mahar, mahar, mahar

Hmm.. Arham nulisnya emang rada bercanda, kalimatnya jenaka, tapi topiknya seriously nyata. Soal uang mahar, di sejumlah suku dan budaya di Indonesia memang jadi hal yang sensi untuk dibahas.

Di budaya Sunda dan Jawa, setahu saya sih, urusan mahar tidak terlalu penting. Ini based on pengalaman pribadi ya.. Jadinya, waktu baca bahwa di kultur Sulawesi dan Sumatera itu urusan mahar amat sangat serius, bahkan bisa jadi penunda pernikahan, saya jadi rada gimanaaa gitu.. Antara mengangkat alis sebelah keheranan, dan berasa kagum.

Buat saya pribadi, yang namanya mahar itu adalah hak si perempuan. Kultur Jawa dan Sunda ngga terlalu ketat soal ini. Silakan aja maharnya berapa, toh keluarga si pengantin perempuan ngga akan terlalu musingin juga. Padahal kalau dipikir logika, ada bagusnya juga kalau si calon suami ini diminta mahar yang tinggi (tapi realistis yaa, bukan fantastis), sebagai jaminan buat keluarga perempuan bahwa dia memang MAMPU menghidupi si calon istrinya.

Kalau ngga begitu, kejadiannya bakal kayak saya… dua kali menikah dan dua-duanya sayalah yang menghidupi rumah tangga kami: rumah dari saya, nafkah juga saya yang cari. Sedangkan suami, meski MUNGKIN BENAR bahwa mereka ngga bermaksud bermalas-malasan, tetep aja mereka membiarkan saya yang mencari nafkah. 🙂 Tapi sudahlah, biar Allah saja nanti yang menjadi hakim. Saya juga bukannya tidak ikhlas. Saya hanya sedih, selalu keliru memilih laki-laki (begitu kata almarhumah mama saya). Mereka bukan imam yang layak untuk saya, makanya Allah tidak membiarkan saya tetap bertahan dalam rumah tangga itu. Mungkin daripada jadinya mudharat, karena sang “imam” tidak mampu menjalankan amanah dari Allah untuk menjadi imam. Ah, sudahlah…

Yuk kita lanjut ke postingan Arham.

Soal Arham, dia kawan baik saya. Kenal sejak 2006, sebelum dia meluncurkan buku “Jakarta Underkompor” (2008) dan buku “Kopistarbuk” (2014). Saya sempet jadi temen curhatnya juga sebelum dia married, huehehehe.. *buka kartu* Peace, Arham! :p

Gak tau ini udah repost ke berapa kalinya di timeline gw hari ini, tapi rasanya sayang juga kalo dicuekin, karena berita bermuatan norak seperti inipun sebenarnya bisa diambil hikmah dan nilai edukasi bagi yang mau belajar.

Gw pernah nulis di postingan tentang jomblo. Kalo jodoh pasti bertemu, dan kalo gak jodoh ya masih bisa bertamu. Dan ini terbukti, sang mantan di berita ini dipertemukan di pelaminan dengan kekasihnya, tapi sebagai tamu. Sakitnya itu gak tau di mana. Dan gak tau siapa yang bisa disalahkan dalam hal ini, karena di beritanya gak detail disebutkan faktor penyebab penolakan lamaran si lelaki sampe harus move-on dan nikah dengan wanita lain.

Dalam adat kami di Sulawesi, memang ada istilah “uang panaik” yang kadang memberatkan bahkan bisa mematikan jodoh dengan sekali skak mat. Boleh jadi ini salah satu penyebabnya. Andai hukum adat seperti Undang-Undang yang bisa diamandemen, mungkin sudah lama dilakukan untuk menghapus pasal-pasal uang panaik ini. Musisi lokal Art2Tonic pernah membuat lagu yang salah satu liriknya “kalo mau protes soal uang panaik, ya protes aja sama nenek moyang”. Lagu humor satir ini jadi booming di seantero Sulawesi. Booming-nya lagu ini sebenarnya sudah bisa jadi parameter keresahan berjamaah bagi para jomblo, khususnya bagi yang Golkar (golongan kasep rabi) *translate in Javanese please*.

