Tips Menghadapi Proses Perceraian (Khusus untuk perempuan)

Sharing tips dari salah seorang “big sister” saya, mentor saya, inspirasi saya.

Sekali lagi, ini yang nulis bukan saya. Saya sudah jelas menuliskan di atas bahwa ini adalah sharing tips dari mentor saya. Kalau kurang jelas, sudah saya perbesar font-nya. Saya bukan PNS Pengadilan Agama, PUN bukan lawyer. Saya hanya punya pengalaman menghadapi hal yang sama, dan step by step tips di bawah yang ditulis oleh Mbak Risa sangat membantu saya menyiapkan mental menghadapi sidang. Gitu aja. πŸ™‚

divOrce

Tips Menghadapi Proses Perceraian (Khusus untuk perempuan)

by: Risa Amrikasari
July 18, 2014 at 2:59pm

Catatan penting sebelum membaca :
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai pemicu perceraian. Tulisan ini saya buat hanya sebagai edukasi bagi para perempuan tetapi sama sekali tidak dimaksudkan sebagai anjuran kepada para perempuan untuk mengajukan gugatan cerai kepada para suaminya.

Perceraian memang menjadi masalah yang klasik. Ketika dua orang yang tadinya menjalin sumpah setia untuk menjalani hidup bersama tak lagi bisa menyatukan perbedaan, maka mau tak mau, perceraian menjadi langkah yang dengan berat hati harus diambil. Keputusan untuk bercerai dan mengajukan gugatan perceraian adalah suatu langkah besar yang harus diambil, khususnya bagi perempuan. Beberapa perempuan ketika memberanikan diri melakukan langkah besar untuk mengajukan gugatan perceraian ke pengadilanpun tetap tak merasa aman karena biasanya dalam masa-masa itu ia mendapat tekanan dari banyak pihak. Mulai dari suami yang tidak mau bercerai, keluarga yang malu jika anak perempuannya mendapat status janda, dan pandangan umum masyarakat di negara ini yang masih belum banyak berpihak pada perempuan ketika ia menjadi pihak yang aktif untuk berani mengajukan gugatan perceraian.

Dalam keadaan seperti ini, apa saja yang harus dipersiapkan oleh perempuan yang ingin mengajukan gugatan perceraian? Langkah-langkah di bawah ini mungkin akan sedikit membantu dalam mempersiapkan diri dari sisi emosional, administrative, dan langkah hukum yang harus diambil pada masa-masa sulit anda.

1. Pertimbangkan secara matang dalam mengambil keputusan
Bercerai adalah keputusan yang sangat besar. Anda tak bisa seketika mengatakan β€œingin bercerai” pada saat amarah sedang menguasai. Saat anda menghadapi pilihan, akan banyak komentar dan masukan dari sekeliling anda yang bisa mempengaruhi keputusan anda. Pastikan bahwa keputusan bercerai itu adalah pilihan terakhir yang harus diambil setelah dipertimbangkan secara matang.

2. Persiapkan mental untuk menghadapi proses perceraian
Proses perceraian akan melelahkan karena anda harus bolak-balik menghadiri sidang. Pastikan anda sudah mengetahui ini sehingga bisa mempersiapkan mental anda. Proses panjang dari suatu perceraian tentunya bergantung juga pada rumitnya permasalahan yang ada antara anda dengan pasangan. Jika kedua belah pihak sepakat bercerai, maka proses perceraian tentunya lebih mudah.

3. Persiapkan dokumen-dokumen penting sebelum mendaftarkan gugatan perceraian
Jika hati anda memang telah mantap untuk bercerai, persiapkan semua dokumen yang terkait dengan pernikahan anda. Dokumen-dokumen penting seperti bank statement, rekening bank beserta nomornya, surat-surat hutang, surat-surat yang menunjukkan kepemilikan asset, surat-surat penting yang menunjukkan status pernikahan, status anak (jika memiliki anak), dan lain-lain. Buatlah salinan semua dokumen penting tersebut sebagai arsip anda.

4. Membuat surat gugatan perceraian untuk didaftarkan ke pengadilan agama/negeri
Bagi anda yang mampu, anda mungkin memilih untuk menyewa jasa kuasa hukum untuk mengurus perceraian anda. Akan tetapi bagi yang ingin mengurus sendiri, anda harus mempersiapkan gugatan cerai tersebut.

Isi surat gugatan cerai tersebut antara lain adalah :

  • Data diri anda sebagai penggugat, dan data diri suami sebagai tergugat;
  • Alasan-alasan yang menjadi dasar diajukannya perceraian;
  • Hal-hal yang dimohonkan kepada Majelis Hakim untuk diputus pada persidangan, misalnya : dikabulkannya gugatan, hak asuh anak, pembagian harta bersama, dan lain-lain.

5. Cermat menyampaikan alasan yang tepat sebagai dasar diajukannya perceraian
Perceraian memang diakibatkan oleh berbagai macam alasan. Akan tetapi, mengajukan alasan-alasan yang sangat jelas sebagai dasar pengajuan gugatan perceraian akan mempermudah proses.

Beberapa alasan perceraian misalnya :

  • Suami meninggalkan anda selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ada pemberitahuan atau alasan yang jelas. suami dengan sadar dan sengaja meninggalkan anda.
  • Suami sering menganiaya, sehingga keselamatan anda atau anak anda terancam;
  • Suami tak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami karena cacat badan atau penyakit;
  • Suami dipenjara selama (lima) 5 tahun atau lebih setelah perkawinan dilangsungkan;
  • Sering terjadi perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus dan tak mungkin dirukunkan kembali;
  • Suami berpindah agama. (sumber: http://www.pekka.or.id)

6. Mempersiapkan dokumen sebagai pendukung surat gugatan
Ini adalah persyaratan yang kelihatannya biasa saja, tapi kebanyakan orang seringkali terlupa untuk mempersiapkannya dengan baik. Dokumen pendukung yang harus dipersiapkan bersama surat gugatan adalah :

  • Buku nikah (asli)
  • KTP (asli)
  • Akta kelahiran anak-anak jika ada anak dalam pernikahan (asli)
  • Surat kepemilikan asset/harta jika berkaitan dengan harta gono-gini, misalnya BPKB kendaraan, sertifikat rumah, sertifikat tanah, dan lain-lain.
  • Surat visum dokter atau yang surat-surat lainnya yang diperlukan untuk mendukung surat gugatan.

Anda harus membuat salinan dari semua dokumen tadi untuk diserahkan kepada Majelis Hakim. Dokumen-dokumen asli hanya akan dipertunjukkan saja.

7. Mempersiapkan saksi-saksi
Anda akan membutuhkan saksi-saksi yang akan memperkuat pernyataan anda di pengadilan. Anda membutuhkan setidaknya 2 (dua) orang saksi yang harus secara langsung mengetahui peristiwa yang terjadi dalam pernikahan anda.

8. Cari informasi di mana anda harus mendaftarkan gugatan perceraian
Jika pernikahan anda dicatatkan di KUA, maka gugatan diajukan ke Pengadilan Agama di wilayah kabupaten yang sama dengan tempat tinggal anda. Sedangkan bagi yang beragama selain Islam, gugatan diajukan ke Pengadilan Negeri di kabupaten yang sama dengan tempat tinggal suami anda.

9. Melangkah ke pengadilan
Jika langkah-langkah di atas telah anda lakukan, kini anda tinggal pergi ke pengadilan untuk mendaftarkan gugatan anda. Gugatan cerai disampaikan kepada pejabat kepaniteraan. Kepaniteraan akan menaksir biaya perkara dan anda akan diminta membayar biaya panjar perkara pada bank yang ditunjuk oleh pengadilan.

aktaceraiSimpan tanda pembayaran tersebut karena nantinya akan diserahkan kepada pengadilan untuk dilampirkan pada pendaftaran perkara. Setelah itu anda akan mendapatkan nomor perkara dan menunggu panggilan sidang.

Sebagai informasi saja, proses persidangan untuk suatu perkara terdiri dari beberapa sidang. Itu sebabnya di awal, saya sudah memberitahu anda untuk bersiap-siap menghadapi proses yang panjang. Anda akan setidaknya menghadiri 10 kali persidangan sampai Majelis Hakim memutus perkara yang anda ajukan. Hal yang berbeda jika suami yang anda gugat tak pernah hadir dan tidak mewakilkan kehadirannya pada kuasanya, maka Majelis Hakim dapat menjatuhkan putusan verstek (putusan tanpa kehadiran tergugat) setelah maksimal 3 kali panggilan sidang.

10. Jalani hidup seperti biasa
Sementara itu, selama sidang berjalan, anda harus mengisi hidup anda seperti biasa. Jika anda tak memakai jasa advokat, mungkin selama masa persidangan anda dapat berkonsultasi dengan orang-orang dekat anda yang paham mengenai hukum. Jangan lupa untuk menanamkan kesabaran dan sedikit meluruskan dahi yang telah berminggu bahkan bulan, berkerut memikirkan kemelut rumah tangga anda. Pusatkan perhatian anda pada hal-hal lain yang penting untuk dikerjakan, jangan sampai terbengkalai. Semua urusan administratif persidangan adalah bagian dari proses yang mau tidak mau harus anda hadapi dengan hati tenang.

11. Jangan memulai hubungan baru sebelum semua urusan perceraian selesai
Sebisa mungkin, tahan diri anda agar tak terlibat dalam hubungan asmara dengan pihak lain sebelum semua urusan perceraian anda selesai. Anda tak butuh menambah beban batin baru lagi di saat seharusnya anda bisa beristirahat dari hal-hal yang membebani perasaan anda, apalagi jika hati anda hanya ingin mencari pelarian atau pengisi kesepian.

Hidup memang tak mudah, dan tak semua hal yang direncanakan selalu berjalan mulus. Tapi itulah inti kehidupan, dengan segala permasalahan hidup yang dihadapi, setiap manusia akan belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Advertisements

273 Comments

    1. Sama-sama, Mbak.
      Sebenernya saya pribadi sedih kalau ada suami istri yang bercerai. Hanya saja hidup sangat kompleks, jadi yang paling paham bahwa hal seperti ini harus dilakukan adalah orang yg bersangkutan saja ya..

      Tetap semangat, Mbak. Saya sangat paham beratnya perceraian.

      1. begini mbk,berapa selisih sdang sbelumnya dengan sdang trakhir cerai apabila di luar kota ??
        ktanya ptugas PA slisihnya 1.5 blan tpi kog belum dteng2 ya
        dah capek nunggunya mbk
        pngen cpet2 slesai dngan sdang cerainya

      2. Mbak Tisa yang baik,
        Rata-rata selisih sidang I ke sidang II sih memang 1 – 1,5 bulan. Yang ingin saya tanyakan, apanya yang belum datang-datang, Mbak? Surat panggilannya? Coba cek ke RT atau kelurahan setempat. Biasanya kalau petugas PA tidak menemukan rumah sesuai alamat, mereka akan menitipkan surat panggilan sidang di kelurahan. Biasanya juga, pihak kelurahan akan menyampaikan surat panggilan sidang ke RW atau RT bersangkutan, tapi jarang sih. Jadi, coba cek ke kelurahan, Mbak.

        Sidang perceraian memang melelahkan secara mental, tapi insya Allah setelahnya lebih ringan, Mbak. Bersabar ya. πŸ™‚

        Regards,
        NF

      3. Mba saya mau tanya, sendainya dari pihak keluarga tidak ada yg mau menjadi saksi bagaimana ya mba? Sedangkan sidang untuk pembuktian dan berkas kan diperlukan saksi. Mohon advice nya mba.

      4. Mbak Marlina yang baik,
        Jika tidak ada keluarga yang bersedia menjadi saksi dalam sidang, teman terdekat saja boleh. Yang penting sudah akil balig (usia lebih dari 17 tahun), mengenal dengan baik pasangan suami istri yang sedang bermasalah ini, dan tahu rumah tangga pasangan tersebut seperti apa. Bisa pembantu rumah tangga, misalnya. Atau tetangga sebelah rumah yang pernah melihat suami-istri ini ribut atau kurang akur. Demikian, Mbak.

        Semoga jawabannya membantu ya. Good luck.
        Regards,
        NF

      5. Tidak harus selalu melihat. Mungkin 1-2 kali melihat. Sebaiknya saksi memang benar-benar mengetahui kondisi pernikahan tergugat/penggugat.

    2. Assalamualaikum mbak.
      Saya sudah menjalani rumah tangga 1 tahun lebih. Anak kami masih 10 bulan. Permasalahan yang selalu buat kami bertengkar, dia selalu mengungkit masa lalu saya. Saya padahal sudah melupakan masa lalu saya, dan orng yang ad di masa lalu saya pun sudah meninggal. Bagaimana saran mbak untuk menyikapi masalah saya ya mbak. Karna kalau sudah bertengkar, dia selalu menghina saya.

      1. Wa’alaikumsalam wr wb.,
        Dear Mbak Ade May, usia rumah tangga setahun itu masih amat sangat muda. Jauhkanlah pikiran dari berpisah. Suami istri bertengkar itu hal biasa, yang penting tidak berlebihan, apalagi sampai berpikir ingin melepaskan diri. Jangan ya, Mbak.

        Menghadapi suami yang emosional, Mbak harus bisa lebih banyak bersabar. Dalam Islam, tidak ada rumah tangga yang suaminya lebih zalim daripada Firaun terhadap istrinya Asiyah binti Muzahim. Dan, Rasulullah mengajarkan agar Muslimah mengambil teladan Asiyah dalam menghadapi suaminya, Firaun, yakni dengan kelembutan dan keteguhan keyakinannya terhadap Allah. Saya sendiri sudah membuktikan bahwa kelembutan mampu meluluhkan kekerasan hati. Mungkin tampaknya rugi ya kita baik-baik tapi suami tetap begitu, tapi ingatlah, ia adalah suami kita, jadi tidak ada istilah istri rugi bersikap baik terhadap suami, dan sebaliknya.

        Jika lain kali Mbak dan Masnya bertengkar, Mbak cukup diam tanpa menjawab sambil istighfar. Doakan agar Allah melembutkan hati suami. Doa istri untuk suami itu konon tidak bertabir dan langsung didengar oleh Allah. Jika suami sudah adem dari amarahnya, katakan pada dia untuk istighfar, berwudhu, lalu sholat berjamaahlah bersama-sama. Insyaa Allah, dengan begitu hati suami dan Mbaknya sama-sama akan dilembutkan. Jika suami menolak, bersabarlah. Terus lakukan dia untuk teguh di jalan Allah, insyaa Allah deh, Allah pasti memberi petunjuk.

        Selebihnya, bersabar dan berdoa terus ya, Mbak.
        Peluk sayang dari Jakarta,
        NF

  1. Ingin bertanya, jika suami sedang menjalani hukuman penjara, apa bukyi yg hrs sy bawa dan kemana sy hrs meminta bukyi tersebut? Krn dy dipenjara setwlah kami sudah tdk tinggal bersama selama 2th.
    Terima kasih

    1. Selamat tahun baru, Mbak Lia.
      Sebenarnya saya bukan ahli soal ini, Mbak. Namun kalau boleh saran, coba datangi KUA setempat dan minta nasihat dari penghulu di sana, apa saja yang harus dilakukan. Apakah statusnya otomatis bercerai, atau sebaiknya bagaimana. Selebihnya, bersabar ya, Mbak.

      1. Assalamualakum mbaa..
        Ingim bertanya mba, besok panggilan sidang pertama saya, saya sngat takud pas dipersidangam saya tidak bisa bicara, apalagi suami saya org yg jago bicara. Saya takud alasan sya bercerai tidak diterima mngingat dia tidak mau bercerai dgn saya.. Suami saya org yg tdk mau dipersalahkan, kata2 kasar, hinaanya mmbuat saya mengajukan gugatan .. Bagaimana saya menyikapinya besok mba..

      2. Wa’alaikumsalam,
        Dear Mbak Linda. Mungkin sekarang ini Mbaknya sedang menunggu panggilan sidang ya? Atau malah sudah? Maaf baru bisa membalas sekarang, karena masih ada kerjaan barusan.

        Biasanya hakim tidak akan memburu-buru Mbaknya untuk memberikan keterangan. Mereka akan bersabar menunggu, karena mereka sangat paham gejolak emosional yang dihadapi oleh pasangan yang sedang disidang. Jadi sampaikan saja apa yang ingin Mbak sampaikan. Termasuk ketakutan Mbaknya, dan bahwa suami sangat pandai bicara. Sampaikan saja secara jujur bahwa Mbak tidak mau lagi mendapat intimidasi dan KDRT psikis seperti yang suami lakukan. Pokoknya sampaikan apapun sejujurnya Mbak, ya..

        Good luck, Mbak.
        NF

  2. Ingin bertanya mbak,,utk buku nikahnya yg dibutuhkan buku nikah keduanya suami dan istri atau boleh salah satunya saja,soalnya buku nikah yg istrinya sudah rusak mbak,dan klu boleh tau kisaran harga biaya gugatan cerai kira2 brapa ya mbak,mksh mbak sebelumnya

    1. Mbak Nina yang baik,
      Setahu saya, buku nikah nanti diserahkan ketika mengambil akta cerai masing-masing. Dan untuk hal itu, masing-masing suami dan istri memberikan buku nikah sesuai yang dipegangnya. Jika tidak memberikan buku nikah, takutnya akta cerai juga tidak akan diberikan oleh Pengadilan Agama (PA). Kalaupun misalnya dalam hal ini buku nikah rusak, bisa jadi pihak PA akan meminta surat laporan kehilangan ke polisi setempat. Tapi ini baru perkiraan saya. Silakan ditanyakan lebih jelasnya ke panitera PA, ya.

      Mengenai biaya gugat cerai, setiap PA mempunyai besaran biaya berbeda-beda. Kalau daerah saya, di Tangerang, PA Tangerang Tigaraksa mengenakan biaya sekitar Rp970.000 untuk (radius 3) biaya cerai talak dan Rp 716.000 (radius 3) biaya cerai gugat, sampai selesai. Silakan untuk lebih jelasnya akses ke: http://www.pa-tigaraksa.go.id/ atau kontak langsung dengan pihak PA Tangerang (ada nomor teleponnya di website yang saya sebutkan barusan).

      Kalau Mbaknya tinggal di kota lain, mungkin bisa di-googling untuk situs PA kota Mbaknya.

      Semoga dimudahkan semua urusannya ya, Mbak. Best of luck.

  3. Kalau pernikahan belum 1 thn dan selalu ada pertengkaran bahkan sejak pernikahan dan baik suami maupun istri sepakat bercerai. Bisakah demikian mbak? Drpd dipertahankan tetapi saling melukai dan menyakiti

    1. Secara hukum negara sih, sah-sah saja bersepakat cerai, seberapa lamapun usia pernikahannya. Namun secara sosial, sayang sekali rumah tangga baru sebentar sudah harus berakhir. Kalau diizinkan memberi saran, sebelum “mengeksekusi” bercerai, ada baiknya konsultasi kepada wali hakim–penghulu (jika Islam) atau pendeta (jika Kristen) atau penasihat pernikahan lain, yang posisinya netral. Jika itu masih kurang, cobalah untuk berpisah ranjang dulu. Jika masih bertengkar juga, tenangkan diri dengan berpisah rumah. Siapa tahu dengan begitu jadi timbul kerinduan. πŸ™‚

      Biasanya perceraian terjadi karena sifat saling tidak mau mengalah, ego tinggi dan enggan menerima kekurangan pasangan. Apakah Pak Suleman yakin, berpisah dengan istri akan menyelesaikan masalah, bukannya menambah masalah? Mohon maaf, saya bukannya menggurui, hanya memberi saran sebagai orang yang mengalami perceraian. Bukan perkara mudah hidup menyendiri setelah pernah merasakan berdua. πŸ™‚

      Mudah-mudahan Pak Suleman dan istri mendapatkan jalan keluar terbaik, ya.

  4. Mba sy mau tnya, beberapa hari lg merupakan jdwl sidang perceraian sy, pd sidang terakhir yg lalu, hakim mengatakan klo nanti suami sy tdk hadir lg pd sidang berikut’a maka sidang nanti merupakan sidang putusan buat sy. Jd sy di minta menyiapkan 2 org saksi, dan membawa buku nikah asli dan foto copy yg sdh di regalisir. Pertanyaan sy adalah :
    1. Apakah blh sy membawa kedua org tua sy sebagai saksi di persidangan nanti?
    2. Apakah copy buku nikah yg di regalisir harus regalisir asli? Klo foto copy dri regalisir nya gimana? Bkn kah pd saat pendaftaran gugat cerai sdh melengkapi syarat2 sprti fc surat nikah regalisir, dll.
    Mohon penjelasan’a…
    Terima kasih

    1. Mbak Novi yang baik, saya nggak yakin apakah saya berkapasitas untuk menjawab ini, tapi berdasarkan pengalaman saya coba jawab ya..

      1. Saksi yang sah diajukan dalam sidang adalah mereka yang sudah akil baligh–ini sudah pasti, ya. Kalau lawyer saya bilang, lebih bagus jika saksi tersebut juga saksi yang sama saat kita menikah. Saksi juga hendaknya mengetahui dengan baik kondisi rumah tangga bersangkutan, agar memberikan kesaksian yang akurat. Jadi kesimpulannya: orangtua sendiri boleh menjadi saksi yang sah, kecuali hakim meminta saksi lainnya.

      2. Buku nikah difotokopi menjadi satu lembar saja (menjadi dua baris ke bawah), KTP juga kalau bisa (kesemuanya jadi satu lembar), lalu dilegalisir di kantor pos besar setempat. Iya, legalisir asli, bukan copy-an. Waktu mendaftar gugat cerai memang sudah diserahkan berkas-berkas tersebut, tapi nanti pada sidang akan diminta lagi (untuk ditunjukkan saja, atau mungkin diminta sebagai salinan sertifikat cerai). Tergantung hakimnya saja sih butuhnya bagaimana.

      Saran saya, bikin saja beberapa fotokopi (misal 5 lembar) dan semuanya dilegalisir, seperti kita melegalisir ijazah begitu. Jadi ketika dibutuhkan di sidang, kita ngga bingung lagi.

      Semoga jawabannya membantu ya, Mbak.
      Tabik.

  5. Mba mau tanya, apakah bisa seorang istri mengajukan cerai sedangkan sampai saat ini masih tinggal satu rumah sama suami. Dari pada hidup satu atap tapi tiap hari bertengkar trs. Sudah tidak ada kenyamanan tinggal di rumah. Dan untuk buku nikah nya kebetulan rusak, jadi untuk pengajuan nya gmna mba?. Mksh sblm nya

    1. Mbak Ratna yang baik, sebagai orang dewasa, Anda berhak memutuskan langkah mana yang terbaik untuk hidup Anda. Jika pertimbangan finalnya bercerai akan lebih baik (better off) untuk kedua pihak, silakan. Tapi, kok bisa sih buku nikahnya rusak? πŸ™‚ Wah, saya ngga tau bagaimana cara pengajuannya kalau buku nikah rusak. Kalau saya sendiri, saat mengajukan gugatan, buku nikah istri (milik saya) ada, tapi buku nikah suami dibawa oleh mantan saya.

      Saran saya, sebaiknya Mbak Ratna langsung tanyakan ke panitera di pengadilan agama setempat saat mendaftarkan gugatan. Atau, mungkin tanyakan dulu ke KUA, apakah bisa meminta lagi buku nikah lagi, atau harus bagaimana step by step-nya. Apa perlu surat hilang dari polisi atau gimana. Karena bagaimanapun itu kan dokumen negara ya.

      Bagaimana dengna copy-annya? Kalau ngga salah, waktu mengurus akta kelahiran anak, atau mengurus KK, perlu fotokopian buku nikah tuh, jadi mudah-mudahan masih ada copy-nya, Mbak. Yang jelas saat mendaftar gugat cerai, mutlak diperlukan copy-an (yg dilegalisir) dan buku nikah asli (nantinya harus bisa diperlihatkan di pengadilan). Kalau tidak ada buku nikah, nah, itu saya ngga tau deh. Sebaiknya konsultasikan ke PA atau KUA ya, Mbak.

      Terima kasih sudah blogwalking ke sini. ^_^

  6. Bagaimana jika Surat panggilan dari PA ke alamat tergugat tapi bukan tergugat sendiri yang menerima ?

  7. Mba, 2 hari lg sidang proses perceraian..stlh hampir 16 thn kami bersama,akhirnya hancur jg biduk rumahtangga kami krn suatu hal yg tdk bisa sy ceritakan, sedih…dan yg pasti saat ini sy merasa hancur bgtt..apalagi tdk ada satupun orang yg bisa sy andalkan untuk berbagi rasa…gimana caranya mba untuk menguatkan diri dan psikologis sy..sementara d blkng sy ada begitu bnyk beban yg hrs sy tanggung, termasuk ke 3 anak sy…
    Jujur…sy sangat butuh seorang teman untuk berbagi kesedihan sy..
    Terima kasih mba…

    1. Mbak Azka yang baik,
      Saya juga sempat merasa begitu. Ngedrop, baik fisik, psikis, maupun kepercayaan diri. Tapi yakin aja, Mbak, Allah adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Saya anak juga tiga, saya kerja, suami tidak menafkahi sejak 2009. Alhamdulillah baik-baik aja, Mbak. Dan saya ngga selalu kuat dan cengar-cengir seperti sekarang. Saya sempat nangis bombay juga berhari-hari, atau sesekali selama 5 bulan pertama. Tapi setelah itu, Mbak lihat lagi deh wajah anak-anak. Jadikan mereka motivasi dan tambahan kekuatan untuk lebih semangat hidup lagi.

      Kalau Mbaknya perlu curhat, saran saya, sesama perempuan aja, Mbak. Utamanya yang pernah mengalami hal sama dan dipercaya, ilmu memadai dan juga bijak. Kalau saya, jujur, ngga pernah curhat sama keluarga. Apalagi orangtua. Karena sakit hatinya orangtua itu panjang. Bisa saja kita sudah melupakan, tapi orang tua pasti masih mendendam. Saya cukup curhat sama sahabat saya. Mereka menasihati, bukan hanya menghibur. Kalau masih belum mempan, curhat sama Allah, Mbak. Insyaa Allah, pasti manjur. πŸ™‚

      Semangat, ya.

  8. mbak nina maaf mau tanta..
    umur pwrnikagan saya sudah satu tahun lebih,,hubungan saya seperti nya sudah tidak ada jecocojan lagi,karena dengan ego nya,acuh nya dya terhdap saya mbak,,siang mqlam batin sya menangis mbak,sya minta seperti ini,itu dimata suami saya selalu salah.wanita mana mbak yang betah suaminya setiap hari seperti itu, tidur saja sudah tidak mau berdekatan lgi mbak.
    1.yang saya tanyakan jika saya mengajukan cerai atas dasar sudah tidak ada kecocokan lgi apa bisa mbak?
    2.dokumen apa saja mbak yg perlu sya siapkan
    Trimakasih mbak tolong pencerahan nya…

    1. Mbak Mina yang baik, saya turut prihatin dengan permasalahan yang ibu hadapi. Mudah-mudahan ke depannya ada jalan yang baik.

      Menanggapi pertanyaan Mbaknya:
      1. Menurut yang saya dengar di seputar pengadilan agama, cerai gugat dengan alasan tidak ada kecocokan lagi tampaknya mulai tidak menarik simpati hakim lagi, Mbak. Harus ada dasar alasan yang lebih kuat. Semisal, dalam kasus ibu, suami sudah tidak mempedulikan istri lagi. Atau malah menelantarkan istri, tidak memenuhi nafkah batin/lahir, dsb. Nanti hakim akan menilai apakah kasus Mbak lebih baik dimediasi atau diputuskan. Biasanya pengadilan akan menempuh mediasi. Artinya mendamaikan lagi suami dan istri yang “bertikai”. Pengadilan itu selalu tabayyun (berprasangka baik), Bu. Itu yang saya pelajari dari pengalaman.

      2. Dokumen yang harus disiapkan adalah kronologi cerai gugat. Formatnya seperti surat pernyataan, Mbak. Diketik rapi dengan tata bahasa hukum yang baik jika bisa. Font tulisan besar dan paragraf tertata rapi. Di surat tersebut harus rinci menjelaskan permasalahan yang dihadapi termasuk waktu per waktunya. Jika ada bukti-bukti, silakan dilampirkan. Bukti-bukti di sini maksudnya adalah, jika ada kekerasan fisik, cantumkan visum dari RS. Jika ada KDRT verbal/mental melalui media sosial (seperti yang saya alami), print out screen capture-nya, dsb. Dokumen ini digandakan hingga 6 copy ya, Mbak. Siapkan juga fotokopi KK, fotokopi KTP suami dan istri, fotokopi surat nikah, dan jika ada anak, cantumkan fotokopi akta kelahiran anak. Semua berkas ini disertakan saat mendaftar gugat ke pengadilan.

      Siapkan juga fotokopi KTP (1 lembar) dan fotokopi surat nikah (disatukan jadi 1 lembar) yang dibubuhi materai dan dilegalisir oleh kantor pos besar setempat dan dibawa saat sidang pertama.

      Berapa biayanya? Saya di PA Tigaraksa, Tangerang, untuk cerai gugat dibebani biaya sekira Rp760.000-an, sedangkan cerai talak (oleh suami) dibebankan biaya Rp900.000-an—tapi saya lupa angka persisnya. Selebihnya, tidak ada biaya apa-apa lagi.

      Demikian, Mbak. Semoga informasi dari saya bermanfaat.

  9. Ass..
    Mba saya mau tanya apakah bisa menikah lg setelah mantan suami menjatuhkan talak 3 tapi dengan lisan saja tidak di atas matrei ea tidak ada surat hitam di atas putih.
    Trus low misal kan udah pernah cerai udah pernah di ajukan ke pengadilan duplikat akta cerai masih ada apa engga trus ada y di pengadilan agama atau di KUA tmpat dlu nikah krna saya sodara dari istri yaitu kk saya krna saya mau ngbntuin kk saya kasian dia mau nikah lg v gkk ad surat janda y sama mantan suami y yg ke 2 v low sama mantan suami y yg prtama puny cuma ea gtt lah wat bukti nikah sama mantan yg ke 2 itu nah ckrg gkk ad surat cerai atau surat janda dari mantan suami y yg ke 2 ini
    Trimakasih
    wasalam.

    1. Wa’alaikumsalam. Setahu saya, secara agama sih sudah sah itu talak. Istri boleh menikah lagi setelah selesai masa iddah. Hanya saja berikutnya mungkin hanya bisa menikah secara agama juga, tdk bisa secara negara. Itupun kalau penghulunya bersedia.

      Biasanya penghulu yg baik itu gak mau menikahkan kalau semua prosedurnya, administrasinya (secara negara dan agama) tidak terpenuhi.

      Saran saya, kalau mbaknya Mas Lukman mau menikah lagi, ya segeralah diurus cerai gugatnya ke PA sesuai KTP si Mbak. Akta cerai pasti sudah tdk berlaku ketika si Mbak menikah lagi waktu itu. Jadi Mbaknya musti mau mengurus surat cerai gugat dulu sebelum menikah lagi.

      Ya musti dipaksakan disiplin administrasi supaya terhindar dari fitnah, Mas. Begitu aja saran saya sih. Tapi pastinya ada yg lebih ahli di BP7 atau di KUA, silakan ditanyakan ke kantor KUA terdekat aja supaya lebih clear ya.

