‘Moga Doa Jadi Nyata

Alarm.

Tangan saya meraih hape dan menggesernya ke kata “dismiss”. Saya lebarkan mata, mengusap wajah, lalu melihat ke sosok lelap di kanan saya. Punggungnya naik turun, bernapas tenang.

“Baby, wake up. Waktunya qiyamul lail,” desah saya di telinga pak suami sambil memeluk dia dan mengecup lembut pelipisnya. Yang dikecup malah menggeliat dan menarik selimutnya sampai kepala.

Tertawa, saya ulangi kalimat tadi, berulang kali seraya menekan, menggelitik area leher, punggung, pinggang. Pak suami mulai mengeluarkan suara berat, enggan, “Ng.. Alright, alright..”

Sekali lagi saya memeluk dia sayang. Tangan saya di pinggangnya, bibir saya di lehernya–kira-kira. Kan ketutup selimut. ๐Ÿ˜ Saya sengaja meniup napas lebih keras di bagian lehernya, di titik cumbu kesukaan dia. Semenit. Pak suami mulai kegelian, merasakan tiupan hangat dari mulut saya. Haha.. Dia bergoyang enggan, mencoba melepaskan diri. Saya terkikik. Saya suka menggodanya begitu.

Saya turunkan selimut dari kepalanya dan kembali mengecup pelipis Pak suami, sebelum akhirnya melepaskan lengan dan bangkit dari ranjang. Saya duduk di pinggir tempat tidur, mencari sandal kamar. Belum sempat saya berdiri, Pak suami setengah membalik badan, menahan lengan. Suaranya manja, “Baby..”

Hng! Tau deh. Dia pasti jadi horny gegara saya kecup lehernya tadi. Hahahaha.. Istri selalu tau bagaimana cara “membangunkan” lahir batin suami, bukan? ๐Ÿ˜œ

“Aissss nanti ajaa.. Abis tahajjud. It’s a promise,” saya tertawa kecil sambil kembali memeluk dia. Kali ini dia menyambut tawa saya dengan bibirnya. Semenit. Dua menit. Wahhh gawat! Kalau tidak dihentikan sekarang, ngga akan berhenti ini mah. ๐Ÿ˜‚

“Aduuuh, come on. Not now. Anak bandel,” saya tergelak, menghindar ciuman dan jelajah tangannya lebih jauh.

Syukurlah, kali ini Pak suami mau bekerja sama. Tidak seperti kemarin malam. Dan malam sebelumnya. Dan sebelumnya lagi. Wadaw, sudah 10 malam absen tahajjud gegara menjalankan ibadah yang lebih wajib. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜œ

Tampaknya Pak suami juga sepikiran dengan saya. “Baiklah, dini hari ini kita rehat dan mojok sama Allah dulu, bareng kamu,” ujarnya.

Saya tersenyum lebar, mengecup pipinya dan berbisik, “Awesome idea. I love you, Baby.”

“I love you more,” jawab dia.

“I love you the most,” sahut saya lagi.

“You better,” katanya lagi, membuat saya terkekeh. Itu empat kalimat selalu kami ucap bergantian, siapa pun yang memulainya.

Saya bangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi. Pak suami menyusul di belakang saya, langsung menyalip ke toilet.

“Iiih iiih.. curang! Aku kan bangun duluan,” saya cemberut.

Dia tertawa, “Kamu geboy sih.” Tapi dia tidak menutup pintu kamar mandi, jadi saya menyelinap ke balik pintu, menuju area shower dan menyalakan airnya, kecil.

“Kamu mau mandi?” tanya dia.

Saya, masih tetap manyun manja, “Ngga ah. Kalau aku mandi, kamu pasti ikutan, dan akhirnya kita nge-skip tahajud lagi, kayak berapa malam lalu.” Dia terkekeh. Saya berwudhu. Selesai, saya melihat pak suami terkantuk-kantuk duduk di toilet.

Saya ciprati wajahnya dengan air wudhu. Matanya terbuka, agak kaget, tapi pastinya dia sudah mengira saya akan menciprati wajahnya. Saya memang suka begitu ke dia. Sekarang ekspresi pak suami malah sengaja seakan mengantuk berat. Matanya setengah terpejam dan mulutnya terbuka, sok-sok ngorok gitu.

“Ya Allah, jelek banget kamu, Baby. Minta cium, ya?” goda saya. Spontan ia mengerucutkan mulutnya, minta cium!

Saya tergelak, sambil membasuh wajahnya sekalian dengan air wudhu yang masih ada di tangan kanan, “Nanti ajaaaa.. Jangan mancing aku deh, kalau aku terpancing, gagal tahajud lagi ini.”

Saya buru-buru ngacir ke luar kamar mandi, meninggalkan pak suami yang tertawa geli, tapi sempat-sempatnya dia menepuk nakal ‘bumper’ belakang saya, sambil berseru kecil, “Soon, Baby. Soon! You’ll see..” Saya ngakak.

Selagi menunggu dia wudhu, saya bersihkan dan gelar sajadahnya. Saya lipat rapi sarung di bagian kaki, dan kopiah putih di bagian kepala. Tasbih peraknya, saya letakkan di meja kayu kecil yang terletak di pojok kanan, tak jauh dari sajadahnya. Pun Al-Qur’an, sudah saya letakkan di sana. Kode buat pak suami, dia pasti memahami.

Giliran saya menggelar sajadah untuk diri sendiri, di belakang sajadah dia, agak ke kanan. Saya kenakan mukena sutera berwana gading. Tak lama, pak suami keluar dari kamar mandi. Ia menatap saya sebentar, lalu geleng-geleng sambil tersenyum. Dia mengerti kenapa saya mengenakan mukena ini.

Satu dekade lalu, pak suami memberikan mukena gading saat melamar. Tak hanya cincin emas dengan 3 karat berlian yang ia sematkan di jari saya hari itu. Saya simpan baik-baik mukena gading ini, meski setiap tahun ia membelikan yang baru. Saya selalu mengenakan mukena ini sebagai pengingat.

“Alhamdulillah. Happy anniversary, Love. Thank you for having me,” ujarnya lembut, sambil mengecup dahi saya penuh sayang.

“Alhamdulillah.. Thank you for taking care of me,” balas saya.

Dia menggeleng, “No. Thank YOU. Kamu, yang selalu mengurus aku. Saat aku sehat, saat aku sakit, saat aku gembira, saat aku gusar, saat aku berduit, dan saat aku bokek berat, kamu tetap ada di sampingku, menggembirakan aku, menguatkan aku, menyejukkan aku, menentramkan aku.”

Ia merentangkan lengannya dan saya segera sembunyi di dalam peluknya. Kedua lengannya melingkar, erat, kepalanya bersandar lekat di kepala saya, the way I love it. His embrace is my home. Menyenangkan.

Kemudian kami melepaskan pelukan, mulai shalat. Sepertiga malam terakhir ini terasa amat syahdu. Dada saya berdebar kencang setiap mendengar suara takbirnya, membuat darah berdesir. Seperti bercinta, tapi lebih transendental. Menawan. Mengalun. Mengharukan.

Kesadaran saya berangsur pulih begitu ia berucap salam. Saya bergeming, sedikit tak sabar menunggu rangkaian puja-pujian untuk Allah dan Rasulullah. Kembali saya larut dalam doa indahnya. Usai ia tutup dengan doa sapu jagat, saya menggeser tubuh saya ke sampingnya.

Pak suami menoleh–he understands the drill. Dia menepuk bahunya, mengizinkan saya meletakkan kepala di sana, lalu ia mulai melantunkan ayat Qur’an. Buru-buru saya meraih Qur’an di meja kayu sebelah kanan kami. Dia tak perlu Qur’an untuk mengaji. Seluruh 30 juz melekat lengkap di ingatannya. Saya yang perlu.

Tanpa bicara, saya membuka Qur’an, “bertanya” surat apa yang dibaca. Pak suami memelankan suara sambil membolak-balik halaman. Telunjuknya berhenti di nama surat yang dimaksud, saya mengangguk, dan dia melanjutkan mujawwad-nya. Saya mendengarkan, dan sesekali mengoreksi ketika ada tajwid yang meleset. Setiap kali dia mengikuti koreksian, saya kecup pipinya, dan dia tersenyum, terus mengaji sambil menempelkan hidungnya di dahi saya.

