[TheKacrutTheme] Pacar Lima Langkah

Sekitar minggu lalu, saya bermimpi. Bukan mimpi indah, tapi juga bukan mimpi buruk. Mimpi itu rasanya begitu nyata, menusuk ke hati, sampai-sampai saya menangis dibuatnya. Entah apa yang menyebabkan mimpi itu, karena rasanya akhir-akhir ini saya tidak banyak memikirkan hal-hal sedih. Keesokan harinya, #TheKacrutMenulis mengeluarkan tema ke-8 tentang “Pacar Lima Langkah”. Saya jadi kepikir, nah saya tulis saja mimpi saya tadi, dikaitkan dengan tema tersebut. Here we go, semoga berkenan.. 🙂

Pacar lima langkah. Pacar lima langkah. “Apa sih maksudnya?” Lisa membatin. Dilipatnya kertas bertuliskan kalimat Pacar Lima Langkah yang dibacanya tadi.

“Itu maksudnya pacar yang tinggalnya berdekatan. Kayak loe gitulah..” Andien menimpali. Rupanya barusan ia sempat mengintip tulisan di kertas yang Lisa pegang. Lisa menoleh ke Andien yang duduk di sampingnya. Andien, tetap santai mengunyah pisang goreng. “Sori, gak sengaja kebaca,” dia terkekeh.

“Gak apa-apa, Ndien. Jadi pacar lima langkah itu maksudnya short distance relationship ya?” tanya Lisa, seraya mencomot pisang goreng terakhir di piring Andien.

“Iya. Lebay deh loe pake istilah short distance relationship. Dan, hey, that’s my banana friters!” Andien manyun, tak rela pisang gorengnya digondol Lisa.

“Siapa ya, yang ngirim tulisan ini?” tanya Lisa lagi, mengabaikan keberatan Andien.

“Mana I know,” jawab Andien polos, sambil mencoba merebut pisang goreng terakhir di tangan Lisa. Dengan cekatan Lisa menghindar.

“Oii.. Pagi-pagi kok perang pisang goreng. Kayak nggak ada pisang lain aja,” tegur Daniel, yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik dua gadis itu.

“Ada sih pisang lain, tapi ngga bisa dimakan..” kata Andien polos.

“Idiiih.. Pisang apaan tuh yang ngga bisa dimakan?” Daniel tergelak.

“Yey, maksudnya pisang yang itu!” Andien segera menunjuk kerajinan kayu berbentuk pohon pisang yang berdiri manis di pojokan kantin. “Loe pasti udah ngeres aja mikirnya!” hardik Andien lagi. Daniel melanjutkan tawanya.

“Oo.. Kirain..” Daniel segera menghampiri kedua gadis teman satu kosnya itu.

“Huu.. Dasar otak pasir. Ngeres. Sapuin dulu sana,” ledek Lisa. Ketika Daniel duduk di samping Lisa, mendadak jantungnya terasa melompat-lompat hingga ke tenggorokan. Setengah mati menahan gugupnya, ia menyambar es teh manis dan segera meminumnya lewat sedotan berwarna pink.

Daniel, tahu betul kehadirannya membuat Lisa gelisah, malah sengaja menatap lekat-lekat bibir Lisa yang menyeruput sedotan. Dengan nakal, Daniel menjilat bibirnya sedikit, berpura-pura kehausan, “Mau dong..”

“Nih!” sambar Andien, langsung memasukkan paksa sedotan dari gelas lain ke mulut Daniel.

“Hah! Sial..” Daniel gelagapan. Ia lupa mengantisipasi tingkah Andien yang jahil. Lisa tersenyum dikulum. Andien tertawa geli.

Saat Lisa tidak melihat mereka, Andien memelototi Daniel, dengan pandangan mengancam. Daniel mengerti apa yang Andien maksud. Hanya saja, dia tak tahan, ingin terus menggoda Lisa yang pemalu itu. Andien baru saja mengepalkan tangannya ke arah Daniel, mendadak Lisa menoleh. Segera, Andien membelokkan kepalan tangannya ke tray tahu goreng di hadapan Daniel.

By the way, barusan ngomongin apa sih? Short distance relationship?” tanya Daniel kepada Lisa.

