[Puisi] berpisah

Keputusan kali ini tercetus tanpa diiringi linangan air mata.
Sepertinya ini keputusan tepat.
Dan, sungguh, tanpa bermaksud mencatut nama Allah,
tapi, “Bismillahirrahmanirrahim…” semoga ini langkah yang benar.

Semua yang sudah terjadi tak bisa diputar ulang.
Jadi, biarlah berlalu.
Saya sudah menutup pintunya, dan kini mengunci.
Bukan karena membenci, bukan karena sakit hati,
tapi semata berpikir ini adalah langkah paling rasional yang harus diambil.
imageJaga dirimu, kekasih.
Semoga bahagia senantiasa menyertai.
Jika memang cinta sejati, biarlah ia menghuni hati ini;
Tanpa suara, tanpa aksara.
Terima kasih telah sudi singgah dalam hidupku nan penuh warna.
Sekian puluh bulan bersamamu adalah pelajaran berharga.
Namun tampaknya kita ditakdirkan untuk berjalan di jejak yang berbeda.
Meski begitu, terima kasih dari nurani terdalam,
Dan “selamat malam”.

Advertisements

12 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s