Jalan sama mantan bisa jadi masalah? Buat saya, nggak tuh. No problemo kok. Eh tapi itu karena saya dan mantan masih sama-sama single dan no relationship, ya, jadi ngga ada pihak yang jealous ataupun ngambek. Ada sih yang sedang dekat ke saya dan juga ke sang mantan, tapi aman, aman. πŸ˜πŸ™

Hanya saja mungkin buat mayoritas orang mencerna kalimat “jalan sama mantan, no problem” itu agak susah, ya. Namanya “jalan”, artinya (lumayan) akrab dong. Akrab sama mantan, apa bisa? Buat saya (dan mantan), ya bisa. Kenapa tidak?

Emangnya udah ngga berantem lagi, ya?

Yup. Udah lewat masa-masa ribut dan ribetnya. Buat pasangan yang mengalami cerai seperti saya (pengalaman 2x neh! 😀) ribut pascacerai itu “hanya” bertahan sekitar 1 tahun–ini mungkin ngga berlaku buat semua orang di dunia, tapi saya dan kedua mantan suami saya mengalami demikian. Jadi “drama sinetron” berakhir tayang setelah melewati bulan ke-12. Setelah itu, ya saling memaafkan deh.

Nggak mudah, sumpah! Kalau mudah, semua orang bisa melakukan kali, ya. Hehe.. Sumpah ngga mudah menerima “kekalahan” dan “penolakan”. Perlu jungkir balik mencoba ikhlas menerima kenyataan. Ya siapa juga orang waras yang mau kawin-cerai? 😒 Ngga ada, bos. Kita juga maunya sekali nikah, that’s it, seumur hidup mesra dan kompak bersama pasangan, sampe jadi kakek-nenek peyot. Saling menertawai pipi kempot karena gigi sudah out of stock. Lalu mungkin berpulang ke rahmatullah sambil menggenggam tangan pasangan. 😍 So sweet kan? Itu maunya kita. Rencana kita. Kalau Allah bilang, “Aisss.. Aku punya rencana lain buat kalian.” lha aku kudu piye? Nolak kemauan Allah? Malah lebih mudharat pastinya. πŸ˜ͺ

Eh tunggu, ngga mungkin dong pasangan cerai karena maunya Allah. Bukankah cerai itu halal tapi Allah membencinya? Betul betul, begitu kata hadis. Di sisi lain, kalau insan yang menjalani pernikahan sudah saling tersiksa, saling merasa terzalimi dan ngga bahagia, sementara pasangan tersebut sudah tidak bisa, bahkan tidak mau lagi berubah karena kehilangan niat memperbaiki rumah tangga, apa mau bertahan dalam kepura-puraan? Saya sih ogah. Saya nggak bisa hidup pura-pura bahagia. Buat saya, ketidakbahagiaan dan keterpaksaan (ketidakikhlasan) akan mengundang mudharat lebih banyak: perselingkuhan, godaan untuk makin menyakiti pasangan, rasa frustrasi yang malah akan destruktif buat anak-anak kami–walahhh ini malah akan lebih dimurkai dan jauh dari ridho Allah. Ogah!

Saya cinta pasangan saya, tapi saya pastinya lebih cinta Allah. ☺️

Dari sisi saya sih sudah berusaha maksimal untuk memperbaiki diri, bergeser prinsip demi kenyamanan bersama, memaklumi, memaafkan, menahan mati-matian hasrat pengen bunuh diri (serius, saya sudah sampai ke titik itu)–kalau saya ngga punya keimanan dan ngga ingat anak-anak, saya pasti eksekusi itu dorongan setan. πŸ˜‘

Alhamdulillah, Allah masih memberi kekuatan buat saya untuk terus bersabar, mengirim saya keluarga dan teman-teman baik yang terus menyemangati dan menguatkan–dengan mengatakan: “Apapun yang terjadi, Nina tetap anakku, kakakku, sahabatku, kami tetap sayang kamu dan ngga akan ada yang berubah”, itu cukup memberi kekuatan keberanian luar biasa buat saya. πŸ˜˜πŸ™

Saya ngga tau gimana dari sisi mantan saya, tapi sepertinya sih kurleb sama, ya.

