Hari ini jalan-jalan ke Desa Wolaang, Kecamatan Langowan Timur, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, bareng Tim Kotaku Sulawesi Utara, dialog dengan masyarakat dan Kepala Desa Wolaang.Terungkap, Kelurahan Wolaang melakukan sosialisasi Program secara “gerilya”, baik berkeliling dengan pengeras suara, spanduk, bertemu tokoh-tokoh agama di rumah ibadah, bahkan pertemuan dalam acara duka (melayat) ataupun acara suka (pesta). Menarik..

Saya sempat bertanya dua hal kepada Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) dan Hukum Tua (Kepala Desa/Kelurahan) Wolaang, tentang kerja sama dan rencana desa dalam mengembangkan potensi desanya.

Untuk jejaring, LKM telah bekerja sama dengan praktisi hukum, dalam kegiatan sadar hukum perlindungan hasil karya/intelektual/HAKI, jangan sampai ada plagiat atau peniruan oleh pihak lain, maka hasil karya warga didaftarkan ke pihak hukum. Eehhh… menarik ini!!

Upaya lainnya adalah mendampingi Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP), share pengalaman dengan warga yang menjadi wakil rakyat (DPRD) hal menyangkut beban bersama terkait kelangsungan infrastruktur yang telah dibangun melalui Cash For Work (CFW) Kotaku 2021 ini. Selain itu juga sedang menjalin kerja sama dengan telkomsel dan indosat, mengingat ada menara BTS di Kelurahan Wolaang.

Sementara itu, Hukum Tua, yang dahulunya juga anggota LKM ini, menjawab bahwa potensi Desa Wolaang adalah lahan sawah, hortikultura, dan mina padi; Potensi lahan seluas 135 Ha, bisa untuk penebaran benih ikan. Sudah ada kerja sama untuk penebaran benih ikan mujair, mas, dan nila. Di sisi lain, jangan lupa, Desa Wolaang adalah penghasil beras terbesar se-Kabupaten Minahasa. Jika di lokasi lain sawahnya perlu tadah hujan, sedangkan di Desa Wolaang, airnya sudah mengalir dengan curah hujan yang memadai.

Dari segi SDM, Desa Wolaang memiliki banyak pengrajin, salah satunya adalah pengrajin drum bekas tempat minyak yang digunakan untuk membuat kerajinan wajan, tempat sampah, bahkan penyulingan alkohol cap tikus itu, wkwkwk.. Eh tapi ternyata mahal lho drum semacam ini. Siapa tau ada yang mau beli wajan besar dan drum, pesan deh ke Desa Wolaang yaa.. πŸ˜πŸ™πŸ»

Satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah informasi dari Hukum Tua adalah potensi makanan khas dari gula aren yang dinamakan Kue Gula Tarek, yang tidak ada di tempat lain. Beliau mengaku sudah membawa kue ini sampai ke pameran di Batam dan Bali, dan peminatnya sudah banyak, tapi belum ada pesanan yang signifikan lagi bagi pengrajin kue.

Nah, ucapan beliau ini jadi kesempatan saya untuk masuk dooong! Saya katakan ke beliau, mumpung Program Kotaku masih ada dan website kita itu secara dunia berada di rangking 300.000an seluruh dunia (kalau ngga salah ya, kalau salah ya maap, wkwkwk), di antara 7-8 miliar website eksisting seluruh dunia. Artinya, ini adalah salah satu kesempatan terbaik untuk mengekspose potensi desa, karena kita akan membantu publikasinya, baik berupa tulisan maupun foto-foto yang mewakili dan bisa “menjual” potensi tersebut.

Yang membuat saya tergelak tertawa itu beliau sampai mengatakan akan mengirim kue gula tarek ke Jakarta agar saya yakin kalau itu kue memang enak. Eeeh langsung semangat tinggi Pak Hukum Tua. Wkwkwkwk..

Alhamdulillah, pertemuan yang menyenangkan walau singkat, cukup 2 jam saja. Terima kasih juga untuk apresiasi dari Pak Teddy Sulangi dan Kak Theresia Wulansari. Sungguh, Pak Teddy ini salah satu manusia paling santun dan konsisten ramahnya sejak beliau jadi Korkot hingga jadi Team Leader Sulawesi Utara saat ini. Saya ngefans pokoknya. ❀️😍

In syaa Allah bisa travel ke sana, yahh..

Terima kasih, Sulawesi Utara! Sehat-sehat selalu, yaa.. Stay safe, stay healthy. I love you all..

PS. Ternyata ejaannya “Gula Tare”, KawaNina.. Hehehe.. πŸ˜πŸ™πŸ» Seperti ini penampakannya yaa.. (baru dapat fotonya pada 28 Oktober 2021 dari Kak Theresia. Oh ya, itu model tangannya Askot Mandiri Minahasa, Kak Micha Corneles. Hehehe..) β€οΈπŸ’

Gula Tare “Mawar”, camilan gula aren khas Wolaang, Langowan, Sulawesi Utara