Mimpi tentang 3 Lelaki

Tadi subuh saya tertidur dan mimpi tentang 3 cowok. Yang satu cowok superkreatif (jago lukis digital) berusia belasan, baru lulus SMA dan lagi “ditembak” cewek (tapi cowok itu ngga ngeh segitu saya udah nyemangati dia untuk nerima cewek manis yang menembaknya).

Satu lagi, usia 25an hobi memodif motornya. Bodi gempal rambut ikal dan putih kulitnya. Orang yang cool tapi murah senyum. Hobinya touring motor.

Terakhir, cowok misterius usia 47an. Posturnya slender (langsing), jangkung dan amat sangat elegan. Yang saya ingat namanya Li, lalu Ro (entah apa maksudnya, tapi namanya seperti itu). Suatu ketika saya menemukan dokumen bertuliskan namanya, meski tidak saya bongkar tapi saya sempat googling nama dia di hape (dalam mimpi itu) dan dia merasa gusar gegara itu. Cowok terakhir ini agak mencuri perhatian saya karena sikap tubuh dan bahasanya yang sangat elegan, cekatan, dan dia juga gesit saat membantu saya akan sesuatu.

Di sisi lain, dalam mimpi itu saya juga melihat papa tinggal di sebuah rumah yang, katanya, terletak di dataran yang lebih rendah daripada permukaan laut. Ngga tau kenapa begitu, tapi ya itu penjelasannya. 😁

Eits… ini hanya cerita tentang mimpi, yaa… Tapi entah kenapa detail dan berkesan amat.. 😁

Happy shaum, folks.

Ramadhan Story: Day 14 – Belajar Percaya Allah, dengan Sungguh-sungguh

Hari ini, Rabu, 30 Mei 2018, alias 14 Ramadhan 1439 H adalah hari paling luar biasa. Ngobrol intens sama dua orang–yang satu rekan tim dari Maluku, satu lagi driver kantor–keduanya ngomongin soal hal yang sama: Percaya Allah sudah mengatur semua. Kun Fayakun.

Saya sampai tertegun dan menulis ini di bus dengan rasa masih bergetar di dada. Wow.. Sungguh, subuh tadi saya kembali mengucap harap ini, untuk ke seribu kali: Ya Allah, ajari aku ikhlas menerima apapun takdirku sesuai kehendak-Mu. Lalu siang dan malam ini, Allah menjawab. Masya Allah. Dahsyatnya, Ramadhan. 😊

Hari ini saya ditugasi meliput kegiatan kantor: Training of Trainer Pemandu Nasional NSUP (National Slum Upgrading Program) Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Begitu tiba di ballroom, saya langsung bertemu dengan rekan-rekan dari Provinsi Maluku, Papua, dan Papua Barat. Salah satunya sahabat dan senior saya: Pak Ahmad Sadaruddin. Bapak yang jenaka ini selalu baik hati dan ngemong seperti abang sulung ke adik bungsu. 😁

Pembawaannya yang selalu rileks itu bikin saya senang bincang dengannya. Dan siang ini tetiba obrolan kami mengalir soal pengalaman kerja beliau sejak 1997. Mulai dari gerakan (aktivis), kantor pajak, sampai ke dunia pemberdayaan saat ini. Cerita-cerita unik beliau sepanjang perjalanan hidup yang bikin saya terbahak-bahak. Termasuk fakta bahwa beliau dulunya gaptek sangat, menyalakan laptop pun bingung, tapi karena gengsi beliau tidak berkata apa-apa selain memerhatikan gerak-gerik orang lain. Oh, begitu caranya. Oh, begini, ya.. dst. Asli saya ngakak mendengarnya. Beliau bekerja merambahi separuh Indonesia, antara: Kendari (Sultra, kampung halaman beliau), Gorontalo, Malinau (Kaltara), Nabire (Papua), dan sekarang Ambon (Maluku).

Namun di balik tawa, saya terkagum-kagum dengan sikap tawakkal yang diamalkan beliau sepanjang hayatnya. Pantesan seakan tak tampak beban hidup di wajahnya, karena memang segala sesuatu beliau ikhtiarkan dengan semangat tawakkal.

Dengan bahasa yang sederhana berlogat kental Sulawesi, beliau katakan: Saya ngga pernah ambil pusing, mau dipecat, mau di-hire, silakan saja. Saya hanya percaya Allah sudah mengaturkan semuanya untuk saya. Buat apa khawatir lagi?

