Kemarin sore saya mendapat tautan youtube berisi wawancara antara BBC (Inggris) dengan salah satu Capres 2014 Prabowo Subianto. Tautan itu saya peroleh dari status di laman facebook Pak Prayudhi Azwar, dosen The University of Western Australia – UWA, yang sempat juga jadi aktivis di era 1998. Lalu, saya minta izin kepada Pak Prayudhi untuk menerjemahkan wawancara itu ke dalam bahasa Indonesia. So, ini dia transkrip terjemahan wawancaranya.

Oh ya, ini wawancara tele (jarak jauh) jadi ada jeda antara pertanyaan dengan jawaban. Btw, anchorwoman-nya si cantik nan cerdas Babita Sharma.

photo courtesy of bbc.co.uk

BBC Impact – Prabowo Subianto, Capres RI periode 2014-2019.

Sharma: Halo dan selamat datang kembali. Ketegangan politik di Indonesia meningkat, seiring rampungnya Pemilihan Presiden Indonesia pada Rabu kemarin, dengan kedua kandidat mendeklarasikan kemenangan mereka.

Gubernur Jakarta Joko Widodo dan pesaingnya Prabowo Subianto, masing-masing mengatakan telah menang berdasarkan rilis tak resmi hasil (perolehan suara) sementara. Dengan senang hati saya mengatakan, mari kita berbincang dengan salah satu (Capres) di Jakarta, yang telah menyatakan kemenangan, Prabowo Subianto.

Prabowo Subianto, selamat datang di Impact, di BBC World News.

Prabowo: Selamat malam. Terima kasih sudah menerima saya. Terima kasih.

Kita masih menunggu 10 hari ke depan untuk pengumuman resmi, bagaimana menurut Anda hasilnya?

Baiklah. Semua hitungan riil (real count) yang telah masuk menunjukkan bahwa (nilai) saya memimpin, jadi saya pikir, saya yakin, saya telah diberikan mandat itu dari rakyat Indonesia.

Banyak polling yang kami cermati, yang dikeluarkan oleh pihak terpercaya di masa lalu, beberapa malah mewakili 2.000 stasiun polling (TPS) dari seluruh negeri. Saya coba beri gambaran kepada Anda mengenai apa yang mereka informasikan kepada kami.

Think-tank Indonesia CSIS menghitung, Widodo 52%, Anda sendiri 48%; kompas.com, yang sudah dikenal naik secara online menyebutkan hasil serupa, Widodo 52% dan Anda 48%. Saiful Mujani (Research & Consulting–SMRC–Red.) Widodo 52,76% dan Anda 47%.

Banyak orang menilai, berdasarkan poll ini, Anda sudah kalah.

Tidak, tidak. Justru sebenarnya, kebalikannya. Institusi yang Anda sebutkan tadi, mereka adalah partisan, yang jelas-jelas mendukung Joko Widodo selama, kira-kira setahun terakhir. Dan, mereka sebenarnya masih bagian dari pendukung kampanye Joko Widodo. Jadi mereka tidak sepenuhnya objektif. Sepenuhnya tidak objektif. Dan, saya pikir mereka masih bagian dari desain besar untuk memanipulasi persepsi.

Jadi marilah kita mengandalkan hasil perhitungan dari institusi resmi Indonesia, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU). Di situ ada proses penghitungan. Penghitungan riil masuk dari saksi yang ada di setiap TPS, dan kami menerima sertifikat Pemilu (maksudnya form C-1–Red.) yang sudah ditandatangani saksi. Jadi kita serahkan saja pada proses verifikasi perhitungan suara ini, dan biarkan KPU memutuskan.

Ya, tentu saja kita harus menunggu KPU..
(Edited, berikut ucapan Sharma selengkapnya, yang bertumpuk dengan jawaban Prabowo) Anda sangat tepat jika mengatakan bahwa kita harus menunggu hasil resmi (dari KPU, maksudnya) dalam 10 hari ke depan. Izinkan saya bertanya kenapa Anda begitu yakin bahwa Anda akan menang.

Tidak. Tunggu sebentar. Maaf, bisa saya menyelesaikan? Semua lembaga survei yang Anda sebutkan tadi, mereka adalah lembaga komersil. Saya bisa memberi Anda 16 lembaga survei yang menyatakan bahwa perolehan suara saya memimpin. Jadi, saya pikir, ini tidak terlalu adil jika menggunakan 3-4 lembaga survei tadi sebagai tolok ukur.