Sampai sini, saya menghela napas. Berat dan panjang. Kembali ke realitas. Saya single. Dan sosok Pak suami yang saya tulis di dua episode terakhir ini adalah sebuah asa. Jika bisa dibilang, doa. Romansa pernikahan seperti itu yang tak henti saya pinta kepada Allah.

Utopis? Mungkin, tapi tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah terus berdoa sambil memantaskan diri saya, agar Allah akhirnya mengirimkan sosok seperti itu ke dalam hidup saya, sebagai imam terakhir saya di dunia dan akhirat. Semoga. Hanya bisa berharap kepada pemilik semesta. ๐Ÿค—๐Ÿ˜

Semoga doa sederhana ini kelak menjadi kenyataan. Aamiin.. ๐Ÿ˜˜๐ŸŽ‰

repost: Ini Daftar Hadist Shahih dan Dhaโ€™if tentang Wabah Covid-19

Feel the need to reshare this. Written by one of the most trustworthy national medias in Indonesia, and the media is well-known as “pro Muslim” compared to other medias in Indonesia. Sorry, it’s the truth. I was a newspaper reporter/journalist before, I know facts instead of rumors. But, apology, it is in bahasa Indonesia. I will try to translate it to English so English-speaker able to understand.

But before, let me explain, Indonesia has about 300 millions citizen and about 78 % of us are Muslims. Socially, I must say, if you want to make announcement or advice that the citizen will follow, use Islamic approach. Inshaallah, we Muslims (as majority) will listen and calmly obey.

But the thing is there are people who reshared Islamic posts blindly–I must say, without thinking twice or check and recheck whether it’s valid or false. In this case, regarding to the Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), lots of Indonesian shared hadith that saying what Muslims has to do during plague. There are hadith being shared too, some are valid (shahih) and others are false (dhaif). So by sharing this, inshaallah, we recognize the value of the hadith. Which one to follow and which to scrap out.

Bismillah.. here we go. And, don’t forget, stay healthy!

Ini Daftar Hadist Shahih dan Dhaโ€™ifย tentang Wabah Covid-19
(Source: https://republika.co.id/berita/q7iy6m63571849323000/ini-daftar-hadist-shahih-dan-dhaiftentang-wabah-covid19)

Oleh: Dr Agung Danarto, MAg

Pandemi Corona Virus Diseases 2019 (Covid-19) telah menjadi wabah yang mengglobal. Covid-19 telah menginfeksi warga dunia di berbagai negara tak terkecuali Indonesia sebagai negeri dengan mayoritas muslim.

Maka para ulama dan ahli agama supaya berhati-hati dalam berfatwa dan hanya menggunakan dalil dalil yang otoritatif dalam membimbing ummat. Di antaranya, hendaknya hanya menggunakan hadist-hadist yang shahih dan meninggalkan hadist dhaโ€™if dalam berhujjah.

Hadist-hadist shahih yang bisa dijadikan sebagai hujjah dalam membimbing ummat untuk menghadapi wabah penyakit antara lain sebagai berikut:

Hadist Shahih 1

Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim.

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุงู„ุทูŽู‘ุงุนููˆู†ู ุขูŠูŽุฉู ุงู„ุฑูู‘ุฌู’ุฒู ุงุจู’ุชูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘ ุจูู‡ู ู†ูŽุงุณู‹ุง ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูู‡ู ููŽุฅูุฐูŽุง ุณูŽู…ูุนู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ู ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฏู’ุฎูู„ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ุจูุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ูŽุง ููŽู„ูŽุง ุชูŽููุฑูู‘ูˆุง ู…ูู†ู’ู‡ู

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€œThaโ€™un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Taโ€™ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.โ€ (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Hadist Shahih 2

Riwayat Bukhari dan Muslim

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู„ูŽุง ูŠููˆุฑูุฏูŽู†ูŽู‘ ู…ูู…ู’ุฑูุถูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุตูุญูู‘

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€œJanganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.โ€ (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Hadist Shahih 3

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู„ูŽุง ุถูŽุฑูŽุฑูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุถูุฑูŽุงุฑูŽ

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€œTidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.โ€ (HR Ibn Majah dan Ahmad ibn Hanbal dari Abdullah ibn โ€˜Abbas)

Hadist Shahih 4

Hadist Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim tentang Anjuran Sholat di rumah ketika hujan pada siang hari Jumโ€™at.

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจูŽู‘ุงุณู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู
ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูู…ูุคูŽุฐูู‘ู†ูู‡ู ูููŠ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูŽุทููŠุฑู ุฅูุฐูŽุง ู‚ูู„ู’ุชูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู‹ุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ูู„ู’ ุญูŽูŠูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ู‚ูู„ู’ ุตูŽู„ูู‘ูˆุง ูููŠ ุจููŠููˆุชููƒูู…ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ุงุณู’ุชูŽู†ู’ูƒูŽุฑููˆุง ุฐูŽุงูƒูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุชูŽุนู’ุฌูŽุจููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ููŽุนูŽู„ูŽ ุฐูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ูู‘ูŠ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉูŽ ุนูŽุฒู’ู…ูŽุฉูŒ ูˆูŽุฅูู†ูู‘ูŠ ูƒูŽุฑูู‡ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุฎู’ุฑูุฌูŽูƒูู…ู’ ููŽุชูŽู…ู’ุดููˆุง ูููŠ ุงู„ุทูู‘ูŠู†ู ูˆูŽุงู„ุฏูŽู‘ุญู’ุถู

dari Abdullah bin Abbas dia mengatakan kepada muadzinnya ketika turun hujan (pada siang hari Jumโ€™at), jika engkau telah mengucapkan โ€œAsyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, โ€ maka janganlah kamu mengucapkan โ€œHayya alash shalaah, โ€ namun ucapkanlah shalluu fii buyuutikum (Shalatlah kalian di persinggahan kalian).โ€ Abdullah bin Abbas berkata; โ€œTernyata orang-orang sepertinya tidak menyetujui hal ini, lalu ia berkata; โ€œApakah kalian merasa heran terhadap ini kesemua? Padahal yang demikian pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah saw). Shalat jumโ€™at memang wajib, namun aku tidak suka jika harus membuat kalian keluar sehingga kalian berjalan di lumpur dan comberan.โ€ (HR. Bukhori Muslim dari Abdullah ibn Abbas).

Hadist Shahih 5

Hadist panjang riwayat Bukhari Muslim yang artinya sbb.

Pada suatu ketika โ€˜Umar bin Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, pimpinan tentaranya di Syam datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu โ€œUbaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada โ€˜Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Umar kemudian bermusyawarah dengan para tokoh Muhajirin, Anshor dan pemimpin Quraish.

Lalu โ€˜Umar menyerukan kepada rombongannya; โ€˜Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian! โ€˜ Abu โ€˜Ubaidah bin Jarrah bertanya; โ€˜Apakah kita hendak lari dari takdir Allah? โ€˜ Jawab โ€˜Umar; โ€˜Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu โ€˜Ubaidah? Agaknya โ€˜Umar tidak mau berdebat dengannya. Dia menjawab; Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah? โ€˜

Tiba-tiba datang โ€˜Abdurrahman bin โ€˜Auf yang sejak tadi belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata; โ€˜Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€˜Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.โ€™ Ibnu โ€˜Abbas berkata; โ€˜Umar bin Khaththab lalu mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu dia pergi.โ€™ (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun di antara hadis hadis dhaโ€™if yang sering digunakan adalah:

Hadist Dhaโ€™if 1

Dari Anas bin Malik ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡, Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ุนูŽุงู‡ูŽุฉู‹ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุฃุฑู’ุถู ุตูุฑูููŽุชู’ ุนูŽู†ู’ ุนูู…ูŽู‘ุงุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏู.

Sesungguhnya apabila Allah taโ€™ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid.

Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).

