pasca cerai, berikutnya apa?

Tulisan ini sudah cukup lama saya konsep, tapi tak pernah menemukan waktu tepat untuk mempostingnya.  Awal Oktober 2016, tepatnya. Bermula dari salah seorang sahabat saya yang saat itu mengalami kejadian ditalak suaminya. Sahabat saya ini begitu galau menghadapi fase pasca talak. Mulai dari rasa takut hidup sendirian lagi sampai merasa tak tahan menghadapi konflik dengan calon mantan suaminya.

Sebagai “veteran talak” yang sudah dua kali mengalami dua kali perang dunia (hati), saya jadi merasa perlu men-support dan menyemangati sahabat saya tersebut, dan juga pembaca wanita KawaNina yang sedang menghadapi periode-fase serupa.

Mencermati kisah hidup saya, sahabat saya, dan beberapa wanita yang senasib, ternyata ada kemiripan cerita pasca kata “talak” terucap. Berikut saya rangkum secara kasar (raw) berdasarkan pengalaman kami, diakumulasikan, dari kacamata istri/wanita. Tapi mungkin, fase serupa dialami juga oleh pihak lelaki/suami, jadi monggo dicermati dengan bijak ya..

However, sebelum dibaca lebih lanjut, perlu saya tekankan, tidak semua kisah pasca cerai itu sama. Terutama jika KawaNina (wanita) bercerai dengan suami yang berakhlak baik, sabar, dan berhati besar. Namun, sedikit banyaknya, ada tahapan kisah yang mirip. Hanya saja, yang jelas, tidak bisa dipukul rata. Jadi ini semata hanya merekam secara subyektif, berdasarkan pengalaman-pengalaman seperti disebut di atas. Itu aja sih, disclaimer dari saya.

pasca-cerai-berikutnya-apa

Oke, so, pasca cerai/jatuh talak–dan, mungkin juga berlaku untuk mereka yang sedang menjalani proses gugatan di pengadilan–berikutnya apa? Apakah semua permasalahan rumah tangga yang begitu pelik selesai?

Oh, nooooo! NOT AT ALL!

Asumsinya, sehabis mengatakan talak, suami keluar dari rumah, dengan atau tanpa membawa anak. Saya akan berikan versi dua-duanya, apa yang terjadi dengan suami yang membawa anak “kabur” dan apa yang terjadi dengan suami yang lenggang kangkung pulang ke rumah orang tuanya.

Fase Pertama: EMOSI JIWA

Perceraian biasanya dipicu oleh konflik antara suami istri. Namun, apakah konflik selesai ketika suami istri sudah berpisah? Jawabannya: NO. Biasanya konflik akan tetap berlanjut meski suami dan istri sudah pisah rumah, terutama jika masih ada ketidakpuasan dari salah satu pihak, atau malah dua-duanya.

Wadaw!

Ya, begitulah.

However, jangan khawatir. Fase konflik lanjutan ini biasanya berlangsung antara 5 bulan sampai 1 tahun, atau lebih, tergantung karakter suami-istri dan keluarga yang ada di belakangnya.

Di fase ini sangat dimungkinkan terjadi ancaman-ancaman yang dilontarkan satu sama lain, baik istri ke suami ataupun suami ke istri. Bakal terlontar kalimat semacam:

  1. “Jangan harap kamu bisa lihat anakmu lagi..” –> ini biasanya diucapkan suami yang membawa anak pergi
  2. “Saya akan datangi orang tua kamu, bos kamu, teman-teman kamu, lihat saja kantormu akan saya acak-acak..” –> sorry to say, ini biasanya diucapkan suami pengangguran (bertahun-tahun) yang istrinya bekerja, gaji si istri besar, dan selama ini si suami terkesan hanya “numpang hidup” sama istrinya.
  3. “Kalau kamu pergi, saya akan kawin lagi dengan si anu. Gih pergi saja..” –> ini biasanya diucapkan oleh laki-laki yang ngetes apakah istrinya masih cemburu atau nggak. Komentar saya soal lelaki kayak gini cuma satu: Dih..!
  4. “Dasar kamu wanita tukang selingkuh. (Lalu makian-makian yang aduhai dan tak layak saya sharing di sini agar tidak melukai mata pembaca, hehe..)” –> ini biasanya diucapkan oleh (lagi-lagi) suami pengangguran yang kebanyakan nonton sinetron di rumah, sehingga kepalanya sangat kreatif membuat cerita karangan.

