Stop Black Campaigning!

Assalamu’alaikum, selamat sore KawaNina & Kamerads..

Pertama-tama, izinkan saya mengatakan, ini mungkin pertama kalinya saya menulis postingan bernada politis. Saya dulu memang sempat menjadi wartawan desk Politik Nasional di media cetak koran Harian Jakarta (Harjak) pada era 2004-2005. Namun tulisan saya hanya berita politik saja. Saya tidak pernah mau bersentuhan langsung dengan politik, dalam artian pemikiran–menganalisis lalu mengungkapkan opini. No. Politik sama sekali bukan topik favorit saya.

Hanya saja, beberapa minggu terakhir ini, kencang sekali “perang” popularitas Calon Presiden (Capres) di media sosial. Mendekati Pemilu Presiden tanggal 9 Juli mendatang, makin santer saja opini, pencitraan, bahkan “anekdot” yang dikeluarkan oleh para Indonesian Netizen yang, jujur saya menilai, kreatif. Mau tak mau, akhirnya perhatian saya tersita juga. Apalagi kawan-kawan di kantor juga kerap membahas soal Capres A dan Capres B.

Oke, sebelum masuk ke opini, saya paparkan dulu, untuk periode 2014-2019 ini siapa saja kandidat Capres dan Cawapres-nya. Sak Indonesia sepertinya sudah mafhum jika kandidat terkuat yang akan maju mencalonkan diri sebagai Capres adalah Prabowo dan Joko Widodo. Siapakah mereka?

Tanpa bermakna alphabetical order, apalagi reputation order, dan random saja urutannya, mari kita bahas satu per satu.

Logo Capres Cawapres "Prabowo - Hatta Rajasa" (courtesy of utusanriau.com)
Logo Capres Cawapres “Prabowo – Hatta Rajasa” (courtesy of utusanriau.com)

Kandidat Pertama:

Prabowo Subianto adalah mantan menantu Presiden ke-2 RI Soeharto. Tapi dia tak bisa sekadar dipasangi label sebagai “mantan menantu presiden” sih. To be fair, Prabowo adalah sosok yang memang layak dihormati dan diperhitungkan secara integritas. Julukan dia yang paling akrab di telinga adalah “Asian Tiger”–Macannya Asia. Maklum, dia adalah seorang prajurit, pejuang sejati–begitu sebagian besar masyarakat Indonesia menilai. Korps-nya pun sangat terkenal: KOPASSUS, Komando Pasukan Khusus. Siapa tak tahu KOPASSUS?

Logo Capres Cawapres "Prabowo - Hatta Rajasa" (courtesy of mediaprabowo.com)
Logo Capres Cawapres “Prabowo – Hatta Rajasa” (courtesy of mediaprabowo.com)

Sejujurnya, saya tidak terlalu paham bagaimana biodata/biografinya, jadi googling saja ya, atau silakan klik tautan ini guna membaca lebih lanjut soal Prabowo. Yang saya tahu tentang Prabowo adalah mantan kekasih pertama saya, Komang Arya Tridarma (alm) sangat mengaguminya sejak dia masih sekolah di SMA Taruna Nusantara (1990-1993). Saking mengidolakannya, ia memutuskan setia kepada Prabowo. Untuk itu almarhum Komang pernah bergabung dengan GERINDRA, Partai Politik-nya Prabowo, sekira tahun 2008, sampai ajal menjemput Komang pada akhir Maret 2011. But enough about Komang, ya, balik lagi ke Prabowo. 🙂 Dan, itu sajalah yang saya tahu dan pahami tentang Prabowo. Hehehe..

Oh ya, Prabowo ini mengusung Partai Gerindra.

Logo Capres Cawapres "Jokowi - Jusuf Kalla" (courtesy of TimikaExpres)
Logo Capres Cawapres “Jokowi – Jusuf Kalla” (courtesy of TimikaExpres)

Kandidat Kedua:

Joko Widodo, yang lebih akrab dipanggil Jokowi, adalah Gubernur DKI Jakarta (non-aktif?) untuk periode 2013-2018. Selama menjalani kampanye Capres, iapun cuti dari jabatannya sebagai Gubernur Jakarta. Jokowi dulu pernah menjabat sebagai Wali Kota Surakarta (Solo) selama 2 periode berturut-turut, dan sempat dianugerahi gelar, “Salah satu wali kota terbaik sedunia” (entah siapa yang merilis gelar tersebut, hehe..) Lebih lanjut soal biografi Jokowi, silakan klik tautan berikut ini.

Logo Capres Cawapres "Jokowi - Jusuf Kalla" (courtesy of detiknews.com)
Logo Capres Cawapres “Jokowi – Jusuf Kalla” (courtesy of detiknews.com)

Sejauh ini yang saya pahami soal Jokowi adalah, dia orang yang mau bekerja. Sejak jadi Gubernur Jakarta, dia gemar blusukan alias turun ke lapangan sendiri, bekerja (meninjau, menginstruksi, dan turun tangan langsung) tanpa protokoler–sesuatu yang sangat seksi buat masyarakat Indonesia, khususnya warga Jakarta, yang haus sosok tokoh humble dan talk less – walk more. Terlepas dari hembusan kritik orang lain soal “Jokowi itu penipu, dia hanya pencitraan saja”, saya punya pendapat pribadi soal dia. Ya itu tadi pendapat saya: Jokowi tipe orang yang talk less, walk more. Sedikit bicara, banyak bekerja. Ngga pake ribet dan ngga pake pamer. Cuman kawan-kawan media aja yang nguntit terus. Maklum, menjelang jadi Gubernur Jakarta pun Jokowi sudah jadi media darling.

Jokowi ini mengusung Partai PDI-P.

Pekan lalu, tanggal 19 Mei 2014, masing-masing Capres mengumumkan “pendamping” politiknya, alias Calon Wakil Presiden (Cawapres). Prabowo memilih Hatta Rajasa (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia) dari Partai Politik PAN, sedangkan Jokowi menggandeng Jusuf Kalla (mantan Wapres RI) dari Partai Golkar.

However, saya ngga akan menyebutkan kekurangan dan kelebihan kedua pasangan ini. Saya juga ngga mau berkampanye atau menyatakan dukungan saya ke pasangan mana. Saya cuma mau bilang satu hal:

STOP berkampanye hitam di media sosial!!!

Saya selalu menyukai media sosial, sebagai tempat saya berekspresi dan “bercengkrama” dengan kawan-kawan baik saya. Namun, demi Allah, berkampanye hitam (black campaign) dengan cara saling menghina kandidat yang bukan idolanya, benar-benar membuat saya muak sampai muntah-muntah (bicara metafora). What the hell, people!! Demokrasi bukan begini caranya. Ini sih demoCRAZY.

Macam-macam banget cara para pendukung kedua kubu ini berkampanye hitam. Mulai dari membandingkan wajah, sampai menghasut-hasut bernada SARA. Ya Allah… Semuanya udah pada gila, apa? Saya pribadi melihat kampanye kali ini asli nggak sehat. Malah ada kecenderungan kalau pemilihan Capres-Cawapres ini agak-agak “diarahkan” jadi kayak pemilihan Indonesian Idol, bedanya ngga pake SMS Premium aja–belum, kali?

Kalau ada KawaNina dan Kamerads yang membaca entry ini, please ngga usahlah yaaa ikut-ikutan ber-black campaign. Hanya karena beda pilihan, beda dukungan, bukan berarti harus saling benci atau saling caci. Dosa. Apa ngga takut sama dosa? Apa lebih takut sama Capres-Cawapres daripada takut sama Tuhan, begitu? Come on!

Kalau memang ingin mempraktikkan demokrasi, lakukanlah dengan tepat dan sehat. Bagaimana caranya? Simpel: sadarilah bahwa perbedaan adalah kekayaan. Semakin beda, semakin kaya. Syaratnya juga simpel: hormati orang lain; apalagi saudara sendiri, sebangsa setanah air. Jika itu bisa ditegakkan, maka tegak pula-lah demokrasi yang diridhoi Allah, insyaAllah.

Dan hari ini saya menemukan slogan yang menarik dari salah satu wall facebook kawan saya. Slogannya ada di dalam gambar dan sudah saya upload di entry sebelumnya. Sungguh, saya setuju dengan hash tag yang diusungnya: #kampanyekreatifplease.

Jangan lupa, kreativitasnya yang positif ya..! 🙂

Soal Capres Cawapres, good luck for the four of you. May the amanah people wins.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s