Diksi dan Tips Lainnya

ilustrasi diksi. original image is modified by Nina Firstavina
Diksi = pilihan kata

Sambil memroses tulisan Askot CD PNPM Mandiri Perkotaan Kota Bitung Feidy J. Kemur tadi, saya sekalian merancang tips dan trik soal diksi–seperti yang saya janjikan beberapa waktu sebelumnya kepada Pak Feidy dan juga Kang Muhammad Ridwan (Lampung). Selain diksi, ada beberapa tips lainnya nih. Semoga bermanfaat yaa..

(1). Diksi.

Secara definisi, diksi (kata benda) artinya pilihan kata; penggunaan kata yang sesuai dalam penyampaian suatu gagasan dengan tema pembicaraan, peristiwa, atau pemirsa. (Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Drs. Peter Salim, M.A/Yenny Salim, B.Sc, Modern English Press Jakarta, Edisi Ketiga, 2002).ย Ehem, sepertinya saya harus beli kamus baru, secara EYD itu selalu mengalami perubahan setiap 3 tahun. ^_^


Jadi, diksi ini terkait erat dengan kemampuan kita mencari sinonim (persamaan kata). Dalam dunia media, khususnya media cetak, seorang reporter/pewarta sangat dianjurkan memilih kata yang paling ringkas, lugas (tidak berbelit-belit), dan tentu saja, tepat.
Berikut adalah contoh diksi yang (kebetulan) saya ingat:
  • sampai dengan = hingga (lebih ringkas)
  • sekitar = sekira (lebih tepat)
  • saat ini = kini
  • sekarang = kini
  • terdiri dari = terdiri atas (tepat)
  • Rp30ribu = Rp30.000
  • Rp2 M = Rp2 miliar
dan seterusnya. (tambahannya boleh dicantumkan di komentar) ๐Ÿ™‚

(2). Tidak perlu mengulang kata sebagai pengganti keterangan jamak. Cukup satu kata saja: program-program = program, institusi-institusi = institusi, gara-gara = gegara, dan seterusnya.

(3). Menggunakan koma (,) sebagai pengganti “bahwa” atau sebaliknya.

Contoh:
Dalam presentasinya Koordinator Kota PNPM Mandiri Perkotaan Kota Bitung Teddy Sulangi mengatakan, Kota Bitung telah mengalami banyak perkembangan dalam beberapa tahun belakangan ini.

—————— atau ———————–

Dalam presentasinya Koordinator Kota PNPM Mandiri Perkotaan Kota Bitung Teddy Sulangi mengatakan bahwa Kota Bitung telah mengalami banyak perkembangan dalam beberapa tahun belakangan ini.
Perhatikan!ย Jika “bahwa” digunakan, tidak lagi menggunakan koma (,) atau sebaliknya.
(4). Perhatikan penggunaan awalan “di”.
Jika maksudnya adalah keterangan arah atau tempat/lokasi, “di” harus tertulis terpisah: di sana, di sisi lain, di mana-mana, di kota, di desa, di bawah, di atas, dan seterusnya.

Jika maksudnya BUKAN arah/tempat/lokasi, maka “di” tertulis menyambung dengan kata berikutnya: dirasakan, dilakukan, dipaparkan, diberikan, dilayangkan, dan seterusnya.

(5). Perhatikan narasumber (narsum) yang berbicara di setiap paragraf. Statement dengan kalimat aktif (kutipan langsung) maupun pasif (berupa kalimat biasa/non-kutipan) harus selalu diikuti dengan keterangan siapa yang mengatakannya. Jika sudah berganti narasumber, maka nama narasumber harus disebutkan agar pembaca dapat membedakan.

(6). Biasakan membuat tulisan yang teratur. Jika sedang membahas satu narsum, silakan bahas sampai habis semua pernyataannya. Jangan meloncat dari narsum A ke narsum B, ke narsum C lalu ke narsum A kembali kemudian ke C, dan seterusnya. Meskipun secara kronologi (urutan kejadian/event-nya) memang demikian, tapi–ini seringkali saya ingatkan–pewarta/penulis seharusnya TIDAK TERBELENGGU KRONOLOGI.

