Beberapa bulan terakhir, salah seorang sahabat, yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri, memberi saya nama tambahan. “Daeng Kanang”, begitu beliau menyebut saya. Mendapat panggilan baru, yaa saya seneng laah.. 😀

Dalam hidup saya, banyak panggilan sayang dari keluarga dan teman kepada saya. Ada yang panggil Ning nong (ini hanya oma, opa dan almarhumah mama yang memanggil begitu), Qnoy atau ‘Noy (kawan SMA), ‘Non (keluarga Minang), ‘Nne (papa, adik dan keponakan) dan Nien–ini saya sendiri yg menyebut diri, diikuti oleh mama (alm) dan mantan pacar saya, huehehe.. Saya juga dipanggil Mamam, Mama, Nda–yang ini sih ngga usah dijelasin ya, udah ketahuan siapa yang manggil saya begitu. 😉

Trus tahun 2014 ini, bertambah deh nama saya satu lagi, daeng Kanang. Alhamdulillah.. Walaupun saya bukan orang Makassar, senang sekali diberi nama baru–istilahnya paddaengan atau paddaengang. Anyways, karena saya bukan orang Makassar, ya saya browsing dong, cari tahu soal paddaengang ini. Berikut adalah tulisan yang menurut saya layak dijadikan referensi bacaan soal itu. Selamat menyimak.. 😉

Sekilas Tentang Daeng

Tulisan ini mungkin agak terlambat karena heboh pemanggilan “daeng” kepada JK oleh Ruhut Sitompul sudah terjadi hampir seminggu yang lalu, tapi saya masih tetap merasa tertarik untuk menulis tentang “daeng” ini, katakanlah sebagai sebuah informasi untuk teman-teman (khususnya teman-teman non SulSel) yang kurang mengerti tentang “daeng”.

Sebenarnya “daeng” ada dua macam. Pertama “daeng” sebagai sebutan kepada orang yang lebih tua atau yang dituakan. Sifatnya sama dengan Mas bagi orang Jawa, atau Akang bagi orang Sunda. Panggilan ini awalnya hanya milik suku Makassar saja karena?”daeng” memang sebenarnya adalah bagian dari budaya suku Makassar. Daeng sebagai panggilan kepada orang yang lebih tua dipergunakan merata kepada pria ataupun wanita.

“daeng”?yang kedua atau yang lebih spesifik adalah bagian dari “Paddaengang”. Nah, “Paddaengang” ini dalam tradisi suku Makassar adalah sebuah bagian penting. Istilah lainnya adalah “areng alusu” atau nama halus. Seseorang yang bersuku Makassar biasanya akan menerima penyematan nama halus atau paddaengang ini di belakang nama aslinya. Contohnya seperti saya, nama asli saya Syaifullah tapi kemudian ditambahkan dengan paddaengang yaitu daeng gassing, jadilah nama lengkap saya Syaifullah daeng Gassing.

Nama halus atau paddaengang ini biasanya diambil dari nama para leluhur atau tetua dalam garis keluarga suku Makassar. Biasanya berupa doa atau harapan, namun ada juga yang berupa ciri fisik atau kelakuan. Nama daeng Gassing di belakang nama saya sendiri diambil dari nama kakek saya dari pihak Ibu. Beliau terkenal sebagai orang yang tegas dan lurus. Gassing sendiri secara harfiah berarti kuat, dan tentu saja saya memilih nama itu karena berharap bisa mewarisi sifat-sifat positif sang kakek.

Penyematan paddaengang di belakang nama seseorang dulu dilakukan dengan upacara khusus namun belakangan seiring perjalanan jaman, paddaengan itu disematkan begitu saja tanpa ada upacara khusus. Saya sendiri sudah mengganti paddaengang saya, awalnya saya ber-paddaengang daeng Bella, merujuk ke nama buyut saya. Saya menggantinya karena nama daeng Bella terkesan agak feminin, meski sebenarnya artinya tidak se-feminin itu. Penggantian ini terjadi begitu saja, tanpa ada acara khusus.

Bagi orang Makassar, setelah resmi menyandang nama paddaengang dan yang bersangkutan sudah masuk masa akhil baliq maka wajib hukumnya bagi orang-orang di sekitarnya apalagi yang lebih muda dari yang bersangkutan untuk memanggil dengan nama paddaengangnya. Memanggil orang tersebut bukan dengan paddaengangnya akan dianggap tidak sopan, karena ya itu tadi paddaengang adalah areng alusu’ atau nama halus dari yang bersangkutan. Adik-adik dan keluarga besar saya sekarang ini lebih sering memanggil saya dengan nama daeng Gassing daripada nama asli saya.