  10. Mbk.. sy skrg dlm keadaan sudah yakin untuk bercerai. 18th sy merusaha menjd istri yg Di inginkan.. Dan Sudah berulang kali sy memberi kesempatan kepd suami untuk memperbaikki keadaan,tapi ternyata semuanya tetap sama.. sy tau keputasan bercerai akan banyak menyakiti semua org khususnya ank2 sy.. Tolong beri Sy masuk kan agar sy bisa menguatkan hati ank2 sy menjalani perpisahan ini…ank sy umur 12,13,15 mereka skrg dlm usia yg membutuh kan ketenang an untuk men cari jati diri.. hati sy sangat rapuh ketika melihat ank2 sy yg berusaha menguatkan diri.. dengan cara dan bagai mn sy berbicara dg mereka agar mereka bisa tenang menghadapi semua ini..

    1. Mbak Lea yang baik. Semoga Allah melimpahi Mbak dan anak-anak dengan kesabaran tanpa batas dan keikhlasan. Aamiin..

      Anak-anak Mbak terbilang sudah cukup besar dan saya yakin, mereka setangguh ibunya. πŸ™‚ Percayai mereka, tapi tetap dengarkan dan dampingi mereka. Bercerai atau tidak adalah keputusan orangtua. Bukan keputusan mudah, pastinya. Namun anak-anak perlu diyakinkan bahwa orangtua bercerai bukan karena anak-anak. Mereka tidak dibebankan tanggung jawab itu, meski mereka merasakan dampaknya. Yang pasti, akan ada perubahan dalam keseharian hidup. Mungkin ngga akan melihat orangtuanya satu rumah lagi. Hanya saja, anak-anak perlu tahu, apapun yang terjadi–cerai atau tidak–orangtua akan senantiasa menyayangi mereka seperti biasa, bahkan mungkin lebih, karena sudah less stress kondisinya. Lalu, orangtua mesti mau berjanji di depan anak-anaknya, walau sudah tak serumah, orangtua akan tetap men-support mereka semaksimal mungkin, dan semuanya masih keluarga bagaimanapun juga.

      Bakan berat, Mbak. Tapi, insyaa Allah, kebahagiaan menanti Mbak dan anak-anak, bahkan mantan suami Mbak juga. Aamiin..

      Good luck ya, Mbak.

  11. Mbak..saya lagi sedih
    Usia pernikahan saya memasuki 12 th dengan 1 orang anak cowo. Selama ini orang taunya kami baik baik saja. Padahal suami saya dari awal menikah gak menfkahi saya. Karna sata PNS dan mempunyai usaha itu gak masalah bagi saya mbak.
    Tapi lama lama saya gak kuat mbak. Apalagi gaji saya dipinjam suami utk usaha ( meminjam uang dengan jaminan SK saya ) utk pinjaman 9 th. Jadinya saya gak terima gaji lagi mbak. Dan itu gak pernah dicicil sejak awal dia menggunakannya. Saya buat rumah..dp saya yg bayar dan udah jakan 5 th cicilan. Masih ada 10 th lagi mbak. Baru 1 th ini saya minta suami utk mencicil dan dia menyanggupinya. Tapi ternyata gak dicicilnya mbak.. sekarang pihak bank udah nelp2 saya karna rumah udah menunggak selama 7 bulan..blom lagi hutang ini dan itu. Saya gak kuat lagi mbak. Apakah saya boleh menggugat dengan alasan yang seperti saya kemukakan di atas ?

    1. Mbak Eva yang hebat,
      Tentu saja Mbaknya boleh menggugat suami di pengadilan dengan alasan tersebut. Namun, setahu saya, sebagai PNS, Mbak Eva berkewajiban melapor terlebih dahulu ke atasan dan meminta nasihat beliau. Jika menurut beliau memang sudah tak bisa ditolong lagi kondisinya–baik secara ekonomi, apalagi secara ketenangan batin dan mental–maka langkah selanjutnya adalah ke pengadilan agama, dengan rekomendasi dari atasan Mbak. Banyak rekan PNS yang sungkan mengungkapkan permasalahannya ke atasan karena berbagai alasan, tapi memberitahukan atasan itu akan jauh lebih baik daripada tidak ada kejelasan nasib ke depannya.

      Semoga Allah memudahkan dan melancarkan urusan Mbak, serta semoga Allah memberi kesabaran untuk Mbak dan ananda ya.
      Good luck.

  12. Assalamualaikum mbak…
    Umur pernikahan saya masih seumur jagung, tp sudah banyak sekali konflik yg terjadi.
    Kata2 manisnya jaman pacaran hanya sebatas janji palsu. Saya diperlakukan kasar secara verbal, saya tidak dihargai dan diinjak2 harga diri saya sbg perempuan hingga akhirnya dia mengusir saya dari rumah hanya karena saya membela diri dr semua tuduhan2nya ttg masalah yg sangat sepele.
    Satu sisi saya tidak ingin kembali ke rumah itu, dia pun kadang masih menghubungi saya namun karena tll lelah saya hanya menanggapi dengan datar2 saja.
    Tp melihat usia pernikahan yg masih hitungan bulan, saya jg memikirkan bagaimana malunya org tua saya dan begitu jg dengan saya.
    Saya harus bagaimana ya? Trima kasih mbk πŸ™‚

    1. Dear Mbak Media,
      Saya bisa memahami apa yg Mbak alami, krn saya sudah mengalami dan melewatinya juga. Yang berbeda adalah soal lama pernikahan kita masing-masing. Tapi bukan seberapa lamanya itu yg jadi masalah, melainkan seberapa tangguh pasutri dalam pengelolaan emosinya. Dari penjelasan Mbak, saya kira Mbak sudah cukup sabar. Memang malu rasanya kalau kita sampai harus mengadu ke orangtua. Karena kita tahu, orangtua itu sakit hatinya akan panjang ketika mendengar anak yang dicintai malah disakiti orang lain. Tapi dalam hal ini, rasanya sih harus ada wali untuk menengahi permasalahan. Saran saya, ke penghulu yang dulu menikahkan Mbak dan suami. Minta nasihat dari mereka. Biasanya mereka akan memanggil kedua pihak. Jika suami menolak datang, Mbak minta saran saja ke penghulu bagaimana baiknya. Mereka lebih ahli menasihati jika ada masalah pernikahan. Dicoba dulu ya, Mbak. Semoga Allah memberi petunjuk, yaa..

      1. Saya sebenarnya jg pengen nyimpan sendiri, cuman pas dia ngusir saya kebetulan ada ibu saya di situ makanya masalahnya semakin besar.
        Iya mbak semoga masalahnya bisa cepat selesai, apapun keputusannya karena saya jg masih ada trauma psikologis jg..
        Trims mbk semoga sehat selalu πŸ™‚

      2. Wah, kalau sudah keburu orangtua tahu, ya berarti semakin kuat alasan untuk segera ke KUA dan meminta nasihat wali (penghulu), Mbak. Jangan dibiarkan larut, karena masalah seperti ini bukan tipe yang bisa dibiarkan dan mengendap lalu hilang sendiri. It doesn’t work that way. πŸ™‚

        Sementara itu, yakinkan orangtua untuk bersabar dan mempercayakan penyelesaiannya di tangan Mbak dan suami dengan bantuan Allah, tentunya.

        Good luck ya.

  13. mba aku mau melakukan gugatan cerai, waktu menikah aku menikah di daerah jawa tengah. tapi skrg ini kita tinggal di jakarta. apakah bisa melakukan gugatan cerai di jakarta?? terima kasih penjelasannya

    1. Mbak yang baik,
      Setahu saya, pengajuan cerai disesuaikan dengan domisili (tempat tinggal) terkini istri, yang dibuktikan dengan adanya KTP. Kalau KTP Mbaknya masih Jawa Tengah; Kota Pekalongan misalnya, berarti Mbak mengajukan gugat ke PA Pekalongan. Kalau KTP Mbaknya sudah Jakarta, misalnya Jaksel, berarti Mbak bisa ajukan gugatan cerai ke PA Jaksel di Ragunan (kalau ndak salah lokasinya sih).

      Semoga jawaban ini membantu, ya.

      1. Mbak mau nanya. Saya berniatan untuk menggugat suami saya karena saya sudah tidak tahan dengan sikap dia. Saya menikah 1thun lebih. Saya merasa di manfaatkan oleh suami saya. Dan saya beberapa kali memergoki suami saya chat mesra ma wanita di bbm. Tp tiap kali ketahuan dia tidak mengaku. Hal itu terjadi mulai awal pernikahan krn jujur saja saya tidak pernah menyelidiki masa lalu suami sya. Tapi sebaliknya dy slalu mencari masa lalu saya. Tapi saya tidak bisa melakukan gugatan dengan alasan perselingkuhan karna tidak ada bukti hanya tiap kali sya menyelidiki hp dy ada adiknya yg saya kasih tau isi chat itu. Dan saya tidak betah dengan setiap ucapan dia yg slalu meninggikan dirinya. Perkataan yang tidak sesuai saat dgn saya dan saat dgn orang laen. Saya sering mendengan ucapan berbeda itu sya jdi tidak betah. Lalu saya sudah pisah ranjang 2 bulan saya pulang kerumah dy sudah menyerahkan sya kepada otang tua saya. Dan selama ini dy tdk memberi nafkah. Menurut mbk saya bisa cerai dengan alasan tersebut

      2. Mbak Ana yang sabar,
        Saya ikut sedih membaca cerita Mbak. Mudah-mudahan Allah memberikan jalan terbaik untuk Mbak dan suami. Namun jika suami dengan sadar mengembalikan Mbak ke orangtua, barangkali itu artinya memang beliau sudah tdk beriktikad memperbaiki rumah tangganya. Apalagi tidak menafkahi lagi. Coba Mbaknya buka buku nikah. Di situ tegas tertulis bahwa jika istri tidak ridha karena suaminya melalaikan kewajiban menafkahi selama 2 bulan berturut-turut maka talak 1 sudah bisa berlaku.

        Alasan gugat cerai karena tidak dinafkahi suami lebih dari dua bulan, sah digunakan dalam pengadilan kok, Mbak. Selebihnya, dari behavior (tingkah laku suami) yang menyakiti hati istri, itu juga sah diajukan. Tinggal ditulis saja nanti di surat gugatan kronologinya ya, Mbak.

        Selebihnya, semoga Mbak mendapatkan kelegaan dan kemudahan ke depannya. Aamiin..

        Regards,
        NF

  14. Halo mbak, saya nikah sekitar 1,5 tahun yg nikahnya sebenernya terlalu buru2, saya blm sempet mengenal dgn baik karakter suami, begitupun dia ke saya, sehingga selama nikah banyak bgt konflik dan perselisihan karena kami ternyata beda bgt dlm banyak hal, dan memang akhirnya bahkan orang2 pun paham bahwa kami ga cocok, ga nyambung, ga ada chemistry dll. Tapi beda kasus ya sama mereka yg awalnya cocok lalu lama2 ga cocok lagi; kasus saya memang sejak awal kami ga pernah kenal betul dan akhirnya baru tau ga cocok ya setelah nikah, mbak. Saya jadi istri yg nusyuz dan sering bgt ga nurutin suami, saya orangnya keras, dia juga, kalo ga mau ya ga mau, apalagi dia karakternya bukan yg pinter ngambil hati, orgnya kaku bgt, membosankan, ga pernah cocok ngobrol sama saya, terlalu beda nilai dan persepsi hidup, yg kita omongin selalu cuma hal2 remeh, saya ga nyaman utk ngobrol apapun sama dia. Harusnya ini hal2 yg sudah dipersiapkan dari sebelum nikah ya mbak. Tapi mo gimana lagi, dulu ga kenal dan ortu buru2 nikahin hanya karena liat dia agamanya bagus (harusnya sih kalo agamanya bagus ya dunianya bagus juga, nah ini jomplang bgt). Sekarang saya niat bgt utk cerai dari dia, sebab saya memang ga kuat terus2an berantem dan tinggal serumah sama dia sedangkan hati ga tenang dan ga bahagia. Saya ga punya keinginan utk jalanin hidup sama dia. Saya udah komunikasiin hal ini ke dia, dan dia setuju utk cerai. Kami ga punya anak dan ga mementingkan harta gono-gini nantinya. Saya bisa pisah aja udah bersyukur mbak. Daripada saya sebagai istri terus2an berbuat dzalim sama suami, dan dia juga ga bisa jadi suami yg mimpin (terlalu kaku, diem, pasif, sebagai laki2 dia kurang greget kalo bahasa saya). Apa poin2 yg bisa saya sampaikan dlm surat gugatan perceraian yg kemungkinan diterima oleh hakim nanti besar mbak? Oh ya dan wajar kan ya saya meminta cerai? Saya sebenernya udah dari 3 atau 4 bulan nikah udah ga betah, tapi saat itu masih kepikiran ortu dan keluarga besar. Sekarang ortu udah maklum, mbak. Mereka udah tau saya dan suami kayak gimana. Mohon sarannya mbak, makasih, maaf kepanjangan.

    1. Waduh.. complicated juga ceritanya Mbak Lolita, ya.
      Soal gugatan, boleh diajukan oleh Mbaknya langsung ataupun oleh suami Mbak. Mengenai kronologi (surat pernyataan yang diajukan ke hakim) boleh disampaikan seperti yang Mbak sampaikan ke saya di sini. Mungkin bahasanya diformalkan, selayaknya bahasa hukum lah gitu. Biasanya sih kalau pengadilan melihat kasus ini masih bisa dimediasi, mereka akan memediasi–kedua pihak diajak bicara baik-baik, just in case berubah pikiran, mungkin masih emosi, dsb. Tapi kalau mereka menilai keputusan suami-istri ini dilakukan baik-baik, mungkin akan segera disetujui. Yg penting nanti (di sidang kedua) dibawa aja saksinya, minimal 2 orang, Mbak.

      Mudah-mudahan ini keputusan terbaik antara Mbaknya dan suami. Semoga lancar, ya.

  15. Mba saya mau tanya. Kalo dalam rumah tangga sudah tidak ada kecocokan lagi dan saya sudah meninggalkan rumah tepatnya 1 tahun 4 bulan sudah dapat berceraikah? lalu proses perceraiannya Apakah bisa cepat? Lalu biaya pengadilannya berapa kalo urus sendiri di pengadilan negeri? terimakasih mba.

    1. Setahu saya, paling cepat (mulai dari daftar sampai keluarnya akta cerai) sekitar 4 bulan, Mbak. Tapi tidak menutup kemungkinan lebih lama. Saya dulu hanya 2x sidang sudah langsung putusan, karena hakim menimbang kasus saya hanya butuh “formalitas” sah dari sisi hukum negaranya saja (saya digantung sampai 2,5 tahun, tidak diurus oleh mantan).

      Mengenai biaya, tergantung pada pengadilan masing-masing kota/kabupaten, Mbak. Saya waktu itu di Pengadilan Agama Tigaraksa (karena KTP saya keluaran Kota Tangsel) dan biayanya saat itu Rp761.200. Di akhir putusan, uang saya dikembalikan Rp95.000 oleh pengadilan. πŸ™‚ Jadi menurut saya, itu sudah fair dan terjangkau.

      Semoga jawaban saya membantu, ya. Good luck, Mbak.

  16. mbak saya mau tanya,saya dan suami menikah di magelang,namun kami tinggal di sumatera selatan. Karen suami melakukan KDRT saya pulang ke Magelang. saat ini sudah 1,5tahun. suami minta nikah lagi dan sudah mengajukan gugatan cerai di sumatera selatan. saya tidak ada KTP sumatera selatan. yg saya tanyakan,jika ada panggilan sidang cerai,bolehkah saya meminta untuk sidang di magelang?karena saya ingin menghadiri sidang supaya cepat selesai. bagaimana caranya meminta sidang cerai di magelang?

    1. Setahu saya sih cerai gugat/cerai talak itu dilakukan sesuai KTP istri (bukan KTP suami). Tapi saya tidak paham bagaimana dengan kebijakan PA (Pengadilan Agama) di Sumsel, Mbak Ocha. Panggilan sidang (Relaas) yang lintas PA biasanya dilayangkan dengan cara mendelegasikan (dikirimkan) ke PA sesuai alamat yang diberikan oleh penggugat. Jika alamat tidak ditemukan, Relaas akan disimpan di kantor kelurahan si tergugat.

      Kalau panggilan sidangnya dari Sumsel, Mbak ngga bisa minta dipindahkan sidang ke Magelang. Tidak ada prosedur semacam itu, setahu saya ya. Paling-paling nanti sidang diputuskan oleh PA Sumsel secara verstek, alias tanpa kehadiran salah satu pihak (dalam hal ini pihak tergugat). Namun untuk lebih pastinya, silakan hubungi PA Magelang dan ditanyakan prosedurnya.

      Saya bukan PNS pegawai PA ataupun lawyer, Mbak. Saya hanya pernah berpengalaman mengalami sidang di PA, jadi hanya bisa menginformasikan sesuai pengalaman saya. Jika jawaban ini dinilai tidak memadai, silakan ditanyakan ke PA bersangkutan ya.

  17. mbak mau tny kalo kk (kartu keluarga) saya prabumulih dan ktp saya sekayu karena ktp saya blm di perbarui jadi saya harus urus ny ke pengadilan mana mb??

  18. selamat sore mba,

    saya sudah 4 tahun menikah dan memiliki 1 anak laki2 dari suami saya, pernikahan kami awalnya baik2 saja, kami pun setia satu sama lain, namun suami saya begitu egois, kasar, sering menganiaya saya baik verbal maupun fisik. saat ini adalah titik dimana saya dan dia memang sudah tidak ada kecocokan lagi dan kami sering bertengkar semenjak dia tidak bekerja beberapa bulan yang lalu. kemudian dia menggantikan pekerjaan saya dirumah dan saya mulai bekerja lagi.
    namun saya merasa dia tidak mengerti apa yang sedang kami alami, sehingga dia jarang membantu saya dlm hal pekerjaan rumah, anak-anak tidak terurus. saya bekerja juga membantu keuangan keluarga karena saat ini sama sekali tidak ada pemasukan kecuali dari gaji yang saya dapat.
    semakin lama dia semakin egois, pemarah , semakin kasar.
    dan sekarang hanya karna hal sepele dia mengusir saya dari rumah, padahal saya sudah sangat sabar menghadapi dia. sampai saya meninggalkan keluarga saya demi dia.
    tapi dia masih saja tidak berubah. keras kepala dan egois.
    saat ini saya sangat sedih sekali, saya sedih karena saya kasian dengan anak saya. karena suami saya sudah mengancam akan membawa anak saya dan saya tidak boleh lagi bertemu anak saya. saya sangat takut sekali kehilangan anak saya.
    suami saya mengancam akan membakar semua dokumen2. saya bingung harus bagaimana, di satu sisi saya tidak ingin berpisah karena kasian dengan anak saya, karena saya sangat tahu bagaimana rasanya menjadi korban broken home. tapi di sisi lain saya sudah tidak kuat lagi dengan perlakuan suami saya.

    mohon pencerahannya mba. terima kasih.

    1. Mbak Jessica, saya turut prihatin dengan kejadian yg Mbak alami. Sedikit banyak, saya juga sama mengalami seperti itu dahulu. Suami kehilangan pekerjaan, lalu 4 thh berlalu dia menganggur malah berubah jadi abusif mental dan verbal. Plus mengancam anak dan akan membawa anak kami, dst dst. Menurut saya, itu semua hanya gertakan suami, Mbak. Jikapun dia sungguhan, apa bisa dia memberi makan anaknya dgn kondisi menganggur begitu? Saya ragukan, Mbak. Lelaki kan biasanya rasional dan logis. Kalau mereka nekat, artinya mereka memang sudah tidak layak menjadi imam. Jika itu yg terjadi, Mbak sudah tahu apa yg harus dilakukan kan? Bukankah Mbak dan suami adalah manusia dewasa yg seharusnya tidak perlu diajari lagi? Hehe.. Artinya, Mbak tahu apa yg harusnya dilakukan.

      Beranilah utk diri Mbak dan anak-anak Mbak. πŸ™‚ selebihnya, semoga Allah membantu ya.

  19. Hallo mbak..mohon pencerahannya,sy dari awal nikah sudah menjadi korban kdrt,tp untuk mengajukan perceraian msh bingung untuk melangkah krn anak sy ada 2 msh batita.
    Walaupun skr ini sy sangat pesimis dg pernikahan sy,sy msh bertahan demi anak2 sy mbak.
    Bagaimana ya mbak cara memantapkan hati??krn sy sdh tdk ada org tua dan saudara yg mendukung sy lg.trmksh

    1. Mbak, saya turut prihatin dengan apa yg dialami oleh Mbaknya. Semoga Allah menguatkan lahir dan batin Mbak.

      Jika kejadiannya adalah KDRT, Mbak bisa melaporkannya ke Polres utk dibuatkan BAP dan visum RS sebagai bukti di pengadilan. Selebihnya, kalau memang sudah ndak tertahankan, Mbak boleh mengajukan cerai gugat kepada suami ke PA setempat (sesuai KTP dan domisili Mbaknya). Bikin kronologinya dan cantumkan permasalahannya secara jujur, agar hakim bisa memutuskan dengan adil.

      Selebihnya, saya turut mendoakan agar Allah memberi jalan keluar terbaik utk Mbak. Namun Allah hanya bisa menolong hamba-Nya yang mau menolong dirinya sendiri terlebih dahulu. Jika rezeki yg Mbak khawatirkan, ingatlah bahwa Allah yg memberi rezeki, bukan suami Mbak. Menurut saya, orangtua yg KDRT akan mengajarkan anak-anaknya melakukan kekerasan yang sama, jadi selamatkan mental anak-anak Mbak, mumpung mereka masih balita. Kalau sudah besar, takutnya malah akan merusak mental dan pikiran mereka, Mbak. Kecuali jika suami bisa bersumpah utk berhenti menzalimi Mbak, maka silakan diperbaiki rumah tangganya. Jika tidak, cerai adalah jalan terakhir, Mbak. Beranilah utk diri Mbak, dan utamanya utk anak-anak Mbak.

      Barakallah. Semoga Allah memberi kekuatan ya, Mbak.

  20. Mbak bolehkah minta pencerahannya? Bercerai sudah kesepakatan kami. sy ga mau ribet jd sy pikir biar suami yg ngurus cerai talak, tapi sebenarnya lebih baik mana ya mba bagi pihak wanita nya mengingat sy PNS dengan 1 anak laki2 yg masih balita. Semua harta memang milik dan atas nama suami. Jd sy pikir tdk ada harta gono gini juga yg penting anak sy bersama sy.

    1. Mbak Qori yang sabar,
      Maaf saya baru bisa respon, maklum, baru selesai cuti lebaran.
      Saya kurang paham bagaimana prosedur cerai bagi PNS. Saya punya kawan (wanita) PNS, tapi beliau mengurus sendiri proses cerainya, jadi tidak menyerahkan ke suami. Saya pikir, mau tidak mau, untuk urusan administrasi begini Mbaknya harus mau ribet, Mbak. Kalau ndak, ya menggantung terus urusannya. Jika Mbaknya tidak keberatan digantung terus, ya ngga apa-apa dijalani yang sekarang ada. Hanya saja akan jadi masalah jika ke depannya Mbak ataupun suami menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Malah akan jadi fitnah, Mbak. Kasihan anaknya nanti.

      Soal harta gono-gini dan hak asuh anak, saya kira bisa dibicarakan secara kekeluargaan dengan pihak suami. Dalam hal ini pengadilan agama biasanya memediasi agar suami istri menemukan jalan terbaik, selebihnya terserah pihak suami dan istri sendiri.

      Semoga masalah Mbak dan suami bisa selesai dengan tuntas yaa..

  21. hallo mba..saya dan istri saya sepakat cerai gimana caranya?
    tlong pencerahan supaya proses mudah, sedangkan buku nikah istri saya rusak.

    1. Salam, Mas Yudistira.
      Wah, saya kurang paham bagaimana kalau buku nikah salah satu pihak rusak. Itu harus ditanyakan ke pihak pengadilannya ya. Selebihnya, semoga urusannya Mas dan istri bisa selesai tuntas ya. Aamiin..

  22. Assalamualaikum mbak,
    Saya juga kemarin habis daftar cerai gugat, nah tanggal 18 agustus sidang pertama saya.. Apakah penggugat wajib datang? Jika tidak datang apakah akan memperlambat proses selanjutnya?

    1. Mbak Maya yang baik,
      Dalam sidang, penggugat wajib datang. Jika tidak, pengadilan akan menganggap pengajuan gugat tersebut tidak valid dan akhirnya kasus bisa gugur. Kecuali kalau Mbaknya pakai pengacara, kedatangan Mbak bisa diwakilkan oleh pengacaranya. Tapi biasanya hakim juga minta bertemu penggugatnya sendiri.

      Jangan lupa, alamat tergugat harus jelas ya, Mbak. Karena pengadilan butuh tanda tangan dari tergugat bahwa pihaknya sudah mengerti ada surat panggilan (relaas) dari pengadilan. Jika surat panggilan tidak diterima oleh tergugat, minta dia ke kelurahan. Biasanya surat panggilan pengadilan yg tdk sampai ke rumah, akan dititipkan di kelurahan. Krn surat panggilan tsb harus dikirim kembali ke PA pemanggil. Kalau surat tidak diterima oleh PA, tidak ada ttd tergugat, PA akan memutuskan “tabayyun” alias memperpanjang waktu sidang sampai waktu tertentu (ditentukan oleh majelis hakim).

      Semoga jawaban saya membantu, ya.

  23. Mbak maaf kan saya sudah cerai. Tp hak asuh anak belum di tulis. Di akta cerai. Sblmnya sudah di tetapkan hak asuh anak ada di saya tp ga di cantumkan di situ. Lalu gimana ya cara ngurus biar dapat surat hak asuh anak itu?

    1. Mbak Andri yang sabar,
      Saya kurang tahu persis apakah hak asuh harus dicantumkan di akta cerai atau ada surat tersendiri. Mungkin bisa ditanyakan kepada panitera di PA bersangkutan, Mbak. Kalau saya dulu hak asuh diselesaikan secara kekeluargaan, di luar pengadilan, makanya saya kurang paham apakah hak asuh itu dicantumkan di akta cerai atau tidak.

      Mohon maaf kalau jawabannya kurang memuaskan.

      1. Terimakasih atas jawabanya mbak.
        Soalnya saya mau bikin paspor buat anak. Tp visanya mesti pake keterangan hak asuh anak itu.. πŸ™‚

  24. Assalam’alaikum…Wr Wb
    Saya mau tanya,saya kan sudah resmi bercerai dan istri saya mengajukan gugatan tersebut dan dikabul,sewaktu saya mau ambil akte cerai saya di minta buku nikah saya padahal saya tidak pegang buku nikah tersebut?
    Soalnya buku nikah dibawa sama istri & saya telpn mantan istri katanya sdh diserahkan semuanya.
    Gimana ya solusinya?

    1. Wa’alaikumsalam wr wb.,
      Betul, Pak, ketika akta cerai akan diambil maka kita harus menyerahkan buku nikah (ditukar begitu). Jika tidak ada buku nikah, tidak akan bisa mengambil akta cerai. Tapi kalau kasusnya seperti Pak Hendriawan begini, tampaknya harus ditanyakan ke panitera PA bersangkutan bagaimana penyelesaiannya, Pak. Mungkin perlu datang bersama mantan istri agar bisa meluruskan informasi yang diperlukan pihak pengadilan.

      Mudah-mudahan Allah memudahkan kesulitan terkait hal ini ya, Pak. Semoga sukses.

  25. Assalamualaikum mbak nina…Saat ini saya di gugat cerai suami karena suami menganggap saya selingkuh di socmed dr bukti2 chat yg dia temukan. Biasanya brp lama panggilam sidang sejak gugatan di ajuin. Suami blg ud ngajuin dr bln puasa kmrn kog sampe skrg saya blom ada surat panggilan sidang dr PA. Trs saat ini saya pk jasa lawyer buat maju di persidangan. Bisakah RT saya bersatu lg,krn trs terang saya gak mau cerai takut psikologis kedua anak terganggu. Bisakah lawyer saya menjembatani perdamaian ini. Jujur suami sangat kekeuh bercerai krn di support keluarga besar nya. Mohon sarannya…thx. wassalamuallaikum..

    1. Wa’alaikumsalam..
      Waduh, saya sudah reply ini sebelumnya, tapi ngga muncul ya. Mohon maaf, hape saya bermasalah di koneksi dan aplikasi wordpress-nya saat menulis reply. Saya jawab ya sekarang..

      Panggilan sidang biasanya dilakukan sekitar 30 hari setelah surat gugatan diajukan ke pengadilan. Tapi karena kemarin Ramadhan dan lebaran, mungkin jadinya lebih lama (bisa mulur). Jika memang Mbaknya belum menerima surat panggilan dari pengadilan agama, coba Mbak cek ke kelurahan dan tanyakan apakah ada surat panggilan (relaas) untuk Mbak. Kalau Mbak menggunakan jasa lawyer maka biarkan lawyer-nya yang bekerja, Mbak, termasuk mengecek relaas, apakah sudah sampai di kelurahan atau bagaimana. Silakan didiskusikan dengan lawyer bersangkutan.

      Jika Mbaknya tidak berniat cerai, silakan diungkapkan nanti di pengadilan ya. Lawyer Mbaknya hanya menjadi “kepanjangan tangan” buat Mbak, jadi tentu saja dia bisa meminta pengadilan untuk melakukan mediasi antara pihak Mbak dan suami. Nanti ketika mediasi, silakan disampaikan alasan kenapa Mbaknya tidak mau bercerai (karena alasan psikologis anak). Namun, di sisi lain Mbaknya juga harus mempertimbangkan psikologis anak jika Mbak dan suami tidak bisa segera menyelesaikan masalah rumah tangga ini, lho. Maksud saya, bisa ngga suami diajak bicara baik-baik, bahwa langkah bertahan ini adalah demi anak-anak, jadi ayolah saling memperbaiki diri.

      Saya khawatir dengan kondisi bahwa suami Mbaknya keukeuh (ngotot) bercerai, tapi Mbaknya ngga mau, lalu akhirnya malah jadi ribut melulu setiap hari sampai berantem di depan anak-anak, nah ini HARUS dihindari. Kemauan memperbaiki rumah tangga harus dari kedua belah pihak, tidak bisa dari salah satu saja. Jadi, mohon dipastikan suami dan Mbak masih punya iktikad baik menyelamatkan mental anak-anak, tanpa saling memendam dendam, ya.

      Mudah-mudahan jawaban saya membantu ya.
      Wa’alaikumsalam wr wb

  26. Assalamu’alaikum wr.wb
    Mbak mohon pencerahan nya atas kasus perceraian yg saya alami.
    Begini mbak, saya baru mendapatkan surat gugatan cerai dari pengadilan, di surat itu suami menggugat cerai saya dg alasan sudah tidak ada kecocokan lagi, sering bertengkar, orang tua sering ikut campur dan saya tidak mau menuruti arahannya sebagai suami. Padahal alasan utamanya bukan itu. Suami saya sudah mempunyai WIL, dia meninggalkan sy dan pergi dg wilnya itu. Saya tidak apa2 kalau bercerai tp jangan jellek2kan saya dlm aduannya itu. Apa yg harus saya lakukan ut menghadapi sidang perceraian saya mbak. Terima kasih sebelumnya

    1. Wa’alaikumsalam wr wb.,
      Mbak Wiwin yang baik, mohon maaf saya baru respon. Internet di hape saya agak bermasalah. Biasanya saya bisa langsung respon via HP, tapi saya kesulitan dua minggu terakhir. Maaf ya.

      Mbak Wiwin, saya pikir di sidang nanti Mbaknya bisa membantah yang dituduhkan oleh (calon mantan) suami. Mbaknya boleh juga mengatakan soal dugaan Mbak bahwa dia sudah ada WIL. Nanti biar hakim menilainya. Tapi intinya, memang sudah tidak ada kecocokan dan Mbak sudah setuju untuk bercerai–apakah demikian? Jika Mbaknya masih berniat mempertahankan, biasanya pengadilan akan melakukan mediasi; menjembatani perselisihan antara suami dan istri. Tapi jika memang kedua pihak sudah sepakat bercerai, pengadilan akan lebih cepat memprosesnya (sekitar 2-3x sidang, termasuk membawa saksi).

