Kala Rabb-ku berkata: Sabar

Kucing saya, Pippi, kadang ngga sabaran.

Setiap 5 jam dia mengeong minta makan. Saya buka kulkas, dia ribut, ngga sabar. Saya kasih ikan kalengan sesendok, dia buru-buru melahap piring makannya. Padahal tadinya mau saya kasih dua sendok ke piring makannya, ngga jadi karena terhalang kepalanya. Nanti deh nunggu kepala dia menyingkir dari piring makannya.

Di kali lain, Pippi mengeong, minta makan lagi. Saya buka kulkas. Kali ini dia duduk kalem di dekat piring makannya. Saya ambil ikan kalengan sesendok dan letakkan di piringnya. Dia hanya mengendus, tapi kembali duduk, memandang saya, menunggu dengan manis. Saya kasih lagi sesendok di piring makannya. Setelah itu saya simpan kembali kaleng di kulkas. Saya melirik, ehh ternyata Pippi masih menatap saya, belum makan. Saya usap kepalanya dan bilang, “Udah sana makan, anak manis.” Barulah dia makan, pelan-pelan.

Pippi, nyebelin, tapi saya sayang banget. Sejengkel apa pun kelakuannya, tetep aja saya sayang dan ngga akan menelantarkan dia. Kalau dia pergi, saya cariin. Kalau dekat, saya peluk-peluk dan sayang-sayang, meski dia bete. Hahaha.. Seringnya saya rindu kemanjaan dia, dan Pippi tipe kucing yang tidak manja. Mandiri. Tapi tetep aja, saya pengennya sih dia manja. Wkwkwkwk..

Siang ini saya merenungkan makna dari interaksi sederhana tersebut. Can’t help but thinking, mungkin ini analogi serupa dengan Allah yang menjawab doa saya dengan, “Tunggu dulu, sabar ya, sesungguhnya Aku punya rencana lain untukmu.”

Dan mungkin juga Allah menegur saya, “Aku tahu kamu mandiri, tapi Aku rabb-Mu, jadi kenapa kamu ngga menghampiri dan bermanja-manja ke Aku?”

(sigh)

Benar. Kadang saya lah yang angkuh dan ngga sabar dengan ketentuan-Nya. ๐Ÿ˜ญ

Semoga Allah mengampuni..

the right choice vs the easy choice

I’ve heard this line, a lot. Especially from books and moviesโ€”The Core, Harry Potter (and The Goblet of Fire), are two of the movies.

The first time I heard of the line was in 2004, or so, and think about it a lot ever since. I think hard and slow. My entire lifeโ€”before stumbled onto the lineโ€”I thought choices are only the right choice and wrong ones.

After that, I realized, indeed, nobody (in their right mind) will choose the wrong choice. At least, not consciously or knowingly. I mean, human are blessed with intelligence and “alarm system” behind their back, known as conscience.

Even if they choose wrong, usually it’s because they didn’t know better. Or it’s because it is an easier choice.

Since the beginning of time, the path of truth and righteousness indeed never easy. It is much easier to lie and then (try to) get away with it.

Every time I think about that, the line: right choice and easy choice, always kicks in.

To me, whomever come up with the line the first time is seriously a gentle person whose understanding of life is simply, amazingly, deep. And gentle. And loving. โ˜บ๏ธ Why? Because presenting bitter facts with simple and light wordsโ€”yet persuading in some degreeโ€”is never easy, if you know what I mean..

Just my opinion, though.

Anyway, happy new year, KawaNina. May Allah keep blessing you with the strength of patience and the courage to do the right things and choose the right choice. ๐Ÿ’•

fatally forgotten?

Despite the uncomfortable past I had with my ex husband, he is still that type of person I can rely on many MANY things. He is that helpful type, sincere and efficient kind of guy. Even after we separated for so many years, he will always come to my aid when I asked him to. That is the quality and kindness of his, the main reason why I decided to marry in back in 2007.

But, well, situation changed. Sometimes, even good people can make bad decisions. Of course it’s forgivable. Sadly, my trust already crushed. So… Just like that proverb saying, Even good thing must meet its end.

