Jumat Berkah di awal Juni

Jumat sore ini indah sekali..

Selain saya kesampaian makan roti jagung + onigiri tuna mayonnaise kembali–setelah jalan sedikit ke Lawson Store Benhil seberang Bank Muamalat, sorenya saya akhirnya bisa menikmati lagi bakwan malang langganan.
Bakwan malang ini biasanya mangkal di kantor Proyek P2KP, Jl. Penjernihan I/F (lewat Jl. Pam Baru I, tak jauh dari Wisma Sanita). Ketika Tim Web masih berkantor di Gedung Proyek P2KP, para pedagang yang mangkal di kantor biasa jadi pemuas rasa lapar. Maklum, pedagang yang datang cukup bervariasi: Tukang Rujak Buah segar (sambal rujaknya mantap surantap!), Tukang Kerupuk (yang datang setiap Selasa), Tukang Bakwan Malang, Tukang Mie/Bihun Bakso (datangnya occasional), Tukang Mie Pangsit, Si Akang Siomay (favorit nyokap), dan kadang datang juga Kang Dedeh yg profesinya jadi Tukang Pempek keliling (favorit nyokap juga, hehehe..), sempat juga Tukang Kupat Tahu yang kemudian alih profesi menjadi OB utk P2KP Tim PMT di tahun 2007. Ada pula Tukang Sate/Gulai yang sering ilang-ilangan gak jelas kabarnya. hehehe..

 Semua tukang dagang itu rata-rata kenal baik dengan kami. Maklum, kami–maksudnya sih, saya! hehehe–doyan jajan makanan. Saya memang lebih suka makan di tempat, dibandingkan harus jalan kaki ke warung nasi dan makan di sana. Selain malas berpanas-panas atau berhujan-hujan, lalu lintas Pejompongan juga tidak pernah cukup bersahabat untuk diseberangi. Halooo, Pejompongan itu sering kecelakaan lho. Setidaknya dua minggu sekali pasti ada saja yang jatuh, tabrakan sesama motor, tawuran, bahkan kecelakaan saat menyeberang jalan. 

 Maklum, Pejompongan itu termasuk jalur utama kendaraan menuju Gatot Subroto – Cawang, atau ke arah sebaliknya: Tanah Abang – Roxi, Sudirman, Thamrin, HI, Manggarai, dan Casablanca. Apalagi tak jauh dari kantor saya ada traffic light, (TL) baik dari arah Tanah Abang maupun ke arah Lembaga Administrasi Negara. TL-nya pun terbilang lama merahnya dan hijaunya kilat. Jadi nggak heran kalau kendaraan yang baru lolos dari TL langsung tancap gas di sepanjang Pejompongan. Bukan hanya itu, jalur Pejompongan juga selalu dilalui transportasi umum kopaja, bajaj, mikrolet, taksi, dan sering dilakukan perbaikan/galian di kiri-kanan jalan. 

 Eeeeeh, lha, kok saya malah asyik ngomongin lalu lintas.. Balik ke cerita doyan jajan.

Yep, saya doyan jajan. Buat saya, makan itu ngga harus nasi. Yang penting makanan pokok–POKOKnya ada. hehehehe.. Nah, karena saya merupakan salah satu crew Web yang paling lama di tim ini, jadi saya termasuk sisa-sisa orang yang sempat nongkrong di kantor Proyek sejak tahun 2006. Jadi ya nggak heran juga kalau tukang makanan juga jadi hapal sama saya. Apalagi secara postur tubuh, saya kan eye-catching! Bongsor, maksudnya. #menghiburdiri #pukpuk :p

