Jadi Kawasan Tangguh Bencana, Bisakah?

Saya copas tulisan ini dari website tempat saya bekerja atas seizin penulisnya. Meski saya editor yang punya otoritas mempublikasi tulisan di website resmi, saya tetap harus minta izin penulis aslinya. 🙂 Dan kenapa saya bagi informasi di atas di blog saya? Jawabannya simpel: ini ILMU BARU buat saya pribadi. Saya baru tau kalau banjir bisa jadi potensi. Saya baru ngeh kalau mau jadi kawasan “tangguh bencana” ada tips-tips yang harus dilakukan–semua dijabarkan di atas itu. It’s really a nice article!

Oleh: Hendri Matias (TA LG OC 1 PNPM Mandiri Perkotaan Provinsi Sumatera Barat)
Oleh: Hendri Matias (TA LG OC 1 PNPM Mandiri Perkotaan Provinsi Sumatera Barat)

Padang, 7 Oktober 2014
Fokus PRBBK: Selamatkan Nyawa dan Aset Seratus Persen
(sumber: http://pnpm-perkotaan.org/wartadetil.asp?mid=7007&catid=3&)

Minimal ada dua tujuan utama yang ingin dicapai dalam kegiatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK). Pertamaadalah bagaimana menyelamatkan nyawa manusia seratus persen.Kedua menyelamatkan aset seratus persen. Kedua hal ini harus dipahami oleh masyarakat, sehingga mereka sadar. Kesadaran akan dua hal inilah yang coba dijadikan sebagai pemicu bagi masyarakat dalam mengimplementasikan kegiatan PRBBK di lapangan.

Hal ini mengemuka dalam pertemuan dengan tim Bank Dunia setelah diadakan kunjungan lapangan ke lokasi pilot proyek. Saat ini Provinsi Sumatera Barat menjadi lokasi pilot kegiatan PRBBK, tepatnya Kota Padang, dengan empat kelurahan, yakni Kelurahan Bungo Pasang, Lolong Belanti, Batang Arau, dan Lubuk Buaya. Kegiatan pilot ini merupakan kesempatan bagi masyarakat, Pemerintah Daerah (Pemda), dan pendamping untuk mengambil bagian dalam proses belajar tersebut, sehingga selama proses belajar tersebut ada proses pembelajaran yang dapat dijadikan acuan dalam pengurangan risiko bencana di wilayah lain.

Menurut Kumala Sari dari Bank Dunia, salah satu contoh konsep sederhana dalam penanggulangan bencana banjir disebutkan, apakah membuang air sebanyak-banyaknya, atau simpan air sebanyak-banyaknya. Kedua konsep ini jelas akan berdampak pada program dan kegiatan selanjutnya. Jika yang konvensional, biasanya ketika terjadi banjir selalu yang diusahakan bagaimana air itu cepat keluar dari lokasi banjir. Makanya tidak jarang daerah yang lebih rendah menerima banjir kiriman. Yang terjadi akhirnya adalah satu lokasi selamat tapi bencana bagi daerah yang di hilirnya.

Namun, jika konsep pengendaliannya adalah simpan air sebanyak-banyaknya maka banyak manfaat yang akan didapat. Pertama, ada cadangan air dan akan ada resapan, hingga tanah menjadi subur karena ketersediaan air. Kedua, tidak mengirim banjir ke lokasi yang lebih rendah. “Karena saat ini, air adalah salah satu yang menjadi indikator ketahanan satu negara, selain dari energi dan pangan,” ujar Ikum, begitu Kumala Sari biasa dipanggil. Maka, lanjutnya, musim hujan harus dilihat sebagai peluang ketimbang bencana, karena akan menjadi peluang jika dikelola dengan baik, dan akan menjadi bencana jika tidak dikelola.

Begitu juga dengan bangunan yang dibangun, satu bangunan bisa sama tapi punya konsep dan makna berbeda. Umpamanya, bangunan rumah. Ketika sebuah rumah dibangun dengan konsep menghadapi bencana, tentu struktur bangunannya diperhatikan, mulai dari besi, semen, dan material lain disiapkan sebaik mungkin. Sehingga, ketika terjadi bencana, bangunan tersebut dapat sebagai pelindung. Dan tidak menjadi tempat yang akan membunuh mereka gegara konstruksinya belum disiapkan untuk dapat melindungi mereka dari bencana.

Untuk itu, masyarakat harus diarahkan dengan semangat untuk siap dalam menghadapi bencana, baik secara fisik maupun mental. “Masyarakat perlu didorong untuk menyepakati sistem yang cepat, tepat, dan benar tentang bencana. Tidak perlu mahal dan canggih kalau tidak akan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat secara masif,” tegasnya.

Kemudian, Ikum mencotohkan ketika terjadi gempa yang berpotensi tsunami. Orang akan berlari menuju shelter (tempat perlindungan) terdekat. Tidak jarang yang terjadi orang meninggal bukan karena tsunaminya, tapi malah meninggal di tangga tempat naik ke shelter, karena mereka terinjak atau tergencet. Begitu berdesaknya orang menuju ke satu titik. Shelter yang semula dirancang untuk menyelamatkan orang malah berbalik menjadi membunuh orang.

