“JP sempet bilang, ‘Gue suka sama seseorang. Tapi udahlah, itu masa lalu.’ Dan gw tau kok siapa ‘seseorang’ yang dia maksud,” kata kamerad lama saya. Sore itu, saya dan kawan lama, masih membicarakan soal kamerad yang “hilang”–kami sepakat memanggilnya JP

Kamerad saya lantas melanjutkan, “Trus dia bilang, elo tuh muna..”

PLAKKKK!!!

Yup. Kalimat itu menampar saya. Telak. Tapi saya nggak marah. Sebaliknya, saya jadi merenung. Berpikir. Mereview kembali hidup saya semasa muda. Dan, saya akui, kalimat itu benar. .

“Dia benar. Gw muna,” jawab saya. Sungguh, saya akui, dahulu saya munafik. Kerap kali mengatakan hal-hal dan bersikap yang berbeda dengan isi hati.

“Waktu itu gw masih muda dan bodoh untuk bisa jujur sama diri sendiri. Gw takut. Takut ditolak, takut sakit hati, takut ke depannya malah ngga lancar. Gw terlalu pengecut untuk menghadapi perasaan gw dan terlalu takut sama hal-hal yang belum terjadi,” saya menambahkan.

Ya. Dahulu, jika saya menyukai orang, saya justru akan bersikap sebaliknya–“memusuhi” orang tersebut. Menjadikannya saingan dan dia tidak boleh menyentuh, apalagi masuk ke dalam kehidupan saya. Padahal, ketika berjauhan, hanyalah dia yang saya pandangi. Hanya dia yang saya pikirkan. Hanya nama dia yang saya bisiki dalam setiap doa saya sebelum tidur.

Saya munafik.

Ternyata dia tahu, dia menyadari bahwa saya suka dia. Dan, karena dia juga suka pada saya, dia mencoba mendekati saya. Memberanikan diri. Tapi, lihat, apa yang saya lakukan? Saya malah menghardiknya. Memarahinya. Saya menjauhinya, sambil berdebar-debar.

Aneh kan, saya malah ketakutan untuk merasa bahagia.

Tak pernah terpikirkan sedikitpun, seharusnya saya–at least–menghargai upaya dia mengumpulkan keberanian untuk menyatakan rasa sukanya kepada saya. Saya tidak menghargai bahwa dia telah bersusah payah meredakan debar di dadanya demi berjalan berduaan dengan saya. Saya tidak pernah berpikir bahwa laki-lakipun SAMA seperti perempuan: punya perasaan.

Saya baru menyadari bahwa laki-laki itu sama saja dengan perempuan, punya perasaan–sama-sama bisa sakit hati, bisa sedih, bisa emosi meski cara memperlihatkannya berbeda dengan kami (perempuan)–adalah tahun 2001, ketika saya berpisah dengan ayah dari kedua anak saya.

Telat banget ya?

Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. Stupid me. STUPID ME!!!

Oh how I wish I could invent a time machine. Kalau saja manusia bisa menciptakan mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, saya akan menghampiri Nina ABG dan menasihatinya untuk lebih jujur pada diri sendiri. Menasihatinya untuk berani bersikap. Menasihatinya bahwa kita semua sungguh berharga, sehingga kita–sehina apapun kita menganggap diri–berhak merasa bahagia. Embrace happiness!

Jikapun kelak akan terluka, biarlah itu terjadi nanti. Bukan sekarang. Malahan, terluka itu bisa dihindari kalau kita mampu mengelola hubungan dengan baik dan tidak intens atau terlalu banyak harapan.

Saat ini, nikmati saja kebahagiaan yang ada. Tak perlu kuatir apa yang akan terjadi besok, lusa, dan seterusnya. Be positive. Karena positivity (sikap positif) justru akan menghindarkan kita dari rasa terluka di masa depan.

Itu mungkin kalimat-kalimat yang akan saya katakan kepada Nina ABG. Tapi, kenyataan dan harapan, seringnya tidak kompak. Saya menggadaikan kebahagiaan saya dengan rasa takut sakit. Padahal, yang saya lakukan justru membuat sakit lebih cepat datang, boro-boro kebahagiaan sempat mampir.

Semua sudah terlambat. Dan saya belajar tentang kebijaksanaan dengan cara yang begitu keras dan harga yang teramat mahal. Saya terlambat menyadarinya.

Maafkan saya, JP.

Saya telah melukaimu. Dan (ternyata) itu melukai saya puluhan kali lipat.

Advertisements