However, nah, si Tukang Bakwan Malang ini adalah salah satu tukang yang mangkal di kantor Pejompongan. Dan saya, entah kenapa, suka memesannya. #padahaldoyan
Menjelang hari-hari berakhir kontrak, saya sempat mengatakan kepada para tukang yang mangkal di kantor, bahwa ke depannya kami akan pindah kantor. Belakangan, saya juga sempat inform kalau kantor kami pindah ke Jl. Danau Toba. 
Hanya saja Danau Toba ini kan panjang jalanannya, jadi mungkin mereka agak-agak clueless mencari di mana letak kantor kami. Tapi Jumat pekan lalu, salah seorang kamerads saya, Pak Edwan, tiba-tiba bilang, “Teh, dicariin tukang bakwan.” 
Haaa? “Sudah dikasih tau dia kalau kantor kita di sini?” sahut saya.
“Sudah,” jawab Pak Edwan.
Horeee!
Barulah pekan ini Pak Bakwan datang. Menurut Benny, mereka kebetulan ketemu lagi dengan Bapak Bakwan saat hendak shalat Jumat tadi siang. Pak Bakwan, kata Benny, sudah putar-putar Danau Toba, tapi masih belum tau mana kantor kami. 
“Itu, Pak, kantor kita yang banyak mobilnya itu,” Benny mengutip omongannya sendiri kepada Pak Bakwan beberapa jam lalu. 
Dan, voila! Sorenya, suara merdu DOK! DOK! DOK! DOK! itu terdengar.
“Ben, coba liat. Itu tukang bakso yang di kantor kita dulu bukan?” saya bilang ke Benny (sekitar 1 jam lalu).
Benny membalikkan badan, melihat ke jalanan di bawah kami melalui jendela. “Iya Teh, bener!”
“Beneran?? Horeee!!” 
Saya langsung bangkit dari tempat duduk dan menghampiri jendela. Pak Edwan, Pak Toni dan Mbak Fina juga. Mereka mulai berteriak memanggil. Si Bapak Bakwan agak bingung. Mungkin tidak terlalu hafal wajah kamerads saya itu. Tapi setelah melihat wajah saya yang cantik jelita menawan hati ini #gubraks wajah Pak Bakwan jadi berseri-seri. Nyengirnya mengembang. ‘Nah! Akhirnya ketemu deh kantornya!’ mungkin begitu dia bersorak dalam hati. πŸ˜€
So, jadilah saya memesan semangkok bakwan malang panas + pedas, yang begitu tiba di meja, terasa sangaaaat nikmaaaat.. #nomnomnom 

Alhamdulillah…

Kenikmatan tidak berhenti sampai di situ. Sepanjang makan, kamerads saya banyak bercerita pengalaman soal mengendarai motor. Sebenarnya pengalaman yang cukup seram–seperti jatuh gara-gara masuk lubang yang nongkrong dengan manis di tengah jalan, motor oleng karena kantuk yang amat sangat, dan pengalaman ketinggalan istri dan baru menyadarinya setelah 10 menit ngebut dengan motornya. Cerita yang terakhir bikin saya ngakak abisss.. 
Kamerad saya yang bercerita juga tertawa-tawa geli, tapi saya yakin banget saat mengalaminya, dia pasti stres. Boro-boro bisa ketawa ngakak seperti sekarang..
Lagi-lagi Allah mengajari saya suatu kebijaksanaan: segala sesuatu–buruk atau baik–pasti akan berlalu. Khususnya kejadian buruk, jika kita mengalaminya saat ini pasti rasanya buntu, mentok, maunya guling-gulingan, dll. Tapi setelah kita melewatinya, barulah kita bisa tertawa. Tertawa lega. Atau malah mentertawakan diri sendiri, “Kok gue ngga kepikir kalau sebenarnya jalan keluarnya ternyata semudah itu ya..” atau, “Kenapa ya gue ngga bisa langsung tegar waktu itu?” dll, dsb. πŸ™‚
Nggak salah, kalau saya katakan Jumat di awal Juni ini begitu banyak berkahnya. 
Jadi, kamerads saya yang budiman #omMarioTeguhmodeON jangan patah semangat jika saat ini sedang mengalami musibah/kejadian buruk. Bersabarlah. Have faith. God will be on your side. And one day, all the bad things happened in our lives will ended as a basi joke in the future.
Dan kamerads yang saat ini sedang mengalami kebahagiaan, bersyukurlah. Mari kita syukuri hal-hal kecil. Karena hal-hal kecil itu tercipta sebagai a pit stop for this marathon we called life.
Have a lovely weekend! πŸ˜‰ 
Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s