Saya sampai melongo memandang beliau, saking takjub. Luar biasa keindahan pemikiran manusia yang Allah pertemukan dengan saya ini. Di sisi lain, seakan saya “mendengar” Allah berbisik, “Ini adalah cara-Ku mendidikmu. Kamu senang mendengar orang bercerita maka dengarkanlah penuturannya baik-baik dengan qolbumu. Hayati dan resapi dengan hati. Belajarlah, lalu amalkan.” Saya menahan kuat-kuat untuk tidak menitikkan air mata di hadapan beliau dan ratusan kawan provinsi yang mulai berdatangan satu per satu. Air mata takjub, karena Allah langsung menjawab doa pagi saya. Alhamdulillah..

Tak berhenti sampai situ cerita Pak “Sadar”–begitu kami memanggilnya. Ya, sejak bayipun sudah sadar beliau itu (begitu kelakar kami..) 😜 Bekerja di program yang harus selalu meninggalkan istri di kampung halaman seperti ini, apa tipsnya menjaga keharmonisan rumah tangga? Karena kalau saya, jujur, tak mampu berpisah jauh dari suami. Bukan cuma cemburu, tapi juga rindu. Lalu bagaimana bisa mendidik sampai istri malah selalu mendukung 100% terhadap semua upaya suaminya merantau di tanah orang. Jawaban Pak Sadar mengejutkan saya…

“Cemburu, curiga, itu semua penyakit hati. Coba jujur, merasa cemburu dan curiga, sakit nggak hatimu? Sakit kan? Nah itu harus dibuang. Ibarat sakit gigi, langsung saja cabut, ndak usah pakai tambal-tambal. Makanya, sifat seperti itu, buang saja. Apapun yang orang lain katakan, abaikan. Informasi apapun, selama hanya sebatas kata orang, abaikan. Tindakan baru diambil ketika saya melihat dengan mata kepala sendiri, plus analisis. Selama saya tidak melihat sendiri, abaikan. Di sisi lain, jaga baik-baik kepercayaan istri. Selebihnya, biar Allah yang mengarahkan ke mana jalannya. Itu terbaik.”

Hmm.. jadi kuncinya klasik sebenarnya: 1. Abaikan ucapan orang lain (tutup telinga). Yah relevan sih, karena setahu sayapun, too much information can kill you. 2. Trust your spouse.

Nah setidaknya itu deh yang saya pelajari dari Pak Sadar hari ini. Saya sampai berujar, luar biasa apa yang saya dapatkan dalam dua jam obrolan dengan Bapak ini. Eh tadi sebenarnya ada quote dari Bang Ahmad Ismail (TL Kotaku Sultra) yang sangat bagus, tapi saya lupa… 😂😂 nanti kalau ingat saya tuliskan di tulisan berikutnya, ya.

Segini dulu deh, nanti saya sambung lagi dengan obrolan bareng driver kantor tadi. Ini ngetiknya masih di bus otw pulang nih… 😁 see you soon, KawaNina. 💕

Four Figures

In this world, only 4 human figures I admire the most. They are the four people I’d love to hug and kiss on the hands in jannah, if I had the chance, that is. 😁💕 Aamiin..

First and most of all, Rasulullah, SAW. “Only” the most amazing man ever alive on earth. And I definitely want a husband like him, but maybe a bit impossible. 😁 But, even “KW-nya” pun bolehlah, as long as he’s a true Muslim and willing to hold tight all the sunnah as if he’s gritting his teeth. 😉

Second, Khadija. Of course, who else? She’s the love of Rasulullah’s life. The most amazing woman who sacrificed literally EVERYTHING, including her very life, for her beloved husband and Islam. Most amazing woman, ever. I want to be her when I grow up. Err… well, a bit too late maybe. But who cares. I will be like her, until I die, insyaa Allah.

Third, Umar bin Khattab. The second most amazing man on earth. Valiant, honorable, respectable, righteous, and most of all: one of the most loyal friends of Rasulullah. Even the devil feared him, and refuse to walk across him. 😉

Fourth, Khalid bin Walid. Heeeeeyy do you see any pattern here? Umar, and now Khalid. What’s up with Nina and tough and rough men? Hehehehe… well, I love tough and rough men. They’re brave, smart, tactical, just (adil), and their dedication for Rasulullah and Islam were just….. majestic! Men with such quality, and integrity, are TRUE men.