Dan ucapan-ucapan menyakitkan lainnya yang disampaikan tak hanya lewat SMS, WA atau BBM, tapi juga (bisa jadi) di media sosial: Facebook, twitter, Path, Instagram, dsb. Lho kok disebar ke medsos? Kenapa juga urusan internal suami-istri malah jadi konsumsi publik? Orang yang gak perlu tau jadi tau, dan itu sebenarnya malah menampar dirinya sendiri.

Yah, begitulah lelaki yang sudah gelap mata karena tertolak dan merasa tak lagi dibutuhkan. Memfitnah istri, yang notabene adalah ibu dari anak-anaknya, pun bisa dilakukan. Alasannya, agar semua orang tau betapa buruknya kita sebagai istri dan ibu. Seakan perceraian itu semuanya salah si istri dan si suami paling benar. Padahal talak itu (secara Islam) ada di tangan suami. Dan apapun aib istri adalah tanggung jawab suami. Kalau benar si istri sesuai yang dituduhkan, jatuhnya ghibah dan membuka aib suami sendiri. Kalau tidak benar, artinya dia baru saja memfitnah istrinya sendiri–istri yang merawat dia saat sakit, istri yang men-support hidupnya saat dia menganggur, istri yang tetap berada di sisinya saat dia terjatuh. Seakan semua jasa si istri dilupakan begitu saja, dibalas dengan fitnah.

HAH! Masa sih, ADA LELAKI KAYAK GITU?

Ya ada. Been there, done that. Jujur, ini saya alami sendiri. 🙂

However, semoga ini tidak dialami oleh wanita lainnya ya. Cukup saya aja. Saya pribadi sangat berharap KawaNina mengalami proses cerai yang baik-baik dan lancar saja. Bahkan kalau bisa, sudahlah perbaiki, lepaskan ego, dan bulatkan iktikad baik. Tapi kalau ngga bisa, be brave, girls!

Fase kedua: PENYESALAN

Abis meluapkan emosi, biasanya suami mulai menyadari kesalahannya. At least, menyadari kesalahan dia berbicara sudah yang tidak-tidak dan menyakitkan, bertujuan sengaja ataupun tidak sengaja menyakiti istrinya dengan kata-kata.

Padahal kata-kata itu seperti menancapkan paku ke balok kayu. Bisa saja pakunya dicabut, tapi lubangnya akan tetap ada. Meski diperbaiki dengan mengisi semen ke dalam lubang tersebut, tetap saja kayu itu tidak lagi sempurna. So, berhati-hatilah dengan kata-kata.

Di fase ini biasanya suami akan mengajak istrinya rujuk. Eitsss.. dia lupa kali udah keburu mengucap talak?

Memang sih secara negara, talak akan sah jika diucapkan atau diputus di pengadilan agama. Tapi hukum Allah tetap berlaku lho. Sekali suami berucap talak dalam keadaan sadar (tidak sedang mabuk) maka sudah jatuhlah talak tersebut. Ada imam yang mengatakan ucapan talak yang diucap saat emosi juga tak berlaku. Well, kalau khilaf sih mungkin benar juga kata-kata imam, alias dengan catatan ucapan tersebut tidak diulangi atau hanya satu kali (khilaf) terucap saat emosi, okelah. Lha kalau setiap marah dia berkata, “Saya ceraikan kamu.” Atau, “Saya talak kamu.”–SETIAP KALI MARAH, ya itu sih bukan khilaf lagi namanya, tapi kebiasaan!

