Cukup lama saya berpikir tentang tema keempat yang diajukan #TheKacrutMenulis kali ini. Apalagi masih ada utang dua tema: Gelap dan Sabar. Tapi, okelah, kita jawab dulu tantangan yang sekarang ini, seraya ditemani dengan lagu “Royal T” dari Crookers feat. Róisín Murphy.Sebuah lagu bernada ganjil (menurut saya) yang pertama saya dengar dalam acara So You Think You Can Dance Season 7. Entah kenapa saya sangat tertarik dengan lagu-lagu bernada minor dan ganjil. Apalagi jika liriknya juga “aneh”. Coba dengar saja chorus lagu ini:

I don’t have to feel your charm charm charm charm | you don’t have to break my arm.

Unmistakably, I love the song. (videonya terakhir aja ya! hehe..)

Selera saya akan sesuatu, bisa dibilang tidak umum. Jika orang lain memilih menghindari, saya justru akan tertarik untuk mendekatinya. Dan itu saya lakukan bahkan sejak kecil.

Papa saya pernah bercerita, waktu saya berusia 3 tahunan, tetangga kami memiliki seekor guguk kecil, tapi super galak yang dikasih nama Happy. Saya sendiri tidak ingat kejadian tersebut, apa warna guguknya, jenis apa guguk tersebut, sama sekali tidak ingat. Nah, papa saya bilang, si guguk galak ini ditakuti oleh semua orang kampung, bahkan ke pemiliknya pun dia kadang galak. Hanya satu orang yang tidak pernah digalaki oleh si guguk, yaitu saya.
….

Entah pesona apa yang saya miliki waktu kecil *halah*, memang seingat saya, semua binatang selalu jinak sama saya, bahkan yang segalak Happy sekalipun.

My dad and me, yr. 1982/1983

“Sebenernya Papa agak ngeri setiap ngeliat kamu main sama Happy. Takut kamu digigit atau dilukai. Tapi, ya itulah, Happy selalu jinak sama kamu. Sekalipun ketika kamu marahi dia karena galak ke orang lain, dia tidak menyerang kamu. Padahal kalau ke orang lain, didekati sedikit saja, dia pasti menggeram dan memperlihatkan gigi-giginya, tanda hostile (bermusuhan),” kata papa saya.

“Dan, yang lebih edan lagi,” lanjut papa saya, “Kamu itu sejak kecil kan main dan tidur sama kucing. Nah, suatu hari ketika kamu main sama Happy, kamu sambil bawa kucingmu. Lalu kamu paksa kedua binatang itu main bersama. Namanya kucing dan anjing, seharusnya kan bertengkar. Tapi di depan kamu, kedua binatang itu mau main bersama-sama, meski sesekali terdengar kucing dan anjingnya saling menggeram.”

Unmistakably, I think you were born to bring peace, even among odd couples, like that dog and that cat,” ujar papa saya.

Bicara kucing, papa saya juga pernah bercerita bahwa dia sangat tidak suka kucing, karena sifatnya yang suka mencuri. Meleng sedikit, dia maling ikan kita. “Papa sudah bilang sama kamu kalau papa tidak suka kucing, karena mereka itu maling. Tetap saja kamu sangat sayang sama mereka. Papa sampai harus menahan diri, mengalah, karena anak papa sayang kucing. Tapi, setelah papa perhatikan, sesayang-sayangnya kamu sama kucing, ketika mereka mencomot kuemu tanpa izin, kamupun memarahi mereka. Menghukum mereka. Dari situ papa belajar…”

“That you are, unmistakably, a fair person. Kamu tidak peduli pendapat orang lain tentang sesuatu atau seseorang, yang penting adalah sesuatu atau seseorang itu bersikap baik sama kamu, dan kamu tidak segan bertindak dengan menegur atau menghukum, jika seseorang itu tidak baik sama kamu,” kata papa lagi.

Dan, itu adalah cerita-cerita masa kecil yang papa saya ceritakan ketika saya SMA–hampir 20 tahun lalu. Ah, sudah lama sekali! Saya jadi tersenyum sendiri mengingatnya. Thank you for #TheKacrutMenulis, saya jadi merasa diingatkan akan hal-hal kecil yang saya lakukan, yang dinilai besar oleh orangtua saya.

Orangtua sayalah yang mengajarkan bahwa kita, orang-orang dewasa, layak belajar dari anak-anak kita, atau dari orang-orang yang lebih muda dari kita. Usia hanyalah angka. Tapi mengambil hikmah/pelajaran, adalah sebuah pilihan kebijaksanaan yang tidak dibatasi oleh angka tadi. 

And, UNMISTAKABLY, I love my parents. My papa and my mama. They are the only two people that I can always count on and the only places I could come home to, eventhough I am now married, with three children.

I love you papa and mama. 

 

Advertisements