Hadis ini dinyatakan sebagai hadis dhaif oleh Nashir al-Din al-Albani dalam kitab Silsilat al-ahadits al-Dhoโ€™ifat wa al-Maudhuโ€™at, juz IV, hal. 222, hadis no. 1851.

Hadist Dhaโ€™if 2

Dari Anas bin Malik ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡, Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุฅูุฐุง ุฃุฑูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ุนุงู‡ุฉู‹ ู†ูŽุธูŽุฑูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฃู‡ู’ู„ู ุงู„ู…ูŽุณุงุฌูุฏู ููŽุตูŽุฑูŽููŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’

Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.

Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nuโ€™aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).

Hadis ini adalah hadis dhaโ€™if. (lihat Nashiruddin al-Albani, Shahih wa Dhaโ€™if al-Jamiโ€™ al-Shoghir, juz IV, hal. 380, hadis no. 1358).

Hadist Dhaโ€™if 3

Sahabat Anas bin Malik ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ berkata: โ€œAku mendengar Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘: โ€ ุฅูู†ูู‘ูŠ ู„ูŽุฃูŽู‡ูู…ูู‘ ุจูุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุนูŽุฐูŽุงุจู‹ุง ููŽุฅูุฐูŽุง ู†ูŽุธูŽุฑู’ุชู ุฅูู„ูŽู‰ ุนูู…ูŽู‘ุงุฑู ุจููŠููˆุชููŠ ูˆุงู„ู’ู…ูุชูŽุญูŽุงุจูู‘ูŠู†ูŽ ูููŠูŽู‘ ูˆุงู„ู’ู…ูุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููŠู†ูŽ ุจูุงู„ู’ุฃูŽุณู’ุญูŽุงุฑู ุตูŽุฑูŽูู’ุชู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ โ€

Allah ุนุฒ ูˆุฌู„ berfirman: โ€œSesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka.

Riwayat al-Baihaqi, Syuโ€™ab al-Iman [2946].

Hadis ini dhoโ€™if Jiddan. (Lihat Nashiruddin al-Albani, Kitab Shahih wa Dhaโ€™if al-Jamiโ€™ al-Shaghir, juz 9, hal. 121, hadis no. 3674).

Hadist Dhaโ€™if 4

Sahabat Anas bin Malik ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ berkata, Rasulullah ๏ทบ bersabda:

โ€œุฅูุฐูŽุง ุนูŽุงู‡ูŽุฉูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ุฃูู†ู’ุฒูู„ูŽุชู’ ุตูุฑูููŽุชู’ ุนูŽู†ู’ ุนูู…ูŽู‘ุงุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏูโ€

Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid.

Riwayat al-Baihaqi, Syuโ€™ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: โ€œBeberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)โ€.

Hadist ini Dhaโ€™if. (Lihat Nashiruddin al-Albani, al-Silsilah al-Dhaโ€™ifah, juz IV, hal. 350, hadis no. 1851).

Dr Agung Danarto, MAg, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah

reading after shalah

Reshare this, might be helpful for others. ๐Ÿ™ Sorry, its transliteration and meaning all in bahasa Indonesia. But I try to keep the Arabic, so Muslims who read Arabic can see it well. ๐Ÿค—

Bacaan Doa Setelah Sholat 5 Waktu Lengkap dan Artinya

By: Abdul Jalil – detikNews
(Source: here)

Berdzikir dan berdoa setelah sholat fardhu adalah anjuran Rasulullah SAW kepada umatnya. Bagaimana bacaan dzikir dan doa setelah sholat fardhu?

Imam Nawawi mengatakan dalam karyanya, kitab Al-Adzkar. Kitab yang menjadi salah satu kitab rujukan, serta buku induk berkenaan tentang doa, dan dzikir yang populer di dunia Islam. Beliau mengatakan dalam kitab tersebut, bahwa ulama telah bersepakat (ijma’) tentang kesunnahan dzikir usai sholat, yang ditopang oleh banyak hadits shahih dengan jenis bacaan yang amat beragam.

Berikut ini adalah di antara rangkaian dzikir dan bacaan doa setelah sholat 5 waktu, yang dikutip dari berbagai sumber:

Baca juga: Doa Senator di Sidang DPD-DPR: Semoga Ibu Kota Pindah ke Kaltim

1. Membaca Istighfar Dahulu

Sebelum berdoa, dianjurkan untuk membaca istighfar sebanyak tiga kali:

ุฃูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑู ุงู„ู„ู‡ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุธูู€ูŠู’ู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ ู„ูŽุงุงูู„ูŽู‡ูŽ ุงูู„ู‘ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠู‘ู ุงู„ู’ู‚ูŽูŠู‘ููˆู’ู…ู ูˆูŽุฃูŽุชููˆู’ุจู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู
“ASTAGHFIRULLAH HAL’ADZIM, ALADZI LAAILAHA ILLAHUWAL KHAYYUL QOYYUUMU WA ATUUBU ILAIIH”

2. Dilanjutkan dengan membaca :

ู„ูŽุงุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ูŽุง ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒู ูˆูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ูŠูุญู’ูŠููŠู’ ูˆูŽูŠูู…ููŠู’ุชู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽูŠู’ุฆู ู‚ูŽุฏููŠู’ุฑูŒ

“LAA ILAHA ILLALLAH WAKHDAHU LAA SYARIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL KHAMDU YUKHYIIY WAYUMIITU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’INNQODIIR”

3. Memohon perlindungan dari siksa neraka, dengan membaca berikut 3 kali:

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุฌูุฑู’ู†ูู€ู‰ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู
“ALLAHUMMA AJIRNI MINAN-NAAR” 3 x

4. Memuji Allah Dengan Kalimat

ู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ูุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ูƒูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ูุŒ ูˆูŽุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ูŠูŽุนููˆู’ุฏู ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู ููŽุญูŽูŠูู‘ู†ูŽุงุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุจูุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู ูˆูŽุงูŽุฏู’ุฎูู„ู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ู€ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุฏูŽุงุฑูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู ุชูŽุจูŽุงุฑูŽูƒู’ุชูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽูŠู’ุชูŽ ูŠูŽุง ุฐูŽุงุงู„ู’ู€ุฌูŽู„ูŽุงู„ู ูˆูŽุงู’ู„ุฅููƒู’ุฑูŽุงู….
“ALLAHUMMA ANGTASSALAM, WAMINGKASSALAM, WA ILAYKA YA’UUDUSSALAM FAKHAYYINA RABBANAA BISSALAAM WA-ADKHILNALJANNATA DAROSSALAAM TABAROKTA RABBANAA WATA’ALAYTA YAA DZALJALAALI WAL IKRAAM”

5. Membaca surat Al-Fatihah dan ayat kursi

Membaca Surat Al-Fatihah kemudian dilanjutkan dengan membaca Ayat Kursi (Al-Baqarah : 225)
ุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌููŠู…ู. ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ู. ุงูŽู„ู„ู‡ู ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠู‘ู ุงู„ู’ู‚ูŽูŠู‘ููˆู…ู ู„ูŽุง ุชูŽุฃู’ุฎูุฐูู‡ู ุณูู†ูŽุฉูŒ ูˆู‘ูŽู„ูŽุงู†ูŽูˆู’ู…ูŒุŒ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุงูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽู…ูŽุงูููŠ ุงู’ู„ุฃูŽุฑู’ุถู ู…ูŽู† ุฐูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ ูŠูŽุดู’ููŽุนู ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูุฅูุฐู’ู†ูู‡ู ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูŽุงุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุงุฎูŽู„ู’ููŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุญููŠู’ุทููˆู†ูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู‘ู†ู’ ุนูู„ู’ู…ูู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูู…ูŽุง ุดูŽุขุกูŽุŒ ูˆูŽุณูุนูŽ ูƒูุฑู’ุณููŠู‘ูู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู’ู„ุฃูŽุฑู’ุถูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู€ุคุฏูู‡ู ุญููู’ุธูู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ู.

“Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum. Laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa naum. Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh. Man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznih. Ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa khalfahum. Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa-a. Wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardh walaa ya-uuduhuu hifzhuhumaa Wahuwal ‘aliyyul ‘azhiim.”