Ah, let it go. Case closed. No need to reminiscing on that moment anymore.

Let’s get the train back to the track..

Anyway, I almost messaged him by whatsapp, asking him to accompany me to a wedding ceremony that will take place in Bandung, West Java–my hometown, about 100 km from this city I’m living in, forgotten that my ex is now living in Surabaya, East Java (about 650 km away from Jakarta).

And the “fatal” one is that, I completely forgotten that he is now MARRIED. Haha.. Dang it! Where’s your head, Nina? ๐Ÿคฃ

Happy weekend, folks. โค๏ธ

menikah, buat apa?

Hari ini tetiba teringat obrolan dengan seorang kawan:

Loe nikah buat apa? Buat punya anak? Nerusin keturunan? Emangnya loe keturunan raja, darah birunya harus dilestarikan? Penting banget? Harus banget punya anak? Mendingan loe angkat anak yatim, itu lebih bermanfaat, daripada elo menuh-menuhin dunia dgn keturunan loe yang belum tentu juga berguna bagi negeri ini.

Saya ngakak mendengar pertanyaan dan argumennya. Tapi masuk akal. Sempat saya merenungi kalimatnya juga sih.

However, saya jawab dia soal alasan menikah. Blak-blakan.

“Nikah ya biar halal lah. Gw hanya manusia, yang punya nafsu, termasuk birahi. Dan karena gw gak mau sama dengan binatang yang kalo birahi bisa siapa aja disikat yang penting lubang, ya gw kudu nikah sebelum menyalurkan nafsu birahi gw lah ya. Dengan menikah, nafsu gw tersalurkan dengan benar dan Tuhan gw, insyaa Allah, menyukai dan meridhoi jalan tersebut. Ujungnya, tentu baik, barokah, buat gw dan pasangan gw dong?”

Gantian dia ketawa mendengar jawaban saya. Dia bilang, “Bagus. Jujur banget. Ngga normatif atau standar. Salut.”

Nah, soal meneruskan keturunan, saya jawab, “Ngga harus sih, tapi kebetulan Allah udah mempercayakan gw jadi ibu yang melahirkan anak sendiri. Saat proses bikinnya sih, ngga diniatin gw harus hamil juga. Alami aja. Hamil alhamdulillah, ngga hamil-hamil, ya bener loe bilang tadi, angkat anak yatim, lebih barokah. Lah kebetulan gw hamil, sampe beranak tiga begini, ya disyukuri dan didoain semoga anak-anak gw berguna bagi agama, keluarga, sekitar, dan bangsanya.”

Dia ngakak lagi, trus bilang, “Baguslah, elo emang fair dan paham apa fungsi loe dalam hidup.”

๐Ÿ˜… Haha..

Seru juga ngobrol sama orang tipe nyeleneh kayak kawan saya itu. Ke mana ya orangnya? Mudah-mudahan beliau selalu sehat dan bahagia dengan pilihan-pilihannya dalam hidup. ๐Ÿ™

Jumat Barokah, KawaNina. Bahagia itu kita sendiri yang membuat, lho. Jadi, definisikan sendiri bahagiamu, jangan sampai didikte orang lain. So, semangat ya! โœŠ๐Ÿ˜Šโค๏ธ

istri lebih sayang tupperware?

Suatu hari, 1-2 tahun lalu, seorang driver (mobil) online bertanya ke saya:

Bu, coba jawab jujur. Kenapa kaum ibu itu biasanya ngambek berat pas tahu suami atau anak menghilangkan tupperware?

Saya kaget. Kirain mah mau tanya apaan yang serius begitu. Saya tertawa, tapi si Bapak rupanya serius. Bahkan, dia bilang, ini pertanyaan dia ajukan ke semua penumpangnya, baik laki-laki ataupun perempuan.

Saya jadi ngakak lagi. Waduh, fenomena tupperware bisa “meretakkan” rumah tangga ini perihal cukup serius rupanya. Akhirnya saya jawab dari sisi saya pribadi deh..

