Luna dan Bubu: A Love Story

“Jadi?”

“Jadi apa nih?” Bubu menatap Luna, yang barusan bertanya.

“Kita jadian?”

“Ehm.. Apa ngga terlalu terburu-buru?” Bubu membuang muka. Sebenarnya ia girang mendengar ucapan Luna, tapi ia tak mau kegembiraan itu terlihat oleh Luna. Gengsi.

“Terburu-buru gimana? Kita kan kenal sudah 2 bulan,” cetus Luna. Memberengut. Hidungnya yang kecil tampak semakin melesak, tertutup oleh seringai sebalnya.

“Yaa baru 2 bulan ini. Belum lama kan?”

“Baru 2 bulan? Itu sudah lama, tauk!” Luna makin cemberut. Bubu tetap kalem, padahal dalam hati, ia tertawa melihat tingkah Luna.

Sekilas Bubu teringat pertama kali ia melihat Luna di rumah ini. Luna adalah anak adopsi pemilik rumah. Ia sangat disayang oleh orangtua asuhnya. Tak heran, Luna tumbuh jadi remaja yang manja. Yah, memang pantas juga sih Luna bermanja-manja. Figurnya yang imut, cantik, ginuk-ginuk, dan gemulai itu cocok dengan simbol kemanjaan.

Namun, yang membuat Bubu jatuh cinta diam-diam adalah mata biru Luna yang selalu menatap tak berdaya. Nyaris selalu terlihat ketakutan. Itu membuat Bubu ingin selalu melindunginya. Tapi gengsilah yang membuat Bubu tetap bersikap dingin terhadap Luna. Padahal, setiap kali Luna menatap dan mendekatinya dengan gerakan sigap tapi manja, jantung Bubu berdegup 5x lebih cepat.

“Beneran nih, kita ngga jadian?” ucapan ketus Luna memecah keheningan, membuyarkan khayalan Bubu.

“Idiiih.. kan tadi udah aku bilang. Santai aja. Ngga usah terburu-buru. Emangnya penting banget apa, jadian tuh?” sahut Bubu. Santai. Membuat Luna semakin menekuk mukanya. Bubu kegirangan melihat reaksi Luna. Menggoda Luna adalah kegiatan favoritnya nomor dua. Yang nomor satu adalah tidur, hehe..

“Ya sudah. Jangan nyesel. Banyak lho cowok yang mau sama aku,” Luna bangun dari duduknya. Meregang sebentar, lalu merapikan helaian rambutnya yang melambai terkena kipas angin dari sudut ruangan. Sebelum ia berbalik badan, sekali lagi ia melirik ke arah Bubu, yang tampak acuh. Kesal, Luna bergerak, satu, dua langkah. Menunggu Bubu memanggilnya dengan nada penyesalan. Namun harapan Luna pupus. Bubu cuek.

Dengan satu tarikan nafas panjang, Luna akhirnya benar-benar berlalu dari hadapan Bubu. Sempat, ia masih berharap Bubu memanggilnya, tapi lagi-lagi Luna harus kecewa dengan diamnya Bubu. Malahan ia mendengar Bubu bernafas teratur. Tidak seperti bersiap memanggil.

Sebelum Luna menghilang di balik pintu, kembali Luna mengerling ke arah Bubu. Iiiiih.. sebal berat Luna, melihat Bubu malah duduk terkantuk-kantuk di tempatnya. Kurang ajiaaarrrrr.. Luna melompat dengan marah dan berlari menjauh.

Sebenarnya Bubu melihat itu. Ia hanya terkekeh pendek seraya menggelengkan kepala. Luna itu masih sedikit lebih tua daripada Bubu, tapi kelakukannya seperti anak kucing yang baru berusia sebulan saja.

Di luar, Luna memelankan larinya. Kesal masih merambahi dada. Ia jadi lupa tempat yang dituju. Mau ke mana sebetulnya, Luna sendiri bingung. Hatinya dipenuhi kegalauan. Padahal ia berharap banyak pada Bubu. Ia sangat suka pada Bubu. Bahkan, Luna yakin telah jatuh cinta kepadanya. Bubu itu gagah, putih, badannya atletis dan lebih besar daripada badan Luna. Jantan banget, walaupun usianya lebih muda daripada Luna.

Masih bingung Luna, apa ia salah menginterpretasikan sikap dan perhatian Bubu sebagai rasa suka? Luna yakin sekali Bubu juga suka padanya, tapi sikapnya yang selalu sok cool itu membuat Luna jadi tidak percaya diri. Padahal Luna adalah gadis yang cantik. Banyak lelaki menginginkan Luna jadi pasangannya. Hampir semua jantan di kampung itu memperebutkan Luna. Hampir semua, kecuali Bubu. Tak sadar, Luna menggeretakkan gigi, gemas.

Lebih sebal lagi ketika Luna teringat, Bubu juga banyak fans-nya. Mereka sering mendekati Bubu dengan sikap memancing. Bahkan pernah ada yang saling cakar demi mendapatkan perhatian Bubu. Uh, semua betina kurang ajar itu tidak ada apa-apanya dibanding aku, jengkel Luna.

Kadang Luna memergoki Bubu memandanginya, meski Bubu sedang bersama fans-nya. Sikap acuh dan dinginnya benar-benar membuat gadis-gadis lain tergila-gila dan penasaran. Membuat Luna semakin kesal, rasanya memuncak sampai ke ubun-ubun.