6. Membaca Tasbih, Tahmid, Takbir, dan Tahlil

Membaca kalimat Tasbih 33 kali
ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู
“SUBHANALLAH” 33x

Membaca kalimat Tahmid 33 kali
ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏูู„ูู„ู‡ู
“ALHAMDULILLAH” 33x

Membaca kalimat Takbir 33 kali
ุงู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู
“ALLAHU AKBAR”

Membaca kalimat Tahlil 33 kali
ู„ูŽุงุงูู„ูฐู‡ูŽ ุงูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู
“LAILAHA ILLALLAH”

Baca juga: Salat Gaib untuk Mbah Moen, Ini Niat, Tata Cara, dan Doanya

7. Membaca Doa Berikut

Setelah selesai berdzikir, maka membaca doa setelah sholat berikut

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู…

ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ. ุญูŽู…ู’ุฏู‹ุง ูŠููˆูŽุงูููŠู’ ู†ูุนูŽู…ูŽู‡ู ูˆูŽูŠููƒูŽุงููุฆู ู…ูŽุฒููŠู’ุฏูŽู‡ู. ูŠูŽุง ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠู’ ู„ูุฌูŽู„ุงูŽู„ู ูˆูŽุฌู’ู‡ููƒูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุฑููŠู’ู…ู ูˆูŽุนูŽุธููŠู’ู…ู ุณูู„ู’ุทูŽุงู†ููƒูŽ

“BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM. ALHAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN, HAMDAN YUWAAFII NI’AMAHU WAYUKAAFII MAZIIDAHU. YA RABBANAA LAKAL HAMDU KAMAA YAN BAGHHI LIJALAALI WAJHIKA WA’AZHIIMI SULTHAANIKA.”

ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ

“ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA’ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD”.

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุชูŽู€ู‚ูŽู€ุจู‘ูŽู„ู’ ู…ูู†ู‘ูŽุง ุตูŽู„ุงูŽุชูŽู†ูŽุง ูˆูŽุตููŠูŽุง ู…ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฑููƒููˆู’ ุนูŽู†ูŽุง ูˆูŽุณูุฌููˆู’ุฏูŽู†ูŽุง ูˆูŽู‚ูุนููˆู’ุฏูŽู†ูŽุง ูˆูŽุชูŽุถูŽุฑู‘ู ุนูŽู†ูŽุง ูˆูŽุชูŽุฎูŽุดู‘ููˆู’ ุนูŽู†ูŽุง ูˆูŽุชูŽุนูŽุจู‘ูุฏูŽู†ูŽุง ูˆูŽุชูŽู…ู‘ูู…ู’ ุชูŽู‚ู’ุตููŠู’ุฑูŽ ู†ูŽุง ูŠูŽุง ุงูŽู„ู„ู‡ ูŠูŽุง ุฑูŽุจู‘ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุง ู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ

“ALLAHUMMA RABBANAA TAQABBAL MINNAA SHALAATAANA WASHIYAAMANAA WARUKUU’ANAA WASUJUUDANAA WAQU’UUDANAA WATADLARRU’ANAA, WATAKHASYSYU’ANAA WATA’ABBUDANAA, WATAMMIM TAQSHIIRANAA YAA ALLAH YAA RABBAL’AALAMIIN”.

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุถูŽู„ูŽู…ู’ู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุชูŽุฑู’ ุญูŽู…ู’ู†ูŽุง ู„ูŽู†ูŽูƒููˆู’ ู†ูŽู†ู‘ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุง ุณูุฑู ูŠู’ู†ูŽ

“RABBANA DZHALAMNAA ANFUSANAA WA-INLAMTAGHFIR LANA WATARHAMNAA LANAKUUNANNA MlNAL KHAASIRIIN”.

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุญู’ู…ูู„ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฅูุตู’ุฑู‹ุง ูƒูŽู…ูŽุง ุญูŽู…ูŽู„ู’ุชูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐู ูŠู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูู†ูŽุง

“RABBANAA WALAA TAHMIL’ALAINAA ISHRAN KAMA HAMALTAHUL’ALAL LADZIINA MIN QABLINAA.”

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูุญูŽู…ู‘ูู„ู’ู†ูŽุง ู…ูŽุง ู„ุงูŽ ุทูŽุง ู‚ูŽุชูŽุง ู„ูŽู†ูŽุง ุจูู‡ู, ูˆูŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ู‘ูŽุง ูˆูŽุงุบู’ููุฑู’ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ู…ูŽูˆู’ู„ุงูŽ ู†ูŽุง ููŽุง ู†ู’ุตูุฑู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ูƒูŽุง ููุฑููŠู’ู†ูŽ

“RABBANAA WALAA TUHAMMILNAA MAALAA THAAQATA LANAA BIHII WA’FU’ANNAA WAGHFIR LANAA WARHAMNAA ANTA MAULAANAA FANSHURNAA ‘ALAL QAUMIL KAAFIRIIN”.

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ู„ุงูŽ ุชูุฒูุบู’ ู‚ูู„ููˆู’ ุจูŽู†ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฅูุฐู’ ู‡ูŽุฏูŽ ูŠู’ุชูŽู†ูŽุง ูˆูŽู‡ูŽุจู’ ู„ูŽู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ู„ู‘ูŽุฏู ู†ู’ูƒูŽ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ู’ูˆูŽู‡ู‘ูŽุงุจู

“RABBANAA LAA TUZIGH QULUUBANAA BA’DA IDZHADAITANAA W’AHABLANAA MIN LADUNKA RAHMATAN INNAKA ANTAL WAHHAAB”.

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุบู’ููุฑู’ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ููˆูŽุงู„ูุฏููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽู„ูุฌูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ุฃูŽู„ู’ุฃูŽ ุญู’ูŠูŽุขุกูู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู’ู„ุฃูŽ ู…ู’ูˆูŽุงุชู, ุงูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‚ูู„ู‘ู ุซูŽูŠู’ุกูู‚ูŽุฏููŠู’ุฑู

“RABBANAGHFIR LANAA WALIWAALIDINAA WALIJAMI’IL MUSLIMIIN WALMUSLIMAATI WAL MU’MINIINA WALMU’MINATI. AL AHYAA-I-MINHUM WAL AMWAATI, INNAKA ALAA KULI SYAI’N QADIIR”.

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุขุชูู†ูŽุง ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽูููŠ ุงู’ู„ุข ุฎูุฑูŽุฉู ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽู‚ูู†ูŽุง ุนูŽุฐูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

“RABBANAA AATINAA FIDDUNYAA HASANATAN WAFIL AAKHIRATI HASANATAN WAQINAA ADZAABAN-NAAR”.

ุงู„ู„ู‡ู… ุงุบูุฑ ู„ู†ุง ุฐู†ูˆุจู†ุงูˆูƒูุฑุนู†ุง ุณูŠุฆุงุชู†ุง ูˆุชูˆูู†ุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุฃูŽ ุจู’ุฑูŽุงุฑู

“ALLAHUMMAGHFIRLANAA DZUNUUBANAA WAKAFFIR ANNAA SAYYIAATINAA WATAWAFFANAA MAALABRAARI”.

ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ููƒู ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนูุฒูŽุฉู ุนูŽู…ู‘ูŽุง ูŠูŽุตููููˆู’ู†ูŽุŒ ูˆูŽุณูŽู„ุงูŽู…ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุฑู’ ุณูŽู„ููŠู’ู†ูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‡ู ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ

“SUBHAANA RABBIKA RABBIL I’ZZATI AMMAA YASHIFUUNA WASALAAMUN ‘ALAL MURSALHNA WAL-HAMDU LILLAAHI RABBIL’AALAMIINA”.

Artinya: “”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Dengan puji yang sebanding dengan nikmat-Nya dan menjamin tambahannya. Ya Allah Tuhan Kami, bagi-Mu segala puji dan segala apa yang patut atas keluhuran DzatMu dan Keagungan kekuasaanMu. “Ya Allah! Limpahkanlah rahmat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad dan sanak keluarganya.

Ya Allah terima sholat kami, puasa kami, ruku kami, sujud kami, duduk rebah kami, khusyu’ kami, pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama sholat ya Allah. Tuhan seru sekalian alam.