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, mantan suami juga terbiasa mengatakan, “Sudah kita cerai saja. Saya talak kamu.” setiap kali dia marah sama saya, bahkan marah untuk hal-hal kecil, plus pakai memaki dengan kosakata kebun binatang dan organ tubuh laki-laki. Indah nian bahasa beliaunya memang. 😀 Tapi setiap kali itu pula dia pulang lagi, mengajak rujuk, mengajak ML, tetap tinggal di rumah saya, dst dst.

Tau ngga apa yang terjadi kemudian? Demi Allah, saya nggak ngarang dan saya ngga bersumpah kosong, seriously, dua tahun terakhir pernikahan kami rezeki rumah tangga saya disempitkan. Ratusan juta rupiah uang yang saya dapatkan dari orang tua, dua mobil pemberian orang tua, dua motor yang saya beli, hilang (dicuri) dan habis begitu saja tanpa sisa. Meski alasannya adalah untuk menutupi biaya hidup, tapi semua itu habis tanpa meninggalkan bekas apa-apa. Barulah saat itu saya menyadari, Allah memurkai pernikahan kami dan tidak ridho kami bersama, karena suami menyepelekan hukum yang dibuat-Nya. Nauzubillahiminzalik.

Dari situ saya langsung minta suami berpikir jernih, apa yang harus dilakukan. Dia mendatangi penghulu di KUA dan diberi nasihat, lalu kami ijab kabul ulang dengan harapan Allah mengubah amarah-Nya dengan ridho. Suami diminta berjanji tidak lagi mengucap talak, karena itu akan jadi yang terakhir. Tapi dasar suami saya sudah kebiasaan mengucap talak, dia ucapkan lagi saat marah tiga bulan kemudian. Yo wes, selesai.

Ini pengalaman buruk saya, jangan sampai diikuti, diambil hikmah dan pelajarannya… Namun, sungguh, semoga tidak ada KawaNina yang mengalami hal serupa, ya. Jika ada, bertobatlah. 🙂

Fase ketiga: MARAH

Setelah menyesal, mengajak rujuk, lalu tak berhasil, biasanya (calon mantan) suami akan kembali ngamuk-ngamuk. Apalagi kalau ajakan ML-nya ditolak. Dih, coba ya mikir, abis memaki-maki, memfitnah, trus ngajak ML? Ditolak, eeeh memfitnah lagi, “Kenapa sama saya gak mau tapi sama lelaki lain mau?” Wekekekeekke.. Astaganagaaaa.. Sama siapa lelaki lainnya, om? Kucing? Dikira kita wanita gampangan? Jangankan lelaki lain, bapaknya anak sendiri aja ditolak karena tau sudah bukan haknya lagi. Ck ck ck..

Masih dalam fase ini, dia akan mulai mencari gara-gara. Berucap aneh-aneh lagi, fitnah lagi, menjelek-jelekkan istri ke keluarga besarnya dan teman-temannya, dst.

Yah, begitulah.

Fase keempat: COOLING DOWN

Biasanya ini terjadi setelah melewati bulan ke-6 atau ke-7, setelah kita cuekin semua message-nya. Jadi percayalah, nyuekin message mantan itu bukan untuk memutus silaturahmi, tapi demi kedamaian ke depannya. Kalau terus ditanggapi, gak akan ada ujungnya.

Nah, begitulah kira-kira.. Pada intinya, kunci menghadapi semua itu, pertama:

Bersabar

Ya. Saya ngga bisa menemukan kata selain ini. Kedengarannya klise, tapi praktiknya, sungguh, luar biasa jauh berbeda dari definisi kata tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

sabar/sa·bar/a1 tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah: ia menerima nasibnya dengan –; hidup ini dihadapinya dengan –;2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu: segala usahanya dijalankannya dengan –;

Sedangkan

bersabar/ber·sa·bar/v bersikap tenang (tentang pikiran, perasaan): hendaknya kita – dalam menghadapi cobaan hidup;

Jujur nih ya, saat menghadapi perceraian lalu mendengar orang lain menyuruh saya bersabar, rasanya ingin saya banting saja seluruh piring di rumah. Tapi kok, eman (sayang), lha wong piring nggak salah apa-apa mosok kena imbas kemarahan saya. Hehehe.. Sumpah, waktu itu rasanya saya sangat ingin berteriak, “Talk is cheap!”—ngomong doang mah gampang—sambil mendengus-dengus laksana banteng ngamuk ngeliat lambaian kain merah.

But, you know what, nasihat tersebut memang satu-satunya kata yang manjur membuat tetap waras menghadapi fase terburuk dalam hidup saya itu.

Kedua,

Tetap tenang.

Yup. Tetaplah tenang. Apapun yang terjadi stay calm. Badai pasti berlalu, percayalah.

Kurang? Oke,

Berdoa dan dekatkan lah diri kepada Allah.

Yes. Sungguh, satu-satunya yang menyelamatkan kita agar tidak jatuh ke dalam stres berkepanjangan saat menghadapi perceraian hanyalah Allah. Jika curhat ke manusia lain malah membawa kesedihan kepada kita–biasanya karena yang dicurhati justru tak paham sensi dan peliknya perceraian–maka curhat ke Allah sajalah yang paling cucok.

Yakinlah bahwa semua hal buruk (termasuk perceraian) yang terjadi dalam hidup adalah pelajaran bagi kita, agar kita lebih tegar, lebih tangguh, lebih bijak. Sehingga, ketika “lulus”, tak berlebihan rasanya kita disebut sebagai “insan istimewa”. Nah, yang namanya insan istimewa tentunya wajib mampu bersikap elegan, tetap menjaga indah qolbu jiwa raga, dan teguh mendidik diri sedemikian rupa sehingga tak akan lagi bisa diinjak atau direndahkan, oleh siapapun.

Untuk itu,

Berkumpullah dengan keluarga dan kawan-kawan yang mampu berempati dan memberi dorongan moral.

Beneran lho, abaikan siapapun yang menganggap perceraian adalah masalah sepele dan candaan. Divorce is not a game, at all. It consumes all your strength, sanity, happiness, energy, and time.

Lupakan kawan-kawan dan keluarga bertipe “Masa Bodoh”, yang hanya bisa berkomentar seperti berikut:

  • “Payah. Cemen loe, begitu aja cerai?”
  • “Masa’ masalah begitu aja gak bisa diselesaikan dengan kepala dingin sih?”
  • “Loe cerai, nggak kasian ya sama anak loe?”
  • “Kenapa, laki/bini loe kurang memuaskan ya di ranjang?”

Pokoknya, LUPAKAAAAAN semua manusia yang berkomentar (maaf) brengsek macam di atas itu. Mereka adalah jenis manusia yang tidak mampu berempati dan tidak mampu mendengarkan dengan hati, so tinggalkan lingkungan pergaulan kayak begitu. Manusia yang sudah merasakan cerai itu bisa dibilang 1-2 tingkat di atas mereka-mereka yang gak mampu berempati (seperti cetusan komentar di atas itu), jadi buat apa melestarikan persahabatan dengan jenis primitif ini?

Tapi kalau komentarnya seperti ini:

  • “Sabar yah. Semua pasti ada hikmahnya..”
  • “Kamu baik-baik aja? Ada yang bisa aku bantu nggak? Jangan sungkan..”
  • “Kalau kamu mau curhat, I’m all ear, dear.”
  • “Yuk kita jalan-jalan. Kamu butuh liburan..”

Nah, sesungguhnya, orang-orang tipe kedua–bertipe empati–ini, lebih berharga dijadikan kawan baik dan pendorong semangat untuk bangkit kembali. Bagaimanapun, perceraian pasti mengobrak-abrik kepercayaan diri, makanya butuh lingkungan yang positif, bukan lingkungan masa bodoh-an.

Selebihnya, semangat! Dunia belum berakhir! Yakinlah, Allah tak akan menguji di luar batas kemampuan manusia. 🙂 Jangan kecil hati ya, KawaNina. Tetaplah ceria.