Mari kita bicara soal gaya politik Anda dibandingkan dengan pesaing Anda, Joko Widodo, yang dilihat sebagai pemimpin rakyat dan dinilai menarik oleh sejumlah warga Indonesia, dan tampaknya ia mampu dengan baik memenangkan hati komunitas tertentu, yang tidak bisa Anda jangkau. Banyak yang mengatakan bahwa gaya politik Anda secara tradisi tidak konservatif, untuk pembentukan. Apa menurut Anda ini merugikan hasil suara bagi Anda?

Tidak, tidak. Itu hanya persepsi yang dibuat-buat oleh pihak lawan. Ini benar-benar mengada-ada. Saya pikir pesaing saya adalah hasil produk (pencitraan) dari “PR”, kampanye. Pihak lawan ini, dia adalah sepenuhnya alat oligarki. Saya tidak yakin ini adalah gambaran sesungguhnya. Dia bukan orang yang merakyat. Dia mengaku rendah hati, tapi itu hanya akting. Menurut saya, itu hanya akting.

Tapi dia, bagaimanapun, memiliki reputasi yang bersih. Dan kampanye yang dilakukannya tidak dimainkan, tidak seperti Anda yang ternoda oleh masalah HAM dan penyalahgunaan wewenang yang terjadi di bawah rezim Soeharto.

Bersih? Bersih?

Hanya sekadar mengingatkan, Anda pernah memimpin unit yang, pada tahun 1998, dituding menculik, menyiksa, dan membunuh sejumlah aktivis yang memprotes kekuasan Soeharto saat itu. Kini, bagaimana Anda bisa melihat diri Anda sebagai politisi bereputasi bersih, yang mampu memimpin negeri usai melihat hasil penghitungan suara dalam 10 hari ke depan?

Anda tahu, setiap kali saya mendapat dukungan dalam jajak pendapat, semua tuduhan, sindiran, pemburukan karakter ini muncul kembali. Ini adalah Pilpres ketiga saya. Saya sekarang memimpin Parpol terbesar ketiga, dari negara terbesar keempat di dunia. Indonesia adalah negara terbesar keempat di dunia. Penduduknya berjumlah 250 juta orang. Kami seukuran Eropa. Dan saya memimpin partai terbesar ketiga, dan saya kini memimpin koalisi yang mewakili hampir 2/3 pemilih/pemberi suara sah (voters) se-Indonesia. Bagaimana mungkin 2/3 voters Indonesia ini dibodohi, tidak mungkin mereka dengan bodohnya mendukung seseorang, seperti yang dituduhkan oleh lawan-lawannya (saya). Ini jelas merupakan pemburukan karakter.

Tidakkah menurut Anda saat ini adalah waktunya bagi Anda menjelaskan semuanya secara langsung?

Oh, sudah saya lakukan. Banyak, berkali-kali. Sudah dicatat, direkam. Saya kira semua pers yang mewawancara saya sudah bertanya soal HAM ini. Anda tahu, ini adalah cerita yang selalu saya ulang selama 16 tahun terakhir.

Tapi (tuduhan) ini kan terus muncul? Tahun demi tahun. Bagaimana Anda bisa menepiskan itu semua dari kondisi Anda sekarang?

Itu terus.. terus.. Yah, itu terus muncul. Terus dimunculkan oleh musuh saya, oleh pesaing saya. Ini adalah bagian dari permainan politik. Mereka selalu mencoba segala cara.

Bukankah ini sudah waktunya mengakhiri (polemik) ini dengan menjawab tuduhan yang dilemparkan kepada Anda ini?

Sudah saya jawab, berkali-kali. Dicatat. Tercatat. Saya sudah bebas. Saya tidak pernah lagi dituduhkan melakukan apa-apa. Ini semua hanya permainan politik untuk menghacurkan saya, karena mereka tidak suka dengan apa yang saya bela. Saya membela Indonesia yang bersih. Saya membela keadilan bagi rakyat kami. Saya membela kesepakatan yang adil bagi rakyat Indonesia.