Ya Allah, Kami telah aniaya terhadap diri kami sendiri, karena itu ya Allah jika tidak dengan limpahan ampunan-Mu dan rahmat-Mu niscaya kami akan jadi orang yang sesat. Ya Allah Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan atas diri kami beban yang berat sebagaimana yang pernah Engkau bebankan kepada orang yang terdahulu dari kami. Ya Allah Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan atas diri kami apa yang di luar kesanggupan kami. Ampunilah dan limpahkanlah rahmat ampunan terhadap diri kami ya Allah. Ya Allah Tuhan kami, berilah kami pertolongan untuk melawan orang yang tidak suka kepada agamaMu.

Ya Allah Tuhan kami, janganlah engkau sesatkan hati kami sesudah mendapat petunjuk, berilah kami karunia. Engkaulah yang maha Pemurah.

Ya Allah Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa dosa orang tua kami, dan bagi semua orang Islam laki-laki dan perempuan, orang orang mukmin laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya Engkau dzat Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

Maha suci Engkau, Tuhan segala kemuliaan. Suci dari segala apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir. Semoga kesejahteraan atas para Rasul dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”

(nwy/nwy)

Mantan: The Beautiful Lesson

Banyak yang update status terkait mantan hari ini. Rerata, bernada bete dan enekk. Atuhlah jangan gitu, KawaNina. Sebelum jadi mantan kan mereka juga temen, trus jadi demen, dan karena tidak digariskan berjodoh, ya batal jadi manten.

Atau mungkin sudah pernah manten sama dia, lalu karena qodarullah, si dia berakhir jadi mantan. Wallahua’lam. Yang jelas, biarlah masa lalu menjadi masa lalu, tanpa menyisakan rasa apa-apa, termasuk amarah, kekecewaan, kesedihan, kegalauan, dan sejenisnya.
Take it easy. Take a deep breath. Maafkan dia. Dan terutama, maafkan diri sendiri.

Saya dengan mantan, alhamdulillah tetap berteman. Bisa kok. Perlu waktu, tentunya. Ikhlas memaafkan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Tak sesimpel jentikan jari Thanos pulak. Kalau ikutin hasrat hati sih, pengennya ngelemparin dia pake bunga, beserta tanah dan potnya. ๐Ÿ˜œ Satu kebun kalau perlu.. #ehhh

Tapi jangan lah, ya. Dosa. Apalagi kalau dia terbunuh, kan gak lucu masuk penjara gegara mantan. Kita sudah mengajukan pledoi (pembelaan), tapi tim jaksa mencecar dengan replik, dan duplik yang kita buat tak menyentuh hati pak hakim. Akhirnya kita divonis 7 tahun penjara karena pelanggaran pasal KUHP 351, penganiayaan yang berakibat kematian. Trus di penjara kita di-bully sama napi lain, diledekin karena gagal move on trus kita matiin mantan, padahal bukan begitu cerita sebenarnya. Akhirnya kita frustrasi di penjara. Mabu’-mabu’an, terlibat narkoba, dan terjerumus kehidupan seks bebas di penjara, berakhir dengan aids, trus…… eh bentar, ini kok jauh amat gue ngehayalnya…

ZZSSSTTTT.. << rewind >>

Okeh, balik lagi ke realitas. Soal mantan. Sudahlah, relakan saja, KawaNina. Sabar, sabar, dan sabar.. Jika ingin membalas mantan, tunjukkan padanya bahwa hidup kita lebih bahagia tanpa dia. Jika dia juga lebih bahagia tanpa kita, alhamdulillah, berbahagialah untuk dia. Pokoknya doakan yang baik-baik aja ya..

Udah segitu aja sih. Pengen lucu, tapi gagal kayaknya ini. Wkwkwkw.. Selamat Malam Jumatan buat yang menjalankannya. Saya cukup ber-Kamis malam saja.

Hiks.. #sedihakutuh

hidup adalah kesempatan beribadah

Saya pernah menulis tulisan ini lima tahun lalu di facebook. Di laman “memories” hari ini, postingan yang sama muncul. Saya pikir masih relevan untuk dibagi, jadi saya copas deh ke blog, karena udah lama ngga nulis lagi nih, hehe.. For English-speaking friends, feel free to click this link, to read the English version of this post.

20 September 2015 – Menghabiskan pagi sampai siang ini, chatting dengan sahabat saya. Kami bercerita tentang hidup. Hidup dia, hidup saya.

Ternyata betul, permukaan air yang tenang itu justru biasanya kedalamannya sejauh palung. Betul bahwa orang yang biasanya tertawa paling keras justru menyimpan dan membawa duka paling dalam.

Saya telah menjalani hidup yang sangat berat, bahkan lebih berat daripada badan saya (wekekekekekek). Tapi yah dibawa senyum saja. Toh marah-marah bermuram durja dan sibuk mengasihani diri sendiri tidak akan membuat semuanya jadi lebih baik! Apalagi masih banyak orang yang hidupnya lebih menderita daripada saya–mereka bertahan dan tetap positive thinking, positive doing.

Saya cuma berpikir, keberadaan orang-orang yg hidupnya luar biasa berat dan tetap mampu tersenyum tulus adalah cara Allah mengajarkan saya agar tidak berlepas dari rahmat-Nya. Semoga Allah memberkahi orang-orang tersebut. They’re inspiring dan semoga itu menjadi amalan sedekah tak berkesudahan atas mereka. Aamiin..

Intinya, keluarga dan KawaNina, tetaplah semangat, sabar dan ikhlas. Hidup memang tidak mudah, tapi hanya ikan mati yang pasrah terbawa mengikuti arus sungai. Bersyukurlah dan hiduplah sebaik yang kita mampu, karena hidup adalah kesempatan kita untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah. Happy weekends ya..

kita butuh orang lain

Kematian mengingatkan bahwa kita, bagaimana pun, butuh orang lain. Siapa yang kelak mampu mengurus jenazah kita kalau bukan orang lain? Anak-anak, istri/suami, kerabat, sahabat, komunitas…

Jadi, tampaknya, merajut kebaikan terhadap semua orang di sekitar kita adalah langkah logis. Jalin silaturahim tulus ikhlas. Insyaa Allah, barokah. Tak ada yang tahu kapan Allah memanggil kita pulang.. ๐Ÿ™

Semalam, ayah mertua saya wafat setelah tiga minggu dirawat di RSPP karena kondisinya ngedrop akibat stroke. Akhir Februari lalu adalah serangan stroke ketiga kalinya yang dialami papah sejak November. Sudah tiga kali bolak-balik RSPP. Keadaan membaik, lalu ngedrop lagi. Sampai akhirnya serangan stroke yang terakhir ini membuat beliau koma selama 11 hari. Sempat membaik, namun akhirnya Allah juga yang berkuasa atas beliau. Selasa, 26 Maret 2019, beliau meninggal dunia, pukul 19.33 WIB, diiringi hujan deras di luar gedung.

Tentunya, saya mampir ke kamar jenazah. Meski saya sudah berstatus mantan dengan anaknya, beliau tetaplah kakeknya anak-anak saya. Dan tak ada istilah mantan mertua di kamus hidup saya. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™ Kami (mertua dan saya) tetap menjalin komunikasi baik-baik meskipun saya dan anak mereka (mantan suami saya) berpisah sejak 2001.

Pun tidak masalah ketika mantan saya tidak melakukan hal serupa terhadap orang tua saya. Dia cuek, sama sekali tidak peduli orang tua saya, bahkan tidak pernah berkomunikasi dengan orang tua saya, tapi itu tidak mengapa untuk kami. ๐Ÿ˜Š Hanya memperkuat keputusan saya, itulah kenapa saya berpisah dengannya: kami tidak sesuai dalam pemikiran dan kedewasaan. ๐Ÿ˜… Namun, semoga Allah membuat dia bahagia dengan pemikirannya. Buat saya, Allah saja cukup.

