Cerita di Balik TOT 2014: Beginilah Jika Orang Cerdas Berkumpul

As published here: http://www.pnpm-perkotaan.org/wartadetil.asp?mid=6579&catid=3&

Oleh:  Nina Firstavina, SE  Editor Web  PNPM Mandiri Perkotaan
Nina Firstavina, SE (Editor Web PNPM Mandiri Perkotaan)

Meski sudah menginjak hari ke-4 periode Training of Trainers (TOT) Penguatan, pembahasan materi yang dilakukan para Tenaga Ahli (TA) PNPM Mandiri Perkotaan se-Indonesia tidak pernah sepi perdebatan seru yang diwarnai canda dan derai tawa. Mungkin beginilah jika orang cerdas berkumpul. Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap dalam kegiatan TOT sepanjang hari Senin, 24 Maret 2014 kemarin.

TOT kali ini dilaksanakan di dua lokasi berbeda. Untuk TA PNPM Mandiri Perkotaan wilayah 1 dari 14 provinsi, TOT digelar di Great Western Resort (GWR) Hotel, JL. MH. Thamrin KM.2,7 Kebon Nanas, Cikokol, Tangerang. Sedangkan untuk TA PNPM Mandiri Perkotaan wilayah 2 dari 19 provinsi, termasuk OSP 10 Aceh, di Soll Marina Hotel (SMH), Jl. Raya Serpong KM.7, Serpong Utara, Tangerang. Meski lokasinya berbeda, kedua hotel ini masih dalam jangkauan tempuh memadai, yakni sekira 3,9 km saja. Mungkin hanya kepadatan lalu lintas sajalah yang membuat para TA terkendala berkunjung ke lokasi TOT rekan wilayah tetangganya.

Meski demikian, Redaksi yang berkesempatan berkunjung secara berkala ke kedua lokasi menyaksikan bahwa kegiatan pembahasan materi, baik di GWR maupun SMH, sama-sama kritis, seru, dan tentunya diselingi celetukan dan humor segar. Tampaknya para ahli ini sadar betul, salah satu upaya ampuh menangkal jenuh saat berpikir keras adalah dengan candaan dan tawa renyah. Apalagi cara yang sama juga manjur untuk menjalin keakraban dan mengeratkan tali persaudaraan di antara pelaku PNPM Mandiri Perkotaan.

Ber-Disko (Diskusi Kelompok) di meja atau di lantai pun jadi. Ini adalah suasana
TOT Penguatan PNPM Mandiri Perkotaan wilayah 1 di GWR, Serpong, Tangerang

Para TA kita tak ragu ber-Disko—maksudnya Diskusi Kelompok—dengan cara duduk di lantai, menggelar plano, menuliskan pemikiran dan masukan dari rekan-rekan sekelompoknya di atas plano. Bahkan di sejumlah kelompok terlihat melakban plano hingga 3-4 lembar, ke samping, agar muat membuat matriks pemikiran dari mereka. Perbedaan usia dan jenis kelamin tidak menjadi halangan untuk saling mengeluarkan pendapat dengan gamblang. Bahkan, jika perlu, saling berdebat sehat dan melontarkan argumen yang jauh dari kesan cemen. Ya, begitulah jika orang-orang cerdas berkumpul, mengizinkan pikiran cemerlangnya saling bergumul.

Ber-Disko di bangku tanpa meja atau di lantai pun jadi. Ini adalah suasana
TOT PNPM Mandiri Perkotaan wilayah 2 di SMH, Serpong, Tangerang

Hanya satu “kelemahan” dari para manusia cerdas tersebut—itupun jika bisa dibilang kelemahan. Yaitu, ketika sesi penggabungan hasil diskusi sebelumnya dari seluruh kelas—dalam hal ini kelas A sampai F untuk TOT di SMH—seharusnya tidak ada lagi diskusi atau perdebatan. Yang ada, seharusnya, adalah “sinkronisasi” dan penghapusan jika usulannya sama atau berganda. Namun yang terjadi adalah perdebatan, bahkan cenderung menambah usulan di luar kesepakatan.

Sesi tersebut, menurut saya pribadi, menggelitik. Pasalnya, para TA sendiri menyadari hal ini. “Lha kok kita nambah usulan? Kan harusnya kita ini hanya copy-paste saja,” begitu celetuk salah satu TA di kelas gabungan yang membahas materi “Peran Pemda”. Celetukan itu disambut gelak tawa TA lainnya.

“Ya, begini ini kalau orang cerdas ngumpul. Kita malah mendebat bahasanya, bukan substansinya,” sahut TA Local Government (LG) OSP 6 Provinsi Jawa Timur Nurul. Memang secara substansi mereka adalah ahlinya, tapi soal pengertian bahasa mungkin masih meragukan. Maklum, mereka bukan editor, he he he.. Ketika akhirnya para TA “sepakat” untuk tidak lagi memberi usulan tambahan, apalagi mendadak membuat “modul”, proses penggabungan hasil diskusi kelas pun rampung lebih cepat.

Menggabungkan beberapa pemikiran serupa
memang tidak mudah. Apalagi disatukan dengan
pihak/kelompok lain. Yang kadang terjadi malah
ada diskusi dan usulan tambahan
di luar kesepakatan.

Salah satu contoh metode yang menggunakan
empat station. Tinggal copy paste saja hasil
diskusi dari kelas masing-masing. Cara cerdas,
tapi tak memungkiri masih ada sisa
diskusi tambahan karena “penasaran”

Namun, tidak semua kelas melakukan metode yang sama. Kelas “Kelembagaan”, contohnya, pemandu menerapkan cara lebih ringkas, yaitu membuka empat laptop sebagai “station”. Laptop I: Pembangunan BKM, Laptop II: Review Penilaian Perkembangan Kelembagaan BKM—6 aspek penilaian, Laptop III: Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan BKM, Laptop IV: Badan Hukum UPK. Jadi perwakilan dari setiap kelas (A, B, C, D, E dan F) tinggal memasukkan hasil diskusi kelas masing-masing sesuai sub tema materi “Kelembagaan” tadi.

“Maklum, orang-orang pintar itu kalau tidak dibatasi, bisa semakin luas membahas materinya, sementara kita kan terbatas waktu,” kata Sub TA Kelembagaan KMP PNPM Mandiri Perkotaan wilayah 2 Tomy Risqi, sebagai salah satu pemandu. Cara cerdas!

Bersambung.. [Redaksi]

Advertisements
Categories:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s