[CerpeNina] Seks dan Lula – part 1

Black-Cat-White-Cat-Color-1Zaman dahulu kala… *halah* KawaNina sesama bloggers pernah membuat “The Kacrut Challenges” yang selalu dikasih hashtag #TheKacrutMenulis. Salah satu tema TheKacrutMenulis ini adalah “Seks”. Wadaw… 😀 Menantang siiih, tapiiii.. let me ask my pride first. Hahahaha..

Kalau ngga salah, hanya satu orang yang menyambut tantangan tulisan bertema “Seks” ini. Yaitu sohib saya yang paling seksi di dunia: Enybodyhome. Dia nulis cerpen berikut sebagai jawaban tantangan tersebut: “Menukar Cinta dengan Seks“. The Kacruts lainnya, sama seperti saya: bingung. Alhasil, tulisan ini ngendon di draft wordpress saya selama 2,5 tahun! Maklum, tantangannya tu awal Desember 2011. Wekekekeke.. 😀

Anyways, jujur, menulis tentang sesuatu yang dianggap tabu, tapi mengemasnya jadi suatu tulisan apik yang tidak porno itu sungguh menantang. And every challenge threw at me, will always be accepted. Walau terpending lama. Hehehe.. Well, saya tidak pernah takut pada tantangan. Yang saya takutkan hanyalah end up merasa penasaran karena tidak pernah mencoba. So, here we go. 

Let’s talk about sex, baby! 

Disclaimer: Cerita ini hanya untuk 20 tahun ke atas, ya! And read at your own risk. Hehehe.. 

Lula merasa bosan. Bosan dengan alur hidupnya. Bosan dengan gaya hidupnya. Kalau Tuhan memberi kesempatan, maka Lula bersumpah bersedia membarter hidupnya dengan hidup orang lain, yang lebih sederhana.

“Kamu gila, La. Apa yang harus kamu keluhkan? Kariermu bagus. Bahkan di usia 29 begini kamu sudah jadi CEO di perusahaan farmasi milik keluargamu yang kondang itu. Otakmu cemerlang. Leadership di jiwamu tinggi dan kamu perempuan yang berani. Nggak hanya itu, kamu juga berasal dari keluarga ningrat, yang tajir-nya tujuh turunan. Anak semata wayang pula. Rekeningmu gemuk, padahal belum menerima warisan!” Santi, sahabat Lula, terbelalak saat mendengar keinginan tersebut.

“Kamu mau tukeran hidupmu sama aku, San?” Lula tersenyum. Tipis. Miris. Matanya tetap lurus menatap televisi yang menayangkan acara.

“Serius?” mata Santi melebar. “Aku sih mau saja. Tapi, apa kamu bisa hidup seperti aku begini?”

Let’s see. Kamu anak bungsu dari enam bersaudara. Keluargamu sangat mencereweti kamu. Hidupmu sederhana. Kariermu biasa-biasa saja dan cenderung mengikuti pola rutin. Otakmu juga encer, hanya saja ngga terlalu banyak dipakai..”

“Hey!!” Santi menghardik.

Lula tertawa. “Yah, pokoknya nggak masalah buatku,” jawab Lula. Ringan.

Santi menggelengkan kepalanya keras-keras. “Kalaupun kita sepakat, gimana caranya kita berganti peran?”

“Operasi plastik,” Lula berkata cepat. Lagi-lagi, ringan, sambil mengganti channel teve.

Santi melotot. “Gampang amat kamu menjawab!”

“Ya ngapain juga dibuat susah?” Lula terkekeh. Santi tak habis pikir, kenapa Lula seakan menganggap ini semua permainan yang mudah dilakukan.

“Mau nggak, San?” Lula mendekati Santi yang sedari tadi duduk di tepi ranjang. Ia memperhatikan Santi asyik menyapu pandangan di studio apartemen mewah miliknya itu. Lula bisa memperkirakan apa yang Santi pikirkan.

“Kalau kamu mau tukeran dengan aku, semua propertiku akan jadi milik kamu. Apartemen ini, Evo 11-ku, karierku, keluargaku..” Lula tertawa saat menyebut kata yang terakhir. “Jangan terlalu kuatir dengan keluargaku. Mereka sudah terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri dan lebih suka menghabiskan waktu masing-masing di Eropa daripada ngobrol dengan anaknya. Jadi jangan kuatir akan ketahuan,” Lula cepat-cepat menambahkan.

Santi mengulum senyum. Ia sedang berpikir. Tawaran Lula memang sangat menggiurkan. Dan ia percaya pada Lula, yang sudah jadi sahabatnya sejak SMP. Santi sendiri merasa sangat beruntung bisa menjadi sahabat Lula, si bintang sekolah. Lula si populer. Lula si seksi. Lula si dermawan. Lula yang berselera mahal. Lula si berani, yang dibenci sekaligus dihormati para cewek.

Semakin dewasa Lula memang semakin cantik. Semakin seksi. Bodinya makin aduhai laksana gitar Spanyol. Dadanya membusung, proporsional, tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu tipis. Bokongnya menantang, meski sikap berdirinya biasa. Rambut Lula kecokelatan bergelombang dengan mata berwarna madu. Maklum, ada darah Prancis di nadinya. Sejak SMP, ia selalu dikejar-kejar seluruh siswa cowok. Setiap lelaki yang dikerlingnya, bertekuk lutut. Dan secara harafiah niscaya mereka bersedia menciumi kaki jenjangnya jika diminta.

Lalu bagaimana bisa Santi menjadi secantik Lula?