Anyways,

Sekali lagi, terima kasih, ya.. ๐Ÿ’

Tips Awet Muda dan Sehat Sampai Tua

Tak sengaja menemukan kembali tulisan empat tahun lalu (saya tulis 20 Januari 2015) ini di facebook saya. Flashback deh jadinya.. ๐Ÿ˜๐Ÿ™ Semoga bermanfaat..

===============================

Inget cerita saya soal bus mogok dan Pak Polisi Suryadi dulu itu? Nah ini dia Abang kondektur ramah yang ngobrol dengan saya waktu itu. Nama beliau Hakim.

Barusan ketemu beliau lagi di bus Bianglala 76 Ciputat – Senen. Surprisingly, dia ini hanya beda 5 tahun dgn almarhumah mama saya. Wow. Saya pikir Bang Hakim masih usia 30an! Dan saya dapat ilmu baru dari beliau

Bermula dari cerita ringan soal pengelolaan sampah di kampungnya (dekat Pasar baru Ciputat, depan Carefour Ciputat). Warga membayar Rp15.000 per bulan untuk petugas kebersihan. Setiap rumah warga menyiapkan karung di depan rumah dan petugas kebersihan akan lewat dengn gerobak dorongnya, mengambili karung dan menumpahkan sampah ke dalam gerobak. Mereka sudah tertib dan lingkungan relatif bersih, begitu pengakuannya (saya harus cek lagi kelak, hehe..) Sayangnya, setahu saya, di lokasi itu terkenal dengan pemotor (biker) yang membawa sampah dari rumah masing-masing lalu menggelontorkannya ke trotoar separator Jalan Raya Ciputat.

“Nanti memang ada petugas yang akan mengambil sampahnya, Kak,” terangnya.

“Tapi tetep aja mengganggu pengendara lainnya tuh, Bang,” sanggah saya.

“Iya sih. Biasa deh itu pendatang. Nggak mungkin kalau warga sekitar sih,” jawabnya lagi. Hmmm..

Kemudian berlanjut ke cerita pengelolaan makam di dekat permukimannya. “Warga membayar Rp3.000 per minggu untuk menggaji karyawan TPU. Jadi kelak ada yang meninggal, administrasi dan pengurusannya lebih mudah. Kalau orang luar bisa jutaan. Cukup lah bayaran segitu dari warga. Jumlah kami ada 5 RW. Sisanya disimpan untuk kas,” katanya. Ia juga bercerita soal makam-makam yang tak lagi ditengok keluarganya. Jika dalam 6 bulan satu makam tidak diurusi, sama dengan musnah. Suatu waktu petugas makam akan mengumpulkan belulang tak terurus itu menjadi satu dan menguburkannya di tempat khusus, agar tanah bekas makamnya itu bisa dimanfaatkan oleh keluarga lain. Wow.. untuk meninggal aja keras juga peraturannya ya. :v Saya sampe bengong mendengarnya.

“Kok Abang tau banyak soal itu?” tanya saya.

“Iya. Setiap Jumat saya ke makam. Mengurus makam ayah, ibu dan kakak saya,” jawab dia.

Kemudian beliau bercerita soal penyebab wafat orangtuanya. “Maklum sudah tua,” kata Bang Hakim soal kematian ibunya 1,5 tahun lalu.

“Ibu saya wafat usia 108 tahun,” tambahnya, membuat saya melongo. Hah! “Ayah saya juga wafat 15 tahun lalu, usianya waktu itu 127 tahun,” lanjut dia, membuat mulut saya makin ternganga. *GUBRAKSSSS GULING-GULING-GULING dalam hati*

WOW!! Gimana caranya bisa sampai seusia itu?

“Ayah saya berhenti makan makanan yang digoreng atau berminyak. Dia hanya makan pepes. Ikan pepes, tahu pepes, semua serba pepes. Dia juga ngga makan atau minum es. Kata ayah, jangan pernah minum air kulkas pada pukul 10-11 malam karena itu membuat kering sumsung tulang dan menyebabkan rematik,” katanya.

Saya cataaaaaat! Wow.. “Sejak kapan ayah hanya makan pepes?” tanya saya, penasaran.

“Sejak usia 40 kata ibu dulu sih. Ibu saya juga sama, hanya makan pepes-pepesan. Ayah saya juga rajin olahraga. Jam 3 subuh sudah bangun dan olahraga. Dia dulu kan punya toko kembang di Rawabelong. Jadi sejak subuh sudah aktif angkat-angkat pot dan menyusun kembang,” ujar Bang Hakim. Wow..

Obrolan kami terputus karena bus sudah melewati macet dan si abang harus kembali bekerja. Beneran obrolan singkat penuh ilmu. Terima kasih, Bang Hakim. Tips hidup sehat dari ayah dan ibunya Abang sangat hebat. Semoga ilmu ini bermanfaat buat banyak orang dan menjadi amalan tak berkesudahan bagi ayah dan ibunya Abang ya. Aamiin..

Begitulah hebatnya bincang ringan tapi sarat ilmu. Buat saya, ini dakwah ringan, dan itu bisa dilakukan seorang kondektur. Trus masa kita ngga bisa? ๐Ÿ™‚

Happy Tuesday, all.. ๐Ÿ˜๐Ÿ™

This I Promise You

If what you’re worried about is fighting and separation, this may be the only thing I can say to you: what ever happens between you and I–remain good friends, or more than that, whichever Allah wanted–we will always be the closest best friends.

You will never lose me and I will never leave you either–in both your healthiness and sickness, in both your joy and trouble, in both your success and poor, in both your youth and old, in both your near and far.

I will always be with you, by your side, on your back, to support you, to hold your hands and lend you strength when you’re weak, and keep your feet on earth when you’re at the peak.

I will be the extra force for you. Become the woman behind the curtain who help all your plans work. Become the place for you to complain when you’re in the brink of your edge. And, become the home for you to return to, when you think you’ve done your best.

No. I am not that magical woman who can give you power. I am only a woman who loves you with all her heart, body and soul, because (I know) this is why Allah created and prepared me: to complete your Deen.

May Allah will it, so there will be nothing keep us apart but death. Inshaallah, it’s my promise to you, may Allah imprint it in my heart. Aamiin..

๐Ÿ’–โ„๏ธ๐Ÿ’–โ„๏ธ๐Ÿ’–โ„๏ธ๐Ÿ’–โ„๏ธ๐Ÿ’–โ„๏ธ๐Ÿ’–โ„๏ธ๐Ÿ’–โ„๏ธ๐Ÿ’–โ„๏ธ

Jika yang dikhawatirkan adalah pertengkaran dan perpisahan, mungkin aku hanya bisa mengatakan: apapun yang terjadi antara kau dan aku–tetap berteman baik, atau bahkan lebih, apapun kehendak Allah–kita akan selamanya menjadi sahabat terdekat. Kamu takkan pernah kehilangan aku dan akupun takkan pernah meninggalkanmu–di saat sehat dan sakitmu, senang dan susahmu, sukses dan miskinmu, muda dan tuamu, dekat dan jauhmu.

Aku akan selalu bersamamu, di sampingmu, di belakangmu. Untuk mendukungmu, menggenggam tanganmu dan menguatkanmu di saat kamu lemah. Dan, mengingatkanmu di saat lengah. Aku akan menjadi tambahan kekuatan bagimu, menjadi orang di belakang layar yang melancarkan semua rencanamu. Menjadi tumpahan keluhanmu ketika kamu merasa penat. Dan, menjadi tempatmu pulang ketika kamu merasa sudah melakukan upaya terbaikmu.

Tidak. Aku bukan wanita sakti yang bisa memberikanmu kekuatan. Aku hanya wanita yang mencintaimu dengan sepenuh hati dan segenap jiwa ragaku, karena (aku yakin) memang itulah alasan Allah menciptakan dan menyiapkan aku: untuk melengkapi dien-mu. Semoga Allah menghendakinya, agar tak ada yang mampu memisahkan kita, selain kematian. Insyaa Allah, itu janjiku padamu, semoga Allah mencatatnya. Aamiin..

Go on, fly, high

My love, ๐Ÿ’•

Spread your wings and fly.

Reach out for the stars and everything you desired to. โœจ

When you’re feeling weary, exhausted, bored, and longing for resting, come follow the voice inside your heart, for I will be at the end of the line.