That’s from me for now. I wrote it for my blog, but I think I’ll paste it on my facebook as well. Honestly “speaking”, I wrote it with a hope that “this particular man” will read, and understand what kind of man I expected from him, if you know what I mean… 😁

Happy holiday, KawaNina.

Banyak Alhamdulillah

Hari ini judulnya banyak Alhamdulillah..

Mulai dari jam 6 saya berangkat gawe udah gerimis. Alhamdulillah. Setiba di Blok M, grabbike susah bener, tapi akhirnya dapet bapak-bapak baik. Meski posisi dia di Pattimura yang notabene 1 km dari Bulungan, beliau tetep jemput dan ngga banyak bicara selain, “Mau pakai jas hujan ngga, non?” Heeee dipanggil “Non”, jadi kangen keluarga besar Jazir Tanzil – Jamningsih Jazir yang manggil saya dengan sebutan begitu. Jadi keingetan I have great family. Alhamdulillah, Alhamdulillah…

Mau pulang pukul 18.30, masih gerimis. Menunggu reda, saya berdiskusi dengan TA Komunikasi dan TA Website KMP Kotaku soal teknis pekerjaan. Diskusi seru sambil ngemil sisa-sisa kue tart/cheesecake-nya Teh Iroh pemberian dari kawan di Bappenas (enaaak! Alhamdulillah!) tetiba teman satu tim yang sedang beli makanan berbuka puasa menelepon. “Mau titip nasi padang gak?” Mauuuuuu! Saya pesan nasi-cincang, dan 10 menit kemudian makanan tiba. Alhamdulillah… lapar dicinta, nasi padang tiba. 😜

Usai makan dan diskusi, saya masih menunggu hujan reda sampai pukul 20.30. Sempat ketiduran di lobi kantor, eh masih juga hujan. Alhamdulillah. Nekat ajalah. Pesan grab, nyangkut juga, bapak-bapak ramah juga, yang ngga banyak bicara juga selain menawarkan jas hujan. Alhamdulillah..

Pas di bus Trans Jakarta menuju Halte Tosari, saya baru ngeh tempat minum saya tumpah dan membasahi dalam tas. Untungnya gak kena laptop (punya kantor), Alhamdulillah.. Setiba di halte, ketinggalan bus hanya berselang 2 detik saja. Ahahhaha.. ngga jodoh neh. Ya sudahlah, disyukuri aja.. pasti rencana Allah baik. Bus berikutnya datang 15-20 menit kemudian, kosong. Horeee.. Bisa pilih bangku kesukaan saya di pojok kiri. Nah, tuh kan, rencana Allah pasti baik. Alhamdulillah.. 😁

Sampai berita ini diturunkan (halah) saya masih di bus. Masih bersyukur, karena selagi di jalan, kawan satu tim ngirim file untuk draft buku program kita dan hasilnya menurut saya sudah jauh lebih baik. Berarti tinggal kirim ke bos dan nunggu ACC. ALHAMDULILLAH..

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S.55 Ar-Rahman: 13, mentioned 30 times)

Selamat rehat, Keluarga dan KawaNina.. 😊🙏

Cemburu

Ya Allah, baru kepikiran…. Biasanya, ke orang yang saya suka, ada rasa cemburu ketika dia sedang jalan-jalan atau menghabiskan waktunya dengan orang lain. Cemburu karena dia tidak bersama saya, bukan karena dia menduakan atau selingkuh lho (saya ini tipe setia, jadi insyaa Allah, Allah pun memilihkan lelaki yg juga setia utk jadi pasangan saya, kalau si cowok tipe ngga setia pasti dia akan menjauh sendiri. Selalu begitu, alhamdulillah..)

Lalu, beberapa waktu lalu pernah baca artikel soal: “Allah juga bisa cemburu”–merujuk hadist Bukhari-Muslim:

Rasulullah bersabda, “Tidak ada siapa pun yang lebih pencemburu dibandingkan dengan Allah”. (HR Bukhari dan Muslim).