      Yang harus Mbak lakukan dalam menghadapi sidang adalah mental, Mbak. Bersabar dan tidak emosional adalah kunci utamanya. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, sidang di PA bisa bikin emosi dan stres. Tapi, insyaa Allah, hakimnya akan membimbing dengan baik. Selebihnya, dukungan keluarga dan teman, Mbak. Tidak perlu bercerita detail soal permasalahan rumah tangganya, cukup meminta mereka men-support secara moral dan mental saja.

      Begitu, Mbak. Semoga jawaban dari saya membantu, ya..

  27. Saya sudah mengajukan gugatan cerai kepada PA tigaraksa,,, kami berumah tangga baru 1tahun stengah… Namun sering kali terjadi perselisan dan tak permah bisa akur… Saya menggugat cerai karna suami saya kasar(KDRT) dan itu bukan hanya 1 atau 2 kali terjadi,, sudah kesekian kali terjadi. Dan pada bulan 3 saya mbuat surat perjanjian saya akan memberi dia kesempatan dan bila mana itu terjadi lagi saya akan menggugat cerai,, dan benar saja pada bulan 4 semua itu terjadi lagi yg menurut saya sudah cukup saya bertahan & mengalah… Akhir nya baru kemarin saya menggugat karna suami saya tidak ingin menceraikan saya. Apakah bisa surat tertulis perjanjian saya itu bisa jadi bukti & mempercepat sidamg percerain… Kami belum di karuniai seorang anak & KDRT sudah berjalan selama pernikahan…

    1. Mbak Siti Nuraeni yang sabar,
      Mohon maaf saya baru respon.

      Innalillahi. Saya turut sedih mendengarnya.

      Jika mengambil pelajaran dari kasus saya pribadi, semua bukti kekerasan dan perjanjian itu bisa menjadi bukti di pengadilan. Nanti Mbak sertakan saat mendaftar ke panitera (kalau PA Tigaraksa, dari lobi, masuk ke pintu kiri, melewati loket, belok kiri, di sebelah kiri ada meja pelayanan, nah Mbaknya daftar gugatan di situ. Paniteranya baik-baik, kok). Kalau bisa, Mbak mendaftarnya sudah sekalian membuat surat kronologi pernikahan ya, Mbak. Di-copy 6x. Nanti diserahkan ke panitera beserta KTP. Jangan lupa, dalam kronologi itu disebutkan alamat (calon mantan) suami. Nanti tanya jawab saja dengan paniteranya ya.

      Soal mempercepat sidangnya, itu hak majelis hakim. Nanti boleh diskusikan saja dengan panitera dan hakimnya, Mbak.

      Good luck ya..

  28. Mb maaf sdh mngganggu mau tnya sdkit apa slinan akte cerai bisa di ambil klu trgugat tdk tngan

  29. Assalamualaikum mbak..

    Saya menikah muda pd usia 21 th, sudah hampir 4 tahun dgn suami mbak, blm dikaruniai anak meski suda pernah hamil bbrapa kali & keguguran.. Sejak 2,5 tahun blakangan hampir tidak pernah berhubungan suami istri mbak, ujungnya awal tahun 2016 ini suami memutuskan keluar dr rumah. Kemudian saya sepakat dg suami untk berpisah & sdh rundingan kluarga besar. Suami saya blg dia suda mendaftarkan kasus di PA surabaya setempat sejak juli kmrn dg biaya pendaftaran 2 juta rupiah. Yang ingin saya tanyakan :
    1. Apa betul biaya pendaftaran semahal itu, pdhl di kota mbak kurang lebih 1 juta?
    2. Suami blg suda sjak juli sdh menggugat talak k pengadilan, tp smp hari ini blm ada surat panggilan kerumah saya ataupun orang tua saya, pdhl suami blg akan ada sidang tgl 19 bsk. saya harus follow up kmn ya mba? Saya cm takut kl trnyata blm diproses hanya dimulut saja..
    3. Kira2 brapa lama ya mba smp smua proses slesai? Krn jujur saya jd tdk fokus untuk melakukan hal lain krn kepikiran masalah ini..

    Terimakasih mbak, mohon bantuannya..wassalam

    1. Wa’alaikumsalam wr. wb.,
      Saya coba jawab sebisa saya ya, Mbak. πŸ™‚
      1. Besaran biaya pengadilan di setiap kota berbeda. Tapi, jujur, saya belum dengar kalau ada biaya pengadilan agama sampai Rp2 juta. Biaya perkara cerai talak (suami terhadap istri) paling tinggi yang saya tahu adalah Rp1,2 juta. Tapi entahlah ya, sepertinya untuk memastikan, Mbaknya harus menanyakan sendiri ke PA Surabaya.
      2. Jika memang sudah didaftarkan sejak Juli (setelah lebaran?) maka sidang biasanya dilakukan sebulan setelahnya. Jika Mbak tidak menerima relaas (panggilan pengadilan) mungkin bisa dicek ke kelurahan setempat, Mbak. Biasanya pengantar surat pengadilan menitipkan surat relaas di kelurahan, jika dia tidak menemukan langsung rumah tergugat.
      3. Lama atau sebentarnya tergantung kasus, Mbak. Jika ada perhitungan harta gono-gini atau hak asuh, bisa sampai 1 tahun. Tapi kalau hanya mengesahkan talak saja, biasanya hanya 3 bulan, plus menunggu akta cerai selesai (1-2 bulan). Saya paham sekali soal tidak fokus pekerjaan atau aktivitas lain karena menghadapi sidang cerai. Saya sendiri sempat menangis emosional saat tiba di PA dan hakim mengatakan alamat suami tidak ketemu, padahal saya bukan tipe orang cengeng. hehe..

      Selebihnya, beranikan dan semangati diri ya, Mbak. Mungkin ini bukan jalan paling ideal. Tidak ada orang yang berencana bercerai. Saya yakin Mbak dan Masnya sudah berusaha maksimal memperbaiki pernikahan, tapi harus berakhir di pengadilan. Semoga ini jadi pembuka jalan yang lebih baik bagi Mbak dan Masnya. Good luck, Mbak Widi. πŸ™‚

      1. Asalamualaikum
        Mbak sya bngung sya di gugat cerai oleh suami saya itu pun suami saya di hasut oleh ibu nya sendiri dan masalh nya gak begitu rumit hanya saja suami saya punya hutang sbesar 75000 dan saya marah karna gak terus terang tapi kenapa ya mbak sya smpai mw digugat cerai padahal saya menikah baru 2thun dn ank sya msh bgtu kcil bgtu pn umr sya msh 21 thn .bsa ksih solusinya gak mbak

      2. Wa’alaikumsalam wr wb,
        Mbak Santi yang baik. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Mbak, karena masalah internal ini hanya Mbak dan suami yang sangat paham duduk persoalannya. Namun, sebagai orang yang sudah dewasa dan berani memutuskan menikah, hendaknya Mbak dan suami mampu membicarakan baik-baik masalah yang dihadapi. Kemudian diselesaikan secara baik-baik pula. Bercerai adalah opsi terakhir, yakni jika pernikahan tersebut akan mendatangkan mudharat bagi suami maupun istri. Selama pernikahan masih bermanfaat dan tidak ada pihak yang dirugikan/tersakiti maka sebaiknya tidak bercerai. Jika memang permasalahannya ada di orang tua suami, maka minta tolong kepada suami agar dipertemukan dengan beliau dan bicarakan masalahnya dengan cara paling baik. Mintalah saran di mana kekurangan Mbak menurut beliau dan apa yang harus diperbaiki, lalu ikuti saran ibunda, insya Allah itu lebih barokah.

        Dicoba ya, Mbak. Good luck.
        Wassalamu’alaikum,
        NF

  30. Assalamu’alaikum mbak…
    Saya berencana untuk menggugat cerai suami setelah 11 tahun lebih kami bersama.Kami dikaruniai 4 orang anak yg masih kecil. Masing-masing usia 10,8,3,dan 1 th. Selama 11 tahun, rumah tangga kami bahagia dan rukun,dan saya memberikan kepercayaan sepenuhnya sampai akhirnya sebulan yg lalu saya berkeinginan untuk melihat “aktivitas” Gadget suami saya. Dari sana saya ketahui bahwa selama ini suami selalu mencari informasi tempat-tempat spa dan hiburan,bahkan wanita “Bispak” di setiap tempat yang dia kunjungi. Kabetulan suami sering Berpergian keluar kota hampir setiap bulan. Saya memang tidak melihat langsung perbuatannya,tapi saat saya menyampaikan langsung apa yg saya ketahui dia mengakui kesalahannya dan meminta saya untuk memaafkannya.Dan dia berjanji akan berubah dan bertaubat.Tapi saya sudah-sangat-sangat sakit hati dan terpukul dengan semua yg saya ketahui. Yang terfikirkan saat ini hanya ingin bercerai. Karena sedari awal saya selalu memberi ultimatum kepada suami untuk jangan pernah melakukan satu kesalahan yg tidak akan pernah saya maafkan yaitu perselingkuhan.Saya sadari dengan gaji saya sebagai PNS tidak mencukupi menghidupi anak-anak saya yg masih kecil.Tapi saya fikir Allah pemilik rizqi dan yang akan mencukupi kebutuhan kami. Untuk itu saya mohon pencerahannya ya mbak,pilihan mana yg harus saya tempuh. Bertahan dengan hati hancur dan kehilangan kepercayaan terhadap suami ataukah berpisah dengan resiko membesarkan anak-anak yg masih kecil sendiri.Terimakasih atas bantuannya mbak….

  31. Mbak.saya udah menikah 4thn.anak 1.cewek.3thn.kami berdua PNS.saya.suami mau menceraikan saya.karena mertua selalu ikut campur urusan rumah tangga.dan saya pernah berkata kasar pada mertua.mertua marah dan saya diminta mohon maaf pada mertua tapi tidak mau..saya ndableg.akhirnya suami saya tetap membela mamanya.saya tidak mau cerai dari suami.gimana ya mbak.tanggapannya?

    1. Mbak Noormi yang baik,
      Mohon maaf, tanggapan saya tegas: hindari perceraian dengan meminta maaf kepada suami dan kepada mertua.

      Bagaimanapun mertua adalah orangtua kita. Jika mertua terkesan turut campur, bersabarlah. Insya Allah, namanya orangtua, pasti selalu memberi nasihat dan saran yang, mungkin menurut mereka, terbaik untuk anaknya. Jika memang bagus, tak ada salahnya ikuti nasihat tersebut. Jika ternyata kurang cocok, katakan kepada mertua dengan lemah lembut, bahwa saran mereka sudah dipertimbangkan tapi Mbak dan Masnya lebih cocok dengan cara lain. Atau Mbaknya, cobalah berbicara baik-baik kepada suami, pas suami sedang senang hatinya, katakan agar ia bersedia meminta orangtuanya untuk sedikit memberi kelonggaran kepada Mbak dan Mas menjalani rumah tangga. Saya pikir, sikap “turut campur” orangtua adalah bagian dari kasih sayang dan kekhawatiran mereka terhadap anak. Mungkin agak overprotektif, tapi begitulah orangtua. Cobalah bicara dari hati ke hati, katakan untuk percayai anak-anaknya. Yakinkan mertua/orangtua bahwa mereka sudah membesarkan anak dengan baik. Caranya yang lembut dan sabar ya, Mbak, jangan dengan sikap defensif atau malah ofensif, lho.

      Jangan lupa, Mbaknya punya anak, yang insya Allah suatu saat juga akan menikah. Nanti Mbak akan merasakan sendiri betapa cemasnya Mbak terhadap nasib anak ke depannya. πŸ™‚ Ndableg-nya Mbak ini, menurut saya, karena ego saja. Dalam pernikahan, ngga ada gunanya memelihara ego, Mbak. Itu malah bisa jadi sumber petaka yang lebih besar. Ayo, Mbak, dibesarkan hatinya, disabarkan nuraninya, lalu hindari perceraian semampu Mbak dan Masnya.

      Semoga Allah memudahkan ya. Aamiin.. (Sekalian #doaJumat nih, Mbak. πŸ™‚ )

      Salam hangat,
      NFR

  32. hai mbak, mau tanya. Katanya butuh legalisir surat nikah dan akta yah sebagai syarat dokumennya? Kalau untuk wilayah tangerang legalisirnya di mana yah? Mohon dibantu

    1. Betul, Mbak Desvita. Minta legalisirnya ke kantor pos besar di kota setempat. Kalau saya, di Tangerang Selatan, minta legalisir (dgn materai juga) di Kantor Pos yg ada di Gaplek, Pamulang. Saya kurang tau kalau Kota Tangerang di mana kantor pos besarnya. Nanti ditanya aja ke paniteranya, Mbak.

  33. Mbak saya mau bertanya….
    Apa wajib wanita yang minta khulu’ harus mengganti semua mahar suami nya.
    Padahal pernikahan nya baru sebulan….?
    Terima kasih

    1. Coba ditanyakan lagi ke ahlinya di KUA, Mas. Saya bukan ahli agama. Tapi setahu saya, mahar adalah hak penuh istri, jadi tidak ada “penalti” harus mengembalikan mahar ke suami yang dinikahinya (berapapun lamanya). Namun agar lebih mantap, kembali saya sarankan, ditanyakan ke ahlinya di KUA terdekat, ya.

  34. Assalamu’allaikum mb Nina.. saya bru saja menikah dan ingin bercerai dgn suami saya karena ada alasan yg tdk bisa saya ceritakan.. tapi kondisi saya skrg sedang hamil 5.5 bulan.. umur saya masih 23 tahun.. saya takut kalo keputusan sya ini kputusan labil.. dan sya tidak paham dgn proses perceraian.. apa yg harus saya lakukan prtama kali ? Hrus kemana saya dtg untuk mndaftarkan perceraian ? Apa saja berkas yg hrus saya siapkan.. tolong infonya mb nina.. terima kasih

    1. Mbak Afida yang sabar, aduuuh masih muda amat. Hanya beda 4 tahun dengan anak sulung saya. 😦

      Begini, Mbak, setahu saya, pengadilan tidak akan mengizinkan wanita yang sedang hamil bercerai. Harus tunggu sampai anaknya lahir, bahkan selesai disusui (sampai anak usia 2 tahun). Di sisi lain, pengadilan akan berharap, dengan lahirnya anak, orangtuanya akan berubah pikiran dan berubah sikap lebih bijak, sehingga membatalkan niat bercerai. Namun untuk lebih jelasnya, coba Mbak konsultasikan dengan penghulu di KUA terdekat. Gak apa-apa kok, biasanya mereka bersedia memberi nasihat terkait kehidupan berumah tangga.

      Proses perceraian itu nanti lagi dibahas ya. Atau baca aja artikel dan komentar2 di bawah ini ya, Mbak. Mungkin ada jawaban-jawaban yang dicari.

      Jujur, saran saya sih, bersabar untuk anaknya, Mbak. Bersabar memang tidak dengan diam dan pasrah (ini sih bukan sabar namanya), melainkan berusaha menyelesaikan masalah dengan bijak, lalu ambil solusi yang bijak pula.

      Good luck ya, Mbak.

  35. Mbak Nina yg baik hati,
    Sy ingin minta pencerahan dari Mbak..
    Saat ini sy berada di rumah mama sy karna kemarin sy ada sedikit konflik dgn suami.
    Sekedar info, Mbak, usia pernikahan kami baru setahun lebih 2 bulan.
    Sy merasa kesalahan dalam pernikahan ini adalah perkenalan yg terlalu singkat sehingga kami belum mengenal karakter masing2.
    Suami sy ternyata temperamental.
    Dan selama bbrp bulan terakhir ini, dia suka minum miras. Sy sebut miras saja, kalo menurut dia itu sejenis arak obat yaitu arak yg direndam akar2an, arak cina gitu deh, Mbak. Dia bilang itu membantu dia tidur lelap, karna agak susah tidur.

    Padahal sy sering meminta dia untuk berhenti minum2. Kalo mood nya lagi bagus, tidak ada masalah. Tapi kalo mood nya sedang tidak bagus, maka dia bisa marah2 mengeluarkan kata2 kasar dan banting2 barang.
    Orangnya kan temperamen. Apalagi ditambah efek mabuk, maka bisa lebih parah lagi.

    Akhirnya kemarin kejadian lagi, dia marah2 dgn kata kasar, banting2 barang. Maka sy pun mengepak barang2 sy dan keluar dari rmh.

    Yg ingin sy tanyakan, Mbak, kalo misalnya sy berencana bercerai, bisakah sy menggunakan alasan suami suka minum2 di pengadilan, tapi tidak punya bukti?
    Saat ini sy sedang hamil. Apakah dgn kondisi sy hamil, dapat mempersulit proses perceraian?

    Terima kasih banyak telah berkenan membaca dan mau menjawab pertanyaan2 sy yah, Mbak..

    1. Mbak SS yang sabar,
      Terima kasih sharing ceritanya. Saya turut prihatin dengan kondisi yang Mbak alami. Saya dahulu juga sempat mengalaminya, hanya berbeda “substance” saja. Efeknya sama, suami sering mengamuk tak jelas hanya karena merasa tersinggung.

      Kembali ke kisah Mbak SS, tindakan Mbak keluar dari rumah demi menyelamatkan kehamilan Mbak, saya kira itu sudah sewajarnya. Jangan sampai Mbak mengalami KDRT, karena orang yang sedang tidak sadar akibat pengaruh alkohol atau obat-obatan tidak bisa mengendalikan emosinya. Saya pikir, sudah benar Mbaknya menyelamatkan diri. Suami Mbak membutuhkan pertolongan profesional dan itu adalah tanggung jawab dia sendiri.

      Saya menyarankan sih, kalau bisa jangan sampai bercerai. Diperbaiki, jika masih memungkinkan. Apalagi karena Mbak masih hamil. Pengadilan biasanya akan menunda sampai Mbaknya melahirkan, barulah sidang gugat cerai bisa diproses.

      Maka dari itu saran saya, konseling, Mbak. Minta nasihat dari wali, boleh dari pihak keluarga, yang penting netral, tidak berpihak. Jika tidak ada, Mbaknya bisa ke penghulu di KUA setempat. Jika Mbaknya non-Muslim, Mbak bisa minta nasihat ke pemimpin rumah ibadah yang biasa Mbak datangi. Upaya baik, insya Allah, akan berujung baik pula.

      Saya harap keadaan Mbak akan membaik ya, ke depannya. Semoga Allah senantiasa melindungi. Good luck.

      Regards,
      NF

  36. Mba makasih sharingny. Saya jadi merasa tidak sendirian mengalami cerai ini. Saya sndiri sudah mengajukan gugatan dan akhir bulan akan sidang pertama. Suami saya adiksi berat dgn alkohol. Saya sudah usaha berbagai hal termasuk ke ustad, psikolog, psikiater, dll tapi masi saja minum dan melebar ke bohong, manipulasi, cemas, dll yg menyebabkan ketidakstabilan emosi.
    Saya ingin tanya setelah proses cerai, teknis urusan anak bagaimana ya? Apa ada hari2 dimana anak sm ayahnya atau tetap menghabiskan waktu sbg keluarga atau bagaimana? Lalu mengatasi kesepian biasanya mba ngapain? Terima kasih yaa mba

    1. Terima kasih kembali, Mbak Tasa. Saya senang jika postingan (dan komentar-komentar di bawah ini) membantu orang lain, somehow. πŸ™‚

      Saya turut prihatin dengan kondisi yang Mbak alami. Sayang sekali suami Mbak tidak bisa lepas dari adiksinya terhadap alkohol. Memang jahat efek alkohol dan zat adiktif lainnya itu. Bisa merusak rumah tangga secara signifikan.

      Mengenai urusan anak, untuk anak di bawah usia akil baligh pasti disarankan agar tinggal dengan ibunya. Apalagi jika ayahnya ada sejarah berurusan dengan alkohol. Namun tentu saja ayahnya boleh mengunjungi. Dijadwal dan dengan “perjanjian” ayahnya tidak dalam keadaan “high” saat bertemu anaknya. Karena anak selalu belajar dari contoh, Mbak. Maka orangtua harus bersedia mengorbankan ego, menahan diri tidak terlalu menampakkan “aslinya” di depan anak.

      Cara saya mengatasi kesepian sih biasanya dengan cara menyibukkan diri saja, Mbak. Bisa dengan cara lebih fokus bekerja, belajar masak mencontoh resep dari youtube (hehe), menulis (melanjutkan novel saya yang tertunda), nonton, mendengar pengajian, atau apapun yang saya sukai. Dengan kata lain, mengatasi kesepian yang efektif adalah dengan menjalani “me time”. Selebihnya, saya banyak ngobrol dan bercanda dengan anak-anak saya di rumah. πŸ™‚

      Untuk Mbaknya, good luck, ya.

      Regards,
      NF

  37. Ibu nina.saya ibu noormi terima kasih banyak atas nasehatnya.(26 agust 2016)..saya sudah minta maaf sama mertua atas kesalahan saya..tetapi 2 hari setelah itu.suami bilang masih ragu sama saya apakah saya bisa merawat mamanya atau tidak.akhirnya suami memilih pisah ranjang..dan saya pergi dari rumah.dan memilih kos.hati saya tidak kuat bila tinggal di rumah itu..suami yg mengantar kos.seminggu saya di kos.suami susah dihubungi.telp gak diangkat.WA gak dibales..dan kemarin katanya akan menceraikan saya.dan dia yg akan menjadi penggugat..apa yg harus saya lakukan ibu nina.segala upaya sudah saya lakukan.mohon sarannya.

    1. Bu Noormi yang baik,

      Sabar ya. Mungkin suami ibu masih emosi. Berikan dia waktu untuk mencerna keadaan. Dalam hal ini, mungkin beliau masih belum bisa percaya lagi ke Ibu. Saya agak menyayangkan bahwa Ibu memilih keluar dari rumah daripada pisah ranjang. Padahal jika Ibu tetap di rumah, walaupun berbeda kamar, Ibu bisa membuktikan kesungguhan Ibu dengan langsung mengurus mertua secara lebih baik.

      Tapi sudahlah. Keputusan sudah diambil. Sekarang, jika Ibu mau, banyak cara menuju kebaikan. Datanglah ke rumah, beralasan menengok ibu mertua, bawakan makanan kesukaannya, lalu kembali ke kos. Lakukan hal-hal menyenangkan yang bisa membuat ibu mertua dan suami jatuh cinta lagi sama Bu Noormi.

      Jikapun suami keburu mengajukan cerai, nanti di pengadilan, Ibu bisa meminta mediasi dan menegaskan bahwa Ibu ingin mencoba memperbaiki rumah tangga dan tidak ingin bercerai. Pengadilan akan lebih suka jika suami-istri rujuk kembali kok, Bu. πŸ™‚

      Dicoba ya, Bu. Semoga lancar, ya. Aamiin..

      Regards,
      NF

  38. Assalamualaikum, ibu nina saya mau bertanya tntng hak asuh anak.
    2 th yg lalu suami sy menggugat cerai talak sy. 1 th yg lalu keputusan pengadilan mengabulkan permohonan mantan cerai talak sy. Dlm keputusan hakim secara lisan wktu itu hakim mengatakan hak asuh anak kami ( perempuan ) jatuh ke tngan sy krn masih di bwh umur 5 th.
    Yg sy ingin tanyakan
    Apakah ada bukti tertulis tntng keputusan hakim trsebut, Krn sy baca di lembar surat keputusan bersama dgn akta cerai sy tdk disebutkan tntng keputusan hakim bhwa hak asuh jatuh ke tangan sy.
    Bagaimanakah cara agar sy bisa mendapatkan bukti tentang keputusan hakim tersebut ?

    Mohon jawaban dan sarannya. Terima ksh bu Nina

    1. Wa’alaikumsalam wr wb.,

      Mengenai hak asuh anak, mungkin Ibu bisa minta nasihat ke panitera sidang ybs. Ibu masih menyimpan nomor register sidang (dari relaas) kan? Di negara kita memang kurang ketat pengawasan mengenai hak asuh, kecuali melalui pengacara. Kalau personal, agak sulit memang, makanya diperkuat dengan saran dari panitera saja.

      Jika boleh saya beri masukan, kalau bisa sih soal ini dibicarakan secara kekeluargaan saja, Bu. Perlu diingatkan bahwa anak adalah manusia yang memiliki hak dilindungi, juga memiliki keinginan yang harus dipenuhi. Jangan gunakan anak sebagai alat.

      Di sisi lain, menurut Pasal 105(a) Kompilasi Hukum Islam berbunyi: “Pemeliharaan anak yang belum mummayiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.”

      Selebihnya, seperti saya katakan tadi, coba ditanyakan ke panitera PA bersangkutan. Biasanya mereka menyimpan juga salinan putusan hakim.

      Semoga lancar ya, Bu.
      Regards,
      NF

  39. assalamualaikum..
    mau tanya mbak
    saya sudah sidang terakhir dan keputusan
    apakah bisa nikah hanya dengan salinan keputusan carai
    ada yg bilang bisa dan yg bilang gx bisa
    kalo nunggu akta carai kn msh lama
    tp salinan keputusan cerai bisa diambil
    kira” bisa gx yaa itu

    1. Wah buru-buru amat, mau nikah lagi. Hehehe..

      Maaf ini “Mas” atau “Mbak”? Kalau “Mbak”, wajib nunggu masa iddah dulu ya, baru boleh menikah lagi. Kalau ternyata “Mas”, setahu saya sih laki-laki tidak perlu menunggu masa iddah. Bisa menikah tanpa surat cerai juga, tapi masuknya jadi poligami (ada syarat-syarat lagi dari KUA untuk ini kalau ngga salah). Dan kalau memang mau menikah dengan status duda, biasanya penghulu tetap meminta akta cerai, agar bisa “ditukar” dengan surat nikah.

      Tapi coba tanyakan ke penghulu KUA, ya. Yang lebih paham aturan-aturan itu mereka sih.

      Good luck.
      Regards,
      NF

      1. Ass mba
        Maaf mba saya mau tanya saya di talak 3oleh suami saya dan dia ingin mengurus percerain itu ke PA,yang jadi pertanyaan saya apakan PA akan menyetujui gugatan cerai suami saya padahal saya tidak mau cerai karna saya masih syang n cinta dan anak2 kami masih pada kecil2?mohon jawabnya terimakasih

      2. Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarokatuh,
        Saya turut prihatin, Mbak Purti. Hanya saja mengenai PA menyetujui gugatan itu sepenuhnya pertimbangan dan hak hakim untuk memutuskan. Saya tidak bisa membantu menjawabkan soal ini, mohon maaf ya.

        Semoga dimudahkan semua urusannya, Mbak. Good luck.
        NFR

  40. Asalammualaikum mb…
    Saya sudah mengajukan sidang perceraian terhadap suami saya…sidang pertama dy tdk datang…kemaren tgl 27 sidang ke 2 dy datang…dan sidang d tunda…yang jd pertanyaan saya berapa lama sidang itu akan d tunda…dan apakah saya bisa bercerai dengan mudah dengan suami saya…karena suami saya tdk mau bercerai dengan saya….

  41. Asalamualaikum mb
    Saya sudah mengajukan perceraian dgn suami saya….sidang 1 dy tdk hadir tp sidang 2 kemaren tgl 27 datang…yang jd pertanyaan saya brp lama sidang itu d tunda…dan giman caranya biyar sidang berikutnya lebih mudah karena suami saya tdk mau d cerai……sedangkan saya bnr2 tdk nyaman….

    1. Wa’alaikumsalam wr. wb.,
      Sepengetahuan saya, jarak sidang satu ke sidang berikutnya biasanya 1 bulan. Berapa kali sidang, tergantung pada prosesnya. Jika suami tidak datang di sidang 1, tapi hadir di sidang 2, biasanya setelah itu pengadilan akan memperpanjang waktu proses sidang untuk mediasi, pemanggilan saksi dari dua pihak, dst. Kalau saja suami tidak hadir di sidang 2, mungkin di sidang 3 (plus dua saksi, minimal) hakim sudah bisa putusan. Ternyata suami hadir, ya diproses lebih panjang pastinya.

      Saya tidak tahu berapa kali sidang baru selesai (putusan), itu hanya hakim yang paham ya, Mbak. Proses sidang memang tidak pernah nyaman. Untuk ambil Akta Cerai saja masih butuh proses lagi, tergantung pada bagusnya koordinasi antar Pengadilan Agama (jika suami istri beda tempat tinggal, beda kota, apalagi beda provinsi). Selebihnya, saya hanya bisa mengucapkan, bersabar dan semoga Allah melancarkan jalannya. Aamiin..

      Regards,
      NF

  42. Maaf mbk sy mau ty, sy pngin skali ngajukan surat cerai tp sy msh bingung krn sy gk py bukti kuat utk di pengadilan nanti,suami sy sering skali bbm mesra dgn perempuan lain, dah sering skali mbk bahkan dia pun dr awal nikah hobbinya bohongin sy trs, pdhal dah stiap x kebohongannya sy pergoki, yg bt sy galau bukti bbm mesra dgn perempuan lain di hapus oleh suami sy,jd sy gk py bukti lg…
    Sy dah gk kuat utk jlnin rmh tangga yg dah di khianati, kr2 bs gk ya mbk sy ajukan cerai tanpa ada bukti, klu saksi sy py 1org dl prnh sy liatkan bbm mesranya sm adik sy sndr,
    Kira2 di trima gk ya mbk gugatan cerai sy di pengadilan….
    Trimaksh….

    1. Mbak Nitha yang baik,
      Sebaiknya sih memang melampirkan bukti-bukti perselingkuhan suami jika ada. Tapi kalau ndak ada, dicantumkan aja di surat pernyataan kronologi (diketik) dan mengajukan saksi (minimal 2 orang) yang paling paham kondisi rumah tangga Mbak Nitha dan suami. Selebihnya, serahkan sama proses pengadilan ya, Mbak. Hakim PA itu orang-orang yang sangat jeli kok menilai perkara. Yaa secara memang itu profesi mereka sehari-hari kan, sudah hapal dengan tingkah laku orang. Jadi kalau nanti suaminya Mbak berbohong, yaa hakim biasanya tahu kok. Wallahua’lam.

      Good luck ya, Mbak.

      Regards,
      NF

  43. Mba nina maaf daya mau bertanya ini kan surat panggilan pertama saya sdh turun ya,dan di surat itu ada yg harus saya tanda tanggani,tp saya tdk ingin hadir dalam persidangan tersebyt,gimana caranya saya mengembalikan surat tersebut ya..makasih

    1. Mbak Sisca yang baik,
      Pertama-tama, saya kurang tahu bagaimana bentuk surat panggilan sidang pengadilan, karena ngga pernah menerimanya (karena saya yang gugat), Mbak. Hanya saja hakim sempat menjelaskan kalau surat panggilan itu seharusnya dikembalikan ke pengadilan agama bersangkutan (yang memanggil). Alamatnya di kop surat panggilan biasanya sih. Tapi coba ditanya ke kelurahan. Mereka juga paham soal surat menyurat panggilan pengadilan ini, Mbak.

      Good luck ya..
      Regards,
      NF

  44. Siang Mbak Nina,

    Saya baru selesai proses persidangan perceraian dan hakim sudah membacakan putusan,
    kira2x berapa biaya untuk mengurus akta cerai di pengadilan negeri ya mbak?

    1. Dear Mbak Pinky,
      Hakim sudah kasih tau pastinya kapan akta selesai?
      Saran saya, sebelum Mbak datang ke PA untuk mengambil akta nanti, telepon dulu ke dan pastikan suami (jika berbeda lokasi) sudah menerima surat putusan tersebut. Karena tanpa salinan surat putusan dari PA lawan, akta cerai tidak bisa diproses. Saya mengalami ini selama berbulan-bulan, makanya akta saya agak lama baru selesai.

