TIPS MELIPUT PERISTIWA TRAUMATIS (PANDUAN BAGI KAWAN JURNALIS DAN MEDIA)

rebloggedMengingat masih banyaknya reporter–khususnya televisi–yang masih begitu “polos” (baca: bodoh) bertanya kepada keluarga korban musibah, “Bagaimana perasaan Ibu/Bapak atas meninggalnya keluarga?”–which is absurd, sudah pasti sedih, kok masih ditanyain–berikut saya kutip tips meliput peristiwa traumatis.

Tautan ini saya dapatkan dari kawan baik saya, Kang Tian Arief (jurnalis senior Majalah Gatra). Semoga bermanfaat!

TIPS MELIPUT PERISTIWA TRAUMATIS (PANDUAN BAGI KAWAN JURNALIS DAN MEDIA)
29 December 2014 at 05:13

Peristiwa Traumatis adalah peristiwa yang memiliki ciri-ciri:

  • Terjadi secara tiba-tiba
  • Mengerikan atau menimbulkan rasa takut yang amat sangat
  • Mengancam keutuhan fisik dan mental-emosional
  • Dapat menimbulkan dampak yang membekas bagi mereka yang mengalami maupun yang menyaksikan, baik secara fisiologis, pikiran, perasaan maupun perilaku

Beberapa contoh peristiwa traumatis yang dialami oleh manusia (baik individu maupun kelompok):

  • Bencana alam (gempa, tsunami, banjir, letusan gunung berapi, kebakaran)
  • Kematian/ kehilangan yang mendadak karena sakit (mis:  sakit jantung) atau kecelakaan (lalu lintas, transportasi, industri)
  • Kekerasan pada anak dan perempuan (fisik, seksual, psikologis, penelantaran ekploitasi) termasuk KDRT
  • Kerusuhan, ledakan bom, konfik kekerasan (bersenjata), tawuran
  • Penghilangan paksa, penganiayaan, teror berkelanjutan
  • Kejahatan kriminal (perampokan, penodongan, perkosaan, penculikan, penyanderaan dll)
  • Menyaksikan/ mendengarkan peristiwa-peristiwa traumatis yang dialami orang lain

Media, peliputan dan dampaknya negatif terhadap penyintas serta keluarga penyntas (korban) pasca peristiwa traumatis:

  • Penyebutan dan pengutipan dari narasumber yang salah dapat menimbulkan kecemasan berlebihan, kebingungan, kecurigaan, rasa kesal/marah dan emosi negatif lain yang dapat memperburuk kondisi psikologis mereka
  • Meminta penyintas atau keluarga penyintas (korban) untuk terus mengulang-ulang menceritakan peristiwa traumatis yang dialaminya dapat mengakibatkan mereka mengalami kondisi retraumatisasi (merasakan penghayatan seperti saat mengalami peristiwa trauma tersebut terjadi)dirinya harus selalu kembali terluka
  • Penayangan gambar peristiwa traumatis di media massa yang berulang-ulang dapat terus memaksa penyintas atau keluarga penyintas (korban) untuk kembali mengingat kejadian pahit tersebut dan menghambat proses pemulihan
  • Jurnalis yang berusaha mewawancara penyintas atau keluarga penyintas (korban) tanpa mengenal situasi, kondisi, tempat dan waktu akan semakin menyulitkan penyintas dan keluarganya di tengah kondisi yang sudah sulit tersebut
  • Pemberitaan mengenai sumbangan besar yang diteriuma korban dan keluarganya jika tidak dilakukan secara proporsional dapat menyebabkan korban dan keluarganya menjadi sasaran pergunjingan, pemerasan, teror dari pihak-pihak tertentu
  • Pertanyaan yang tidak relevan, membingungkan, kurang peka, brsifat menyalahkan/menyudutkan penyintas/keluarganya dapat membuat “luka” psikologis yang dialami penyintas dan keluarganya bertambah buruk sehingga mempengaruhi proses pemulihan mereka karena pertanyaan-pertanyaan tersebut menimbulkan emosi negatif yang memperburuk stabilitas kondisi emosi mereka yang sedang sedih atau kehilangan atau “terluka batin”  dsb

Tips meliput peristiwa traumatis:

  • Memperhatikan situasi, kondisi dan naluri kemanusiaan kita dalam memutuskan antara melaksanakan tugas jurnalistik atau mendahulukan menolong korban –> Manakala seorang jurnalis ditugaskan untuk melakukan peliputan pada saat peristiwa traumatis masih berlangsung maka bisa jadi ada konflik kepentingan antara menjalankan tugas jurnalistik atau membantu orang lain. Sebagai seorang manusia yang kebetulan berprofesi sebagai jurnalis makaada baiknya anda menggunakan naluri kemanusiaan anda untuk membuat pertimbangan dalam situasi dan kondisi tersebut. Bila anda dapat menolong orang terlebih dahulu lakukanlah, anda pun bisa mengambil gambar-gambar penting terlebih dahulu atau anda bisa melakukan pilihan lainnya
  • Mengutamakan keselamatan diri –> Bila anda kebetulan meliput peristiwa traumatis pada saat peristiwa tersebut masih berlangsung (misal: konflik, perang antar genk, bencana alam dsb) pastikanlah keselamatan diri anda menjadi prioritas yang utama karena kalau anda tidak selamat maka berita atau liputan yang anda buat tidak akan dapat disebarkan pada banyak pihak Anda bisa mengambil gambar, melakukan wawancara atau kegiatan peliputan lainnya dari lokasi/ tempat yang aman dan terlindungi dari ancaman bahaya yang mungkin terjadi dari peristiwa traumatis yang anda liput.
  • Menghargai sikap penyintas dan keluarga penyintas (korban) –> Perlu diingat bahwa tidak semua pihak bersedia dan mampu menghadapi wartawan, menjadi narasumber berita atau diliput oleh media massa pasca peristiwa traumatis yang dialaminya. Ada  berbagai pertimbangan mengenai kondisi tersebut seperti mereka masih menghayati pengalaman traumatis yang dialami dan masih terguncang, mereka tidak ingin menambah persoalan/masalah yang mungkin timbul sebagai dampak peliputan media yang meluas, keinginan menjaga privasi anggota keluarga dll.
  • Perkenalkan diri anda dengan jelas –> perkenalkan identitas anda secara jelas (bila perlu tunjukan kartu pers atau surat tugas, nama, dari media mana dsb. Jelaskan pula tujuan wawancara dan informasi detil peliputan lainnya, jangan lupa untuk menanyakan kesediaan untuk direkam baik melalui audia recorder maupun kamera recorder
  • Mengetahui saat terbaik untuk memulai wawancara, meneruskan wawancara atau menghentikan proses wawancara –> bersikap arif dalam melihat respon narasumber akan sangat membantu melakukan hal ini semisal bila keluarga sudah mengatakan “kami masih berduka” rasanya tidak tepat untuk tetap melanjutkan wawancara atau saat penyintas atau keluarganya masih menangis dan kondisi emosional tak karuan rasanya tidak tepat untuk mengajukan pertanyaan “Bagaimana perasaan ibu/bapak?”
  • Menghindari pertanyaan mencecar –> Pemberitaan mengenai suatu peristiwa traumatis merupakan pemberitaan human interest sehingga akan lebih tepat cara mendapatkan informasi (bahan) untuk pemberitaannya pun dilakukan dengan cara yang sangat menghargai harkat dan martabat dari narsumber. Oleh karena itu dalam penggalian informasi hindari pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mencecar atau menyelidik karena kekhasan konteks peristiwa traumatis membuat anda perlu berempati pada penyintas maupun keluarga penyintas (korban) yang menjadi narasumbernya. Pertanyaan mencecar dapat memperulit kondisi penyintas bahkan dengan kondisi emosi yang masih labil, pertanyaan semacam itu dapat memperburuk keadaan mereka karena menimbulkan dampak emosi-emosi yang negatif. Belum lagi ada kemungkinan penyntas dan keluarganya merasa tidak dipahami dan dihargai oleh media.
  • Memanfaatkan sumber-sumber alternatif –> kadangkala penyintas atau keluarganya tidak siap menerima peliputan media maka banyak hal yang bisa dilakukan, risetlah mana saja narasumber berita yang bisa dijajaki, bila ada keluarga yang terlihat lebih tegar bisa ditanyakan kesediaan mereka, bila ada pihak berwenang maka bisa dijadikan narasumber alternatif
  • Memberi pengertian kepada korban –> kadangkala penyintas dan keluarga penyintas (korban) merasa enggan diliput atau ditemui media dikarenakan mereka memmiliki kekhawatiran akan dampak buruk peliputan tersbeut bagi dirinya atau keluarganya. Faktor keselamatan, keamanan, kekhawatiran dimanfaatkan/ dieksploitasi penderitaannya dan sebagainya merupakan beberapa hal yang menjadi pertimbangan mereka. Jika informasi dari mereka sangat dibutuhkan bantulah mereka memahami dampak positif dari liputan anda bagi mereka (yang tentu saja bukan hanya pernyataan dibibir jurnalis tapi juga konsisten dijalankan). Jelaskan pada mereka maksud dan tujuan peliputan, tanyakan apa yang mereka khawatirkan dari peliputan, berikan penjelasan singkat mengenai kode etiik, bila diperlukan bisa saja anda memenuhi permintaan mereka untuk menjaga kerahasiaan (misal: gambar disamarkan, nama anonim dsb).
  • Memulai dengan ungkapan simpatik –> bukalah proses wawancara dengan ungkapan yang menunjukkan rasa simpati dan empati anda kepada penyintas atau keluarga mereka. Kadangkala pernyataan pembuka seperti “Saya turut prihatin dengan yang bapak/ibu hadapi” bisa membuka jalan untuk percakapan berikutnya. Bila hubungan komunikasi sudah terasa nyaman diawal anda bisa juga menanyakan kesediaan yang bersangkutan untuk menjadi narasumber lebih lanjut. Pastikan bahwa apa yang hendak kita gali atau kita tuliskan dapat membangun rasa aman dan nyaman penyintas karena ia yakin bahwa peliputan tersebut tidak akan menambah penderitaannya.
  • Tidak memulai wawancara dengan pertanyaan yang sulit –> awali proses wawancara dengan pertanyaan yang bersifat ringan semisal “Bagaimana kondisi bapak/ibu/saudara sekarang”. Barulah setelah itu dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang sifatnya lebih sulit bagi mereka untuk menjawab. Pertanyaan mudah diawal akan membantu penyintas maupun keluarganya menjadi lebih siap untuk pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang lebih dalam.
  • Sebaiknya lebih banyak mendengarkan, bukan banyak berbicara –> Proses wwancara dengan narasumber untuk membuat berita bertujuan menggali sedalam mungkin informasi dari sumber tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut anda sebaiknya lebih banyak mendengarkan dan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong narasumber untuk bercerita lebih dalam. Namun perlu diingat anda bukanlah sedang menginvestigasi tapi membuat pemberitaan yang human interest. Jurnalis dapat memberikan penjelasan terhadap pertanyaan yang aiajukannya dengan tujuan membantu penyintas atau keluarganya atau narasumber memahami dan menangkap maksud pertanyaan tersebut atau menggali lebih dalam.
  • Berhati-hati menyela pembicaraan –> hal yang perlu diingat adalah penyintas dan keluarga mereka masih dalam kondisi emosi yang belum stabil dan terguncang pasca peristiwa yang mereka alami sehingga cara menyela atau mengarahkan pembicaraan bila melantur dapat berdampak salah paham. Bisa jadi informasi atau jawaban penyintas atau keluarganya keluar dari konteks atau melantur kemana-mana. Hal ini perlu dimaklumi dan dipahami mengingat kondisi psikologis (terutama emosi) mereka pasca peristiwa traumatis tersebut berbeda dengan kondisi biasanya. Peristiwa traumatis juga berdampak pada kemampuan berpikir (kognisi) individu terutama konsentrasi mereka sehingga kemungkinan melantur bisa terjadi dengan kemampuan konsentrasi yang terganggu atau menurun tersebut. Apabila hendak mengarahkan kembali pembicaraan penyintas atau keluarganya lakukanlah dengan cara yang sopan dan menghargai mereka (misal “maaf pak, maksud saya…”)
  • Menyampaikan terima kasih –> terima kasih menjadi salah satu bentuk penghargaan (apresiasi) yang menunjukkan bahwa anda sangat menghargai segala informasi yang telah diberikan oleh narasumber. Ucapan terima kasih juga bisa menjadi penguat mental bagi penyintas dan keluarganya karena mereka merasa dihargai oleh orang lain (dalam hal ini media)

Tips menulis dan atau menayangkan peristiwa traumatis:

  • Perhatikan akurasi informasi dan berita yang anda tulis/ tayangkan/ siarkan –> Pastikan data-data yang hendak anda tulis/ tayangkan sudah akurat, sudah dicek ulang agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan data atau informasi tersebut terutama data yang berkaitan dengan korban atau sumber berita lainnya. Klarifikasi kembali dengan narasumber baik itu penyintas, keluarganya maupun pihak berwenang yang terkait dengan peristiwa tersebut (misal: petugas kesehatan, kepolisian, perusahaan penerbangan, pemerintah dll).
  • Hormati dan hargai narasumber berita anda bila ia tidak ingin identitasnya diketahui oleh masyarakat banyak melalui media massa
  • Lakukan penyuntingan diri tanpa mengorbankan akurasi untuk menghindari efek traumatis (misal: re-traumatisasi atau trauma sekunder) dari pemberitaan yang anda tayangkan/ siarkan/ terbitkan
  • Bedakan antara menyajikan fakta dan memberi opini terhadap peristiwa traumatis –> Pemberitaan mengenai satu peristiwa traumatis tentu saja merupakan pemberitaan yang berisi fakta-fakta dan bukan opini dari penulis berita. Beritakanlah fakta terkait atau informasi terkait yang dapat membantu penanganan peristiwa traumatis dan dampaknya. Hindari memberikan opini anda (media anda) terhadap peristiwa tersebut karena untuk tulisan/ tayangan yang bersifat opini biasanya media memiliki ruang tersendiri. Penulisan opini dalam peliputan peristiwa traumatis juga beresiko memperburuk keadaan yang dapat menghambat proses penanganannya dan juga proses pemulihan bagi penyintas maupun keluarganya.
  • Pertimbangkan dampak tulisan/ tayangan/ siaran anda terhadap berbagai pihak terkait terutama para penyintas dan keluarga penbyintas (korban) –> Pertimbangkan pula apabila anda yang mengalami peristiwa traumatis tersebut menyaksikan tayangan atau tulisan mengenai peristiwa tersebut oleh seorang jurnalis yang meliput dan menjadikan anda narasumber. Sejauhmana tulisan atau tayangan yang anda buat membantu proses pemulihan penyintas, keluarga atau bahkan masyarakat terdampak. Jadikan berita tidak hanya sebagai penggambaran fakta tapi juga sebagai media pemulihan pasca peristiwa traumatis bagi berbagai pihak.
  • Berhati-hati melakukan pemberitaan mengenai uang/ dana bantuan yang diberikan–>Dalam satu sisi pemberitaan ini akan mendorong upaya transparansi dan akuntabilitas pemberian bantuan. Namun bila tidak dilakukan dengan proporsional dan mempertimbangkan situasi dan kondisi penyintas maupun keluarganya dapat memberikan imbas tidak baik bagi mereka. Bisa saja informasi tentang jumlah dana yang diterima oleh penyintas atau keluarganya dapat menjadikan mereka target kejahatan atau menimbulkan rasa iri pada pihak lain atau memberi kesan bahwa penyintas “mendadak kaya”. Pemberitaan mengenai dana bantuan ini dapat dilakukan dalam kerangka memonitoring pelaksanaan pemberian bantuan agar tidak diselewengkan dan tentu saja dalam koridor yang tidak menimbulkan ekses negatif bagi penyintas.
  • Hindari pemberitaan berulang-ulang tentang peristiwa traumatis tersebut –>Pemberitaan mengenai hal yang sama berulang-ulang dalam waktu yang sangat berdekatan dapat membuat penyintas dan juga keluarganya mengalami re-traumatisasi (secara sederhana diartikan mengalami kembali penghayatan, sensasi yang sama dengan yang dirasakan/ dihayati pada saat peristiwa tersebut terjadi). Paparan berlebihan terutama gambaran visual peristiwa traumatis atau informasi detil kronologis peristiwa sebaiknya dihindari, beritakan saja secukupnya secara proporsional.
  • Beritakan informasi tentang bantuan yang dapat diberikan atau dapat dilakukan –> Informasi semacam ini akan jauh lebih berguna bagi masyarakat umum yang hendak membantu, kelompok-kelompok keahlian tertentu yang hendak menyumbangkan keahliannya (misal: dokter, psikolog, pekerja sosial dll) ataupuan penyintas dan keluarga mereka. Informasi mengenai hal tersebut juga akan membantu kerja pemerintah dan pihak berwenang dalam menanggulangi peristiwa tersebut sehingga semua pihak dapat terlibat dalam proses pemulihan penyintas dan keluarganya dengan cara yang lebih efektif.
  • Ingatlah bahwa rating bukan segalanya –> Tak dapat dipungkiri  penilaian sejauhmana informasi tersebut ditonton, dididengar dan dibaca saat ini salah satunya ditentukan oleh rating. Namun perlu diingat bahwa peliputan yang menghargai nilai kemanusiaan jauh lebih berharga (priceless) dan memiliki penilaian yang lebih baik dimata konsumen berita media ketimbang penilaian dari hasil rating. Anda bisa melihat dari komentar-komentar masyarakat (di media sosial misalnya) yang lebih menghargai pemberitaan yang menghargai nilai kemanusiaan ketika meliput satu  peristiwa traumatis .

Catatan:

  • Istilah penyintas berasal dari kata “sintas” dan merupakan terjemahan yang sering digunakan untuk kata “survivor” . Sintas sendiri menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti “terus bertahan hidup, mampu mempertahankan keberadaannya”. Penyintas berarti orang yang mampu bertahan hidup
  • Tulisan ini sepenuhnya merupakan pendapat dari penulis yang banyak merujuk dari  Buku “Panduan Bagi Jurnalis dalam Meliput Peristiwa Traumatis” yang diterbitkan oleh Yayasan Pulih dengan perubahan dan penambahan seperlunya sesuai dengan konteks kekinian.
  • Untuk informasi lebih lengkap dapat menghubungi Yayasan Pulih di Jl Teluk Peleng No 63 A Komp Al Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan; Telp: 021-78842580; Fax: 021-7823021; email: pulihfoundation@gmail.com atau info@pulih.or.id
  • Bagi yang membutuhkan buku maupun leaflet “Panduan Bagi Jurnalis dalam Meliput Peristiwa Traumatis” ini dapat menghubungi Yayasan Pulih dan untuk mendapatkannya bisa diambil langsung ke kantor Yayasan Pulih atau dikirim via perusahaan pengiriman barang dengan dikenakan ongkos kirim

Sumber:

  • Yayasan Pulih. Panduan bagi Jurnalis dalam Meliput Peristiwa Traumatis. 2003. Jakarta: Yayasan Pulih
  • Norcahyo Waskito. Materi Pelatihan PFA. 2009. Jakarta: Yayasan Pulih

Tautan asli bisa dibaca di: https://www.facebook.com/notes/norcahyo-waskito/tips-meliput-peristiwa-traumatis-panduan-bagi-kawan-jurnalis-dan-media/772497496120424

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s