Saat itu saya ngga sepenuhnya paham, masa iya Allah bisa cemburu sama hamba-Nya? Yang ada sang hamba-Nya yang cemburu jika merasa Allah lebih perhatian ke hamba lainnya. Etapi tuh hadist shahih bilang begitu kan, artinya mutlak, tak ada keraguan atas pernyataan tersebut (semangat sami’na wa atho’na). Trus gimana penjelasannya? Well, ada sih ni artikelnya di media online merdeka, dan juga dibahas di banyak website dan blog. Googling aja sendiri ya. 😁

Seperti biasa, sehabis baca saya akan merenungkan makna pernyataan tadi. Saya mengerti tapi tidak sepenuhnya paham sampai ke hati. Namun, Alhamdulillah, barusan ini saya tercetus pikiran tiba-tiba aja, setelah melihat foto Meneer Aladdin sedang kunjungan ke sana sini dengan kawan-kawan komunitasnya. Ya saya senang sih, kalau dia senang, tapi ngga bisa mungkir dong ada rasa cemburu juga–kenapa ngga sama saya aja jalannya ya. Dia seminggu di Indonesia, hanya baru 2x bertemu saya, masing-masingnya ngga lebih dari 3 jam. Sedangkan dengan kawan-kawan komunitasnya, ia menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari. Cemburu dong sayaaaa… 😞 Yah walaupun aneh juga kenapa cemburu, kan saya hanya “teman dekat” saja, bukan pacar–eitsss ustadz tu ngga pacaran, Nina! Heu… maksudnya, saya bukan istrinya. 😱

Abis mikir begitu, tetiba aja keinget hadist tadi. Jreng jreeeeng! Apa mungkin mirip begini yaa maksud hadist tersebut? Allah akan cemburu ketika hamba-Nya lebih sibuk dengan urusan-urusan lain yang bukan untuk Allah. #langsungsedih

Ya Allah, ampuni aku yang tak sengaja “menduakan”-Mu dengan mementingkan hal lain di dunia, dan bukannya buru-buru menghampiri untuk melayani-Mu, ya, mahacinta sejatiku. 😥 Aku tak bermaksud mengabaikan apalagi berpaling dari-Mu dengan urusan-urusan dunia hamba. 😥🙏 Ampuni aku yang masih harus belajar mencintai-Mu dengan sepenuh hati, masih belajar untuk senantiasa mementingkan-Mu demi menjaga syahadatku, Ya Allah.. 😥

Jikapun secara kodrat aku (harus) merasakan jatuh cinta lagi pada seseorang maka biarlah hati ini jatuh hanya kepada orang yang Engkau ridhoi, ya Allah. Dan, aku hanya akan mencinta dia yang mampu mengajak kami berdua semakin mencintai-Mu dengan sempurna. Aamiiin…

Ehem, satu lagi, Ya Gusti. Jika boleh meminta, aku ingin suami dunia akhiratku seperti Meneer Aladdin yang jelas-jelas begitu mencintai-Mu, ya Allah. Namun aku takkan mampu membuat siapapun jatuh cinta padaku selain karena kehendak-Mu, ya Allah. Maka, semoga Engkau berkehendak demikian, meridhoi dan melayakkan kami untuk satu sama lain. Aamiin aamiin ya Rabb..

#curcolparah di #malamjumat

Maap curcol di medsos kayak gak punya kehidupan. 😁 Tapi, well, semoga menginspirasi KawaNina aja ya. Bukan supaya pada bikin naksir sama Meneer Aladdin lho–mendadak ngasah samurai–tapi supaya pada inget lagi sama semangat cinta tauhid. Ya? Ya? Ya? Semoga, yaa.. 😁 🙏

Movie Review: Gifted

I don’t usually watch drama films. But this one is absolutely GREAT! About an uncle Frank Adler (Chris Evans) raising his genius niece, Mary, since her mother, named Diane–a math genius–committed suicide. Frank knows his niece is a math genius, but he tried his best to give Mary a normal life, so she won’t feel different, alienated, like her mother was.

Eventually, the school Mary attended recognized her genius and they try to persuade Frank to let Mary has a full scholarship to this special school. Frank turned it down, so they contacted Mary’s grandmother, Evelyn. Being a perfectionist, also a math genius and precise lady, Evelyn wanted Mary to have a better life than Diane’s. Believing Frank was wasting her granddaughter’s talent, Evelyn fights her son for the Mary’s custody.