      Mengenai biaya, bisa ditanyakan ke petugas di pusat informasi (bisa ditelepon, atau tanya langsung). Kalau di PA Tigaraksa, biaya pengambilan akta cerai sekitar Rp70.000-an (di bawah Rp100.000 setahu saya). Tapi bisa saja setiap PA berbeda besarannya, makanya harus ditanyakan ke petugasnya, Mbak.

      Selebihnya, good luck dengan lembaran barunya, Mbak. Semangat yaa..

      Regards,
      NF

      1. Dear Mbak Nina,

        Saya berperkara di pengadilan negeri Bekasi, bukan di Pengadilan Agama, dan selama proses persidangan mantan suami tidak pernah hadir sehingga hakim memberikan keputusan secara verstek. baru saja kamis kemarin hakim membacakan putusannya, panitera yang menangani perkara saya berkata untuk menghubungi kembali kurang lebih 2 minggu utk mendapatkan salinan putusannya untuk saya urus akta cerai di catatan sipil,
        Apakah proses di PA dan PN sama atau berbeda ya mbak?

      2. Waduh, maaf ini komentarnya kok masuk spam ya..
        Saya baru baca ada komentar lagi dari Mbak Pinky, jadi baru saya jawab, maaf ya..

        Kalau perkaranya di pengadilan negeri, mungkin karena dulu menikahnya beda agama ya, Mbak? Yang saya pahami, perkara cerai di pengadilan agama itu hanya yang untuk suami-istri yang agamanya sama. Jika suami-istri berbeda agama maka diprosesnya perdata di pengadilan negeri (yang saya tahu sih).

        Namun, maaf saya kurang paham proses cerai di PN dengan di PA itu sama atau berbeda. Catatan sipil itu mungkin di kantor kabupaten/wali kota ya.. Karena level PN dan PA itu tingkat kotamadya atau kabupaten, setahu saya sih.

        Maaf saya tidak bisa banyak membantu dengan jawaban ini, Mbak Pinky.
        Kalau bisa sih Mbak Pinky nanti yang sharing pengalamannya di sini ya. hehe..

        Regards,
        NF

  45. Hallo mba nina..
    saya dan suami saya sudah menikah selama 2 tahun 2 bln dan dikaruniai 1 orang anak usia 16 bln..
    Sudah hampir 1 bulan saya dan suami saya pisah rumah karena kami bertengkar.. dan suami saya memutuskan untuk pisah dengan saya karena dia sakit hati jika kami sedang bertengkar menurutnya saya kerap berkata kasar dan membentak. Juga dia sakit hati karena saya terkadang melarangnya bermain gitar dan meledeknya yg sering ke toilet. Dan masalah pertengkaran 3 bulan lalu yang sudah selesai pun dia ungkit, padahal saat itu kami sudah baikan, sudah rukun.
    Saya sudah meminta maaf dan meminta suami saya untuk pulang tapi dia gak mau, alasannya karna sudah sangat sakit hati dan dia bilang sudah tidak cinta dan sayang lg kepada saya..
    info yg saya dapat, suami saya sudah membuat surat gugatan cerai untuk pengadilan.
    Pertanyaan saya, apakah mungkin gugatan suami saya dikabulkan oleh pengadilan dengan alasan seperti yg saya sebutkan di atas? Jujur saya tidak mau bercerai dengan suami saya karena anak kami.
    dan apa yang harus saya lakukan agar gugatan suami saya ditolak oleh pengadilan?
    mohon balasannya mbak nina, terima kasih…

    1. Salam, Mbak Febri..
      Terima kasih sudah menjelaskan duduk permasalahan secara garis besarnya. Appreciate it.

      Mengenai talak–kalau suami yang mengajukan gugatan cerai, dinamakan cerai talak. Sedangkan kalau istri yang mengajukan, namanya cerai gugat–suami bisa saja mengajukannya ke pengadilan agama. Namun jika istri tidak terima dengan gugatan tersebut, silakan dikatakan di depan hakim. Artinya, Mbaknya HARUS datang saat sidang. Lalu nanti diceritakan saja permasalahannya, bahwa Mbak Febri sudah minta maaf dan sudah tidak lagi mengulangi perbuatan yang membuat suami sakit hati tersebut.

      Jika sudah demikian, biasanya pengadilan akan melakukan mediasi antara suami dan istri. Sidangnya akan panjang, karena lama atau tidaknya proses mediasi tergantung kedua belah pihak. Jika salah satu keukeuh (ngotot) tidak mau berpisah, biasanya pengadilan akan membatalkan tuntutan/gugatan. Proses di pengadilan tidak sekali jadi kok, Mbak, perlu berbulan-bulan, dan pengadilan baru bisa memutuskan jika kedua belah pihak sudah ada kesepakatan (mau berpisah atau bertahan). Kalau ngga sepakat juga, ya dibatalkan. Begitu sih yang saya tahu.

      Selebihnya, jika memang suami masih sakit hati, tak apa diberikan ruang saja supaya beliaunya bisa berpikir jernih kembali. Namanya dalam pernikahan, masalah yang timbul karena perbedaan pasti selalu ada. Menikah itu bukan hanya sekadar “menyamakan” visi, melainkan bagaimana kita mampu saling menerima kelebihan dan kekurangan. Nanti di pengadilan, biasanya hakim akan mengingatkan kembali dan menyadarkan suami-istri soal apa makna pernikahan kok. πŸ™‚

      Kalau ternyata suami belum sempat ke PA dan Mbaknya memang tidak ingin berpisah, coba datangkan wali untuk menengahi konflik yang terjadi. Ke Penghulu di KUA, minta nasihat, boleh kok. πŸ™‚

      Good luck ya.
      Regards,
      NF

      1. Mbak, saya ingin membuktikan kepada suami saya kalau saya sudah berubah. Tapi saya tidak bisa menunjukkan perubahan diri saya itu kepada suami saya karena kontak bbm saya dia hapus, whats app pun di block. Saya pernah sms suami saya, bilang kalau saya sayang dia, tp tidak di balas..
        saya takut jika nanti suami saya benar benar menggugat cerai saya tp dia tetap keukeuh dengan pendiriannya walaupun saya sudah ngotot tidak mau pisah.. karena ayah saya bilang jika suami yg keukeuh ingin cerai maka pengadilan mau tidak mau akan mengabulkan..
        kira kira bukti apa saja ya mba yg harus saya lampirkan jika nanti hadir di persidangan untuk mempertahankan pernikahan saya?
        Maaf mba nina pertanyaannya berlanjut, karena saya sangat bingung dan sangat tidak ingin cerai.. terima kasih..

      2. Iya, paham, Mbak.
        Nanti diyakinkan saja kepada hakimnya ya, Mbak. Mudah-mudahan suaminya Mbak nanti terbuka hatinya, bersedia sama-sama memperbaiki diri dan berbesar hati untuk memberi kesempatan kedua demi anak yaa.. Aamiin..

        Good luck, Mbak.
        Regards,
        NF

  46. assalamualaikum, mba saya mau nanya. saya dulu menikah di sukabumi jawa barat, skrg saya tinggal di jkt ngikut suami saya. tapi selama awal menikah memang saya sering ada perselisihan ribut yang terus menerus sampai sekarang, saya dan suami saya memang sudah sepakat ingin pisah , tapi suami saya belum juga mengurus gugat cerai . saya punya anak 1 umur 16bln , saya ingin anak tidak ada yg menghak , saya ingin adil kalo untuk hak asuh anak. kira2 awal pengajuan gugat cerai itu kmn ya?

    1. Wa’alaikumsalam wr wb.
      Mbak Reni yang baik,
      Setahu saya cerai gugat (oleh istri) ataupun cerai talak (oleh suami) diajukan ke Pengadilan Agama sesuai KTP (dan KK) yg berlaku dari pihak istri. Jadi, coba Mbaknya lihat, KTP dan KK Mbak (yg masih berlaku ya), Dinas Kependudukan mana yang mengeluarkannya. Jika ternyata KTP+KK Mbaknya masih Sukabumi, artinya PA Sukabumi. Jika KTP+KK Mbaknya Jakarta, ya ke PA Jakarta. Alamat PA-nya bisa dicari lewat google, Mbak.

      Mengenai hak asuh, bisa berdasarkan kesepakatan. Tapi biasanya anak yang belum akil baligh pasti diputuskan ikut ibunya.

      Semoga permasalahan Mbaknya berlanjut jadi baik, ya. Good luck, Mbak.

      Regards,
      NF

  47. Selamat sore mbak… sy mau shared soal pernikahan sy… pernikahan sy sdh 5 thn… dr pernikan sy memiliki seorg putri(5thn) dan seorg putra(2thn)… pernikahan sy dr awal menikah sampai skrg isinya hanya bertengkar… sy sdh tdk tahan dgn sikap dan sifatnya yg emosian… salah atau tdk sy slalu d marah… stiap hari sprti itu… dan d saat dia mrh walaupun di dpn org banyak sambil maki2… dan slama pernikahan kt tinggal di rumah mama sy… dan mama sy sebagian besar punya banyak andil dlm rmh tangga kt… menafkahi anak2 sy,berikan pendidikan yg baik utk anak sy… support kt secara materi… tp mama sy tdk pernah mau ikut dlm urusan rmh tangga kecuali soal kebutuhan anak2,,dan itu gk d indahkan sm suami sy malah dia bilang kalau dia tidak suka sm mama sy… dan sifat suami sy yg sypun malu sm org2… stiap kali ngobrol sm org dia slalu ngomong punya harta ini itu(harta milik mama sy di akui punya dia) punya tanah dmn2 punya rmh kontrakan dmn2… dan blm setahun belakangan ini sy punya rasa curiga yg sangat teramat besar kalau suami sy punya WIL namun sy gk menunjukan itu secara langsung dan posisinya saat itu suami sy bekerja di luar kota ngurusin toko pamannya.dan kt ktm hanya 3 ato 4bln sekali… selama sethn kerja d luar kota kt hanya bertemu 2 kali… di pertemuan kedua itu tepat di bulan mei kemarin rasa curiga itu ada krn wanita itu tinggal bareng suami sy dan karyawan yg lain di toko yg sm… rasa curiga itu terus menghantui sy… dan akhirnya sy pun berinisitif utk tlp wanita itu… secara baik? Wkt sy tlp hallo apa kabar ? “Baik… *sy boleh tanya sesuatu dan km bs jujur tanpa basa basi wanita itu menangis dan menceritakan klu dia dan suami sy sdh berhubungan selayaknya suami istri… berhubungan badan dan itu sdh lbh dr 2 kali… sy saat ini sangat terpukul dan hancur sy ingin sudahi pernikahan sy.yg ingin sy tanyakan apakah di pengadilan nnt rekaman percakapan kami bs di jadikan bukti ? Di karnakan posisi wanita tersebut sdh pulang kampung ? Mohon pencerahanny

    1. Mbak Lisan yang baik,
      Maaf saya baru baca dan approve komentarnya sekarang karena seharian ini saya ada pelatihan di luar kantor. πŸ™‚

      Saya turut membaca ceritanya Mbak. Semoga ke depannya mendapatkan jalan terbaik ya, Mbak.

      Mengenai rekaman pembicaraan, bisa saja dimasukkan ke dalam gugat cerai di pengadilan nanti. Hanya saja, nanti saat memberikan surat kronologi dan bukti-buktinya, Mbak tanyakan ke panitera juga, apakah bukti rekaman tersebut sebaiknya diajukan kepada hakim atau nggak usah. Biasanya majelis hakim akan memelajarinya secara tim, dan hanya diungkapkan secara implisit (tidak blak-blakan) di sidang sebagai konfirmasi saja (tidak diperdengarkan atau dibacakan).

      Jangan lupa, nanti Mbak tinggal menyiapkan saksi (mininal 2 orang) yang mengetahui keadaan rumah tangga Mbaknya. Sebetulnya fakta bahwa yang menafkahi rumah tangga adalah orangtua Mbak dan bukannya suami itu bisa diajukan juga ke pengadilan. Begitu pula fakta bahwa dia tidak bersikap baik kepada orangtua Mbak, itu bisa menjadi pertimbangan bagi hakim. Selebihnya, mudah-mudahan Mbaknya diberi kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi masalah ini ya..

      Good luck.
      Regards,
      NF

  48. Selamat sore mbak… sy mau shared soal pernikahan sy… pernikahan sy sdh 5 thn… dr pernikan sy memiliki seorg putri(5thn) dan seorg putra(2thn)… pernikahan sy dr awal menikah sampai skrg isinya hanya bertengkar… sy sdh tdk tahan dgn sikap dan sifatnya yg emosian… salah atau tdk sy slalu d marah… stiap hari sprti itu… dan d saat dia mrh walaupun di dpn org banyak sambil maki2… dan slama pernikahan kt tinggal di rumah mama sy… dan mama sy sebagian besar punya banyak andil dlm rmh tangga kt… menafkahi anak2 sy,berikan pendidikan yg baik utk anak sy… support kt secara materi… tp mama sy tdk pernah mau ikut dlm urusan rmh tangga kecuali soal kebutuhan anak2,,dan itu gk d indahkan sm suami sy malah dia bilang kalau dia tidak suka sm mama sy… dan sifat suami sy yg sypun malu sm org2… stiap kali ngobrol sm org dia slalu ngomong punya harta ini itu(harta milik mama sy di akui punya dia) punya tanah dmn2 punya rmh kontrakan dmn2… dan blm setahun belakangan ini sy punya rasa curiga yg sangat teramat besar kalau suami sy punya WIL namun sy gk menunjukan itu secara langsung dan posisinya saat itu suami sy bekerja di luar kota ngurusin toko pamannya.dan kt ktm hanya 3 ato 4bln sekali… selama sethn kerja d luar kota kt hanya bertemu 2 kali… di pertemuan kedua itu tepat di bulan mei kemarin rasa curiga itu ada krn wanita itu tinggal bareng suami sy dan karyawan yg lain di toko yg sm… rasa curiga itu terus menghantui sy… dan akhirnya sy pun berinisitif utk tlp wanita itu… secara baik? Wkt sy tlp hallo apa kabar ? “Baik… *sy boleh tanya sesuatu dan km bs jujur tanpa basa basi wanita itu menangis dan menceritakan klu dia dan suami sy sdh berhubungan selayaknya suami istri… berhubungan badan dan itu sdh lbh dr 2 kali… sy saat ini sangat terpukul dan hancur sy ingin sudahi pernikahan sy.yg ingin sy tanyakan apakah di pengadilan nnt rekaman percakapan kami bs di jadikan bukti ? Di karnakan posisi wanita tersebut sdh pulang kampung ? Dan soal hak asuh anak bagaimana ? Apakah suami sy dpt mengambil anak2 sy

  49. Assalamua’alaikum…mbak aq mau tanya …selama menikah suami saya tidak pernah main kasar bahkan tidak pernah memukul ato mencubit saya…. secara fisik saya tidak sakit tapi secara batin sya selalu sakit karwna ada WIL dalam rumah tangga kami …. itu sudah sering terjadi berkali2 saya maafkan …akhirnya kembali seperti itu lagi sudah bebrjanji untuk tdk berhubungan dengan wanita lain tapi akhirnya di ulangi lagi…. saya sudah berusaha membenahi , mengabdi dengan sepenuh hati selama ini tpi masih juga dia berhubungan dengan wanita lain…
    Maaf , bak bisa kah saya menggugat cerai suami saya….ibarat memikul barang saya sudah tidak mampu membawanya mbak jika saya paksa aq takut tangan q patah….
    Diawal aq menganggap ini ujian dari Allah tpi ketika takhir dengan sumpah janji manis suami saya tapi dia masih mengulangi lagi …. disini sya merasa Allah membuka mata saya dan menunjukkan kepada saya kalo saya mengabdi pada orang yang slah …. tolong mbak berikan solusi yang bisa menguatkan hati saya dari kemarin gk enak makan semalam gk bisa todur mbak….. rencana seninbbesok saya kepengadilan agama… jika Allah menghendaki Allah akan menuntun kaki saya samapai kepengadilan bsok….

    1. Wa’alaikumsalam wr wb.
      Mbak Rose yang sabar,
      Saya turut bersedih membaca pengalaman hidup Mbak. Namun, yakinlah Mbak bisa melewatinya, insya Allah. Di sisi lain, jika kata hati Mbak mengatakan sudah harus bertindak, dan memutuskan bahwa ini harus diakhiri, semoga Allah melapangkan jalan bagi Mbak. Satu hal yang bisa saya katakan, yang namanya khilaf itu hanya satu kali, Mbak. Jika dilakukan berulang kali, artinya itu kebiasaan, bukan khilaf. Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya. Jika suami terus menerus dengan kelakukan tersebut maka akibatnya adalah menyakiti Mbaknya sebagai istri. Dan orang yang sudah disakiti tentu punya hak untuk mengambil tindakan. Kalau menurut Mbak berpisah adalah keputusan terbaik, silakan dilakukan.

      Namun saran saya, sebelum sampai ke pengadilan, tempuhlah dulu dua metode: pisah ranjang, dan mediasi dengan wali (boleh keluarga, boleh penghulu, yang penting netral). Jika itu masih belum memperbaiki hubungan, barulah ke pengadilan.

      Selebihnya, sabar ya. Dan, siapkan mental Mbak untuk segala sesuatu yang mungkin terjadi. Diingat-ingat bahwa hidup memiliki cara tersendiri untuk memisahkan hal-hal yang baik dari hal-hal yang buruk secara alamiah. Tapi hanya waktu yang bisa menjawabnya, Mbak.

      Good luck ya, Mbak.
      Regards,
      NF

  50. assalamu’alaikum mba..
    saya mau share mba tentang masalah rumah tangga saya,usia pernikahan saya sudah hmpir 4thn,tapi kami belum di karuniai anak..dan saya tau udah hampir setahun suami saya punya teman perempuan yang dia kenal dari facebook.Dulu suami saya masih terbuka sama hp nya,tapi udah beberapa bulan ini saya ga bisa lagi ngeliat hp nya,dan akhirnya saya cari tau tentang perempuan itu,dan akhirnya saya sudah mendapatkan informasinya,yang bikin saya sakit hati lagi begitu saya minta di pulangkan ke orang tua saya suami saya langsung bilang,kita urus dulu perceraian kita,setelah itu baru kita pulang masing-masing..dan yang saya mau tanyakan,apakah itu sudah jatuh talak? dan apa yang harus saya lakukan? pisah rumah dulu atau bagaimana?
    Terimakasih ya mba atas waktunya yang sudah mau ngasih masukan kepada saya

    1. Wa’alaikumsalam wr. wb.,
      Terima kasih sudah share pengalamannya ya, Mbak.
      Menurut saya, itu sudah jatuh talak. Karena dia menyebutkan, “Kita urus perceraian kita.” Bisa dibilang, iktikadnya memang sudah ingin berpisah. Namun, jika Mbak masih ingin pisah ranjang/rumah dan mediasi dengan wali (dari keluarga ataupun penghulu, yang penting netral dan ilmunya memadai), itu juga boleh. Tinggal ditanyakan kepada suami, bagaimana dia maunya. Selebihnya, disepakati berdua, perbaiki rumah tangga atau mengurus ke pengadilan.

      Apapun jawabannya, semoga itu yang terbaik untuk Mbak dan suami, ya.
      Good luck.

      Regards,
      NF

  51. Dear Mba Nina,

    Pada saat gugatan mba dibantu lawyer ya? Apa boleh di sharing ruang lingkup lawyer itu menyangkut apa saja mba? Karena terus terang sy sudah malas berkomunikasi dengan suami karena malah akan menimbulkan konflik. Apakah lawyer bisa membantu dalam hal nego dengan suami menyangkut nafkah untuk anak dan kesepakatan harta gono-gini? Karena suami saya keberatan akan nafkah bulanan untuk anak, padahal jumlah tsb sudah dia sepakati/ dtandatangani di surat pernyataan yg saya buat sebelumnya (jika dia selingkuh lagi dia bersedia digugat cerai, menafkahi anak sebesar X, dll) Kalau boleh tau biaya lawyernya berapa ya mba? Masih menimbang antara mengurus sendiri atau dengan lawyer karena saya bekerja. Mohon sarannnya ya mba..

    Terima kasih banyak ya mba, semoga Allah membalas kebaikan mba πŸ™‚

    1. Mbak Disa sayang,
      Saat gugatan, saya dibimbing membuat surat kronologinya oleh Budhe saya yang kebetulan memang lawyer. Tapi ketika proses, mulai dari daftar sampai terbit akta cerai, saya jalan sendiri, tidak dibantu Budhe lagi.

      Setahu saya, lawyer wajib mengetahui duduk persoalan yang dihadapi sampai rinci. Memang fungsinya lawyer adalah sebagai wakil kita selama proses pengadilan berjalan. Lawyer akan membantu dan menjadi jembatan komunikasi antara Mbak dengan pihak suami, apalagi jika suami pakai lawyer juga, lebih klop. Biasanya, lawyer akan memberikan rekomendasi terbaik soal harta gono-gini dan hak asuh anak. Biar mereka (sesama lawyer) yang beradu argumen. Dalam hal ini Mbaknya tinggal keukeuh atau nego soal besaran tunjangan (misalnya), dan sebagainya. Biaya lawyer, termasuk consulting fee (tanya-tanya di awal) sampai putusan itu bervariasi, Mbak. Apalagi kalau konfliknya tajam, biayanya akan lebih tinggi, karena prosesnya di pengadilan pasti lebih panjang. Setahu saya, estimasi biaya lawyer ada di angka Rp25 juta ke atas. Namun seperti saya katakan sebelumnya, nilainya bervariasi dan bisa dibicarakan dengan lawyer bersangkutan.

      Saya juga bekerja kok, Mbak. Namun ketika daftar, kemudian sidang 2x (selisihnya masing-masing sebulan), lalu mengurus akta cerai sampai selesai, itu saya izin tidak masuk bekerja sekitar 5x. Harus dipaksakan sempat, Mbakyu. Jika pekerjaan memang tidak memungkinkan ditinggalkan, ya gunakan jasa lawyer, dengan konsekuensi biayanya jauh lebih besar daripada mengurus sendiri. hehehe.. Keputusannya terserah Mbak Disa.

      Selebihnya, semoga lancar dan diberikan yang terbaik oleh Allah ya, Mbak. Aamiin..
      Good luck.
      Regards,
      NF

  52. Dear Mbak Nina,
    Saya ingin sharing mbak, rumah tangga saya baru jalan 3 tahun, Awalnya rumah tangga kami berlangsung damai tetapi selama 1 tahun ini suami sudah mempunyai WIL, dan sudah mengakui perselingkuhannya dengan tujuan meminta poligami. Hal ini tidak saya setujui karena saya dan suami tidak beragama Islam, tetapi suami ingin pindah agama dengan tujuan bisa menikahi selingkuhannya. Setelah pengakuan ini, saya memeriksa Hp suami dan menemukan bahwa dia sudah sering membohongi saya dan ini sesungguhnya bukan perselingkuhannya yang pertama kali. Sekarang kami jadi sering bertengkar dan saling menyakiti. Saya sempat meninggalkan rumah, karena tidak tahan dengan perselingkuhan terang2an yang dia lakukan. Tetapi kemudian saya kembali ke rumah lagi karena suami berkata ingin memperbaiki tetapi belakangan saya mengetahui dia masih menjalin hubungan dengan perempuan itu. Sesungguhnya saya masih ingin memperbaik rumah tangga, tetapi saya lelah dibohongi, dan suami juga belum ingin menggugat saya. Terakhir saya mengetahui bahwa rumah yang kami beli bersama dan masih dibangun, sudah dijanjikan ke WILnya, bahkan dia membawa WILnya ke sana dan mereka sudah berencana punya anak di luar nikah. Rumah juga dibeli atas nama suami saya. Saat ini suami sudah kos, dan menolak memberi tahukan alamatnya meskipun dia masih sering menghubungi saya lewat telpon, Dia juga sudah tidak menafkahi saya dari bulan Maret tahun ini sejak dia mengaku berselingkuh. Jika saya ingin menggugat, sebaiknya dengan alasan perselingkuhan atau pertengkaran ya mbak? Saya hanya memiliki foto mereka berciuman (pipi), foto2 mereka berdua, foto vulgar perempuannya, dan chat mesra mereka berdua (ada yang tentang cipokan, spooning, dan ML) serta pengakuan dari WILnya mereka ML di mana saja. Dan apakah masalah jika saya tidak mengetahui alamat suami?

    Terima kasih sebelumnya.

    1. Mbak AA sayang,
      Saya turut sedih membaca penuturan pengalaman Mbak. Kalau boleh berkomentar, keterlaluan juga ya suaminya Mbak itu, sampai menjanjikan rumah harta gono-gini untuk WIL-nya. Semoga Mbaknya masih mampu bersabar dan berbesar hati.

      Mengingat Mbaknya non-Muslim, saya kira akan lebih tepat jika Mbak berkonsultasi kepada kepala agama (pastor atau pendeta) yang menikahi Mbak dan Masnya, atau ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil sebagai “KUA”-nya non-Muslim. Sebelumnya, saya mohon maaf karena kurang begitu paham dengan proses perceraian dalam pernikahan non-Muslim, tapi setahu saya di Pengadilan Negeri. Mengenai bukti-bukti perselingkuhan, ada baiknya Mbak simpan. Jika Mbak tidak menggunakan jasa advokat (pengacara/lawyer) maka Mbak bisa minta nasihat dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil tersebut, apa saja yang harus dilengkapi dalam menyiapkan cerai gugat (oleh istri). Namun, satu hal yang saya paham, alamat suami harus jelas. Jika tidak jelas, dalam Islam dikatakan “tabayyun” dan prosesnya lebih lama. Tapi silakan ditanyakan ke panitera sambil dijelaskan bahwa suami merahasiakan alamatnya. Atau mungkin kalau mentok sih, kirim saja ke alamat orang tuanya. Hehehehe.. πŸ˜€

      Semoga dimudahkan ya, Mbak. Good luck.
      Regards,
      NF

      1. Assalamu’alaikum mbk mau minta masukan dr mbak ini….maaf ya mbk mengganggu

  53. Ass mbk…

    Sy ingin tny. Sy sdh mnikh 13 thn dn pny ank usia 11thn. Saat ini sy ingin mnggugat cerai suami sy, krn drmh kmi srg brtengkr trs mnrus, kdg mslh kcl jd mmbesar. Styp kmi brtgkr amk sy sllu mlht. Dan jg suami sy kl mrh sk brkata kasar. Bhkn prnh jg ke ank sy brkta yg tdk senonoh. Pdhl sy sdh prnh bri thu kl hl it ga baik, tp ttp dy lkukn. Dlm hl pkrjaanpun dy semau2nya, kdg krj kdg tdk. Kami pun sdh tdk tdr brsma slma hmpr 2thn, klpun dy ingin dlyni dy dtg tp stlh it kmi tdr trpish lg. Dy jg sdh tdk peduli dgn ursn sy, sllu cuek. Yg ingin sy tnykn, ap kuat gugatan sy sprti itu? Krn sy sdh thn dgn prlkuan dy sprti it mbk. Mohon pncerahannya mbk…trmksh sblmnya…

    1. Wa’alaikumsalam wr. wb.,
      Dear Mbak Sarah,
      Pengalaman Mbaknya mirip dengan saya dahulu: suami marah-marah depan anak, hingga mengucapkan kata-kata kasar yang tak pantas didengar. Hal ini sebenarnya termasuk KDRT psikis lho, Mbak, dan bisa diajukan ke pengadilan sebagai salah satu alasan bercerai. Apalagi sering berkata kasar depan anak, biasanya hakim tidak akan mentolerir hal tersebut. Jadi, jangan kuatir, Mbak, sikap kasar, tidak menyenangkan, membuat gelisah dan takut membawa pengaruh buruk bagi anak itu bisa dijadikan alasan dalam pengadilan.

      Selebihnya, semoga selalu sabar ya, Mbak. Insya Allah diberi jalan terbaik oleh Allah.
      Barakallah. Good luck.
      Regards,
      NF

  54. Selamat pagi Mbak Nina,

    Saya mau sedikit sharing, saya menikah tahun 2007 dan kami tinggal di rumah orang tua saya mbak, suami saya kasar suka memukul, pemarah, peminum minuman keras, dan suka pulang pagi karna memang pekerjaannya sebagai entertainer, hingga pertengahan pada bulan juli 2009 ketika dia memukuli saya di dalam kamar, orang tua saya marah menggedor2 pintu dan dia diusir dari rumah

    7 tahun berlalu tanpa kami berhubungan apapun dan dia tidak memberi nafkah thd saya dan anaknya, pada tgl 30 september 2016 saya mengajukan gugatan cerai di pengadilan negri surabaya dengan biaya perkara Rp 1.460.000, kemudian saya dipanggil untuk sidang 1 tgl 19 oktober 2016, kemudian diundur lg 1 minggu untuk sidang ke 2 tgl 26 oktober 2016, kemudian diundur lg 1 mggu untuk sidang ke 3 tgl 2 november 2016 kmaren, sudah 3x sidang kesemuanya tidak dihadiri tergugat karna alamat tdk diketahui, pada sidang terakhir saya dikenai biaya untuk pemanggilan tergugat melalui media radio RRI dan dua minggu lg sidang lagi,

    saya mau tanya mbak.. kira2 brp kali sidang lagi yg harus saya hadiri hingga selesai putusan, dan jika putusan verstek apakah tetap pemanggilan saksi2 untuk pembuktiannya ?

    Terimakasih sebelumnya mbak Nina, krn saya urus semuanya sendiri tanpa lawyer jd masih bingung mbak.

    1. Mbak Joice yang hebat,
      Terima kasih sharing ceritanya yaa.. Semoga Tuhan memudahkan proses hukum ini dan Mbak segera menemui kebahagiaan lagi.

      Biaya sidang setiap wilayah memang beda-beda, Mbak. Dan, menurut saya, proses hukum cerai gugat Mbaknya berlangsung cukup lancar. Jika alamat tergugat (suami) tidak diketahui memang prosesnya akan lebih panjang. Kalau di Pengadilan Agama (PA) proses tersebut dinamakan “Tabayyun” dan bisa berlangsung selama 5 bulan (setahu saya sih). Nah, Mbaknya sudah 3x sidang, sudah ada pemanggilan melalui radio, dan akan sidang kembali–ini dengan mendengarkan saksi atau tidak, Mbak? Saya perkirakan sih, Mbaknya mungkin 2x sidang lagi hingga putusan, dengan catatan suaminya tidak tiba-tiba muncul ya, Mbak. Kalau suami muncul, sidangnya bisa lebih panjang lagi.

      Oh ya, putusan verstek tetap harus memanggil saksi, minimal 2 orang, dari keluarga atau rekan terdekat, yang sangat memahami duduk permasalahannya. Saya pikir Mbaknya sudah luar biasa, bisa mengurus sendiri semuanya tanpa lawyer. Semoga dimudahkan ya, Mbak, saya turut berdoa untuk Mbak. Salam sayang dari Jakarta untuk anak Mbaknya yaa..

      Good luck.
      Regards,
      NF

      1. Mbak saya mau tanya , saya sudah hampir 4 tahun pisah sama suami dan selama pisah tidak pernah di nafkahi lahir n batin . Kami juga sudah memiliki satu orang anak , dan ikut saya .Sekarang saya ingin mengurus surat cerai . Bagaimana caranya mbak ??? Saya masih bingung , soal membuat surat gugatan cerai . Terima kasih banyak sebelumnya

      2. Mbak Yuli yang sabar,
        Monggo, langsung saja dibuat surat pernyataan kronologinya, mulai dari pernikahan, cekcoknya, sampai suami pergi dan melalaikan kewajibannya menafkahi lahir batin selama 4 tahun terakhir. Itu alasan yang sudah lebih dari cukup kok untuk pengadilan. Nanti dalam surat, Mbak cantumkan alamat mantan suami yg terakhir diketahui. Bisa juga ke alamat orang tuanya jika masih ada. Kalau bisa alamatnya jelas ya, Mbak. Kalau ndak, nanti proses di pengadilannya lama. Surat kronologi diketik secara urut dan dibuat (fotokopi) enam rangkap, ya. Kemudian Mbak bawa KTP dan KK, daftarkan ke panitera PA setempat (sesuai KTP Mbaknya) lalu ikuti petunjuk panitera harus ke mana, kemudian tunggu perintah sidangnya.

