Mimpi Mimpi Mimpi

Beberapa minggu terakhir, saya kerap memimpikan orang-orang yang pernah singgah dalam hidup saya. Kamerads lama. Mantan kekasih. Yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Salah satu mimpi yang paling berkesan adalah saat saya bermimpi tentang almarhum Komang.Mungkin kamerads masih ingat entry tulisan saya setahun lalu soal lelaki satu ini? Kalau lupa, baca deh [TheKacrutTheme] Music Box – Curcol. Laki-laki itu sahabat saya, kakak saya, guru saya, dan pernah menjadi kekasih saya meski sebentar. Dua tahun lalu, pada akhir Maret 2011, ia meninggal dunia karena serangan jantung. Dan saya baru tahu kabar tersebut sekira dua bulan setelahnya. Sedih, karena tidak sempat say good bye.

img: googled

Lalu datanglah ia ke mimpi saya, sekian belas hari lalu. Mimpi tersebut, meski tidak menghantui, masih membekas terus di pikiran saya. Di mimpi itu, wajah Komang ceria sekali. Dan saya sama sekali nggak curiga bahwa itu hanya mimpi. Saya juga sama sekali nggak ingat kalau Komang sudah tiada. Saya hanya bermimpi dan menikmati kebersamaan kami di mimpi tersebut.

Kami serasa kembali ke masa muda kami–saya balik ke usia 16 tahun dan dia 18 tahun. Seperti dahulu, di mimpi itu kami boncengan dengan vespanya, nonton ke bioskop, makan bersama, berlarian di pantai Kuta, berkeliling Bali dengan VW Kodok kesayangannya. Dia lalu mengatakan kalimat yang sama seperti dia ucapkan 19 tahun lalu, “Nina, aku ini AIDS lho. Aku Ingin Dekat Sekali sama kamu.” Hehehehe.. 🙂

Lalu di sebuah sudut pantai Sanur, kami duduk di bawah pohon kelapa yang rindang. Komang memandangi saya dengan senyum manis terus mekar di wajahnya. Matanya yang teduh, cerdas dan ramah itu juga tampak ikut tersenyum. Komang mencium kening saya, lalu dengan telunjuknya, ia menulis sesuatu di dahi saya. Tulisannya adalah: I *heart* U. Lalu bibirnya bergerak, tanpa suara, “I love you. Always.” Setelah itu dia berlari menjauh. Dan, meski saya sudah berusaha mengejarnya, ia tidak terkejar. Sampai akhirnya dia menghilang dan saya terbangun dari tidur saya.

Menceritakan dan mengingat kembali mimpi itu, membuat mata saya berkaca-kaca. Saya tidak tahu bagaimana cara mendoakan dia, secara kami berbeda iman. Saya Muslim dan dia Hindu. Tapi, saya tahu, Tuhan kami sama. Makanya, saya hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga Allah mengasihi dia, mengampuni dia, menyelamatkan dia dan membuatnya tenang di alam sana. — thank you for visiting me, dear Komang. I missed you.


Mimpi lainnya?? Nanti deh saya tulis di entry lainnya juga. hehehe.. Have a nice dream, kamerads!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s