Sepertinya ikrar bahwa saya tidak pernah dan tidak akan pernah galau, pecah telor hari ini (Jumat, 27 Juli 2012). Ya, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya GALAU–meski tidak terlalu mengerti sebenarnya makna galau ini apa sih. Saya cuma ikutan istilah anak-anak saya yang udah pada remaja aja. Hehehe..

Lha kok bisa ya saya galau? Di bulan Ramadhan pula.

Well, bukan galau terkait masalah hidup. Bukan pula galau yang terkait masalah rumah tangga, apalagi percintaan. Baik-baik saja kok rasanya. Saya hanya merasa galau. Terutama saat teringat kalimat yang diungkapkan kawan SMP saya semalam…

Begini. Saya akan menceritakan sedikit dari salah satu masa yang terindah dalam kehidupan saya. Yaitu, masa SMP. Di masa ini, saya merasa paling bahagia. Merasa paling hidup. Tidak punya kekhawatiran berlebihan soal sekeliling. Ini adalah masa dimana saya mulai menemukan jati diri dan membangun kepribadian saya untuk ke depannya. Saya sadar benar, jika saya tidak memulai pada momen tersebut maka saya akan selamanya jadi manusia labil.

Kalau dipikir-pikir, aneh ya. Waktu itu saya masih berusia 14 tahun, tapi sudah sadar pentingnya character building sejak SMP. Jadilah, saya siswa yang sangat aktif pada kegiatan ekskul dan OSIS. Entah kenapa saya sudah menyadari bahwa keahlian organisasi dan kepemimpinan itu sangat penting, sebagai bekal ke depannya. Meski saya perempuan, dan yang kelak menjadi imam saya adalah suami–laki-laki, tetap saya bertekad untuk memiliki keahlian tersebut. Demi masa depan saya. Demi anak-anak saya.

Hohohoho.. Sok keren banget sih saya. Tapi itu jujur. Monggo percaya atau tidak. 😀

Anyways, yak, SMP adalah salah satu masa kehidupan saya yang paling bahagia. Saya aktif di kegiatan Palang Merah Remaja (PMR), OSIS dan Paskibra. Saya bertemu dengan sahabat-sahabat sejati saat itu. Saya mengerti makna sahabat sejati–yaitu kawan yang tetap setia menemani meski kita sedang jatuh–adalah berkat mereka. Diana “Didien” Susanti, Tiurlan “Butet” Apriani, Ratna Rotua Martini, Jupriatno (Aat), Agung Priyo “Piyo” Nugroho, John Philip, Wahyuningsih (Nining), Anita Susanti (Niet-not), Lisnurita (Lissy), Arif Budi “Betet” Priyanto, M. Ali “Allay” Imron, Edi “Edai” Astuti, Gatot, Zaitun Fitri… lalu kakak-kakak kelas saya Iwan “Black” Hermawan, Solehandana (Dana), Siti Fatimah, Norma Latuconsina… Banyaklah, sampai sulit menyebutnya satu per satu.

Kisah-kisah cinta monyet, naksir-naksiran, gebetan, dan yang kisah unyu-unyu semuanya terjadi di saat ini. Hehehe.. Dan, ngga tau gimana, banyak juga yang suka sama saya. Mungkin karena waktu itu saya masih cantik, innocent, langsing—eh, udah agak gendut sih, tapi masih lebih kurus dibandingkan sekarang (ya eyalah!). Kalau konyolnya sih, sejak dulu juga begini. Bocor. hehehe.. Ya, banyak yang suka dan nembak saya, antara lain (kalau ngga lupa ya) Teddy Nugraha, Piyo, dan sempat juga JP–walaupun dia ngga nembak langsung. Cowok-cowok ini semuanya baik. Tapi pada akhirnya saya, mungkin karena terlalu blo’on juga, menolak mereka. Saya hanya menganggap mereka kawan.

However, di masa ini, saya sempat suka sama beberapa orang, meski ngga sampai jadian. Kakak kelas saya Iwan Black adalah cowok pertama yang saya kagumi. Dia cowok yang lucu, pintar, manis dan bijak. Keliatan banget leadership-nya. Saya selalu tertarik sama cowok yang punya sifat dan sikap leadership tinggi, tapi lucu dan down-to-earth. Setelah Iwan—karena terlalu banyak saingan, hehehe–saya beralih suka sama Budi Betet. Sayang tu anak playboy. Huahahahaha… Tapi itu dulu. Sekarang, alhamdulillah dia berubah jauh, jadi laki-laki sholeh dan ayah yang baik. Bravo, Betet!

Terakhir, adalah JP. Saya suka dia. Hanya saja, tak pernah saya ucapkan, pun tidak saya perlihatkan. Saya takut. Takut kebersamaan kami yang harmonis sebagai sahabat, rusak jika suatu saat kami harus putus.  Dan waktu itu saya juga sedang disibukkan dengan pikiran, “Ingin tinggal sama Mama di Bandung.”

Saya ingat betul siang itu. Kami pulang bersama-sama, saya dan JP. Rumah kami memang bertetangga sebelahan.

Di sekitar rumah penduduk, tak jauh dari outer ring road, JP bertanya, “Nin, kalau elo, mungkin nggak suka sama temen?”

Saya langsung freak out inside. Saya tau, kayaknya dia mau nembak. Saya jawab, “Ngga akan. Ngga akan. Ngga akan.” Ya, berkali-kali. Seakan meyakinkan diri saya sendiri.