        Kalau Mbak mau, saya akan kirimkan contoh surat pernyataan kronologi saya saat mengajukan cerai gugat. Kabari saja ya, Mbak. Semoga Allah memudahkan prosesnya, Mbak.

        Good luck.
        Regards,
        NF

  55. Selamat pagi mba, saya sedang mengalami sidang percerain, Kemudian disidang pertama saya tidak hadir sebagai tergugat. Kemudian kapan sidang kedua akan dilaksanakan dan apakah surat panggilan dapat langsung diambil ?

    1. Selamat pagi, Mas (?) Mer,
      Buat tergugat, tak apa-apa tak hadir dalam sidang. Nanti jadinya putusan verstek (dilakukan tanpa kehadiran tergugat). Sidang kedua biasanya sebulan kemudian. Surat panggilan biasanya diantar ke alamat rumah yang tercantum dalam surat gugat. Surat panggilan itu lalu dikembalikan ke pengadilan yang mengirimnya agar proses sidang bisa berjalan. Setelah itu tinggal menunggu surat putusan (yang juga akan dikirim ke alamat rumah).

      Semoga jawabannya membantu, ya.
      Regards,
      NF

  56. malam mba,
    sy mnikah non muslim mei 2014 dan sdh brpisah sjk januari 2016. sdh mmpnyai ank laki2 umur 1thn10bln. ank suami yg pegang krn saat sya kluar rmh sy tdk boleh bwa..sy tgl cmpur drumah ke2 orngtua suami,kronologi sya bs kluar rmh krn sdh tdk ad keccokan,sy tdk boleh dkt dgn kluarga sy sndri maupun tmn2 sya, jrng skli dinafkahi,dia juga dpt uang msh dr orng tuany & dr judi online.pdhl saat sy mau mnikah dia pny pghasilan dr usha halal. dan yg buat saya akhirny tdk than adalah stiap ribut dia sllu mngusir saya dsruh plng krmh orng tua sya. pd akhirny sy kluar lah dr rmh it dan anak sm dia.
    sdh 10bln ini sy tgl brsm orgtua sya dia tdk prnah menafkahi sya dan sy tdk perna bisa melihat anak sy sndri. sdh brp x sy mnta dia urus perceraian tp dia tdk pna mau dgn berbgai alasan dan dia mnyuruh sya yg urus sndri.
    baiknya gmna ya sya urus sndri surat lgkap kcuali ktp n akte nikah suami, sya maunya saat berjlan sidng dia ga dtg2 spy cpt slsai. klo misal dia dtg n menolak bgaimana y solusi ny? dsni sya ga rebutan anak krn percuma.tapi sy mau seengak ny stlh brcerai dia mnfkahi sya apakah bisa? bisakah urus sndri tanpa memakai kuasa hukum klo kya gni crta ny ya mba?
    maaf klo kpnjngan. terimah ksh byk mba ^_^

    1. Mbak Silvia yang sabar,
      Terima kasih sharing ceritanya ya. Saya turut sedih membacanya. Kejadian seperti ini memang lebih sering merugikan (sisi mental, bahkan finansial) pihak perempuan dibandingkan laki-laki.

      However, saran saya, ada baiknya Mbak datang kepada kepala agama, terutama yang menikahkan Mbak dan suami dahulu, atau ke dinas catatan sipil (sesuai KTP Mbak), konsultasi mengenai bagaimana langkah yang harus diambil untuk mengurus perceraian yang diajukan oleh pihak istri. Mohon maaf, karena saya bukan orang hukum dan saya tidak paham dengan kasus perceraian non-Muslim. Maaf banget ya, Mbak. Tapi beneran, mendingan saya ngaku deh daripada keliru memberikan informasi.

      Dalam proses persidangan nanti, jika dia datang dan menolak gugat cerai dari Mbaknya, ya Mbak harus bisa menjelaskan kepada hakim (pengadilan negeri) kenapa Mbak menolak bersatu kembali. Mengenai anak, setahu saya, jika anak masih di bawah usia akil baligh (di bawah 17 tahun) otomatis hak asuh ada di tangah ibunya. Insya Allah. Diurus sendiri tanpa kuasa hukum, sepertinya bisa, Mbak. Hanya saja memang agak repot bolak-balik ke dinas catatan sipil dan pengadilannya nanti ya.

      Selebihnya, semoga Tuhan memberi kelancaran dan kemudahan bagi Mbak, terutama anak Mbak ya. Kasihan, anak masih kecil begitu, jangan sampai jadi korban ego orang tua. Maaf, dalam hal ini bercerai juga untuk kebaikan anak. Daripada tetap bersatu tapi lebih sering ribut dan anak melihat ibunya sering diusir, itu tidak baik untuk perkembangan mental anak. Semoga anaknya Mbak bermental kuat dan sabar seperti Mbaknya ya. Aamiin..

      Good luck.
      Regards,
      NF

    1. Mbak Yeti,
      Yang Mbak maksud di sini legalisir KK, KTP dan buku nikah, ya? Itu diurus ke Kantor Pos Besar terdekat. Jadi masing-masing KK, KTP dan buku nikah difotokopi, kasih materai Rp6000 di salah satu fotokopiannya itu. Nanti tanya-tanya aja ke CS-nya Kantor Pos Besar itu, yaa.. πŸ™‚

      Good luck.

    2. Mba nina apakah saat proses cerai sempat membuat kesepakatan perdamaian ttg hak asuh anak? Sangat detail ataukah umum saja?
      Hak asuh memang akan jatuh ke saya hanya saja dgn latar belakang bapak anak saya yg suka mabuk maka agak khawatir apabila hak asuh ada pembagian hari. Terima kasih.

      1. Mbak Tasha, saat saya proses cerai, kami bisa membicarakan baik-baik soal hak asuh anak. Fleksibel saja, tidak kaku (kalau kami sih begitu). Hak asuh anak yang belum akil balig biasanya otomatis jatuh kepada ibunya. Apalagi dalam hal ini orang tuanya (ayah si anak) berkelakuan buruk. Mengenai pertemuan hari kunjungan, biasanya disepakati bersama aja itu, Mbak. Tapi saya kurang paham juga ya masalah hukumnya–seperti saya katakan di tulisan, saya bukan orang hukum. πŸ™‚

        Good luck.
        Regards,
        NF

      2. Ass mbk nina…

        Rmh tgga sy itu srg skli brtngkar mbk, suami sy srg nykitin prsaan sy dlm hal appun…aplg sjk sy tinggal dgn mertua sy. Suami sy lbh ngutamakan klrga besarnya. Tp dia ga mau tau sm skli dgn ursn klrga bsr sy…sy bingung, di satu sisi sy mau ttp utuh klrga sy, tp satu sisi sy sdh ga kuat kl hrs mmprthnkn klrga sy yg srg brtngkr…sy sdh brmh tgga 13 thn, slma itu sy brthn krn ank sy saja…

        Mohon pncrhnnya mbk nina. Trmksh

        On Nov 22, 2016 10:10 AM, “Live to Learn to Live” wrote:

        Nina F. Razad commented: “Mbak Tasha, saat saya proses cerai, kami bisa membicarakan baik-baik soal hak asuh anak. Fleksibel saja, tidak kaku (kalau kami sih begitu). Hak asuh anak yang belum akil balig biasanya otomatis jatuh kepada ibunya. Apalagi dalam hal ini orang tuanya (aya”

      3. Wa’alaikumsalam wr wb.
        Terima kasih sudah berbagi cerita, ya. Turut prihatin membacanya, Mbak. Seakan simalakama ya, ke sini keluarga besar, ke sana suami dan anak. Banyak pasangan suami-istri yang bertahan karena anak, sementara Pasutri tersebut sudah terlalu sering bertengkar. Padahal jika disadari, lebih kasihan lagi anak-anak yang harus menyaksikan atau mendengar orang tuanya bertengkar. Apakah sudah dibicarakan baik-baik dengan suami bagaimana kemauannya jika tidak ditemukan jalan tengah?

        Sebenarnya dalam Islam bisa dilakukan beberapa tahapan sebelum diambil langkah menjatuhkan talak. Pertama, teguran. Kedua, pisah ranjang. Ketiga, memanggil wali (dari kedua belah pihak) sebagai mediator/penengah. Jika semua cara sudah dilakukan tapi Pasutri “keukeuh” bercerai, ya silakan segera mengajukan gugatan ke PA setempat (sesuai KTP istri). Namun sebisa mungkin dibicarakan baik-baik dan dicarikan jalan keluar terbaiknya, Mbak. Jika buntu, semoga Allah menolong Mbak dan Masnya.

        Good luck ya, Mbak.
        Regards,
        NF

  57. Assalamualaikum wrwb,
    Mbak saya mau tanya, pasangan saya susah menggugat dan saya dilarang hadir di persidangan agar bisa segera putusan, setelah 3x sidang kini penggugat menghubungi saya untuk minta dokumen buku nikah milik saya, apakah buku nikah harus dua duanya dikasih?bukannya itu harus dipegang masing2 untuk syatat pengambilan akta cerai mbak? Karna sampai sekarang saya blum terima salinan putusan hakimnya. Mohon pencerahannya karena ada kabar bahwa dia punya rencana untuk mengambil kedua akta cerai baik untjk istri maupun suami.

    1. Wa’alaikumsalam wr wb.
      Setahu saya buku nikah yang diminta oleh pengadilan nanti hanya buku nikah penggugat saja, Mas. Benar bahwa buku nikah nanti ditukarkan dengan akta cerai. Tapi saya tidak tahu apakah akta cerai suami dan istri bisa diambil sekaligus atau bagaimana. Untuk hal ini bisa ditanyakan ke paniteranya, Mas. Mengenai salinan putusan hakim, tergantung Pengadilan Agama kabupaten/kota masnya, bisa lama, bisa cepat. Ditunggu saja ya.

      Semoga jawaban saya membantu, ya. Good luck.
      Regards,
      NF

  58. Mba nf
    Saya Ingin minta pencerahan.
    Saya Dan suami menikah sudah 7 thn Dan dikaruniai 2 anak.
    Saya mengetahui suami berselingkuh pertama kali saat saya hamil. Saya siMpan bukti chat suami sampaikan skrg. Dan saya memutuskan memberikan suami kesempatan kedua.
    Singkat cerita 2 hari lalu saya mendapati sms di hp suami yg saya yakin betul itu sms mesra suami Dan selingkuhannya. Sayangnya suami terlanjur merebut hp Nya Dan Menghapusnya.
    Sekarang saya sudah mantap Ingin bercerai dr suami. Tapi suami kekeh tidak mengakui perselingkuhannya yg kedua ini.
    Apa kalau suami tidak Ingin bercerai bisa memperlama proses cerai Nya mba?
    Dan apa bukti yg saya punya sudah cukup untuk menggugat cerai suami?
    Satu lagi yg mau saya tanyakan mba. Selama kami menikah semua harta atas Nama saya. Sampai Sekarang Ada beberapa harta yg masih KPR. Apa kah saat saya mengajukan cerai, suami bisa menuntut harta selama menikah yg sudah atas Nama saya mba? Saya selama menikah tidak pernah bekerja lagi. Terima kasih banyak mba atas bantuannya. Saya tidak punya teman Dan keluarga utk bertanya. Uang saya pun pas pas an kalau untuk bayar lawyer. Jadi saya Ingin mengajukan sendiri ke PN.

    1. Mbak Xx yang baik,
      Terima kasih sudah berbagi ceritanya. Sedih membacanya, tapi insya Allah Mbaknya kuat ya. Aamiin..

      Jika suami menolak bercerai mungkin bisa memperlama proses cerai. Namun, bukti yang Mbak simpan itu bisa digunakan untuk memperkuat kasus, meskipun itu terjadinya sudah lama ya. Bukti yang baru tidak ada kah? Jikapun tidak ada, ya sudah, dijelaskan saja kepada hakimnya nanti ya, Mbak.

      Soal harta gono-gini, sepertinya yang atas nama Mbaknya itu secara hukum akan menjadi hak milik Mbak sepenuhnya. Maaf saya bukan pengacara dan tidak pahami hukum soal ini, tapi sepertinya bisa ditanyakan kepada hakim pengadilan nanti mengenai rinciannya. Dalam hal ini mungkin proses perceraian akan lebih panjang lagi, Mbak. Sabar ya.

      Jika Mbaknya kesulitan menyewa jasa lawyer, bisa diurus sendiri kok, Mbak. Coba datang saja dulu ke PA setempat (jika Islam) atau Catatan Sipil di Dinas Kependudukan setempat (non-Islam) dan minta nasihat terkait proses dan syarat pengajuan cerai gugat tersebut.

      Good luck ya, Mbak.
      Regards,
      NF

  59. assalamualaikum
    mba saya mau tanya.sy lg sdng cerai tp sdg crrai blm putus malah sy suruh bwa harta gono gini.sya sbg penggugat suami sbg tergugat tp dia gugat balik mslh harta gono gini.sy sama pa hkm suru bawa bukti2.trus apakah sy hrs menuruti apa kt pak hakim.pdhl gugatan sy cmn gugat cerai

    1. Wa’alaikumsalam wr wb.
      Harta gono-gini pastinya masuk ke dalam gugatan cerai, Mbak, meski dalam tuntutan tidak disebutkan. Jika hakim memutuskan agar Mbaknya membawa bukti-bukti kepemilikan harta (surat-surat kendaraan dan sertifikat tanah/rumah), sebaiknya Mbak membawanya. Karena pihak suami juga berhak meminta keadilan mengenai harta gono-gini. Jika terbukti harta Mbak adalah harta bawaan (didapatkan sebelum menikah atau harta yang berasal dari warisan) maka suami tidak berhak menuntutnya sebagai gono-gini.

      Harta gono-gini adalah harta yang dimiliki saat Pasutri masih bersama, serta dibeli secara bersama atau dibeli oleh suami lalu diatasnamakan kepada istri/suami misalnya. Itu bisa dibagi dua atau dibagi secara proporsional, tergantung hakimnya.

      Selebihnya, good luck ya.
      Regards,
      NF

  60. assalamualaikum wrwb
    mba saya mau tanya..sya akan mngajukan gugatan cerai kpd suami saya…rumahtgga kami sering terjadi cekcok smpai akhirnya saya dtalak dusir n sudah 18blnan sudah tdk dnfkahi..saya mmiliki anak 1cowok
    tp suami tidak mau mngurus perceraian dgn alasan tidak mengikhlaskan..buku nikah kami n semua dokumen d tahan..
    saya mmutuskan untuk mmbuat duplikat..tp dsini untuk akta anak blm punya..yg saya tnyakan pengajuan jika syarat akta lahir anak tidak saya lampirkan bgaimana mba?
    sblmnya trmksh untk jwbn..wssalamualaikum wrwb

    1. Wa’alaikumsalam wr wb.,
      Mbak Lara yang baik, terima kasih sudah berbagi ceritanya.
      Sebaiknya akta kelahiran anak dicantumkan. Bagimana bisa masuk ke Kartu Keluarga jika tidak ada akta kelahiran anak? Kalau tidak ada, Mbak minta surat kenal lahir saja ke rumah sakit tempat dulu anak Mbak dilahirkan. Jika tidak bisa juga, saran saya Mbak konsultasi kepada pihak pengadilannya (ke panitera ybs), karena mereka lebih paham soal ini. Saya bukan orang hukum, Mbak. Saya hanya bisa sharing pengetahuan berdasarkan pengalaman proses gugat cerai saya sendiri. Mohon maaf ya, tidak bisa membantu banyak.

      Good luck ya, Mbak.
      Regards,
      NF

  61. Mbak , saya ANHA mama muda yang berusia 20 tahun dan memiliki 2 anak (perempuan2thn dan laki*11bln) . suami saya 24 tahun seorang muallaf .
    Usia pernikahan saya sudah menjelang 3 tahun tetapi pada saat usia pernikahan saya Baru mau menjelang 1 tahun suami sayaa kembali ke agamanya , jika aku bercerai apakah aku bisa mendapatkan kedua anakku ?? Sedangkan suamiku keras kepala dan dia ingin hak asuh jatuh kepadanya !! Dia akan melakukan segala caraa agar mendapatkan anakku ..

    Disisi lain suamiku itu peminum namun dia tak pernah memukul hanya saja selalu mengatai aku kata* yang tidak wajar ( aku juga begitu sih 😦 )
    Dia menyayangi anaknya namun aku merasa kalo kami diabaikan ..

    Tolong bantu yah mbak
    Terima kasih

    1. Salam kenal, Mbak Anha.
      Turut prihatin membaca kisah hidup Mbaknya. Insya Allah Mbak mampu tetap tegar yaa..
      Mengenai suami yang pindah agama, menurut ajaran Islam, jika suami (maaf) murtad maka sudah seharusnya dipisahkan dari istrinya yang Muslimah. Dalam artian, otomatis bercerai. Tapi, wallahua’lam. Bisa ditanyakan ke penghulu atau ulama setempat, yang lebih berkapasitas secara ilmu agama untuk menjelaskan hal ini.

      Mengenai hak asuh, jika anak belum berusia akil baligh, otomatis hak asuhnya jatuh kepada sang ibu. Apalagi jika sang bapak dikhawatirkan memberi pengaruh buruk bagi perkembangan anak (karena berbicara kasar, peminum, dan yang lebih prinsip: berbeda akidah). Biasanya dalam hal ini hakim akan memutuskan agar anak diurus oleh ibunya, insya Allah.

      Selebihnya, good luck ya, Mbak.
      Regards,
      NF

  62. Mba….saya 2 minggu yang lalu sudah ada bacaan putusan dari pengadilan negeri tapi smape sekarang belum ada surat cerai datang ke saya. Ini yang saya lakukan gimana sih??
    FYI, saya daftar cerai sendiri tanpa lawyer. Makasih

    1. Mbak Ocha yang baik,
      Apakah sampai sekarang salinan putusan belum diterima juga? Coba hubungi pengadilan agamanya, Mbak. Mereka biasanya ada selip informasi. Kalaupun belum selesai juga, ditanyakan saja permasalahannya di mana lalu bagaimana penyelesaiannya. Tapi ingat, jangan mau keluar uang karena ini ya, Mbak. Kalau menebus akta cerai memang ada biayanya, tapi jangan keluarkan biaya untuk selain itu ya.

      Saya juga dulu daftar tanpa lawyer, Mbak. Memang lama prosesnya, tapi jalani saja. πŸ™‚

      Good luck.
      Regards,
      NF

  63. Mba, sy niat gugat cerai tp bingung caranya, kami menikah 6th dah dikaruniai 2anak(4th & 1th), suami sy adl seorang polri bag reskrim, lebaran thn ini suami pindah Kntr dgn jabatan barunya, tp dari sinilah petaka itu terjadi, suami sy ketahuan wa mesra dgn slh satu korban kasus yg sedang dia tangani,stlh sy konfirmasi apa mksd dr wa mesra itu, dia mengelak dgn jurus jitunya “membentak & memaki sy”, kekerasan verbal kerap terjadi tiap kali dia emosi dari awal nikah, yg ingin sy tanyakan : 1. Alasan jitu apa tuk gugat cerai suami, karna sy sdh tdk kuat dgn sikap dia, terlebih stlh dia menjalin hub dgn wanita lain (walaupun dia tdk mengakuinya, pdhl jelas2 sekali Isi wa itu mereka menjalin asmara), 2. suami sy ini type bertemperamen tinggi, sy ingin bicara lgsg gugat cerai tp takut dgn reaksi frontal dia, atau baiknya sy lgsg ajukan ke PA saja ya mb??biar suami sy lgsg terima Surat panggilan cerai, karna sy males ribut, 3. Seandainya sy lgsg ajukan cerai, apakah prosedurnya sama dgn gugat cerai ya mb??. Makasi atas saran & advicenya mba

    1. Bunda Mumtazza yang baik,
      Untuk bhayangkari seperti Mbaknya, kejadian kekerasan psikis yang dilakukan suami Mbak bisa dilaporkan ke atasan (Kapolsek atau Kapolres sekalian) melalui Internal Affairs atau Provost Polres (atau Propam utk level Mabes Polri) tempat suami bertugas. Setahu saya, penegak hukum (Polri, TNI, Kejaksaan) punya proses hukum sendiri dalam menangani masalah internal anggotanya, tidak ke PA langsung. Jika Mbaknya berani, rekam saja dengan voice record hape saat suami membentak-bentak. Kalau bisa malah chatting WA-nya itu di-screenshot dan kirim ke email Mbaknya sebagai bukti ke depannya. Tapi kalau sudah ndak bisa lagi, Mbak langsung saja lapor ke Kapolres. Nanti biar provost yang mengurus–lidik, sidik, interogasi, dan mungkin sekalian menindak (minimal 7 hari disel di tahanan Polres). Anggota Polri dan bhayangkari (juga keluarganya) adalah abdi negara yang dilindungi oleh negara. Jika ada anggota yang sewenang-wenang kepada anggota keluarganya sendiri, biasanya Propam/Provost akan menindak.

      Semoga jawaban saya membantu ya, Mbak. Good luck.
      Regards,
      NF

  64. selamat siang mbak nina ,

    saya mau minta saran
    saya menikah sudah 13 bulan sebelumnya kami berpacaran selama 4,5 tahun.
    selama pernikahan ini suami saya sering marah2 dan sering mengatakan bahwa dia tidak bahagia dan tersiksa dengan pernikahan kami.
    hal itu menurut dia disebabkan karena:
    1. kami menikah terlalu cepat (padahal saat itu usia kami sudah 27 tahun dan sudah pacaran 4,5 tahun) sehingga dia kurang bisa membantu ekonomi keluarganya (suami saya anak pertama dengan 2 adik sudah umur 20 tahunan yang tidak bekerja , orang tuanya masih bekerja)
    2. pada usia 3 bulan menikah saya memutuskan untuk membeli rumah dengan pertimbangan rumah adalah salah satu hal yang penting. dan untuk dp dan cicilan sepenuhnya saya yang menanggung , kala memutuskan membeli rumah itu kami sempat bertengkar dan akhirnya suami setuju (belakangan saya baru tahu bahwa dia terpaksa setuju).
    3. pada usia 8 bulan pernikahan saya hamil tapi suami kurang menginginkan anak kami lahir walaupun dia tidak menyuruh saya untuk menggugurkan kandungan. suami saya menganggao bahwa kelahiran anak kami akan menambah bebannya.

    sejak awal kehamilan sampai sekarang suami saya sering sekali mengungkit hal itu baik ketika kami sedang bertengkar ataupun ketika dia ada masalah lain.
    padahal selama ini saya berusaha untuk tidak meminta hak saya berupa nafkah sejak awal menikah. Dengan maksud agar suami saya bisa konsen membantu orang tuanya dan juga bisa memulai usaha.
    bahkan untuk membuka usahanya, saya membantu dengan memberikan tabungan saya sebelum dan setelah pernikahan sehingga saya sekarang tidak punya tabungan sama sekali.
    Saya sadari mungkin saya salah karena secara tidak langsung saya kurang patuh pada suami saya tentang 3 poin di atas tersebut.
    Tapi saya berusaha untuk memperbaikinya.
    Saat dia selalu mengungkit masalah tersebut hati saya sakit sekali dan saya tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun termasuk orang tua saya. Saya hanya bisa menangis dan bercerita kepada Tuhan. Karena saya tidak mau membebani pikiran orang tua saya ataupun orang lain. saya juga tidak ingin suami saya terlihat buruk di mata orang lain.
    Saya juga sering menemukan suami saya chat ke wanita2 ‘bispak’ chat untuk booking dan selingkuh. Bahkan dia ada beberapa akun sosmed yang saya masuk ke daftar akun yg diblokir , dimana akun tersebut dia khususkan untuk menge-chat perempuan2 tersebut.
    Ketika saya tanyakan tentang masalah tersebut suami saya mengelak dan bilang bahwa dia hanya chat tidak pernah benar2 berselingkuh atau booking. Tapi hati kecil saya tidak percaya.

    Saya sekarang hamil uk 6 bulan, selama itu saya sering stress karena hal ini.
    Sekarang saya sudah berada di titik dimana saya sangat lelah. Pada pertengkaran kami yang terakhir saya menawarkan diri untuk berpisah karena mungkin jika kami terus bersama kami berdua sama2 tidak bahagia, tapi suami saya tidak menanggapi masalah perceraian/ perpisahan ini sama sekali.
    Mohon dibantu sarannya dengan kondisi yang saya paparkan di atas, apakah tepat apabila saya mengambil keputusan untuk bercerai ?
    Dan apabila terpaksa saya menggugat cerai suami, alasan apakah yang tepat? Saya tidak ingin menggunakan alasan tidak menafkahi karena bagaimanapun saya tidak mau melukai harga diri suami saya dan keluarganya.

    Terimakasih atas saran nya.
    Mohon maaf ceritanya panjang dan lebar.

    1. Mbak Nita yang baik,
      Saya sedih membaca penuturan cerita Mbaknya tentang liku-liku pernikahan Mbak dengan suami. Mohon maaf, kelihatannya memang suami tidak ikhlas dengan pernikahan ini. Sayang sekali, padahal sudah ada anak, tapi tampaknya tidak mengubah keras di hatinya ya.

      Keputusan untuk bercerai pastinya tidak mudah. Namun, jika memang sudah sangat tidak tahan, terutama di batin, langkah pertama biar pisah rumah dulu saja mungkin ya, Mbak. Jika memungkinkan, datangkan wali penasihat pernikahan untuk memberi advis kepada Mbak dan Masnya. Namun jika tidak berhasil dan tetap Mbaknya bertekad untuk bercerai juga, silakan dilakukan. Namun, mengingat Mbaknya masih hamil, saran saya ditunggu sampai anak tersebut lahir, barulah Mbak boleh mengajukan gugat cerai kepada suami melalui Pengadilan Agama (jika Mbak Muslim). Di PA juga biasanya hakim akan menunggu sampai anak Mbak lahir, barulah sidang proses perceraian bisa berjalan.

      Mungkin Mbaknya akan kesal membaca jawaban saya ini, tapi mohon bersabar sedikit lagi ya, Mbak. Jangan stres berlebih, kasihan kondisi anak Mbak di kandungan. Dan siapa tahu, anak kedua ini mampu membuat suami berubah jadi punya sikap yang lebih baik, khususnya terhadap Mbak. Saya turut berdoa untuk Mbaknya, insya Allah. Semoga mendapat jalan keluar terbaik ya, Mbak. Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar, semoga Allah juga mendampingi Mbaknya menghadapi masalah ini. Aamiin..

      Salam sayang,
      NF

  65. Assalamualaikum mba Nina..
    Sudah 4,5 tahun lebih usia pernikahan kami.. Kami dikaruniai 1 org anak laki laki yg saat ini berusia 2,4 bulan.. Pernikaham kami terjadi bukan karna atas dasar cinta dan keinginan saya ,tetapi paksaan dari orangtua. Suami seorang abdi negara dan saya pun seorang aparatur negara..
    Beberapa bulan terakhir ini sya kepergok suami mendapat pesan WA dari mantan pacar ( yg dahalu kami tidak mendapt restu ) Ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan mba dan meminta saran dari mba..
    1. Suami bersedia bercerai apabila hak asuh anak diberikan ke suami.. Apabila saya yg mengajukan cerai dengan alasan suami sdah tidak pernah memberikan nafkah “batin” karna kesibukannya yg sangat padat sampai2 krang lbih 3 taun terhitung sejak sya hamil, dn saya tergoda ketika mantan kembali membuka komunikasi dalam 2 bulan terakhir ini dan ketauan suami,apakah masih bisa saya mendapatkan hak asuh anak mba jika hanya berkomunikasi lewat hp dengan mantan..komunkasi dalam kata2 yg wajar mba,bkan menjurus atw hal yg diluar batas
    2. Untuk saksi,,sypa kira2 akn saya jadikan saksi,sementara keluarga dan orangtua tidak akan prnah mengiznkan sya utk bercerai dgan suami pilihan mereka,,karna tidak ada yg pernah dan mendukung sayaa,,tertekan sekali rasanya
    Terimakasih mba sebelum nya maaf jdi curhat karna sya sdh tdk bisa lagi menahan diri utk membuka topeng yg selamaini sya pakai..

  66. Assalamualaikum mba Nina..
    Sudah 4,5 tahun lebih usia pernikahan kami.. Kami dikaruniai 1 org anak laki laki yg saat ini berusia 2,4 bulan.. Pernikaham kami terjadi bukan karna atas dasar cinta dan keinginan saya ,tetapi paksaan dari orangtua. Suami seorang abdi negara dan saya pun seorang aparatur negara..
    Beberapa bulan terakhir ini sya kepergok suami mendapat pesan WA dari mantan pacar ( yg dahalu kami tidak mendapt restu ) Ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan mba dan meminta saran dari mba..
    1. Suami bersedia bercerai apabila hak asuh anak diberikan ke suami.. Apabila saya yg mengajukan cerai dengan alasan suami sdah tidak pernah memberikan nafkah β€œbatin” karna kesibukannya yg sangat padat sampai2 krang lbih 3 taun terhitung sejak sya hamil, dn saya tergoda ketika mantan kembali membuka komunikasi dalam 2 bulan terakhir ini dan ketauan suami,apakah masih bisa saya mendapatkan hak asuh anak mba jika hanya berkomunikasi lewat hp dengan mantan..komunkasi dalam kata2 yg wajar mba,bkan menjurus atw hal yg diluar batas
    2. Untuk saksi,,sypa kira2 akn saya jadikan saksi,sementara keluarga dan orangtua tidak akan prnah mengiznkan sya utk bercerai dgan suami pilihan mereka,,karna tidak ada yg pernah dan mendukung sayaa,,tertekan sekali rasanya
    Terimakasih mba sebelum nya maaf jdi curhat karna sya sdh tdk bisa lagi menahan diri utk membuka topeng yg selamaini sya pakai..

    1. Wa’alaikumsalam, Mbak Widyaa,
      Terima kasih sudah berbagi ceritanya, Mbak. Saya sedih membacanya, tapi saya yakin ada jalan keluar terbaik dari masalah ini ya.

      Pernikahan yang diatur orang tua biasanya karena orang tua memahami kualitas anak masing-masing dan bahwa anak-anak mereka layak bagi satu sama lain. Kalau mama saya bilang, wanita lebih fleksibel, bisa belajar mencintai selama suaminya memperlakukan dengan baik. Di sisi lain, dibutuhkan lelaki yang full komitmen (sholeh) kepada Allah untuk bisa bersikap baik dan penuh cinta kepada istrinya. Pernikahan is a two-way street and a neverending battle, jadi sewajarnya saling berkontribusi dan saling menguatkan. Hehehe.. Maaf malah jadi ceramah ni. πŸ˜€ Intinya sih, biasanya orang tua punya insting yang sangat baik sampai mereka sepakat menjodohkan Mbak dengan suami.

      Perceraian antara aparat negara (PNS, TNI, Polri) memang repot banget, Mbak. Saya bukan PNS, tapi saya punya banyak kawan aparat negara. Biasanya mereka bercerai diam-diam, karena proses cerainya njelimet, harus ke atasan, minimal Kadis atau Kabag. Namun, saya pribadi sangat tidak menyarankan itu, mengingat konsekuensi ke depannya akan lebih repot lagi (sanksi, dsb).