“He-eh. Lisa dikirimi surat kaleng bertuliskan Pacar Lima Langkah. Trus dia tanya apa sih artinya. Ya gue kasih tau artinya,” Andien yang menjawab.

“Surat kaleng? Udah era internet gini masih zaman ya surat kaleng?” kata Daniel.

“Tauk tuh. Kayaknya yang ngirim gaptek, gak ngerti internet. Gue yakin kalau si pengirim itu ditanya apa alamat emailnya, pasti dia jawab, jalan anu, RT 5 RW 5,” Andien cekikikan. Lisa tersenyum, menahan geli.

“Kayaknya si pengirim juga gak gaptek-gaptek amat kok. Ini tulisannya di-print, nih,” Lisa membuka lipatan kertas tadi. Daniel mendekatkan wajahnya ke kertas itu.

Mendadak, ia merasa mengenali hasil print tersebut, karena ada garis luber halus yang baru akan terlihat jika diperhatikan secara saksama. Daniel mengenalinya, karena ia pernah “bergaul” dengan printer bersangkutan, tepatnya saat ia mencetak materi thesis-nya. Masalahnya, printer tersebut tidak hanya digunakan oleh dia, tapi juga oleh orang lain. Entah kenapa, ia ragu memberi tahu Lisa, kira-kira siapa si pengirim.

“Iseng amat nulis cuma satu kalimat doang,” Daniel menutupi sikap ragunya tadi.

Tak lama, suara panggilan telepon genggam berbunyi. Lisa menyambar teleponnya. “Ya? Oh ya, okay, saya ke sana sekarang.”

“Virya?” tanya Andien.

“Virya,” Lisa mengkonfirmasi. Ia segera bangkit, menjauh, dan melambaikan tangan ke arah Andien dan Daniel.

Andien meniupkan nafasnya agak keras, membuat Daniel menoleh. “Kayaknya gue tau siapa yang ngirim surat kaleng itu. Tapi yang gue gak ngerti, buat apa dia ngirimnya,” kata Andien.

“Oh, loe nyadar juga? Kirain cuma gue aja yang nyadar,” Daniel nyengir kuda.

“Ya nyadar lah. Kan gue juga pake printernya buat skripsi gue.”

“Oh iya, ampuuun. Gue sampe lupa kalo printer itu kita pake bertiga,” Daniel menampar kepalanya sendiri. “Iya, maksudnya kenapa ya dia pake nulis begitu?”

Andien tampak cuek. Mulutnya mengunyah tahu goreng yang tadi diambilnya. “Hey, kentung, gue dicuekin,” Daniel menarik-narik ujung jilbab Andien.

“Huss.. Ini gue lagi mikir keras, tau!” hardiknya, sambil mengibaskan tangan Daniel agar melepaskan kain jilbab.

“Jiah.. Tipikal elu banget sih mikir keras sambil ngunyah. Gimana badan loe mau kurus?” ledek Daniel.

“Reseh loe! Gue nih udah seksi menurut standar Timur Tengah, tau!” Andien bersungut-sungut. Daniel ngakak. Gadis yang menjadi sahabatnya sejak SMA ini memang jenis cewek tengil dengan joke brutal. Dan, yang membuat Daniel tak habis pikir, meski sudah mengenakan jilbab mulai kuliah dahulu, tetap saja Andien punya gaya bercanda barbar, meski tidak ke semua orang ia bersikap begitu.

“Jangan-jangan..” Mendadak Andien menjentikkan jemarinya. “Niel, coba loe itung, berapa langkah pintu kamar loe dari kamar Lisa? Trus berapa langkah pintu kamar Lisa ke kamar si itu?”

“Apa hubungannya? Loe suka aneh deh..” Daniel mengernyit, merasa ajaib dengan kalimat Andien.

“Jiah.. Kalau dugaan kita tentang si pengirimnya itu sama, loe tau dong karakter dia kayak apa. Dia kan suka mengartikan segala sesuatu secara harafiah gitu..”

“Hah! Maksud loe..” Daniel berhenti sebentar. Ia menghitung-hitung. Mengira-ngira. “Maksud loe, dia tau tentang gue dan Lisa?”

“Eits.. Emangnya ada apa dengan loe dan Lisa?” selidik Andien.