Sejujurnya nih, Pak, saya bukan tipe perempuan yang ngefans sama tupperware. Ada, alhamdulillah, ngga ada ya gak masalah. Untuk tempat bekal makanan/minuman, saya pakai merk apa saja oke. Tapi memang pernah lah saya punya puluhan set tupperware juga. Intinya saya tidak eksklusif harus tupperware. Kenapa? Karena mahal. Dan ujungnya akan hilang juga. Hahaha..”

Nah, mungkin itu, Pak, kenapa ibu-ibu jengkel dan marah-marah kalau Bapak atau anak-anak menghilangkan tupperware. Mahal lho itu, Pak. Kadang Ibu-ibu nyicil belinya. Dan itu dibeli menggunakan uang Bapak juga. Jadi saya rasa bukan soal barangnya, Pak, melainkan soal bisa tidaknya Bapak menghargai uang Bapak sendiri, yang diinvestasikan oleh Ibu ke barang berkualitas untuk digunakan bersama keluarga. Memang bagus-bagus lho, Pak, tupperware itu. Dan biasanya limited edition.”

Sang Bapak sempat menyanggah. Menurutnya, namanya suami ngga masalah barang bagus atau nggak, limited edition atau bukan, yang penting fungsional.

Saya jawab, “Pak, namanya perempuan, sukanya ya yang indah-indah, awet tahan lama, dan bagus. Istri sudah sengaja memilihkan barang berkualitas untuk keluarga, masa ngga diapresiasi?”

Si Bapak manggut-manggut. Mungkin logika kelelakiannya masih belum nangkep alasan sebenarnya kenapa istri mengomel lama kalau dia menghilangkan tupperware. Yang dia pahami malahan: Kok istri saya lebih sayang tupperware daripada saya.

Saya ketawa geli.

Pikiran lelaki memang sederhana banget yaa. Makanya perlu perempuan, biar hidupnya tidak membosankan dan lebih menantang gitu. ๐Ÿ˜ƒ

Eh trus dia tanya, kalau anak atau suami saya menghilangkan tupperware begitu, gimana? Saya jawab, “Beli lagi, kalau ada uangnya. Kalau ngga ada, ya risiko menghilangkan toh? Saya ngga perlu ngomel, mereka cukup jalani aja konsekuensinya.” ๐Ÿ˜ƒ

Basically, saya memang tipe ibu/istri yang ngga memusingkan soal barang. Ada, pakai. Ngga ada, ya cari alternatif pakai yang lain, atau ngga usah pakai aja. Hidup udah ribet, ngga perlu dibikin lebih ribet.

“Enak banget ya, suami Ibu. Tenang kayaknya hidup suami punya istri kayak Ibu. Santai bener menghadapi hidup.”

Saya cuma nyengir. Meringis. Jelas saya ngga cerita dong bahwa saya hanya “punya” mantan suami. Wkwkwkwkw..

Fiuhhh.. ๐Ÿ˜›

repost: Ini Daftar Hadist Shahih dan Dhaโ€™if tentang Wabah Covid-19

Feel the need to reshare this. Written by one of the most trustworthy national medias in Indonesia, and the media is well-known as “pro Muslim” compared to other medias in Indonesia. Sorry, it’s the truth. I was a newspaper reporter/journalist before, I know facts instead of rumors. But, apology, it is in bahasa Indonesia. I will try to translate it to English so English-speaker able to understand.

But before, let me explain, Indonesia has about 300 millions citizen and about 78 % of us are Muslims. Socially, I must say, if you want to make announcement or advice that the citizen will follow, use Islamic approach. Inshaallah, we Muslims (as majority) will listen and calmly obey.

But the thing is there are people who reshared Islamic posts blindly–I must say, without thinking twice or check and recheck whether it’s valid or false. In this case, regarding to the Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), lots of Indonesian shared hadith that saying what Muslims has to do during plague. There are hadith being shared too, some are valid (shahih) and others are false (dhaif). So by sharing this, inshaallah, we recognize the value of the hadith. Which one to follow and which to scrap out.

Bismillah.. here we go. And, don’t forget, stay healthy!