Di awal-awal pisah sih sempat saling blokir BBM/WA dan FB. Maklum, amarah itu masih sangat membara beberapa bulan pertama itu. Amarah bisa membuat orang baik jadi irasional. Saya akui, mantan saya orang baik dan cerdas kok. Kalau dia ngga baik dan cerdas, sejak awal saya gak akan nikahin dia kali. 🀭 Hanya saja dalam perjalanan hidup kami ada hal-hal dahsyat yang membuat kami kehilangan kekompakan, sampai akhirnya membuat kami kehilangan niat meneruskan perjuangan ini. Tentu kesalahan ada di tangan kami berdua, ngga mungkin cuma satu pihak aja. Yah okelah, jujur aja, dia yang bikin gara-gara, dan pada akhirnya, sekian tahun kemudian saya sudah tak bisa lagi menoleransi–mungkin itu salah saya tidak bisa lebih bersabar. Intinya, pernikahan yang sudah di ujung tanduk akhirnya terpeleset juga ke jurang, pecah, hancur.

Ketika kami sudah saling adem, saling memaafkan, dan kembali teringat alasan kenapa kami dulu memutuskan menikah, talak sudah jatuh. Terlambat. Kami ngga bisa (dan saya sudah ngga mau lagi juga) kembali. Saya trauma dan rasa percaya sayapun sudah hilang. Cinta juga sudah kehilangan hasrat. Hanya rasa hormat yang masih bersisa. Ya sudah, kami memutuskan untuk memanfaatkan dengan baik apa yang tersisa: niat silaturahim tetap menjadi keluarga, karena kami memiliki anak bersama. Ibarat kain tercabik-cabik, serpihannya kami buat menjadi untaian benang dan mulai merajut kembali kain baru, hanya bentuknya saja berbeda.

Mudah prosesnya? Hell, no. Ngga mudah sama sekali. Perlu kebesaran hati dan menahan baper maksimal. Haha.. Tapi setidaknya saya masih bisa memercayai kualitas lelaki yang pernah saya nikahi dan hidup bareng selama 6,5 tahun itu. Mas Illu masih pribadi yang menyenangkan, humoris, pandai, bernyali, bijak, dan ceplas-ceplos.

Kemarin kami jalan bareng saat mengurus akta cerai di PA Tigaraksa–akta tersebut nggak diambil-ambil, kami pikir belum perlu, soalnya di antara kami belum ada yang berencana menikah lagi sih. Tapi yah, ini masuk tahun kelima, ya ambil deh. Gapapa diomelin petugas pengadilan juga.. πŸ˜‚ Nah saat jalan bareng itu, obrolan kami tetap seru, pakai ngakak-ngakak segala. Dia lucu, saya lucu, keluarga kami sama-sama lucu, dulu sih sempat terpikir untuk daftar jadi keluarga besar Srimulat.. 🀭😝

Di PA Tigaraksa, kami sempat nongkrong di kantin dan makan bareng. Bahkan saling sharing perkedel jagung, jengkol goreng, dan cocol sambal korek dari piring masing-masing, sedaaaap. Btw, sumpah, warung kantin di samping kantor PA Tigaraksa itu masakannya enakkkkk.. Seriusan! Ehhh saya salfok ya. Balik ke cerita… πŸ‘‡πŸ‘‡

Menjelang Ashar, beberapa pegawai PA datang ke kantin dan duduk di bangku seberang kami. Mereka menatap agak aneh ke arah kami. Mungkin bertanya-tanya, apakah kami ini pasangan cerai atau pasangan yang sedang sidang/mediasi atau sighat taklik? Masalahnya, sidang itu biasanya pagi sampai bada dzuhur. Lha kami di sini Ashar, pastinya mengurus administrasi (semacam akta cerai), tapi kok masih saling manggil, “Yah” dan “Nda”–Mas Illu selalu manggil saya Bunda sejak awal, kadang saya curiga dia lupa nama asli saya. 🀣🀣🀣 Well, meniru ucapan Mas: Gak ngurus wes (dengan logat Suroboyo nan kental), ya saya cuek aja. 😝 Hehehe..