Mereka selalu dibohongi, mereka selalu dibodoh-bodohi. Orang Indonesia dianggap bodoh, malas. Ini adalah anggapan zaman kolonial dahulu tentang orang Indonesia. Mereka berpikir oligarki besar bisa mengambil uang (keuntungan)…

Mohon maaf? (Anda mengatakan apa?)

Mohon maaf karena memotong. Ketika hasil suara diumumkan pada 21-22 Juli nanti, jika ternyata hasilnya adalah pesaing Anda, Joko Widodo dinyatakan menang, apakah Anda akan dengan besar hati menerima itu sebagai keputusan rakyat Indonesia?

Itu adalah bagian dari demokrasi. Jika ia secara resmi menang secara adil, tentu saja saya akan mengakuinya. Namun, saya sangat percaya diri, semua real count yang masuk menunjukkan bahwa hasil suara saya memimpin. Dan kemarin, dengan 60% dari real count masuk, saya memimpin. Jadi, saya yakin, kamilah yang mendapatkan mandatnya.

Apa pesan Anda kepada pendukung Anda, karena berkembang keprihatinan terkait kemungkinannya terjadi protes, bahkan kekerasan di jalan-jalan, jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan. Maksud saya, apa pesan Anda untuk mereka sekarang?

Tahukah Anda, salah satu kantor stasiun televisi yang mendukung saya, telah diserang? Dua kantor televisi diserang, dirusak. Tahukah Anda, salah satu lembaga survei yang memperkirakan bahwa saya menang, semalam diserang oleh bom molotov? Jadi dari mana kekerasan itu muncul? Dari mana intimidasi itu muncul?

Jadi apa pesan Anda?

Saya memperoleh laporan dari pendukung saya, bahwa mereka diintimidasi. Mereka diserang, di banyak wilayah di Indonesia.

Jadi pesan dari saya adalah, sudah saya katakan, tercatat, silakan dicek, selalu, selalu saya katakan, berkali-kali, tetaplah tenang, tetap adem, semua pesaing itu adalah saudara kita. Mereka bukan musuh. Semua pidato saya, dan tak satupun dari pidato pesaing saya itu mengatakan hal serupa. Tidak satupun.

Saya sudah katakan, jika KPU mengumumkan apapun kehendak rakyat, saya akan menghormati keputusan itu. Mereka tidak pernah mengatakan hal serupa. Tidak sekalipun mereka mengatakan hal serupa, sepanjang masa kampanye. Saya kira, saya sudah menyampaikan 10-15 pernyataan di hadapan televisi nasional, saat Debat Capres, dalam setiap event, ratusan juta orang melihat ini. Dan dari pesaing saya, tidak sekalipun mereka menyatakan bahwa mereka akan menghormati apapun keputusan rakyat Indonesia.

Malahan mereka mengumumkan, jika Prabowo menang, berarti itu curang. Bahkan jauh sebelum real count masuk.

Jadi saya bertanya kepada Anda, siapa…

Saya akan menanyakan.. Menanyakan satu pertanyaan akhir, Pak. Apa yang akan Anda lakukan jika Anda tidak menang?

Apa? Saya sangat yakin menang. Tapi tahukah, jika rakyat Indonesia tidak membutuhkan saya, saya tidak masalah. Saya memiliki hidup yang baik. Saya akan kembali ke keseharian saya. Sejujurnya, hidup yang tenang, jauh dari politik. Saya melakukan ini (mencalonkan diri–Red) atas dorongan kewajiban dan bakti saya kepada masyarakat.

Prabowo Subianto, kami sangat bersyukur Anda sudah bersedia menyisihkan waktu untuk kami dalam Impact BBC World News. Terima kasih banyak. Tetaplah bersama kami, di BBC World News .

courtesy of https://cakarcakrawala.files.wordpress.com/

Catatan pribadi:

Di tautan video tersebut, saya melihat komentar-komentarnya. Banyak banget yang menyindir dan cenderung menghina Prabowo dalam wawancara ini. Mereka bilang Prabowo payah dan gagal (blew it off) merepresentasikan dirinya dalam wawancara.