Jadi, tandas Ikum, yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan masyarakat dengan mengajak mereka menganalisis masalah bencana dengan konsep menurunkan kerentanan dan menaikkan kapasitas masyarakat yang tinggal di lokasi rawan bencana. Rumus yang diajukan Ikum sederhana, Risiko = Ancaman x Kerentanan : Kapasitas.

Umpamanya ancaman gempa. Akibat gempa bisa terjadi tsunami, bisa terjadi banjir, bisa terjadi tanah longsor. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kapasitas masyarakat, baik secara fisik maupun mental guna menghadapi bencana tersebut. Secara fisik, umpamanya, menyiapkan bangunan tahan gempa, jalan jalur evakuasi, dan lain-lain. Secara mental masyarakat juga disiapkan dengan sistem yang sudah dapat berjalan jika bencana itu datang. Seumpama, kalau terjadi bencana, siapa yang bertanggung jawab terhadap siapa.

“Tidak jarang orang meninggal karena masyarakat belum siap secara sistem dalam penanggulangan bencananya. Misalnya satu keluarga, bapaknya bekerja di titik tertentu, anaknya sekolah, ibunya juga bekerja. Kalau terjadi tsunami, seharusnya semua anggota keluarga itu sudah paham mau lari kemana. Atau paham shelter terdekat itu di mana. Dan itu seharusnya sudah dikomunikasikan. Malah kalau bisa sudah disimulasikan,” jelas Ikum.

Atau seumpamanya ketika ada informasi tsunami, semua masyarakat sudah siap. Masyarakat yang berada di pinggir pantai, ketika mendengar peringatan akan ada tsunami, mereka sudah dapat memberikan isyarat kepada warga lainnya. Bisa dengan cara memukul tiang listrik, memukul benda yang dapat berbunyi keras, yang sebelumnya sudah disiapkan. Dan, setiap warga yang sudah tahu, sambil berlari juga berusaha memukul tiang listrik guna memberi tahu warga lainnya. Sehingga, semua warga dapat menyelamatkan diri ke titik yang sudah disepakati.

“Dan, ini memang harus disimulasikan supaya masyarakat benar-benar siap dalam menghadapi bencana. Karena kalau terjadi bencana, aliran listrik akan mati. Semua alat komunikasi yang menggunakan energi listrik pun tidak akan berfungsi. Makanya disiapkan alat sederhana yang dapat digunakan sebagai media komunikasi. Saat ini yang terjadi, tidak jarang bunyi sirene bel sekolah terkadang bunyinya sama dengan sirene peringatan tsunami. Hal sederhana ini seharusnya menjadi perhatian bagi kita semua,” kata Ikum.

Di sisi lain, karena Padang itu lokasinya relatif datar, dan daerah yang tinggi itu agak jauh maka tidak salah juga jika dalam setiap 10-15 rumah disiapkan satu rumah yang konstruksi bagunannya siap untuk alternatif evakuasi dalam menyelamatkan diri. Rumah itu dijadikan tempat evakuasi sementara. Jadi kalau terjadi bencana, penghuni rumah yang berdekatan berlari ke rumah yang secara konstruksi sudah disiapkan tersebut. Inipun harus dilakukan simulasi, sehingga infrastruktur yang dibangun tidak menjadi sia-sia.

Kemudian, dipikirkan juga, di mana kira-kira akan dibangun dapur umum. Siapa yang bertanggung jawab terhadap dapur umum tersebut. Itu semua seharusnya dirumuskan bersama masyarakat. Sehingga, masyarakat benar-benar tanggap dengan bencana yang akan terjadi. Dengan demikian, secara otomatis desa atau kelurahan “tangguh bencana” benar-benar dapat diwujudkan dalam arti sebenarnya, yakni desa atau kelurahan yang warganya benar-benar siap secara mental maupun fisik.

Jadi, kata kunci sukses PRBBK adalah bagaimana menyiapkan masyarakat. Dengan cara mengajak masyarakat menganalisis cara menurunkan kerentanan dan menaikkan kapasitas masyarakat di lokasi rawan bencana. Bukan dengan menyiapkan peralatan yang canggih tapi sangat susah untuk diakses oleh masyarakat. “Apalagi orang yang dapat mengoperasikan alat tersebut terbatas. Akan lebih baik jika dana yang ada digunakan untuk pelatihan dan simulasi dalam menghadapi bencana. Menurut hemat saya pendamping dan pelaku lapangan yang penting saat ini adalah mau berbaur dengan masyarakat dan mengajak mereka merumuskan cara menaikkan kapasitas dan menurunkan kerentanan tadi,” kata Ikum.

Ia juga mengimbau agar pendamping dan pelaku lapangan dapat menjadi pendamping yang inklusif, dengan penuh cinta, simpati dan empati yang kuat. Jangan ekslusif, karena akan melahirkan pendamping yang seperti katak di bawah tempurung; yang sudah berkesimpulan kalau langit sudah dekat dengan kepalanya dan dapat dijangkau dengan tangan. “Ketika tempurungnya diangkat, baru kaget kalau langit itu tinggi, dan masyarakat serta orang luar jauh lebih hebat dari mereka! Terlepas dari beban proyek yang terkadang menjadikan fasilitator overload, dan tidak sempat lagi mengeluarkan talentanya,” tandas Ikum. [Sumbar]

Catatan: Tulisan ini disarikan dari wrap up meeting dengan Tim Bank Dunia dan Fasilitator di level KMW sampai Faskel.

Editor: Nina Firstavina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s