“Maksud gue, masa sih dia menduga gue dan Lisa ada apa-apa?” Daniel nyengir kuda.

“Awas ya, kalo loe berani mempermainkan Lisa. Playboy cap kampak macam loe tu gak pantes ngedeketin cewek manis dan polos kayak Lisa,” seloroh Andien. Daniel mendadak tersenyum kecut. Dan, Andien menyadari itu. “Eh, eh, eh.. Jangan-jangan loe….”

“Udah deh, jangan bikin gue merasa makin gak keruan,” Daniel menepis tatapan Andien yang terasa menjalari wajahnya.

Serta-merta Andien ngakak, sengakak-ngakaknya. “Makdikipeee.. Loe jatuh cinta beneran sama Lisa??”

“Halah.. Istilah kuno banget sih makdikipe,” Daniel gantian ngakak.

“Jangan mengalihkan pembicaraan loe!” Andien memukul lengan berotot Daniel dengan koran yang nangkring di pinggir meja, “Seriusan, Niel. Loe suka ama Lisa?”

“Tadinya gue cuma seneng ngegodain aja, Ndien. Gue suka dengan reaksi malu-malu dia. Tapi, lama-lama kok gue jadi selalu terbayang wajah tersipu-sipunya itu. Gue nggak tau sejak kapan, yang jelas gue kayaknya jatuh cinta sama dia,” Daniel tertawa. Sumbang.

Andien mengatupkan bibirnya, antara ingin mentertawakan dengan merasa miris. Ingin mentertawakan, karena ia ingat ketika Daniel bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi setelah dikecewakan oleh pacar terakhirnya. Sejak itu ia hanya suka bergonta-ganti pacar dan memanjakan banyak perempuan sampai mereka jatuh cinta kepada Daniel. Tapi, ketika sang perempuan mengaku jatuh cinta padanya, lelaki berpostur 185 cm dengan lengan kekar ala Ade Rai dan berwajah tampan, tak kalah dari Orlando Bloom itu kabur. Melesat hilang dan tak kembali lagi.

Hanya kepada Andien, Daniel betah dan merasa aman bersahabat. Ia tahu, Andien tidak akan mungkin jatuh cinta kepadanya. Ya, karena Andien sudah sejak lama jatuh cinta kepada Fabian, kakak Daniel. Sayang, beberapa tahun lalu Fabian dinyatakan meninggal saat pesawat yang ditumpanginya menuju Manado, hilang di laut Sulawesi. Hingga sekarang, hati Andien tampaknya belum sembuh benar dari duka tersebut, meski dia mengaku sudah melanjutkan hidup.

“Trus loe pernah terang-terangan di depan dia, ngegodain Lisa?” tanya Andien lagi.

“Ya nggak lah. Loe kira gue gila apa. Gimanapun dia kan sobat gue. Sobat kita,” Daniel menggeleng, meski ia agak ragu dengan kalimat pertamanya. “Ndien, kalau bener dia tau, kenapa dia ngga ngomong atau nanya apa-apa ke gue ya?”

“Nggak tau juga ya. Gue gak pernah bisa ngertiin apa yang dia pikirin sih,” Andien menaikkan bahunya, santai. Mereka berdua pun terdiam.

Di waktu yang bersamaan, Lisa mengetuk pintu kamar Virya. “Lis, masuk,” ajak Virya, “Ada yang mau saya bicarakan.” Lisa bertanya-tanya. Tidak biasanya Virya menggunakan kalimat kaku begitu. Meski pendiam, Virya bukan tipe lelaki seriusan. Di balik sikap kalemnya, ia adalah lelaki yang suka melucu. Hal itu yang membuat Lisa suka dan menerima cintanya saat ia nembak dua tahun lalu.

“Lis, to the point aja ya, saya merasa tidak bisa melanjutkan lagi hubungan kita,” kata Virya. Lisa tersentak. Rasanya seperti disengat jutaan lebah di siang bolong.

“Lho, kok? Memangnya kenapa? Ada sesuatu yang salah? Apa saya berbuat salah sama kamu?” rasanya Lisa ingin mencecar Virya lagi dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Tapi, melihat sikap diam Virya, ia mengurungkan niatnya.

