Informasi Jadi Mahal, Mungkinkah?

Selasa kemarin saya dan rekan sekantor, namanya Pak Sarman, mendadak berbincang soal informasi. Mulai dari informasi terkait pekerjaan (maklum, kami sama-sama satu tim mengelola website PNPM Mandiri Perkotaan yang notabene mengelola arus informasi yang melintas di situs kami) sampai bicara film bertemakan “mahalnya informasi”.

Film yang saya maksud adalah A.I. (Artificial Intelligence). Apa kawan-kawan ingat dan pernah menonton film tersebut? Film yang dirilis tahun 2001 itu dibintangi oleh aktor (dulu sih) bocah berbakat Haley Joel Osment—itu tuuu, yang pernah juga main film Sixth Sense bareng Bruce Willis. Dia dan co-star Jude Law berperan sebagai mecha/android (prototype robot yang sangat menyerupai manusia). Setting-an film-nya juga mengenai situasi hidup di masa depan. Nah, di masa tersebut, informasi menjadi sangat mahal. Untuk bertanya sesuatu hal remeh saja harus ke booth khusus dan penggunanya wajib membayar sekian dolar.

Nah, “mahalnya informasi” ini yang jadi bahan perbincangan saya dengan Pak Sarman. Kebetulan beliau ini kan ahli di dunia informatika dan programming juga. Beda memang, dengan saya yang background-nya jurnalis. Tapi bidang pekerjaan kami kan sama-sama mengelola informasi data. Kalau diibaratkan restoran, kami ini chef yang harus meramu bahan mentah menjadi hidangan menggiurkan yang bisa dinikmati pelanggan. Bedanya hanya di jenis “masakan”. Kalau saya jenis masakannya berbahan huruf, kata dan rangkaian kalimat, nah kalau Pak Sarman jenis masakannya berbahan angka, syntax dan script program. Masakan saya itu berbahasa manusia, lha masakan Pak Sarman itu berbahasa komputer. Hehehe..

Pada intinya, kami sama-sama mengerti lika-liku dunia informasi. Sama-sama mengoleksi, mengolah, menganalisis dan memaparkan kembali informasi.

Pak Sarman, yang kebetulan belum pernah menonton film A.I. sempat terpekur mendengarkan saya bersinopsis tentang film tersebut. Kemudian beliau berkomentar sesuatu, yang membuat saya berbalik jadi ikut terpekur juga. Komentar beliau simpel (walau agak panjang), “Wah, berarti bisa jadi strategi serupa akan dilakukan G00gle ya. Pemilik G00gle bener-bener bisa sangat kaya raya karena menguasai dunia informasi.”

Eh? “Maksudnya, Pak?” tanya saya.

“Lha iya, saat ini kan segala informasi kita cari lewat Mbah G00gle. Sedikit-sedikit, G00gle. Orang sak-dunia mengakses informasi lewat G00gle..”
‘Hmm.. Bener juga! G00gle sendiri sebagai search engine kan storing data juga, jadi tidak hanya sekadar memberi link,’ begitu saya berpikir. Kenapa saya berpikir begitu? Karena suatu kali, website kami pernah down, tapi saya iseng meng-g00gle-nya. Ternyata G00gle menawarkan saya untuk mengakses cache dari website yang terakhir di-copy oleh G00gle. Wow!!!

“Sekarang aja semua hal terkait informasi sudah terintegrasi dengan G00gle..”

Info? Wani piro?
Info? Wani piro?

Ketika beliau berbicara demikian, dalam benak saya mengalkulasi secara cepat terkait apa saja integrasi G00gle dimaksud dari kacamata sosialita non-programmer seperti saya ini. Hmm.. Sebut saja OS android, G00gle play, chrome, gmail, G00gle drive (store cloud), yahoo, picasa, dll, dll, dll. Wow! Dan ngga hanya G00gle, microsoft juga sama, mencoba menyaingi dengan windows live dan segala prentilannya, ditambah “senjata mumpuni” berupa operating system sebagai hardware dan software-nya. Sekali lagi, Wow lagiiii!!!

“…ini kan bisa jadi strategi G00gle membuat kita makin bergantung dengan feature yang mereka punya. Lha kalau suatu kali mereka memberlakukan bayaran, nah lho. Mau ngga mau kita akan mengalah dan rela merogoh kantong untuk memuaskan ketergantungan kita terhadap google yang mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan.. Bener kan?”

DUARRRR!!! Betul-betul penjelasan rasional yang dikemukakan Pak Sarman membuat saya tertampar. Jiwa saya mendadak bergejolak dan jungkir balik *ehem, lebaaaay* membenarkan dan setuju dengan pendapat beliau. Mungkin kawan-kawan pembaca menertawai pendapat ini, menganggap kami terlalu jauh berpikir, atau menganggap pikiran kami absurd dan suuzon. Hehehe.. Tapi coba deh, dicermati, dianalisis gelagatnya, lalu dibuat prediksinya: Plausible!! *ehh kok saya mendadak ala Mythbusters begini* ^_^

Secara logika, kemungkinan tersebut sangat bisa terjadi! Bukankah strategi marketing paling dahsyat adalah menggratiskan lebih dulu produk yang kelak akan dijualnya? Digratiskan, kemudian setelah brand image-nya melekat di masyarakat barulah si produsen menjualnya.

Eeehh.. tulisan ini bukan untuk menyudutkan G00gle lho ya. Itu kan hanya salah satu contoh aja. Inti tulisan ini tetep soal informasi. Pengaplikasiannya bisa lebih luas lagi konteksnya. hehehe.. Dan, berarti pepatah “Siapapun yang menguasai informasi maka dia bisa menguasai dunia” bukan isapan jempol dan benar-benar mungkin berlaku kelak.. Ck ck ck.. Ternyata, fakta bahwa informasi menjadi mahal, ya mungkin saja. Trus, kita harus gimana ya? Ada pendapat? 🙂

Advertisements
Categories: Tags: , , , , , ,

4 Comments

    1. Sekarang pun ndak gratis, Pak. Minimal beli koran atau majalah kan? Kalaupun mengakses informasinya lewat internet, komputer dan internet atau handphone dan pulsanya kan ndak gratis. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s