Being Honest VS Being Naive

Being Honest vs Being Naive
Being Honest vs Being Naive

Sepanjang hidup, saya dididik oleh orangtua agar menjadi manusia yang jujur. Apapun yang terjadi. Tapi, sepertinya mereka lupa memberitahukan efek samping dari kejujuran.

No. Postingan ini bukan tentang menggugat didikan orangtua saya. They’re the perfect parents for me and they have done a handsome job to raise three daughters for the past (almost) 36 years–since I was born, as I’m the oldest one.

Di entry kali ini, saya hanya ingin mengungkapkan bahwa kadang hidup bisa sedikit lebih rumit daripada yang dibayangkan. Ini menyebabkan teori tidak bisa dipraktikkan bulat-bulat ke dalam hidup. Salah satunya, ya soal kejujuran ini. Jika kita mengaplikasikannya tanpa dipikirkan lebih dulu, jatuh-jatuhnya kita dicap “Naif”–ehem, no, yang ini bukan nama band lho, ya.

Buat saya pribadi, saya ngga pernah takut dicap “naif”. But, some people does afraid to be called as a “naive” person. Maklum, kata “naif” ini bersinonim dengan kata sederhana, lugu dan tidak banyak bertingkah. Bahkan, pengertian lainnya adalah: tidak logis dan bodoh. Wow, pantesan orang lain berlomba-lomba menghindar dari kesan “naif”.

Sedangkan saya? Well, jujur, saya lebih suka bersikap masa bodoh. Maksudnya, saya tidak terlalu peduli dengan anggapan orang lain terhadap kepribadian saya–naif kah, cerdas kah, lemot kah. Yah, memang sih pencitraan diri, bagaimanapun, penting. Namun, tetap saja, saya lebih suka bersikap apa adanya, walau “bayaran” atau konsekuensinya adalah dicap naif. And, I frankly don’t care. Apalagi, for me, dicap being naive is kind of cute. Hahaha.. 🙂

Hanya saja, seiring waktu berjalan, usia saya bertambah, begitu pula pengalaman hidup, saya belajar bahwa dicap naif terus menerus, ya ngga baik juga. Terutama untuk karier. Professionally, you can’t be naive. It’s rather dangerous, not only to your career, but also to your integrity. Ya, secara profesional, kita ngga boleh dianggap naif, karena berbahaya untuk karier dan, lebih lanjut: integritas.

Di sisi lain, kejujuran juga sangat berpengaruh pada integritas. Untuk itulah, kejujuran harus dipegang teguh atas nama profesionalisme (bukan karier, ya) dan tentunya atas nama integritas. Buat saya pribadi, profesionalisme lebih penting daripada karier. Sepahit apapun kejujuran yang saya bawa dalam pekerjaan, tetap harus ditegakkan. Hanya saja, not so necessarilly untuk disampaikan–begitu saya diajarkan senior saya dalam berkarier. Nah!

“Kejujuran, harus ditegakkan, tapi tak harus selalu disampaikan. Menyembunyikan fakta atau tak menyampaikan fakta bukan berarti bohong.”

Ini statement yang menarik, menurut saya.

Saat mendengar statement tersebut, jiwa polos (baca: naif) saya mendebatnya. “Kok bisa begitu? Menyembunyikan artinya berbohong, dong!” kata saya waktu itu kepada sang senior.

Dengan ringan, ia menjawab, “Ya nggak dong. Berbohong itu menyampaikan sesuatu yang bukan fakta, atau malah bertentangan dengan fakta. Kebohongan adalah dusta. Kebohongan adalah lawan dari kejujuran. Tapi menyembunyikan…??”

Damn. Waktu itu saya merasa tertampar, menyadari kepolosan saya.

“Menyembunyikan bukan bohong. Itu hanya proses menunda kejujuran,” tegas senior tersebut.

Di titik ini, saya tertawa. Betul juga. Mungkin sebetulnya senior saya waktu itu hanya bermain kata-kata. Maklum, ia seorang wartawan, yang perbendaharaan kata dan diksinya luar biasa luas. Namun, saya mengakui kebenaran dari kalimat tersebut.

Dalam pekerjaan saya sebagai reporter delapan tahun lalu, saya belajar bahwa tidak semua berita (fakta) harus disampaikan dalam sebuah tulisan. Kalaupun harus disampaikan (karena kewajiban moral), fakta tersebut harus dikemas serapi mungkin, sehingga kejujuran itu tidak terlalu menyakitkan untuk dibaca publik. Mengemas kejujuran dengan kalimat yang lembut, pun bukan kebohongan. Hmmm..

Itu dari sisi profesionalisme. Sekarang, secara kehidupan sehari-hari. Banyak alasan kenapa kita tidak harus jujur setiap saat. Pernah, saya mengeluh sakit kepada suami, ketika saya sedang sibuk kerja di kantor. Efeknya, suami saya tidak konsentrasi mengerjakan apa-apa di kantornya, gegara dia mengkhawatirkan keadaan saya. Padahal saya tidak minta dikhawatirkan sampai seperti itu, tapi toh suami sudah terlanjur superworried. Ujung-ujungnya kami jadi berdebat. Ya mana bisa saya menyalahkan perhatian (yang agak berlebihan) dari suami saya itu? Itu kan bentuk cinta dia kepada saya. Lha trus saya kenapa pake “jujur” bilang ke dia kalau saya merasa sakit hari itu? Jawabannya, “Why shouldn’t I??”

Kesimpulannya: jangan terlalu jujur. Fact noted.

Banyak hal lain yang pada akhirnya menuntut kita untuk tidak selalu mengungkapkan kejujuran. Alias, kejujuran baru bisa diungkapkan kalau waktu dan kondisinya sudah tepat. Sebetulnya kalimat terakhir itu bertentangan dengan nurani saya sendiri. Mana boleh kejujuran dikekang oleh dimensi (waktu dan situasi)? Tapi kemudian, saya belajar, hal semacam itu (menunggu momen yang tepat) memang diperlukan.

Bagaimana menurut kamerads pembaca? Feel free to comment and discuss this. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s