Pulangnya, kami nyasar dooong. Tapi ya dibawa ketawa-ketawa aja. Ada satu hal signifikan yang berubah, menurut saya, terkait kelakuan dia menyetir. Dulu, dia grasak-grusuk, nyetir ala sembalap, gak boleh disalip orang, dan kalau jengkel dia buka kaca dan teriak, “Janc*k koen!! Nggatheli.” Hahaha.. I kinda miss that though. 🀣 Anyways, Alhamdulillah dia banyak berubah sekarang. Nyetir lebih tenang, lebih menyenangkan, masih tetap sigap tangkas, daaaan… Matanya mulai rabun, plus pinggang encokan! Nah lhoooo.. Wes tuwek kamu, Yah, Yah.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Padahal matanya itu salah satu kebanggaan dia, selalu awas dan mampu melihat jauh. Maklum, mantan sopir truk. Hahahaha.. *just kidding*

Sungguh, jalan sama mantan ternyata bisa sangat menyenangkan kalau hati kita luas dan punya semangat memaklumi. Hanya saja, tetap harus sama-sama paham batasan. Memang kami pernah menikah, pernah saling melihat satu sama lain telanjang, saling bertukar cairan, bahkan sayapun melahirkan anaknya… Tapi bukan berarti boleh bablas seenaknya menyentuh satu sama lain. Apalagi sekarang keadaannya sudah berbeda. Beruntung, Mas Illu itu tipe lelaki yang sangat menghormati batasan dan tidak gemar kontak fisik. Dia bukan tipe lelaki gatelan. Saya tau betul, karena saya mustahil menikahi lelaki agresif yang gatelan–maaf ya, tipe lelaki playboy nakal begitu mah SAMPAH di mata saya, boro-boro kepikir mau nikahin deh.. πŸ˜πŸ™ Dua suami saya sama-sama tipe dingin, mahal, dan hanya mampu romantis sama saya doang, super eksklusif, dan begitulah yang saya suka. Tipe yang menantang. Hahaha..

Ehh kok saya melantur ya. Udah ah, kepanjangan banget tulisan saya ini ya. Intinya: buat saya (dan Mas Illu) jalan sama mantan tu gak masalah, karena sama-sama bisa menghormati batasan “zona aman” (bukan zona nyaman, ya) masing-masing.

Kenapa nggak balikan? Kan udah sama-sama baik. Masih sama-sama single pula?

Hehehe.. Please, deh, kami ini bukan bocah ABG. Kalau kiranya dulu perceraian bisa dihindari, tentu sudah kami lakukan duluan lima tahun lalu. Masalahnya kondisi saat itu tidak sesimpel teori. Kami sudah tiba pada pemahaman: ternyata bisa kok co-parenting, alias membesarkan anak barengan walau tidak serumah. Apalagi teknologi sekarang sudah jauh lebih canggih. Komunikasi bisa dilakukan sangat intens lewat video call, minimal voice call atau voice notes. Asyik kok.

Ingat pepatah: Semua hal akan jadi masalah jika dipermasalahkan. Nah, kalau mau hidup menyenangkan, dibalik aja pepatah tadi: Jangan selalu mempermasalahkan setiap hal yang terjadi di antara kita. Aman, aman, insyaa Allah.

Yah segitu dulu aja ya. Asli panjang bener ini tulisan.. Semoga bermanfaat yah. Cukup ingat aja, dunia ngga berakhir meski rumah tangga kita terpaksa mengalami kegagalan. Yang terpenting adalah kita sudah berusaha supermaksimal mempertahankannya. Jika tak berhasil juga, berbesarhatilah, mungkin itu qodarullah, alias takdir Allah. Percayalah, rencana Allah lebih baik. Buktinya, saya dan si Mas, tetap bisa baik dan keadaan batin kamipun jauh lebih baik daripada sebelumnya. Tentu ada yang kosong, tapi lebih bahagia kok sekarang. Bener nggak, Yah? #colekmantanku πŸ˜πŸ™

Barakallah. I love you all. πŸ’•β€οΈ

Advertisements