masih kontrol sih, gak masalah kali yaa.. Yang ngga boleh tu kan kalau sampe di luar batas kewajaran, sampe maen fisik atau keroyokan gitu, jangan sampe dehh..@ Amanda: Huahahaha.. Sadis bener tu kakak angkatanmu, Jeunk, beneran dianggap antena.. :p Yang penting ngga sampai kenapa-napa ya, jeunk, pegal-pegal dikit mah wajar. Hihihihihi.. *lhooo*

  4. Seingatku masa sekolah or kuliah terbebas dari bulyy deh atau memang nggak merasa hahaha ^_^Apa aku yang ga gaul ya? ahahha. Ga lahhh. Kalau malakin dikit2 sih pernah hahaha. Peace hihihi.Hari gini masih bully2an? Ga keren amat hahaha…

  5. @ Riu: Ya ampuuun.. Pantesan. Tuh kaaan, korban bully jadinya kayak Riu gini… *raja galau* :p@ Uni Deesan: Huahahaha.. Ternyata Uni jadi preman jugaaa. Malakin atas nama cinta sih gak masalah kayaknya, Uni. Wakakakak.. :p

  6. alhamdulillah masuk kampus saya gak pernah di bully.rumusnya :-punya om dekan fakultas sebelah-punya sepupu senior organisasi-punya sepupu penguasa kantin (jasbog)-punya sepupu kalo ngampus sering teler-punya sepupu nikah sama kajur fakultasAlhasil, saya mimpin temen – temen buat kabur waktu pengumpulan.

  7. Wah, jadi ga enak.. Kayaknya jaman muda dulu gue pernah nge-bully beberapa teman dan adik kelas. Semoga para korban & Yang di Atas mengampuni dosa saya.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s