long way love

Our journey
is still a long way ahead, Love.
Be patient.
Enjoy the bump, turns,
climb and down of the road.
So that, when we’ve arrived
at the destined destination,
we can retalk the tale of our walk
easily, gratefully and happily.

This tough journey of ours
is a symbol of our precious love–
a love worth fighting for,
until our very last strength.
Hold my hands tight, don’t let go,
as I will never let my grasp escape yours.
Trust that I was created to love you
as you were to me.
You are the only home for my heart
and I am your better half.
We are one–
I am you and you are me..

Once you said, you’d die for me,
but remember I asked contrary,
“Don’t. Live for me.
Die is easy.
Live with me won’t be.
It’d be more challenging,
beautiful and priceless
Don’t you want to live in God’s blesses
by being my leader?”
Therefore, keep living for me, baby.
I will show you the true meaning of happiness,
as you will show me the way to heaven.
The rest, let’s sail this ocean of time together.
You are the captain
and I am your crew.

image
The beautiful Jembatan Kelok 9 (The 9 Turns Bridge/Road) of West Sumatra, Indonesia

===========================
Original poem, as posted on my Facebook:

Masih jauh perjalanan kita, kekasihku.
Bersabarlah.
Kita nikmati kerikil, belokan,
tanjakan dan turunannya.
Agar saat tiba di destinasi yang ditentukan-Nya,
kita bisa bercerita ulang tentang perjalanan tersebut,
dengan rasa lega, syukur dan suka cita.

Perjalanan penuh perjuangan ini
menjadi tanda bahwa cinta yang kita punya
memang amat berharga dan layak diperjuangkan,
sampai tetes keringat terakhir.
Pegang erat tanganku, jangan lepas,
sebagaimana aku takkan pernah melepaskan jalinan jemariku di genggammu.
Yakinlah bahwa aku untukmu dan kamu untukku.
Kamulah satu-satu rumah hatiku
dan aku adalah separuh nafasmu.
Kita adalah satu–
aku adalah kamu dan kamu adalah aku..

Kamu pernah katakan rela mati demi aku,
tapi ingatkah, aku meminta sebaliknya,
“Tidak. Hiduplah untukku.
Mati itu mudah.
Hidup bersamaku akan jauh lebih menantang, indah dan berharga.
Tak inginkah kau mendulang pahala
sebagai imamku?”
Maka teruslah hidup untukku, sayang.
Akan kutunjukkan kepadamu makna sejati bahagia,
sebagaimana kau akan tunjukkan kepadaku jalan menuju surga.
Sisanya, mari kita layari lautan waktu ini bersama-sama.
Kau sang kapten nakhoda
dan aku mualimnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s