(7). Menyingkat tulisan adalah HARAM hukumnya. hehehe.. Anda sedang menulis artikel/berita, bukan SMS, jadi jangan disingkat-singkat yaa!
  • Yg = yang
  • Dll = dan lain-lain
  • Dst = dan seterusnya
  • Dlm = dalam
dan seterusnya… ๐Ÿ™‚

(8). Cara menyambung satu paragraf dengan paragraf berikutnya? Simpel. Gunakan kata sambung.
  • “Sementara itu, … … …”
  • “Pada kesempatan yang sama … … …”
  • “Pada kesempatan berbeda..”
  • “Senada dengan A, B mengatakan, … … …”
dan seterusnya

(9). Hindari penggunaan kata yang sama (itu-itu saja) dalam satu kalimat.
Umumnya pewarta/penulis sangat sering menggunakan kata “yang”. Secara definisi, kata “yang” (p = partikel) adalah sebagai pembeda dari satu kata (terhadap kata lainnya); menyatakan bahwa bagian kalimat berikutnya menyelaskan kata di depannya; digunakan sebagai kata penyerta.
Contoh kalimat yang terlalu banyak menggunakan kata “yang” (saya ngambil contoh dari salah satu tulisan, yang merasa maaf lho, hehehe..)

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh Babe Heru yang setiap harinya dipangil oleh temen-temen faskel serta jajaran pegawai korkot lainya yang selalu ketemu di Korkot.

Penggunaan kata “yang” di atas bisa dibilang rancu, apalagi menggunakan kalimat majemuk.
(Catatan: Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Setiap kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya).ย Jika ingin menggunakan kalimat majemuk, cukup 2 pola saja. Lebih dari itu bisa rancu.

Hasil editan kalimat tersebut (setelah saya berpikir 20 menit bagaimana mengubah kalimatnya agar lebih ringkas dan dimengerti pembaca):
Laki-laki yang biasa dipanggil “Babe Heru” oleh faskel serta jajaran pegawai korkot lainnya itu bisa melakukan banyak hal di Kantor Koorkot.

Contoh berikutnya (masih dari tulisan yang sama, hohohoho..)

“Yang menarik waktu diskusi dengan faskel serta askot banyak hal pemikiran dan ide yang memang nyata dimasyarakat diutarakan.seperti contoh yang dialami sendiri terkait dengan kegiatan social yang mereka kawal seperti kegiatan pelatihan yang selama ini dilakukan belum benar-benar menyentuh dan menyelesaikan kebutuhan masyarakat”

Hasil editannya:
Satu hal menarik, ketika diajak diskusi oleh Faskel dan Askot, ia banyak mengemukakan pemikiran dan ide. Salah satunya, terkait kegiatan sosial pelatihan, yang ternyata selama ini belum benar-benar menyentuh dan menyelesaikan kebutuhan masyarakat.

— Bisa lihat perbedaannya kan, kawan-kawan? Mana kalimat yang lebih lugas dan lebih mudah dimengerti pembacanya? ๐Ÿ™‚

Nah, jadi, mohon kawan-kawan mengerti kenapa saya, sebagai editor, seringkali mengabaikan tulisan membingungkan (untuk saya) dan lebih mengutamakan menayangkan tulisan yang mudah untuk saya mengerti. Jikapun ternyata ada salah satu kawan yang tulisannya sudah lugas, tapi saya luput memasangnya sebagai prioritas tayang, bisa dipastikan tulisan tersebut terkena dampak dari pusingnya saya bertemu dengan tulisan membingungkan tadi. huehehehe.. *alesan* ๐Ÿ˜€

Baiklah, segini dulu tips dari saya. Semoga bermanfaat untuk kawan-kawan yang sedang belajar menjadi pewarta ataupun penulis. Aamiin.. Good luck dan tetaplah menulis. Sejatinya, penulis paling baik adalah mereka yang tidak pernah berhenti menulis dan tidak berhenti belajar serta memperbaiki kemampuannya. Semangat!

Jika ada kawan sesama editor atau pemerhati bahasa Indonesia membaca tulisan ini, silakan masukan dan kritiknya disampaikan. Saya tunggu yaa.. ๐Ÿ˜‰
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.