      Kalau saya boleh saran, coba diselesaikan dulu antara Mbak dan suami. Katakan bahwa Mbaknya tidak bermaksud selingkuh dengan si mantan, melainkan karena kesepian terlalu lama ditinggal suami. Apa betul sampai 3 tahun tidak dinafkahi batin, Mbak? Ini kan bisa dicari jalan keluarnya tanpa mengedepankan ego.

      Kenapa saya menyarankan ini, karena tampaknya suami Mbak cemburu saat mengetahui Mbak masih berkomunikasi dengan mantan. Apalagi komunikasinya masih sebatas wajar kan, Mbak?

      Tapi kalau menurut Mbak, jalan terbaik adalah bercerai, berarti semua prosedur harus dijalankan dengan berani.

      1. Soal hak asuh, jika belum akil baligh, pasti akan diberikan kepada sang ibu, dengan santunan dari ayahnya. Jika ayahnya ngotot ingin punya hak asuh, dia harus memberikan bukti-bukti kuat bahwa ibunya tidak mampu membesarkan anak. Dalam kasus ini, tampaknya mustahil hak asuh didapatkan oleh ayahnya, kecuali dia menggunakan pengacara yang sangat bagus (dan mahal, biasanya sih).

      2. Untuk saksi, harus dari pihak keluarga atau teman terdekat dan itupun harus yang paham kondisi rumah tangga Mbak dan Masnya.

      Begini, jika Mbaknya masih tertekan, beri waktu dulu untuk diri sendiri, Mbak. Coba pisah ranjang dulu, pisah rumah, lalu minta wali untuk menengahi permasalahan ini. Minta saran mereka, barulah diputuskan harus bagaimana. Saya yakin ada jalan terbaik untuk Mbaknya dan suami.

      Dicoba dulu ya, Mbak. Good luck.
      Regards,
      NF

  67. Assalamualaikum mbak nina.saya icha saya menikah dengn suami karna di jodohkan kami tidak saling mencintai,tp saya selalu berusaha tetapi suami selalu mengatakan tidak mencintai saya.dia menikah karna untuk membuat mantan nya sakit hati.saat saya hamil besar saya menemukan foto dia dengn mantan nya dia berselingkuh saya sangat sedh saya meminta cerai tetapi suami tidk mau.bnyk hal yg membuat saya sedh saat menikah saya tidk tau kalau suami mempunyai utang k bank untuk buka usHa.mau tidk mau saya yg selalu kena dampknya kadng menangh lewat dan menekan saya karna atas nama adiknya.sesudah melahirkan sya pernah di talak saat usia anak 4 bln karna saya bertngkar dengn suami.bukan tidk ada kebaikan dr diri suami.tetapi tidk di cintai adalah hal yg sangat menyedihkan.meskipun perubahn sikapnya k arah yg lbh baik dan tidak terlalu sering membentk saya.bila emosinya meledak dia selalu mengusir saya pergi.sampai lbh dr 3 kali dia mengatakn talak.karna saya tkt saya lapor pada keluarganya dan ada rapt keluarga.secara islam kita berpisah dan suami menyesal dia meminta kembali pd akhirnya kami rujuk meskipun keluarga sy dan suami tdk setuju suami mengambil dalil saat emosi tdk sah kmi akhrnya rujk meskipun d musuhi semuanya tp saya tidk tenang bnyk sekali ketakutan terlbh tkt dosa.tp dlm benk saya bkn karna emosi suami mentlk saya tp karna niat.akhrnya km spkt berpisah.saat ini km blm mendaftr k pengadiln.saat saya berusaha kuat suami selalu menghampiri kdng meminta saya untuk rujuk.blm sebln dia merayu saya untuk rujuk ternyata dia punya kekasih.cemburu iya sakt hati juga iya.akhirnya saya minta suami mengurus k pengadiln dengn sedikt mengancam.suami menyetujuinya.jujur saya msh ingin berkeluarga dngn nya.tp dr segi agama pun km tidk bolh bersatu.yg saya rasakan saat ini sedh dan lelah.sya merasa malu dan marah.bagaimana cara saya mengatasi perasaan ini

    1. Mbak Icha yang baik,
      Terima kasih sudah berbagi ceritanya ya, Mbak.

      Mohon maaf, setahu saya, ucapan talak itu tidak bisa dijadikan mainan. Emosi ataupun sadar, talak tetap jatuh.
      Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, β€œAda tiga perkara, sungguh-sungguh jadi sungguhan dan main-main jadi sungguhan. Yaitu nikah, thalaq dan ruju’ ”. [HR. Khamsah kecuali Nasai, dan Tirmidzi mengatakan, β€œHadits hasan gharib]
      Wallahua’lam.

      Sebelum menjawab, saya curcol dulu pengalaman hidup saya, boleh ya? hehehe.. Dahulu suami saya terbiasa menjatuhkan talak ketika dia marah. Dia berasumsi bahwa talak yang sah hanya dilakukan saat sadar dan jernih akal, jadi talak yang dikatakan saat emosi dianggap tidak sah. Sudah puluhan kali dia mentalak saya dan puluhan kali itu pula kami rujuk. Saya manut, karena saya istri. Namun apa yang terjadi, dua tahun terakhir pernikahan kami, rezeki kami disempitkan. Suami tetap menganggur (total 4 tahun dia nganggur dan tidak mampu menafkahi saya) dan berapapun uang yang saya hasilkan dari kerjaan ataupun dari keluarga, selalu habis tak bersisa, tak jelas ke mana larinya. Saya langsung merasa, Allah sedang memurkai kami, karena suami meremehkan hukum Allah terkait talak ini. Saya menyarankan suami menemui penghulu untuk meminta nasihat, dan benar saja, suami dimarahi penghulu. Lalu jalan keluarnya kami ijab kabul ulang untuk meminta ridho Allah. Si penghulu meminta suami bersumpah agar tidak pernah mengucap talak lagi. Tiga bulan kemudian, suami kembali mentalak saya, dan saat itu saya sudah tidak mau diajak rujuk lagi.

      Bukannya menyerah, tapi menurut saya pribadi, khilaf itu hanya satu kali. Kalau berkali-kali, itu namanya kebiasaan. Dan saya tidak mau hidup bersama laki-laki yang meremehkan hukum Allah. Saya menghormati suami, tapi saya jauh lebih menghormati Allah dan Rasul-Nya. Lagipula, lelaki yang mulutnya berucap sembarangan, janjinya tidak bisa dipegang, khianat (tidak amanah) adalah lelaki yang tak layak menjadi imam.

      Nah, sekarang kembali ke cerita Mbaknya, pastinya ada alasan kenapa hati Mbak tidak tenang. Ya karena nurani Mbak itu paham jika rumah tangga Mbak sudah jauh dari ridho Allah. Jadi, cara mengatasi perasaan, fokuslah berpegang kepada Allah saja, Mbak. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Ni’mal maula wa ni’man nashir. (Cukuplah Allah sebagai penolong kami. Dan Allah adalah sebaik-baik pelindung).

      Takutlah kepada Allah saja, jangan takut kepada suami, jangan takut kepada hati, jangan takut kepada dunia, jangan takut kepada akal. Lagipula, jika Mbaknya masih berjodoh dengan suami ke depannya, insya Allah akan dipertemukan kembali dalam rumah tangga yang lebih sakinah, tenang dan nyaman. Wallahua’lam.

      Selebihnya, good luck ya.
      Salam sayang,
      NF

  68. Mba, Alhamdulillah nemu postingan ini
    saya sudah menikah dengan suami 3 taun dan memiliki anak 2.5 taun, kami tinggal di rumah ibu saya.
    dari taun pertama kita menikah saya sudah sering berantem dengan suami. sampai akhirnya akhir taun lalu saya meminta untuk bercerai, beberapa kali saya terkena kdrt,
    ibu saya memang terlalu banyak mencampuri rumah tangga saya dan selalu membela suami saya, sudah dua taun saya bertahan dan selama ini pun saya tidak menjalani kewajiban saya sebagai istri, saya tidak ingin disentuh, sempat kami pisah kamar kemudian satu kamar lagi. tapi memang saya tidak bisa membohongi hati bahwa saya tidak bisa lagi bertahan, belum masalah kami semakin berlarut2 dan makin meluas sampai akhirnya saya dituduh selingkuh.
    keputusan bercerai saya sudah semakin bulat tapi tidak ada di dalam keluarga yang mendukung saya untuk bercerai, suami pun tidak ingin pisah dengan alasan sayang. Saya berniat apabila bercerai dengan cara yang baik2 tapi sepertinya tidak ada yang akan mengerti sehingga saya sepertinya harus mengambil jalan menggunakan pengacara dan pengadilan tanpa pemberitahuan ke keluarga terlebih dahulu, dengan seperti ini apa yang akan saya hadapi ya mba?

    1. Mbak Puput yang sabar,
      Terima kasih sudah berbagi cerita yah. Sedih bacanya euy. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Aamiin..

      Sepertinya keputusan untuk berpisah sudah solid ya, Mbak. Ya sudah kalau begitu, Bismillah, semoga ini yang terbaik, ya.

      Laki-laki yang tertolak (karena Mbak tidak mau bersama lagi) biasanya meradang dan mengatakan macam-macam, bahkan fitnah: menuduh selingkuh lalu menyebarkannya ke media sosial–seperti yang pernah saya alami dulu, malahan saya disebut lonte berjilbab oleh suami saya, hahaha.. Padahal dia tahu betul yang sebenarnya terjadi dan dia sedang memfitnah istrinya sendiri. Orang tua saya (yang tinggal di pulau lain) sampai sempat menegur, saya sih senyum saja. Allah Maha Mengetahui. Dan, Allah Maha Adil. Sehabis difitnah, hidup saya tetap tenang dan hidup dia lebih kacau balau, sampai sekarang belum bekerja (sudah total 7 tahun terakhir ini dia menganggur). Hehehe.. Ehhhh maaf kok saya jadi curcol. πŸ˜€

      Jika Mbak sudah bertekad bercerai maka ingatlah, sesungguhnya ini adalah upaya Mbaknya keluar dari kezaliman, jadi jelas tidak akan mudah. Persiapkan mental dan fisik, Mbak–seriously. πŸ™‚

      Jika Mbak memutuskan untuk bercerai dengan jasa pengacara, boleh saja. Nah, masalah pertama yang akan Mbak hadapi adalah biaya. hehehe.. Ya, biaya pengacara perceraian, mulai dari mengajukan gugat sampai selesai beres akta cerai, tidak akan murah. Setidaknya Mbak siap dana sekitar Rp20-30 juta untuk proses perceraian tersebut.

      Kedua, tentu akan mendapat tentangan dari keluarga kedua belah pihak. Yang paling mungkin terjadi (dan bakal menyakitkan) biasanya ucapan orang tua yang tidak mau tahu duduk permasalahan. Bisa jadi orang tua dan keluarga menganggap Mbaknya cengeng, masalah seperti ini saja tidak bisa diselesaikan baik-baik. Jika mendengar komentar seperti itu, senyumi saja, Mbak. Ingat bahwa yang menjalankan rumah tangga ini adalah Mbaknya. Ini adalah hidup Mbaknya. Selamatkan anak Mbak. Sungguh tidak elok membiarkan anak melihat ayahnya sedang memukuli (KDRT fisik) atau memaki-maki (KDRT psikis) ibunya. Daripada membawa pengaruh buruk bagi perkembangan mental anak memang sebaiknya berpisah. Nah, sudah fokus saja kepada anak.

      Ketiga, suami akan semakin meradang dan mungkin, seperti yang saya alami, Mbak akan difitnah di sana sini, dijelek-jelekkan, dianggap istri durhaka, dianggap wanita murahan, dianggap ibu yang tak layak, dsb–mungkin ya, tapi semoga tidak. Dan pertengkaran parah yang menjatuhkan mental seperti itu biasanya berlangsung selama proses pengadilan (5-6 bulan) bahkan setelahnya–sepengalaman saya, pertengkaran akan terus terjadi sampai 2 tahun, Mbak. Maka banyaklah bersabar. Seperti saya katakan, Allah Maha Mengetahui dan Allah Maha Adil terhadap perkara setiap hamba-Nya. Berpegang kepada Allah saja, Mbak. Insya Allah hati lebih ringan.

      Keempat, hak asuh? Insya Allah, ini tidak usah dikhawatirkan. Anak Mbak masih berusia 2,5 tahun dan belum mumayyiz (belum mencapai rentang usia 7 tahun sampai akil baligh) jadi otomatis hak asuh akan jatuh ke tangan ibunya. Jangan lupa suami harus tetap menafkahi anak Mbak. Jika dia lupa atau tidak mau (sebagai upaya menyusahkan Mbak), biarkan. Lepaskan. Tak usah ambil pusing. Allah yang akan mencukupi nafkah Mbak dan anak. Kelak Allah sendiri yang akan perhitungan dengan suami Mbak, wallahua’lam.

      Kelima, jika benar hak asuh jatuh di tangan Mbak, komunikasi antara anak dengan bapaknya akan semakin berat dilakukan. Kadang ada lelaki yang cukup bijak, tetap menjalin komunikasi secara baik-baik dengan Mbaknya demi bisa tetap menghubungi anaknya, agar sang anak tidak terlalu merasa kehilangan. Tapi MAYORITAS lelaki ngga sebijak itu (hehe..) Kalau, ndilalah-nya suami Mbak termasuk yang nggak bijak, batasi komunikasi. Cukup layani telepon atau message dia yang menanyakan kabar anaknya dan menanyakan apa saja kebutuhan anak. Abaikan BBM/WA/SMS dia yang bernada selain itu (misal: masih marah-marah, masih merayu, masih mengajak rujuk, mengajak ML, mengajak nostalgia, kangen-kangenan, dsb—abaikan!)

      Keenam, apakah Mbaknya bekerja? Jika ya, alhamdulillah. Jika tidak, mulailah melamar kerja dan cari asisten terpercaya untuk mengasuh anak Mbak.

      Baru segini yang bisa saja jawab ya, Mbak. Intinya, siapkan mental dan fisik, termasuk juga spiritual. Semoga jawaban saya bermanfaat dan semoga dilancarkan prosesnya. Aamiin..

      Salam sayang,
      NF

      1. Makasih mba untuk feedbacknya, alhamdulillah saya bekerja mba..
        Hanya skrg yg jd kendala, keluarga semuanya menentang untuk saya berpisah. Bahkan saya sudah diancam bahwa apabil saya bercerai kelurga tidak akan mau mengenal dan anak saya tidak akan diberikan ke saya..
        Semua akses saya skrg dibatasi, bahkan kmrn saya diancam untuk tidak diijinkan keluar rmh dan bekerja. Jujur saya tidak tau harus seperti ap skrg, saya sudah bingung mba

  69. assalamualaikum…mba saya mau tanya,rmh tangga saya sudah 8thn tp diantara kami tidak ada kecocokan ribut terus stp hari ny g cocok dn dy org ny sering berbohong apalg mslh gaji,kasar sama ank,saya ingin sekali bercerai dari dl tp tidak ada yg ngebantu sdgkn kedua ortu dh cere mreka sibuk dgn rmh tanggA mereka,bgmana solusinya,,trimaksh

    1. Wa’alaikumsalam,
      Mbak Resqy, jika Mbaknya sudah tidak sanggup menghadapi suami dan rumah tangga Mbaknya, apalagi suami sudah mulai kasar kepada anak, dan Mbak sudah bertetap hati ingin bercerai, Mbaknya bisa menggugat cerai suami ke pengadilan agama. Postingan blog ini rasanya sudah clear ya apa saja yang harus disiapkan secara administrasi. Silakan dibaca dan dicermati ya, Mbak.

  70. Assalamu’alaikum
    Mba sya mau nanya mohon penjelasannya. Sya yg menggugat suami sya. Pada saat pemanggilan sidang bolehkah sya gak dtg ke sidang tsb? Dan apakah berpengaruh ketidak datangan sya dg putusan hakim?
    Trimakasi mba☺

    1. Wa’alaikumsalam,
      Setahu saya, jika Mbaknya yang menggugat, tapi Mbak sendiri tidak datang ke sidang maka kasus akan digugurkan/dibatalkan. Jika lain kali Mbak menggugat lagi, mungkin akan ditegur oleh hakim ybs, karena dinilai tidak serius saat menggugat cerai. Gugatan cerai bukan untuk main-main, Mbak. Jika tidak siap, sebaiknya diurungkan niat menggugat cerai dan kembali memperbaiki rumah tangga dengan suami. Kecuali Mbaknya bisa menyewa pengacara untuk mewakili Mbak di pengadilan agama, itu beda hal. πŸ™‚

      Semoga jawabannya membantu, yaa.. Good luck.

  71. Assalamualaikum mb saya mau tanya saya sudah sepakat ingin bercerai dgn suami tp saya mau tanya.
    1.apa saja syarat untuk bercerai mb
    2.apa saja yang di tanyakan oleh hakim saat sidang brlanhsung dan brapa waktu saat sdang brlngsung trimkasih mb

    1. Wa’alaikumsalam..
      Saya coba jawab ya, Mbak Rheny.
      1. Saya nggak mengerti pertanyaan ini. Syarat untuk bercerai? Kalau yg Mbak maksud apa saja yang harus disiapkan untuk melayangkan gugat cerai, jawabannya ada di entry blog di atas. Dibaca aja, Mbak.
      2. Yang ditanyakan, standar kok, Mbak. Bukan pertanyaan sulit. Mungkin hakim akan mencocokkan jawaban Mbak dengan yang ada di surat kronologi (gugat cerai), trus ditanya apa sudah yakin dengan keputusan ini, dan seterusnya.

      Semoga jawaban ini bermanfaat ya.
      Good luck,
      NF

  72. Aslmulakum mba nina.
    Saya mau nanya.bolehkah seorang istri menggugat suami.sedangkan istrinya itu sedang berada di luar negeri.apakah bisa di wakil kan.thankz

    1. Wa’alaikumsalam,
      Maaf, saya kurang paham dari sisi hukum apa bisa istri yang berada di luar negeri menggugat cerai suaminya di Indonesia. Tapi mungkin jika istri menggunakan jasa pengacara, sih bisa kali, ya.. Namun saya tidak bisa menjawab persis. Mohon maaf. Silakan hal tersebut dikonsultasikan kepada pengadilan agama atau dinas catatan sipil setempat, ya..

      Terima kasih sudah mampir di blog ini. Good luck,
      NF

  73. Assalamualaikum mbak…
    Bagaimana cara mengajukan gugatan dgn alasan pernah dianiaya dl. Kejadiannya sudah lumayan lama hampir satu tahun…tp secara batin…secara psikologi saya masih trauma smpai sekarang. Apa bisa alasan itu saya gunakan? Saya punya 2 teman saya yg dl kost sma saya…yg mengetahui kejadian itu di depan mereka.

    1. Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh,
      Mbak Juwita, untuk kasus KDRT (penganiayaan) ada baiknya Mbaknya menyertakan bukti visum dari rumah sakit saat berobat dan bukti lapor ke polisi. Jika tidak ada/bisa menyertakan bukti, tak apa dicantumkan saja di surat kronologi gugat cerainya nanti, Mbak. Apalagi ada saksi, nanti boleh mereka ikut bersaksi pernah melihat Mbaknya dianiaya. Tapi nanti hakim akan bertanya, “Kenapa tidak dilaporkan ke polisi?” Nah, Mbaknya harus siap dengan jawaban jujurnya, ya..

      Selebihnya, semoga Mbaknya semakin kuat dan tegar, ya. Bersabar ya, Mbak.

      Salam,
      NF

  74. Assaamualaikum..
    Mb saya lagi bingung, sebenarnya saa tidak ingim bercerai dengan suami saya, tp suami saa pun tdk dpt berbuat apa2.. Awalnya karena masalah saa dgn suami dan ortu suami terlibat dlm mslh kami dan saat ini pun suami saya hanya diam dikala ibunya selalu membicarakan perceraian kami.. Sampai ibunya tak ingin suami dan saya bertemu lg.. Padahal semenjak kejadian itu saya dan suami tdk pernah di dudukan berdua bersama kel kami masing2 untuk mendiskusikan masalah kami.. Rasanya sakit bgt.. Awalny memank saya yg slh berbohong k suami dan kebohongan itu pun ada sebabnya karena suami yang gak bisa kasih solusi yg baik. Namun ortu suami sangat membelanya seakan akan hanya saya yg slh.. Saya bingung mesti gimana.. Teralhir ortunya tlp bahwa akan ada surat panggilan dr pengadilan.. Saya sedih bgt mb pernikahan yg hampir kami bina selama 5 th hrs begini.. Dan saat ini pun sudah 1 bln lebih kami tdk tgl bersama di karenakan masalah itu yg awalnya kata ortunya buat intropeksi diri namun kenyataanny mereka malah menginginkan kami berpisah sampai berbohong kalau suami saya udah di luar kota padahl masih di rmh ortunya.. Say harus gimana mba ? No hp suami pun sdh ganti semua.. Sedangkan kami sudah mempunyai putra usia bln dpn 4 thn.. Aku bingung mesti gimana.. Masih ingin bersatu sama suami tp aku gak tau apakah suami masih mau atau tidak krn setelah kekadian suami gk prnah di perbolehkan untuk bicara dgn saya oleh ortunya..

    1. Wa’alaikumsalam,
      Saya turut sedih dengan apa yang Mbak Anah alami. Menurut saya, jika memang Mbak ada keberatan dengan cara yang Mbak paparkan di atas, nanti diungkapkan saja kepada hakimnya. Biarkan hakim nanti yang menyimpan keterangan Mbaknya sebagai bahan pertimbangan untuk putusan disahkan atau tidaknya talak tersebut. Termasuk bahwa suami tidak berbuat apa-apa untuk mempertahankan rumah tangga, sampai akhirnya orang tua beliau yang “mengambil alih” segala putusan. Tak apa, itu diungkapkan saja nanti di pengadilan di depan hakimnya.

      Semoga lancar ya, Mbak.
      Wassalam,
      NFR

  75. Yang saya bingung kaau misal pas pemanggilan suami saya tdk dtg ntah it keinginananny atau ortunya itu bagaimana ? Sdgkan dia yang menggugat cerai saya..

    1. Kalau suami yang menggugat tapi dia sendiri tidak datang, biasanya pengadilan akan menggugurkan kasus, alias gugatan talak dianggap tidak sah. Tapi semua terserah pada hakim dan pengadilannya. Ditunggu saja bagaimana kebijaksanaan pengadilan nanti, Mbak.

  76. Ass. Saya mau tanya.
    Sebagai penggugat apakah untuk sidang pertama sendirian tanpa ditemenin kluarga tdk bmasalh?? Krna saya tdk mau merepotkan kluarga

    1. Wa’alaikumsalam,
      Saya dulu juga sidang tidak ditemani siapa-siapa, ngga masalah kok, Mbak. πŸ™‚
      Baru “ditemani” itu saat sidang mengajukan saksi (minimal 2 orang). Karena saksi harus datang bagaimanapun juga.
      Semoga lancar sidangnya, Mbak Olive.

      Wassalam,
      NFR

  77. Assalmualaikum wr.wb. Mbk s2ya mau tnya tentang prcraian, sya mnikh sdh 10 thn tetapi sudah lbh krng 8 thn sya pisah dgn suami, sdngkn suami sya sdh menikh lgi, d sni sya mau mngurus perceraian sya brpa wktu yg d bthkn untk mnunggu sampai sdng slsai, tpi sya ad mslh krna sya tdk pnya ktp, skrg bkn ktp hrs nunggu lama , smentara sya kerja jd gk bsa ngmbl cuti lma” sblm nya mksh bwt mbk y. Wassalam wr.wb

    1. Wa’alaikumsalam.
      Mbak, mengenai administrasi untuk pengadilan, saya tidak terlalu paham juga sih, tapi bisa ditanyakan dulu ke Pengadilan Agama setempat, Mbak. Kalau KTP-nya sedang diurus, minta saja surat keterangan sedang mengurus KTP dari kecamatan setempat. Sepertinya bisa dengan cara itu. Karena Oktober lalu saya juga mengurus Paspor dengan keterangan dari kecamatan, karena eKTP saya belum selesai di kecamatan. Coba dikomunikasikan dulu aja ya, Mbak, ke PA-nya.

      Good luck.
      Wassalamu’alaikum,
      NFR

  78. Assalamualaikm mbk sy mau ,sy telah mnikah 18 th,sy ikut kyakinan suami(muslim) spanjang perjlanan perkawinan suami tdk.pernh mnddik sy scara agama krn sll bkerja dlepas pantai itu sy trima dg iklas,sy mncari ilmu sndiri utk mnambah kyakinan sy sambil mnddik anak skrg alhmdlh 3 anak..SPanjang perjlanan suami sy sll ktauan main prempuan tp stiap d tanya pasti marah dan dr saat ktauan itu dia sll mnilai sy istri durhaka dan baik kmbali ..yg smpe saat ini dia telah mnikah siri dan lbih banyak di istri siriny,tp secara ekonomi dia memenuhi banget tp hati sy ttep ga nyaman .apakah masih wajar sy mnuntut cerai.stiap sy biacarakan dia sll bilang apalgi yg kurang smua sudah dpenuhi.tolong kasi saya saran mbk.tks

    Waalaikmslam

    1. Wa’alaikumsalam,
      Mbak Gusti, terima kasih sudah sharing cerita dengan saya. Di satu sisi, saya bersyukur Mbaknya tetap menjaga komitmen kepada Allah terkait belajar agama, yang pastinya, sebelumnya asing untuk Mbak. Di sisi lain, jujur, saya menyayangkan sikap suami Mbak yang kurang support Mbak dalam mencari Allah. Namun, hebatnya Mbak ikhlas. Insya Allah itu jadi ibadah yang mengantarkan Mbaknya ke surga kelak, ya, Mbak.

      Mengenai poligami yang dilakukan oleh suami, Mbak boleh kok mengajukan keberatan jika tidak ikhlas. Dan suami selayaknya juga tidak memaksa sang istri untuk bisa menerima. Namun sebelum Mbak mengungkapkan lagi keinginan untuk bercerai dengan beliau, sewajarnya Mbak mempersiapkan lahir dan batin (khususnya mental) untuk bisa hidup sendiri bersama anak-anak.

      Kemudian coba bicarakan baik-baik mengenai hal yang memberatkan Mbaknya ini. Jika Mbak tetap berpikir cerai adalah jalan terbaik dan suami tetap beralasan, “Apa yang kurang?” katakan saja bahwa poligami yang dilakukannya memberatkan hati Mbak. Bahwa Mbak tidak ikhlas, sehingga yang dia lakukan bisa dibilang zalim kepada Mbak. Karena, secara agamapun suami tidak boleh memaksakan kehendak, apalagi memaksa Mbak menerima keputusan dia berpoligami, meski hal tersebut halal. Tentunya dia tidak mau menjadi manusia yang bangkit di hari akhir dengan kepala miring, karena telah berlaku tidak adil kepada istri-istrinya.

      Jika seorang lelaki sangat paham agama, tentu ia akan tahu betapa beratnya konsekuensi poligami di mata Allah.

      However, jika Mbak mengakui bahwa Mbak hanya keberatan soal “lebih banyak di istri sirinya”, nah bicarakan saja dengan beliau bahwa Mbak sudah bisa menerima dia berpoligami, tapi Mbak ingin agar dia bersikap lebih adil. Apalagi mengingat Mbak dan dia memiliki 3 anak. Alangkah bijaknya jika suami bisa berlaku adil seadil-adilnya, sehingga poligami yang dilakukannya tidak menjadi zalim kepada pihak lainnya..

      Nah, silakan dipertimbangkan lagi ya, Mbak. Saya tidak menyarankan cerai, kecuali Mbaknya benar-benar sudah siap lahir batin. πŸ™‚

      Selebihnya, good luck.
      Wassalamu’alaikum,
      NFR

  79. Sy mau bertnya mbak’,,sya sdh berfikir sehat n baik ingin mengajukan perceraian kpd suami sya,,pertnyaan sya mbak’ 1.sya sllu disiksa n suami sya tdk menjalankan hak”nya sbgai suami..2.sya perna mendatangani surat pengembalian uang sbsar 65 jta klau sya tdak akur dngan suami sya..tpi slma dlm perjanjian 3 blan .

      1. Assalamualaikum mbk nina… Mbk nina saya sdh mngjukan gugatan cerai trhdp suami sy, dan sy sdh mlksnkan sidang pertama dn hrs mllui mediasi. Dr hasil mediasi sy dan suami tdk mncpai kspktn damai mbk, krn sy ttp dgn pendirian sy yg ingin bercerai dgn suami sy. Krn sy mmg sdh tdk kuat dgn watak2 yg ada di suami sy, shgg kami srg bertengkar dr awal mnikah. Aplgi swktu di mediasi dia mngngkpkn kl slma ini dia bnyk mnympan kesal trhdp ortu sy dan it berdampak buruk ke saya. Ttpi suami sy tdk ingin kami brpisah mbk. Yg sy ingin tnykn, bgmn nanti hslnya gugatan sy y mbk?? Apa hakim akn menolak gugatan sy apbla sy ttp ingin bercerai. Trmksh sblmnya mbk nina.

      2. Wa’alaikumsalam, Mbak Ema..
        Terima kasih sudah berbagi ceritanya. Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana nanti hasil putusan majelis hakim, karena itu sepenuhnya hak hakim atas rasa keadilan sesuai nilai-nilai keislaman. Saya pribadi tidak berpengalaman dalam proses mediasi, karena proses sidang cerai saya dahulu tidak pernah ada mediasi (karena suami saya tidak hadir dalam sidang I, II, dan saat itu saya sudah digantung 3 tahun tinggal berpisah tanpa dinafkahi).

        Namun, apapun nanti keputusan hakim, insya Allah itu yang terbaik ya, Mbak. Jika ternyata menurut hakim, Mbak dan suami layak diberi kesempatan untuk akur kembali, ya putusannya gugatan dibatalkan. Tapi jika menurut hakim, Mbak dan suami sebaiknya memang berpisah, saya turut mendoakan semoga Mbak dan suami sama-sama sudah siap mental untuk hal tersebut.