Tap the glass and call out my name. Inshaallah, you will find me smiling cheerfully at you and you’ll feel the warmth of my love. ๐Ÿค—

I promise, your body and soul will only find comfort with me.

We will talk, immerse ourselves in amazing conversations, for hours. Maybe accompanied by a cup of warm tea and a bowl of hot meatballs soup–which you love.

Afterward, feel free to fly away again. ๐Ÿฆ…

Be yourself. Be your happiness.

Just remember when you are tired, you can always come home to me.

Worry not for I will always be here for you. Waiting for you. With all my patience, love, prays, and wishful thinking for you.

That is my true happiness.

Because I was made to complete you, without ever getting in your way.

May one day, your wisdom will find this is one of the reasons of Allah loving you–through me. ๐Ÿ’•

I am sure, you will understand it one day.

โค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธ

Versi Indonesia:

Kasih,

Bentangkan sayapmu dan terbanglah.

Raihlah semua cita, niat, dan rangkaian rencanamu.

Jika kau lelah, jenuh, penat, dan mendambakan waktu beristirahat, ikuti saja suara hatimu, karena aku akan berada di ujungnya.

Ketuk kaca itu dan panggil namaku. Insyaa Allah, aku akan selalu menyambutmu dengan wajah ceria dan kehangatan kasihku.

Aku janji, bersamaku, kau akan selalu menemukan ketenangan lahir dan batinmu.

Kita akan berbincang seru sambil ditemani secangkir teh hangat manis, dan mungkin juga semangkuk bakso panas. ๐Ÿ˜๐Ÿ™

Setelah itu, terbanglah lagi.

Jadilah dirimu sendiri. Jadilah bahagiamu.

Jika nanti lelah lagi, pulanglah lagi kepadaku. ๐Ÿค—

Jangan khawatir, aku akan selalu berada di sini untukmu, menunggumu, diiringi sabar dan doaku untukmu.

Itulah kebahagiaanku.

Karena aku tercipta untuk melengkapimu, bukan menghalangimu.

Semoga suatu saat kamu memahami, betapa Allah begitu mencintaimu, dan aku adalah salah satu wujud cinta-Nya kepadamu. โ˜บ๏ธ

Kelak, kau mengerti. ๐Ÿ™

December 10th, 2018 – anniversary of our friendship

November dan Luka

Dia memang sang surya.
Flare-nya menghanguskan rasa.
Supernova-nya meleburkan asa.
Usai semua, tak ada lagi serpih tersisa.
Hanya kenangan dan luka.
ย 
Seketika logika memaki hati:
Bukankah sudah aku peringatkan, jangan lagi manusia kau percayai?
Dasar kau wanita hilang logika.
Kepedean dengan kelembutan dan rupamu, hah?
Dasar betina hina.
Tak tahukah, tak semua manusia ingin dicintai?
Tak tahukah, tak semua manusia mau disentuh kasih?
ย 
Tapi, sudahlah.
Teruskan langkah.
Berlalu.
Insyaa Allah waktu akan membuat lupa akan sembilu,
yang pernah menancap dalam di batinmu.
ย 
Sakit?
Bagus!
ย 
Resapi perihnya baik-baik,
Itulah biaya karena telah membiarkan orang lain masuk terlalu dalam ke relung hidup, angan, dan waktumu.
Tak semua orang baik akan baik bagimu, meski ia teramat mulia tak bercela.
Semata, ia memang tak ingin cinta. Khususnya darimu.
Mungkin hidup normal penuh romansa memang bukan untukmu.
Beranilah.
Hapus air matamu dan terimalah kalah ini dengan gagah.
Catatlah.
Lalu tutuplah.
Kuncilah.
Kemudian kuburlah.
ย 
Semoga Allah sudi kembali meraih genggammu, dan mengisinya dengan hal lain yang lebih bermakna. Aamiin..
ย 
*November rain was never this cold before.
But it was. Just walk away from it
Please stop.. I’m way too old for game of hearts

Jalan sama mantan? No problemo

Jalan sama mantan bisa jadi masalah? Buat saya, nggak tuh. No problemo kok. Eh tapi itu karena saya dan mantan masih sama-sama single dan no relationship, ya, jadi ngga ada pihak yang jealous ataupun ngambek. Ada sih yang sedang dekat ke saya dan juga ke sang mantan, tapi aman, aman. ๐Ÿ˜๐Ÿ™

Hanya saja mungkin buat mayoritas orang mencerna kalimat “jalan sama mantan, no problem” itu agak susah, ya. Namanya “jalan”, artinya (lumayan) akrab dong. Akrab sama mantan, apa bisa? Buat saya (dan mantan), ya bisa. Kenapa tidak?

Emangnya udah ngga berantem lagi, ya?

Yup. Udah lewat masa-masa ribut dan ribetnya. Buat pasangan yang mengalami cerai seperti saya (pengalaman 2x neh! ๐Ÿ˜ค) ribut pascacerai itu “hanya” bertahan sekitar 1 tahun–ini mungkin ngga berlaku buat semua orang di dunia, tapi saya dan kedua mantan suami saya mengalami demikian. Jadi “drama sinetron” berakhir tayang setelah melewati bulan ke-12. Setelah itu, ya saling memaafkan deh.

Nggak mudah, sumpah! Kalau mudah, semua orang bisa melakukan kali, ya. Hehe.. Sumpah ngga mudah menerima “kekalahan” dan “penolakan”. Perlu jungkir balik mencoba ikhlas menerima kenyataan. Ya siapa juga orang waras yang mau kawin-cerai? ๐Ÿ˜ข Ngga ada, bos. Kita juga maunya sekali nikah, that’s it, seumur hidup mesra dan kompak bersama pasangan, sampe jadi kakek-nenek peyot. Saling menertawai pipi kempot karena gigi sudah out of stock. Lalu mungkin berpulang ke rahmatullah sambil menggenggam tangan pasangan. ๐Ÿ˜ So sweet kan? Itu maunya kita. Rencana kita. Kalau Allah bilang, “Aisss.. Aku punya rencana lain buat kalian.” lha aku kudu piye? Nolak kemauan Allah? Malah lebih mudharat pastinya. ๐Ÿ˜ช

Eh tunggu, ngga mungkin dong pasangan cerai karena maunya Allah. Bukankah cerai itu halal tapi Allah membencinya? Betul betul, begitu kata hadis. Di sisi lain, kalau insan yang menjalani pernikahan sudah saling tersiksa, saling merasa terzalimi dan ngga bahagia, sementara pasangan tersebut sudah tidak bisa, bahkan tidak mau lagi berubah karena kehilangan niat memperbaiki rumah tangga, apa mau bertahan dalam kepura-puraan? Saya sih ogah. Saya nggak bisa hidup pura-pura bahagia. Buat saya, ketidakbahagiaan dan keterpaksaan (ketidakikhlasan) akan mengundang mudharat lebih banyak: perselingkuhan, godaan untuk makin menyakiti pasangan, rasa frustrasi yang malah akan destruktif buat anak-anak kami–walahhh ini malah akan lebih dimurkai dan jauh dari ridho Allah. Ogah!

Saya cinta pasangan saya, tapi saya pastinya lebih cinta Allah. โ˜บ๏ธ

Dari sisi saya sih sudah berusaha maksimal untuk memperbaiki diri, bergeser prinsip demi kenyamanan bersama, memaklumi, memaafkan, menahan mati-matian hasrat pengen bunuh diri (serius, saya sudah sampai ke titik itu)–kalau saya ngga punya keimanan dan ngga ingat anak-anak, saya pasti eksekusi itu dorongan setan. ๐Ÿ˜‘

Alhamdulillah, Allah masih memberi kekuatan buat saya untuk terus bersabar, mengirim saya keluarga dan teman-teman baik yang terus menyemangati dan menguatkan–dengan mengatakan: “Apapun yang terjadi, Nina tetap anakku, kakakku, sahabatku, kami tetap sayang kamu dan ngga akan ada yang berubah”, itu cukup memberi kekuatan keberanian luar biasa buat saya. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ™

Saya ngga tau gimana dari sisi mantan saya, tapi sepertinya sih kurleb sama, ya.