“Nggak, nggak ada yang salah. Kamu nggak salah apa-apa sama saya. Dan, saya yakin kita selama ini tidak ada masalah. Apakah orang putus hubungan itu harus disebabkan karena ada masalah?”

“Logikanya, ya begitu. Kalau nggak, kenapa harus putus? Bukankah kalau ada masalah, kita bisa mengatasi masalahnya bersama-sama? Tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi kan?” Lisa mencoba tetap tegar, tak ingin berurai air mata.

“Memang betul. Hanya saja, rasanya kok tidak tepat kalau harus putus setelah ada masalah. Kenapa tidak putus saat hubungan kita masih hangat begini? Putus baik-baik, maksudnya,” jawab Virya.

“Mana ada istilah putus baik-baik? Apa kamu sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi sama saya?” tanya Lisa.

“Justru karena saya masih punya perasaan sama kamu, masih ada rasa sayang sama kamu, saya merasa lebih baik putus sekarang. Daripada putus saat kita ada konflik. Nantinya malah nggak enak situasi kita. Kalau kita putus sekarang, kita masih bisa saling menghargai, masih bisa berteman…”

“Kok aneh sih? Apa bisa jadi teman setelah putus?” sambar Lisa.

“Lha makanya ini coba kita jalani, mumpung hubungan kita masih baik, tidak pakai berantem-beranteman. Saya hanya berpikir mau melangkah sendiri saja untuk saat ini. Bukan karena saya tidak ada rasa cinta lagi sama kamu,” jelas Virya. Lisa menggeleng-geleng, tidak bisa mengerti pikiran Virya.

“Saya ngga ngerti. Apa salah saya?” suara Lisa mulai terbata-bata.

“Tunggu, Lis. Putus hubungan ini bukan hukuman. Saya tidak mau kamu berpikir begitu. Saya tidak dalam rangka menghukum kamu dengan cara ini. Saya care sama kamu, saya ingin kamu bahagia, dan mumpung kita masih ada rasa menghargai, saya mengajak kita putus baik-baik,” kata Virya lagi, tegas.

“Kalau kamu care kepada saya dan ingin saya bahagia, kenapa bukan kamu saja yang membahagiakan saya? Apakah begitu berat membahagiakan saya? Selama ini saya bahagia kok,” urai Lisa.

“Sayang, saya tahu kalau saya tidak bisa membahagiakan kamu lebih daripada ini, sedangkan kamu pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih daripada yang selama ini saya berikan,” lanjut Virya.

“Ini absurd!” tukas Lisa, mulai menangis.

No, no. Tidak absurd. Oh God, kamu tidak mengerti..” Virya menghela napas. “Lis, saya akan segera ditugaskan ke luar Jawa. Dan saya bertugas di sana selama 5 tahun. Saya tidak bisa membawa kamu serta, karena di pekerjaan ini saya akan sering sekali meninggalkan kamu untuk survai ke lokasi-lokasi remote, selama berminggu-minggu. Saya tidak mau menyiksa kamu. Saya terlalu sayang sama kamu. Di sisi lain, ini adalah karier yang bagus untuk saya,” Virya kembali menjelaskan.

“Ah, jadi kamu berpikir, saya akan menghalangi karier kamu?”

“Tidak. Tidak sama sekali. Saya hanya tidak ingin menyusahkan kamu. Tidak ingin membuat kamu sedih. Cobalah berpikir rasional, Lisa..”

“Apa kamu tidak ingin saya menunggu kamu? Tidak ingin saya menyusul kamu?” tanya Lisa.

Virya menghela napas. Berat. “Sejujurnya? Saya ingin sekali kamu menunggu. Tapi, saya tidak bisa melakukan itu kepada kamu. Saya tidak bisa memaksa kamu menunggu, sementara saya sendiri tidak jelas akan segera kembali atau lanjut lagi untuk 5 atau 10 tahun setelahnya.”

“Saya akan menunggu,” ucap Lisa. Ada nada ragu, tapi dimantap-mantapkan.

Virya memandangi gadis cantik di hadapannya ini. Ingin sekali ia mendekap dan mencium Lisa, tapi ia menahan diri. “Tidak, sayang, jangan tunggu saya. Kamu patut mendapatkan yang lebih baik untuk saat ini. Kamu terlalu indah untuk dipaksa menunggu saya. Percayalah, saya sangat sayang pada kamu, tapi sungguh, saya tidak ingin menjadi alasan terbesar kamu untuk tidak meraih kebahagiaanmu sendiri,” kata Virya lembut, “And long distance relationship never works, sayang. We both know that.

Why not? Saya percaya pada kesetiaanmu, dan kamu percaya pada kesetiaan saya juga kan?” Lisa mencoba ngotot.

“Sayang, ini bukan masalah kesetiaan. Kita ini sama-sama sudah dewasa, Lis. Dan, orang dewasa cenderung membutuhkan kehadiran pasangannya secara fisik. Kalau saya berada jauh di seberang laut, lalu kamu mendadak membutuhkan kehadiran saya, bagaimana? Saya tidak bisa mendadak pulang tanpa direncanakan sebelumnya. Lalu, akhirnya, percaya pada kesetiaan tidak lagi berarti tanpa kehadiran satu sama lain,” Virya menggenggam tangan Lisa.

“Apa kamu mengerti, Lisa?” tanya Virya, lembut.

“Saya masih sulit mencerna ini semua,” Lisa menunduk.

“Suatu hari nanti, kamu akan mengerti, Lisa. Saya yakin itu,” ujar Virya. “Saya berangkat lima hari lagi, Lis. Saya harap, saat itu kita sudah mantap dengan keputusan ini. Saya masih akan terus memberi kamu kabar dari sana, tapi mungkin tidak sesering yang dibayangkan. Inilah alasan kenapa saya tidak bisa menjanjikan masa depan kepadamu.”

Virya merentangkan lengannya, membiarkan Lisa menangis di bahunya. “Suatu hari nanti, kamu akan mengerti,” ujar Virya lagi.

Lima hari kemudian, Daniel dan Andien melepas keberangkatan Virya di Bandara Soetta. Lisa tidak mau ikut. Ia masih mencoba mengerti permintaan Virya waktu itu.

“Andien, Daniel, kalian baik-baiklah. Gue titip gadis mungil yang satu lagi itu,” ujar Virya sambil menjabat erat tangan mereka, bergantian.

“Loe serius putus sama Lisa, Vir?” tanya Andien. Menegaskan.

“Serius. Loe udah denger penjelasan gue di sepanjang jalan tadi kan?”

“Beneran deh, gue gak bisa ngerti sama jalan pikiran loe. Ya udah, baek-baek deh loe di sono ye. Keep in touch!” Andien merangkul sobatnya itu, lalu melangkah agak menjauh. Membiarkan Virya dan Daniel berdua. Andien tahu, ada petatah-petitih yang hendak dibicarakan Virya kepada Daniel.

“Daniel,” Virya menyematkan selembar kertas di tangan Daniel. “Gue rasa, loe ngerti maksud gue..”

Daniel membuka lipatan kertas itu. Ia mendengus, tertawa, saat membaca sebaris kalimat di dalamnya. Ia tak mampu berkata-kata, hanya tergelak, antara tidak percaya, geli, dan heran. “Ya, gue tau. Kalian baik-baiklah. Cinta sejati tidak datang dua kali,” kata Virya sambil tersenyum bijak.

“Baik-baiklah kalian,” Virya mengulangi.

“Siap, bos!” Daniel merangkul Virya. Lama. “Terima kasih,” desis Daniel.

Treat her good,” balas Virya, lalu melepaskan pelukannya dan melangkah ke pintu penumpang. Ia tidak lagi menoleh ke belakang, hanya melambaikan tangan sambil terus berjalan ke depan.

Daniel menggeleng-geleng. Andien, yang memperhatikan dari jauh, segera mendekat dan merebut kertas yang diberikan Virya tadi. Setelah membacanya, dia tertawa. Geli. Ringan, Andien menepuk-nepuk bahu Daniel.

“Yak, perjuanganmu dimulai, Nak!” ujar Andien, yang lantas balik kanan dan jalan menuju mobil mereka.

Daniel masih menggeleng-geleng. Ia kembali melipat kertas itu dan memasukkannya ke kantong celana. Ia tersenyum mengingat lagi sebaris kalimat yang tercetak dengan printer bertinta luber halus. Tulisannya simpel: Pacar Lima Langkah.

Advertisements

7 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s