        Selebihnya, good luck ya, Mbak.
        Wassalamu’alaikum,
        NFR

  80. Assalamualaikum,,
    Mba Nina,sy mau minta pendapat mba,,sy berumah tangga sdh 6th,,inti permasalahan selalu ad pertengakaran yg sebenarnya di mulai dr masalah sepele,,tp lama kelamaan org tua suami selalu ikut campur,,dn kesannya suami cenderung di atur dan selalu mengikuti apapun perintah org tua’y sampai2 lupa dg rumah tangganya sendiri..jelasnya tak ada sikap tegas mba
    Dn sekarang ini krn suami krj di luar sudah beberapa bulan sejak oktober tak pernah mengirimi nafkah
    Sebenarnya sy sudh lama ingin pisah,,namun keluarga yg msh sy pertimbangkan.
    Tp skrg sy menginginkan untuk berpisah,,,
    Yg sy tanyakan langkah ap yg hrs sy ambil?
    Dulu sy menikah di kendal tp setelah itu sy pindah ktp solo,dimana sy harus mengajukan gugatan??
    Bgmn dg biaya2 juga bgmn jika sy tanpa menghunakan jasa pengacara?
    Mohon penjelasannya mba nina,,,terimakasih

  81. Assalamualaikum mba nina,,,
    Mba bagaimana jika dlm rumah tangga pihak mertua selalu ikut campur?bahkan rencana ingn ony rmh sendiri pun tdk boleh?bukankan org tua pasti akan senang bila anaknya mmp mandiri?
    Sy sudah menikah selama 6th,,,selama itu pula suami cenderung ke pihakvirg tua dn keluarga,,apapun yg mereka mnt selalu di turuti bahkan urusan pinjam uang,,,pdhl sy yg mmg hny sbg istri sekali pernah meminta untuk anak selalu sj ad alasannya,,sampai2 sy terbiasa mandiri (suami krj di kapal)
    sebelumya,,kerja pun tak boleh tp kebutuhan selalu di akhirkan,,sy tdk meminta untuk sy,,tp lebih ke anak.
    Selalu ada pertengkaran yg sebenarnya mungkin hal kecil,,
    Jujur sy tidak pernah keberatan dia membantu keluarganya,,,toh kedepan saat kita menjadi tua tentu keluarga menjadi tempat pengaduan..tp karna kemarin suami main tangan,,sy terpaksa menghubungi orang tua meminta untuk dijemput pulang beserta anak sy,,dn skg saya tinggal drmh org tua kandung sy.
    Dn sekarang,,,semenjak hbs lebaran kemarin sampai saat ini suami stop memberi nafkah untuk anaknya,,,
    Yg sy tanyakan?apakah sy salah dg meminta org tua menjemput sy,sedangkan suami sy seperti itu??
    Karna sesungguhnya sy pun malu bila sampai org tua tau masalah2 dlm rmh tangga sy,,tp saat ini sy memang btuh org tua mengingat sy tinggal di luar kota.
    Yg kedua,,sy menginginkan cerai,,bgmn sy harus sy lakukan,,jika dl menikah di t4 org tua sy daerah kendal,,sedangkan sy skg KTP domosili karanganyar solo??kemana sy harus lari mengurus cerai ini??
    Apa yg harus saya lakukan jika sy mengurus perceraian tanpa jasa seorang pengacara??dan berapa kisaran biaya yg harus sy tanggung??
    Serta apa saja hak2 saya jika saya sebagai pihak perempuan yg mengajukan perceraian.
    Trmksh mba Nina,,semoga jawaban mba dpt membantu saya
    Wassalamualaikum wr wb

  82. Ka, Nina yang baik. Suami saya mengajukan cerai beberapa minggu yang lalu ke PA. Dia menekan saya untuk tidak hadir dalam persidangan dengan maksud mempercepat proses perceraian agar diputus verstek. Begitu juga Suami saya berniat tidak datang. Saya sangat ingin mempertahankan perkawinan ini. Yang saya ingin tanyakan apakah saya selaku termohon apabila terus datang ke persidangan dan bersikeras β€œmelawan” maka proses sidangnya tetap diputus verstek (walaupun suami saya tidak datang)? Terima kasih

    1. Mbak Martha yang sabar,
      Sepaham saya, jika penggungat tidak datang ke pengadilan saat sidang maka kasusnya akan gugur. Di sisi lain, jika tergugat yang tidak datang (tapi penggugat datang) artinya akan diputus verstek setelah 3-4x sidang. Kalau nanti di sidang Mbaknya hadir dan si Mas tidak hadir maka hakim akan memutuskan sesuai kebijaksanaan mereka, dan kemungkinan akan ada proses mediasi (mendamaikan kedua pihak). Selebihnya, saya tidak terlalu paham proses hukum pengadilan agama selain dari yg saya alami sendiri, Mbak. Maaf ya. Semoga jawaban ini membantu, somehow. πŸ™‚

      Good luck.
      NF

  83. hampir satu tahun saya bertengkar dengan suami saya yang ga ada habisnya dan dia sudah pulangin saya ke orang tua saya.dan udh hampir satu tahun saya dan anak saya tinggal di rumah orang tua saya. bhkan anaknya pun ga dinafkahin selama saya tnggl dirumah orang tua saya.saya pengen bgt gugat suami sya, bgmna ya mba syaratnya, aq prnh tanya ke teman aq dia jga pernah ngurusin srt cerai jga katanya bisa langsng datang dan lewat KUA apakah bner bisa ya mba.mksh ditnggu jawabannya

    1. Mbak Diane yang baik,
      Turut prihatin atas apa yang terjadi dengan rumah tangga Mbaknya. Kalau membaca di buku nikah, jika suami tidak menafkahi selama 2 bulan berturut-turut dan istri tidak ridho maka bisa digugat dan jatuh talak 1. Namun apakah bisa melalui KUA, saya juga kurang paham ya. Kalau saya memproses semuanya lewat pengadilan agama, tidak lewat KUA. Selebihnya, mungkin bisa ditanyakan ke teman Mbaknya itu ya. Saya juga jadi penasaran nih. 😁 Mohon maaf tidak bisa bantu banyak.

      Good luck,
      NF

  84. Ass wr wb..
    Hallo mba maap sy mnt solusi x ya..
    Sy sm mntan suami sdh brpisah scra lisan 2 th lbih tp 6 bln yg llu mntan suami sy ngjukan cerai ke pa dan tnp kehadiran sy krn sy di luar daerah skrg tiggal x pas surat crai x keluar yg pny sy gk di ambilkan sm dy gmn cra sy ngmbil surat cerai tu ya mba sfg kn sy gk pny nomer perkara untuk di tnjukan ke pa.. mhon bantuan x ya mba mkasih.

  85. Mbak terima kasih atas ulasannya, sangat ringkas dan jelas.
    Saya hanya ingin bertanya dari semenjak kita mengajukan gugatan cerai apakah kita boleh pindah dari rumah tempat tinggal dan mengajak serta anak2? atau kapan tepatnya kita boleh pindah dari rumah? karena proses cerai yang lama tidak memberikan ketenangan bagi kedua belah pihak. Thanks

    1. Mbak Violna yang baik,
      Mengenai hal tersebut, menurut saya, lakukan senyaman Mbaknya aja. Proses perceraian sangat menguras energi dan kekuatan mental. Jika bersama-sama malah menimbulkan ketegangan, Mbaknya boleh segera pindah. Namun mengingat ini terkait soal anak-anak, sebaiknya dibicarakan dengan suami. Cari kesepakatan terbaik, yang penting anak-anak tidak ikut stres dengan masalah yang dihadapi orang tuanya. Saya harap Mbak dan Masnya tetap menjaga sekali perasaan anak-anak ya, Mbak. Sebisa mungkin perselisihan orang tua tidak melibatkan anak-anak, apalagi sampai menjadikan mereka semacam “senjata”. Saya yakin dengan kebijaksanaan Mbak dan Masnya terkait anak-anak ini. S

      Selebihnya, semoga dimudahkan semuanya bagi Mbak, Mas, dan anak-anak, ya..
      Good luck,
      NF

  86. Trimakasih mbak.. dengan ini saya bisa tau apa yang harus saya jawab dan alasan saya untuk bercerai..karna suami saya mengancam ketika saya mengatakan bahwa dia tidak mau menafkahi dan saya menjatuhkan dia dia akan mempersulit ..

    1. Sama-sama, Mbak Erika..
      Rumah tangga yang sudah saling mengancam itu bisa digolongkan dalam KDRT psikis, Mbak. Pilihannya ada di tangan Mbak sendiri, tegas atau mengalah. Kalau tegas, ya harus bisa sama-sama saling berubah. Kalau mengalah, artinya Mbak harus bisa tahan mental dengan sikap suami yang tidak menghargai seperti itu. Jagalah kesehatan rumah tangga, karena itu bisa jadi cerminan bagi kesehatan batin kitanya, Mbak.

      Semangat ya.. And good luck.
      NF

  87. Mba nina,,
    mohon masukannya…

    saya berumah tangga sudah 6 tahun lamanya. Awalnya kami baik2 saja, sampai pada mulai dr pertengkaran kecil lalu berakhir dengan baikan. dikemudian hari pertengkaran terus terjadi, hanya saja tidak pernah dihadapan orang tua ataupun pembantu atau saksi manapun. setiap kali kita bertengkar, tidak pernah ada syapapun dekat kami, si suami cuma beranjak pergi tanpa berniat menyelesaikan. jujur aja, saya sudah lelah. tiap kali kedengeran orang tua, dia cuma berjanji berubah dan minta kesempatan lagi. nyatanya tidak pernah ada perubahan dan selalu melakukan hal yang sama.

    klo dibilang tidak menafkahi, dia menafkahi. hanya saja kebutuhan lainnya ia abaikan, dan seringnya terjadi ribut terus2n itulah yang membuat saya semakin lama semakin tidak tahan.
    kira2 pantaskah saya menggugat dia atas dasar hal tersebut???

    1. Mbak Chachi,
      Sepertinya Mbak dan suami harus bicara hati ke hati. Ajak dia bicara di saat yang menyenangkan dan sama-sama siap mendengarkan keluh kesah satu sama lain. Pada dasarnya, lelaki dan perempuan sama kok: nggak mau ribet dan ngga mau ribut. Hanya saja memang lelaki cenderung mengabaikan apa yang membuat mereka ribet, sementara perempuan secara insting akan meributkan apa yang tak nyaman baginya. Kalau begitu dicari jalan tengahnya.

      Jika yang jadi masalah adalah ketidakpedulian suami terhadap hal-hal yang justru dipedulikan oleh istrinya maka jalan terbaik adalah mau saling menggeser hal tersebut hingga ketemu di tengah. Bercerai itu bukan jalan terbaik, jika masing-masing masih ada niat/iktikad untuk bertahan. Bercerai baru jadi jalan keluar jika antara suami dan istri sudah sama-sama tidak berniat melanjutkan rumah tangga. Demikian, Mbak..

      Dicoba ya, bicara baik-baik dulu dengan suami. Bisa dengan saling berkirim surat dulu, jika tidak siap bicara langsung. Kalau sudah siap bicara langsung, mungkin bisa sambil minum teh hangat dan pisang goreng. πŸ™‚ Flash back ke masa-masa pacaran, apa yang membuat Mbak dan suami sepakat menikah. Bertahan pada hal tersebut, insyaa Allah ada jalan keluarnya jika hati masih saling mendengarkan.

      Semangat ya, Mbak. Good luck.
      NF

  88. mbak mau tanya yah, saya nikah di Pamulang Tangerang, tetapi saat ini tinggal di Palembang, apakah bisa saya ajukan gugatan cerai di Palembang, mohon infonya terimakasih.

    1. Mbak Lili yang baik,
      Wah, Pamulang. Tetanggaan kita. Hehe..

      Pengajuan gugatan harus disesuaikan dengan KTP istri. Jadi kalau KTP Mbak Lili sekarang adalah KTP Kota Palembang, berarti surat gugat cerai diajukan ke PA Kota Palembang.

      Semoga jawabannya membantu ya. Good luck..
      NF

  89. Mbak nina, saya digugat cerai oleh istri saya padahal surat kawin dak akte kelahiran ada pada saya smua, alasanya saya tidak mau bekerja,, katanya saya menjelek2kan dia, dan dia jadi tulang punggung dgan alasan selalu mengirim uang dari luar negri untuk kebutuhan saya dan anak saya … Tp alasan itu tidak benar dan saya punya slip kiriman hasil krja saya untuk biaya anak… Saya tak mau brcerai karna istri saya trganggu orang ketiga, bahkan berani memasang foto mereka di internet… Anak saya umur 7 taun tp smnjak kecil ampe sekarang dirawat ibu saya, bahkan selama 4th diluar negri hanya tlfon 3kali trus sampai skarang gak pernah komunikasi,,, tlong saran mbk nina

    1. Pak Roni yang baik,
      Jika Bapak masih berniat melanjutkan pernikahan dengan istri, silakan dibicarakan kembali dengan beliau. Jika istri berkeras, Bapak boleh minta nasihat dari wali, baik dari pihak istri maupun pihak suami, bahkan kalau bisa minta nasihat dari ustadz atau ulama yang netral memberikan nasihat. Mungkin agak sulit karena istri masih di luar negeri ya? Setahu saya, istri tidak bisa menggugat cerai suami dari luar negeri. Ia harus datang dulu ke Indonesia dan melakukan sesuai prosedur: mengajukan gugat cerai ke Pengadilan Agama (jika Islam) atau ke Pengadilan Negeri (jika non-Islam). Dan salah satu yang disertakan dalam gugatan tersebut adalah buku nikah (istri) asli. Jika tidak maka berkas dinyatakan tidak sah untuk diproses.

      Saran saya, dibicarakan baik-baik kepada istri, sambil terus berdoa ya, Pak.

      Pak Roni sebagai imam (kepala keluarga) berhak menolak ataupun mengabulkan permintaan tersebut. Hanya saja, dalam Islam, istri yang meminta diceraikan karena alasan yang tidak sesuai syar’i maka Allah melaknatnya, nauzubillahi min zalik. Semoga hati istri Pak Roni dilunakkan oleh Allah dan diberi kesempatan untuk kembali ke jalan Allah. Aamiin..

      Semoga Allah memudahkan semua hajat dan perkara Pak Roni dan keluarga. Aamiin..

      Good luck,
      NF

  90. Mba q sdah kirim gugatan suami sya yg isinya dia di gaib kan karn dia pergi meningglkan sya dan membwa anak ke 2 sya… dari blan fenruari tgl 14 sya sdah mengajukannya dan sya mau nanya brapa lma ya mba q nunggu sidang dri pengadilannya karna sdah mendkati 3 blan sya blom dpet info mba

    1. Bu Heni,
      Mengenai hal ini silakan ditanyakan ke Pengadilan Agama tempat suami atau mbaknya mendaftarkan gugatan. Saya kurang paham dengan perkara yang diputus secara gaib begini. Kalau nggak salah sih ada proses tabayyun dan proses ini bisa berlangsung sampai 5 bulan. Tapi persisnya proses sudah sampai mana, silakan ditelepon saja Pengadilan Agamanya, Bu. Jangan lupa Bu Heni catat nomor register gugatan Ibu, agar operator di PA bisa melacaknya.

      Semoga jawaban saya membantu ya.
      NF

  91. Mbak, saya mau tanya apa bisa diputuskan cerai bila tidak ada saksi?
    Saat ini saya memiliki banyak sekali bukti perselingkuhan suami saya (foto, video, sms, WA dll ).
    Saya sudah benarΒ² tidak kuat menghadapi suami saya yg sering berbohong, sering selingkuh, kasar & minim sekali kehangatannya dalam berkeluarga.
    Saya hampir 10 tahun menikah & memiliki 3 orang anak (8 th, 6 th & 3,5 th). Selama pernikahan selalu cekcok karna saya & anakΒ² tak pernah dibimbing masalah Agama, suami temperamental, tertutup (lebih sering curhat apapun dgn orang lain, terlebih ke para wanita hiburan malam).
    Akan tetapi suami selalu memberikan gajinya pada saya.

    1. Mbak Dn yang baik,
      Bukti-bukti yang Mbak katakan itu sudah bagus, tapi tetap saja pengadilan akan minta didatangkan saksi minimal 2 orang untuk menguatkan bukti-bukti yg Mbak ajukan. Jika tidak, saya khawatir pengadilan akan membatalkan pengajuan cerai Mbak karena tidak bisa memenuhi syarat pengadilan utk menghadirkan saksi, alias tidak sah secara hukum negara.

      Menurut saya, ikuti aturan yang berlaku ya, Mbak. Jika tidak, malah Mbaknya yang nanti semakin dirugikan.

      Semoga Allah melancarkan dan memudahkan semua urusan Mbak. Good luck.

      NF

  92. Assalamualaikum Wr.Wb
    Bu saya mau tanya, apakah bisa diputuskan cerai jika saya tidak memiliki saksi karna selama ini yg saya punya hanya berupa buktiΒ² perselingkuhan (foto, video, pesan dll).
    Kami pun di depan orang lain terlihat rukun, padahal di perkawinan kami yg hampir 10 tahun ini selalu diwarnai pertengkaran.
    Suami saya beberapa kali selingkuh & saya memaafkan dgn memberikannya kesempatan lagi.
    Tapi untuk yg kali ini sepertinya dia lebih memilih wanita penghibur itu, mungkin karna dia seksi & masih muda (21thn, janda anak 1) sedangkan saya sudah 33thn .
    Dan tanggal 2 Mei kemarin suami saya SMS katanya disuruh bosnya ke office A ( masih di daerah Lampung), tetapi kenyataannya saya melihat fotoΒ² kebersamaan & keintiman suami saya dgn wanita itu di daerah Bekasi (tempat tugas suami 2 tahun kebelakang, sekarang sudah ditempatkan di office pusat di Lampung)..
    Dan hubungan mereka pun sudah hampir 2 tahun, dan sempat memiliki anak.
    Saya benarΒ² sudah gak kuat atas perlakuan suami saya, saya akui selama ini saya kurang perhatian padanya karna terpecah perhatiannya pada ke-3 anak saya(8 thn, 6 thn & 3,5 thn).
    Akan tetapi, perlakuannya pada saya berbeda sekali dgn perlakuannya kepada wanita karaoke malam itu.
    Terlihat dari fotoΒ² & video itu betapa intim, dekat, kehangatan, keterbukaan & kebersamaannya (suami jarang berbicara & curhat pada saya, dia lebih memilih terbuka & cerita ke wanitaΒ² malam yg ditemui di karaoke. Disinilah awal perselingkuhannya dgn wanitaΒ² tersebut, merasa diperhatikan lebih)

    1. Mbak Dn yang baik, rasanya sih saya sudah balas ini di komen sebelumnya, tapi kok hilang ya?

      Oke deh, saya ulangi..

      Begini, Mbak, jika menurut Mbaknya pernikahan ini masih layak dilanjutkan maka bicarakanlah baik-baik dengan suami. Minta kesediaan beliau untuk menghormati komitmen yang sudah dibuat di hadapan Allah. Tapi jika beliau menolak, tegaskan bahwa pernikahan tersebut sudah tidak sehat lagi. Apalagi dengan kehadiran orang ketiga yang tentunya membuat semakin sensitif kondisi rumah tangga. Jika sudah begitu, lakukan apa yang menurut Mbaknya perlu dilakukan sebagai orang dewasa dengan akal sehat yang matang.

      Selebihnya, silakan diselesaikan, Mbak. Semua sudah jelas dituliskan dalam artikel mengenai syarat standar. Jika syarat standar itu tidak bisa terpenuhi, bisa diperkirakan secara hukum kasus gugatan mbaknya tidak akan dikabulkan, tidak sah dan batal demi hukum, dan Mbaknya tetap berstatus istri beliau. Silakan dipertimbangkan lagi ya.

      Good luck,
      NF

  93. Assalamualaikum..mba nina..saya mau share dan skalian minta jawaban.gini mba pernikahan kami baru setahun..tp sudah begitu banyak pertengkaran dan akhirnya saya beranikan gugat suami krn merasa sudah tidak nyaman.yg saya mau tanyakan dalam masa persidangan masih tinggal satu rumah sm suami apakah diperbolehkan..krn ini sudah sidang ke 2 mba..

    1. Mbak Luciana yang baik,
      Terima kasih sharing ceritanya ya.. Baru setahun ya, Mbak. Sayang sekali lho.. tapi, Mbak sudah memutuskan utk menggugat suami, jadi ya dijalani saja ya..

      Saran saya, sebaiknya pisah rumah, Mbak. Khawatir proses sidang akan memengaruhi emosi kedua pihak (mbak dan masnya). Kalau Mbak pernah baca tulisan saya yang berjudul: “Pasca Cerai, Berikutnya Apa?” (https://firstavina.com/2017/02/13/pasca-cerai-berikutnya-apa/) di situ saya memberi contoh kasus, gambaran apa yg sebaiknya dilakukan oleh pasangan yg sedang proses sidang..

      Tapi jika Mbaknya nyaman dengan kondisi sekarang ini, silakan dilanjutkan, Mbak. Tidak pernah ada aturan baku dalam menghadapi dan mengatasi emosi saat proses perceraian. Lakukan apa yang menurut kita benar dan nyaman buat kita. Itu aja kuncinya..

      Selebihnya, good luck.
      NF

  94. Selamat malam bu Nina, sy mohon pencerahanny atas permslhan sy
    Bu Nina yth yg ingin sy tanyakan dsini adalah :
    > Bisakah sy menggugat harta milik bersama dlm hal ini berupa SHM namun sy tdk memegang bukti fisik atau salinanny dkarenakan SHM tersebut berada d tangan mertua saya dan beliau tdk berkenan utk meminjamkan sy SHM tsb bahkan salinanny. SHM tsb atas nama kami berdua suami istri yg dmiliki selama masa pernikahan.
    > Lbh bijak mana dr segi waktu dan biaya utk mengurus harta gono gini setelah atau sebelum putusan cerai keluar?
    > Apakah hak2 yg mungkin dminta oleh sang istri thd sang suami dgn masa pernikahan 16thn dan tdk dikarunai seorang anak?
    Mohon pencerahannya bu, Terima kasih yg sbsr2ny atas perhatianny.

    1. Konbanwa, Bu LC08,
      Terima kasih sudah mampir dan menanyakan jalan keluar permasalahan ibu.

      Pertama-tama, maaf, saya bukan ahli hukum. Jadi saya tidak bisa menjawab hal yg berkaitan dengan hukum ya, Bu. Saya khawatir memberikan informasi yang keliru dan malah menyusahkan orang lain. Jika Ibu bertanya berdasarkan pengalaman saya pribadi, selama saya menikah, kami tidak memiliki aset apa-apa, sehingga tidak ada tahapan harta gono gini sepanjang proses perceraian saya dgn suami dahulu.

      Kalau saya, karena suami menganggur selama 4 tahun dari 6 thn pernikahan, di klausul gugat cerai saya masukkan nafkah terutang. Tapi saat putusan sidang, hakim tidak meluluskan gugatan tersebut karena menurut beliau, apa lagi yg bisa dituntut dari suami saya, memang dia tidak mampu menafkahi sampai putusan pengadilan jatuh pun. Saat itu kondisi saya digantung selama 3 tahun oleh suami (hanya ditalak secara agama tapi tidak diurus surat cerainya) dan sampai putusan jatuh pun suami saya tetap menganggur. Makanya hakim hanya meminta keikhlasan saya saja. Biar Allah yang membayarnya, begitu hakim waktu itu bilang. 😁 saya akhirnya mengiyakan. Insyaa Allah, tawakkal saja setelah itu. Hehe..

      Jadi, Bu, utk pertanyaan 1, 2, bahkan 3, saya tak bisa menjawabnya, maaf ya..

      Saran saya, silakan ditanyakan ke lawyer spesialis hukum perceraian, Bu. Atau Ibu bisa layangkan pertanyaan ke konsultasi di hukumonline.com, mereka ini ahlinya, Bu.

      Terima kasih atas pertanyaannya, maaf tidak bisa memberi pencerahan spt diharapkan. Selebihnya, good luck ya..
      NF

  95. Assalamualaikum, mb nina sy mau share, bln ini sy sidang pertama, sy sdh 16 thn menjlnkan biduk RT, ank 2 15,12 th. Sy mengugat karna suami sudah 6 thn tidak bekerja, walau memang suami kadang2 kasih, tp tidak setiap bln. Suami kerap melontarkan kata2 kasar yg menyakitkan hati saya mb. Skrg sy dan suami pisah rmh dr bln Jan sampe skrg. Dr awal menikah sy bekerja sampai skrg. Jujur sy sudah cape meminta suami bertanggung jawab kepada ank2, Sy sabar menunggu suami berubah, tapi tidak da perubahan. Sampe akhirnya sy menggugat karna sy sudah tidah Ridho dengan suami sy. Yang sy tanyakan apakan hakim mengabulkan gugatan saya, karna suami tidak mau berpisah dgn saya.

    1. Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarokatuh,
      Mbak Arlin yang sabar, terima kasih sudah berbagi ceritanya ya. Beberapa teman yang lain di atas punya kisah yang mirip dengan Mbaknya. Tapi nggak apa2 saya coba jawab di sini.

      Begini, Mbak, mengutip hukum pernikahan Pasal 39 dari UU No. 1 tahun 1974, perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Kemudian untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami dan istri itu tidak akan dapat hidup sebagai suami istri lagi.

      Pasal 19 PP No. 9 tahun 1975 menyebutkan, perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan:

      Salah satu pihak berbuat zina, menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan; Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya; Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung; Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain; Salah satu pihak mendapat cacat bawaan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/ istri. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

      Kemudian, dalam pasal 116 Kompilasi Hukum Islam keenam alasan tersebut di atas ditambah lagi menjadi: Suami melanggar taklik talak Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga. (Sumber: https://yulidwiandreaniii.wordpress.com/2013/12/27/suami-tidak-menafkahi-istri-bagaimana-sanksinya/)

      Jika mbak merasa UU perkawinan itu ada yang pas dengan apa yang Mbak alami maka sudah pasti hakim di pengadilan akan mencatatnya sebagai prinsip putusan.

      Jika suami tidak mau dicerai maka nanti Pengadilan Agama akan melakukan mediasi untuk mencari jalan tengah bagi kedua belah pihak. Selebihnya ada di proses ya, Mbak. Semoga jawaban ini membantu ya

      Good luck,
      NF

  96. assalamualaikum bu
    saya ingin meminta pencerahan dari ibu
    saya dengan suami sampai saat ini telah menjalani pernikahan selama 2,5 tahun, namun pernikahan kami berawal dari saya yg telah hamil 6 bulan dengan nya dan anak kami saat ini berusia 2 tahun 2 bulan
    selama anak kami lahir sampai saat ini suami saya tidak memberi saya dan anak saya nafkah, saat anak berusia 1 bulan suami saya main perempuan di belakang saya, lalu saat anak usia 2 bulan suami saat main tangan dengan saya
    sejak saat itu saya minta cerai dengan suami saya, namun suami saya tidak setuju
    dan sejak saat itu pada saat anak saya berusia 2 bulan suami saya tidak pernah menemui saya dan anak saya lagi sampai saat ini dan tidak pernah memberikan nafkah sepersen pun
    saya ingin mengurus perceraian namun saya memiliki kendala dikarenakan surat cerai & surat keterangan anak saya di pegang sama suami dan suami saya tidak pernah datang lagi kerumah
    apakah saya dapat mengurus perceraian saya tanpa surat nikah & surat keterangan lahir anak saya serta persetujuan dari suami saya
    apa saja yang harus saya siapkan untuk mengurus perceraian saya?
    apakah hak asuh anak saya akan saya dapatkan bu?
    mohon bantuannya, terima kasih

    1. Wa’alaikumsalam Mbak Henny,
      Masih sangat muda sebenarnya usia pernikahan Mbaknya. Sayang sekali..

      Namun, merujuk ke UU perkawinan yang saya kutip dari sini: https://yulidwiandreaniii.wordpress.com/2013/12/27/suami-tidak-menafkahi-istri-bagaimana-sanksinya/

      Isinya: Menurut pasal 39 dari UU No. 1 tahun 1974, perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Kemudian untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami dan istri itu tidak akan dapat hidup sebagai suami istri lagi.

      Kemudian pasal 19 PP No. 9 tahun 1975 menyebutkan bahwa perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan :

      Salah satu pihak berbuat zina, menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan; Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya; Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung; Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain; Salah satu pihak mendapat cacat bawaan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/ istri. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

      Kemudian, dalam pasal 116 Kompilasi Hukum Islam keenam alasan tersebut di atas ditambah lagi menjadi :

      Suami melanggar taklik talak Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.

      Nah jika kisah mbaknya ada yang sesuai dgn bunyi UU di atas (maksudnya suami melanggar) maka mbak bisa mengajukan gugat cerai. Namun mengenai surat2 administrasi (surat nikah sbg syarat pengajuan gugat cerai) silakan ditanyakan ke panitera, apa yang harus dilakukan sambil diceritakan bhw suami menghilang.

      Sedangkan hak asuh anak, kalau usianya belum baligh biasanya otomatis ada di tangan ibunya.

      Selebihnya, ditanyakan saja ke pengadilan ya, Mbak. Good luck,
      NF

  97. Sebenarnya sya ud lma skli ingin bercerai tpi sya tahan demi anak2, takut psikologisnya terganggu
    Terlalu sering ribut, cekcok, bertengkar dngn masalah yg sama,
    Sya g suka suami sya yg gayanya spt abg bergadang pulang hampir pagi,
    Sya ud 16 tahun mnikah dikaruniai 3 orng anak tpi satu mninggal
    Suami saya temprament(sya juga keras) klo brtengkar sering mau pukul saya tpi g terjadi, sya bntu jualan dirumah tpi ketika bertengkar jualan sya diobrak abrik bahkan hampir mau dibakar, tetangga semua tau kejadian itu, sya sering liat dihpnya chat chat mesra dengan sesama jenis tpi klo ditanya slalu mngelak, sering fhoto mesra dengan sesama jenis menurut sya dia homo
    Sya ingin bercerai tpi berat sma ank2,
    Klo bertengkar suami sya sering mau mulangin sya keorang tua bahkan kata kata kita pisah aj pernah diucapin
    Yg mau sya tanya klo ke PA ap harus sudah bawa berkas atau bisa konsultasi dlu mkasih y bu…

    1. Bu Dedeh yang sabar,
      Terima kasih sudah berbagi ceritanya dan saya turut prihatin membacanya.
      Berdasarkan yang Ibu tulis, menurut saya pribadi, rumah tangga Ibu sudah tidak lagi sehat, sudah menjurus KDRT dan ada penyimpangan seksual (jika yang Ibu duga terhadap suami itu ternyata benar).

      Kalau sudah begitu, mohon maaf, apakah Ibu tidak lebih kepikiran kondisi seperti ini bisa merusak kesehatan mental anak-anak Ibu?

      Berdasarkan pengalaman saya sendiri, orang tua yang tidak bahagia akan menyebabkan anak-anak merasa tidak bahagia juga, Bu. Salah satu contohnya, anak saya yang perempuan, saat saya menghadapi permasalahan rumah tangga, dia berusia 14 tahun. Saat itu dia malah berharap saya menceraikan suami kedua (ayah tirinya), karena dia tau saya bertahan bertahun-tahun dalam pernikahan tapi tidak bahagia (banyak alasannya, tapi itu cerita lain kali aja ya, hehe..) Lalu sekarang, 4 tahun kemudian, (anak gadis saya sekarang sudah usia 18 tahun) saya sempat diskusi dengan anak saya, dan dia keceplosan bilang, “Orang tua bisa aja menutupi, tapi anak pasti tau. Kita (orang tua dan anak) kan bagaimanapun terikat batin. Jangan terus mengira anak-anak itu bodoh, Ma.” Begitu katanya. Saya malah jadi belajar banyak dari anak-anak saya, Bu. πŸ™‚

      Selebihnya, jika Ibu masih ragu-ragu dengan langkah selanjutnya, sepertinya Ibu bisa konsultasi dulu dengan panitera (bagian yang mengurus pendaftaran gugatan), sekalian ditanyakan berkas apa saja yang harus dikumpulkan agar bisa melakukan gugat cerai dan berapa biayanya. Semoga Bu Dedeh selalu tegar dan segera mendapatkan kebahagiaan ya, Bu.

      NF

  98. Assalamualaikum….
    Saya seorang irt 36 th yg udh 13 th mnkh. Rencananya sy ingin bercerai dr suami. Sjk mnkh hiingga skr km sering ribut n suami kerap memukul. Bahasany sll kasar n bw2 binatang. Dia pecandu miras jg. Saya kr sy sdh ckp bersabar n sll ingin mmpertahankan hub ini demi anak2. Sayapun sll intrspeksi akan dr sy sndiri.tp apa blh buat jk ujungnya mmg hrs berpisah…drpd sy sll mrs trsakiti krn sll d pandang sblh mata..sll d rendahkan krn sy tdk bs menghasilkan uang. Pun saya di rmh tdk hny du2k manis. Saya mengurus k 3 anak laki2 saya sendiri.pd akhirnya sy ingin hdp tenang…sy ingin bs jd manusia lbh baik lagi.meski sy tdk pny pekerjaan…saya bismillah aja toh Alloh…sebaik2 penolong n sy msh ada hrta tak bergerak dr alm ortu yg sy kr ckplah bwt hdp sdrhan brsma k3 anak sy.yg sy tdk mengerti..”apakah kl cerai mndpt gono gini?sbnrnya saya mls mikir it…tp biar ada hak kan bwt anak2 saya…,trimakasih n mhn masukannya

    1. Wa’alaikumsalam wr wb.,
      Mbak Ratna yang sabar, terima kasih sudah berbagi kisahnya. Turut prihatin, tapi juga salut sama keberanian Mbak Ratna mengambil keputusan. Semoga ini jalan terbaik, ya. Insyaa Allah, rezeki, jodoh, kematian dan kelahiran sudah diatur oleh Allah, SWT. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannasiir.