Ini Daftar Hadist Shahih dan Dhaโ€™ifย tentang Wabah Covid-19
(Source: https://republika.co.id/berita/q7iy6m63571849323000/ini-daftar-hadist-shahih-dan-dhaiftentang-wabah-covid19)

Oleh: Dr Agung Danarto, MAg

Pandemi Corona Virus Diseases 2019 (Covid-19) telah menjadi wabah yang mengglobal. Covid-19 telah menginfeksi warga dunia di berbagai negara tak terkecuali Indonesia sebagai negeri dengan mayoritas muslim.

Maka para ulama dan ahli agama supaya berhati-hati dalam berfatwa dan hanya menggunakan dalil dalil yang otoritatif dalam membimbing ummat. Di antaranya, hendaknya hanya menggunakan hadist-hadist yang shahih dan meninggalkan hadist dhaโ€™if dalam berhujjah.

Hadist-hadist shahih yang bisa dijadikan sebagai hujjah dalam membimbing ummat untuk menghadapi wabah penyakit antara lain sebagai berikut:

Hadist Shahih 1

Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim.

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุงู„ุทูŽู‘ุงุนููˆู†ู ุขูŠูŽุฉู ุงู„ุฑูู‘ุฌู’ุฒู ุงุจู’ุชูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘ ุจูู‡ู ู†ูŽุงุณู‹ุง ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูู‡ู ููŽุฅูุฐูŽุง ุณูŽู…ูุนู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ู ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฏู’ุฎูู„ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ุจูุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ูŽุง ููŽู„ูŽุง ุชูŽููุฑูู‘ูˆุง ู…ูู†ู’ู‡ู

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€œThaโ€™un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Taโ€™ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.โ€ (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Hadist Shahih 2

Riwayat Bukhari dan Muslim

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู„ูŽุง ูŠููˆุฑูุฏูŽู†ูŽู‘ ู…ูู…ู’ุฑูุถูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุตูุญูู‘

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€œJanganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.โ€ (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Hadist Shahih 3

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู„ูŽุง ุถูŽุฑูŽุฑูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุถูุฑูŽุงุฑูŽ

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€œTidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.โ€ (HR Ibn Majah dan Ahmad ibn Hanbal dari Abdullah ibn โ€˜Abbas)

Hadist Shahih 4

Hadist Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim tentang Anjuran Sholat di rumah ketika hujan pada siang hari Jumโ€™at.

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจูŽู‘ุงุณู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู
ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูู…ูุคูŽุฐูู‘ู†ูู‡ู ูููŠ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูŽุทููŠุฑู ุฅูุฐูŽุง ู‚ูู„ู’ุชูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู‹ุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ูู„ู’ ุญูŽูŠูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ู‚ูู„ู’ ุตูŽู„ูู‘ูˆุง ูููŠ ุจููŠููˆุชููƒูู…ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ุงุณู’ุชูŽู†ู’ูƒูŽุฑููˆุง ุฐูŽุงูƒูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุชูŽุนู’ุฌูŽุจููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ููŽุนูŽู„ูŽ ุฐูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ูู‘ูŠ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉูŽ ุนูŽุฒู’ู…ูŽุฉูŒ ูˆูŽุฅูู†ูู‘ูŠ ูƒูŽุฑูู‡ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุฎู’ุฑูุฌูŽูƒูู…ู’ ููŽุชูŽู…ู’ุดููˆุง ูููŠ ุงู„ุทูู‘ูŠู†ู ูˆูŽุงู„ุฏูŽู‘ุญู’ุถู

dari Abdullah bin Abbas dia mengatakan kepada muadzinnya ketika turun hujan (pada siang hari Jumโ€™at), jika engkau telah mengucapkan โ€œAsyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, โ€ maka janganlah kamu mengucapkan โ€œHayya alash shalaah, โ€ namun ucapkanlah shalluu fii buyuutikum (Shalatlah kalian di persinggahan kalian).โ€ Abdullah bin Abbas berkata; โ€œTernyata orang-orang sepertinya tidak menyetujui hal ini, lalu ia berkata; โ€œApakah kalian merasa heran terhadap ini kesemua? Padahal yang demikian pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah saw). Shalat jumโ€™at memang wajib, namun aku tidak suka jika harus membuat kalian keluar sehingga kalian berjalan di lumpur dan comberan.โ€ (HR. Bukhori Muslim dari Abdullah ibn Abbas).

