Kemarin pagi, Rabu, 21 November 2018, saya melemparkan pertanyaan di laman facebook:”Mana lebih penting, cinta atau komitmen?” 
Lalu saya tinggal topik itu di linimasa (timeline), karena saya ada urusan seharian di luar kantor bersama mantan suami–soal ini, nantilah saya sharing dalam tulisan lain di kemudian hari. Beda topik, soalnya. Hehe.. 

Screen shot dari linimasa FB Nina, pada 22/11, pukul 19.22 WIB

Saya kaget, sambutan dan respon KawaNina di FB, warbiyasah rame. 😅 Total 165 komentar (dan terus bertambah setiap jamnya), sudah termasuk reply dari saya. Setidaknya, ada 75 KawaNina yang merespon lewat komentar. Terima kasih banyak banget, guys. Pun, buat mereka yang hanya ingin menyimak saja. Hanupis–Hatur nuhun pisan (B. Sunda = terima kasih banget). 😁🙏


Ada yang menjawab: Cinta dong.
Alasannya:
1. Tanpa cinta, ngga akan ada komitmen.
2. Cinta memotivasi hadirnya komitmen. 💋
3. Cinta membebaskan! 😍
4. Kalau sudah cinta maka komitmen akan dijaga.
5. Komitmen tanpa cinta akan hambar. Nah, kalau orang sudah tidak cinta, komitmen dan apapun, akan dilanggar. 😔
6. Cinta membedakan komitmen kepada pasangan atau komitmen kepada profesi.
7. Kalau ngga cinta dulu, mana bisa ada komitmen. Siapa elo? Lagian istilah cinta lebih melekat dalam kehidupan sosial: cinta buta, cinta monyet. Ngga ada kan komitmen buta, komitmen monyet? 😅
8. Kita mengenal “Power of Love” kan, soalnya saya belum pernah tu denger “The Power of Commitment”.
—> Hahaha.. asli saya ngakak baca dua alasan yang terakhir ini. Tapi, hmmm.. yah, masuk akal juga! 🤣

Ada yang tegas: Komitmen lebih penting. 😘👌
Alasannya:
1. Cinta butuh kepastian/jaminan, dan kepastian itu hanya bisa dilakukan oleh komitmen.
2. Hanya komitmen yang mampu membuat cinta lestari.
3. Kalau dia berani berkomitmen, artinya dia udah cinta. 😍
4. Cinta mah bisa ditumbuhkan setelah kita berkomitmen, ketika kita selalu bersama, menumbuhkan sisi positif pasangan niscaya cinta akan terus berlanjut–“witing trisno jalaran soko kulino” (B. Jawa: cinta itu tumbuh karena selalu bersama). Kalau hanya mementingkan cinta, komitmen juga bisa dilanggarnya.
5. Rasa cinta itu seperti Iman, kadang naik, kadang turun. Tapi kalau sudah komitmen, meskipun rasa cinta sedang turun, dia akan tetap berkomitmen. 😍❤️
6. Komitmen adalah bentuk tanggung jawab paling paripurna. Seburuk apapun kondisi cinta, semisal karena sedang menghadapi masalah, tapi kalau sudah komitmen, tetap akan kembali pada dia yang “dikomitmeni”, hingga suatu saat cinta terhadap si dia ini bertumbuh kembali. Begitu, dan selalu begitu.. 🤔
7. Rata-rata, dari “komitmen” ujung-ujungnya sifat dan tindakan lebih nyata, lebih jelas hubungan 2 arah antara pelaku dan hal yang dia komitkan; lebih terukur, lebih terstruktur, lebih terjadwal, lebih nyata prediksi sukses atau tidaknya, teknis non teknis bisa dijelaskan: ada pertanyaan ada jawaban. Kalau “Cinta”, bahkan jadian sama Rangga pun tidak. *wekekekekeke.. ngakaks aku kakaak* 😂
—> Hmmmmm… Sangatttt menarik!