      Mengenai harta gono-gini, tentu bisa diajukan dalam surat gugat cerai Mbaknya nanti. Namun, Mbak perlu mengerti bahwa nanti pengadilan akan turun dan mengecek keseluruhan berkas dan bukti harta, apakah ini bawaan atau memang gono-gini (yang diperoleh setelah menikah). Jika harta bawaan, seperti warisan dari orang tua untuk Mbak, itu tidak termasuk gono-gini, dan tidak bisa dituntut oleh suami ataupun sebaliknya. Itu setahu saya ya, Mbak. Memang proses sidangnya tentu akan jadi jauh lebih lama, karena pengadilan akan turun langsung ke lapangan dan memverifikasi kebenaran asal muasal harta gono gini termaksud. Jika Mbak Ratna mau bersabar menjalaninya, silakan dimasukkan tuntutan harta gono-gini tersebut.

      Alternatif lain, Mbak bisa menuntut nafkah untuk anak-anak, mengingat ketiga anak Mbak harus bersama Mbak karena ayahnya pecandu miras yang pastinya akan membawa pengaruh buruk bagi perkembangan mental anak. Jika pengadilan mengetahui ini (misal, karena Mbak cantumkan hal tersebut di alasan Mbak menggugat cerai) maka hak asuh otomatis akan diberikan kepada Mbak, apalagi anak-anak Mbak belum akil baligh ya hitungannya. Menuntut nafkah anak-anak ini bisa dilakukan, misalnya Mbak ajukan Rp1,5 juta per anak per bulan. Berarti suami harus bisa memenuhi nafkah Rp1,5 juta x 3 anak = Rp4,5 juta per bulannya diberikan kepada Mbak. Jika suami tidak mau memenuhi itu, maka silakan dibicarakan sebesar apa yang dia mampu, konsultasikan kepada hakim bersangkutan nanti. Tapi ayah yang memberi nafkah kepada anak WAJIB hukumnya (baik hukum agama maupun hukum negara). Lalu bagaimana jika suami tidak mampu memenuhi, mintalah bantuan hakim untuk memberikan sanksi keras jika itu terjadi.

      Sejujurnya saya kurang paham dengan urusan harta, karena saya bercerai dari suami juga tidak pakai tuntutan harta gono-gini, pun tidak minta nafkah terutang (karena dia tdk menafkahi saya 4 tahun lamanya), pun tidak meminta nafkah untuk anak-anak dari dia—yah secara memang mantan suami saya tidak berharta dan pengangguran saat kami berpisah. Jikapun sekarang dia bekerja, tapi tetap tidak memenuhi nafkah untuk anak-anak, biarlah itu jadi pertanggungjawaban dia di hadapan Allah kelak. Saya membesarkan sendiri anak-anak saya tanpa bantuan mantan. Alhamdulillah, tidak masalah. Karier saya, meski tidak menghasilkan uang banyak, cukuplah untuk bisa sampai mengantarkan dua anak saya kuliah di universitas negeri (kalau yg bungsu mah masih kecil, baru SD kelas 1). Betul kata Mbak, Allah adalah sebaik-baiknya penolong.

      Selebihnya, semoga proses sidang ke depannya lancar ya, Mbak.
      Good luck.
      NF

  99. Assalamualaikum
    Mbak sy sdh 16 thn membina rmh tangga,masalah yg sy hadapi, suami sy lebih memilih temannya drpd keluarga. Apalagi setelah ketemu sama teman SMA nya,katakanlah sebagai mantannya,suami selalu menyapa sang mantan walau itu sekedar canda’an. Sy & suami berbeda prinsip klu sdh menyangkut teman2nya. Semakin lama sy sdh tdk kuat lagi perasaan sy. Sebelum melangkah ke PA,sy berdiskusi dgn anak sy yg pertama(perempuan 16 thn)& dia menyetujui,Krn ada bukti klu suami menggoda sang mantan.
    Pertanyaan sy, bagaimana cara mendaftar ke PA,dtg sendiri atau beserta suami. Terima kasih atas Jawabannya.

    1. Wa’alaikumsalam,
      Terima kasih sharing ceritanya, Mbak Anafat. Turut prihatin, ya.

      Dibaca isi blog-nya ya, Mbak. Siapkan dulu berkas-berkasnya, lalu datang ke PA sesuai KTP/domisili istri. Daftar sih sendiri saja, tidak perlu sama suami. Datang ke panitera pendaftaran. Tanya saja dulu ke pusat informasi di lobi gedung PA bersangkutan dan tanya harus ke mana mendaftarnya. Karena setiap gedung PA punya mekanisme dan prosedur berbeda-beda.

      Selebihnya, semoga lancar, ya.
      NF

  100. Assalammualaikum mba….
    Saya mau tnya.agenda untuk sidang perdana apa ya???krn sidang perdana sy jtuh d tgl 13 ini..
    Jika surat panggilan sidang yg dkirim ke tergugat.dan tergugat gak mau menandatanganinya…itu gmn y mba??
    N untuk saksi…itu dbutuhkn d sidang yg ke brpa y mba…
    Trima ksih bnyk mba…ats jwabannya

    1. Wa’alaikumsalam,
      Dalam sidang perdana biasanya verifikasi: hakim akan bertanya soal “Apa semua yang ditulis dalam surat gugatan itu akurat/benar-benar terjadi?” Selebihnya dialog biasa. Jangan bayangkan sidang seperti di pengadilan negeri ya, Mbak. πŸ™‚ Beda soalnya. Di pengadilan agama, hakim bertindak seperti orang tua/wali yang perlu memahami duduk persoalan yang dihadapi oleh penggugat/tergugat.

      Surat panggilan sidang yang dilayangkan ke suami/istri harus ditandatangani ybs. Jika tidak maka akan dianggap bahwa surat panggilan tidak pernah diterima oleh ybs dan berakibat sidang bisa terus2an ditunda, atau bahkan mungkin kasus dibatalkan. Jadi silakan diyakinkan suami mau bekerja sama agar semua tuntas cepat. Proses perceraian itu sangat melelahkan lahir dan batin. Semakin lama ditunda, semakin stres lahir batin.

      Saksi biasanya dipanggil di sidang ke-2 atau ke-3, tergantung bagaimana proses sidang berjalan. Semua tergantung majelis hakimnya.

      Mudah-mudahan jawabannya bisa membantu ya.
      Good luck,
      NF

  101. Assalammualaikum mba…
    Tgl 13 ini sy sidang perdana.untuk sidang perdana apa saja yg hrus sy siapkn??
    Jika surat panggilan tidak d tamda tangani oleh tergugat…adakh efek k penggugat??
    Dan untuk saksi…itu dbutuhkn d persidangan brp y mba…
    Trima ksih atas jwabnnya mba..

    1. Wa’alaikumsalam..
      Heee Mbak Eni lagi. πŸ™‚
      Yang disiapkan untuk sidang perdana adalah kelengkapan berkas-berkas yang diminta oleh panitera sebelumnya (pada saat pendaftaran berkas). Biasanya sih fotokopi buku nikah yg dilegalisir oleh kantor pos besar kabupaten/kota domisili (tempat tinggal) Mbaknya dan buku nikah asli, fotokopi akte kelahiran anak dan aslinya (untuk ditunjukkan), fotokopi kartu keluarga dan aslinya (utk ditunjukkan), dst.

      Pertanyaan kedua sudah saya jawab di komentar sebelumnya ya: efeknya bisa memperpanjang proses sidang sampai berbulan-bulan, bahkan bertahun. Jelas akan sangat melelahkan banyak pihak, tak hanya Mbak, tapi juga suami, anak2 dan keluarga besar.

      Selebihnya sudah saya jawab juga di pertanyaan sebelumnya ya..
      Good luck,
      NF

  102. Assalamu alaikum mba
    Boleh minta sedikit masukan?
    Jujur sy orgnya tertutup,gk byk yg tau klo rumah tangga sy bermasalah
    (13 th pernikahan)
    Sy berniat menggugat cerai suami sy,karna dia sudah berkali kali menyakiti saya dr segi mental (berkata kasar,memaki dll)

    Dia juga pernah ketauan sms mesra dan nelp perempuan lain dan itu udh 3x ketauan sy.Dia jg pernah menyakiti sy dr segi fisik,tp itu terjadi 2-3th lalu

    Alasan sy menggugat,selain hal diatas adalah suami sy tidak bisa diingatkan untuk beribadah.sy sering mengajaknya sholat bersama,mengingatkan untuk sholat jumat dll,tp sia2
    Jgn tanya soal nafkah,karna sy hrs ikut banting tulang mencukupi kebutuhan keluarga

    Pertanyaan saya,apakah bisa sy menggugat cerai atas dasar alasan diatas? Dan apakah bisa sy menggugat cerai padahal kami masih serumah?

    1. Wa’alaikumsalam wr wb,
      Menyembunyikan masalah rumah tangga, sejujurnya, adalah perbuatan yang sangat mulia. Tak ada yang perlu tau selain suami dan istri saja. Biarkan jadi masalah internal, kecuali jika masalah ygn ada semakin parah dan salah satu pihak terzalimi. Sudah jelas Allah dan Rasulullah, SAW, tak menyukai orang yang zalim, apalagi suami/istri yang zalim kepada pasangannya.

      Yang Mbak alami bisa dikatakan sebagai KDRT mental, dan menggugat cerai dengan alasan ini sudah sangat bisa diterima oleh pengadilan. Begitu juga dengan dugaan perselingkuhan (jika ada bukti2nya lebih bagus) bisa diajukan sebagai alasan gugat cerai. Apalagi soal ibadah. Suami adalah imam. Jika imamnya saja tidak mau beribadah, artinya dia tidak takut murka Allah. Lha, kalau Allah saja tidak membuatnya takut, perlu dipertanyakan, apa lagi hal baik yang bisa dipegang darinya?

      Boleh juga diungkapkan soal kekerasan fisik yang Mbak terima. Bisa dibilang KDRT (baik fisik maupun mental) adalah perbuatan kriminal dan seharusnya tidak lolos begitu saja tanpa konsekuensi, meskipun hanya terjadi 1-2x dan kejadiannya sudah lama. INformasi semacam ini perlu diungkapkan kepada hakim agar mereka paham duduk permasalahan rumah tangga yang dihadapi.

      Mengenai nafkah, selama suami memberi nafkah (walau istri turut membantu, karena dinilai tidak cukup) akan tetap jadi poin positif buat suami. Namun jika Mbaknya tidak ridho, silakan dicantumkan poin tersebut di dalam surat gugatan dan katakan nantinya kepada hakim (dalam sidang).

      Soal masih serumah, sepertinya ini yang akan merugikan sisi Mbaknya. Biasanya hakim akan menilai bahwa sebenarnya rumah tangga Mbak dan suami masih baik2 saja, karena Mbak dan suami masih serumah. Bisa jadi hakim/pengadilan menilai bahwa Mbak mengajukan gugat cerai hanya karena emosi.

      Selebihnya, silakan dipikirkan lagi untuk menggugat cerai, Mbak. Proses cerai itu sangat menguras energi dan ketahanan mental. Tekanannya sangat besar, karena nama baik pribadi, nama baik keluarga besar semua dipertaruhkan. Namun jika Mbaknya siap menjalankan semua konsekuensi bercerai (dan segala kejadian yang akan dihadapi selama proses bercerai) maka silakan dilakukan. Jika tidak siap, coba bicarakan baik2 dengan keluarga besar Mbak dan suami, minta agar Mbak dan suami dicarikan wali (ustadz atau ulama yang memiliki ilmu agama memadai) untuk membantu menyelesaikan permasalahan rumah tangga Mbak dan suami. Mudah2an sih, baik Mbak maupun suami, mau berubah menjadi lebih baik agar rumah tangga tetap utuh.

      Dipertimbangkan lagi aja ya, Mbak.
      Good luck,
      NF

  103. Assalamualaikum mba, saya boleh minta contoh surat gugatan cerainya tidak? Dikirim ke email saya ya mba. Makasih 😊

    1. Wa’alaikumsalam, Mbak Devina.
      Mohon maaf, contoh surat gugat cerai saya sudah tidak lagi ada di folder. Sudah dicari, tapi tidak tersimpan ternyata. Maklum, kejadiannya sudah 4 tahun lalu. Mohon maaf tidak bisa bantu lebih banyak.

  104. Assalamualaikum mbak, sya mau nanya” tapi melalui WA bisakah?
    sya mau inbox mbak lewat fb tidak bisa, jangankan inbox nge add mbak pun ndak bisa.
    mohon dibls lewat inbox fb sya ‘Dwi Rista S.’ yaa mbak.
    terimakasih πŸ™‚

  105. Saya sudah selesai d sidang/sudah putus perkara dr pihak perempuan saya sendiri,berhubung suami yg saya gugat d dalam penjara tapi lain kota,sudah 6 bulan selesainya sidang saya tapi belum ada balasannya,sampai kapan saya tunggu ?

    1. Soal administrasi dan berkas-berkas kapan selesainya itu tergantung PA kota/kabupaten, saya ngga bisa jawab kapan selesainya. Silakan ditelepon ke pengadilan agama-nya, Mbak Tara, dan tanyakan langsung. Jangan lupa catat dulu nomor registrasi gugat cerai waktu itu, supaya pihak PA mudah mencari berkas termaksud.

  106. Sudah 6 bulan selesainya sidang putusx perkara saya,tapi belum ada balasanx dr yg d gugat berhubung yg saya gugat d penjara dan lain kota sama saya,sampai kapan saya tunggu balasanx.?

  107. Dear Mba Nina,

    saya sedang dalam proses cerai, tanggal 1 Agustus nanti sidang ke 3 (sidang 1 mediasi, sidang ke 2 laporan mediasi, tapi suami tidak datang). dalam laporan sidang ke 2 kemarin saya menjelaskan ke hakim bahwa mediasi kami gagal. tapi sampai saat ini saya dan suami masih 1 rumah bahkan 1 kamar (tapi kami tidak berhubungan intim). suami tidak mau pisah, tetapi tidak mau merubah perilakunya (penyebab perceraian kami adalah perselingkuhan yg sudah berulang dg wanita yg sama). suami hanya bilang sudah tdk berhubungan lagi dg selingkuhannya, tetapi tidak bisa merubah sikapnya (sering keluar malam dan masih banyak yang ditutupi)
    walaupun saya sudah melaporkan ke hakim mediasi gagal, tapi saya tetap berusaha mencari jalan keluar agar kami bisa rujuk, tetapi sepertinya suami tetap tidak mau merubah perilakunya dan hanya bertahan dengan alasan bahwa dia sudah tidak menjalin hub dg selingkuhannya itu. saya sudah mengajukan beberapa syarat lagi yang harus dilakukan apabila gugatan cerai mau dicabut.
    apakah jika sebelum tanggal 1 agustus itu suami bisa memenuhi syarat tersebut, gugatan masih bisa dicabut?
    tapi apakah jika suami tidak bisa memenuhi dan ternyata datang pada saat sidang ke 3 dan ditanya hakim apakah kami masih serumah bisa mempengaruhi keputusan hakim untuk tidak mengabulkan gugatan cerai kami?
    terus terang kadang saya berpikir kalau suami sedang ingin mengajak berhubungan intim apakah lebih baik saya mau saja (berpikir kalau memang dia mau berubah)

    1. Dear Mbak Dhini,
      Terima kasih sudah berbagi ceritanya, ya. Dari penuturan Mbaknya, sebetulnya Mbak tidak sungguh-sungguh ingin bercerai, tapi ingin suami berubah sikap. Jika itu yang diinginkan, saya kira nanti tgl 1 Agustus Mbaknya bisa mengatakan maksud tersebut ke majelis hakim. Selebihnya, hakim yang akan menimbang sesuai ilmu dan rasa keadilannya.

      Soal masih serumah, meski tidak bercampur, saya kira itu tetap jadi penilaian bagi majelis hakim apakah Mbak ini sebenarnya serius atau tidak ingin berpisah dengan suami. Jika serius, apa alasan masih bersama/satu atap, apakah karena masalah finansial atau apa. Itu sepenuhnya hak hakim dalam menilai ya, Mbak. Saya ngga bisa memberikan pendapat atas hal ini.

      Mengenai Mbaknya masih ingin melayani suami, ini sepenuhnya hak Mbak. Jika berharap bahwa dengan bercampur nanti mungkin bisa membuat suami berjanji dan bersungguh2 berubah, ya alhamdulillah. Tapi jika bercampur itu malah jadi bikin suami tidak jera (melakukan kesalahan berulang) ya itu risiko, Mbak. Lagi-lagi, saya nggak bisa memberi saran apa-apa dalam hal ini, karena yang paling memahami suami dan kondisi rumah tangga adalah Mbak Dhini sendiri. πŸ™‚

      However, menurut saya, lakukan sesuai kata hati Mbak Dhini. Kata hati ya, Mbak, bukan emosi semata. Begitu pula dengan putusan berpisah, jangan sampai emosi sesaat. Harus dipikirkan matang-matang. Makanya dalam Islam itu ada tahapan dalam bercerai: pisah ranjang dulu. Jika tidak berubah (dalam 100 hari, misalnya), pisah rumah. Jika tidak berubah juga (dalam 100 hari berikutnya), barulah bisa dibicarakan soal talak.

      Nah, sekarang semua bergantung pada keputusan Mbak (dan suami) sendiri, mau ke mana arah rumah tangga Mbak dan Masnya ini. Saya berharap dan berdoa, semua menemukan jalan keluar terbaik untuk semua pihak, termasuk keluarga besar Mbak dan Masnya. Aamiin..

      Good luck,
      NF

  108. assalamualaikum mbak, bisakah mengurus gugatan cerai oleh istri di alamat baru…sahabat sya seorang wanita ingin gugat cerai kepada suaminya mereka tinggal disukabumi. sebetulnya mereka sudah bercerai secara agama dan ada surat yg ditanda tangani suaminya diatas materai dan itupun dulu suaminya meminta sejumlah uang untuk menandatangani surat itu. skrng ini pihak istri ingin mengurus perceraian ke pengadilan agama. namun khawatir karna suaminya ini terus mengancam ingin membunuhnya jika bertemu.sedang kan istrinya ini hidup sebatang kara tak punya ayah atau pun ibu lagi apalagi sodara. sekarang ini istrinya bingung Harus bagaimana…jika mengurus perceraian ke pengadilan agama di sukabumi tentu resiko nya besar karna harus berhadapan dengan mantan suaminya. yg jadi pertanyaan apakah bisa jika istrinya ini pindah ke luar kota dulu lalu kemudian mengurus surat cerai ditempat tinggal yg baru dengan alasan keamanan . sekian terimakasih mbak…

    1. Wa’alaikumsalam,

      Pertama, mengenai gugat cerai ke PA (Pengadilan Agama) harus sesuai domisili KTP istri. Jika tidak sesuai, akan sulit diproses, bahkan rawan pungli saat prosesnya. Cerai secara agama saja tidak cukup, kecuali dulu menikahnya hanya nikah sirih. Tapi kalau menikah KUA maka cerainya pun harus ke PA, barulah itu sah di mata negara. Gunanya sah bercerai secara negara adalah utk urusan administrasi dan hukum ke depannya, Mbak. Semisal nanti si Mbaknya mau membeli rumah, jika masih status menikah negara maka sang suami juga harus ikut tanda tangan. Kalau suami ngga bisa dihadirkan maka ngga akan disetujui KPR-nya, dst.

      Kedua, lelaki yang hanya bisa mengancam itu biasanya sih, kecil nyalinya. Jadi abaikan saja ancaman2 tersebut. Jika si mantan mengancam lewat SMS, simpan SMS-nya baik-baik dan laporkan ke RT/RW setempat lalu ke Polres (sebaiknya di Polres, karena hanya tingkat Polres yang mengurus laporan kasus/delik rumah tangga), dengan alasan KDRT psikis. Dan laporan polisi tersebut bisa memperkuat kasus di PA untuk segera diceraikan oleh negara.

      Ketiga, karena alasannya keamanan, saran saya solusinya, si mbaknya mengurus surat pindah domisili dulu saja, dari lokasi lama ke lokasi baru. Diurusnya ke disduk (dinas kependudukan), lalu pindah KK di domisili baru. Setelah KTP dan KK baru diterbitkan, barulah mengurus ke PA setempat.

      Semoga jawaban saya bisa membantu ya, Mbak Yanti. Selebihnya, semoga Allah melapangkan semua urusan sahabat Mbaknya, dan meringankan beban semua orang yang sedang kesusahan akibat terzhalimi. Aamiin..

      Good luck,
      NF

  109. allhamdullillah…. trimakasih mbak atas penjelasannya smoga Alloh senantiasa melindungi dan merahmati kita semua.amin.

  110. Assalammualaikum mba….
    alhamdulillah proses sidang saya berjalan lancar…trima ksih ats bantuannya.
    oy.sy sudah ketuk palu.lalu dsuruh kmbali stelah 2 bulan.
    yg mau sy tnyakan…itu saya diminta untuk ambil akta cerai/ada hal yg lainnya y mba???
    Lalu..uang panjar saat pendaftaran gugatan itu bisa lebih & bisa kurang mksudnya gmn y mba.
    trimakasih bnyk ats jwabannya mba….

    1. Wa’alaikumsalam, Mbak Eni.
      Alhamdulillah, proses sidangnya lancar ya.. Semoga lancar terus ke depannya, ya..
      Kembali setelah 2 bulan dalam artian mengambil akta cerai, Mbak. Tapi biasanya, PA yang wilayahnya besar dan berpenduduk padat, akta cerai bakal mulur selesainya. Lebih dari 3 bulan malahan waktu saya sih.. Ada biaya pengambilan akta cerai, sekitar Rp70.000 (kalau di PA Tigaraksa kayak saya dulu sih).

      Mengenai uang panjar cerai gugat, memang bisa kurang atau lebih. Sepertinya ini tergantung banyaknya sidang. Kalau sidangnya sampai lebih dari 3x, maka ada biaya tambahan proses sidang. Kalau saya dulu hanya 2x sidang langsung putusan, makanya uang panjar saya dikembalikan Rp95.000 dari total saya bayar sekitar Rp700.000-an (saya lupa jumlah persisnya). Dan kelebihan/kekurangan yang panjar itu nanti dikasih kwitansinya kok dari pengadilan.

      Demikian, Mbak Eni. Semangat terus yaa..
      Good luck,
      NF

  111. Aslkum.mbk klu suami sy slalu pnya pkiran negatif terhadap siapapun aplgi orng2 terdekat sy dia slalu bgtu udh sering kli sy ksih ksempatan untuk dia bsa brbh tp gk bsa jg aplgi skrng klu kta bertengkar dia udh brani mukul sy yh mmng sy jg kdang mukul dia jg dia klu mrah teriak2 sy malu sm tetangga.dia jg slalu ngmng gk jlas spti orng yg gk waras ngmngnya ngaco.apakah alasan in bsa untuk menggugat suami ??sy bner2 udh gk kuat ngadepin sikapnya yg spti it

    1. Wa’alaikumsalam wr wb., Mbak Lastri,
      Turut sedih baca ceritanya Mbak. Insyaa Allah terus tawakkal ya..

      Menurut saya pribadi, dari sisi agama (Islam), suami yang sudah mengingkari janji sucinya saat menikah = mengingkari sumpahnya terhadap Allah. Jika beliau tidak lagi bersikap selayaknya suami yang baik sesuai syariah, sama saja beliau mengkhianati Allah. Manusia yang mengkhianati Allah bukanlah tipe yang layak lagi diikuti, karena akan lebih banyak mudharatnya daripada barokahnya, Mbak.

      Dari sisi hukum, perbuatan suaminya Mbak sudah masuk kategori KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) baik psikis (verbal/lisan) maupun fisik. Dan ini, tentu saja bisa menjadi dasar menggugat cerai terhadap suami. Pernikahan yang sudah tidak membawa kedamaian sudah tidak layak lagi dikatakan sebagai pernikahan. Menurut pengalaman saya sendiri, KDRT psikis dan fisik ditanggapi sangat serius oleh pengadilan agama. Jadi Mbaknya boleh mengajukan alasan tersebut dalam surat gugatan Mbak.

      Selebihnya, semangat dan positive thinking terus ya, Mbak. Setiap manusia diberi hak oleh Allah, untuk bisa mencari kebahagiaan masing-masing agar bisa menemukan Allah sepanjang hidupnya. Semoga istiqomah dan tawakkal ya.

      Good luck,
      NF

  112. Siang Mbak……..
    Saya mau minta masukan dari mbak, suami meninggalkan kami sudah 1,5th karena banyak hutang. Hutang yang dibebankan ke saya pun banyak dan sudah diluar kemampuan saya. 2 anak kami pun menjadi tanggungan saya. Selain saya suami juga menyusahkan kakak dan orang tua saya. Suami saya sangat egois selalu mengambil keputusan tanpa diskusi dengan saya dan banyak yang dia rahasikan ke saya. Saat ini saya baru tau klo suami pernah berselingkuh, hati saya sakit sekali mbak ketika tau klo dia pernah berselingkuh padahal saya sangat percaya dengan dia. Awal kepergiannya dia masih sms atau telpon minta uang dan saya kirimkan pdhl saya sendiri sudah susah dibuat olehnya ,tetapi karena saya tidak tega saya pun mengirimkan uang tsb. Bbrp bulan lalu saya pernah sms dan mengatakan akan bercerai, dan dia mohon untuk cerai serta berjanji mau berubah. Semenjak itu dia tidak pernah menghubungi kami lagi. Dlu sbelum dia pergi saya sdh pernah mengutarakan niat cerai dengan harapan dia bisa merubah sifatnya, dan dia pun tidak pernah menanggapinya. Setahun sebelum dia pergi dia sudah tidak memberi nafkah lahir dan batin. Saat ini saya memutuskan untuk becerai karena saya merasa dia sudah bagai orang asing buat saya. Saya sudah ikhlas dan sudah memaafkannya. Tetapi saya sangat takut akan keputusan cerai ini, perasaan saya seakan hancur. Saya mau sms dia untuk memberitahukan tentang perceraian ini aja kok t.idak sanggup ya. Saya takut klo akan menyakiti banyak pihak. Apa saya bisa menggugat cerai suami yang saat ini saya tidak tau keberadaannya dimana.

    1. Sore, Mbak Sumi,
      Terima kasih sudah berbagi ceritanya ya.. Mayoritas rekan-rekan di sini bercerita tentang hal serupa, termasuk soal ketakutan apa yang akan terjadi setelah jadi single lagi. Nah, soal itu, saya ngga bisa menjawab. Hanya Mbaknya sendiri yang bisa menjawab itu. πŸ™‚ Tapi, jujur, menurut saya pribadi, apa bedanya Mbak berstatus cerai dengan kondisi sekarang ini? Malahan dengan status yang jelas (menjadi single parent) Mbaknya memiliki kesempatan kedua untuk kembali bahagia.

      Mengenai menggugat cerai suami yang tidak tahu di mana keberadaannya, bisa saja, Mbak. Hanya saja mungkin akan lebih lama, karena ada proses “tabayun”, yang katanya bisa memakan waktu sampai 5 bulan. Tapi maaf, saya ngga terlalu paham bagaimana proses tabayun ini karena tidak mengalaminya.

      Selebihnya, semua terserah Mbaknya sendiri ya. Jika memang merasa sudah siap, lanjutkan. Jika tidak, ya tetap dengan kondisi sekarang. Begitu, Mbak.

      Either way, good luck ya.
      NF

  113. mba jika dari pihak istri yang gugat,dan sudah memiliki anak,akan tetapi pihak istri dan suami ingin cepat2 selesai,maka sebaiknya untuk persidangan pertama dan selanjutnya pihak tergugat dan penggugat diwajibkan datang atau tidak mba, dan bagaimana jika tergugat tidak datang tetapi hanya saksi dari tergugat apakah bisa cepat selesai juga putusan cerai nya, terima kasih

    1. Mbak Asti,
      Sepengalaman saya (yang hanya 2x sidang langsung putusan dan saya digantung oleh suami selama 3 tahun sejak ia menjatuhkan talak) mempercepat sidang itu adalah gugat cerai diajukan oleh istri. Isi gugatan hendaknya berisi bahwa hak asuh anak ada di tangan istri dan biaya anak ditanggung oleh suami. Kemudian, yang sidang cukup istri saja, suami tidak perlu datang. Suami cukup menandatangani surat panggilan sidang (Relaas) yang dikirimkan oleh pengadilan. Berarti pastikan suratnya sampai di rumah suami, diterima dan ditandatangani oleh suami. Jika suami tidak sempat mengirim kembali surat relaas via pos, Mbaknya bisa membawa aslinya atau fotokopiannya. Yang penting ada tanda tangan suami. Ketika sidang saksi, istri wajib datang bersama saksi yang relevan, minimal 2 orang.

      Simpel kok, Mbak, insyaa Allah. Yang penting jujur, dan saling sepakat untuk berpisah baik-baik antara suami dan istri. Yang saya lihat, pengadilan akan lebih suka suami dan istri yang bercerai baik-baik. Tapi ya itu tadi, suami tidak perlu datang. Dan di sidang, istri hendaknya tetap tenang, jangan terlihat emosi atau tampak bertengkar dengan suami, bisa-bisa dianggap keputusan emosional dan biasanya akan dimediasi. Namanya proses mediasi itu ya lama.

      Begitu aja, Mbak masukan dari saya. Silakan dibicarakan baik-baik dengan suami. Semoga mendapat jalan keluar terbaik ya.
      Good luck,
      NF

  114. Mbak Nina, selamat sore.
    Pertama, sy ucapkan terima kasih atas tulisan Mbak, bisa utk gambaran dan kesiapan.
    Mbak, jika diperkenankan, sy ingin ngobrol lebih banyak (privat), apakah sy diperkenankan hub Mbak via telp?

    Atas bantuan dan kesediaan Mbak, sy ucapkan terima kasih.

    Salam,
    Any

    1. Selamat sore, Mbak Any,
      Terima kasih sudah mampir ke blog saya.

      Untuk berkomunikasi secara privat, saya belum bisa, Mbak. Mohon dimaklumi, ya. Curhat tentang perceraian bukan hal yang ringan untuk saya, karena saya sudah 2x mengalaminya. Seringkali berat bagi saya mendengarkan langsung curhat orang tentang rumah tangganya. Saya tidak muda lagi, Mbak (sudah kepala 4 ni), jadi cenderung mudah tenggelam dalam emosi, meski bukan lagi emosi pribadi, ya. Yah, flash back ingatan ke masa-masa buruk terkait perceraian itu bukan momen favorit saya.

      Tapi jika Mbaknya membutuhkan, silakan email saya ke ninarasyad@gmail.com . Namun mungkin untuk membalasnya tidak bisa langsung, karena di hari kerja, saya bekerja. Di hari libur, jika anak-anak tidak mengajak jalan, barulah saya santai. Begitu saya sedang senggang, insyaa Allah pasti saya balas. Saya butuh waktu memikirkan jawaban satu per satu “konsultasi” yang dilakukan teman-teman readers, karena saya paham betul apa yang sedang dihadapi oleh teman-teman ini bukan perkara ringan yang bisa dijawab sambil lalu.

      Begitu ya, Mbak. Terima kasih atas pengertiannya. πŸ™‚
      Salam,
      NF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s