Oh ya, kalau KawaNina penasaran, bagaimana sekarang kondisi saya dengan mantan suami?

Guess what.. Kami sekarang berteman baik. 🙂 Kok bisa? Ya bisalah. Di tahun pertama, kami sudah berdamai. Namun bukan berarti itu balikan lho, ya. Harus bisa dibedakan. Memaafkan bukan berarti memercayainya kembali dengan hidup dan hati saya. Kisah kami sudah berlalu, termasuk semua perasaan manis dan pahitnya. Saya sudah memaafkan dan mampu move on–termasuk move on dari segala kemarahan, kekecewaan, dan ketakutan yang tersisa di hati. Buat saya, memaafkan terbilang “mudah”–karena orang tua saya mendidik agar anak-anaknya menjadi pribadi pemaaf dan mampu berbesar hati. Melepaskan, bisa, seiring waktu. Hanya saja, memang, menerima bahwa ini adalah kegagalan kedua saya, nah itulah yang cukup lama untuk bisa diterima. Tapi pada akhirnya, kami sama-sama mampu saling memaafkan, berdamai, terutama berdamai dengan diri sendiri.

See? Badai pasti berlalu. So, semangat!

Advertisements

4 comments

    • Mbak Diane,
      Saya sudah membalas di komentar dlm entry blog satu lagi ya.. mohon maaf saya tidak tahu apakah di KUA bisa mengurus perceraian atau akta cerai. Setahu saya sih tidak bisa. Kalau mediasi mendamaikan suami istri, KUA bisa melakukan itu. Sedangkan utk urusan hukum talaknya, setahu saya, pengadilan yang berhak menjatuhkan talak. Demikian yg bisa saya sampaikan sepanjang pengetahuan saya sih. Kurang lebihnya, mohon maaf.

  1. Hi,
    Mba nina saya sekarang dalam masa terombang ambing bingung mau dibawa kemana pernikahan saya. Saya menikah sudah memasuki usia pernikahan hampir 8 th, dan sampai saat ini belum juga memiliki keturunan walaupun berdasarkan pemeriksaan alhamdulillah kami berdua tidak ada yang bermasalah. 1 th yang lalu kami mengadopsi seorang anak yang alhamdulillah sangat membuat bahagia, namun masalah muncul sekarang sekarang ini, saya tidak lagi dinafkahi batin selama -/+ 4 bulan ini, yang diakui oleh suami adalah dia seperti sudah hilang feeling sama saya , katanya setaun belakang ini saya terlalu cuek sama dia tdk lagi mengurus hal hal kecil dia, jarang lagi ngobrol dll. Ini memang saya akui terjadi, namun di awal pernikahan saya tidak seperti itu, dulu saya sangat senang untuk berkomunikasi dan bermanja” namun suami saya membentuk saya jadi seperti ini, dulu setiap saya tlp untuk tanya kabar dia di jam istirahat kantor atau pulang kerja dia akan marah ( bilang saya mengganggu dia ) padahal bukankah komunikasi komunikasi kecl itu yang mempererat hubungan, kalau di rumah saya ajak ngobrol” juga kadang ogah ogahan bilang capek dll. sehingga semakin lama saya menjadi pribadi yang terbiasa mandiri, saya ga pernah cerita” sama suami, saya ga pernah tlp suami untuk hal hal tidak pentimg dll, lalu akhirnya saya juga tidak punya hal hal yang bisa saya ceritakan ( mau cerita apa bingung).

    Dulu awal menikah karena saya yang suka tlp, suka liat” hp dia sosmed dia, dia selingkuh ( walau alasannya adalah karena saya begini dan begitu ) saya masih maafkan. beberapa kali saya tau dia suka chat” dengan perempuan lain saya masih diamkan ga mau ribut, karena kalau ribut yang disalahkan adalah saya dan alasannya pasti karena saya dia jadi begini begitu, sampai saat ini saya ga pernah tau hp dia, sosmed dia, teman” dia dll. Yang patut masih saya syukuri dia memang masi memberikan penghasilannya untuk saya.

    Terkadang saya berpikir saya yang seperti ini sekarang ini, bukankah hasil bentukan dia juga, dia merasa diri dia sudah berubah tapi kenapa menurut dia saya jadi seperti ini. Untuk informasi mba juga, saya punya usaha online yang memang menuntut saya standby di depan HP, yang sekarang ini dijadikan alasan dia bahwa saya jadi tidak bisa memanage waktu untuk melayani suami. Pada akhirnya saya merasa masalah ini adalah masalah yang berputar putar aja tanpa ada pangkal solusinya, saya diprotes seperti itu merasa bersalah dan berusaha memperbaiki diri, namun it takes two to tanggo kan mba. Saya berubah kok dia tetap dingin dan menjauhi saya, lalu apa yang mesti saya lakukan? Saya ajak bicara suami saya dia bilang ” ya udh kamu berubah berubah aja dulu, ga usah janji janji liat aja bukti nyatanya” dia selalu seperti ini saya merasa tidak menemukan solusinya mba. Pembicaraan terakhir dengan suami saya dia bilang memang dia sudah hilang feeling sama saya dan jalan terpintasnya bercerai, namun dia juga tidak tahu apa itu yang terbaik. Kalau sejujurnya kalau dulu dalam keadaan sepi ada suami tapi kayak ga ada saya juga inginnya berpisah, tapi saya berpikir sekarang saya ada anak yang walupun bukan saya yang mengandung saya punya tanggung jawab dunia akhirat kepada anak saya,

    Disatu sisi saya ingin mempertahankan pernikahan ini, namun disisi lain saya tau pernikahan kami tidak sehat

    Mohon masukan dari mba untuk permasalahan saya yang terbaik seperti apa ya

    • Mbak Leis yang baik,
      Maaf agak terlambat membalas, karena saya butuh waktu memikirkan jawaban terbaik apa yang bisa saya berikan kepada Mbak. Terima kasih sudah sharing kegelisahan Mbaknya. Saya to the point aja ya..

      Sungguh saya tidak akan pernah memberi saran agar suami istri yang saling mencintai berpisah. Namun jika rumah tangga hanya menjadi “perekat” yang menyakitkan bagi pihak yang menjalaninya maka yang mungkin bisa dilakukan adalah saling menjaga jarak. Beri kesempatan hati untuk bisa saling merindukan. Betul Mbak bilang bahwa it takes two to tango. Makanya, jika salah satu tidak mau bergerak ya ngga jadi dansa deh, Mbak. Hanya saja, kembali ke kalimat awal saya tadi, berpisah belum tentu jadi jalan terbaik. Untuk itu, mungkin baiknya Mbak dan suami pisah rumah dulu untuk sementara waktu–karena pisah ranjang, secara praktik sudah dilakukan, dengan beliaunya tidak memberi nafkah batin selama berbulan-bulan. Mungkin dengan berpisah tempat tinggal, masing-masing jadi bisa menyadari di mana kesalahan yang dilakukan kepada satu sama lain. Mengakui kesalahan tentunya amat sangat berat, karena melibatkan ego dan harga diri. Apalagi jika baru tersadar bahwa selama ini yang keliru adalah kita sendiri.

      Mungkin begitu saran dari saya, Mbak Leis. Selebihnya, cobalah berdoa dan meminta petunjuk Allah. Jika Mbak Muslim, bisa dengan jalan istikharah. Petunjuk akan datang tak hanya lewat mimpi, tapi juga dalam keseharian. Seperti dulu yang terjadi pada saya juga, saya istikharah sampai hampir 1 bulan, dan selama itu pula kami bukannya makin dekat, malah makin jauh, makin pelik, makin tak mampu saling mendengarkan dengan hati. Tak ada orang yang berniat bercerai setelah menikah. Namun, kadang jalan hidup yang Allah pilihkan untuk kita memang tidak sesimpel yang dipikirkan.

      Selebihnya, bersabar, berdoa dan tetap semangat ya..
      Good luck, Mbak.
      NF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s