black_cat_marvel_comics_black_background_1900x1000_wallpaper_wallpaper_1024x1024_www-wallpaperswa-com.jpgA story by Enybodyhome

enybodyhome

Malam itu , di suatu sudut kantor, di pusat Jakarta. Hening.

“ Jadi lo anggap gue apa?” Si perempuan bertanya.

Suaranya gemetar, dan  gemuruh di dadanya hampir bisa terdengar di ruangan yang sepi.

“ Gak ada. Hubungan kitakan purely seksual. Jangan minta macem-macem ke gue. Jangan ngomongin hal yang personal ke gue. Jangan sharing apa-apa ke gue. We are totally only sex partner”. Dingin suara si lelaki.

Datar. Hampir tanpa emosi.

“Not even friends? Ive always think of you as a friend you know..” Lirih suara si perempuan menahan tangis.

Si lelaki menatap si perempuan. Tepat ke dalam matanya. Namun masih dengan mata yang datar seperti tadi.

“Friend it is. Kalau elo mau anggep gue temen silahkan. But I only contact you for the sex”.

Setelah itu dia beranjak pergi.

Si perempuan berdiri diam.

Menatap punggung yang menjauh.

Tak sanggup berkata, namun matanya bak hujan.

Dan dalam hati ia berdoa…

View original post 361 more words

Advertisements