The film still playing, but it’s amazing already. Emotionally-stirring. Evans played the role of Frank, a (also) genius uncle, beautifully. His fatherly love obviously surfaced all over the film.

Well, just watch it. Worth your time. 😘

Oh, by the way, what I like the most about the film is the dialogue. Smart conversations and interactions. I love, love, love it!

Kala Kehilangan

Pada satu poin, semua manusia akan merasakan kehilangan. Ditinggal yang terkasih, keluarga, orang tua, anak, kakak/adik, sahabat, teman lama, rekan kerja… Kehilangan barang favorit, peliharaan kesayangan, pekerjaan favorit, hubungan asmara, dan lain-lain.

Menghadapinya, mungkin reaksi manusia bisa kesal, jengkel, kecewa, marah, merasa sial dan paling malang sedunia, bahkan menyalahkan Allah sambil bertanya, “Kenapa saya mengalami ini, ya Allah? Apa salah saya?” (Heee… kalau mau jujur sama diri sendiri, salahmu pasti segunung menjulang ke langit, hei manusia! 😁)

Pertama-tama: jangan panik. SEMUA yang bernapas, bernyawa, berjiwa, berakal, PASTI mengalami kesusahan; mengalami ujian, cobaan, tantangan. Jadi ngga perlu merasa panik dan berpikir, “Ya Tuhan, kenapa gue terlahir untuk merasa sakit separah ini?”–wow, man, grow up! Mengasihani diri sendiri itu cukup 1 menit. Selebihnya cepat bangkit, berdiri, dan berlari lagi.

Kedua, kita nggak sendirian. Betapapun cobaan tersebut mengakibatkan kita, misalnya, skeptis kepada Allah, percaya deh, Allah ngga membalas skeptis ke kita. Meski kita mungkin “bete” sama Allah, Allah nggak akan bete sama kita. Bahkan, pertolongan Allah ada di sekitar kita. Melalui keluarga, sahabat, teman, bahkan peliharaan kesayangan, Allah akan menghibur kita, menguatkan kita, menyemangati kita, memotivasi kita untuk bangkit dan menjadi manusia yang lebih baik daripada kemarin.

Yang perlu kita lakukan “hanyalah” berpikir lebih jernih, melihat lebih dekat, mendengarkan lebih saksama, dan…..ini terpenting: POSITIVE THINKING. Terutama, positive thinking (husnuzon) kepada Allah.

Saya tahu, semua teori di atas itu, praktiknya sama sekali nggak mudah ketika kita benar-benar menghadapi kesusahannya. Makanya kita selalu diingatkan untuk bersabar. Karena dalam proses bersabar itu ada latihan fokus yang mampu membuat kita berpikir lebih jernih, lebih cerdas, lebih jeli, dan akhirnya, lebih kreatif.

Bersyukurlah diberi kesusahan. Karena dengan begitu, Allah juga menunjukkan siapa saja orang-orang yang tulus kepada kita. Tapi ingat, ya, nggak perlu membenci orang yang nggak tulus sama kita. Anggap saja, mungkin memang “frekuensi” dan orientasi berpikir mereka berbeda sama kita. Kita nggak bisa menyalahkan cara berpikir manusia, karena semua manusia berpikir berdasarkan level kebijaksanaan dan kecerdasan mereka, sesuai pengalaman hidup dan kemampuan mereka mencernanya menjadi pelajaran.

Di sisi lain, ingat hukum seleksi alam, sunatullah: orang-orang baik akan berkumpul dengan orang-orang baik. Begitu pula sebaliknya. Jadi kalau kita ingin dikelilingi orang-orang baik, jadilah baik lebih dulu. Janji Allah itu tepat.

Ehem, intinya, ketika kita kesusahan dan kehilangan, jangan panik. Sabar sambil lihat ke sekeliling. Yakinlah, ada bantuan Allah melalui orang-orang baik. 😉🙏

Happy weekends.

Let Go and Let God

I used to think I should control everything that happens in my life, so that I’d live my life easier, and happier. I avoided frictions. I tried hard to make people liked me. I was so busy putting myself in this “spot light” so people would agree with me.

Guess what, I was NOT happy. The more I try to control, the harder life became.