Ada juga yang mengatakan: Cinta yang berkomitmen, dan komitmen yang penuh cinta. Gak bisa dipisah kedua hal itu 🤗
Alasannnya:
1. Cinta menjadi dasar dari komitmen, apapun itu. Cinta pada pekerjaan akan menghasilkan output berupa komitmen terhadap tanggung jawab, hak dan kewajiban dalam bekerja. Cinta kepada Allah, SWT akan menghasilkan komitmen menjalankan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Begitu juga dengan komitmen. Ketika komitmen terpatri di hati maka cinta akan muncul dan terus berkembang. Keduanya tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Komitmen tanpa cinta hanya akan menjadi seperti sapi yang dicucuk hidungnya. Cinta tanpa komitmen hanya akan menjadi posesif buta, over protective, over acting, dan over segalanya. 😮
2. Cinta dan komitmen pada akhirnya harus nyatu, untuk mempertahankan cinta memang harus dibumbui komitmen ikhlas. Komitmen tanpa cinta = hanya hubungan profesional dan etika. Cinta + komitmen = usaha bersama menjaga itu tetap utuh–karena cinta bisa saja tidak kekal. 🤔
3. Demi cinta, saya berkomitmen untuk bertanggung jawab. 💕
4. Alasan berkomitmen adalah karena ada rasa tanggung jawab, dan rasa siap bertanggung jawab karena ada cinta di hati 😍
—> Aha! Lebih menarik lagi ini!

Ada lagi jawaban yang menurut saya juga masuk nalar: 
Cinta dan komitmen itu dua konteks yang berbeda. Kadang beririsan. Kalau orang-orang kuno membagi grade cinta jadi eros, ludus, philia, storge, mania, pragma, philautia, agape. Nah, komitmen jadi bagian di beberapa grade tadi..
—> Nyahahahaha kentara banget ini jawaban jurnalis. 😁👍

Overall, semua jawaban dan alasan yang dituliskan KawaNina itu sangat menarik dan masuk akal, apapun pilihan mereka. Menarik, karena ternyata dari semua responden, pilihan antara cinta dengan komitmen nyaris seimbang. Bahkan ada yang mengombinasikannya dan mengatakan bahwa dua hal itu tidak bisa dipisahkan, saling mendukung, saling melengkapi jika konteksnya mau berkelanjutan. 🙏😊

Sejujurnya, saya melemparkan pertanyaan itu bukan dalam upaya mencari mana yang benar. Pun tidak mencari siapa yang pro cinta, siapa yang pro komitmen, dan siapa yang abstain (atau memilih keduanya), lalu membuat kubu-kubu gitu—hadehhh nggak deh. Hahaha.. Tidak pula untuk ngetes level kebijaksanaan KawaNina dalam menjawab pertanyaan tersebut. Jadi ini bukan soal siapa benar, siapa salah, ataupun siapa pro mana, ya. Semuanya benar kok, nggak ada yang salah. 🙏🙏

Menurut saya, cara pandang hidup seseorang pasti relatif, bergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan juga kebijaksanaan yang tumbuh di dalam diri masing-masing. Lalu kenapa saya bertanya topik se-spesifik itu, yah karena saya benar-benar ingin mencari makna di balik kedua kata tersebut. Dalam hal ini, cinta dan komitmen berlaku di setiap fase kehidupan, ya.. Tidak hanya urusan asmara, tapi juga pekerjaan, keluarga, dan urusan sosial lainnya. Saya mencari tahu pandangan KawaNina soal itu juga untuk jadi ilmu tambahan, bahkan baru, buat diri sendiri. 😍💕

Dan, dari ratusan jawaban tersebut, saya menemukan ada dua kata lagi yang ternyata melekat di antara cinta dan komitmen, yaitu “tanggung jawab” dan “kebahagiaan”. Aha! Mungkin nanti ada pertanyaan dari saya berikutnya, “Mana yang lebih prioritas, tanggung jawab atau kebahagiaan?” Hahahaha… 🤭🤭🤭

