menerima lebih berat daripada melawan

Secara insting, biasanya manusia takut pada hal-hal yang tidak dimengertinya. Takut tak mampu mengatasinya. Pun, manusia takut pada hal-hal yang tidak bisa diantisipasi atau di luar kendalinya.
 
Padahal sejatinya, manusia memang tak mampu mengendalikan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup. Hanya Tuhan yang bisa. Namun kita sering melupakan ini. Karena hidup dan lingkungan kita lebih banyak mendidik kita menggunakan logika, cenderung mengabaikan kekuatan keyakinan kepada Ilahi, Sang Maha Kuasa. Bahkan tak sedikit di antara manusia, yang lebih percaya kepada logikanya dibandingkan kepada keyakinannya terhadap Sang Kuasa.
 
Menggunakan logika, perhitungan di atas kertas, ya tak keliru juga sih. Namun jika kita yakin bahwa Allah itu ada, setelah logika maka berikutnya adalah keyakinan. So, apa ya, namanya. Tawakal, mungkin?
 
Saya sharing ini bukan karena sok bijak, melainkan karena saya (dan mungkin banyak kawan-kawan lainnya juga) sedang mengalami suatu kondisi yang dirasa di luar kendali kita. Jujur saja, setiap menghadapi problem, reaksi pertama saya adalah “melawan”-nya. Padahal saya tahu, ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diatasi dengan cara melawan. Mayoritas problem justru hanya bisa diatasi dengan cara menerima.
 
Masalahnya, menerima itu jauh lebih berat daripada melawan.
 
Ah.. Entahlah. Saya hanya bisa mengatakan, “Seburuk apapun permasalahan, akhirnya akan berlalu juga.”–this too, shall pass.
 
#contemplating
Advertisements
Categories: Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s