tetaplah jaga indahmu, ibu tunggal

Semalam, saya nge-date sama anak-anak, marathon nonton bioskop: Film “Fantastic Beasts” (spin off-nya Harry Potter) dan “Dr. Strange”. Awesome movies, hot Brit studs, yummm.. *ehh*

Anyways, pulangnya pesan UberX (mobil), yang naik saya dan anak gadis. Si sulung bawa motor, jadi dia pulang sendiri. Sepanjang perjalanan, seperti biasa ngobrol, bahas muacem-muacem, ngalor ngidul, cekikikan, even talk about boys. Di daerah Cireundeu, kami berhenti, karena si gadis mau beli makanan kucing di Alfamidi 24 jam.

Tetiba, driver uber (perempuan) nanya ke saya, “Itu adiknya ya, Bu?”

Saya terkekeh, “Itu anak saya, Mbak.”

And, obviously, my answer shocked her. Hehehe.. “Wah, saya kira adik kakak, abisnya ngobrolnya nggak kayak ibu dan anak, santai banget kayak adik kakak. Memangnya ibu usia berapa?” Kemudian obrolan mengalir.

Driver uber saya adalah perempuan berusia 47 tahun, keturunan Tionghoa–kalau nggak keliru mengenali fisik dan gaya bicaranya sih, anak dua (usia 27 dan 22), dan ibu tunggal (single mother) selama 8 tahun terakhir. Meski mantan suami beliau tetap memberi nafkah cukup bagi kedua anak mereka, beliau tetap bekerja untuk memenuhi kekurangan.

Beliau curhat, sudah melakukan apapun untuk mencari nafkah–mulai dari berjualan mi goreng, nasi goreng, sampai pakaian anak. Namun, rupanya dewi fortuna belum memihaknya. Semua usahanya gulung tikar, bahkan uangnya dilarikan karyawan. Akhirnya, ia jadi sopir uber, yang masih wara-wiri di Jakarta pada pukul 23.30 WIB semalam.

Ini bukan pertama kalinya saya bertemu ibu tunggal yang jadi sopir dan ojek. Sebelumnya, 5-6 kali saya dapat ojeker perempuan dan 5 di antaranya adalah ibu tunggal. Mereka yang rela menyusuri kerasnya jalanan Jakarta demi menafkahi anak-anaknya. Dan pastinya masih ribuan, puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu ibu tunggal di Jabodetabek yang menaklukkan ketakutan dan kelemahan fisiknya demi mencari nafkah bagi diri dan anak-anaknya.

Manusia selalu punya cerita dan versi hidup masing-masing. Namun satu hal yang saya tahu persis, menjadi ibu tunggal biasanya BUKAN karena keinginan sendiri, apalagi sampai direncanakan. Naudzubillahi min zalik, jangan sampai! Jika boleh curhat sedikit, saya pribadi lebih mendambakan jadi ibu rumah tangga full time, yang bisa santai mengurus dan membesarkan anak-anak, menikmati rumah apik yang nyaman, bersolek untuk suami, dan kalau mau belanja tinggal minta suami transferkan atau pakai kartu kredit dia saja, hehehehe..

Namun seringnya, hidup tak pernah sesuai keinginan. Buat saya, dan pastinya buat para ibu tunggal lainnya, takdir hidup kami tidak sesederhana itu. Tidak senyaman itu. Apalagi hidup di kota sebesar Jakarta, salah satu kota terpadat dan kota paling semrawut di dunia, yang sehari-harinya berhadapan dengan kerasnya jalanan, cuaca tak bersahabat, dan jalan berdampingan dengan kriminalitas khas metropolitan.

But, you know what, that’s alright, really. Berdasarkan pengalaman, nyaris semua ibu tunggal yang saya kenal, selalu mampu bekerja TANPA MENGELUH. TANPA menyesali hidup. TANPA meratapi nasib. TANPA cerita cengeng berkepanjangan. Malahan mereka selalu tersenyum, bersikap optimis dan easy going. Jika ditanyakan, apa resepnya, ternyata cuma satu: Bersyukur sama Allah.

Karena, meski nasib hidup telah menginjak harga diri dan menguras air mata, hidup tetap layak disyukuri. Karena terbukti, Allah tidak pernah melupakan hamba-Nya yang kesusahan. Bahkan Allah seringkali menyelamatkan hamba-Nya dari kezaliman yang lebih panjang. Sungguh, bahwa Allah memang ada bagi orang-orang yang bersabar.

Dan, jika menurut Allah waktunya telah tiba, ibu tunggal tertangguh sekalipun bisa menjadi makmum kembali, karena sang imam terbaik kelak hadir dalam hidup, dan membuat kesabaran yang telah ditekuni selama sekian tahun seakan hanya berlangsung beberapa hari saja. Seperti yang saya alami saat ini, insya Allah.

Tetaplah jaga indah lahir batinmu, para ibu tunggal nan luar biasa!

Advertisements

2 thoughts on “tetaplah jaga indahmu, ibu tunggal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s