Pengennya sih BACK for good.. :)

Ternyata udah lama banget postingan terakhir saya di blog ini. Kalau dilihat-lihat, postingan serius adalah tahun 2008!! Gileee..

What’s new? Wah, banyak sangat!
Yang jelas, saya mau coba mengaktifkan lagi blog ini, bersamaan dengan beberapa blog saya yang lain. Maklum, sejak punya bayi, saya lebih konsen ke bayi dan pekerjaan. Nah, sekarang si bayi saya ini hampir berusia 2 tahun, sudah bisa main sendiri dan bisa “ditinggalin” mamanya untuk nge-blog. Hahaha..
Anyways, welcome back me! *eh*
Banyak banget yang sudah terjadi sejak terakhir saya posting entry di sini. Salah satunya ya yang saya sebut di atas itu, saya punya bayi. Anak ketiga saya itu lahir tgl 25 November 2009. Alhamdulillah, lahir normal dan tumbuhnya juga normal-cenderung cerdas. hehe..
Bagaimana dengan kehidupan lainnya?



Karier? —masih jadi editor di website pemberdayaan. Dan beberapa kali membantu kawan untuk editing buku, komik, bahkan translasi dari English ke Indonesia. Itung-itung keep our kitchen ngepul lah. hahaha..
“Karier lainnya”? —setelah Good Lawyer yang rilis Maret 2009, kita rilis lagi Good Lawyer Season 2 di pertengahan 2010. Alhamdulillah, semuanya lancar-lancar saja, meski saya nyaris tidak partisipasi untuk Good Lawyer Season 2 (kecuali menjadi editornya), mengingat harus persiapan lahiran si bungsu. Tapi berkat dorongan teman-teman Rose Heart Writers, ya ikutan lagi ah, walau hanya satu cerita. Huehehehe…
Percintaan? —Walah.. What can you expect from a married woman’s love life? Hahaha.. Yaa mengalir begitu saja. Kadang menentang arus, kadang membuat arus sendiri, kadang ikutan arus layaknya ikan mati. Hahahaha.. Ups and downs, just like a marriage should be.
Lho… A marriage-should-be? —Yah begitulah. Kalau kata ayah saya, “Romantika kehidupan. Tidak usah dikeluhkan. Semua orang mengalami hal yang sama, meski tidak persis serupa.” Hanya saja bisa dibilang, untuk pasangan suami-istri, kadang lupa bagaimana caranya mengekspresikan rasa kasih. Karena sehari-hari ketemu, sepertinya sudah terlalu biasa dan jenuh untuk diungkapkan. Entah apa hanya pernikahan saya saja yang seperti itu ya.
Orang bilang, cobaan terberat dalam pernikahan adalah kurun lima tahun pertama. Sisanya, lebih tenang, karena masa penjajakan sudah usai. Ya, konon lima tahun pertama itu adalah masa penjajakan antara lelaki dan perempuan yang menjadi satu dalam holy matrimony, ikatan suci (suami-istri).
Saat mendengar filosofi tersebut, awalnya saya tidak percaya. Kok seperti filsafat instan saja. Maksudnya filsafat yang diambil dari segelintir kisah hidup, bukan dari kisah seluruh umat manusia. Tapi ketika menjalaninya sendiri, kok ya terbukti. Sungguh besar tantangan yang kami hadapi selama usia pernikahan kami yang baru empat tahun lebih beberapa bulan ini. Jika diibaratkan sebuah plot cerita, maka cerita kehidupan pernikahan kami mengambil plot cepat dan ngga bertele-tele seperti sinetron ala made in Punjabi, pake zoom in-zoom out dansoundtrack effect jreng-jreng-tut begitu. *eh..* :p
Kalau boleh jujur, apa ekspektasi saya untuk pernikahan, yang notabene adalah kedua kalinya untuk saya ini? Ekspektasi saya simpel, tetep mesra seperti tahun pertama.
Tapi itu tidak terjadi.
Entah apa karena memang sudah qadar (takdir), sehingga kerasnya tempaan hidup menyurutkan perasaan–atau setidaknya memadamkan keinginan untuk selalu mesra dan rasa ingin terus berdekatan. Ya, semua itu akan hilang memasuki tahun kedua, atau malah ketika menghadapi palu godam hidup. Dalam hal ini, ketika mobil saya hilang setelah terakhir digunakan suami (23 Desember 2008). Gejolak rasa dan emosi timbul di sini. Antara menyalahkan keteledoran suami–yang ujung-ujungnya membuat kami terus ribut–dengan tekad mencoba ikhlas terhadap ketentuan Allah.
Makin ke sini, pertengkaran kami makin hebat. Bahkan setelah Farrell lahir, pertengkaran itu makin intens. Bisa dihitung jari, kapan kami adem ayem saja.
Beberapa saudara menggoda, “Tak apa bertengkar, supaya lebih mesra..” Tapi itu hanya jadi sekadar harapan. Saya pribadi sudah melepaskan asa dan ekspektasi terhadap suami. Saya mengerti bahwa dia tidak sempurna. Who is? None.