Di awal-awal pisah sih sempat saling blokir BBM/WA dan FB. Maklum, amarah itu masih sangat membara beberapa bulan pertama itu. Amarah bisa membuat orang baik jadi irasional. Saya akui, mantan saya orang baik dan cerdas kok. Kalau dia ngga baik dan cerdas, sejak awal saya gak akan nikahin dia kali. ๐Ÿคญ Hanya saja dalam perjalanan hidup kami ada hal-hal dahsyat yang membuat kami kehilangan kekompakan, sampai akhirnya membuat kami kehilangan niat meneruskan perjuangan ini. Tentu kesalahan ada di tangan kami berdua, ngga mungkin cuma satu pihak aja. Yah okelah, jujur aja, dia yang bikin gara-gara, dan pada akhirnya, sekian tahun kemudian saya sudah tak bisa lagi menoleransi–mungkin itu salah saya tidak bisa lebih bersabar. Intinya, pernikahan yang sudah di ujung tanduk akhirnya terpeleset juga ke jurang, pecah, hancur.

Ketika kami sudah saling adem, saling memaafkan, dan kembali teringat alasan kenapa kami dulu memutuskan menikah, talak sudah jatuh. Terlambat. Kami ngga bisa (dan saya sudah ngga mau lagi juga) kembali. Saya trauma dan rasa percaya sayapun sudah hilang. Cinta juga sudah kehilangan hasrat. Hanya rasa hormat yang masih bersisa. Ya sudah, kami memutuskan untuk memanfaatkan dengan baik apa yang tersisa: niat silaturahim tetap menjadi keluarga, karena kami memiliki anak bersama. Ibarat kain tercabik-cabik, serpihannya kami buat menjadi untaian benang dan mulai merajut kembali kain baru, hanya bentuknya saja berbeda.

Mudah prosesnya? Hell, no. Ngga mudah sama sekali. Perlu kebesaran hati dan menahan baper maksimal. Haha.. Tapi setidaknya saya masih bisa memercayai kualitas lelaki yang pernah saya nikahi dan hidup bareng selama 6,5 tahun itu. Mas Illu masih pribadi yang menyenangkan, humoris, pandai, bernyali, bijak, dan ceplas-ceplos.

Kemarin kami jalan bareng saat mengurus akta cerai di PA Tigaraksa–akta tersebut nggak diambil-ambil, kami pikir belum perlu, soalnya di antara kami belum ada yang berencana menikah lagi sih. Tapi yah, ini masuk tahun kelima, ya ambil deh. Gapapa diomelin petugas pengadilan juga.. ๐Ÿ˜‚ Nah saat jalan bareng itu, obrolan kami tetap seru, pakai ngakak-ngakak segala. Dia lucu, saya lucu, keluarga kami sama-sama lucu, dulu sih sempat terpikir untuk daftar jadi keluarga besar Srimulat.. ๐Ÿคญ๐Ÿ˜

Di PA Tigaraksa, kami sempat nongkrong di kantin dan makan bareng. Bahkan saling sharing perkedel jagung, jengkol goreng, dan cocol sambal korek dari piring masing-masing, sedaaaap. Btw, sumpah, warung kantin di samping kantor PA Tigaraksa itu masakannya enakkkkk.. Seriusan! Ehhh saya salfok ya. Balik ke cerita… ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

Menjelang Ashar, beberapa pegawai PA datang ke kantin dan duduk di bangku seberang kami. Mereka menatap agak aneh ke arah kami. Mungkin bertanya-tanya, apakah kami ini pasangan cerai atau pasangan yang sedang sidang/mediasi atau sighat taklik? Masalahnya, sidang itu biasanya pagi sampai bada dzuhur. Lha kami di sini Ashar, pastinya mengurus administrasi (semacam akta cerai), tapi kok masih saling manggil, “Yah” dan “Nda”–Mas Illu selalu manggil saya Bunda sejak awal, kadang saya curiga dia lupa nama asli saya. ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ Well, meniru ucapan Mas: Gak ngurus wes (dengan logat Suroboyo nan kental), ya saya cuek aja. ๐Ÿ˜ Hehehe..

Pulangnya, kami nyasar dooong. Tapi ya dibawa ketawa-ketawa aja. Ada satu hal signifikan yang berubah, menurut saya, terkait kelakuan dia menyetir. Dulu, dia grasak-grusuk, nyetir ala sembalap, gak boleh disalip orang, dan kalau jengkel dia buka kaca dan teriak, “Janc*k koen!! Nggatheli.” Hahaha.. I kinda miss that though. ๐Ÿคฃ Anyways, Alhamdulillah dia banyak berubah sekarang. Nyetir lebih tenang, lebih menyenangkan, masih tetap sigap tangkas, daaaan… Matanya mulai rabun, plus pinggang encokan! Nah lhoooo.. Wes tuwek kamu, Yah, Yah.. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Padahal matanya itu salah satu kebanggaan dia, selalu awas dan mampu melihat jauh. Maklum, mantan sopir truk. Hahahaha.. *just kidding*

Sungguh, jalan sama mantan ternyata bisa sangat menyenangkan kalau hati kita luas dan punya semangat memaklumi. Hanya saja, tetap harus sama-sama paham batasan. Memang kami pernah menikah, pernah saling melihat satu sama lain telanjang, saling bertukar cairan, bahkan sayapun melahirkan anaknya… Tapi bukan berarti boleh bablas seenaknya menyentuh satu sama lain. Apalagi sekarang keadaannya sudah berbeda. Beruntung, Mas Illu itu tipe lelaki yang sangat menghormati batasan dan tidak gemar kontak fisik. Dia bukan tipe lelaki gatelan. Saya tau betul, karena saya mustahil menikahi lelaki agresif yang gatelan–maaf ya, tipe lelaki playboy nakal begitu mah SAMPAH di mata saya, boro-boro kepikir mau nikahin deh.. ๐Ÿ˜๐Ÿ™ Dua suami saya sama-sama tipe dingin, mahal, dan hanya mampu romantis sama saya doang, super eksklusif, dan begitulah yang saya suka. Tipe yang menantang. Hahaha..

Ehh kok saya melantur ya. Udah ah, kepanjangan banget tulisan saya ini ya. Intinya: buat saya (dan Mas Illu) jalan sama mantan tu gak masalah, karena sama-sama bisa menghormati batasan “zona aman” (bukan zona nyaman, ya) masing-masing.

Kenapa nggak balikan? Kan udah sama-sama baik. Masih sama-sama single pula?

Hehehe.. Please, deh, kami ini bukan bocah ABG. Kalau kiranya dulu perceraian bisa dihindari, tentu sudah kami lakukan duluan lima tahun lalu. Masalahnya kondisi saat itu tidak sesimpel teori. Kami sudah tiba pada pemahaman: ternyata bisa kok co-parenting, alias membesarkan anak barengan walau tidak serumah. Apalagi teknologi sekarang sudah jauh lebih canggih. Komunikasi bisa dilakukan sangat intens lewat video call, minimal voice call atau voice notes. Asyik kok.

Ingat pepatah: Semua hal akan jadi masalah jika dipermasalahkan. Nah, kalau mau hidup menyenangkan, dibalik aja pepatah tadi: Jangan selalu mempermasalahkan setiap hal yang terjadi di antara kita. Aman, aman, insyaa Allah.

Yah segitu dulu aja ya. Asli panjang bener ini tulisan.. Semoga bermanfaat yah. Cukup ingat aja, dunia ngga berakhir meski rumah tangga kita terpaksa mengalami kegagalan. Yang terpenting adalah kita sudah berusaha supermaksimal mempertahankannya. Jika tak berhasil juga, berbesarhatilah, mungkin itu qodarullah, alias takdir Allah. Percayalah, rencana Allah lebih baik. Buktinya, saya dan si Mas, tetap bisa baik dan keadaan batin kamipun jauh lebih baik daripada sebelumnya. Tentu ada yang kosong, tapi lebih bahagia kok sekarang. Bener nggak, Yah? #colekmantanku ๐Ÿ˜๐Ÿ™

Barakallah. I love you all. ๐Ÿ’•โค๏ธ

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: