Courtesy of Prabowo Subianto on facebook
Courtesy of Prabowo Subianto on facebook

Salah seorang kawan saya, Husni Fatahillah Siregar, yang tampaknya sudah melihat wawancara BBC World News dengan Prabowo Subianto yang saya terjemahkan dalam transkrip di blog ini, menuliskan komentar berikut di facebook saya.

Kalau boleh numpang komen,ada hal kontradiktif dlm catatan mbak Nina. Di bagian akhir mbak Nina menyatakan “kalau masih menghina atau menghujat berarti pemahaman demokrasinya masih bayi”. Apakah berlaku juga utk PS? Krn ketika ia ditanya ttg karakter JKW, dengan lancarny ia mengatakan itu bukan karakter asli,hanya akting.JKW mengaku rendah hati pdhl hanya akting. Maaf penilaian sy yg tlalu subjektif, tp mnrt sy apa yg mbak nina tulis di bag akhir gak nyambung dgn pernyataan PS. Sy tdk tahu kalau pernyataan itu dianggap biasa dan sesuatu yg ceplas ceplos serta apa adany dr karakter PS. Tp tidak bijak rasanya seorang peminpin yg akan menjadi panutan kita, tidak bisa menjaga lisannya. Karena masyarakat awam yg memang pemahaman demokrasinya masih “bayi” akan menelan mentah2 apa yg diucapkan pemimpinnya, dan itulah yg sy lihat yg terjadi di masy kita. Saling hujat saling caci, kenapa? Karena para pemimpinnya juga menunjukkan bhw slg caci dan hujat itu hal biasa. #efek Argentina kalah,jd ngelantur πŸ˜€

Saya tersenyum simpul membaca komentar tersebut. Apalagi karena yang mengatakannya adalah salah satu orang yang sangat saya hormati pendapatnya, mengingat beliau memiliki kapasitas untuk membahas soal politik. Plus, ditambahkan kalimat jenaka sebagai penetral suasana. Hehehehe.. I appreciate it, Mas. πŸ˜€ Berikut, izinkan saya meng-copy paste jawaban saya.

Itu (kritikan soal demokrasi masih bayi) berlaku untuk dua arah, segala arah, termasuk diri saya sendiri. Sebetulnya kalau dicermati lagi, pendapat saya ya pendapat saya. Hanya karena saya “meng-endorse” Prabowo bukan berarti saya menuhankan dia. Tentu saja, dia juga bisa subjektif. Dalam hal ini ucapan dia tentang Jokowi. Mau bahas soal itu?

Hehehe.. membuka masalah ini, harus sedikit mengorek urusan intelijen nihh.. Satu hal yang bisa saya katakan, Prabowo tidak sebodoh dan segegabah itu. Kenapa dia harus mengungkapkan hal tersebut di media, apalagi media asing? Itu pastinya sudah dipikirkan, tidak asal jeplak. Kan beliau negarawan. Meskipun kita yang “awam” ini menilai, “Ih, Pak PS terlalu emosional. Pak PS terlalu kekanakkan.” —itu kan kata kita. Kata orang ahli/pengamat politik, beda lagi pastinya.

Boleh reveal sedikit soal siapa Jokowi bagi Prabowo?? Apa perlu saya ingatkan Prabowo-lah yang mengangkat Jokowi ke Jakarta? Tahukah masyarakat bahwa Prabowo sampai harus menghadap Megawati, literally begging her, agar Jokowi diajukan sebagai Gubernur Jakarta kemarin itu? Prabowo lah yang “me-nurture” Jokowi sepanjang masa kampanye Pilgub kemarin. Sebagai orang yang membawa dan tentunya sebagai mentor, ia pasti bisa menilai kualitas sebenarnya dari Jokowi. Nah!

Selama ini Prabowo tutup mulut soal sifat asli Jokowi (yang dilihatnya). Kalau kali ini dia ceploskan demikian, artinya dia sudah mempertimbangkan bahwa masyarakat harus tahu yang sebenarnya. Toh ucapan dia TIDAK AKAN memengaruhi hasil Pilpres, karena masyarakat SUDAH MENCOBLOS.

Mas Husni paham maksud saya? Bukankah itu artinya dia orang yang bijak?? Oh, btw, saya bukan Timses Prabowo, tapi saya bisa melihat benang merahnya. Hehehehehe… Jadi jangan bilang bahwa Prabowo adalah orang yang tidak bisa menjaga lisannya. Oh dia SANGAT BISA! Buktinya, dia menunggu sampai Pilpres selesai, baru dia ungkapkan APA YANG DIA TAHU TENTANG JOKOWI.

Kalau dia tidak bijak, sejak awal dia akan gembar-gembor soal “man of act”-nya Jokowi. Kalau PS tidak bijak, dia tidak akan rajin mengimbau agar pendukungnya KEEP CALM, THEY (kubu Jokowi) ARE OUR BROTHERS, NOT OUR ENEMIES.

Sekarang, setelah membaca penjelasan saya, bisa dilihat kah siapa yang tidak bijak? πŸ™‚

Oh ya, Mas, yang kita bahas di sini menarik banget, mohon izin mengangkatnya dalam blog saya ya?

Kemudian beliau membalas lagi..

Nah,itu dia maksud sy mbak Nina. Kalau memang PS sdh tahu karakter JKW apakah iya hrs disebarkan ke org lain. Sebaik2 seorang manusia apabila ia bisa menjaga aib saudaranya sendiri. Dan knp sy sampai mengeluarkan pernyataan PS tidak bijak, bkn sy tidak suka PS. Sy slh satu pengagum beliau. Tp skali lg yg sy ingin sampaikan sbg pemimpin alangkah lbh baik dlm situasi yg serba sensitif ini, PS bs mengeluarkan pernyataan2 yg lbh menyejukkan hati baik buat pendukungny dan juga utk masy luas.

Mgkn pemahaman sy jg msh kurang. Tp sy mencoba melihat dr kaca mata masy awam. Mumet mbak kl tlalu tinggi, apalg smpe ke intelejen sgala,hehe…btw, monggo loh kl mau diangkat ke blogny, kok pake ijin sgala πŸ™‚

dan saya balas berikut:

Terima kasih izinnya, Mas. Tetap dong harus permisi dulu, hehehehe..

Anyways, saya setuju dengan yang Mas Husni bilang: “Tp skali lg yg sy ingin sampaikan sbg pemimpin alangkah lbh baik dlm situasi yg serba sensitif ini, PS bs mengeluarkan pernyataan2 yg lbh menyejukkan hati baik buat pendukungny dan juga utk masy luas.”

Betul itu, ndak salah. Dan bukannya saya bermaksud membela dia (karena saya ngga punya kepentingan membela siapa-siapa, sekadar memberi pendapat saja), dia mengungkapkan “aib” itu bisa jadi karena sedang mendorong agar demokrasi kita ini ngga lagi jadi bayi. Minimal sekarang jadi balita lah. hahahaha.. Maksudnya, strategi itu dilakukan dengan tujuan mengatakan kepada masyarakat, mbok ya melek sedikit dan lihat siapa itu sebenarnya orang yang mereka idolakan itu. Yah walaupun taruhannya adalah nama baik dia sendiri. Dengan begitu dia pasang badan juga sih kena hujatan. And he did. Tapi liat deh, dia komplain ngga sama hujatan masyarakat itu?

Sometimes to tell the truth, it will cost you HUGE at one time, but eventually it will be good in the long term point of view. πŸ™‚

Tadinya saya mau membahas lagi soal di atas, tapi sudah cukup jelas kayaknya, ya. Begitulah kebiasaan “buruk” saya, yaitu menulis panjang. Hehehehe.. Intinya sih, apa yang terlihat tidak selalu sama seperti kelihatannya.

Yang terlihat tidak seperti kelihatannya (Ilusi gambar, courtesy of gambar-kata.com)

Di wawancara, kelihatannya Prabowo begitu emosional. Padahal kalau dicermati, dari apa yang dibahas oleh keduanya, baik pewawancara (Sharma) maupun narasumber (Prabowo), itu biasa saja.Tidak ada bantah-bantahan soal HAM, seperti yang ditudingkan orang lain. Kalaupun ada ucapan yang saling bertumpuk, ya itu karena delay waktu, mengingat studio BBC World News ada di London, United Kingdom (Inggris Raya), sedangkan Prabowo waktu itu ada di rumahnya di Bogor.

Mungkin yang jadi tekanan masyarakat di sini, seperti pendapat Mas Husni di atas, adalah soal pembeberan “aib” rivalnya. Bukankah itu emosional? Hmmm.. Itu juga sudah saya bahas di atas. Bisa jadi saat itu Prabowo berpikir, sudah waktunya masyarakat tahu. Jangan biarkan masyarakat terus-terusan terlena dengan pencitraan yang dilakukan oleh kubu Jokowi.

Kalau ada KawaNina yang bertanya, bagaimana menurut Nina sendiri soal Jokowi? Hmm.. Entah apakah jawaban saya ini relevan, tapi sepertinya kawan-kawan perlu tahu sih. Awalnya saya sangat mengidolakan Jokowi. Ketika ia sedang berupaya menjadi Gubernur DKI Jakarta, saya mengaguminya. Betapa tidak, ia adalah sosok sederhana, merakyat (down-to-earth), pekerja keras. Sama seperti yang didefinisikan masyarakat Indonesia pada umumnya, begitu juga saya melihatnya. Dulu.

Lalu, saya melihat siapa orang di belakang Jokowi–yang membawa dia ke Jakarta–ternyata Prabowo, satu kalimat yang saya lontarkan waktu itu, “Wah, bisa jadi ini sudah direncanakan, Jokowi jadi Gubernur, lalu Prabowo jadi Presiden RI. Dengan adanya Jokowi sebagai DKI-1, artinya posisi Prabowo untuk jadi RI-1 bisa lebih kuat. Ini gawat..” Ya, waktu itu saya berpikiran bahwa Prabowo belum pantas jadi Presiden RI untuk periode ini, tapi siapa lawannya kelak? ARB? Surya Paloh? Jusuf Kalla? Oh my God, No! Semoga ada kandidat lain. Begitu pikiran saya!

Namun seiring waktu berjalan, melihat Jokowi yang selalu jadi media darling, dikuntit ke mana-mana, blusukan sana diliput, blusukan sini diliput. Lama-lama saya jadi melihat, ini ada yang ngga beres nih.. Bukan apa-apa, saya dulu juga wartawan yang ngepos di satu lokasi. Di Mabes Polri, di Polda Metro, di Kejaksaan Agung. Tapi saya, dan kawan-kawan wartawan lainnya, ngga ada yang (maaf) se-freak itu selalu mengikuti ke manapun Kapolri/Kapolda/Jaksa Agung pergi.

Dulu kami juga punya rekan sekantor yang bertugas ngepos di Balai Kota DKI Jakarta, Istana Presiden, Istana Wakil Presiden, Kementerian… tapi ngga satupun ada wartawan yang terus-terusan “mengintili” gubernur. Kalau presiden atau wakil presiden diikuti terus ke mana-mana, wajar lah. Mereka kan orang nomor 1 dan 2 se-Indonesia. Itupun biasanya atas perintah Pemimpin Redaksi (Pemred) atau Redaktur, “Tempel terus RI-1 dan RI-2.” Intinya: reporter/wartawan manut titah Pemred.

Melihat banyaknya wartawan terus mengekor Jakarta-1, membuat saya berpikir, “Pastinya titah Pemred. Mustahil reporter bekerja sendiri di luar tupoksinya dan ‘chains of commands’-nya.” (Hehehehe.. gaya banget dehhh bilangnya chains of commands, kayak tentara aja) Trus ada apa semua Pemred itu memerintahkan reporternya terus-terusan nempel Jakarta-1?

Jangan-jangan semua yang diungkapkan sejumlah “orang dalam” di blog mereka tentang Jokowi dan Prabowo itu ada benarnya. Bahwa Jokowi hanya melakukan pencitraan? Bahwa Prabowo ternyata memang hanya difitnah?

Yang terlihat tak seperti kelihatannya (Ilusi gambar, courtesy of vemale.com)

Sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia media, pernah terjun ke lapangan, saya bisa mengatakan bahwa cerita yang sebenarnya/sejujurnya terjadi justru adalah INSIDE STORIES. Bukan apa yang dipublikasikan di media massa. Maaf saya membuka rahasia ini. Tak bermaksud menjadi pengkhianat media. Namun, jika Anda seorang jurnalis, seorang reporter, pasti Anda akan mengakui bahwa kata-kata saya benar.

Kebenaran yang kita (jurnalis) pegang adalah kebenaran yang terbelenggu aturan. Dan aturan utama yang urusannya dengan etos kerja dan etika jurnalistik, selain mencerdaskan masyarakat/bangsa, adalah: menjaga kedamaian dan ketertiban publik. Kita tahu kebenaran di balik “kebenaran” yang kita tuliskan dan publikasikan di media kita, tapi kita sudah bersumpah untuk menjaga agar tidak timbul chaos. Untuk itulah kita hanya menuliskan yang “aman” dan tidak mengungkapkan yang “sensitif”nya.

Adalah pengkhianatan profesi (baca: melacur) ketika seorang jurnalis yang mengetahui kebenaran di balik kebenaran tadi, tapi justru malah menuliskan kebalikannya hanya karena berkepentingan dan diperintahkan demikian. Pengkhianatan, karena seorang jurnalis pasti mampu membuat fakta positif jadi berkesan negatif, PUN membuat fakta negatif menjadi positif–alias menggiring opini. Kan jurnalis tidak terlalu jauh beda dengan pengacara. Karena, seorang pengacara paham celah-celah yang ada pasal dalam UU/regulasi, sedangkan seorang jurnalis paham celah dalam berkata-kata (alias permainan bahasa).

Kira-kira itulah fakta singkat kenapa saya pindah haluan dari mengidolakan Jokowi jadi ke Prabowo. Aslinya sih puanjaaaang dan banyaaaaak sekali, tapi sudah, kalau untuk konsumsi publik, cukuplah yang saya jelaskan di atas itu. πŸ™‚

Anyways, itu semua hanya analisis dan opini saya berdasar pengalaman pribadi ya, bukan berarti ini argumentasi yang paling benar. Kebenaran itu relatif dan bergantung pada pengalaman dan point of view seseorang. Makanya, kebenaran yang relatif itu hanya bisa untuk diterapkan kepada diri sendiri, bukan untuk umum.

Sedangkan kebenaran absolut, yang berlaku untuk umum, dan HARUS diterima baik suka ataupun tidak suka, itu hanya Allah yang memilikinya. Kita sebagai manusia, mungkin bisa sedikiiiit saja memiliki dan menegakkan kebenaran yang umum tersebut, tapi mampukah kita dengan konsekuensinya?

Aih maaf jadi melantur.. Lebih baik saya akhiri di sini sebelum saya membuat entry tulisan ini menjadi sebuah novel. Hahahha..

Enjoy your blog-walking and reading here, folks. And thank you for visiting. It’s a great honor.

Advertisements