“Aku yang akan bayari operasi plastiknya,” kata Lula, sambil merangkul Santi yang sekian detik lalu memantapkan hati berganti peran dengan Lula. “Kamu keluar dari pekerjaanmu, kerja di tempatku, lalu bilang pada orangtuamu bahwa aku langsung menugasimu ke Kanada selama 3 bulan. Sementara itu, kita akan saling latihan mengenal hidup masing-masing, oke?”

Singkat cerita, operasi plastik secara bertahap mengubah Lula menjadi Santi dan Santi menjadi Lula, berhasil. Dokter bedah plastik asal Austria yang mengoperasi mereka di Kanada memang mahal, seharga apartemen mewah, tapi hasilnya sangat memuaskan.

Selama recovery, Lula belajar menjadi Santi dan Santi belajar menjadi Lula. Ketika akhirnya mereka kembali ke Indonesia, kedua perempuan lajang itu sudah bertukar peran.

“San, sebenarnya ada satu hal yang belum aku beri tahu padamu,” kata Lula asli, suatu malam di apartemen mewahnya di tengah Kota Jakarta. Esok pagi ia sudah harus menjadi Santi dan pulang ke rumah orangtua Santi, yang sudah tak sabar kangen pada “anak” mereka.

Oh my God, kenapa kamu baru kasih tau sekarang? Would I like what I hear?” tanya Santi, yang sudah mulai hapal dengan gaya Lula.

“Yah, fifty-fifty lah. Tapi, bisa jadi, it’s not that big of a deal though,” bisik Lula. “It’s not like you’re THAT naive. Are you?

“Okelah. Tentang apa ini, La?” Santi menatap Lula. Sesaat tertegun, karena seakan ia sedang menatap cermin hidup. Maklum, Lula kini sudah berwujud Santi.

About my sex life..” Lula menjulurkan lidah sambil tertawa kecil.

Oh. That!” Santi balas tertawa.

Ia sudah mengetahui rahasia kehidupan seks sahabatnya itu. Dan, jika mau jujur, dulu Santi justru sering berharap setidaknya setengah saja dari kehidupan seks Lula. Selama ini, bisa dibilang, Santi bukan jenis perempuan yang sexually active. Pacaran pun baru 1-2 kali selepas perguruan tinggi.

No problem,” bisik Santi.

“Yakin?” Lula terbelalak, tak menyangka Santi akan menjawab seperti itu. Santi terkekeh. Mendadak Lula menjilat bibirnya. Entah kenapa, dia merasa terangsang dengan jawaban Santi. Apalagi melihat Santi sekarang seksi seperti dirinya dahulu.

Lula merangkul Santi, lalu berbisik, “Apa kamu tau, selama ini aku biseksual?”

Santi terkikik. Setelah tawanya habis, ia menjawab, “Tau kok. Aku kan ngga buta-buta amat. Malah aku sempat menunggu kapan kamu make a move on meBut you never did.”

Well, that’s because you’re my best friend,” jawab Lula seraya terbelalak. Lagi-lagi tak percaya dengan jawaban Santi. “Aku takut kamu kabur kalau aku make a move. Maksudku, aku ngga takut kehilangan apapun, tapi, really, aku ngga bisa kehilangan kamu sebagai sahabatku.”

“Awww.. Aku nggga akan berhenti jadi sahabatmu, La. No matter what happen. Aku cuma kuatir kalau I’m not your type,” kata Santi. Entah sejak kapan, ia merasa dirinya sudah full sebagai Lula, sehingga keberaniannya pun muncul begitu saja.

Sikap berani itu ternyata tak seberat yang ia bayangkan sebelumnya. Malahan, muncul begitu ringannya.

“Yah, jujur, secara fisik, kamu bukan tipe cewek kesukaanku, tapi aku sangat sangat menyukaimu secara pribadi. Now that you’re ‘me’, I can’t deny that I feel the hots for you,” Lula mengeratkan pelukannya.

Mereka mulai berciuman. Panas. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka bercinta. Lula dibuat terkejut oleh keagresifan Santi. Ia sungguh tak menyangka, sahabat yang dikenalnya selalu pendiam dan pemalu itu ternyata ganas. Mungkin betul teori-teori seksologi yang pernah didengarnya, bahwa orang pendiam itu sebenarnya dahsyat di ranjang. Hmm..

Santi sendiri terkejut dengan perubahan dirinya. Ia merasa begitu menjiwai peran Lula, sehingga tak lagi menahan diri seperti yang selama ini ia lakukan. Dan tadi itu, adalah pengalaman pertama kalinya ia bercinta dengan sesama perempuan. Yah, walau secara teknis, artinya Santi bercinta dengan dirinya sendiri. Meski itu pertama kalinya, bisa dibilang Santi berjaya di ranjang. Mendominasi. Seakan memendam dendam sebagai “Lula” yang ingin memberi kepuasan kepada “Santi”.

Keesokan harinya, Santi pulang ke rumahnya, dan Lula menikmati apartemen mewah dengan segala fasilitasnya. Hal pertama yang ingin dilakukannya adalah berbelanja. Maka mulailah ia mematut diri di depan cermin. Lula berpakaian seksi, meski tidak sampai terlihat seperti pelacur. Wajahnya yang halus bak pualam dipoles make up tipis dan bibirnya dioles warna coral. Ia selalu suka melihat Lula asli mengenakan lipstik berwarna coral. Sangat sesuai dengan kulit putih bersih dan meronanya. Kemudian, ia tancap Evo 11 putih “miliknya” ke mal besar tak jauh dari pusat kota.

To be continued..

^_^

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[CerpeNina] Seks dan Lula – part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s