Hadist Shahih 5

Hadist panjang riwayat Bukhari Muslim yang artinya sbb.

Pada suatu ketika โ€˜Umar bin Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, pimpinan tentaranya di Syam datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu โ€œUbaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada โ€˜Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Umar kemudian bermusyawarah dengan para tokoh Muhajirin, Anshor dan pemimpin Quraish.

Lalu โ€˜Umar menyerukan kepada rombongannya; โ€˜Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian! โ€˜ Abu โ€˜Ubaidah bin Jarrah bertanya; โ€˜Apakah kita hendak lari dari takdir Allah? โ€˜ Jawab โ€˜Umar; โ€˜Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu โ€˜Ubaidah? Agaknya โ€˜Umar tidak mau berdebat dengannya. Dia menjawab; Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah? โ€˜

Tiba-tiba datang โ€˜Abdurrahman bin โ€˜Auf yang sejak tadi belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata; โ€˜Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€˜Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.โ€™ Ibnu โ€˜Abbas berkata; โ€˜Umar bin Khaththab lalu mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu dia pergi.โ€™ (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun di antara hadis hadis dhaโ€™if yang sering digunakan adalah:

Hadist Dhaโ€™if 1

Dari Anas bin Malik ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡, Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ุนูŽุงู‡ูŽุฉู‹ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุฃุฑู’ุถู ุตูุฑูููŽุชู’ ุนูŽู†ู’ ุนูู…ูŽู‘ุงุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏู.

Sesungguhnya apabila Allah taโ€™ala menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid.

Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).

Hadis ini dinyatakan sebagai hadis dhaif oleh Nashir al-Din al-Albani dalam kitab Silsilat al-ahadits al-Dhoโ€™ifat wa al-Maudhuโ€™at, juz IV, hal. 222, hadis no. 1851.

Hadist Dhaโ€™if 2

Dari Anas bin Malik ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡, Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุฅูุฐุง ุฃุฑูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ุนุงู‡ุฉู‹ ู†ูŽุธูŽุฑูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฃู‡ู’ู„ู ุงู„ู…ูŽุณุงุฌูุฏู ููŽุตูŽุฑูŽููŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’

Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.

Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nuโ€™aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).

Hadis ini adalah hadis dhaโ€™if. (lihat Nashiruddin al-Albani, Shahih wa Dhaโ€™if al-Jamiโ€™ al-Shoghir, juz IV, hal. 380, hadis no. 1358).

Hadist Dhaโ€™if 3

Sahabat Anas bin Malik ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ berkata: โ€œAku mendengar Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘: โ€ ุฅูู†ูู‘ูŠ ู„ูŽุฃูŽู‡ูู…ูู‘ ุจูุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุนูŽุฐูŽุงุจู‹ุง ููŽุฅูุฐูŽุง ู†ูŽุธูŽุฑู’ุชู ุฅูู„ูŽู‰ ุนูู…ูŽู‘ุงุฑู ุจููŠููˆุชููŠ ูˆุงู„ู’ู…ูุชูŽุญูŽุงุจูู‘ูŠู†ูŽ ูููŠูŽู‘ ูˆุงู„ู’ู…ูุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููŠู†ูŽ ุจูุงู„ู’ุฃูŽุณู’ุญูŽุงุฑู ุตูŽุฑูŽูู’ุชู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ โ€

Allah ุนุฒ ูˆุฌู„ berfirman: โ€œSesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka.

Riwayat al-Baihaqi, Syuโ€™ab al-Iman [2946].

Hadis ini dhoโ€™if Jiddan. (Lihat Nashiruddin al-Albani, Kitab Shahih wa Dhaโ€™if al-Jamiโ€™ al-Shaghir, juz 9, hal. 121, hadis no. 3674).