Lalu JP bertanya lagi, “Kalau ada temen loe yang nembak, loe marah atau nggak?”

Saya, dengan bodohnya, menjawab, “Pasti gw marah. Gw bakal benci sama dia.”

“Oh..” hanya itu kata yang dia ucapkan. I swear I can see his disappointment. But, JP was a gentleman (yes, he’s a man. Not a boy, to me). Dia tidak bereaksi apa-apa, selain tersenyum. Malah saya yang salah tingkah.

“Kenapa, Lip, loe suka sama someone ya? Temen kita ya?” tanya saya, memberanikan diri.

“Ah nggak. Gw takut dibenci sama dia,” jawab dia singkat, sambil senyum. *I swear I can still see his warm smile in my head*

Lalu kejadian lainnya, ketika dia mendengar saya akan pindah ke Bandung. Sore itu dia menghampiri saya di teras rumah. Dia bertanya, “Apa loe ngga punya alasan untuk tetap di Jakarta?”

Saya, dengan dudulnya, menjawab, “Ngga ada..”

“Beneran?” dia memastikan.

“Bener. Ngga ada deh rasanya,” kata saya lagi.

“Bahkan gue?”

Ucapan itu membuat saya memerah dan terbengong, “Ha?”.

Dia cepat-cepat mengoreksi kata-katanya, “Gue, Diana, dan temen-temen yang lain?”

“Hmm.. Maaf, nggak bisa,” saya bilang begitu.

Wajah dia langsung sendu. “Oh..” ucapnya. Dan saya mengabaikannya.

Ya Tuhan. Sungguh bodoh saya! Bukankah itu sebenarnya pernyataan cinta? Bahwa dia tidak ingin saya pergi menjauh darinya?

Itu adalah dua dari sekian kejadian yang saya sesali dalam hidup saya. Dan dialog tersebut terjadi sekira 22 tahun lalu…

Dan, kemarin malam, saya bbm-an dengan Piyo, kawan kami yang satu SMA dengan JP dan menjadi sahabatnya. Nggak sengaja, saya membicarakan soal JP sama Piyo.

“JP tu dulu suka sama loe. Dia pernah bilang sama gw. Sebenernya dia pengen banget jadian sama loe,” kata Piyo

JLEGERRRRRRR!!

Saya langsung merasa terhuyung seperti mendengar geledek di tengah malam. What?!!

“Serius loe, Yo?”

“Serius. Dia bilang sendiri ke gw,” jawab Piyo.

“Trus selama di SMA, dia punya pacar ngga?” saya penasaran.

“Setahu gw ngga ada. Dia nolak-nolakin cewek melulu. Eh, jangan-jangan loe suka sama JP?” dia nanya.
Saya tergagu. Lalu saya ketik di bbm itu, “Iya.”

“Lha, kalau loe suka dan dia suka, kenapa dulu ngga jadian?” tanya Piyo. JLEB!!! Rasanya telak banget ke ulu hati.

Okelah, trus.. Apa masalahnya sekarang?

Masalahnya adalah… JP (dikabarkan) sudah wafat. Dia gugur dalam tugas. Ketika saya diberi tahu adiknya, David,  bahwa JP sudah tiada, rasanya seperti melayang. Tidak percaya. Shock. Sampai-sampai saya tidak mau mengingat dialog antara saya dengan David di sekitar tahun 1998 itu, bahwa kakaknya sudah tiada. Karena mengingat hari itu, rasanya sangat menyakitkan. Terlalu menyakitkan. Terlalu banyak penyesalan. Terlalu banyak kata yang tak terucap. Saya masih terlalu muda dan bodoh untuk menyadari perasaan saya sendiri.

Ya Allah… Kalau saja waktu itu saya lebih cerdas….. Mungkin jalan hidup saya akan jauh berbeda dengan sekarang. Mungkin JP akan sibuk mencintai saya dan berbahagia karena saya juga mencintainya–meski berawal dari cinta monyet–, dan nggak akan memilih bekerja sebagai int##. Dan, MUNGKIN….. mungkin saja, dia tidak akan meninggal secepat itu. Kalaupun memang sudah takdir dia wafat di tahun 1998 itu, setidaknya dia sempat bahagia karena perasaannya terbalas, dan saya juga bahagia, pernah dicintai oleh dia.

Usai berbicara dengan Piyo, saya bersimpuh di hadapan Allah. Menangis. Menyesal. Tapi takdir sudah ditetapkan. Saya punya kehidupan lain dan dia sudah berada di kehidupan lain. Saya hanya bisa berdoa, dan mendoakan JP agar damai di tangan Allah. Mengutip kalimat kawan saya yang baru kehilangan kekasihnya dalam kejadian jatuhnya Sukhoi Superjet 100 beberapa bulan lalu, “You are now in God’s hands, cupcake.”

Begitulah kenapa saya beberapa hari terakhir ini officially galau. This kind of reality cannot be undone. I must move on, and I will live my life to the fullest, for him too. I know he’d like that. Meanwhile, JP dear, tetaplah menjadi bintang di langit semesta saya. Terangilah hati saya. Karena baru sekarang saya menyadari bahwa kamu juga membawa sebagian hati saya ke dalam kuburmu.

JP, kalaupun kita tidak pernah bisa bersama-sama di dunia, maukah kamu menemani saya di akhirat nanti?

Advertisements