Namun, adaaaa saja yang membuat saya terluka. Intinya adalah soal etika.
Kalau boleh buka kartu, suami saya bukan jenis orang yang punya etika tinggi. Dia cenderungslonong boy. Memang setelah dibicarakan dan meminta dia berpikir jika dia menjadi saya, dia meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi. Setelah itu lewat, cobaan lain datang dan sampai sekarang belum terurai. Mudah2an saja setelah ini keadaan membaik, karena saya, insya Allah, sudah mendapatkan jalan keluarnya.
Suka tidak suka, suami dan istri adalah pakaian untuk satu sama lain (istri adalah pakaian suami dan suami adalah pakaian istri)–mengutip Al Baqarah : 187.

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.(QS. 2:187)”

Sebenernya sih ayat ini mengatur soal puasa. Hahahaha.. Tapi saya mencomot salah satu kalimatnya (yang saya bold) tanpa bermaksud menyembunyikan sisanya… (Gak boleh ah, musti utuh. hehe..)
Maksud saya di sini, suami istri dalam hal ini sudah layaknya pakaian, ke mana-mana dibawa. Kecuali kalau kita mau pergi ke mana-mana tanpa pakaian… *eh!*
Lebih lanjut, maksudnya adalah, apapun yang diperbuat suami akan berimbas pada istri, dan demikian sebaliknya, yang diperbuat istri akan berimbas pada suami.
Imbas dalam hal ini luas dan dalam.. *heuh.. jangan rancu ya!* karena akan menyangkut semua urusan duniawi–nama baik, kenyamanan pribadi, kenyamanan rumah tangga, dsb–DAN urusan akhirati. Untuk itu, sebaiknya semua perbuatan kita (baik sebagai suami ataupun istri) harus dipikirkan matang-matang, karena akan berdampak kepada “samping” kita, bahkan anak-anak kita.
Kasus saya, saat ini, adalah melihat suami saya BELAJAR tentang hal ini. Sungguh, ini merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk dilihat, karena kita ini sedang lari 200 km per jam, tapi harus mendadak berhenti karena salah satunya ketinggalan di belakang. Entah ini saya yang kurang sabar, atau pasangan saya yang tidak berniat belajar cepat-cepat?
Fiuh… Baru nongol lagi kok saya malah membahas hal-hal berat ya? Hehehe.. Gomenasai, minna!
Baiklah, teman-teman semua, saya pamit mundur untuk hari ini. Mudah2an besok saya berkesempatan untuk menulis kembali dengan tema yang lebih ringan dan ngga berupa curcol. Huahahaha… :p
Advertisements

8 Comments Add yours

  1. damz says:

    Welcome back Nien!! Hmmmm, topiknya berat memang.. Karena saya ga punya pengalaman bersuami-istri, jadinya gak berani komen ah.. Yang jelas semoga semuanya menjadi lebih baik! πŸ™‚

  2. Nyayu Amibae says:

    halooo mbak nina,,,, wah senengnya bisa lihat blog ini lg,, terakhir aku lihatnya tahun berapa ya?? hmm…2008, 2009,,, hehehe,, lupaaa…sayng aku blm tau rasa nya gimana berumah tangga, tapi mbak nina harus tetap sabar dan semangat!! Enjoy your life,,, πŸ™‚

  3. ditunggu tulisan berikutnya mba'.. πŸ™‚ .. ntar kita saling mengunjungi yah .. :)ngomng2, makasih udah mampir k blog ku..

  4. The N-ormous says:

    @ Damz: Wekekeke.. Sok atuh geura nikah, my bro.. Kesalip Oboy, lho! hahahaha.. Terima kasih yaa doanya, Damski.. :)@ Mbak Nyayu Amibae: Waaaah terima kasih sudah mampir! hehehe.. Iyaaa, udah lama banget saya nggak nulis nih.. Insya Allah kalau semangat sih, selalu. hehehe.. Terima kasih yaaa.. @ KuraKuraPutih: Aahahaha.. Siap, Om! (eh, kura-kura niy cewe atau cowok ya?) hehehe.. Maap… πŸ™‚

  5. bisot says:

    ayo kakak, ngeblog lagi, lets share and make internet better and worthed πŸ™‚ tsahhh

  6. @ Bisot: Siap, Daeng! πŸ™‚

  7. sheno monkey says:

    wah welcome back. saya belum menikah jadi ga ngerti dan ga bisa komen. hanya saja turut mendoakan yang terbaik πŸ˜€

  8. @Sheno Monkey: ahahaha.. Terima kasih atas doa dan kunjungannya, Kamerad. Btw, saya mampir ke blog Anda, kereeeennn! πŸ™‚

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.