Sebenarnya, ide memberi pelatihan jurnalistik sudah lama menggantung di benak kami — kru website P2KP. Sejauh ini, kami hanya bisa memberi “pengantar nulis” lewat EGM untuk para Asmandat (biasanya sih).

Hanya saja, Asmandat dan para TA Monev biasanya sudah overload dengan jobdes mereka sendiri. Kalau ditambah dengan latihan jurnalistik yang gampang-gampang susah, bisa-bisa jebol kecapekan mereka.

Lagipula, untuk menulis sebuah tulisan yang layak publikasi bukan melulu tugas Asmandat atau TA Monev atau TA Sosialisasi saja. Siapapun bisa! Ngga harus TL atau TA-nya saja.. Korkot, Askorkot, Faskel, bahkan Relawan/BKM juga boleh.

Di sisi lain, Redaksi pastinya kebanjiran tulisan dari seluruh KMW se-Indonesia (yang jumlahnya 36 KMW, klo gak salah..! dari Ekstension 5 KMW, dari UPP-2/1 dan 2/2 ada 16 KMW, dari UPP-3 ada 15 KMW). Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya sempat kebanjiran 14 tulisan per hari! Kalau editor & uploader-nya ada 4 sih, bisa langsung tayang semua (seperti detikcom, yang memang situs “streaming” berita). Tapi, berhubung editor plus uploader-nya hanya saya sendiri, pusing kepala bos.. πŸ˜€

Belum lagi para pengirim tulisan biasanya hanya untuk memenuhi jadwal berita partisipatif. Jadi, kadang ada juga yang asal saja mengirim tulisan. Syukurlah, banyak juga yang memang sungguh-sungguh mengirim tulisan yang bagus dan layak tayang..

Hanya sajaaaaaa, mayoritas tulisan yang saya terima adalah tipe tulisan “laporan ilmiah” atau penuturan cerita dengan aksen daerah (saya hanya mengerti sebagian aksen saja..) Akibatnya, saya nggak cukup hanya mengoreksi atau mengedit, tapi juga mesti merombak atau bongkar-pasang ulang. Parah sekali kan? Padahal, secara “etika”, redaktur/editor cukup mengedit yang perlu tanpa menghilangkan banyak kalimat, agar gaya dan esens penulis tidak hilang.

Itulah masalahnya. Jika yang mengirim adalah seorang jurnalis, tentu saya tidak perlu mengedit sebegitu banyak dan membuat pusing tujuh keliling. Untuk itu, kami perlu memberikan pelatihan.

Sayangnya, yang namanya membuat pelatihan itu perlu tenaga dan anggaran cukup besar. Kami sudah sempat membuat TOR-nya, tapi kelihatannya terkendala anggaran juga sih.

Akhirnya, kami berinisiatif untuk “kursus jarak jauh” aja dehhh.. Apalagi salah seorang rekan P2KP (Dade Saripudin = Faskel Klaten, KMW XIV Jateng) sempat SMS ke saya bulan Agustus lalu, minta tips cara menulis yang baik. Lalu, saya janjikan untuk mengirim teori-teori menulis yang simpel via email (malah saya lupa gara-gara event married dan lebaran. hehe..)

Saya juga pernah minta space forum ke Kang Dedi, tapi urung saya lakukan. Karena, menambah space tu cukup sulit. Saya pun keingetan hobi saya nge-blogging. Saya ngomong sama Fajar, “Jap, saya mau bikin blog P2KP. Tidak official, tapi tentang P2KP. Tujuannya ya kursus jurnalistik jarak jauh gitu untuk teman-teman P2KP yang pengen belajar nulis artikel.”

Fajar menanggapi dengan antusias. Lalu.. jadilah blog ini. Dan, mari, kita mulai KURSUS JARAK JAUH-nya.. πŸ˜‰

Rekans, yang ingin mengetahui tentang tips-tips jurnalistik, silakan browsing by tags: journalistics matter. Ke depannya, tips & trik “latihan nulis” saya tandai warna ya.. Tapi, saya cari dulu, gimana cara ngubah warnanya. Di sini gak tersedia ngubah warna. Saya mesti buka-buka lagi “kamus” coding html nih. hihihi..

Advertisements