Nikah, harus punya anak?

Beberapa kali kedua anak saya bertanya hal ini: Mam, emangnya kalau menikah harus punya anak? Kalau aku nikah ngga punya anak, boleh nggak? Atau sekalian aja aku ngga usah nikah ya? Aku gak kebayang bisa membesarkan anak..

πŸ˜… Emaknya cuma nyengir..

Gini ya, Nak-anak, first of all, punya anak atau tidak, itu Allah yang menentukan. Bukan manusia. Banyak pasangan suami istri yang gak berencana cepet-cepet punya anak, eh ternyata sebulan nikah, istrinya langsung hamil. Banyak juga pasangan suami istri yang pengeeeen banget punya anak, tapi sama Allah belum juga ACC. Sampai belasan, bahkan puluhan tahun nikah, ngga juga punya anak. Jadi itu semua bener-bener Allah yang menentukan.

Kedua, harus punya anak? Yaa ngga ada aturan yang mengharuskan sih. Hanya saja menurut ilmu agama berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, kita menikah agar bisa memiliki keturunan. Dan Rasulullah senang melihat umatnya yang sangat banyak di surga kelak. Inget, asumsinya umat Rasulullah ya, artinya yang sholeh dan mendidik diri agar bertabiat meneladani Rasulullah dan sunnah-sunnahnya. Artinya lagi, apa? Artinya umat yang punya tanggung jawab membesarkan anak dengan prinsip Islami agar tumbuh jadi manusia yang termasuk umat Rasulullah Muhammad SAW. Ribet? Makanya utamakan belajar agama dulu sebelum belajar cinta-cintaan. 😁 –Btw, ini omongan saya sebagai ibu ke anak sih, jadi musti agak2 kayak Mamah Dedeh lah ya. Hehehe..

Ketiga, kalau ditanya jujur, ngga ada satu pun manusia yang bener-bener siap punya anak. Ada yang merasa udah siap banget, begitu praktik, anaknya lahir, gak kuat begadangnya, keteteran sama bayi yang suka gak terduga jadwal nangisnya, lupa bagi tugas malah semua ditumpahin ke istri, padahal penting banget berbagi tugas saat kita punya bayi. Ini bayi nih manusia, anak kita, tanggung jawab kita, nyawa bayi ini ada di tangan kita. Kalau bukan kita yang handle, siapa lagi yang mau? Lah kita pelihara bayi kucing aja musti kita nurture, apalagi bayi manusia?

Tapi pertanyaannya bukan: siap ngga jadi orang tua, melainkan, siap ngga lebih bertanggung jawab sama diri sendiri, sama pasangan, sama anak, sama keluarga kecil kalian? Kalau belum siap, minta sama Allah untuk mencukupkan, menyabarkan, memampukan.

Keempat, soal perlu gak sih nikah? Lha ini.. Gini ya, mamam blak-blakan aja. Di Qur’an tertulis: Allah menciptakan manusia lengkap dengan nafsunya. Manusia itu selalu punya nafsu, SALAH SATUNYA adalah syahwat. Ada manusia yang bisa menahan syahwat dengan puasa dan shalat, tapi secara fitrah, takdirnya, syahwat itu selalu ada. Gak bisa hilang sama sekali. Sadari, kita ini manusia, bukan malaikat yang tak memiliki nafsu, apalagi syahwat. Sadari juga, kita ini manusia, bukan hewan yang hanya punya nafsu tanpa akal.

Di Al-Qur’an, Allah memberi “fasilitas” menikah, bagi yang sudah mampu dan mau. Selama kamu belum terbayangi oleh syahwatmu, nikah belum perlu. Kalau kamu sudah mulai merindukan menghabiskan hidup dengan seseorang, nikah menjadi sunnah. Tapi kalau sudah ada hasrat syahwat dan kerinduan itu semakin gak terbendung maka nikah menjadi fardhu.

Anyways, saran mamam tetep, menikahlah. Cari pasangan sesuai bibit, bebet, bobot. Kalau kamu mau nikah dengan seseorang yang berkualitas maka kamu wajib lebih dulu menjadi orang yang berkualitas. Niatkan nikahmu karena Allah, agar kalian sehidup sesurga. Belajar dari kesalahan mamakmu ini, ambil hikmahnya, buang contoh buruknya. Mamakmu selalu niat sehidup sesurga saat memutuskan menikah. Tapi ngga ada manusia yang mampu menghindar takdir Allah. I’ve done my best, Allah decides the rest.

Masalah punya anak atau ngga, itu biar Allah yang tentukan.

Nah, udah panjang lebar begitu, anak saya balik nanya lagi: Jadi kalo aku gak nikah, gapapa?

Hadehhhh.. πŸ˜…πŸ˜…

Dua dari tiga anak saya sudah usia 23 dan 21, tapi tetep aja bocah kecil sama emaknya mah..