Then I had this “small” conversations with some good friends, at different place and different time, about “LET GO” and “LET GOD”. Said that some things in life actually need Divine’s intervention, and simply, we can’t control everything that happened to us. It was the moment I learned how to stop fighting and start ACCEPTING.

“Our fates are already designed in details by Allah. You can’t run, and not even hide, from Allah’s watch. So if everything has been decided by Allah, what else can we do than to accept and do our best effort to fulfill the destiny set for us in the first place,” my friend said.

“And, pray, as it is a part of the efforts (ikhtiar). The rest, leave it to Allah. Trust Allah, that He’s only giving the best for us, and it is a part of what ‘laa ilaha ilallah’ (syahadah) really means,” another explained.

“Patience is virtue. Tawakkal and ikhlas are another level of it,” my mom said, three days before she died.

Of course, talk is cheap, and it’s much harder to walk the talk. But, I did it. I started with baby step, leaving everything to Allah even when I sometimes worried or even disagreed with it. Because in the end, I ALWAYS find, Allah’s plans are always much better than mine.

So, now, it’s alright if somebody try to argue me. It’s okay if some people disliked me and fight me. I’d just stare at them and walk away, because these kind of people never deserve my time. I choose to focus on how to make myself a better person, without needing to ask anyone’s permission or agreement, whatsoever.

And this way, I am MUCH HAPPIER. Less stress, and more focus in deepen my faith.

Alhamdulillah for wise friends Allah sent me. I believe Allah speaks to me indirectly through these great people. I am mighty grateful Allah surrounded me with these kind souls, gentle yet tough characters, and open-minded people I called friends and family. Knowing and growing with you all is such honor for me. Thank you, and Thank Allah.

Have a pleasant Ramadhan. 🙂

ayo terus menulis (dan membaca)

Memiliki kemampuan menulis itu kadang bikin kaget sendiri. Terutama saat membaca ulang tulisan-tulisan lama.

Kaget, karena jadi teringat bahwa kita dulu pernah memiliki pemikiran sebrilian (atau senaif?) itu. Kita jadi bisa melihat betapa kita sekarang sudah lebih berkembang, atau malah lebih menurun. Haha..

Buat saya, menulis di blog bukan sekadar hobi atau wadah berekspresi, tapi juga semacam “milestone” batin/mental pribadi bahwa grafik cara berpikir dan opini saya sudah berada di level tertentu. Mungkin saya sendirilah yang bisa menilai, apakah cara berpikir saya sekarang lebih beradab, atau malah lebih jahiliyah?

Dan, karena menulis bisa menjadi media untuk mengoreksi diri sendiri, makanya selagi mampu, saya tidak akan pernah berhenti menulis; Saya akan terus mengekspresikan pemikiran, mendidik diri untuk berkembang, dan memacu diri untuk berinovasi minimal terhadap diri sendiri, bahkan “memaksa” diri untuk bisa menulis sesuatu yang bakal berguna bagi orang lain.

Blog pribadi saya ada tagline simpel: “Live to Learn to Live”, karena sesungguhnya kita ini hidup untuk belajar tentang hidup. Di deskripsi blog saya juga simpel: “Keep writing. It might save other people’s life.” (Teruslah menulis. Siapa tahu bisa menyelamatkan hidup orang lain).

Kesimpulannya, ayo terus menulis.

Practice makes perfect. Jangan puas dengan kemampuan yang ada sekarang. Bahkan penulis best seller pun, kalau dia terlalu puas dengan kehebatannya, trus lama berhenti menulis (plus ngga mau membaca) kemampuannya pasti jadi tumpul dan jeblok lagi. Makanya skill menulis itu harus terus diasah. Semangat!

Noisy airplane? Be grateful!

Being a daughter of a flight attendant who often followed her dad fly to several Indonesia’s islands has made me fall in love with aircraft, and flying. My most favorite moment to fly is early morning, and late night.

In the early morning flight, you will be able to see the sun rises right on the top of the earth (well, about 28,000 to 32,000 feet above sea level that is, actually), and that’s one of the most awesome sights to see! And the late night flight will show you “the stars of earth”–that’s how I call the flickering lights of the cars and buildings in the city–and THAT, my friend, is also an awesome sight!