Yang ada dalam pikiran saya: WTF. (hahaha.. Maaf!) Pertama, saya jadi penasaran, mereka paham bahasa Inggris ngga ya?? Kedua, mereka paham ngga yang namanya wawancara televisi itu bagaimana, apalagi telewicara (jarak jauh dan berjeda waktu). Interupsi dan memotong pertanyaan/jawaban antara pewawancara dan narasumber itu BIASA terjadi. Ketiga, mereka paham betul ngga yaa politik Indonesia itu seperti apa? Keempat, mereka yang berkomentar itu objektif ngga ya? πŸ™‚

Kalau saya pribadi sih menilai, dalam wawancara ini he’s just being himself. Dia hanya jadi dirinya sendiri saja. Berapi-api, ceplas-ceplos. Dan yang jelas terlihat: dia ngga berpura-pura. Di komentar video (dan di Google +1), saya akhirnya “nyeplos” juga bahwa selama yang berkomentar itu BUKAN jurnalis Indonesia dan BUKAN pemerhati politik selama 10 tahun terakhir (at least) maka komentar yang seliweran di sini adalah komentar gibberish (omong kosong). Komentar yang tercantum di internet itu “abadi”, jadi pastikan aja omongannya ngga akan menyerang balik masing-masing komentator.

Bukannya saya sombong atau ngga mau mendengar apa kata orang. Saya sih simpel aja, saya mantan wartawan politik, walau sebentar (2004-2005). Beruntung, momen itu pas dua periode presiden: masa Megawati dan masa SBY. Saat itu saya bertugas muter-muter di pos Mabes Polri, Polda Metrojaya, Kejaksaan Agung, PN Jakarta Selatan, PN Jakpus, Pengadilan Tipikor, KPK, dan tentunya DPR/MPR.

Sedikit banyak, saya bisa melihat seperti apa ranah politik, hukum kriminal dan keamanan di ibu kota Indonesia ini. Setelah ngga jadi wartawan pun, saya masih mengawasi sepak terjang kelakuan para pejabat tinggi itu. Dan orang yang mengerti situasi persis di negara ini yaaa hanya jurnalis nasional dan pengamat politik. Omongan merekalah yang lebih berharga untuk didengarkan, karena pasti mereka ngga akan bicara asal dan mengeluarkan informasi yang sia-sia, dan pastinya ngga akan pakai hina menghina. Itu aja patokan saya.

Ngapain capek-capekin mata ngeliat komentar-komentar kekanakkan yang sotoy (sok tahu) padahal baru kenal politik itu PAS masa Pilpres 2014 saja. Hanya karena baru sekian bulan membaca info yang di-sharing media, bukan berarti seseorang lantas jadi expert. Wekekekekeke.. Kocak. πŸ˜€ Dukung Capres sih dukung aja, ngga perlu pake menghina-hina saingannya. Kalau masih menghina dan menghujat, ketahuan ilmu demokrasinya masih bayi. Masalahnya: MAU KAPAN JADI BAYI TERUS? πŸ™‚

Oh ya, “lead” yang menurut saya layak jadi highlight dari jawaban lugas Prabowo Subianto adalah sebagai berikut:

  1. Meski secara real count Prabowo dikatakan menang, ia tetap mengimbau pendukungnya untuk lebih percaya dan menunggu pengumuman KPU. Jadi, tetaplah tenang, kalem, adem.
  2. Dalam setiap pidatonya, Prabowo selalu mengimbau bahwa Capres rival dan pendukung mereka tetaplah saudara dan bukan musuh (jadi jangan sampai ada bentrok).
  3. Jika Prabowo dinyatakan kalah oleh KPU, dia akan menghormati keputusan dan pilihan rakyat Indonesia–ngga seperti Capres rival yang meng-klaim, kalau Prabowo menang berarti curang!
  4. Prabowo mencalonkan diri menjadi Presiden RI atas baktinya kepada rakyat. Ia prihatin melihat bangsa Indonesia dibodoh-bodohi, mendapat perlakuan tak adil secara ekonomi dan hukum. Jadi, jika Prabowo dinyatakan kalah oleh KPU, dia akan “selon aja” kembali ke kehidupan tenangnya yang jauh dari politik.

Anyways, hope the transcript above is somewhat helpful. Cheers!

Berita terkait soal wawancara BBC dan Quick Count, dan, eeeeeh ada juga toh yang menulis transkrip dan menerjemahkannya, hehehe.. saya beda sehari dengan beliau. Gapapa untuk memperkaya bahan πŸ˜‰ :

Advertisements