Trus bagaimana menurut Nina sendiri? Fiuhhhh… terlontar juga pertanyaan itu.. Berat ini, berat. Bentar, Nina ngopi dulu.. *sruuuup* 😚☕

Begini, menurut saya pribadi, cinta dan komitmen itu sebenarnya dua hal yang tidak bisa dibandingkan ataupun dipilih. Keduanya harus selalu ada bersanding satu sama lain, saling menguatkan dan mendukung. Jadi, saya setuju dengan ucapan: cinta dan komitmen adalah satu paket, bisa saling melengkapi, saling mendukung. Rasa cinta mampu memotivasi seseorang untuk berkomitmen, dan dengan adanya komitmen, cinta jadi terjaga keamanan dan kenyamanannya. 😇❤️

Cinta tanpa komitmen adalah omong kosong. Komitmen tanpa cinta, sedih amatttt ini–ibarat pas lagi buang air, eeeeh air di bak mandi habis, keran mati. Gimana ceboknya cobaaaa. Mateeeek! Hehehhee.. *ninajorok* 🤣

Melihat konteksnya, cinta adalah rasa, yang bisa menjalar dari batin, mewujud ke fisik seseorang–ini karena cinta bisa membuat seseorang jadi lebih tampan atau cantik, karena batinnya merasa bahagia dan terpenuhi. Cinta bisa terjadi kepada siapa saja, kapan saja, bahkan seringkali cinta datang tanpa kita bisa memilih.  Karena sifatnya yang sangat personal, dinamis, dan rahasia maka cinta tidak bisa mengikat, kecuali dilakukan oleh diri sendiri–dan diwujudkan lewat komitmen. 😊

Nahhh di sinilah muncul komitmen. Yakni, ikrar dari dasar hati, yang mampu mengamankan tumbuh-suburnya cinta. Tidak salah jika dikatakan “cinta memicu komitmen” dan “komitmen melestarikan cinta”, karena sifat komitmen yang nyata, aman, bisa memberi ruang untuk bertumbuhkembangnya rasa (cinta) tadi. 😍

Masalahnya, tidak semua yang mencintai bisa/mau berkomitmen, betapapun mereka mencintai sesuatu/seseorang. 😔 Banyak alasannya: kondisi, waktu, ketidaksiapan, tidak mau/mampu berkompromi,  dan seterusnya. Ya, sifat komitmen memang mengikat, mengamankan, bahkan mengendalikan (diri sendiri). Jika cinta membebaskan maka komitmen adalah sebaliknya. Padahal jika dilihat dengan bijak, keberadaan komitmen itu ibarat menggunakan seat belt saat berkendara: aman, meski tidak leluasa. Hanya jiwa dan mental yang siap saja yang bisa berkomitmen. 🙄

Intinya, baik cinta maupun komitmen adalah dua hal primer (utama), dan sebenarnya bisa berdiri sendiri, terkadang tidak bisa menjadi substitusi (pengganti) bagi satu sama lain, tapi mampu menjadi komplementer (pelengkap) bagi satu sama lain. Dan dari kombinasi keduanya akan terlahir hal-hal baik, seperti rasa tanggung jawab, kebahagiaan, harmoni, dan, hey, juga: surga (dunia dan akhirat, insyaa Allah). Yah, unik (bahasa halusnya ribet) lah pokoknya. Hehehe.. 😎

Anyways, ada satu pertanyaan besar tersisa di benak saya usai membahas soal cinta dan komitmen di atas ini, yaitu: WHAT THE HELL IS CINTA KALENG??? 🤔🤔🤔🤔

Nah, segini dulu bahasannya, KawaNina. Semoga bermanfaat, ya. Mungkin suatu hari saya akan bikin ceritanya, bahkan novelnya, soal cinta dan komitmen ini. Tunggu aja tanggal mainnya. Hehe.. Barakallah, guys. Stay awesome! Love you all.. 💕💋

Advertisements