Hadist Dhaโ€™if 4

Sahabat Anas bin Malik ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ berkata, Rasulullah ๏ทบ bersabda:

โ€œุฅูุฐูŽุง ุนูŽุงู‡ูŽุฉูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ุฃูู†ู’ุฒูู„ูŽุชู’ ุตูุฑูููŽุชู’ ุนูŽู†ู’ ุนูู…ูŽู‘ุงุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏูโ€

Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid.

Riwayat al-Baihaqi, Syuโ€™ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: โ€œBeberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)โ€.

Hadist ini Dhaโ€™if. (Lihat Nashiruddin al-Albani, al-Silsilah al-Dhaโ€™ifah, juz IV, hal. 350, hadis no. 1851).

Dr Agung Danarto, MAg, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah

six years and counting (2)

I remember talking to my dad about this “qualifications” stuff. Well, my dad and mom were also divorced, my (late) mom married again later on, but both my parents remain good friends, even dad is friend with my stepdad. Of course it takes time to reach that point. When mom died, my dad carried her coffin to her final resting place.

Anyways, back to my past conversation with Dad about qualifications, I asked him, why he never married again? He replied, the older you are the more careful you become. And the qualifications for your partner also going sky-higher. Because when years pass you by, you realized, trusting someone is getting harder now.

As years passing, you will witness there are worse and worse people in front of you. True, good, and pure people are very rare. Most of them already taken, and what’s left on the society are those who are…. disappointed with life.

Don’t get me wrong, I personally think all people are basically good. We all are born innocent and can always return to the kindness we should be. But some of us made terrible decisions in life that may hurt others, or worse, hurt ourselves. It wounded us. And it changed us.

Some of us think, we can’t go back and return to innocence. We have damaged others and it makes us feel worse, but in order to stay alive and comfortable about it, we numbed ourselves. Pretending nothing terrible happened in our lives leaving scars. Convincing ourselves all is good and all is in the past. We didn’t realize, some of those scars can poisoned us to certain level.

And if I can say something about this, for those who feels like this, please make peace with yourself. Forgive yourself. And forgive others. If you have wronged other people, apologize. You may not completely innocent anymore, but you are growing wiser now.

I won’t say it’s easy–it’s not. But nothing is easy in this world anyway. Do that, inshaallah, you will find peace and ready to be that kind-hearted person again.

Again, to be continued.. ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

Mantan: The Beautiful Lesson

Banyak yang update status terkait mantan hari ini. Rerata, bernada bete dan enekk. Atuhlah jangan gitu, KawaNina. Sebelum jadi mantan kan mereka juga temen, trus jadi demen, dan karena tidak digariskan berjodoh, ya batal jadi manten.

Atau mungkin sudah pernah manten sama dia, lalu karena qodarullah, si dia berakhir jadi mantan. Wallahua’lam. Yang jelas, biarlah masa lalu menjadi masa lalu, tanpa menyisakan rasa apa-apa, termasuk amarah, kekecewaan, kesedihan, kegalauan, dan sejenisnya.
Take it easy. Take a deep breath. Maafkan dia. Dan terutama, maafkan diri sendiri.

Saya dengan mantan, alhamdulillah tetap berteman. Bisa kok. Perlu waktu, tentunya. Ikhlas memaafkan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Tak sesimpel jentikan jari Thanos pulak. Kalau ikutin hasrat hati sih, pengennya ngelemparin dia pake bunga, beserta tanah dan potnya. ๐Ÿ˜œ Satu kebun kalau perlu.. #ehhh

Tapi jangan lah, ya. Dosa. Apalagi kalau dia terbunuh, kan gak lucu masuk penjara gegara mantan. Kita sudah mengajukan pledoi (pembelaan), tapi tim jaksa mencecar dengan replik, dan duplik yang kita buat tak menyentuh hati pak hakim. Akhirnya kita divonis 7 tahun penjara karena pelanggaran pasal KUHP 351, penganiayaan yang berakibat kematian. Trus di penjara kita di-bully sama napi lain, diledekin karena gagal move on trus kita matiin mantan, padahal bukan begitu cerita sebenarnya. Akhirnya kita frustrasi di penjara. Mabu’-mabu’an, terlibat narkoba, dan terjerumus kehidupan seks bebas di penjara, berakhir dengan aids, trus…… eh bentar, ini kok jauh amat gue ngehayalnya…

ZZSSSTTTT.. << rewind >>

Okeh, balik lagi ke realitas. Soal mantan. Sudahlah, relakan saja, KawaNina. Sabar, sabar, dan sabar.. Jika ingin membalas mantan, tunjukkan padanya bahwa hidup kita lebih bahagia tanpa dia. Jika dia juga lebih bahagia tanpa kita, alhamdulillah, berbahagialah untuk dia. Pokoknya doakan yang baik-baik aja ya..