Apalagi standar uang panaik ini gak hanya mengikuti kurs rupiah, inflasi, dan deflasi, tapi juga sesuai klasifikasi pendidikan dan kelas sosial, yang secara gak langsung telah membentuk strata di masyarakat. *Anjrit, sok sosiolog banget dah gw, padahal wajah kriminolog, hiks..*

Tapi emang ini beneran. Entah apa esensi pernikahan dan pesan adat yang ingin disampaikan. Standar wanita kelas biasa itu di sini sekarang kalo gak salah mencapai nominal 30 juta-an, kalo sudah haji bisa 40-50 jutaan. Nah, kalo pendidikannya tinggi lain lagi. Yang sudah sarjana S-2 bisa sampe 50 juta. S-3 sampe 100 juta. Untung gak ada pendidikan sampe s-5. Emangnya Samsung?
Maka bersyukurlah gw dulu gak ada masalah di panaik, kebetulan nemu keluarga baik hati yang ngasih keringanan di pembiayaan, walaupun gak pake angsuran dan jatuh tempo.

Kembali ke soal berita di atas. Saat masih menjomblo dulu, gw sempat beberapa kali menghadiri pesta kawinan mantan. Dan memang rasanya mustahil untuk tegar. Keringat dingin membanjiri dan bulu kuduk merinding, susah dibahasakan, walau dengan bahasa Java Script sekalipun. Kurang lebih sama kayak perasaan nahan boker di jalan tol. Bohong kalo ada yang bilang tegar saat menghadiri kawinan mantan, meski misalnya wedding singernya Ully Sigar Rusadi sambil nyanyi: Tegaaaaar..!! Tegaaaar..!!

Kalo udah gitu, untuk menutupi perasaan, biasanya gw lampiaskan dengan makan yang banyak dan ngisi angpaw dikit. Rasain..!

Emak gw pernah cerita, di kampung dulu, di daerah bernama Salabangka, Sulawesi Tengah, pernah ada kejadian heboh seperti berita ini. Adegannya lebih mengharukan dari berita di atas, bahkan lebih filmis dari adegan Rahul saat datang dan nyanyi di pesta nikahan Anjali dalam film Kuch-Kuch Hotta Hai.
Alkisah seorang pemuda yang masih terhitung paman gw juga, datang ke pesta nikahan kekasihnya yang dijodohkan secara paksa dengan orang lain. Si pemuda datang gak tangan kosong, tapi dengan membawa sebuah biola. Saat resepsi berlangsung, si pemuda memainkan biolanya di hadapan tamu. Musiknya menyayat-nyayat. Emak gw jadi saksi hidup peristiwa itu. Entah karena galau, terbawa perasaan atau gimana, pengantin wanita tiba-tiba kabur dari kursi pelaminan dan melompat keluar jendela, ogah melanjutkan prosesi pernikahan. Padahal endingnya si pemuda itu konon menikah juga dengan orang lain. Ya namanya juga jodoh, only God knows.

Cerita ini akhirnya jadi semacam legenda cinta heroik di kampung yang diceritakan turun-temurun. Kayaknya gak bakal terulang lagi kisah seperti itu. Untung paman gw itu hidup di jaman lampau, setidaknya bisa memberi kami kisah hikmah, karena andai beliau hidup di jaman sekarang mungkin beliau dan biolanya mentoknya hanya di Indonesia Mencari Bakat.

Selain uang panaik, garis keturunan juga jadi faktor penghalang perjodohan. Gak heran tante-tante gw di kampung banyak yang nasibnya berakhir dengan pangkat Pratu, alias perawan tua. Bahkan bapak gw aja dulu saat datang melamar emak gw, menurut cerita emak gw beliau sambil berpakaian seragam militer, mengingat keluarga emak gw juga dulu tergolong penganut hukum adat yang keras. Seorang anak buah bapak gw malah lebih ekstrim lagi, menaruh sepucuk revolver di atas meja calon mertua. Berani nolak, revolver bisa menyalak.

Ini sebenarnya mindset yang perlu diubah, dan sudah tugas kita untuk memulainya. Mau perkara adat kek, garis keturunan kek, garis khatulistiwa kek, kalo orangnya baik dan agamanya oke, ngapain nunggu lama? Toh agama sudah memudahkan, gak bijak kalo kita sok menyusahkan. Takut kualat? insyaallah yakin aja nggak.

Buat yang jomblo, poin yang bisa diambil dari cerita ini kalo pacaran itu jangan kelamaan, cukup taaruf aja. Seperti kata pepatah “Tak Kenal Maka Taáruf”.
Tuh Pevita Pearce aja nunggu diajakin taaruf.

Diluar dari urusan uang panaik, keturunan, atau apapun, ketegasan dalam membangun komitmen dan komunikasi itu yang penting. Buat yang cewek gak usah tunggu yang mapan, karena kebanyakan yang mapan itu biasanya suami orang.

Yang cowok juga harus punya keberanian. Jangan cuma bisa ngasih kode, karena anda itu calon suami, bukan tukang vocer pulsa..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s