Dalam tradisi asli suku Makassar sebenarnya juga dikenal yang namanya kasta. Kasta tertinggi adalah Karaeng atau raja, kemudian di bawahnya ada Tumajai atau orang kebanyakan. Kasta paling bawah adalah Ata atau budak. Mereka yang berkasta Karaeng dan Tumajai berhak mendapat paddaengang sementara pada Ata tidak. Sultan Hasanuddin sendiri punya nama paddaengang yaitu daeng Mattawang plus gelar kebangsawanan sehingga nama aslinya menjadi : I Mallombassi daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Karaeng Bontomangape Tu Menanga Ri Balla Pangkana . I Mallombassi adalah nama kecil, daeng Mattawang adalah nama paddaengang, Sultan Hasanuddin adalah nama Islamnya, Karaeng Bontomangape adalah gelar kebangsawanan dan Tu Menanga Ri Balla Pangkana adalah gelar anumerta yang berarti orang yang meninggal di rumah bercabang.

Secara singkat daeng adalah panggilan penuh hormat kepada orang yang lebih tua atau dituakan meski belakangan generasi yang lebih muda mengalami kesalahan persepsi dikarenakan penggunaannya yang lebih bersifat umum. Para pengayuh becak, pedagang sayur dan ikan keliling serta beberapa pelaku industri non formil lainnya biasa disapa dengan panggilan daeng sehingga kemudian banyak orang yang menganggap kalau daeng itu asosiasinya lebih kepada mereka yang berada di strata sosial rendah. Pandangan yang sama sekali tidak benar tentu saja.

Selepas heboh kasus panggilan daeng oleh Ruhut Sitompul kepada JK saya sempat melihat sebuah aksi demonstrasi oleh mahasiswa di Makassar. Salah seorang pendemo mengatakan keberatan atas sikap Ruhut tersebut, alasannya “JK yang mantan wakil presiden itu tidak pantas dipanggil daeng karena biasanya daeng itu hanya identik dengan daeng becak dan sebagainya”. Astaga..!! saya sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Alasannya kok seperti itu, alasan yang sama sekali tak berdasar.

Menurut saya alasan yang paling tepat untuk mengecam tindakan Ruhut adalah alasan kesopanan semata. Tidaklah layak dalam sebuah forum formil berskala nasional seperti itu Ruhut memanggil JK dengan sebutan daeng, ini sama saja dengan misalnya dalam forum yang sama dia memanggil SBY dengan sebutan Mas. Daeng atau Mas-nya tidak salah hanya tempatnya saja yang tidak tepat. Saya yakin JK juga pasti senang-senang saja dipanggil daeng oleh orang lain dalam forum yang berbeda yang sifatnya lebih santai dan tidak formil. Sama seperti para perantau asal SulSel yang bangga dengan panggilan daeng di tanah seberang Jadi sekali lagi menurut saya bukan daengnya yang salah, tapi tempat dan waktunya yang tidak tepat.

Sayangnya dalam kasus Ruhut ini saya merasa tidak banyak pemberitaan yang secara jelas menggambarkan “kesalahan” yang dilakukan oleh Ruhut sehingga seakan-akan yang salah adalah panggilan daeng-nya. Saya hanya kuatir banyak orang yang belum mengerti tentang panggilan daeng jadi merasa kalau panggilan daeng itu ternyata kurang sopan, tidak bagus dan bisa menimbulkan rasa tidak senang. Padahal sama sekali bukan seperti itu. Yah, mudah-mudahan tulisan saya ini bisa sedikit membuat teman-teman di luar SulSel mengerti tentang daeng dan panggilan daeng itu. Apapun itu, saya bangga menggunakan paddaengang saya karena setidaknya saya masih memelihara sedikit warisan budaya Makassar saya dan tentu saja warisan budaya nusantara saya di antara sekian banyak warisan budaya luar yang saya serap dan praktekkan sehari-hari. [dG]

Kalau mau komentar soal paddaengang ini, monggo langsung meluncur ke TKP, yaa: http://daenggassing.com/2010/01/21/sekilas-tentang-daeng

Advertisements