Udah segitu aja sih. Pengen lucu, tapi gagal kayaknya ini. Wkwkwkw.. Selamat Malam Jumatan buat yang menjalankannya. Saya cukup ber-Kamis malam saja.

Hiks.. #sedihakutuh

life is a chance of devotion

I wrote this five years ago on facebook. And it appeared again on the “memories” post, and still relevant for today’s life, so I’m going to share it here. Originally, it’s written in bahasa Indonesia. But in this blog, allow me to translate it all to English, so my English-speaking friends may share the knowledge as well. And, of course, I will also let my Indonesian-speaking friends read it in this link.

I spent the entire morning chatting with one of my best friends. We talked about life. Her life, my life.

It’s true that calm water usually has the deepest seabed. True, that a person who laugh the loudest is the loneliest and holding on the deepest pain.

I’ve been through one of a hell of heavy life, even heavier than my weight (hahaha..) But, well, just smile on it. Because getting angry, gloomy, and busy feeling sorry to yourself will give you nothing. All of them won’t make our lives better. Just know, there are people out there suffered more than I was–and they survived, stay positive thinking, positive doing.

I was thinking, people with terrible burden but still manage to smile sincerely is Allah’s way in teaching me to never give up on Allah’s grace. May Allah bless those people. They’re inspiring and may it will become their endless amal (deed) for them. Aamiin..

The point is, family and friends, keep your spirit up. Be sabr (patient) and ikhlas (sincere). Life is not easy. Never is. Only dead fish letting themselves wash away with the stream. Be grateful and life the best way we can. Because life is our chance to devote ourselves to Allah.

Happy weekend.

hidup adalah kesempatan beribadah

Saya pernah menulis tulisan ini lima tahun lalu di facebook. Di laman “memories” hari ini, postingan yang sama muncul. Saya pikir masih relevan untuk dibagi, jadi saya copas deh ke blog, karena udah lama ngga nulis lagi nih, hehe.. For English-speaking friends, feel free to click this link, to read the English version of this post.

20 September 2015 – Menghabiskan pagi sampai siang ini, chatting dengan sahabat saya. Kami bercerita tentang hidup. Hidup dia, hidup saya.

Ternyata betul, permukaan air yang tenang itu justru biasanya kedalamannya sejauh palung. Betul bahwa orang yang biasanya tertawa paling keras justru menyimpan dan membawa duka paling dalam.

Saya telah menjalani hidup yang sangat berat, bahkan lebih berat daripada badan saya (wekekekekekek). Tapi yah dibawa senyum saja. Toh marah-marah bermuram durja dan sibuk mengasihani diri sendiri tidak akan membuat semuanya jadi lebih baik! Apalagi masih banyak orang yang hidupnya lebih menderita daripada saya–mereka bertahan dan tetap positive thinking, positive doing.

Saya cuma berpikir, keberadaan orang-orang yg hidupnya luar biasa berat dan tetap mampu tersenyum tulus adalah cara Allah mengajarkan saya agar tidak berlepas dari rahmat-Nya. Semoga Allah memberkahi orang-orang tersebut. They’re inspiring dan semoga itu menjadi amalan sedekah tak berkesudahan atas mereka. Aamiin..

Intinya, keluarga dan KawaNina, tetaplah semangat, sabar dan ikhlas. Hidup memang tidak mudah, tapi hanya ikan mati yang pasrah terbawa mengikuti arus sungai. Bersyukurlah dan hiduplah sebaik yang kita mampu, karena hidup adalah kesempatan kita untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah. Happy weekends ya..

