[TheKacrutTheme] Sweet Disposition – Curcol

Ini adalah tema #TheKacrutMenulis yang sungguh menarik minat saya membaca. Pertama saya membaca tema Sweet Disposition tersebut di blog milik Kacrut Guardian Eny. Saya suka tema yang dilontarkan. Sama halnya dengan kamerad Eny, saya clueless juga soal “what is the meaning of Sweet Disposition”–meski akhirnya dijawab oleh Kacrut Guardian Tebeh bahwa Sweet Disposition ini multi makna.

Dalam entry ini, izinkan saya membahas Sweet Disposition, versi saya.

Pertama mendengar kata “Sweet Disposition”, saya langsung terbayang lagu megahnya Temper Trap, terutama di bagian chorus-nya: A moment, a love, a dream aloud, a kiss, a cry, our rights, our wrongs..


Lagunya mantabb, Gan! Karakter suara tinggi dengan layer ganda, dengan permainan instrumen dan aransemen rapi, memang membuat pikiran melayang setiap kali mendengar lagu Sweet Disposition ini.

Oiya, Temper Trap ini salah satu grup band favorit suami saya. Saya kenal nama Temper Trap pun dari suami saya. Maklum, dia anak band, yang juga pernah jadi road manajer band (yang ternyata jadi band kondang se-Indonesia). *eh kok ga nyambung* :p

Kembali ke #TheKacrutMenulis, saya sempat berpikir, jangan-jangan Sweet Disposition yang dimaksud oleh Tema-Starter itu memang terinspirasi lagu ini ya? Lalu, bagaimana saya menerjemahkan kata Sweet Disposition ini?



Sebelum menjawab lebih lanjut, saya googling, dan menemukan beberapa referensi soal Sweet Disposition, yang menurut hemat saya *halah, bahasa saya kok birokrat banged* kaitannya dengan sikap atau karakter, yaitu orang yang tidak temperamental, tidak suka marah-marah (apalagi yang ngga jelas dan gak perlu), lebih suka menghindar dari konflik (misalnya dengan mengalah) tapi tidak mudah menyerah, dan sifat-sifat positif/manis lainnya.

Illustration – Sweet Disposition

Entah kenapa, dalam benak saya yang terbayang adalah kalimat ini: I’ll be your sweet disposition.

Akhir-akhir ini hubungan saya dengan suami memang agak “dinamis”—jika tidak ingin dibilang banyak berantem. hehe.. Saya selalu berpikir kalau suami kok ngga ngerti-ngerti sih, segitu saya udah ngasih tau agar dia tidak begini dan begitu, begonoh dan beginuh, dan seterusnya. Saya sering berpikir kalau dia tidak pernah mendengarkan ucapan saya. Lebih jauh saya berpikir, sepertinya dia sudah tidak care pada saya, dan pikiran-pikiran jahat lainnya, yang sebaiknya tidak saya ungkapkan di sini. ^_^

Dan, seminggu terakhir ini memuncak sudah amarah saya. Anak sakit, didatangi debt collector akibat utang dia, sementara saya tidak pegang uang sama sekali sehingga tidak bisa belanja–hanya “mengais” sisa-sisa yang ada di kulkas saja supaya bisa makan, karena suami pergi tak pulang-pulang. Saya begitu marah, sampai-sampai saya ungkapkan di jejaring sosial–meski saya selalu teringat kalimat Om Bisot, “Jejaring sosial itu tidak ada delete button-nya. Hati-hati.”

Apa lacur, saya murka. Saya butuh pelampiasan. Saya butuh komentar, syukur-syukur dukungan. Bukan, bukan dukungan yang memberi nasihat negatif, melainkan positif–karena saya yakin kamerads saya adalah manusia-manusia bijak, dewasa dan suportif.

Hari itu, setelah saya menuliskan status di jejaring sosial twitter dan bukumuka (facebook, maksudnya, hehe..) melalui hape, saya berangkat kerja–agak siang, karena harus menghadapi debt collector terakhir.

Aneh, sepanjang jalan, selagi saya menyetir, justru timbul kekuatan yang entah datangnya dari mana. Tiba-tiba saja saya jadi berpikir jernih. Saat itu saya teringat pernah bicara pada suami bahwa saya dan dia adalah satu tim, hendaknya saling dukung, bukan saling menuntut. Sayapun memutuskan untuk mengambil alih tampuk pimpinan sementara dan mulai mengerahkan kemampuan untuk merencanakan langkah selanjutnya—suatu hal yang, shockingly, sudah lama tidak saya lakukan: making own plans to make things work.

Saya terhenyak. Tersadar bahwa selama ini saya terlalu menggantungkan diri kepada suami. Semua rencana, saya serahkan ke suami. Saya tinggal tahu beres, karena saya sudah cukup disibukkan dengan urusan pekerjaan saya sendiri dan sibuk mengatur keuangan, yang hampir dua tahun ini timpang akibat cashflow rumah tangga lebih banyak masuk dari sisi saya saja. Saya merasa sudah terlalu sibuk menghadapi hal-hal riil, sehingga untuk berpikir ke depannya semua saya serahkan kepada suami.

Saya tersadar bahwa saat ini, rumah tangga saya membutuhkan saya untuk turun tangan merencanakan langkah selanjutnya. Sungguh, saat ini, entah untuk sesaat atau seterusnya, saya harus menjadi perempuan super. Apalagi melihat wajah anak-anak saya. Saya bertekad untuk menghapus tampang stres di wajah saya ini demi mereka, agar anak-anak tidak ikut bingung. Karena tugas anak-anak adalah tersenyum bahagia, supaya lelah di tubuh dan jiwa ini luntur seketika!

Kalau bukan saya yang jadi “sayap pelindung” buat anak-anak saya, siapa lagi? Toh, saya masih punya Allah untuk saya andalkan! Ya.. Allah! Saya punya Allah, yang saya yakini, senantiasa memegang tangan saya agar tidak jatuh, atau membiarkan saya terpuruk lama-lama. Ya. Allah tidak pernah mengecewakan saya. Inilah waktunya saya kembali mempraktekkan kalimat, “Hasbunallah wa ni’mal wakil, wa ni’mal maula wa ni’man nashir.” Allah adalah sebaik-baiknya pelindung, dan Allah adalah sebaik-baiknya penolong.

Bersamaan dengan kesadaran tersebut, saya lebih terpekur lagi demi melihat satu per satu komentar dari kamerads dan keluarga, yang memberi dukungan dan doa. Seakan, semuanya meminjami saya kekuatan untuk bisa berjalan lagi. Alhamdulillah..

Semakin mantap benak saya menyusun rencana untuk mengatasi permasalahan yang saya hadapi. Semakin teguhlah saya memutuskan untuk bertindak sendiri, karena saat itu suami betul-betul “menghilang” (alasannya kerja), tidak pulang-pulang, tidak bisa dihubungi dan tidak membalas pesan pendek dari saya. Makanya saya pikir, sudahlah, saya atasi ini sendiri saja. Mungkin suami sudah terlalu capek saya baweli. Lagipula, biarlah saya yang atasi ini agar dia tenang bekerja.

Alhamdulillah, ketika suami (akhirnya) pulang ke rumah, satu masalah sudah (saya) selesai(kan). Dia tidak berkomentar banyak kecuali berterima kasih. Saya sempat minta maaf jika jalan keluar yang saya lakukan menyinggung dia. Tidak ada niat saya mengecilkan peran dia sebagai suami. Semata, saya mengambil alih peran sebagai kepala keluarga selama dia tidak ada (dan tidak bisa dihubungi).

Saya juga sengaja tidak lagi membahas atau membaweli dia, “Kenapa ngga pulang-pulang? Anakmu nyariin. Setiap pagi dan malam Farrell nangis terus manggil-manggil kamu..” Tidak. Saya diam saja. Tidak juga saya bercerita betapa anaknya sering menangis sambil memanggil dia. Saya hanya meyakini bahwa suami pasti tau. Saya tidak mencecarnya, karena saya yakin, sebenarnya diapun tidak ingin jauh, karena bagaimanapun dia sangat sayang pada anaknya. Sudah cukup. Saya tidak perlu lagi membuat dia merasa buruk atau merasa bersalah. Saya yakin, he already felt guilty, so I don’t need to add the burden.

Ya, mulai sekarang, I’ll be your sweet disposition. πŸ™‚

Sebelum mengakhiri tulisan ini, izinkan saya “menghibur” pembaca semua dengan lagu SWEET DISPOSITION oleh TEMPER TRAP.

Disertai lirik lengkapnya:


Sweet Disposition | Never too soon | Oh, reckless abandon | Like no one’s watching you
* A moment, a love | A dream aloud | A kiss, a cry | Our rights, our wrongs*
So stay there | Because I’ll be coming over | And while our blood’s still young | It’s so young | It runs | And we won’t stop until it’s over | Won’t stop to surrender
Songs of desperation | I played them for you
*A moment, a love | A dream aloud | A kiss, a cry | Our rights, our wrongs*

Advertisements
Categories: Tags: , ,

8 Comments

  1. sedikit banyak saya belajar dari tulisan mbak nina ini.thanks banget mbak, kebetulan kondisi kita lagi sama banget.smoga badai segera berlalu ya mbak

  2. itu lah yang disebut saling mengisi saling mengasihi. Tapi menjadi perempuan super juga tdk selamanya baik, karena tetap suami adalah kepala bukan?Kita adalah smart women dgn posisi sebagai istri, ibu, dan juga peremmpuan yang harus survive untuk semua kondisi yg diinginkan maupun tidak.oh ya tulisan dan lagu yang mengguatkan saya juga kok nin

  3. @ Riu: Huehehehe.. Makasih, Riuu.. Kamu yang mbaca merinding, apalagi aku yg ngalami. Wekekekek.. :p@ Mbak Nyayu: Betul, Mbakyuu.. Emang sih susah menghadapi hujan dan badai, karena badan jadi basah dan kotor. Tapi, siapa takut? hehehe.. Kan bisa mandi! wekekekeke..@ Eny: Wah! Mudah-mudahan Eny juga tegar ya, darling. Kita saling mengingatkan, saling menguatkan! have faith in yourself ya, dear! :*@ Ria: Weeeehhh Riaaa, thank you for visiting! hehehe.. Betul, Ri, suami tetep kepala. Dan istri adalah lehernya. *halah, pepatah Greek banget. hahaha..* Maksudnya, kalau kepala sedang "offline", ya kita sebagai istri harus bisa mengambil alih, jadi nakhoda, sampai si kapten sejati balik lagi. hehehe.. Be strong ya, dear. Kiss-kiss buat Janet. Dan salam jitak buat Yulius. πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s