Di tengah kemarahan yang tiba-tiba itu, Luna menangkap sesosok bayangan melompat dari balik semak-semak. Luna sudah tahu siapa sosok itu. Robert. Sepupunya, yang agak slengean. Luna mengibaskan rambutnya ketika Robert mendekat.

“Hey, beib..” Robert menaikkan alisnya sebelah. Luna cuek. “Jangan galau. Masih ada aku,” lanjutnya.

“Maksud kamu?”

“Aku tadi lihat kamu sama Bubu di situ. Ditolak ya?”

Luna mendengus kesal. “Sudah tau malah nanya,” ketusnya.

Robert tertawa kecil. “Jadian sama aku aja yuk?”

“Mimpi aja sana..” Luna bersiap hendak berlari lagi, tapi Robert buru-buru berdiri di depannya.

“Kalau aku jadi pasanganmu, aku ngga akan membiarkan kamu galau seperti ini,” katanya, serius.

“Ih, tapi kan kita saudaraan,” sanggah Luna.

“Saudara jauh. Ngga dilarang kan?”

“Hmm.. ya nggak sih..” Luna jadi terpikir untuk lebih detail mengamati Robert. Yaah nggak jelek sih Robert ini. Malahan ganteng. Agak bule. Rambutnya pirang wortel dan gayanya juga elegan. Hmmm.. boleh juga sih..

Singkat cerita, Robert pedekate ke Luna. Bahkan sampe jadian. Berminggu-minggu Luna ditempel terus oleh Robert. Tapi dalam hati, Luna tak kuasa mungkir. Ia masih memikirkan Bubu. Ke mana bocah itu ya, sudah lama tidak melihatnya.

Suatu pagi, Luna menyadari sesuatu. Ia merasa mual-mual. Jangan-jangan…. Luna jadi jalan sempoyongan dan hampir ambruk. Seseorang menyangga sigap tubuhnya. Luna menoleh. Bubu! Ia jadi salah tingkah.

“Kamu ngga apa-apa?”

“Eh iya.. aku gak apa-apa,” jawab Luna sambil cepat berdiri lagi. Mati-matian ia bertahan agar tidak limbung, padahal kepalanya pusing.

“Mau pulang ya? Aku antar yuk,” kata Bubu. Tampak kuatir melihat kondisi Luna yang pucat.

“Hmm.. boleh. Makasih ya..” Bubu segera menjajari langkah Luna.

“Sekarang kamu sama Robert ya?”

“Tau dari mana?”

“Gosip beredar. Dan melihat sendiri,” Bubu mencoba tersenyum. Kecut. Luna tertegun melihatnya.

“Oh ya? Masalah buat lo?”

“Hm… sebenernya masalah sih, tapi terserah kamu aja,” ujar Bubu.

“Ya salahnya waktu aku ajak jadian kamu ngga mau,” ketus Luna.

“Karena ngga jadian sama aku, trus kamu nerima siapapun yang nembak kamu setelah itu. Begitu?”

“Ya iyalah. Kan aku bilang, banyak kok cowok yang mau sama aku,” Luna sedikit menyombong. Bubu tersenyum tipis.

“Oke. Iya aku tau kok,” jawab Bubu.

“Ya udah. Ngga nyesel kan?”

“Nggak..”

“Bagus!” kata Luna, dengan nada getir. Sebal juga dia mendengar Bubu nggak merasa menyesal atau apapun lah itu namanya.

Sesampainya di rumah, ayah Luna menyambut di pintu. “Lho, Luna dari mana? Eh, sama Bubu ya?”

Ayah Luna segera mengelus dan menggendong Luna. “Kayaknya kamu makin gendut deh. Hamil kah?” Mendengar itu Luna terkejut, Bubu terkesiap.

10403778_10154830643140533_857853259042996186_o“Siapa yang menghamili kamu? Bubu?” ayah Luna memandang curiga ke arah Bubu. Yang dipandang hanya bisa menatap balik, setengah pasrah. Di gendongan sang ayah, Luna bergerak gelisah. Bukan, bukan Bubu yang menghamilinya. Tapi bagaimana mengatakannya?

“Yaa kalau Bubu yang menghamili ya gapapa sih. Malah lucu kayanya anak-anaknya,” kata si ayah. Luna merasa malu sekali. Ia tidak mampu berkata-kata lagi, apalagi di depan Bubu.

Tiga bulan kemudian, Luna melahirkan tiga anak kucing dengan warna bulu wortel, abu-abu dan hitam putih. “Lunaaaaa.. Yang dua ini anak siapaaaa? Ngga ada anaknya Bubu ya?” ayah Luna mengomel. Ia tidak mengenali siapa jantan lain yang membuntingi Luna selain Bubu dan Robert. Tapi tampaknya Bubu bukan ayah dari salah satu anak kucing tersebut, karena tidak ada anak yang berbulu putih seperti Bubu.

Mendengar itu Bubu, yang selalu memerhatikan Luna dari jauh, cuma tersenyum kecut. Anak-anak itu lucu, tapi tak satupun miliknya. Hanya saja, sedikit terbersit di pikirannya, kelak ia akan memberanikan diri mendekati Luna dan anak-anaknya. Semoga saja ketiga anak yang Luna lahirkan itu mau menerima Bubu sebagai ayah mereka.

** Catatan: Ini cerita soal KUCING, bukan orang. 😀 Inspired by Luna, kucing milik Mas Zainul Musshofie, TA SIM OSP 6 PNPM Mandiri Perkotaan Provinsi Kalteng. 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Luna dan Bubu: A Love Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s