Quakes and Ace

Okay, so, I have written an entry of what happened last night: the two minutes quake in Jakarta, caused by a 10 km depth quake somewhere in Banten sea (Southern part of West Java) which magnitude is 7.4 Richter Scale. I wrote about the people I informed and received information from: my children, family, friends, and also Ace–my dearest friend in Netherland.

I sent him some screenshots from government’s announcement regarding to the quake and early tsunami warning. And I also sent him the 2 minutes video I recorded when the quake was happening, where the chandelier in the middle office room swaying–although not violently, still it’s quite “impressive” since the chandelier is big and heavy, and yet it swayed, caused by the quake.

The one thing freaked me out is because the quake is a quite long. Solid 2 minutes, I told you! Isn’t earthquake usually only happens for 30-40 seconds? It may stop and shake again, but not that short, right? Well, this is kinda my first time experiencing 2 minutes of earthquake. I recorded it and I touched the wall to make sure whether it stops or still shaking. Well, it was still shaking.

Anyways, I know, Ace must have heard the news by then, about earthquake in Jakarta. Not (just) Banten, not Bali, not Sulawesi, but Jakarta. And I know, I am the first person he thinks about, since I am his best true friend. ๐Ÿ˜…๐Ÿ™ Well, Pak Yana (his driver in Jakarta) also live here, in Bekasi, which is near Jakarta, but I’m not sure Ace would contact him to ask if he’s alright. ๐Ÿ˜…

And, yup, Ace called me about 30 minutes later. Asking how I am. As expected, he also learned of the early tsunami warning issued by the Government of Indonesia, to warn people who live in the coastal areas along Banten shore and also Lampung, Sumatra.

When he called, the connection was bad. And I can hear his frustrated voice. He was annoyed by the bad internet connection. But I calmly answer him. ๐ŸŒผ๐Ÿ’ƒ When finally the connection improved, he sounds relieved. We talked like normal, but not so much. I mean, I can sense he’s worried sick for me, but the covered it all very well within his (nervous) laugh. He tried to teased and joke with me, and of course I laughed too.

He said, there will come a 40-50 meters tsunami force. I replied, “No shit, Nostradamus. Don’t say that..” ๐Ÿคฃ

“No, really, it’s going to happen. You must find higher ground and save yourselves..”

“Uhm, hopefully nothing’s gonna happen. If it happens, then I’ll see you on the other side, A. I’ll meet you in the gate of jannah, inshaallah. I’ll make some reservations for you there,” I chuckled.

He laughed awkwardly at first, but I let him know that I can handle such jokes, so he continued the joke. We both laughed and he kept teasing me with scary tsunami joke. ๐Ÿคฃ He knows I have sarcasms in my blood and I can handle even the harshest jokes.

“I can hear the rumble, sound of the tsunami right now,” he said it.

“How do you know it’s the sound of tsunami? It’s the sound of my breath, A. You hear it wrong,” I replied. He laughed quite long. Still worried, but a bit relieved, I think. Knowing that I am still very relaxed and calm about the whole things. ๐Ÿ˜œ

Oh, Ace, can’t you see I am the one who understand and laugh at your wicked jokes? ๐Ÿ˜

Too bad we didn’t talk much, since he has to attend Juma prayer. “Pray for me, A,” I said. A bit seriously.

“Don’t worry, I will call you again after this. I didn’t call nor chatting anyone. It’s pleasant. More quiet, I like it. But I will call you again soon..” he replied.

“Take your time. Stay healthy and pray for us, yes? I’ll be here, inshaallah..”

And he said the salam very cheerfully. I know he is now calmer and happier to hear me taking everything easy, and not panicking. ๐Ÿ˜Š๐ŸŒผ If I were panicked and stress up, I’m very sure he will fly 14,000 km from Netherlands to Indonesia just to accompany me. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜…

Don’t worry, Ace. Allah is protecting us all, inshaallah. I’ll see you soon in Jakarta, yes? I miss you and I love you. You’re my best friend and love of my life. Wallah. And Allah knows it. ๐ŸŒผ๐Ÿฐ

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: