Gila, Gresik. Gila!

Gila, Gresik, gila banget! (In positive way, lho..)  Saking gilanya, saya jadi tergila-gila. Bagaimana tidak gila: Cuaca panasnya, gila. Bersih lingkungannya, gila. Porsi minumannya, gila. Porsi makanannya, gila. Orang-orangnya juga, asyik gila. 😀

Ya. saya berkesempatan mengunjungi Gresik pekan lalu. Saat itu saya bertugas menjadi narasumber (pembicara) dalam kegiatan pelatihan jurnalistik bagi Tim Pendamping (Fasilitator) PNPM Mandiri Perkotaan Kabupaten Gresik, 22-23 April 2014. Kegiatan digelar di Waroeng Legend, Jl. Veteran, Gresik, Jawa Timur.

Begitu mendarat di Kota Surabaya, jujur, saya terkagum-kagum dengan Bandar Udara (Bandara) Juanda sekarang. Modern dan keren gilaaaaa! Kalah deh Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Saya sampai melongo dan sibuk foto kiri kanan sepanjang koridor Bandara menuju belt klaim bagasi. Mendadak norak, saya. Kayak turis nyasar. Bedanya, saya ni turis = tuur tiris (basa Sunda: kaki adem).

Bandara Juanda 2
Bandara Juanda 2

Gimana ngga melongo, lantai marmernya begitu mengilap sampai bisa merefleksikan jajaran lampu di plafon. Membuat halusinasi optik seakan ada jajaran lampu juga di lantai. Sweet!!

IMG_20140423_184011 IMG_20140423_184005

Namun saya tidak bisa terlalu lama menikmati suasana. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.02 WIB dan acara pembukaan pelatihan akan digelar pukul 09.00 WIB. Kawan dari Tim Koordinator Kota (Koorkot) Gresik sudah menunggu dengan tidak sabar sejak pagi. “Kirain datang jam 06.00, Mbak, kami sudah sejak subuh di sini,” kata Andre, salah seorang personel Tim Korkot Gresik.

Saya tertawa, “Lha memang jam 06, tapi lewat 50 menit,” sahut saya, jahil. Di dalam mobil avanza hitam yang, ehem, maaf, dekil itu (habisnya dalamnya kotor bingit, banyak kerikil. Ini mobil atau truk pasir coba? Hahahaha..) saya sempat membuka trench coat cokelat yang saya kenakan sejak dari Jakarta. “Mas, poanas sekali ya Surabaya?” kata saya kepada Andre dan Heri, Asmandat Korkot Gresik, yang pagi itu menjadi sopir kami. Ya, Surabaya luar biasa gerahnya. Double blower AC system Avanza keluaran tahun 2012 itu tidak mampu sepenuhnya mengalahkan hawa panas dan teriknya matahari pagi.

“So, ke mana kita?”

“Mbak diajak sarapan pagi dulu oleh Bu Satker,” ujar Andre.

“Asyiiiiik..”

Kami melintasi tol. Saya sempat terkagum-kagum, karena terakhir saya ke Surabaya, tahun 2005, tolnya belum beres sepenuhnya. Sekarang, kami sudah meluncur di atasnya. Eh, tapi kok yo macet sih, kayak Jakarta aja. Panas dan macet. Bedanya, Surabaya jauh lebih menyengat daripada Jakarta. Udara Jakarta memang gerah dan panas, tapi tetap lembab. Tidak seperti Surabaya yang kelembaban udaranya lebih rendah, makanya terasa lebih kering dan menyengat.

Depot Bu Timan
Depot Bu Timan

Menu Depot Bu Timan. Menggiurkan!
Menu Depot Bu Timan. Menggiurkan!

Namun itu semua terlupakan begitu saya tiba di rumah makan yang menghidangkan nasi krawu, makanan khas Gresik. Depot Bu Timan, namanya. Ia menyajikan nasi krawu, nasi rawon, nasi kare ayam, nasi bali bandeng.

Sebetulnya saya tidak terbiasa makan berat di pagi hari. Paling hanya segelas susu atau teh manis, cukup. Atau yang agak di atas standar: sepotong roti dengan butter orchid salted, atau roti dengan butter orchid plain plus gula atau sprinkles (meses), atau sepotong roti diolesi nutella atau skippy chunky. Paling top sarapan pagi saya adalah steamed sausage (sosis dikukus) dan hash brown potatoes (kentang goreng olah). Itu saja sudah berat banget buat saya. Lalu ini pagi-pagi, sebelum jam 10, sudah akan kemasukan nasi, biasanya saya akan langsung sakit perut. Namun, saya tak kuasa mangkir, karena membaca nama menunya saja sudah menggiurkan!

Awalnya saya ngga paham kalau krawu adalah makanan khas Gresik. Saat itu kawan-kawan lainnya memesan rawon. Ah, saya sudah pernah makan rawon khas Surabaya, jadi saya memutuskan untuk memesan yang lain saja. Seperti mayoritas “kucing”, saya memesan ikan. Hehehe.. So, saya memesan nasi bali bandeng dan es teh manis sebagai minumnya.

Mendengar itu, dua kawan baru saya, Andre dan Heri, bahkan si pencatat pesanan sempat tertegun, “Beneran, pakai es, Mbak?”

Saya mengangguk mantap, sambil tersenyum lebar. “Ya pakai es, kalau nggak kan hanya jadi e,” kata saya, bergurau.

Oh ya, untuk selera makan, saya memang lebih memilih ikan daripada daging. Hanya saja kalau hasil olahan dagingnya memang enak, yaa kenapa ngga? 😉 Apalagi namanya bali bandeng. Dalam pikiran saya, bali bandeng saya adalah masakan ikan yang diluluri cabe merah ulek. Begitu keluar, ternyata bentuk bali bandengnya ini lebih mirip rendang bandeng. Tetap saja, tampaknya menggiurkan. Hohohoho.. Satu hal yang membuat saya tercengang adalah porsi gelas minumannya. Besar amat! Saya pikir, oh, mungkin memang porsi minum di restoran (Depot Bu Timan) ini ya begini. Hebat juga. 🙂 Mejanya pun besar sekali. Mungkin sekira satu meter lebarnya. Meja dilapisi kaca dan di bawahnya, meja dilapisi semacam karpet mesjid, berwarna hijau. Tema rumah makan ini memang hijau. Segar.

Bu Ida (beransel) memesan makanan di kasir
Bu Ida (beransel) memesan makanan di kasir

Belum lama makanan dan minuman es teh manis saya datang, Kepala Satker PIP Kabupaten Gresik Ida Lailatussa’diyah menghampiri kami. Perempuan semampai yang enerjik itu langsung menyapa dengan ceria. Kami sudah berkomunikasi cukup intens sebelumnya, jadi kamipun segera akrab dan meriah. Gaya Bu Ida agak-agak mirip saya, senang mengenakan ransel, tomboy, tapi feminin. Bicaranya cepat, tawanya heboh, tapi matanya tajam cermat mengamati. Tipikal perempuan cerdas yang penuh energi.

“Lho, Mbak Nina kok ndak pesan krawu? Itu khasnya ngGresik, Mbak. Tak pesenkan ya?” kata Bu Ida, begitu melihat piring saya di meja. Tanpa pakai lama, ia segera menghampiri kasir. Meminta seporsi krawu untuk saya, sekaligus memesankan makanan untuknya sendiri dan untuk beberapa kawan Korkot dan stafnya yang baru belakangan datang. Tak lama, Korkot Gresik Eddy Iwantoro tiba di lokasi. Bu Ida sekalian memesankan juga. Saya jadi terkesan. Jarang-jarang ada pejabat pemerintahan mau “handap asor” melayani mitranya–dalam hal ini konsultan. Rupanya, selain memiliki kualitas seperti yang saya sebutkan di atas itu, Bu Ida juga humble, alias rendah hati.

Usai memesan, ia kembali menghampiri meja kami. “Saya pesan rawon ae, Mbak. Soalnya setiap rapat koordinasi kami melakukannya kan seringkali di sini, dan kami selalu pesan nasi krawu. Jadi saya agak bosan juga. Hari ini rawon aja ah,” katanya, seraya menjelaskan bahwa kantor Satker PIP Kabupaten Gresik letaknya hampir bersebelahan dengan Depot Bu Timan. Yes, memang asyik jika kantor bersebelahan dengan rumah makan. 😉

Singkat cerita, pesanan kami semua sudah tiba. Saya sengaja menunggu semua hidangan lengkap, barulah makan bersama. Tanpa pikir panjang, saya menyendok krawu (di piring kecil) lalu membubuhkannya ke nasi pulen. Hmmm.. nasinya harum dan lembut. Tipe nasi yang saya suka, tidak terlalu lembek dan tidak menyatu seperti lontong. Apalagi dihidangkan di atas daun pisang yang sebelumnya sudah dikukus (agar tidak mudah sobek).

Saya lalu mengendus-endus nasinya–ehem, sebetulnya ini kebiasaan jelek, tapi apa boleh buat, saya suka mengendus makanan sebelum memakannya. Dan, yummmm.. Aroma nasinya masih segar. Air liur saya segera terbit, syukurlah tidak sampai menetes. Malu ah, masa sampai ngiler di depan Bu Kepala Satker? Hahaha..

Bandeng bali, plus krawu
Bali bandeng, plus krawu

Saya memerhatikan krawu yang saya sendoki tadi. Rupanya isinya jeroan, semacam babat, usus. Bumbunya kecoklatan, seperti rendang padang, tapi lebih encer. Oh ya, meski memakan jeroan, Alhamdulillah, saya jarang sakit. Meski badan saya bongsor begini, tubuh saya terbilang prima dan sehat, dengan kadar kolesterol rendah. Semoga bisa begitu terus, karena saya sangat suka wisata kuliner dan menikmati makanan dengan senikmat-nikmatnya. Hehe..

Soal rasa krawu, hmmmm.. enak sekali. Ada rasa manis dan sedikit asin. Enak tapi tidak terlalu gurih, tidak giyung (blenger), mungkin karena yang memasaknya tidak menggunakan vetsin. Nice! Krawu dicampurkan ke nasi hangat, wuahhh.. langsung terjadi keajaiban di dalam mulut saya. Soalnya, saya jadi tidak bisa berhenti sampai sendokan kedua, ketiga, keempat. Saya makan dengan kalap–kalaparan (plesetan kelaparan, dalam bahasa Sunda, hehehe..)

Saya baru berhenti bersikap “kalap” ketika Bu Satker, yang duduk di depan saya, memandang ke arah saya. “Piye, Mbak? Enak?”

“Enak banget, Buuuu..” jawab saya setelah menelan suapan tadi. Hahaha.. Bu Satker tertawa kecil melihat saya tampak menikmati makanan yang dihidangkan.

Tuntas menghabiskan krawu, saya beralih ke bali bandeng bali. Sengaja saya tidak mencampur makan krawu dengan bandeng, karena pasti rasanya jadi aneh. Makanya saya habiskan dulu krawu yang enak itu, barulah saya menyantap bandeng. Rasanya tidak sepedas yang saya harapkan, tapi enak juga. Agak manis, meski tidak semanis krawunya tadi. Tapi dagingnya, kenyal, nikmat. Bumbu balinya meresap ke dalam dagingnya. Tapi, ya begitulah, namanya bandeng, durinya banyak. Hehe..

Oh ya, kalau melihat di gambar, itu ada beberapa bumbu kelapa dan serundeng kan? Nah, saya sudah mencobanya satu per satu, tapi sayang, tidak ada yang sesuai dengan selera lidah saya. Namun, begitu mencoba sambalnya–itu tuh, yang berwarna agak kehitaman di pojokan–tahukah apa yang terjadi, saudara-saudara? Saya kepedesan! Hahaha.. Tumben banget, penggila cabe seperti saya bisa kepedesan sama sambal terasi (?) seperti ini. Pantesan hanya diberi secuil saja, lha wong pedasnya menggetarkan kalbu, jiwa dan raga begitu kok! *lebay*

Alhasil, saya melanjutkan makan dengan mulut panik dan mendesis-desis, mencoba menghalau pedas dengan tiupan dari dalam paru-paru. Tidak terlalu berhasil, karena si sambal menohok sampai ke belakang telinga. Mukus (artinya ingus) mulai menumpuk di ujung hidung. Gawat ini.. Saya segera menyambar es teh manis dalam gelas guwede itu. Hmmmm! Tahukah, aroma tehnya enak sekali.. Hmmmmm! Teh mawar kah ini? Kok nikmat betul melintasi lidah menuju kerongkongan.

Sesekali saya biarkan larutan teh manis itu menggenangi lidah di dalam mulut saya. Sengaja memanjakan lidah, meresapi aroma mawar ke seluruh rongga mulut saya. Jarang-jarang saya menyicip teh senikmat ini. Saya bahkan sampai hampir lupa melanjutkan makan. Hahaha.. 😛

Ini benar-benar “GILA” buat saya. Ditambah lagi fakta kalau biasanya sebelum jam 10 perut saya sudah kemasukan nasi, ujung-ujungnya adalah sakit perut. Namun, pagi itu saya tidak mulas. Gila banget kan? Saya pikir “kegilaan” itu sudah selesai sampai di situ, tapi sepertinya hidup masih belum puas memberi saya kejutan. Seperti apa kejutannya? Baca aja nanti kelanjutannya ya.. 😉

To be continue ke “Gila, Gresik. Masih Gila!” 😀

Advertisements

4 Comments

    1. Hihihihi.. iyaaa.. I love food, Atheee.. nanti yg pengalaman Makassar aku tulis juga. Banyaaak ceritanya.. waktu makan coto nusantara, sop saudara, konro bakar, mie kering Titi, pisang epe’, pallu butung, pisang ijo. Hmmmm… *ngiler duluan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s