And every single time I took a plane trip, I remember my dad’s story. A story of a small conversation between my dad and his sisters, during a flight from Manokwari to Jakarta. Their airplane was a Hercules, it’s one of the most noisy, high-pitched, roughest airplanes in the world. His sister said, “Oh my poor brother. This is what you hear every day in your work. The noise is awful, and you bear it for hours on daily basis..”

My dad laughed, “No, that’s exactly where you’re incorrect, dear sister. Praise to Allah for this noise. Pity me when the noise is gone while we’re still flying. It means the engines failing us and that would be the end of me.”

My dad’s sisters laughed and changed their opinions, “Oh then, Alhamdulillah for the noise!”

That’s why I never complained the noise of any airplane. It’s a blessing, really.. Just like my dad said. His saying also made me realize one thing, “Always take the positive side on every little thing. Then you’ll see how great Allah’s love is upon you.”

A glimpse of Java island when I flew to Surakarta (Solo), West Java from Jakarta, Tuesday (25/4) early morning with Garuda Indonesia Airlines

how short moment may affect one’s whole life

Amazing how a short moment of experience in life can change you–your way of life, your point of view–entirely.

Senior Producer MerchantCantos Matt Elmes and I

That’s what Senior Producer MerchantCantos Matt Elmes told me few days ago. I met Matt when my office assigned me to accompany him during his work in Surakarta (Solo) city, and Yogyakarta city, to take some shots in slum upgrading priority locations. He’s making a video for Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), one of our donators for Indonesia slum upgrading programs. But what I’m about to say here has nothing to do with our companies or clients. We were having a chat as two new friends, two creative people from different part of the world.

Matt is a great guy. We talked a lot about our past work experiences, even though my English is not perfect, or as he said, my English was great, but he was a bit confused because I have “no typical accent”–not British accent, not American accent, not Latin accent, not Indian accent either, just simple Indonesian English accent, I think.

Anyways, Matt said the sentence above when we’re traveling (with our team) a 2 hours drive from Solo to Yogyakarta. He was telling me about his past experience when making a film about healthcare, where he’s working with a doctor in a hospital. “So,” he said, “The project required me to stand by for three full months in ER, filming this one doctor’s activities. So there I was, seeing patients, from a simple sickness to the weirdest, most wicked and bone-chilling accidents. One thing I learned from that moment: how fragile human actually is..”

Then he explained how such thing affect doctors. Even the toughest doctor need counseling, since they’re dealing with death, daily. Every time a doctor lost a patient, it always hit them, hard. Sure they know there’s always such risk (death), but every time it happens, doctors just can’t help but feeling down. Even just for awhile. “You just can never get used to such thing. This experience changed me. After filming, I feel like I’m a changed man. It makes me appreciate life for more. Appreciate my surroundings for more,” Matt told me.

Human is so fragile. They live one minute, and gone (snap fingers) just like that, the next.

I couldn’t help but drown in a deep thought about this. I once was a newspaper reporter for law and crime desk. Sometimes we need to visit a crime scene and saw death right in its eyes. I myself witness how terrible the scene when a 16 year-old girl ran over by a heavy cement truck, caused a very severe damage on her skull where her brains scattered all over the truck’s wheels and also the asphalt road. It was a high noon, so you can actually see the blood and brains all over the street. It was gore. I’m used to gore scene, but I couldn’t help but cry when I hear the mother’s hysterical scream seeing her daughter died like that. It was a brief moment, but such scene just printed permanently in my head.

And my second breakdown was when the suicidal bomb happened in Australia Embassy for Indonesia in Rasuna Said street (Kuningan), Jakarta, back in year 2004. I was there less than 30 minutes after the bomb happened. It was still smoke and smell of burning flesh every where. The police line has cleared out to 1 km parameter, but as a reporter, I was allowed to come to the hospital nearby the crime scene. The morgue was full with 13 dead bodies. Most of them were burning so badly, they almost look like a charcoal entirely. Like I said, I am used to gore sight, but I was in tears when the dead’s families came, crying, screaming, and hysterically shouting “Ya, Allah..” and the name of the deceased.

This was a short conversation, but the topic is quite heavy. And it reminds me of what precious in life, is life itself. We won’t live forever. We are fragile. So we better prepare ourselves to go “home” and return to the best place we can be, and that would be jannah, inshaallah.

You know what.. talking to foreigners is nothing new for me. But this two-days assignment my boss trusted me, I think it changed me. Hopefully to become a better person…

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: